Anda di halaman 1dari 67

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.

Kebebasan merupakan problem yang terus-menerus digeluti dan diperjuangkan oleh


manusia. Keinginan manusia untuk bebas merupakan keinginan yang sangat mendasar.1
Oleh karena itu tidak mengherankan kalau dalam sejarah perkembangan pemikiran muncul
berbagai pendapat yang berusaha menjawab problem tersebut. Meskipun demikian tetap
harus diakui bahwa persoalan kebebasan manusia merupakan suatu persoalan yang masih
tetap terbuka sampai dewasa ini. Hal tersebut ada, karena titik tolak yang digunakan untuk
menjawab persoalan itu bukan hanya sering kali berbeda, namun juga sering kali
bertentangan.2 Salah satu sebab munculnya kontroversial dalam hal penjelasan dan
pemberian jawaban itu adalah perbedaan latar belakang dan pengalaman hidup para pemikir.
J.P Sartre yang lahir dan dibesarkan serta bergumul dalam lingkungan industri jelas
memiliki pola pemikiran yang berbeda dengan Albert Camus yang hidup dalam masa
revolusi Aljazair yang berusaha menuntut kebebasan dari Perancis. Pengalaman Camus
berhadapan langsung dengan teror-teror dan kemiskinan membuahkan pola pemecahan yang
berbeda dengan pemikiran Sartre yang lebih bersifat teoretis dan abstrak. Dalam konteks ini
dapat diambil contoh pemikiran Louis Leahy tentang kebebasan manusia. Louis Leahy
berpendapat bahwa “kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. Manusia
adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. Dalam perbuatan berkehendaknya
kelakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Karena itu pada dasarnya
manusia tidak dapat tidak berkehendak”.3

Begitu esensial dan konkrit unsur kebebasan bagi eksistensi atau adanya manusia di
dunia, sehingga kebebasan dalam peziarahan hidup manusia menjadi suatu yang secara
terus-menerus diperjuangkan. Di antara masalah yang menjadi bahan perdebatan sengit dari
sejak dahulu hingga sekarang adalah masalah kebebasan atau kemerdekaan menyalurkan
kehendak dan kemauan. Dalam ini kebebasan tekait erat dengan aspek moralitas, banyak
kalangan berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan yang akan dilakukannya sendiri,

1
Bdk. DR. Nico Syukur Dister OFM, Filsafat Kebebasan, Kanisius, Yogyakarta,1993, hal 5
2
Nusa Putra, Pemikiran Soedjatmoko Tentang Kebebasan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994,
hal xviii
3
Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal, hal 1.
sementara golongan yang lain menyatakan bahwa manusia tidak memiliki kebebasannya
secara proporsianal. Saat ini, banyak suara-suara miring yang diperdengarkan oleh para ahli
dan masyarakat pada umumnya tentang persoalan moralitas anak bangsa yang diduga telah
berjalan dan mengalir ke luar dari garis-garis humanitas yang sejati. Banyak kalangan yang
mengkhawatirkan akan dan atau bahkan mungkin telah adanya dekadensi moral
berkepanjangan yang tentu akan meniscayakan penurunan harkat dan martabat kemanusiaan.
Kondisi kemanusiaan semacam ini dipertegas lagi dengan derasnya arus informasi dan
komunikasi di era globalisasi saat ini yang mana setiap saat orang berhadapan dengan
berbagai macam pandangan, ideologi dan gaya hidup yang sedemikian rupa yang dapat saja
menggoncangkan kestabilan moralitas yang telah terbangun rapi selama ini. Bahkan kondisi
ini tidak jarang pula akan menerpa sendi-sendi kehidupan keberagamaan sebagai bangunan
dasar moralitas itu sendiri.

Kondisi kehidupan manusia yang semakin plural seiring dengan konsekuensi logis
arus komunikasi dan globalisasi yang mengubah cara pandang dan gaya hidup yang tentu
berdampak pada akulturasi budaya, dapat pula terimplikasi dalam menentukan dan memilih
nilai-nilai moral. Berbagai kebebasan dan kesempatan yang modernitas saat ini berikan
menempatkan suatu rangkaian pilihan yang membingungkan dihadapan banyak masyarakat.
Mobilitas modern telah mengoyak nilai-nilai moral yang telah ditanamkan dalam
masyarakat. Aroma kebebasan pribadi merebak dan merasuk di udara. Mobilitas dan nilai-
nilai modern yang dikomunikasikan melalui media massa memberikan tantangan-tantangan
yang tidak terduga terhadap komunitas di mana-mana. Komunitas-komunitas ini harus
berusaha memelihara pemahaman akan tanggung jawab pribadi ketika berhadapan dengan
kebebasan yang luar biasa dan nilai-nilai moral yang berbeda. Sehingga salah satu
tantangan yang penting dalam menghadapi global saat ini adalah bagaimana menanamkan
tanggung jawab dalam diri individu di tengah-tengah kebebasan-kebebasan yang luar biasa
yang diberikan modernitas.

1.2. Dasar Berpikir.

Kebebasan memang seperti bola panas yang digelindingkan. Barang siapa yang tidak
siap menerimanya akan merasakan panas, mungkin bisa melukai, dan membahayakan.
Butuh tangan dingin yang mampu mengolah bola panas, sehingga bisa menimbulkan decak
kagum banyak orang. Disatu sisi kebebasan dapat menimbulkan decak kagum. Tetapi disisi
lain kebebasan juga bisa menimbulkan cemooh dan hinaan jika tidak bisa menanganinya.
Kemampuan menangani kebebasan membutuhkan kesadaran atas sikap dan perilaku
tanggung jawab. Seseorang perlu sikap dan perilaku tanggung jawab seketika dirinya
menerima hak istimewa berupa kebebasan, karena tidak ada kebebasan tanpa ada sikap
tanggung jawab.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Kebebasan.

a. Definisi/Pengertian

Menurut Kamus Bahasa Indonesia arti dari kebebasan adalah “kemerdekaan


atau keadaan bebas”.4 Dalam hal ini kebebasan berarti lepas sama sekali (tidak
terhalang, terganggu dan sebagainya, sehingga boleh bergerak berbicara, berbuat, dan
sebagainya dengan leluasa.
Menurut teori filsafat pengertian kebebasan adalah “Kemampuan manusia
untuk menentukan dirinya sendiri. Kebebasan lebih bermakna positif, dan ia ada
sebagai konsekuensi dari adanya potensi manusia untuk dapat berpikir dan
berkehendak. Sudah menjadi kodrat manusia untuk menjadi mahluk yang memiliki
kebebasan, bebas untuk berpikir, berkehandak, dan berbuat”.
Aristotoles sendiri mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berakal
budi (homo rationale) yang memiliki tiga jiwa (anima), yakni:

1) Anima avegatitiva atau disebut roh vegetatif. Anima ini juga dimiliki tumbuh-
tumbuhan, dengan fungsi untuk makan, tumbuh dan berkembang biak.

2) Anima sensitiva, yakni jiwa untuk merasa, sehingga manusia punya naluri,
nafsu, mampu mengamati, bergerak dan bertindak.

3) Anima intelektiva, yakni jiwa intelek. Jiwa ini tidak ada pada binatang dan
tumbuh-tumbuhaan. Anima intelektiva memungkinkan manusia untuk berpikir,
berkehendak dan punya kesadaran.

Sedangkan pengertian kebebasan dalam Islam dapatlah dilihat dari dua


perspektif yaitu perspektif teologi dan perspektif ushul figh, yaitu;
Pengertian kebebasan dalam perspektif teologi berarti bahwa manusia bebas
menentukan pilihan antara yang baik dan yang buruk dalam mengelola sumberdaya
alam. Kebebasan untuk menentukan pilihan itu melekat pada diri manusia, karena
manusia telah dianugerahi akal untuk memikirkan mana yang baik dan yang buruk,

4
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, 2008, Hal 154
mana yang maslahah dan mafsadah mana yang manfaat dan mudharat. Karena
kekebasan itu, maka adalah logis (wajar) bila manusia harus bertanggung jawab atas
segala perilakunya di muka bumi ini atas pilihannya sendiri. Manusia dengan potensi
akalnya mengetahi bahwa penebangan hutan secara liar akan menimbulkan dampak
banjir dan longsor. Manusia juga tahu bahwa membuang limbah ke sungai yang airnya
dibutuhkanmasyarakat untuk mencuci dan mandi adalah suatu perbuatan salah yang
mengandung mafsadah dan mudharat. Melakukan suatu dosa adalah suatu kezaliman
besar. Namun ia melakukannya juga, karena ia harus mempertangung jawabkan
perbuatannya itu di hadapan Allah, karena perbuatan itu dilakukannya atas pilihan
bebasnya. Seandainya manusia berkeyakinan bahwa ia melakukan perbuatan itu
karena dikehendaki Allah secara jabari, maka tidak logis ia diminta pertanggung
jawaban atas penyimpangan perilakunya. Dengan demikian, makna kebebasan dalam
kacamata teologi Islam ialah manusia memiliki kebebasan dalam memilih. Adanya
pemberikan reward and punisment merupakan suatu indikasi bahwa manusia itu
bebas melakukan pilihan-pilihan. Semua keputusannya dalam melakukan pilihan-
pilihan tersebut akan ditunjukkan kepadanya pada hari kiamat nanti untuk
dipertanggung jawabakan di mahkamah (pengadilan) ilahi.
Allah berfirman :
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan
melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat
zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (QS. 99 : 7-8)

Hal ini berarti bahwa dalam pandangan Islam, manusia bebas untuk memilih,
bebas untuk menentukan, karena pada akhirnya dia yang harus bertanggungjawab
terhadap semua perbuatannya ; karena itulah maka ada reward atau punishment dari
Allah SWT. Dengan demikian, makna kebebasan dalam konteks ini bukanlah
kebebasan sebagaimana dalam faham liberalisme yang tidak dikaitkan dengan
masuliyah di akhirat. Kebebasan dalam Islam bukan kebebasan mutlak, karena
kekebasan seperti itu hanya akan mengarah kepada paradigma kapitalis mengenai
laisssez faire dan kebebasan nilai (value free). Kebebasan dalam pengertian Islam
adalah kekebasan yang terkendali (Al-Hurriyah Al-Muqayyadah).
Pengertian kebebasan dalam perspektif ushul fiqh berarti bahwa dalam
muamalah, Islam membuka pintu seluas-luasnya di mana manusia bebas melakukan
apa saja sepanjang tidak ada nash yang melarangnya. Aksioma ini didasarkan pada
kaedah populer, ”Pada dasarnya dalam muamalah segala sesuatu dibolehkan sepanjang
tidak ada dalil yang melarangnya”. Jika kita terjemahkan arti kebebasan bertanggung
jawab ini ke dalam dunia binsis, khususnya perusahaan, maka kita akan mendapatkan
bahwa Islam benar benar memacu umatnya untuk melakukan inovasi apa saja,
termasuk pengembangan teknologi dan diversifikasi produk.

Disamping itu, apabila merujuk kepada pengertian kebebasan sebagaimana


dikemukakan oleh Achmad Charis Zubair5 adalah “terjadinya apabila kemungkinan-
kemungkinan untuk bertindak tidak di batasi oleh suatu paksaan dari atau keterikatan
kepada orang lain”. Paham tersebut di sebut bebas negative, karena hanya dinyatakan
bebas dari apa, tetapi tidak di tentukan bebas untuk apa. Seseorang di sebut bebas
apabila :

1) Dapat menentukan sendiri tujuan-tujuan dan apa yang di lakukannya.


2) Dapat memilih antara kemungkinan-kemungkinan yang ada baginya.
3) Tidak di paksa atau terikat untuk membuat sesuatu yang akan di pilihnya
sendiri ataupun di cegah dari berbuat apa yang di pilih sendiri, oleh
kehendak orang lain, negara atau kekuasaan apapun.

Selain itu kebebasan meliputi segala macam perbuatan manusia, yaitu kegiatan
yang di sadari, disengaja dan dilakukun demi suatu tujuan yang selanjutnya di sebut
tindakan. Dilihat dari segi sifatnya kebebasan dapat di bagi tiga yaitu :

1) Kebebesan Jasmani. Yaitu kebebasan untuk mrnggerakkan dan


mempergunakan anggota badan yang kita miliki.
2) Kebebesan rohaniah. Yaitu kebebasan menghendaki sesuatu.Jangkauan
kebebasan kehendak adalah sejauh jangkauan kemungkinan untuk
berpikir,karena manusia dapat memikirkan apa saja.
3) Kebebasan moral. Dalam arti luas berarti tidak adanya macam-macam
ancaman, tekanan, larangan dan desakan lain yang tidak sampai berupa

5 Dpchanurabone, Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani, Melalui


<http://dpchanurabone.blogspot.com/2011/04/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati.html> [01/08/2011]
paksaan fisik. Sedangkan dalam arti sempit dikatakan bahwa kebebasan
yaitu bebas berbuat apabila terdapat kemungkinan-kemungkinan untuk
berbuat.

