Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR FUNGSI TUMBUHAN

DORMANSI DAN PERKECAMBAHAN BIJI

KELOMPOK 2

NADIA ALIMA FADHILLA 18304241032

AZIZAH NUR ISNAINI 18304241034

MUFTI NURKHASANAH 18304241038

REYNALDI DESTA PRAMMUDYA 18304244002

HENDRIANIS SYAFIRA 18304244003

ELISA FEBY IFANI 18304244019

KELAS : PENDIDIKAN BIOLOGI C

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2019
A. LATAR BELAKANG
Benih merupakan komponen penting teknologi kimiawi – biologis yang pada setiap
musim tanam selalu menjadi masalah untuk komoditas tanaman pangan karena produksi
benihi bermutu masih belum dapat mencukupi permintaan pengguna maupun petani. Benih
atau biji juga dapat dikatakan merupakan cikal bakal dari suatu tumbuhan dan juga sebagai
cara tanaman berkembang biak. Biji dapat tumbuh menjadi tanaman besar pada umumnya
apabila mampu melakukan perkecambahan.
Perkecambahan merupakan proses awal pertumbuhan tanaman. Perkecambahan ditandai
dengan munculnya akar atau radikula yang menembus ke tanah dan akhirnya akan
berkembang menjadi semakin besar sertakuat sebagai akar yang berfungsi untuk membuat
tanaman tetap berdiri kokoh di atas tanah. Perkecambahan ini dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Menurut Mayer (1975 : 46 – 73), secara internal proses perkecambahan biji
ditentukan keseimbangan antara promotor dan inhibitor perkecambahan, terutama asam
giberelin (GA) dan asam absisat (ABA). Faktor eksternal yang merupakan ekologi
perkecambahan meliputi, air suhu, kelembaban, cahaya, san adanya senyawa – senyawa
kimia tertentu yang berperilaku sebagai inhibitor perkecambahan.
Perkecambahan biji seringkali dikaitkan dengan dormansi biji. Dormansi benih sendiri
berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan
kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut (Salisbury and
Ross, 1995). Sehingga dapat dikatakan dormansi juga merupakan suatu faktor yang
menghambat perkecambahan biji.
Kondisi dormansi mungkin dibawa sejak benih masak secara fisiologis ketika masih
berada pada tanaman induknya atau mungkin setelah benih tersebut terlepas dari induknya.
Oleh karena itu, perlu dilakukan sebuah praktikum untuk menguji faktor apa saja yang
mempengaruhi perkecambahan dan bagaimana laju perkecambahan pada ketebalan biji yang
berbeda – beda.

B. TUJUAN
1. Mengetahui respons perkecambahan beberapa jenis biji terhadap faktor lingkungan
(air, suhu, cahaya, zat kimia, dan seterusnya).
2. Mengetahui laju perkecambahan menurut ketebalan biji.
3. Mengetahui batas – batas kebutuhan air dalam perkecambahan suatu biji.

1
C. DASAR TEORI
1. Perkecambahan Biji

Menurut Ashari (1995 : 19), perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan
komponen – komponen biji yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh secara normal
menjadi tanaman baru. Komponen biji adalah struktur lain di dalam biji yang merupakan
bagian kecambah, seperti calon akar (radicle), calon daun / batang (plumule), dan
sebagainya. Secara teknis, perkecambahan adalah permulaan munculnya pertumbuhan aktif
yang menghasilkan pecahnya kulit biji dan munculnya semai (Amen dalam Dahlia, 2001 :
101). Sebelum embrio bertumbuh menjadi kecambah, selalu didahului dengan proses
fisiologis hormon dan enzim. Menurut Tolle dan Hendricks (dalam Dahlia 2001 : 101),
perkecambahan meliputi proses fisiologi dan morfologi, yaitu :

1. Proses imbibisi dan absorbsi air

2. Proses hidrasi jaringan

3. Absorbsi O2

4. Pengaktifan enzim dan pencernaan

5. Transfer molekul yang terhidrolisis ke sumbu embrio

6. Peningkatan respirasi dan asimilasi

7. Inisiasi pembelahan dan pembesaran sel

8. Munculnya embrio

Banyak faktor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik yang internal dan
eksternal. Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan keseimbangan antara
promotor dan inhibitor perkecambahan, terutama asam giberelin (GA) dan asam absisat
(ABA). Faktor eksternal yang merupkan ekologi perkecambahan meliputi air, suhu,
kelembaban, cahaya dan adanya senyawa-senyawa kimia tertentu yang berperilaku sebagai
inhibitor perkecambahan (Mayer dan Mayber, 1975 : 46 - 73).

