Anda di halaman 1dari 15

CRITICAL BOOK REVIEW

PEDAGOGI OLAHRAGA

DISUSUN OLEH :
NAMA : FERRY NURIADY
NIM : 6183311018
KELAS : PJKR D 2018

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN


PENDIDIKAN JASMANI, KESEHATAN & REKREASI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kemudahan sehingga mampu
menyelesaikan Critical Book Report (CBR). Tanpa pertolongan-Nya tentunya penyusun tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-
natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penyusun mampu untuk menyelesaikan
pembuatan Critical Book Report sebagai tugas dari mata kuliah Anatomi Manusia.

Penyusun tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penyusun mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca untuk hal ini, supaya CBR ini nantinya dapat menjadi makalah
yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada penulisan, penyusun
mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu penyusunan
Critical Book Report Anatomi Manusia ini. Demikian, semoga Critical Book Report ini dapat
bermanfaat bagi banyak pihak. Terimakasih

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Medan, 4 Oktober 2019

Ferry Nuriady

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................ii

DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1

A. Latar belakang .............................................................................................. 1


B. Tujuan .......................................................................................................... 1
C. Manfat .......................................................................................................... 1
D. Identitasa buku ............................................................................................. 2
BAB II RINGKASAN ISI BUKU ........................................................................... 3
ISI BAB X................................................................................................................ 3
A. Pengertian Media Belajar Pendidikan Jasmani ............................................ 3
B. Jenis-Jenis Media Pembelajaran Pendidikan Jasmani ................................. 4
C. Prinsip Pemilihan dan Penggunaan Media Pendidikan Jasmani.................. 4
D. Pengelolaan Fasilitas dan Alat Pendidikan Jasmani .................................... 5

ISI BAB XI .............................................................................................................. 6

A. Konsep Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani ...................................... 6


B. Rumpun Model Pembelajaran Pendidikan Iasmani ..................................... 7

BAB III KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU ......................................... 8

A. Keunggulan dan kelemahan ......................................................................... 8

BAB IV PENUTUP ................................................................................................. 9

A. Kesimpulan ................................................................................................. 9
B. Saran ............................................................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 10

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Mengajar adalah perbuatan yang kompleks. Perbuatan yang kompleks dapat diterjemahkan
sebagai penggunaan secara integratif sejumlah komponen yang terkandung dalam perbuatan
mengajar itu untuk menyampaikan pesan Pembelajaran. Oleh karena itu, dalam dunia
Pembelajaran ada baiknya guru menggunakan suatu prototipe dari suatu teori atau model. Disebut
model karena hanya merupakan garis besar atau pokok-pokok yang memerlukan pengembangan
yang sangat situasional.
Secara harfiah, media berarti perantara atau Pengantar Association for Education
Communication Technology mengartikan media; sebagai segala bentuk yang dipergunakan untuk
proses penyaluran informasi. National Education Association mendefinisikan media sebagai
segala hal yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta
pirantinya untuk kegiatan tersebut. Secara umum dapat dinyatakan bahwa media sering juga
disebut perangkat lunak atau materi, maksudnya adalah segala hal yang memuat pesan atau bahan
ajar untuk ditransmisikan melalui suatu alat tertentu.

B. Tujuan
 Untuk memenuhi tugas wajib dari KKNI di mata kuliah Pedagogi Olahraga
 Sebagai tolak ukur perkembangan mengkritik sebuah buku
 Mengetahui metode perkembangan pembelajaran penjas

C. Manfaat
 Untuk menambah pengetahuan ilmiah dalam membandingkan buku sehingga dapat
mengambil kesimpulan yang lebih baik.
 Untuk mempermudah pemahaman mahasiswa terhadap materi dalam buku.
 Memahai tujuan penulis
 Sebagai wawasan pengetahuan dan bahan kajian

1
D. Identitas Buku

BUKU UTAMA

Judul Buku : STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN


JASMANI
Penulis : Ega Trisna Rahayu, M.Pd
Penerbit : Alfabeta
Tahun Terbit : 2016
Kota terbit : Bandung
Ketebalan buku : x + 262 Halaman
ISBN : 978-602-7825-97-0