Paham adanya kebebasan pada manusia ini sejalan pula dengan isyarat al-Quran,
sebagaimana yang tersirat dalam Surah Al Kahfi berikut ini :

Q.S Al-Kahfi : 29

Artinya : “ katakanlah kebenaran datang dari tuhanmu, siapa yang mau percaya
percayalah ia, siapa yang tidak mau janganlah ia percaya “.

Q.S Fushilat 41;40

Artinya; “Buatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Ia maha melihat apa
yang kamu perbuat.”

b. Bentuk Kebebasan

Dengan semakin besarnya perhatian masyarakat Internasional terhadap


kebebasan yang dapat dianologikan bahwa setiap orang tidak boleh dipaksa atau
dituntut membuat satu pilihan tunggal seumur hidup atau dipaksa meninggalkan
agama orang tua, pasangan, pemimpin agama, komunitas atau masyarakat. Dengan
demikian bentuk kebebasan terbagi menjadi dua yaitu : 6

1) Kebebasan Internal.

Hak menganut atau menetapkan agama atau kepercayaan atas pilihan sendiri.
Kebebasan itu disebut internal freedom (kebebasan internal) yang patut dihargai
siapa pun. Tidak ada satu pihak pun yang bias membatasi kebebasan internal.
Negara juga tidak dapat membatasi dan memaksakan. Kebebasan internal
memberikan keleluasaan penuh setiap saat bagi individu untuk menggali atau
mendalami keyakinan-keyakinan atau agama lain dan membuat pilihan pribadi
untuk menganut, melepaskan, menjauhi atau menolak secara terbuka suatu
agama atau keyakinan jika itu yang diinginkan. Negara tidak boleh membuat
batasan-batasan apapun terhadap kebebasan internal dan karena itu negara tidak

6
Rafael Edy Bosko dan M. Rifai’ Abduh 2010), Kebebasan Beragama atau berkeyakinan, Seberapa Jauh,
Kanisius, Yogyakarta, Hal 438
boleh campur tangan terhadap pilihan atau keyakinan pribadi seseorang. Oleh
karena itu kebebasan internal memberikan kepada setiap orang untuk berhak atas
kebebasan berfikir, berkepercayaan dan beragama; hak ini mencakup kebebasan
untuk setiap orang menganut, menetapkan, merpertahankan atau pindah agama
atau kepercayaan.

Setiap orang bebas berpikir (thought), bersikap sesuai hati nurani


(conscience) dan menganut suatu agama (religion) atau keyakinan (belief)
pilihannya sendiri. Kebebasan internal ini (freedom internal) bersifat mutlak dan
tidak dapat dibatasi atau dikurangi dalam keadaan apapun (non-derogable).
Termasuk dalam kebebasan ini adalah kebebasan mengembangkan pemikiran,
pandangan dan tafsir mengenai agama atau keyakinan. Penafsiran adalah
keniscayaan perkembangan agama akibat hasrat dan kemampuan bawaan
manusia untuk mencari kebenaran. Perbedaan pendapat, penafsiran, dan macam-
macam aliran, agama dan keyakinan adalah kenyataan.

Kebebasan internal memberi keluluasaan penuh setiap saat bagi setiap


individu untuk menggali atau mendalami keyakinan-keyakinan atau agama lain
dan membuat pilihan pribadi untuk menganut, melepaskan, menjauhi atau
menolak secara terbuka suatu agama atau keyakinan jika itu diinginkan. Dengan
demikian negara tidak boleh membuat batasan-batasan apapun terhadap
kebebasan internal dan karena itu negara tidak boleh campur tangan terhadap
pilihan agama atau keyakinan pribadi setiap individu.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa kebebasan internal sangat


melekat dengan kebebasan bagi seseorang untuk menganut agama sesuai
dengan keyakinannya tanpa dibatasi oleh aturan maupun paksaan.
Kebebasan internal (forum internum) yang menyangkut eksistensi spiritual yang
melekat pada setiap individu adalah kebebasan yang dimiliki setiap orang untuk
meyakini, berfikir, dan memilih agama atau keya- kinannya, juga kebebasan
untuk mempraktekkan agama atau keyakinannya secara privat, sehingga
kebebasan internal ini tidak dapat diintervensi oleh negara.

Kebebasan beragama merupakan salah satu hak yang mendapatkan perhatian


serius dari dunia internasional. Dalam pasal 2 Deklarasi Umum Hak Asasi
Manusia (DUHAM) dinyatakan secara jelas bahwa : setiap orang berhak atas
semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam deklarasi ini
tanpa perkecuali apapun seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama,
politik atau pendapat yang berlainan, asal mula kebangsaan atau
kemasyarakatan, hal milik, kelahiran, ataupun kedudukan lain..

Begitu pula dalam ketentuan pasal 18 secara tegas menyebutkan : setiap


orang berhak atas kemerdekaan berfikir, berkeyakinan, dan beragama; hak ini
mencakup kebebasan untuk berganti agama atau kepercayaan, dan kebebasan
untuk menjalankan agama atau kepercayaannya dalam kegiatan pengajaran,
peribadatan, pemujaan dan ketaatan, baik sendiri maupun bersama-sama
dengan orang lain, dimuka umum atau secara pribadi. Dalam konteks DUHAM,
kebebasan agama digolongkan sebgai kategori hak asasi dasar manusia, bersifat
mutlak dan berada di dalam “forum internum” yang merupakan wujud dari inner
freedom (freedom to be). Hak ini tergolong sebagai hak yang non derogable.
Artinya, hak yang secara spesifik dinyatakan di dalam perjanjian hak asasi
manusia sebagai hak yang tidak bisa ditangguhkan pemenuhannya oleh negara
dalam situasi dan kondisi apapun, termasuk dalam keadaan bahaya, seperti
perang sipil atau invansi militer. Hak yang non-derogable ini dipandang sebagai
hak yang paling utama dari hak asasi manusia. Hak-hak ini harus dilaksanakan
dan harus dihormati oleh negara pihak dalam keadaan apapun dan dalam situasi
bagaimanapun. Akan tetapi kebebasan dalam bentuk kebebasan untuk
mewujudkan, mengimplementasikan atau memanifestasikan agama atau
keyakinan seseorang, seperti tindakan berdakwah atau menyebarkan agama atau
keyakinan dan mendirikan tempat ibadah digolongkan ke dalam
kebebasanberindak (freedom to act). Kebebasan beragama dalam bentuk ini
diperbolehkanuntuk dibatasi dan bersifat bisa diatur atau ditangguhkan
pelaksanaannya.

Penundaan pelaksanaan, pembatasan atau pengaturan itu hanya boleh


dilakukan berdasarkan undang-undang. Adapun alasan yang dibenarkan untuk
melakukan penundaan pelaksanaan, pembatasan, atau pengaturan itu adalah
semata-mata perlindungan atas lima hal, yaitu : public safety, public order,
public health, public morals, dan protection of rights and freedom of others.
Dengan demikian tujuan utama tindakan penundaan pelaksanaan, pengaturan
atau pembatasan itu adalah untuk menangkal ancaman terhadap keselamatan
manusia atau hak milik mereka.

Kebebasan beragama juga diatur dalam Kovenan Internasional tentang Hak-


hak Sipil dan Politik., yang diatur melalui pasal 18 ayat (1, 2, 3, dan 4). Pada ayat
(1) dinyatakan : “setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, keyakinan dan
agama. Hak ini meliputi hak untuk menganut atau memasuki suatu agama atau
kepercayaan pilihannya sendiri, serta kebebasan untuk baik sendirian maupun
bersama-sama dengan orang lain, baik di hadapan umum maupun di tempat
pribadi mewujudkan agama dan kepercayaannya dengan pemujaan, penataan,
pengamalan dan pengajaran”.

Pada ayat (2) : “Tiada seorangpun boleh dikenakan pemaksaan yang akan
mengurangi, mengganggu kebebasannya untuk menganut atau memasuki suatu
agama atau kepercayaan pilihannya sendiri”. Sesangkan ayat (3) mengatur :
“Kebebasan untuk menjalankan agama atau kepercayaan hanya dapat
dikenakan pembatasan sebagaimana diatur dengan undang-undang, dan perlu
untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan atau kesusilaan umum atau
hak asasi dan kebebasan orang lain”.

Ayat (4) menyatakan : “Para negara peserta kovenan ini berjanji untuk
dapat menghormati kebebasan orang tua (dimana dapat diterapkan) para wali
yang sah untuk memastikan bahwa pendidikan agama dan budi pekerti anak
sesuai dengan keyakinan mereka sendiri”.

Tahun 2005 Indonesia meratifikasi International Covenant on Civil and


Political Rights (ICCPR) melalui UU No. 12 Tahun 2005 tentang pengesahan
Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). Kovenan ini menetapkan hak
setiap orang atas kebebasan berfikir, berkeyakinan dan beragama serta
perlindungan atas hak-hak tersebut. Dengan demikian tidak ada alasan bagi
negara untuk tidak menjamin kebebasan beragama dan memberikan perlindungan
bagi para pemeluknya.

Terkait dengan jaminan kebebasan beragama di Indonesia, UUD 1945 sudah


cukup kuat menjamin setiap warga negara untuk memeluk agama dan beribadat
sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Pasal 29 ayat (2) UUD 1945
menyatakan, “negara menjamin kemerdekaan tiap tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya
itu”. Jaminan tersebut juga dapat dilihat dari ketentuan pasal 28 E ayat (1) dan
(2). Pada pasal (1) menyatakan : “bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan
beribadat menurut agamanya…”. Pada ayat (2) dinyatakan, “Setiap orang berhak
atas kebebasan meyakini kepercayaan…”.

Jaminan kebebasan beragama ini diperkuat melalui UU No. 39 tahun 1999


tentang Hak Asasi Manusia. Pasal 22 UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia menyatakan ; (1) Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-
masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu; (2) negara
menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan
untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaanya itu. Ada dua hal penting
dalam ketentuan diatas, yaitu kebebasan beragama dan berkepercayaan sebagai
hak, dan adanya kewajiban negara untuk menjamin terpenuhinya hak tersebut.