Proses perkecambahan biji menurut Jann dan Amen (dalam Khan, 1934), yaitu :

1. Penyerapan air

a. Masuk air secara imbibisi dan osmosis

b. Kulit biji

c. Pengembangan embrio dan endosperm

2
d. Kulit biji pecah, radikal keluar

2. Pencernaan

Merupakan proses terjadinya pemecahan zat atau senyawa bermolekul besar dan
kompleks menjadi senyawa bermolekul lebih kecil, sederhana, larut dalam air dan dapat
diangkut melalui membran dan dinding sel.

Makanan cadangan utama pada biji yaitu pati, hemiselulosa, lemak, protein:

a. Tidak larut dalam air atau berupa senyawa koloid

b. Terdapat dalam jumlah besar pada endosperm dan kotiledon

c. Merupakan senyawa kompleks bermolekul besar Tidak dapat diangkut (immobile)


ke daerah yang memerlukan embrionikaksis

Proses pencenaan dibantu oleh enzim:

a. Senyawa organik yang diproduksi oleh sel hidup

b. Berupa protein

c. Merupakan katalisator organik

d. Memiliki fungsi pokok:

1) Enzim Amilase merubah pati dan hemiselulosa menjadi gula

2) Enzim Protease merubah protein menjadi asam amino

3) Enzim Lipase merubah lemak menjadi asam lemak dan gliserin

e. Aktivasi enzim dilakukan oleh air setelah terjadinya imbibisi

f. Enzim yang telah diaktivasi masuk ke dalam endosperm atau kotiledon untuk
mencerna cadangan makanan

3. Pengangkutan zat makanan

Hasil pencernaan diangkut dari jaringan penyimpanan makanan menuju titik-titik


tumbuh pada embrionik axis, radicle dan plumulae. Biji belum punya jaringan
pengangkut, sehingga pengangkutan dilakukan secara difusi atau osmosis dari satu sel
hidup ke sel hidup lainnya.

4. Asimilasi

3
Merupakan tahapan terakhir dalam penggunaan cadangan makanan. Termasuk proses
pembangunan kembali, misalnya protein yang sudah dirombak menjadi asam amino
disusun kembali menjadi protein baru. Tenaga atau energi berasal dari proses pernapasan.

5. Pernafasan (Respirasi)

Merupakan proses perombakan makanan (karbohidrat) menjadi senyawa lebih


sederhana dengan membebaskan sejumlah tenaga. Pertama kali terjadi pada embrionik
axis setelah cadangan habis baru beralih ke endosperm atau kotiledon. Aktivasi respirasi
tertinggi adalah pada saat radicle menembus kulit.

6. Pertumbuhan Ada dua bentuk pertumbuhan embrionik axis:

a. Pembesaran sel-sel yang sudah ada

b. Pembentukan sel-sel yang baru pada titik-titik tumbuh

2. Dormansi

Dormansi merupakan keadaan terbungkusnya lembaga biji oleh lapisan kulit atau
senyawa tertentu. Dormansi merupakan cara embrio mempertahankan diri dari keadaan
lingkungan yang tidak menguntungkan, tetapi berakibat pada lambatnya proses
perkecambahan. Lama waktu dimana biji dorman masih hidup dan mampu berkecamabah
bervariasi dari beberapa hari hingga beberapa dekad atau bahkan lebih lama lagi, bergantung
pada spesies dan kondisi lingkungan (Loveless, 1998).

Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya,


hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut.
Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embryo. Biji yang telah masak dan siap
untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk
dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment
skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi
digunakan untuk mengatasi dormansi embrio (Salisbury and Ross, 1995).

Menurut Hartiningsih (dalam Imansari dan Haryanti, 2017 : 188), penyebab dormansi
benih adalah sebagai berikut :

1. Dormansi Fisik, penyebabnya adalah :

a. Impermeabilitas kulit terhadap air. Biasanya terjadi pada biji-biji yang mempunyai
kulit biji keras, sehingga pengambilan air terhalang kulit biji yang berdinding tebal

4
b. Permeabilitas kulit biji yang rendah terhadap gas-gas. Gas yang menjadi
penghambat adalah gas CO2.