2
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

BAB X : Strategi Penggunaan Media, Waktu, dan Ruang Dalam Pembelajaran Pendidikan
Jasmani
A.Pengertian Media Pembelajaran Jasmani
Secara harfiah, media berarti perantara atau Pengantar Association for Education
Communication Technology mengartikan media; sebagai segala bentuk yang dipergunakan untuk
proses penyaluran informasi. National Education Association mendefinisikan media sebagai
segala hal yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta
pirantinya untuk kegiatan tersebut. Secara umum dapat dinyatakan bahwa media sering juga
disebut perangkat lunak atau materi, maksudnya adalah segala hal yang memuat pesan atau bahan
ajar untuk ditransmisikan melalui suatu alat tertentu.
R. Rahardjo (1984248) menyatakan bahwa media merupakan wadah dari pesan yang Oleh
sumber atau penyaluran ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan. Lebih lanjut
dinyatakan bahwa materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, dan tujuan yang
ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar. Dengan kala lain dapat dinyatakan bahwa tujuan
media itu pada dasarnya agar siswa itu belajar. Berdasarkan tujuannya itu maka kedudukan media
dalam proses belajar-mengajar itu menjadi penting sama penting dengan guru itu sendiri. Oleh
karena itu, ada kecenderungan dari pakar teknologi pendidikan untuk mendesain suatu sistem
belajar tanpa guru.. Guru digantikan media Pembelajaran, salah satu produknya ialah belajar
berprogram dengan komputer.
Menurut AECT (1977288) terdapat empat tipe pola proses belajar : yang pertama, yaitu
pola tradisional merupakan hubungan guru siswa dan guru. Guru merupakan satu-satunya sumber
belajar. Tipe kedua gdalah guru merupakan sumber utama proses belajar-mengajar aedangkan
sumber yang lain seperti media, teknik, dan lingkungan panya penunjang saja. Tipe ketiga adalah
pola guru dan media bersama menjadi sumber utama proses belajar mengajar. Guru melibatkan
diri dengan sistem Pembelajaran yang dimediakan. Guru berbagi tanggung jawab dengan media.
Tipe keempat adalah Pembelajaran yang dimediakan di mana satu-satunya sumber utama proses
belajar merngajar adalah media.

3
Berdasarkan anggapan yang lebih modern, media ini mempunyai kemampuan ya'ng lebih
luas dari hanya sekedar alat bantuR. Rahardjo (1984:51) secara lebih rinci kemampuan tersebut
sebagai berikut:

1. Membuat kongkrit konsep yang abstrak, misalnya untuk menjelaskan sistem peredaran
darah.
2. Membawa objek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar.
3. Menampilkan objek yang terlalu besar, misalnya lapangan bola, lapangan basket, dan
sebagainya.
4. Mengamati gerakan yang terlalu cepat, misalnya dengan slow motion.
5. Memungkinkan siswa berinteraksi dcngan lingkungannya.
6. Memungkinkan keseragaman pengamatan dan perswpsi bagi pe ngalaman belajar siswa.
7. Membangkitkan motivasi
8. Memberi kesan perhatian individual untuk seluruh anggota kelompok belajar.
9. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan
menurut kebutuhan.
10. Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu dan
ruang, dan mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

B. Jenis-jenis Media Pembelajaran Pendidikan Jasmani


Menurut Rudy Bretz yang dikemukakan R. Rahardjo jenis-jenis media itu dapat
digolongkan menjadi tujuh kelompok. Ketujuh kelompok itu adalah sebagai berikut:
1. Media audio visual gerak merupakan media yang paling lengkap, yaitu menggunakan
kemampuan audio visual dan gerak.
2. Media audio visual diam media kedua dari segi kelengkapan kemampuannya karena ia
memiliki semua kemampuan yang ada pada golongan sebelumnya kecuali penampilan
gerak.
3. Media audio semi gerak memiliki kemampuan menampilkan sua'ra disertai gerakan inti
secara linier, jadi tidak dapat menampilkan gerakan nyata secara utuh.
4. Media visual gerak memiliki kemampuan seperti golongan pertama kecuali penampilan
suara.
5. Media visual diam mempunyai kemampuan menyampaikan informasi secara visual tetapi
tidak dapat menampilkan suara maupun gerak.
6. Media audio adalah media yang hanya memanipulasikan kemampuan-kemampuan suara
semata-mata.
7. Sedangkan media cetak merupakan media-media yang hanya mampu menampilkan
informasi berupa huruf dan angka (alpha' numeric) simbol-simbol verbal tertentu

C. Prinsip Pemilihan dan Penggunaan Media Pendidikan Jasmani

4
Pemilihan media untuk suatu proses belajar-mengajar adalah suatu tindakan strategis.
Artinya pemilihan, penetapan dan pembuatan media Pembelajaran perlu diperhatikan dan
dilaksanakan secara cermat. Media proses belajar-mengajar ini banyak jenisnya dan beraneka
ragam penggunaannya. Agar penggunaannya efektif sebaiknya dipilih berdasarkan kriteria
tertentu. Kriteria tersebut adalah: Pertama, tujuan pemilihan itu sendiri harus jelas. Apakah sekedar
untuk rekreasi/ hiburan, informasi umum, pembelajaran atau untuk tujuan yang lebih spesifik.
Kedua, familiaritas media, yaitu media itu harus dikenali sifat dan ciri-cirinya. Ketiga, pemilihan
itu hendaknya berdasarkan kriteria tertentu sebagai pegangan atad patokan.