Pemaknaan terhadap kebebasan beragama di Indonesia harus dimulai dari


pengakuan bahwa negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan
beragama adalah bagian tak terpisahkan dari hak asasi manusia yang tidak boleh
diintervensi oleh siapapun. Kebebasan disini berarti bahwa keputusan beragama
dan beribadah diletakkan pada tingkat individu. Dengan ungkapan lain, agama
merupakan persoalan individu dan bukan persoalan negara. Negara cukup
menjamin dan memfasilitasi agar warga negara dapat menjalankan agama dan
peribadatannya dengan nyaman dan aman, bukan menetapkan mana ajaran
agama atau bentuk peribadatan yang harus dan tidak harus dilakukan oleh warga
negara. Negara sama sekali tidak berhak mengakui atau tidak mengakui suatu
agama. Negara juga tidak berhak memutuskan mana agama resmi dan tidak
resmi, tidak berhak menentukan mana agama induk dan mana agama sempalan.
Negara pun tidak berhak mengklaim kebenaran agama dari kelompok mayoritas
dan mengabaikan kelompok minoritas. Negara juga tidak memiliki hak untuk
mendefinisikan apa itu agama. Penentuan agama atau bukan hendaknya
diserahkan sepenuhnya kepada penganut agama bersangkutan. Berdasarkan dari
yang tersirat di Pasal 70 UU No.39 Tahun 1999 tentang HAM dan tersurat dalam
UU No. 12 Tahun 2005, Pasal 18 ayat (3) tentang pengesahan Kovenan
Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, maka pemerintah dapat
mengatur/membatasi kebebasan untuk menjalankan agama atau kepercayaan
melalui Undang-Undang. Elemen-elemen yang dapat dimuat di dalam
pengaturan tersebut antara lain :

a) Restriction for The Protection of Public Safety (Pembatasan untuk


Melindungi Masyarakat). Pembatasan kebebasan memanifestasikan agama di
public dapat dilakukan pemerintah seperti pada musyawarah keagamaan,
prosesi keagamaan, dan upacara kematian dalam rangka melindungi
kebebasan individu-individu (hidup, integritas, atau kesehatan) atau
kepemilikan.

b) Restriction for the Protection of Public Order (Pembatasan untuk Melindungi


Ketertiban Masyarakat). Pembatasan kebebasan memanifestasikan agama
dengan maksud menjaga ketertiban umum, antara lain keharusan mendaftar
badan hukum organisasi keagamaan masyarakat, mendapatkan ijin untuk
melakukan rapat umum, mendirikan tempat ibadah yang diperuntukkan
umum. Pembatasan kebebasan menjalankan agama bagi narapidana.

c) Restriction for The Protection of Public Healthy (Pembatasan untuk


Melindungi Kesehatan Masyarakat). Pembatasan dijinkan berkaitan dengan
kesehatan publik dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada
pemerintah melakukan intervensi guna mencegah epidemik atau penyakit
lainnya. Pemerintah diwajibkan melakukan vaksinasi, pemerintah dapat
mewajibkan petani bekerja secara harian untuk menjadi anggota Askes guna
mencegah penularan penyakit TBC. Bagaimana pemerintah harus bersikap
seandainya ada ajaran agama tertentu yang melarang diadakan transfusi darah
atau melarang penggunaan helm pelindung kepala. Contoh yang agak
ekstrem adalah praktek mutilasi kelamin perempuan dalam adat istiadat
tertentu di Afrika.

d) Restriction for The Protection of Morals (Pembatasan untuk Melindungi


Moral Masyarakat). Justifikasi kebebasan memanifestasikan agama atau
kepercayaan yang terkait dengan moral dapat menimbulkan kontroversi.
Konsep moral merupakan turunan dari berbagai tradisi keagamaan, filasafat,
dan sosial. Oleh karena itu pembatasan yang terkait dengan prinsip- prinsip
moral tidak hanya diambil dari tradisi atau agama saja. Pembatasan dapat
dilakukan oleh Undang-undang untuk tidak disembelih guna kelengkapan
ritual tetentu.

e) Restriction for the Protection of The (Fundamental) Rights and Freedom of


Others. (Pembatasan untuk Melindungi Kebebasan Mendasar dan Kebebasan
Orang Lain).

1) Proselytism (Penyebaran Agama). Dengan adanya hukuman terhadap


tindakan proselytism, pemerintah dapat mencampuri kebebasan seseorang
dalam memanifestasikan agama mereka melalui aktivitas-aktivitas
misionaris dalam rangka melindungi agar kebebasan orang lain untuk
tidak dikonversikan.

2) Pemerintah berkewajiban membatasi manifestasi dari agama atau


kepercayaan yang membahayakan hak-hak fundamental dari orang lain,
khususnya hak untuk hidup, kebebasan, integritas fisik dari kekerasan,
pribadi, perkawinan, kepemilikan, kesehatan, pendidikan, persamaan,
melarang perbudakan, kekejaman dan juga hak kaum minoritas.

Contoh :

Seseorang bebas memeluk dan mengikuti aliran, mazhab dan kecenderungan


pemikiran yang berbeda-beda yang ada dalam agama yang sama. Selain
seseorang bebas untuk memeluk Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu,
dan ribuan keyakinan lokal yang bertebaran di seluruh bumi Indonesia, yang
bersangkutan juga bebas memeluk aliran-aliran dan mazhab yang bermacam-
macam dalam agama itu. Seorang yang memeluk Islam, dengan demikian,
bebas pula memeluk aliran Sunni atau Syiah. Jika ia memeluk Sunni, ia juga
bebas memeluk mazhab apapun dalam aliran Sunni, yakni Hanafi, Maliki,
Syafii dan Hanbali. Seorang yang memeluk mazhab-mazhab itu pun bebas
pula mengitui pendekatan teoritik dan penafsiran tertentu dalam mazhab yang
sama. Demikian seterusnya. Begitu pula seseorang yang memeluk agama
Kristen: ia bebas mengikuti denominasi apapun yang ada dalam agama itu,
termasuk denominasi yang oleh kelompok lain dalam Kristen dianggap
menyimpang dan sesat. Hal yang sama berlaku untuk agama-agama lain.
Dalam setiap agama, selalu saja ada kelompok yang dianggap sesat. Itu
kecenderungan yang berlaku umum di mana-mana. Dengan demikian,
keragaman bukan saja terjadi antar agama, tetapi juga intra-agama. Meskipun
agama Protestan memang hanya ada satu, tetapi di sana terdapat berbagai
macam sekte dan denominasi. Begitu pula hal yang sama terjadi dalam Islam.
Memang Islam adalah agama yang satu, tetapi harus diakui dengan jujur di
dalamnya terdapat banyak ragam aliran, mazhab, dan perspektif pemikiran.
Oleh karena itu, kebebasan beragama berlaku baik antar-agama atau intra-
agama. Tugas negara bukanlah mencampuri perbedaan itu dan ikut
menyeleksi mana keyakinan yang dianggap benar dan mana yang sesat.

2) Kebebasan Eksternal.

Kebebasan ini didefinisikan sebagai kebebasan pribadi, baik secara individu


ataupun dalam masyarakat bersama orang lain, didepan umum atau di ruang yang
bersifat pribadi, untuk menyatakan kehendaknya ataupun keyakinannya dan
ketaatan terhadap aturan-aturan. Kebebasan eksternal tentu bukan semata-mata
urusan sangat pribadi seorang individu, melainkan bisa juga dilaksanakan di
ruang yang bersifat pribadi atau didepan umum dan secara individu atau dalam
masyarakat bersama orang lain.

Dalam menetapkan kebebasan ekstenal sulit dilakukan suatu negara, karena


ketiga pilar tersebut sering ditafsir secara berbeda-beda. Khususnya kepentingan-
kepentingan negara (public order, public safety dan public health) yang disebut
dalam persyaratan yang kedua sering sulit didefinisikan secara jelas. Oleh karena
itu, keharusan (neccessity) yang disebut dalam pilar/persyaratan yang ketiga
mengimplementasikan sifat relativitas. Artinya makna-maknanya bisa berubah
sesuai keadaan dan negara.

Kebebasan eksternal (forum externum) adalah kebebasan seseorang untuk


mengekspresikan, mengomunikasikan, atau memanifestasikan eksistensi spiritual
yang diyakininya itu kepada publik dan membela keyakinannya. Kebebasan
eksternal (forum externum), yakni hak kondisional yang bisa menjadi subjek
pembatasan karena bersinggungan dengan hak-hak asasi orang lain. Kebebasan
eksternal ini dengan jelas terutama dapat disaksikan dalam dokumen KIHSP
tahun 1966, yang sekaligus membedakannya dari DUHAM 1948. KIHSP tahun
1966, artikel 18 (3) berbunyi: “Kebebasan untuk menjalankan agama atau
kepercayaan seseorang hanya dapat dibatasi oleh ketentuan hukum, yang
diperlukan untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan atau moral
masyarakat atau hak mendasar dan kebebasan orang lain.” Kebebasan internal
ini melandasi manifestasi keyakinan setiap individu dalam empat ranah eksternal
yaitu lewat ajaran, pengamalan, peribadatan dan ketaatan terhadap kaidan-kaidah
agama.

Contoh :

Pendirian tempat-tempat ibadah, penggunaan simbol-simbol keagamaan,


publikasi keagamaan, pemakaian busana-busana keagamaan dan penutup
kepala, ibadah puasa, makanan pantangan, pengajaran agama atau keyakinan,
pembangunan hubungan komunikasi dengan sesama pemeluk agama,
pemilihan pimpinan agama, ketaatan terhadap hari-hari libur, hari-hari suci
dan upacara keagamaan. Contoh tersebut menunjukkan bahwa kebebasan
eksternal seringkali berkaitan dengan hak-hak asasi manusia dan kebebasan-
kebebasan dasar lain baik hak sipil dan politik (misalnya kebebasan
berekpresi, kebebasan berkumpul, kebebasan bersarikat), maupun hak
ekonomi, sosial dan budaya (misalnya hak mendapat jaminan kesehatan,
pendidikan dan hak mendapat pekerjaan). Dalam hal ini terdapat pembatasan
pada kebebasan eksternal

Berbeda dengan kebebasan internal, negara boleh memberlakukan


pembatasan-pembatasan tertentu terhadap kebebasan eksternal aturan-aturan
yang ditetapkan tidak terpenuhi. Kebebasan eksternal berkenaan dengan suatu
kasus yang terjadi, maka semua tindakan yang dilakukan suatu negara harus
dinilai berdasarkan tiga pilar yang diantaranya :

a) Harus diatur/ ditentukan oleh undang-undang.

b) Harus sejalan dengan satu atau lebih dasar/ alasan kepentingan umum,
khususnya keselamatan/ keamanan publik, tatanan/ tertib umum,
kesehatan atau moralitas publik, atau hak-hak dan kebebasan fundamental
orang lain.

c) Merupakan suatu keharusan demi melindungi kepentingan-kepentingan


umum yang disebut diatas.

Tiga pilar persyaratan diatas merupakan alat uji untuk dibolehkannya


pembatasan ini berlaku dalam semua situasi, bahkan ketika keadaan darurat
sedang mengancam eksistensi suatu negara. Alat uji ini tidak boleh diterapkan
sedemikian rupa sehingga menghancurkan hak kebebasan beragama dan
berkeyakinan seorang indivdu. Adalah negara yang harus menunjukkan bahwa
setiap pembatasan yang dilakukan sejalan atau memenuhi tiga syarat tersebut.
Dalam kitab al-Mausu’ah al-Islamiyah al-‘Ammah, kebebasan didefenisikan
sebagai kondisi keislaman dan keimanan yang membuat manusia mampu mengerjakan
atau meninggalkan sesuatu sesuai kemauan dan pilihannya, dalam koridor sistem
Islam, baik aqidah maupun moral. Dari pengertian ini terdapat dua bentuk
kebebasan. 7

1) Kebebasan Internal (hurriyah dakhiliyah) yaitu kekuatan memilih antara


dua hal yang berbeda dan bertentangan. Kebebasan jenis ini tergambar
dalam :

a) Kebebasan Berkehendak (Hurriyat Al-Iradah).

b) Kebebasan Nurani (Hurriyat Al-Dhomir).

c) Kebebasan Jiwa (Hurriyat Al-Nafs).

d) Kebebasan Moral (Hurriyat Al-Adabiyah).

2) Kebebasan Eksternal (hurriyat kharijiyah). Bentuk kebebasan ini terbagi


menjadi tiga yaitu :

a) Al-tabi’iyah, yaitu kebebasan yang terpatri dalam fitrah manusia yang


menjadikannya mampu melakukan sesuatu sesuai apa yang ia lihat.
b) Al-siyasiyah, yaitu kebebasan yang telah di berikan oleh peraturan per-
undang-undangan.

c) Al-diniyah, kemampuan atas keyakinan terhadap pelbagai mazhab


keagamaan.

Sedangkan menurut pandangan dan bentuk pemikiran dari Isaiah Berlin yang
merupakan seorang tokoh dan guru besar di Universitas Oxford, Inggris.8 Didalam
bukunya Four Essays on Liberty, ia menjelaskan masalah kebebasan dengan
menyatakan bahwa kebebasan itu ada dua macam, terdiri :

7 Ibnu Harun, Memaknai Kebebasan, Melalui <(http://herman1976.wordpress.com/2008/10/15/memaknai-


kebebasan/> [01/08/2011]
8
Abdullah Haidar (2003), Kebebasan Seksual Dalam Islam, Jakarta; Pustaka Jahra, Hal 30
1) Kebebasan Negatif.

Kebebasan negatif lebih ditekankan pada kebebasan dari segala tekanan


(menekankan pada state of nature dan individu). Kata kuncinya adalah Freedom
from lebih menekankan pada pentingnya keberadaan individu jadi sifatnya
subjektifisme.

Kebebasan ini terpusat pada tindakan yang lahir dari motif-motif internal dan
bukan eksternal. Alternatif ini menuntut suatu doktrin tentang manusia
sedemikian sehingga manusia mempunyai hakekat dasariah, atau diri, yang
memungkinkan bertindak, dan bukan bertindak sesuai dengan dunia luar.