2. Dormansi fisiologis, penyebabnya adalah :

a. Immaturity embrio yaitu perkembangan embrio tidak secepat jaringan sekitarnya,


sehingga perkecambahan perlu ditunda dan biji ditempatkan pada kondisi tertentu
sampai embrio sempurna.

b. After ripening yaitu setiap perubahan pada kondisi fisiologis benih selama
penyimpanan, sehingga benih mampu berkecambah. Benih ini bisa langsung
berkecambah bila setelah panen diberi perlakuan khusus. Tetapi setelah disimpan
beberapa waktu, perlakuan khusus itu tidak diperlukan contohnya selada dapat
berkecambah langsung bila diberi suhu < 20°C.

Sifat dormansi menurut Imansari dan Haryanti (2017 : 188) ada 2, yaitu :

1. Dormansi sekunder yaitu benih yang dalam keadaan normal dapat berkecambah, tetapi
bila dikenakan pada suatu keadaan yang tidak menguntungkan selama beberapa waktu
dapat kehilangan kemampuan berkecambah.

2. Dormansi karena hambatan metabolisme pada embrio terjadi karena adanya zat
penghambat perkecambahan dalam embrio.

Menurut Yuniarti (dalam Alghofar, dkk., 2017 : 1640), beberapa perlakuan dapat
diberikan pada benih, sehingga tingkat dormansinya dapat diturunkan dan presentase
kecambahnya tetap tinggi. Perlakuan tersebut dapat ditujukan pada kulit benih, embrio
maupun endosperm benih dengan maksud untuk menghilangkan faktor penghambat
perkecambahan dan mengaktifkan kembali sel – sel benih yang dorman. Salah satu contoh
benih yang memiliki masa dormansi cukup lama adalah beinh sengon. Pematahan dormansi
benih sengon perlu dilakukan dengan perendaman menggunakan air panas sebagai perlakuan
pendahuluan sehingga kulit benih lebih lunak dan permeable (Alghofar, dkk., 2017 : 1640).

D. ALAT DAN BAHAN


1. Cawan petri
2. Kapas
3. Biji saga (biji kulit tebal)
4. Biji asam (biji kulit tipis)
5. Larutan NaCl 2%
5
6. Larutan HCl 10%
7. Larutan sabun 2%
8. Air

E. CARA KERJA
 Menyiapkan cawan petri atau tempat lainnya sebagai tempat pengecambahan 2
macam kelompok biji (satu jenis biji kulit tipis dan satunya kulit tebal).
 Menyiapkan 2 set perlakuan untuk kedua jenis biji (setiap kelompok melakukan 2
macam perlakuan yang sudah ditentukan sebelumnya).
 Menyiapkan masing – masing 20 butir biji untuk kedua kelompok biji tersebut dan
berilah perlakuan masing – masing seperti berikut :
a. 10 biji diberi perlakuan I, dengan 2 ulangan.
b. 10 biji diberi perlakuan II, dengan 2 ulangan.
 Menempatkan semua petri pada tempat yang sama.
 Mengamati setiap gejala yang ditunjukkan untuk tiap kelompok biji. Perkecambahan
diakhiri apabila salah satu kelompok percobaan sudah berkecambah di atas 90%.
 Menjaga kondisi untuk tiap unti perlakuan tetap stabil dengan mengontrol kondisi ini
perlakuannya.
Catatan : berilah label atau tanda untuk setiap unit perlakuan untuk menghindari
kekeliruan pendataan.

F. HASIL PENGAMATAN
Jumlah biji berkecambah pada perlakuan direndam H2SO4 10% dan NaCl 2%

Hari Biji kulit tipis Biji kulit tebal


ke Cawan petri I Cawan petri II Cawan petri I Cawan petri II
1 1 biji 1 biji - -
2 1 biji 1 biji - -
3 - - 2 biji 1 biji
4 - - - 1 biji
5 1 biji 2 biji - -
6 - 1 biji 1 biji -
7 - - - -
Total 3 biji 5 biji 3 biji 2 biji
Keterangan : biji kulit tipis yang digunakan adalah biji asam, diberi perlakuan direndam
dengan larutan NaCl 2% selama 30 menit, sedangkan biji kulit tebal yang digunakan
adalah biji saga, diberi perlakuan direndam dengan larutan H2SO4 10% selama 30 menit.
6
Rata – rata jumlah biji berkecambah pada masing – masing perlakuan
Direndam Direndam Direndam Direndam
H2SO4 10% NaCl 2% sabun 2% H2SO4 10%
Ulangan Kontrol
selama 30 selama 30 selama 1 selama 1
menit menit jam jam
1 3 biji 3 biji
2 5 biji 2 biji
Rerata 40% 25%