Ketentuan-ketentuan tersebut merupakan keterituan yang umum sifatnya, sedangkan kriteria yang
lebih spesifik adalah:
1. Menunjang tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Media yang dipilih ini benar-benar
dapat membantu tcrcapainya tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
2. Tepat guna dalam artian sesuai dengan materi atau bahan ajar yang akan disampaikan.
3. Keadaan siswa yang meliputi kemampuan, pengetahuan. dan besarnya kelompok.
4. Ketersediaan media itu di sekolah.
5. Mutu teknisi media itu harus terjamin.
6. Biaya pembuatan, pengoperasian, pemeliharaan dan harganya.

D. Pengelolaan Fasilitas dan Alat Pendidikan Jasmani


Yang dimaksudkan dengan perlengkapan di sini ialah segala hal Yang melengkapi proses
belajar-mengajar, umpamanya pemukul bola, raket, net. Gawang palang sejajar, dan lain
sebagainya. Dikelolah dengan sebaik baiknya misalnya, di bangun sebuah gudang untuk
menyimpan segala alat dan perlengkapan untuk menununjang tercapainya pembelajaran

5
BAB XI : Strategi Penggunaan Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani

A. Konsep Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani


Mengajar adalah perbuatan yang kompleks. Perbuatan yang kompleks dapat diterjemahkan
sebagai penggunaan secara integratif sejumlah komponen yang terkandung dalam perbuatan
mengajar itu untuk menyampaikan pesan Pembelajaran. Oleh karena itu, dalam dunia
Pembelajaran ada baiknya guru menggunakan suatu prototipe dari suatu teori atau model. Disebut
model karena hanya merupakan garis besar atau pokok-pokok yang memerlukan pengembangan
yang sangat situasional.
Dalam studi pengembangan pembelajaran, model mendapat perhatian khusus. Secara
umum istilah ”model” diartikan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan suatu kegiatan.
Fred Percipal dalam Hamalik (2000:2) menyatakan bahwa, ”Model a physical or conceptual
representation of an object or sistem, incorporating certain spech features of the original.” Maksud
pernyataan tersebut, suatu model adalah suatu penyajian fisik atau konseptual dari suatu obyek
atau sistem yang mengkombinasikan/menyatukan bagian-bagian khusus tertentu dari obyek
aslinya. Iadi suatu model bukan merupakan bentuk asli, tetapi hempa rancangan yang terdiri dari
banyak reproduksi.
Dengan adanya model, maka hubungan fungsional diantara berbagai komponen, unsur atau
elemen sistem tertentu dapat diperjolaskan Dengan adanya model, maka prosedur yang akan
ditempuh dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan dapat diidentifikasikan secara tepat
Dengan adanya model maka berbagai kegiatan yang dicakupnya dapat dikendalikan.
Dengan adanya model, mempermudah para administrator untuk mengidentifikasikan komponen,
elemen yang mengalami hambatan jika kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan terasa adanya
ketidak: efektifan atau ketidakproduktifan.
B. Rumpun Model Pembelajaran Pendidikan Iasmani
1. Model Pemrosesan Informasi

Rumpun model im' terdiri dari model Pembelajaran yang menjelaskan bagaimana cara
individu memberi respon yang datang dari lingkungannya dengan cara mengorganisasikan data,
memformulasikan masalah, membangun konsep dan rencana pemecahan masalah serta
penggunaan simbol-simbol verbal dan non verbal. Di antara model yang termasuk dalam rumpun
ini ditemukan juga model yang menitikberatkan perhatiannya pada proses dimana siswa dibimbing
6
untuk dapat memecahkan masalah, ada pula model yang mengutamakan pada kecakapan
intelektual umum. Kadang kala dijumpai pula model yang menonjolkan interaksi sosial dan
hubungan antar pribadi serta perkembangan kepribadian murid yang terintegrasi dan fungsional.
Model pemrosesan informasi memfokuskan perhatian pada aktivitas yang membina keterampilan
(skill), dan isi (content) Pembelajaran yang disampaikan kepada siswa.