Tokoh yang perlu dipehatikan dalam pendekatan kebebasan negatif adalah


Immanuel Kant. Ia mengatakan bahwa ada kebebasan yang ia sebut sebagai
kebebasan intelijibel yang tercapai karena fakta bahwa kehendak, yang tidak
tergantung pada pengaruh semua dorongan indera, ditentukan oleh akal budi
murni belaka. Sehingga tidak mengherankan apabila Kant mengatakan bahwa
dalam mengidentifikasikan kebebasan bukanlah penghapusan keinginan namun
daya tahan terhadapnya dan menguasainya. Kant mengatakan bahwa Aku ini
bebas, karena aku berhak mengurus kepentinganku sendiri. Kebebasan itu adalah
ketaatan, tapi ketaatan terhadap hukum yang kita tentukan sendiri dan tak ada
orang yang dapat memperbudak dirinya sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa
“Tak ada yang bisa memaksaku untuk bahagia dengan caranya sendiri”.

Tokoh lain yang juga cukup besar pengaruhnya dalam mengemukakan


kebebasan negatif ini adalah John Stuart Mill. Gagasan yang terkenalnya adalah
individualitas, yang berarti pengembangan diri pribadi, dan hal ini lebih
merupakan usaha untuk mengintegrasikan semua daya di dalam diri seseorang
secara harmonis. Ia mengatakan bahwa setiap orang bebas untuk
mengembangkan daya-dayanya sesuai dengan kehendak dan keputusan atau
penilaiannya sendiri. Namun dilain pihak Mill juga mengungkapkan ada
beberapa ketentuan agar kebebasan individu itu tidak mengganggu kestabilan
masyarakat yaitu pentingnya memberlakukan paksaan terhadap seseorang karena
paksaan ini berguna untuk mencegah dia merusakkan atau merugikan orang-
orang lain. Dengan demikian Mill juga merasa yakin bahwa kebahagiaan umum
akan bertambah apabila setiap orang mengembangkan dirinya dengan cara
seperti itu. Atau dengan kata lain jika individu merasa bebas maka masyarakat
secara umum pun bebas pula.

Dari uraian tersebut diatas, maka dapat dipahami bahwasannya “Kebebasan


negatif adalah suatu wilayah yang didalamnya terdapat seseorang dapat
melakukan perbuatan yang hendak ia perbuat, dan orang lain tidak dapat
melarang ataupun mencegah perbuatannya itu”.

Contoh :
Jika pada suatu perkara seseorang tidak dapat melakukan pekerjaan yang
diinginkannya dikarenakan ada orang lain yang ikut campur dan
mencegahnya, maka sebatas itulah orang tersebut kehilangan kebebasan. Dan
kiranya campur tangan orang lain sebegitu luas, dan menjadikan kebebasan
nya lebih kecil dari batasan minimal dapat dikatakan bahwa dari sisi
individual, orang tersebut berada di bawah tekanan dan bahkan menjadi
budak orang lain. Dengan demikian kebebasan dalam pengertian tersebut
adalah; dia harus terhindar dari campur tangan orang lain. Karena itu tatkala
semakin luas lingkup tidak adanya campur tangan orang lain, maka
kebebasan pun semakin luas dan tidak terbatas.

Para filsuf dan tokoh politik klasik inggris, tatkala mereka menggunakan kata
kebebasan, yang mereka maksudkan adalah kebebasan sebagaimana contoh
diatas. Sekalipun berbeda pendapat tentang luas lingkup kebebasan, namun
mereka sepakat bahwa tidak mungkin kebebasan itu tidak terbatas, karena dalam
bentuk semacam ini akan muncul suatu kondisi dimana setiap orang akan
mencampuri dan mengganggu kehidupan orang lain.

Kebebasan semacam ini juga akan menyebakan munculnya kekacauan dan


keributan di tengah masyarakat. Sehingga pada akhirnya manusia tidak mampu
memenuhi kebutuhannya, bahkan yang paling minim sekalipun. Selain itu
kebebasan orang yang lemah akan menjadi hilang dan musnah dirampas oleh
mereka yang kuat. Para filsuf tersebut menyadari bahwa berbagai tujuan dan
aktifitas manusia tidaklah sama dan serupa. Dan mereka siap untuk
mengesampingkan berbagai pandangan filsafati mereka yang saling berbeda,
demi mempertahankan nilai-nilai yang lain selain kebebasan seperti keadilan,
kebahagian, keamanan dan keseteraan. Mereka mengakui bahwa kesemuanya
itu memiliki nilai yang amat tinggi dan bahkan mereka siap untuk membatasi
kebebasan mereka demi menjaga dan mempertahankan nilai-nilai tersebut.

Berdasarkan prinsip tersebut, maka dalam upaya mewujudkan suatu


kebebasan harus dilakukan pembatasan terhadap kebebasan itu sendiri. Dan jika
tidak, maka manusia tidak mungkin dapat menciptakan suatu masayrakat yang
benar-benar harmonis.

Oleh karena itu para cendekiawan berpendirian bahwa undang-undang


diperlukan dan harus diberlakukan demi membatasi ruang gerak dan kebebasan
seseorang. Para cendekiawan, khususnya para penuntut kebebasan, seperti Locke
dan Mill, berpendirian bahwa pada akhirnya minimal masih terdapat kebebasan
yang sama sekali tidak dapat diganggu dan dicampuri orang lain. Karena jika
manusia tidak diberi kebebasan yang minim itu, maka ia akan merasa terjepit
dan tidak akan mampu mengembangkan berbagai potensi alamiahnya secara
baik dan sempurna.

Sekalipun mereka mendukung kebebasan individual, namun demi menjaga


agar seseorang tidak sampai menguasai dan melakukan penekanan terhadap
orang lain, mereka memaparkan suatu prinsip, “Kita harus menjaga cakupan
dan wilayah kebebasan individual walaupun amat minim. Jika tidak, maka kita
akan melecehkan kemanusiaan dan kita akan mengingkari substansi
kemanusiaan itu sendiri.”

Benar manusia tidak dapat bebas secara mutlah (absolut) dan terpaksa
sebagian dari kebebasannya harus dikorbankan agar nilai-nilai yang lain dapat
dijaga dan dipertahankan. Dan dalam hal ini patut diketahui secara jelas, apa
yang dimaksud dengan minim itu ?, apa yang jika ditiadakan akan bertentangan
dengan substansi kemanusiaan kita ?, apa standar dan tolak ukur dalam
menentukan batasan cakupan dan wilayah kebebasan serta dalam menentukan
tidak ada campur tangan dalam kebebasan manusia ?, apakah yang dimaksud
dengan membela kebebasan adalah mencegah campur tangan orang lain ?

Menurut Dworkin yang dimaksud dengan kebebasan negatif adalah tidak


menghalangi apa yang orang lain ingin lakukan. Atau dengan kata lain
kebebasan negatif itu adalah hadirnya pilihan, bukan tindakan. Sebagai contoh
Contoh :
Seorang memakirkan mobilnya sehingga menghalangi anda untuk keluar dari
rumah. Dalam konteks ini, tindakan orang tersebut telah melanggar kebebasan
negatif anda, walaupun selama mobil itu menghalangi pintu anda tidak berniat
ke luar rumah. Dari contoh tersebut kita dapat memahami contoh lainya yang
termasuk kedalam kebebasan yang sesuai dengan kategori tersebut diatas. Misal
dalam kaitannya dengan kebebasan untuk berbicara, berekpresi dan berkumpul
dituntut untuk tidak ada pembatasan, baik dari pihak pemerintah maupun
individu. Jadi, kebebasan negatif berpusat pada absennya campur tangan.
Kebebasan dalam bentuk yang negatif seperti diurai diatas terdiri dari unsur
‘bebas untuk’ melakukan semua hal yang bisa membuat seseorang menjadi
‘manusia yang bebas.’ Hukum, moralitas atau nilai-nilai sosial yang mengatur
tentang dilarangnya semua jenis intervensi yang dimaksudkan untuk membatasi
hak atau kebebasan seseorang mengandung unsur kebebasan negatif. Aturan-
aturan tersebut melindungi hak seseorang untuk bebas dari semua bentuk
intervensi yang dapat mengganggu kebebasannya.
Contoh :
Aturan hukum yang melarang intervensi negara yang bisa mengganggu
kebebasan individu-individu didalam jurisdiksinya. Berdasarkan konsep
kebebasan negatif ini, kebebasan setiap individu untuk menjadi atau
melakukan apa yang mereka inginkan harus dilindungi dan dijamin oleh
negara. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah dengan menjamin hak
tersebut melalui perundang-undangan. Selain itu, perlindungan hukum
tersebut harus dibuktikan dengan tindakan nyata pemerintah berupa
kebijakan-kebijakan negara yang ditujukan untuk menegakan hukum.

Kebebasan dalam bentuknya yang negatif juga bisa dilihat dari Komentar
Umum Komite HAM lainnya yang menyatakan bahwa negara-negara anggota
harus menahan diri untuk melakukan pelanggaran terhadap hak-hak yang diatur
didalam kovenan. Pembatasan-pembatasan dalam bentuk apapun oleh negara
yang bisa mengakibatkan terganggunya hak asasi yang diakui oleh Kovenan
tidak dibenarkan oleh hukum. Hal ini dikarenakan sifat dan ruang lingkup hak
asasi manusia adalah universal, melintasi batas-batas norma-norma yang ada di
masyarakat seperti tradisi, agama dan budaya. Oleh karena itu, negara-negara
anggota harus memberikan kebebasan secara penuh kepada warga negaranya
atau warga negara asing yang berdomisili di wilayah kedaulatannya untuk
menikmati hak-hak fundamental dan hak-hak lainnya seperti yang diatur
didalam instrumen internasional tentang hak asasi manusia.
2) Kebebasan Positif.

Kebebasan positif secara garis besar adalah lebih mengarah pada apa yang
bisa saya perbuat untuk orang lain atau orang banyak. Kata kuncinya adalah
Freedom to dan lebih ditekankan pada masyarakat banyak yang tentunya relasi
yang ada dalam masyarakat itu diatur melalui hukum. Menurut Thomas Aquinas
dan St. Agustinus yang merupakan filusuf dari abad pertengahan mengatakan
bahwa perbuatan yang bebas menuntut suatu konotasi normatif, sehingga
kebebasan berarti berbuat apa yang harus diperbuat. Hal senada juga
diungkapkan oleh Boutrouxyang mengatakan bahwa kebebasan yang sebesar-
besarnya harus ditemukan dalam kehidupan moral (Lorens Bagus,1996,411).

Penekanan dari kebebasan positif ini adalah diri pribadi saya bukan
sesuatu yang saya dapat lepaskan dari hubungan saya dengan orang lain.
Karenanya, ketika saya menginginkan untuk bebas dari ketergantungan
status politik atau sosial, apa yang saya ingin adalah perubahan perlakuan
terhadap saya dari mereka yang beropini dan bersifat mambantu
menentukan gambaran tentang diri saya sendiri.

Ada banyak tokoh yang mengungkapkan pemikirannya tentang kebebasan


positif, namun tokoh yang perlu mendapat perhatian kita adalah Jeremy
Bentham. Ia mengungkapkan bahwa alam menempatkan manusia dibawah dua
kekausaan yang berdaulat, yakni rasa sakit dan kesenangan. Ia tidak hanya sibuk
dengan ajaran bahwa semua orang digerakkan untuk bertindak karena ditarik
oleh kesenangan dan karena mau menjauhi rasa sakit, namun juga berusaha
menetapkan tolok ukur objektif untuk moralitas, untuk sifat moral tindak tanduk
manusia.Ajaran yang terkenal dari Bentham adalah kesenangan yang paling besar
adalah yang jumlahnya paling banyak (The greatest happiness of the geratest
number). Hal lain yang ditekankan oleh Bentham adalah orang tidak boleh
melakukan hal-hal atau tindakan yang melawannya, atau yang tidak
membawanya ke tujuan tersebut (JS. Mill,1996,xii).

Contoh :

Apabila seseorang, misalnya, berusaha menetapkan dan memastikan kadar


suatu kesenangan atau rasa sakit, haruslah ia memperhatikan faktor-faktor
berikut : intensitasnya, lamanya, pasti atau tidak pastinya, jauh atau dekatnya
kesenangan atau rasa sakit itu untuk seseorang. Selain itu masih ada faktor
subur dan murninya kesenangan untuk orang yang bersangkutan. Tindakan
tertentu itu subur apabila cenderung menghasilkan rasa senang yang lebih
lanjut. Murni, apabila tidak tercampur dengan perasaan atau rasa yang
berlawanan dengannya. Bahwa dalam kehidupan bermasyarakat kita
sebagai individu harus dengan sukarela menyerahkan sebagian
kebebasan kita untuk mencapai suatu keharmonisan dalam hidup
bermasyarakat.