Grafik

G. PEMBAHASAN

Pada tanggal 2 Mei 2019 telah dilaksanakan praktikum struktur fungsi tumbuhan dengan
judul “Dormansi dan Perkecambahan Biji”. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui
respons perkecambahan beberapa jenis biji terhadap faktor lingkungan (air, suhu, cahaya,
zat kimia, dst.), untuk mengetahui laju perkecambahan menurut ketebalan kulit biji, dan
untuk mengetahui batas – batas kebutuhan air dalam perkecambahan suatu biji. Pada
praktikum ini, setiap kelompok diberi tugas untuk melakukan 2 set perlakuan terhadap biji
yang berbeda. Biji yang digunakan adalah biji asam yang memiliki kulit biji tipis dan biji
saga yang memiliki kulit biji tebal. Biji asam dan biji saga diberi perlakuan yang berbeda
dan dilakukan 2 kali pengulangan perlakuan, sehingga setiap kelompok akan memiliki
masing – masing 4 cawan petri yang di mana 2 cawan petri pertama untuk biji asam dan
perlakuan yang ditugaskan dan 2 cawan petri terakhir untuk biji saga dan perlakuan yang
ditugaskan. Hal pertama yang dilakukan adalah merendam biji dengan cairan yang sudah
ditentukan, untuk perlakuan kontrol, kedua biji hanya direndam dengan air biasa, untuk
perlakuan direndam dengan larutan H2SO4 10%, biji yang diberi perlakuan ini direndam
dengan larutan H2SO4 10% selama 30 menit dan 1 jam, untuk perlakuan direndam dengan
sabun 2%, biji yang diberi perlakuan ini direndam dalam larutan sabun 2%.

Pada biji asam yang diberi perlakuan direndam dengan larutan NaCl 2% selama 30 menit,
terjadi perubahan yaitu salah satu biji pada cawan petri kedua sudah pecah terlebih dahulu
kulitnya pada saat direndam dengan larutan NaCl 2%. Hal ini berarti perkecambahan biji
dapat dipengaruhi oleh NaCl yang merupakan zat kimia. Selain itu, pecahnya kulit biji
tersebut yang lebih dulu dibanding biji lainnya menggambarkan bahwa biji tersebut memiliki

7
biji yang tipis sehingga begitu diberi zat kimia langsung bereaksi. Pada hari pertama dan
kedua, pada masing – masing cawan petri, terdapat 1 biji yang berkecambah, terlihat dari
sedikit membukanya kulit biji. Lalu pada hari kelima cawan petri pertama, satu biji
berkecambah lagi ditandai dengan sedikit terbukanya kulit biji. Sedangkan pada cawan petri
yang kedua terdapat 2 biji yang berkecambah dan pada hari keenam hanya satu biji pada
cawan petri kedua yang berkecambah. Pada perlakuan ini didapatkan presentase
perkecambahan 40% dari seluruh biji yang digunakan untuk percobaan (20 biji pada ulangan
pertama ddan kedua). Hal ini membuktikan bahwa biji asam yang memiliki kulit biji lebih
tipis dibandingkan kulit biji saga lebih mudah mengalami perkecambahan karena tidak
mengalami dormansi seperti biji saga. Selain itu, kulit biji asam yang tipis tidak akan
menghambat radikula untuk dapat keluar dari biji pada proses perkecambahan.

Pada biji saga, diberikan perlakuan direndam dengan larutan H2SO4 10% selama 30
menit. Perkecambahan biji baru terlihat pada hari ketiga, pada cawan petri pertama terdapat
2 biji yang berkecambah, sedangkan pada cawan petri yang kedua hanya terdapat 1 biji yang
berkecambah. Pada hari keempat hanya 1 biji yang berkecambah pada cawan petri kedua.
Lalu perkecambahan terakhir terjadi pada 1 biji di cawan petri pertama, perkecambahan ini
terjadi pada hari keenam. Pada perlakuan ini didapatkan persentase perkecambahan sebesar
25%. Hal ini membuktikan bahwa biji saga yang memiliki kulit biji lebih tebal dibanding
kulit biji asam lebih sulit untuk berkecambah karena mengalami dormansi dan faktor utama
yang menyebabkan dormansi pada biji ini adalah kulit bijinya yang tebal sehingga
menyebabkan radikula sulit untuk keluar dari biji.