2. Model Pribadi

Rumpun Model Pribadi, terdiri atas model Pembelajaran yang berorientasi pada
perkembangan diri individu. Penekanannya lebih pada proses yang membantu individu dalam
membentuk dan mengorganisasikan realita yang unik. Model ini lebih banyak memperhatikan
pada kehidupan emosional siswa. Sehingga dapat dikatakan bahwa usaha pembelajaran lebih
bersifat menolong siswa dalam mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya.
Siswa, dengan model pembelajaran ini diharapkan dapat melihat diri mereka sebagai pribadi yang
berada dalam suatu kelompok dan cukup mempunyai kecakapan. Dengan demikian ia dapat
menghasilkan hubungan inter-personal yang cukup kaya. Model Pribadi mengutamakan hubungan
antar pribadi, pertumbuhan siswa yang dihasilkan dengan aktivitas mengajar.
3. Model Interaksi Sosial
Rumpun Model Interaksi Sosial ini mengutamakan pada hubungan individu dengan
masyarakat atau orang lain, dan memusatkan perhatiannya pada proses dimana realita yang ada
dipandang sebagai suatu negosiasi sosial (sosial negotiated). Konsekuensi dari model~ model
Pembelajaran rumpun ini menvebabkan prioritas utamanya diletakkan pada kecakapan individu
dalam berhubungan dengan Orang lain. Individu dihadapkan pada situasi yang cukup demokratis
dam dapat bekerja lebih produktif dalam masyarakat. Model Interaksi sosial leblh menitik beratkan
perhatiannya pada energi kelompok dan Proses Interaksi yang terajadi dalam kelompok.
4. Model Perilaku
Model Perilaku titik beratnya mengutamakan perubahan perilaku yang spesifik.Pada
dasarnya, model pembelajaran dikembangkan untuk membantu guru memperbaiki kapasitasnya
agar mampu menjangkau lebih banyak sisi kehidupan siswa dan menciptakan bermacam-macam
lingkungan yang lebih baik dan kaya bagi mereka. Model Pembelajaran merupakan sebuah strategi
yang digunakan oleh guru untuk mendekati pencapaian tujuan. Dalam dunia Pembelajaran, model
Pembelajaran identik dengan pola dasar mengajar, sistem, dan prosedur didaktik\

7
BAB III

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU

BUKU UTAMA

Kelebihan

 Buku ini menjelaskan secara sistematis bagaimana menjadi guru penjas yang baik
 Penggunaan kata yang baik dan mudah di mengerti
 Memiliki referensi dari banyak ahli di bidangnya
 Lebih banyak mengintruksikan langkah langkah dari pada mendeskripsikan isi

Kekurangan

 Tidak memiliki rangkuman di tiap bab sehingga pembaca kesulitan jika ingin
mempercepat pemahaman
 Tidak dilengkapi gambar
 Beberapa pembahasan menggunakan bahasa asing yang tidak diterjemahkan penulis

8
BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan
Secara umum dapat dinyatakan bahwa media sering juga disebut perangkat lunak atau
materi, maksudnya adalah segala hal yang memuat pesan atau bahan ajar untuk ditransmisikan
melalui suatu alat tertentu. Pemilihan media untuk suatu proses belajar-mengajar adalah suatu
tindakan strategis. Artinya pemilihan, penetapan dan pembuatan media Pembelajaran perlu
diperhatikan dan dilaksanakan secara cermat. Media proses belajar-mengajar ini banyak jenisnya
dan beraneka ragam penggunaannya. Agar penggunaannya efektif sebaiknya dipilih berdasarkan
kriteria tertentu. Kriteria tersebut adalah: Pertama, tujuan pemilihan itu sendiri harus jelas. Apakah
sekedar untuk rekreasi/ hiburan, informasi umum, pembelajaran atau untuk tujuan yang lebih
spesifik. Kedua, familiaritas media, yaitu media itu harus dikenali sifat dan ciri-cirinya. Ketiga,
pemilihan itu hendaknya berdasarkan kriteria tertentu sebagai pegangan atad patokan.

2. Saran

Sebagai seorang calon tenaga pendidik, terutama di bidang olahraga. Buku ini tentu sangat
membantu untuk menjadi tenaga pendidik jasmani masa depan yang cemerlang. Segala ide ide dan
strategi belajar pendidikan jasmani yang ditawarkan dapat kita terapkan kepada anak anak calon
penerus negeri ini.

9
DAFTAR PUSTAKA

Adan; Suherman. (2001). Evaluasi Pendidikun lament Jakarta: Dltjen. Pendidikan Dana:
dun Menengah.