Dengan demikian, maka “Kebebasan positif adalah kebebasan yang bersifat


partisipatif”.

Contoh :

Keyakinan kita terhadap belajar akan dapat meningkatkan kemampuan kita


untuk lebih independen, tapi dalam prakteknya kita lebih suka menghabiskan
waktu dengan ngobrol di warung. Singkatnya kebebasan positif kita akan
meningkat ketika belajar.

Bila dikatakan dalam kebebasan positik yang menjadi isu utama adalah
kemampun untuk mengambil kesempatan yang pada gilirannya menjadikannya
mampu untuk mengontrol hidupnya sendiri. Atau dengan kata lain kebebasan ini
tidak hanya menuntut sikap diam tapi juga menuntut adanya kebebasan tindakan
nyata yang pada gilirannya mendorong peningkatan idealita. Sehingga dalam
keadaan tertentu kebebasan positif ini dapat berakibat pada pembatasan
kebebasan negatif. Misal, hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik, yang
pada ujungnya dapat mengakibatkan pembatasan kebebasan negatif.

Menurut Berlin dengan berkaca pada sejarah, kebebasan positif merupakan


kebebasan yang paling sering disalahgunakan. Kejadian ini tidak terlepas dari
hakikat kebebasan positif itu sendiri yang bisa multi tafsir. Penyalagunaan
dilakukan atas nama kebebasan itu sendiri dengan dalih diperlukan sebagai upaya
merealisasikan kebebasan yang lebih nyata. Dengan demikian menurut Isaah
Berlin kebebasan positif “adalah kecendrungan seseorang untuk bebas
mengambil dan menentukan suatu keputusan dan pilihan bagi dirinya sendiri”.

Contoh :

Saya lebih berhak untuk mengambil suatu keputusan bagi diri saya sendiri,
dan saya bukanlah alat untuk menjalankan keinginan orang lain. Saya ingin
menjadi subyek bukan obyek dari suatu perbuatan. Saya sendiri yang
menentukan berbagai dalih dan argumen atas berbagai perbuatan serta
kepemilikan saya, dan berbagai faktor asing tidak berpengaruh pada diri saya.
Saya menginginkan sesuatu yang berarti, bukan yang sia-sia dan tidak berarti.
Saya ingin dapat mengambil keputusan bagi diri saya sendiri dan bukan
orang lain yang menentukan keputusan bagi diri saya. Saya tidak ingin sama
seperti benda mati tidak bernyawa, ataupun budak. Saya adalah makhluk
yang berpikir dan memiliki kehendak, saya juga bertanggung jawab atas
semua tindakan dan perbuatan saya. Sebatas apapun saya mampu meraih
harapan dan cita-cita ini, maka sebatas itu pula saya merasa bebas dan
medeka dan terlepas dari perbudakan.

Akan tetapi apakah tidak mungkin pada saat yang sama saya adalah budak
dari alam? Apakah tidak mungkin saya menjadi budak dan tawanan sebagai
hawa nafsu saya sendiri? Apakah semua itu tidak dapat dianggap sebagai jenis
dari perbudakan; sebagian adalah perbudakan politik dan undang-undang dan
sebagian yang lain adalah perbudakan diri sisi moral dan maknawi? Apakah
manusia, dalam rangka pembebasan dirinya dari perbudakan maknawiah
(internal) atau alamiah (eksternal), mengenal dua jenis dirinya; diri yang menang
dan mengalahkan serta diri yang kalah dan dikalahkan.

Dan diri jiwa ini mengadakan perlawanan terhadap dirinya sendiri (nafsu)
yang merupakan sumber munculnya berbagai reaksi yang tidak rasional, dan
yang hanya mengejar kenikmatan yang hanya sesaat saja. Diri itulah yang
dalam praktiknya menjadi komandan saja, yang dalam setiap detik senantiasa
mengejar berbagai keinginan dan angan-angan. Dan diri itu harus berada di
bawah aturan yang keras dan ketat, sehingga mampu mencapai derajat yang
tinggi.

Kita mengetahui bahwa memaksa dan mengharuskan manusia untuk berjalan


pada suatu tujuan (misalnya saja menciptakan keadilan atau menjaga
keselamatan umum) merupakan suatu perkara yang dapat dibenarkan. Jika
manusia mengetahui dengan jelas berbagai tujuan tersebut, maka mereka pun
akan memilih dan berusaha untuk meraihnya. Akan tetapi dikarenakan mereka
buta, bodoh, ataupun amoral, maka mereka lalai akan semua itu.

Dari sini, dengan mudah dapat diketahui bahwa seseorang yang memaksa dan
mengharuskan orang lain untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya
sendiri, itu artinya ia mengklaim bahwa ia lebih mengetahui kebutuhan sejati
mereka melebihi orang yang ia paksa. Yakni dia menyatakan bahwa jika mereka
menggunakan akal mereka sebagaimana dia, maka pasti mereka akan
mengetahui berbagai kepentingan mereka dan mereka tidak akan mengadakan
perlawanan dan penentangan kepadanya.

Pengertian kebebasan positif dimana pribadi seseorang merupakan majikan


dan penguasa bagi dirinya sendiri, terbagi menjadi dua bagian, bagian diri yang
tinggi dan penguasa di mana tali kendali, pilihan dan kehendak ada padanya
serta bagian diri yang rendah yang terdiri dari berbagai kenikmatan dan nafsu
indrawi yang harus ditentang dan tunduk di bawah perintah (bagian diri yang
tinngi).

Kenyataan ini membuktikan bahwa pengertian dan pendefinisian kebebasan


secara langsung merupakan hasil dari berbagai pandangan berkenaan dengan
esensi jiwa, pribadi dan manusia. Dan sekarang menjadi jelas mengapa
pendefinisian negatif (yakni kebebasan bagi manusia untuk melakukan apa saja
yang ia inginkan) yang didukung oleh Mill, merupakan sebuah pendefinisian
yang tidak tepat.

Sesuai pendefinisian tersebut, jika ada seorang pemimpin dan penguasa yang
zalim, yang dapat membuat masyarakat melupakan keinginan sejatinya,
sehingga mereka menerima dan mematuhi bentuk kehidupan yang ditetapkan
dan dipaksakan atas mereka, dan batin mereka mampu menyesuaikan diri
dengan bentuk kehidupan tersebut, maka harus dikatakan bahwa pemimpin dan
penguasa yang zalim itu telah berhasil membebaskan masyarakat ini.

Tetapi situasi dan kondisi yang diciptakan oleh sang penguasa ini
bertentangan dengan kebebasan politik. Montesquieu (seorang penulis dan ahli
hukum asal Pranscis dengan ide dan gagasannya berupa The Spirit of the Laws,
1784, mengeksplorasi ide pemisahan kekuasaan dan menciptakan teori tentang
skema pengawasan dan penyeimbangan dalam politik kekuasaan) dalam
membahas kebebasan politik dan berbagai sikap liberal, mengatakan,
“Kebebasan bukan berarti bahwa kita bebas berbuat sesuka hati, atapun kita
melakukan perbuatan apa saja dengan dalih bahwa perbuatan tersebut
dibenarkan oleh undang-undang. Dan kebebasan politik berarti kita memiliki
kehendak dan pilihan untuk melakukan apa yang selayaknya kita lakukan”.
Pernyataan semacam ini kurang lebih juga diungkapkan oleh Kant (filsuf
jerman yang dipandang sebagai pemikir yang paling berpengaruh di era 1724-
1804) yang berpendapat,”Hak individu harus dibatasi demi kemashlahatan dan
kepentingan individu itu sendiri, karena setiap makhluk yang berakal pasti akan
setuju dengan sistem yang diterapkan atas berbagai perkara”.

Semua para tokoh tersebut dan juga para tokho mazhab pemikiran yang lain,
serta para tokoh komunisme akhir-akhir ini memiliki kesamaan pendapat pada
poin : berbagai tujuan manusia yang alamiah, rasional dan sejati adalah sama,
atapun harus disamakan. Kebebasan bukan berarti manusia bebas untuk
melakukan berbagai perbuatan yang tidak rasional, sia-sia dan keliru. Dan
pemaksaaan terhadap nafsu amminah agar berjalan di jalan yang benar, bukan
merupakan suatu bentuk penekanan dan perbudakan, tetapi merupakan suatu
kebebasan.

Berlin meyakini kebebasan positif dan juga meyakini kekuasaan serta


kepemimpinan orang yang berakal. Ia juga menyatakan pandangannya sebagai
berikut : “

Seluruh masyarakat harus patuh pada kepemimpinan dan kekuasaan orang


yang berakal (kaum intelektual). Dan tatkala masyarakat menerima mereka
sebagai pemimpin, hal itu tidak bertentangan dengan kebebasan, tetapi
justru merupakan syarat bagi kebebasan. Jika masyarakat bersedia tunduk
dan menyerahkan diri kepada para cendekiawan, pada dasarnya mereka
menyerah dan tunduk kepada akalnya, dan ini adalah kebebasan yang sejati;
kebebasan yang diartikan dengan kebebasan dalam menentukan dan memilih
sesuatu yang menyebabkan perkembangan dan kesempurnaan, dan bukan
kebebasan yang diartikan sebagai kebebasan dalam menuruti berbagai
tuntutan hawa nafsu.

Sampai disini bentuk pandangan berlin sama dengan bentuk pandangan dan
pemikiran para cendekiawan muslim. Perbedaannya ada pada bagian berikutnya;
Kaum cendekiawan muslim mengatakan bahwa perbandingan antara
cendekiawan dengan wahyu adalah semacam perbandingan antara masyarakat
awam dengan kaum cendekiawan, masyarakat awam tidak mengetahui hakikat
berbagai perkara, namun para cendekiawan mampu mengetahui dengan jelas dan
nyata hakikat berbagai perkara tersebut. Dalam beberapa perkara, masyarakat
awam mengira bahwa pandangannya itu benar, namun ternyata mereka keliru.
Demikian pula, banyak hakikat yang tersembunyi dan tidak jelas bagi para
cendekiawan namun bagi wahyu itu adalah perkara yang jelas dan nyata. Begitu
juga jika dipandangan para cendekiawan dibandingkan dengan pandangan
masyarakat awam, maka tampaknya pandangan mereka (para cendekiawan)
benar, namun tatkala dibandingkan dengan wahyu ada kemungkinan mereka
(para cendekiawan) keliru dalam menentukan.

Dengan demikian, jika dalam filsafat dan kalam (teologi) berhasil dibuktikan
bahwa ada Sang Pencipta yang menciptakan manusia, dan juga berhasil
dibuktikan bahwa para utusan Sang Pencipta menjelaskan kepada manusia
tentang masalah penciptaan asal mula dan tempat kembali manusia, serta jalan
yang harus ditempuh oleh manusia dalam upaya meraih kebahagiaan sejati tidak
diragukan lagi bahwa mereka yang memiliki bentuk pandangan semacam berlin
harus mengakui bahwa kebebasan itu harus ditafsirkan dan dijelaskan dengan
perantaraan wahyu.

Menurut Berlin Kebebasan negatif adalah sangat cocok seperti dalam


kebiasaan umum dalam perkiraan politik itu sendiri. Kebebasan negatif berarti
bahwa seseorang dikatakan “bebas” jika orang tersebut bukan subjek untuk
dipaksa-paksa. Mereka “bebas jika mereka dapat membuat dan bersikap seperti
apa yang mereka mau dan sesuai dengan apa yang mereka pilih. Negara
memberikan kebebasan sepanjang hal ini tidak mengganggu apa yang telah
diputuskan bersama. Dalam konsep ini negara akan memusatkan perhatiannya
pada tujuan membentuk masyarakat yang sama rata dan sederajat, untuk
mencapai tujuan yang lebih baik dan bermanfaat.