H. JAWABAN PERTANYAAN
1. Ciri morfologi apa yang menunjukkan adanya perkecambahan ?
Menurut analis benih, benih dikatakan berkecambah jika sudah dapat dilihat atribut
perkecambahannya, yaitu plumula dan radikula dan keduanya tumbuh normal dalam
jangka waktu tertentu. Sewaktu perkecambahan, yang pertama kali keluar adalah
radikula. Selanjutnya pada radikel ini keluar akar-akar cabang (lateral roots), bersama-
sama dengan akar primer membentuk sistem akar primer. Sistem akar primer ini biasanya
hanya berfungsi untuk sementara, dan kemudian mati. Fungsi sistem akar primer ini
kemudian digantikan oleh akar-akar adventif yang keluar dari nodus batang yang pertama
dan beberapa nodus di atasnya. Sistem akar adventif (akar serabut) inilah yang menjamin
kehidupan tanaman teresbut selanjutnya dalam hal penyerapan air dan bahan makanan
dari tanah dan sebagai alat penambat pada tanah.
8
2. Selama berlangsung perkecambahan fisiologis, proses apa saja yang terjadi pada
kecambah tesebut ?
Proses perkecambahan fisiologis, dalam tahap ini embrio di dalam benih yang semula
berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang
menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal
sebagai kecambah. Kecambah adalah tumbuhan (sporofit) muda yang baru saja
berkembang dari tahap embrionik di dalam benih. Tahap perkembangan ini disebut
perkecambahan dan merupakan satu tahap kritis dalam kehidupan tumbuhan. Proses
perkecambahan dalam hal ini melalui 3 tahap, yakni: (i) Perembesan air ke dalam benih
(imbibisi), (ii) pengaktifan proses metabolisme; dan (iii) perkecambahan (Kozlowski,
1972). Selain itu juga terjadi proses transport materi hasil pemecahan dari endosperm ke
embrio, pembentukan kembali materi-materi baru dan respirasi.

3. Apakah suatu biji memiliki batas-batas toleransi tertentu terhadap berbagai faktor
ekologi perkecambahan, termasuk diantaranya terhadap kebutuhan air ?
Ya, karena faktor ekologi termasuk diantaranya kebutuhan air merupakan faktor
eksternal yang mengkontrol proses perkecambahan biji. Apabila faktor-faktor tersebut
kadar dan intensitasnya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan biji tersebut maka proses
perkecambahan akan terganggu.
4. Apa pengertian dormansi dan faktor apa saja yang menyebabkan gejala dorman
tersebut?
Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya,
hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses
tersebut. Faktor – faktor yang menyebabkan gejala dorman adalah impermeabilitas
kulit terhadap air, adanya zat penghambat, resistensi mekanis kulit biji terhadap
pertumbuhan embrio, ketidakseimbangan zat pemacu pertumbuhan dengan zat
penghambat pertumbuhan, dan lain sebagainya.

I. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa,

J. DAFTAR PUSTAKA

9
Alghofar, Wildan Arif, dkk. 2017. Pengaruh Suhu Air dan Lama Perendaman Terhadap
Perkecambahan dan Pertumbuhan Bibit Sengon (Paraserianthes falcataria L.
Nielsen). Jurnal Produksi Tanaman, 5, 10, 1639 – 1644.
Ashari, Sumeru. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Jakarta : UI – Press.
Dahlia. 2001. Fisiologi Tumbuhan. Malang : FMIPA UNM.
Imansari, Fernanda dan Haryanti, Sri. 2017. Pengaruh Konsentrasi HCl terhadap Laju
Perkecambahan Biji Asam Jawa (Tamarindus indica L.). Buletin Anatomi dan
Fisiologi, 2, 2, 187 – 192.
Khan, I. M. 1934. Encyclopedia of Plant Molecular Physiology. New Delhi : Anmol
Publisher.
Loveless, A. R. 1998. Prinsip – prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 2. Jakarta :
Gramedia.
Mayer, A. M dan Mayber, A. P. 1975. Germination of Seed Second Edition. New York :
Pargamon Press.
Salisbury, Frank B. dan Ross, Cleon W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung :
Penerbit ITB.

10
K. LAMPIRAN

Penampakan biji asam pada hari kelima (7 Mei 2019)

Penampakan biji saga pada hari keenam (7 Mei 2019)

11