Agus Mahendn. (2008). Pendeknm dun smtegi Pembtlaiamn Pendldzknn lasmtmi.


Bandung: FPOK UPI.

Agus Mnhendra clan Amung Ma'mun. (1998). Tani Belajnr dun Panbelajarm Motorik.
Bandung CV. Andira.

Arikunto Suharsimi. (19%). Prosedur Pmlitim. Yogyakam: Pl' Renika 6pm

Anna Abdullah. (1W6). Penyusum T5 dun Evaluasi. Yogyakarta: Yayasan Sekolah Tinggi
Olahraga.

Barrow, Hamldo d: McGee Rosemary. (1976). A Practical Approach To Measurement In


Physical Educatwn. Philadelphia: Lea & Febiger.

Bucher. (1983). Foundation of Physical Education & Sport. (9th ed). St.Louis, Missouri:
The Mosby Co.

Cholik dan Lutan. (1996). Pmdidikan Insmam‘ den Kathattm, Jakarta: Depdikbud.
Direktorat lenderal Pendidikan Tinggi.

Djemari Mardapi. (2002). Kumpulau Makalnh Seminar dun lakakarya. Yogyakarta:


Universitas Negeri Yogyakana.

10
Fay (2009). Kunsep Pembelajaran Pendidikan Jasmani. Internet http2/ lmwikipediaorg.

Hanison, Joke M., Blakemore, Conie L, (1989). Instructional Strategies. Iowa: Wu. C.
Brown Publisher.

I. Harmon dan Tomoliyus. (2000). Malerl‘ Afar Pmdidiknn-[asmmiKesehaam Sekolah


Dasar. Yogyakarta: U'NY.

)Hattoto clan Tomoliyus. (2000). Smfegi Pembelajamu Penjas dam Gaya Pengujmm di
Sclmlah Dnsar dun Sekalah Menengah. Yogyakarta: UNY.

Kilkendan. Gruber, Iohnsan. (1980). Measurement and Evaluation )1» Hlysiml Educators.
Iowa: Wm. Brown Company Publisher.

Magm, mm A. (1985). Motor Lamn'ng Concepts 5 Application. Iowa WILC. Brown


Publisher.
Muller, MichaelJN. (1999). Instructiamll Models For Physical Education. Allyn and
Bacon. USA.

Miller, David G K. (1994). Measurement by the Physical Educator. Illinois: McGraw-Hill


Companies.

Nasuuon. (1904). Didnkn'k Asas-asas' Mmgajar. Bandung. lemma.

Nurhasan (2000). Pmilm’an Pembclajamn ijaskes. Jakarta: Pusat Penerbi: Univetsitas


Terbuka.

Rusli Lutan. (1988). Belajar Ketemmpilan Motorik Pengnntar Teori dun Metode. Jakarta:
Depdikbud.

11
Rusli Lutan. (2002). Mengajar Pendidikan Iasmam'. Jakarta: Direktorat Jenderal Olahraga
Depdiknas.

Rusli Lutan. (2004). Perencanaan dun Shategi Pembelajaran Penjaskes. Jakarta: Dirjen
Pendidikan Dasar dan Menengah Depdikbud.

Saiful Sagala. (2006). Konsep dun Makmz Pembelajanm. Bandung: Alfabeta.

Samsudin. (2008). Pembelajaran Pendidikan )asmani Olahraga darn Kesehamn SMA/MA.


Jakarta: Prenada Media Group. Simaniuntak, dkk. (2008). Bahan Ajar Cetak (Pendidikan
Iasmnm' dun Kesehatan). Jakarta: Direktorat Ienderal Pendidikan Tinggi

Departemen Pendidikan Nasional.

Srijono Brotosuroyo, Sunardi, Furqon. (1995). Perencnnaan Pengajanm Pendidikan


Iasmam' dun Kesehatan. Jakarta: Dirjen. Pendidikan Dasar dan Menengah Depdikbud.

Sugiyanto, dkk. (2004). Dasar-Dasar Belajar Gerak (Modal 1-3). Jakarta: Departemm
Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat
Tenaga Kependidikan. Bagian Proyek Pengendalian dan Peningkatan Mutu Guru Penjas
Dikdasmen.

Sukintaka. (2004). 'I‘eon’ Pendidikan Iasmam‘ (Filosoji Pembelajaran dun Mast Depart.
Bandung: Nuansa.

Sunaxyo. (1983). Evaluasi Hasil Belajar. Jakarta: Dirjen. Dikh‘. Depdikbud.

Supandi. (1992). Smugi Pnnbelajmn Pendidikan Iasmam‘. Jakarta: Depdikbud.

12