Selanjutnya apabila melihat kebebasan positif yang diatur didalam Kovenan


Hak Sipil dan Politik pasal 2 (3) bahwa setiap negara anggota;

(a) Menjamin bahwa setiap orang yang hak-hak atau kebebasannya diakui
dalam Kovenan ini dilanggar, harus memperoleh upaya pemulihan yang
efektif, walaupun pelanggaran tersebut dilakukan oleh orang-orang yang
bertindak dalam kapasitas resmi;
(b) Menjamin, bahwa setiap orang yang menuntut upaya pemulihan tersebut
harus ditentukan hak-haknya itu oleh lembaga peradilan, administratif,
atau legislatif yang berwenang, atau oleh lembaga berwenang lainnya
yang diatur oleh sistem hukum negara tersebut, dan untuk
mengembangkan segala kemungkinan upaya penyelesaian peradilan; dan

(c) Menjamin, bahwa lembaga yang berwenang tersebut harus melaksanakan


penyelesaian hukum apabila dikabulkan.

Pasal tersebut menjamin kebebasan yang positif karena mewajibkan negara


anggota untuk menyediakan ‘perbaikan’ bagi seseorang yang hak-haknya telah
dilanggar. Pasal tersebut menjadi sumber yang mengatur tentang hak dan
kewajiban negara untuk melindungi dan menjamin hak asasi manusia. Hal ini
dikarenakan pasal tersebut memberikan seperangkat peraturan yang harus
dilakukan oleh negara yang telah melanggar hak dan kebebasan warga
negaranya. Artinya, semua kebebasan yang diatur didalam Kovenan tersebut
mempunyai batasan dan akibat dari pelanggaran terhadap kebebasan tersebut.
Pasal ini juga menyediakan ruang bagi individu-individu yang dilanggar hak dan
kebebasannya untuk menuntut upaya pemulihan hukum dari pemerintah.

Selanjutnya, pasal 7 juga mempunyai elemen kebebasan dalam bentuk yang


positif karena pasal ini mewajibkan negara-negara anggota untuk mengambil
langkah-langkah positif untuk menjamin bahwa individu atau kekuasaan lain
tidak menjalankan praktik-praktik penyiksaan atau pelanggaran didalam wilayah
kekuasannya. Pasal tersebut mengatur bahwa tidak seorang pun dapat dikenakan
penyiksaan atau perlakuan atau hukuman lainnya yang keji, tidak manusiawi
atau merendahkan martabat. Pada khususnya, tidak seorang pun dapat dijadikan
obyek eksperimen medis atau ilmiah tanpa persetujuan dari individu tersebut.

Pasal ini mengatur bahwa semua jenis perbuatan yang melanggar hak dan
kebebasan dasar individu dilarang meskipun dengan maksud tertentu. Yang
termasuk didalam maksud tertentu tersebut adalah ‘keperluan medis’ seperti
pengambilan organ untuk keperluan penelitian. Pasal ini secara jelas
memberikan batasan-batasan tentang sebuah kebijakan negara yang tidak boleh
dilakukan. Negara, didalam konteks ini bebas melakukan semua jenis
kebijakannya selama tidak melanggar hak dan kebebasan warga negaranya.
Ketika kebijakan tersebut melanggar, maka negara berdasarkan aturan yang ada
di pasal 2 (3) Kovenan berkewajiban untuk menyediakan seperangkat kebijakan
lainnya untuk memulihkan pelanggaran tersebut.

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui resolusi-resolusinya juga


menekankan bahwa pemerintah dari negara-negara anggota PBB harus
melindungi hak asasi manusia dan hak-hak fundamental lainnya. Selain itu,
pemerintah juga harus mempromosikan hak-hak tersebut dan menjaga kewajiban
negara melalui langkah-langkah hukum yang menjamin hak yang diatur di
dalam instrumen-instrumen tentang hak asasi manusia. Himbauan dari Majelis
Umum kepada negara-negara untuk ‘menjamin’ hak yang diatur didalam
instrumen internasional hak asasi manusia adalah sebuah sumber yang mengatur
hak dan kewajiban negara.

Resolusi ini harus dipahami tidak saja sebagai himbauan yang mewajibkan
negara-negara melainkan juga harus dipahami sebagai pengejawantahan dari isi-
isi ketentuan dari Deklarasi Universal HAM. Oleh sebab itu, ada hubungan yang
erat antara ketentuan hukum yang diatur didalam Kovenan dan Deklarasi. Hal
ini dikarenakan, Komite HAM dan Majelis Umum sebagai dua badan yang
berwenang memberikan penafsiran dan melaksanakan mempunyai pemahaman
yang sama tentang kewajiban negara didalam melaksanakan hak asasi manusia.

Oleh karena itu, ketentuan hukum dari instrumen internasional dan penafsiran
dari badan-badan yang berwenang terdiri dari peraturan-peraturan yang
menentukan seseorang untuk melakukan sesuatu hal atau menjadi seperti yang
dia inginkan. Selain itu, instrumen tersebut mengatur perilaku negara berkenaan
dengan pelaksanaan hak asasi manusia.

Contohnya :

Kewajiban negara untuk menyediakan proses hukum (peradilan yang bebas


dan bantuan hukum secara cuma-cuma ketika seseorang tidak bisa
menyediakan bantuan hukum tersebut).
Kebebasan dalam bentuknya yang positif menekankan ‘konsep kebebasan’
sebagai sebuah ‘bentuk kebebasan yang menentukan’ seseorang untuk bisa
mengatur bentuk-bentuk kehidupan manusia yang diinginkannya.

Contohnya :
Sebuah produk perundang-undangan, kebijakan pemerintah, moralitas atau
nilai-nilai yang mengatur tentang jenis-jenis tindakan yang bisa dilakukan
oleh seseorang digolongkan sebagai sebuah sumber hukum yang berisi unsur
kebebasan positif.

Berlin mungkin adalah orang yang paling terkemuka dalam menganalisis


kebebasan sejak perang dunia II, Dia membedakan kebebasan dalam dua konsep yang
berbeda yang pertama adalah kebebasan negatif dan yang kedua adalah kebebasan
positif.

Kebebasan positif, bagi Berlin, melibatkan pendapat yang berbeda dari


bermacam-macam sifat negatif dan perbadaan ini telah diperlihatkan dan
dikembangkan dalam sejarah pemikiran politik. Berlin menganggap bahwa pandangan
positef dalam kebebasan diambil dari bahwa kebebasan itu tidak dapat dicapai dengan
maninggalkan individu sendiran untuk berhasil dalam kehidupannya. Agaknya hal ini
memungkinkan individu untuk mencapai kepandaiannya dengan latihan
mengendalikan diri, Kebebasan positif bagi Berlin diperlukan untuk mengatasi
rintangan bagi kebebasan itu sendiri, Karenanya konsep kebebasan positif ini dapat
menyebabkan paradoks sebagaimana layaknya untuk mencapai paksaan bagi
kevevasab yang diaplikasikan ubtuk individu oleh negara. Berdasarkan pernyataan
Berlin mobel dari kebebasan positif mengasumsikan bahwa semua individu harus
mengikuti jalan keluar dengan pemecahan rasional.

Pendeknya, pendapat Berlin mengenai dua konsep kebebasan ini, kebebasan


negatif dikatakan sebagai kebebasan dari segala bentuk paksaan dan kebebasan positif
sebagai kebebasa untuk mengembangkan rasionalitas diri. Analisis Berlin tentang
kebebasan mendpat pernyataan yang berlawanan dari Maccallum Jr. Dia menyatakan
kebebasan itu dipahami sebagai satu konsep yang tunggal. Bagi MacCallum, ada
variasi kebebasan antara variasi-variasi konsepsi khusus mengenai perwakilan,
paksaan, dan apa yang dilakukan atau dikembangkan.
Dalam sistem kapitalis demokrat yang mengangkat suatu kelas baru manusia ke
tahkta kekuasaan saat ini dan sepenuhnya dipercayai bahwa kepentingan semua orang
akan terjamin secara otomatis apabila kepentingan pribadi para individu dalam
berbagai bidang diperhatikan. Dalam sistem kapitalis tersebut terdapat empat bentuk
kebebasan yaitu :

1) Kebebasan Politik.

Dalam sistem kapitalis, seorang individu memiliki kebebasan politik dan


pendapatnya dihormati. Dia dapat mengungkapkan pendapat-pendapatnya
mengenai kehidupan sosial dan sistem pemerintahan dan dapat mempengaruhi
perundang-undangan. Dia memilih pemerintah untuk berkuasa melindungi
kebebasannya. Sistem ini percaya bahwa sistem sosial dilaksanakan demi
keuntungan bangsa, dan organisasi pemerintahan berhubungan langsung dengan
kehidupan setiap individu dalam masyarakat, dan banyak mempengaruhi
kebahagiannya. Itulah sebabnya maka setiap individu secara wajar-nya memiliki
hak bersuara dan berpartisipasi dalam pengaturan dan pembentukan
pemerintahan.

Karena sistem sosial sangat erat kaitannya dengan kehidupan dan kematian
serta kebahagian dan penderitaan masyarakat, tentulah pemerintahan itu tidak
dapat dibiarkan dalam genggaman tangan-tangan individu atau sesuatu
kelompok, karena sulit untuk menemukan seorang individu yang integritas dan
kebijaksanannya dapat diandalkan.

Oleh karena itu maka perlulah semua penduduk memperoleh hak-hak dan
kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam pemilihan badan legislatif dan
eksekutif, sehingga mereka dapat merasa sama bertanggung jawab atas semua
undang-undang yang akan disusun. Inilah dasar-dasar prinsip pemilihan umum
dan kedaulatan mayoritas.

2) Kebebasan Ekonomi.

Dalam sistem kapitalis, setiap orang bebas memproduksi dan mengkonsumsi


barang-barang dengan sesukanya. Penimbunan barang diperbolehkan. Tidak ada
pembatasan dalam pembelanjaan uang. Setiap orang bebas menggunakan cara
apapun untuk mendapatkan har ta benda serta menimbun kekayaan.
Para pendukung jenis ekonomi bebas ini mengatakan bahwa politik ekonomi
didasarkan pada prinsip universal dan dilaksanakan dalam suatu cara yang alami,
adalah jaminan yang terbaik bagi kemakmuran masyarakat. Sistem ini
melindungi dari fluktuasi ekonomi. Kepentingan-kepentingan pribadi yang
merupakan rangsangan utama bagi kegiatan ekonomi, memberikan perlindungan
yang paling baik bagi kepentingan-kepentingan kolektif. Hanyalah persaiangan
pada tingkat produsen dan pedagang, berdasarkan kebebasan ekonomi dan
persamaan hak, yang dapat menjamin keadilan dalam berbagai bidang transaksi
perdagangan. Hukum alamiah sistem ekonomi bebas secara otomatis
mempertahankan harga pada tingkatnya yang normal dan meningkat, maka
sesuai dengan hukum penawaran dan permintan, ketika penawaran bertambah,
maka sebagai akibatnya harga akan turun. Kenaikan harga mengurangai
permintaaan, sementara berkurangnya permintaan akan menurunkan harga.
Dengan demikian di pasa bebas, keseimbangan antara harga dan barang
dipertahankan secara alamiah. Kepentingan pribadi selalu memaksa orang untuk
meningkatkan produksinya dan membuat barang-barang mereka lebih menarik
dan lebih bersifat ekonomis sebelum memasukkannya ke pasar. Dari keterangan
diatas jelaslah bahwa meskipun seorang individu hanya tertarik pada
keuntungan-keuntungan pribadinya, kepentingan kolektif secara otomatis akan
terlindungi.

Dengan persaingan di pasar terbuka, harga dan upah ditentukan secara adil
sehingga tak seorang pun dirugikan. Setiap penjual dan produsen akan selalu
segan dan menaikkan harga barangnya, karena takut akan saingan dari rivalnya.

3) Kebebasan Berpikir.

Orang bebas berpendapat atau mempercayai siapa saja. Mereka berhak tak
terbatas untuk berpikir dan membentuk pendapat mereka tentang hal apapun.
Mereka menganggap benar apa saja yang mereka anut, sebagai akibat nafsu
kelakuannya. Pemerintah dianggap tidak berhak mengurangi kebebasan
seseorang dalam hal ini dan oleh karena itu setiap orang dapat mengikuti,
bahkan dapat mempropagandakan pendapat-pendapatnya dari setiap serangan.

4) Kebebasan Pribadi.
Manusia sebagai tuan dari kemauannya, bebas menempih cara hidup apapun,
tanpa batasan atau hambatan. Asalkan kebebasan orang lain tidak
dipengaruhinya, dia boleh hidup sesukanya, meskipun cara hidupnya tidak
disukai dari sisi pandangan hidup masyarakat. Karena batas terakhir kebebasan
seseorang ialah kebebasan orang lain maka hanyalah hal-hal yang menghalangi
kebebasan orang lain yang tidak dapat diterima. Bila ia tidak menghalangi
kebebasan orang lain maka ia bebas membentuk kehidupan pribadi. Seorang
individu hanya memperhatikan hal-hal yang menyangkut kepentingan
eksisensinya sekarang ini dan di masa mendatang, dan dengan dia bebas
menempuh kehidupan sesuai dengan keinginannya.

Dari sudut pandang kapitalis, kebebasan religius bukanlah suatu kebebasan


berpikir, tetapi selama menyangkut perbuatan lahiriah, itu termasuk urusan
kebebasan pribadi. Dari penjelasan tersebut dapat disebutkan bahwa teori
kapitalis didasarkan pada prinsip kepentingan masyarakat terkait secara tak
terputuskan dengan kepentingan individu. Karena itu individu harus menjadi
fondasi sistem sosial dan yang pantas berkuasa hanyalah pemerintah yang
melindungi dan terus melayani kepentingan-kepentingan individu.

Dari penjelasan mengenai bentuk kebebasan diatas, maka penulis menyimpulkan


bahwa bentuk kebebasan tersebut terbagi menjadi dua bagian penting seperti yang
diurakan menurut Louis Leahy9 yang diantaranya adalah :

1) Kebebasan Politik.

Kebebasan politik adalah suatu kebebasan yang dimiliki oleh bangsa atau
rakyat dengan subyek kebebasan adalah bangsa dan rakyat itu sendiri. Kebebasan
politik telah hidup mulai zaman yunani kuno yang selalu melalui tahap
perkembangan. Tahap perkembangan pertama adalah tercapainya kebebasan
politik rakyat dengan membatasi kekuasaan raja. Kebebasan yang kedua adalah
kemerdekaan yang dicapai oleh negara-negara muda terhadap negara penjajah.

9 Setyono, Agus (2009), Kebebasan dalam filsafat Louis Leahy Dan Dalam Pemikiran Manusia Jawa, Telaah
Filsafat Perbandingan. Melalui <http://agussetyonocm.multiply.com/journal/item/76> [02/08/2011]
Kebebasan pada zaman dahulu dipegang oleh kerajaan dimana kekausaan
tertinggi dipegang oleh raja dimana rakyat merasa sedikit tersiksa dan terdiktator
oleh perintah raja. Dengan munculnya The Bill of Rights mendorong munculnya
demokrasi modern dimana perwakilan rakyat membatasi kekuasaan raja. Hal ini
didasarkan pemikiran atas kesadaran bahwa yang berdaulat adalah rakyat bukanlah
raja seperti yang terjadi dikerajaan Inggris. Perwujudan kebebasan politik tidak
terbatas pada kedua negara yang bersangkutan tetapi mempunyai relevansi
universal. Sesuai dengan UUD 1945 yang menegaskan bahwa kedaulatan ada
ditangan rakyat dan hal ini diakui pertama kali oleh Inggris dan Perancis. Gagasan
yang melatarbelakangi kebebasan politik dalam bentuk social bersifat etis.
Kedaulatan harus tetap ditangan rakyat dan tidak boleh berada pada instansi lain.
Itulah suatu tuntutan etis. Dengan demikian terdapat pembatasan kekuasaan
Negara. Kebebasan politik diwujudkan dalam bentuk kemerdekaan. Ide dibalik
proses dekonolialisme adalah bersifat etis. Perserikatan bangsa-bangsa
menyepakati sebuah deklarasi yang pada pokoknya mempunyai isi yang sama.
Dimana hak semua warga negara dan bangsa yang dijajah untuk menentukan
nasibnya sendiri.

2) Kebebasan Individual. Subyek kebebasan individual adalah manusia


perorangan. Dimana kebebasan dapat dibedakan kedalam tiga bagian, yaitu :

a) Fisik.

Bebas berarti tiada paksaan atau rintangan dari luar. Bebas dalam artian
fisik adalah tiada paksaan atau rintangan dari luar. Orang dalam artian bebas
fisik jika ia bisa bergerak kemana saja ia mau tanpa hambatan apapun. Namun
bukan berarti orang yang bergerak secara bebas dapat menjamin ia bebas
secara sungguh-sungguh. Terkadang orang mensalah artikan kebebasan untuk
pergi ketempat perjudian setiap hari.

Kebebasan fisik menurut Louis Leahy adalah ketiadaan paksaan fisik.10


Artinya adalah tidak adanya halangan atau rintangan-rintangan eksternal yang
bersifat fisik atau material. Dalam konteks ini orang menganggap dirinya bebas

10 Setyono, Agus (2009), Kebebasan dalam filsafat Louis Leahy Dan Dalam Pemikiran Manusia Jawa, Telaah
Filsafat Perbandingan. Melalui <http://agussetyonocm.multiply.com/journal/item/76> [02/08/2011]
jika ia bisa bergerak ke mana saja tanpa ada rintangan-rintangan eksternal. Ia
dikatakan bebas secara fisik jika tidak dicegah secara fisik untuk berbuat sesuai
dengan apa yang ia kehendaki. Seorang tahanan di sebuah sel tidak mempunyai
kebebasan dalam arti ini karena dia secara fisik dibatasi. Dia akan bebas jika
masa tahanannya sudah lewat. Dengan demikian paksaan di sini berarti bahwa
fisik manusia diperalat oleh faktor eksternal untuk melakukan atau tidak
melakukan tindakan yang tidak ia kehendaki atau yang ia kehendaki. Jangkaun
kebebasan fisik juga ditentukan oleh kemampuan badan manusia sendiri.
Jangkauan itu terbatas. Namun demikian hal itu tidak mengurangi melainkan
justru mencirikan kebebasan manusia. Contohnya: bahwa manusia tidak bisa
terbang itu bukan merupakan pengekangan terhadap kebebasannya. Hal itu
semata-mata disebabkan oleh kemampuan badan manusia yang terbatas. Jadi
sekali lagi yang dimaksud paksaan terhadap kebebasan fisik ini adalah
pengekangan atau paksaan yang datang dari luar diri manusia. Misalnya dari
lembaga atau orang lain.

Kebebasan dalam pengertian ini bisa terdapat pada manusia atau binatang,
bahkan pada tumbuhan atau objek yang tidak berjiwa. Yang membedakan
manusia dengan binatang dan benda-benda itu adalah aspek kehendak akal
budi manusia. Binatang menggerakkan tubuhnya sendiri, namun akar dari
gerakan itu adalah dorongan instingtualnya. Sedangkan manusia bergerak
karena dorongan kehendaknya.

Kebebasan fisik adalah bentuk kebebasan yang paling sederhana atau


dangkal. Karena bisa saja orang yang tidak bebas secara fisik, namun ia merasa
sungguh-sungguh bebas. Banyak para pejuang keadilan dan kebenaran pernah
ditahan atau bahkan disiksa, namun mereka tetap merasa bebas. Tiadanya
kebebasan fisik bisa disertai kebebasan dalam arti yang lebih mendalam.
Kebebasan fisik sebenarnya bukan merupakan kebebasan yang sejati. Ia hanya
merupakan bentuk kebebasan dalam pengertian yang sangat sederhana.Namun
demikian kebebasan ini mempunyai makna yang esensial dan nilai yang
positif. Kebebasan fisik dapat menjadi sarana untuk mencapai kebebasan
yang sejati.
b) Psikis.

Kebebasan psikologis berarti ketiadaan paksaan secara psikologis. Orang


dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan untuk
mengarahkan hidupnya. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia
mempunyai kemampuan dan kemungkinan untuk memilih pelbagai alternatif.
Yang mencirikhaskan kemampuan itu adalah adanya kehendak bebas. Karena
itulah Louis Leahy mengidentikkan kebebasan psikologis dengan kebebasan
untuk memilih atau kebebasan berkehendak. Kebebasan memilih atau
kebebasan berkehendak sering pula dikatakan dalam arti kebebasan untuk
mengambil keputusan berbuat atau tidak berbuat, atau kebebasan untuk berbuat
dengan cara begini atau begitu, atau merupakan kemampuan untuk
memberikan arti dan arah kepada hidup dan karya, atau merupakan
kemampuan untuk menerima atau menolak kemungkinan-kemungkinan dan
nilai-nilai yang terus-menerus ditawarkan kepada manusia.

Kebebasan psikologis berkaitan erat dengan hakekat manusia sebagai


makhluk yang berakal budi. Manusia “bisa” berpikir sebelum bertindak. Ia
menyadari dan mempertimbangkan tindakan-tindakannya. Karena itu jika
orang bertindak secara bebas maka itu berarti ia tahu apa yang dilakukan dan
tahu mengapa melakukannya. Jadi kebebasan berkehendak mengandaikan
kesadaran dan kemampuan berpikir maupun kemampuan menilai dan
mempertimbangkan arti dan bobot perbuatan sebelum manusia membuat suatu
keputusan untuk bertindak. Dalam kebebasan psikologis kemungkinan memilih
merupakan aspek yang penting. Konsekuensinya adalah tidak ada kebebasan
jika tidak ada kemungkinan untuk memilih. Orang dikatakan bebas dalam
pengertian ini jika ia mempunyai kemungkinan untuk melakukan tindakan A
dan bukan B. Kemungkinan untuk memilih adalah aspek yang penting, namun
demikian aspek ini tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kebebasan
psikologis. Mengapa? Karena pemilihan bukan merupakan hakekat kebebasan
psikologis. Hakekat kebebasan psikologis adalah kemampuan manusia untuk
menentukan dirinya sendiri.
Berbeda dari kebebasan fisik, kebebasan psikologis tidak bisa secara
langsung dibatasi dari luar. Orang tidak bisa dipaksa untuk menghendaki
sesuatu. Misalnya dalam peristiwa perampokan. Seandainya saya terpaksa
menyerahkan semua uang dan harta yang saya punyai, penyerahan itu saya
lakukan atas kehendak saya. Dalam arti itu saya masih bebas secara psikologis,
karena saya masih mempunyai kemungkinan untuk memilih. Dan (mungkin)
saya tidak bebas secara fisik, karena dalam perampokan itu saya diancam untuk
dibunuh. Secara tidak langsung bentuk paksaan psikologis adalah pembatasan-
pembatasan psikis yang memaksa seseorang untuk melakukan perbuatan-
perbuatan tertentu. Kebebasan psikologis juga dapat dihalangi dengan
mengkondisikan orang sehingga tidak mungkin melakukan beberapa kegiatan
tertentu. Misalnya seorang ibu yang mengharuskan anaknya untuk langsung
pulang setelah jam sekolah selesai. Ibu itu membatasi kebebasan psikologis
anaknya karena dia tidak memberi kemungkinan pada anaknya untuk
melakukan tindakan lain selain langsung pulang setelah sekolah.

c) Normatif/ Moral.

Louis Leahy mendefinisikan kebebasan moral sebagai ketiadaan paksaan


moral hukum atau kewajiban. Kebebasan moral tidak sama dengan kebebasan
psikologis. Meskipun demikian antara keduanya mempunyai hubungan yang
sangat erat. Kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Sebaliknya
jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral.

Contohnya :

Suatu ketika saya berjalan dan melihat sebuah dompet tergeletak di pinggir
jalan tanpa pemilik. Pikiran yang muncul saat itu adalah “saya mengambil
dompet itu.” Dan memang kemudian saya mengambil dompet itu. Namun
setelah mengambil dompet itu saya masih menimbang lagi: “atau dompet ini
saya kembalikan pada pemiliknya, atau saya mengambil dan tidak
memberikan pada pemiliknya.” Dalam hal ini saya mempunyai kemungkinan
atau kebebasan untuk memilih. Saya mempunyai kebebasan psikologis. Di
lain pihak dalam tindakan saya itu tidak ada kebebasan moral. Alasannya
adalah tindakan saya secara moral tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Saya
telah mengambil barang orang lain yang bukan hak saya.
Contoh lain:

Seorang wanita yang disandera yang harus memilih di antara dua pilihan,
yaitu atau menyerahkan semua perhiasannya atau diperkosa. Pada akhirnya
perempuan itu memilih untuk menyerahkan semua perhiasannya. Dalam
pengertian kebebasan psikologis perbuatan perempuan itu adalah bebas
karena perbuatan itu keluar dari kehendaknya. Dalam pilihannya itu ia
menjadi penentu atas dirinya sendiri. Meskipun perempuan itu bebas secara
psikologis, namun ia tidak bebas secara moral. Alasannya ialah karena
perempuan itu memilih secara terpaksa. Ia dipaksa secara moral. Ia
berhadapan dengan dua pilihan dilematis yang sama-sama mempunyai
konsekuensi negatif. Perempuan itu menjadi tidak berdaya. Jadi dalam
pengertian inilah kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis. Dan
sebaliknya jika ada kebebasan psikologis belum tentu ada kebebasan moral.
Dan karena itulah kebebasan moral harus dibedakan dengan kebebasan
psikologis dan kebebasan fisik. Kebebasan moral dapat dibatasi dengan
pemberian larangan atau pewajiban secara moral. Orang yang tidak berada
dibawah tekanan sebuah larangan atau berada dibawah suatu kewajiban adalah
bebas dalam arti moral.

a. Kewajiban Mengandaikan Kebebasan

Dari apa yang telah terurai diatas mengenai pengertian kebebasan dan bentuk-
bentuk kebebasan, maka dapat dipahami bahwa ketika kita mendengar kebebasan yang
pertama-tama kita fikir adalah bahwa orang lain tidak memaksa kita untuk melakukan
sesuatu untuk melawan kehendak kita. Atau bahwa kita bebas pulang dari fakultas
karena kuliah tidak jadi diberikan, atau bahwa kita bebas pajak. Kita bebas apabila
masyarakat tidak menghalang-halangi kita dari berbuat apa yang ingin kita lakukan
sendiri.

Tapi kata bebas masih mempunyai arti yang lebih mendasar, yaitu bahwa kita
mampu untuk menentukan sendiri, berbeda dengan binatang, apa yang mau kita
lakukan. Jadi bahwa kita dapat menentukan tindakan kita sendiri. Hanya karena kita
mempunyai kemampuan itu, kebebasan yang kita terima dari masyarakat begitu kita
hargai. Kalau kita dapat membedakan arti kata kebebasan tersebut, maka akan didapat
bahwasannya; yang pertama, kebebasan yang kita terima dari orang lain, disini dapat
disebut sebagai kebebasan sosial. Sedangkan kebebasan dalam arti kemampuan kita
untuk menentukan tindakan kita sendiri dapat disebut kebebasan eksistensial.
1) Kebebasan Eksistensial.

Kebebasan eksistensial pada hakikatnya terdiri dalam kemampuan manusia


untuk menentukan dirinya sendiri. Sifatnya positif. Artinya, kebebasan itu tidak
menekan segi bebas dari apa, melainkan bebas untuk apa. Kita sanggup untuk
menentukan tindakan kita sendiri. Kebebasan itu mendapat wujudnya yang positif
dalam tindakan kita yang disengaja.

Tidak setiap kegiatan manusia merupakan tindakan. Dentuman jantung dan


pernafasan bukanlah tindakan karena berjalan tanpa disengaja. Tindakan adalah
kegiatan yang disengaja. Tindakan dilakukan dengan maksud dan tujuan tertentu,
dengan kesadaran bahwa tergantung pada kitalah apakah kegiatan itu kita lakukan
atau tidak.

Hewan dapat saja berbuat ini dan itu, tetapi selalu didorong dan berdasarkan
naluri, perangsang, kebiasaan-kebiasaan yang telah berdarah daging padanya.
Berhadapan dengan sepotong tulang ayah anjing tidak akan berfikir dulu apa mau
dimakan langsung atau lebih baik kalau ia mencari dua potong lagi supaya
nantinya mempunyai tiga. Lain halnya manusia. Meskipun ia lapar akan daging
ayam di meja, tetapi selalu berfikir dulu apakah tepat kalau daging itu dimakannya
sekarang. Ia juga dapat menundanya atau malah berpuasa. Terhadap nalurinya
sendiri manusia masih dapat mengambil sikapnya sendiri. Itu yang dimaksud
dengan mengatakan bahwa manusia mampu untuk menentukan sikap dan
tindakannya sendiri.

Kebebasan Jasmani dan Rohani

Apa yang persis ditentukan oleh manusia? Kebebasan bagi manusia pertama-
tama berarti, bahwa ia dapat menentukan apa yang mau dilakukannya secara fisik.
Ia dapat menggerakan anggota tubuhnya sesuai kehendaknya, tentu dalam batas-
batas kodratnya sebagai manusia. Jadi kemampuan untuk menggerakkan tubuhnya
memang tak terbatas. Kebebsan manusia bukan sesuatu yang abstrak, melainkan
konkret, sesuai dengan sifat kemanusiaanya. Meskipun ia menggerakkan
tangannya ke atas dan ke bawah dengan kecepatan tinggi, ia tetap tidak akan bisa
terbang seperti burung. Dan berbeda dengan kerbau ia tidak mampu untuk menarik
bajak di sawah. Keterbatasan itu janganlah dianggap sebagai pengekangan
terhadap kebebasan, melainkan sebagai wujud khas kebebasan sebagai manusia.

Yang memang mengekan kebebasan kita adalah paksaan. Karena tubuh kita
berada di bawah hukum-hukum alam, kebebasan untuk menggerakkan tubuh kita
dapat dikurangi atau dihilangkan oleh kekuatan fisik yang lebih kuat. Itu yang kita
sebut paksaan. Paksaan berarti bahwa orang lain memakai kekuatan fisik yang
lebih besar daripada kekuatan kita untuk menaklukkan kita. Kita dicegah dari
berbuat apa yang kita kehendaki, misalnya karena tangan kita diborgol, dan kita
dapat juga dibawa ke tempat yang kita kehendaki. Paksaan berarti bahwa
kejasmaniaan kita dipergunakan untuk membuat kita melakukan atau tidak
melakukan sesuatu yang tidak kita kehendaki.

Adanya paksaan juga menunjukkan bahwa kebebasan fisik kita bukan sekedar
jasmani saja, melainkan berakar dalam kehenda kita. Binatang juga menggerakkan
tubuhnya sendiri. Yang membedakan kita dari binatang ialah bahwa binatang
bergerak menurut dorongan-dorongan instingtualnya, sedangkan manusia sesuai
dengan apa yang dikehendaki dalam fikirannya. Dengan kata lain, kebebasan
jasmani bersumber pada kebebasan rohani. Kebebasan rohani adalah kemampuan
kita untuk menentukan sendiri apa yang kita fikirikan, untuk menghendaki sesuatu,
untuk bertindak secara terencana. Kebebasan rohani bersumber pada akal budi
kita. Dalam roh kita bebas untuk menggembara. Maka manusia dapat selalu
memasang tujuan baru, mencari jalan-jalan baru dan mempersoalkan yang lama
secara kritis. Kebebasan rohani manusia adalah seluas jangkauan fikiran dan
bayangan manusia.

Apakah kebebasan rohani dapat dilanggar oleh orang lain? Secara langsung hal
itu tidak mungkin. Orang tidak dapat dipaksa untuk memikirkan atau
menghendaki sesuatu. Batin kita adalah kerajaan kita. Kita barangkali dapat
ditekan, dibujuk atau diancam untuk melakukan sesuatu. Tetapi apa yang kita
fikirkan sebenarnya tidak dapat diketahui. Kemunafikan adalah salah satu cara
untuk menghindari dari tekanan. Begitu pula tidak mungkin kita dipaksa atau
ditekan untuk mencintai seseorang atau untuk mempercayai sesuatu (itulah
sebabnya paksaan dalam hal agama tidak masuk akal).
Tetapi secara tidak langsung kebebasan berfikir kita dapat dipengaruhi dari
luar, bahkan dapat dikacaukan dan ditiadakan. Misalnya kalau informasi-informasi
politik yang kita peroleh, semuanya dapat disaring secara sistematis demi
kepentingan tertentu, kita akan mendapat gambaran yang kurang tepat tentang
keadaan yang sebenarnya dan dengan demikian juga memberikan penilaian yang
tidak tepat. Dengan demikian kita dapat dimanipulasi. Tetapi ada cara-cara yang
lebih buruk. Orang yang secara emosional terganggu lama kelamaan tidak dapat
berfikir dengan jelas. Tekanan psikis atau siksaan fisik dapat membuat kita tidak
berdaya. Orang yang ditahan dalam isolasi dan tidak diizinkan tidur lama
kelamaan kehilangan segala orientasi. Ia dapat sampai meragukan apakah “dua
tambah dua” betul selalu empat. Sugesti, hipotesis dan berbagai obat bius dapat
membuat kita kehilangan perasaan tentang realitas. Dengan semua cara ini
kekuasaan seseorang atas fikiran dan kehendaknya dapat diganggu atau bahkan
dihancurkan.

Antara kebebasan jasmani dan rohani terdapat hubungan yang erat. Dapat
dikatakan bahwa tindakan adalah suatu kehendak yang menjelma dan menjadi
nyata, dan kehendak adalah permulaan tindakan. Menghendaki gerakan tubuh
berarti melaksanakannya. Misalnya satu-satunya cara untuk menghendaki mau
menggerakkan tangan adalah menggerakannya. Tidak mungkin dikatakan bahwa
ketika seorang mau merentangkan tangannya apabila tidak merentangkan
tangannya, terkecuali tangannya diikat.

Disini kita harus membedakan antara kehendak dan kemauan disatu fihak
(maksud dua kata itu sama) dan keinginan di lain fihak. Keinginan termasuk laci
yang sama dengan lamunan dan khayalan. Kita menginginkan banyak, tetapi suatu
keinginan tidak berbotot. Kita ingin bekerja keras, ingin sukses, ingin menjadi
kaya dan sebagainya, tetapi belum tentu kita mampu untuk berbuat sesuatu agar
keinginan-keinginan itu betul-betul terlaksanan. Menginginkan menjadi orang
baik itu murah. Keinginan tidak mrwajibkan seseorang untuk melakukan sesuatu
dan oleh karena itu juga tidak sangat berbobot. Lain halnya dengan kemauan,
apabila seseorang mau bekerja keras, tak ada jalan lain daripada memang bekerja
dengan keras. Banyak orang ingin menjadi orang rajin, tetapi hanya sedikit yang
betul-betul menghendakinya, karena hal itu akan berarti bahwa mereka harus
sungguh-sungguh mulai belajar. Kita ingin dapat terbang seperti burung elang,
tetapi tidak mungkin hal itu sungguh-sungguh kita kehendaki, karena tidak
mungkin kita menghendaki sesuatu yang mustahil.

Tidak mungkin kita menghendaki sesuatu yang secara fisik tidak mungkin.
Kita dapat mencobanya tetapi apabila memang tidak mungkin, kita hanya dapat
menginginkannya, tetapi tidak menghendakinya. Baru dalam tindakan kehendak
menjadi nyata dalam arti sesungguhnya. Oleh karena itu dosa dalam fikiran jauh
lebih lemah daripada dosa dalam tindakan, baru dalam tindakan kehendak jahat
betul-betul terwujud.

Makna Kebebasan Eksistensial

Jadi kebebasan eksistensial adalah kemampuan manusia untuk menentukan


tindakannya sendiri. Kemampuan itu bersumber pada kemampuan manusia untuk
berfikir dan berkehendak dan terwujud dalam tindakan. Tetapi apa itu tindakan!.
Tindakan itu bukan sesuatu diluar manusia. Tindakan bukan bagaikan sebatang
tongkat yang dapat dipegang, tetapi sesudah dipakai terus diletakkan di pojok
kamar. Tindakan adalah satu dengan dirinya sendiri.

Maka kebebasan eksistensial tidak hanya berarti bahwa kita dapat menentukan
tindakan kita, melainkan melalui tindakan kita dapat menentukan diri kita sendiri.

Arti yang paling mendalam kebebasan yang kita rasakan ialah bahwa kita
adalah mahkluk yang menentukan dirinya sendiri. Manusia bukan sekedar simpul
reaksi-reaksi terhadap macam-macam perangsang, ia tidak ditentukan oleh segala
kecondongan. Melainkan terhadap dan berhadapan dengan kecondongan dan
perangsang itu manusia mengambil sikap dalam tindakan yang bebas, ia
menentukan dirinya sendiri. Manusia tidak begitu saja dicetak oleh dunia luar di
satu fihak dan dorongan-dorongannya dari dalam di lain fihak, melainkan ia
membangun dirinya sendiri berhadapan baik dengan tantangan-tantangan dari luar
maupun dari dalam.

Makna kebebasan adalah tanda dan ungkapan martabat manusia. Karena


kebebasannya manusia adalah mahkluk yang otonom, yang menentukan diri
sendiri, yang dapat mengambil sikapnya sendiri. Itulah sebabnya kebebasan berarti
banyak bagi kita. Setiap pemaksaan kita rasakan sebagai sesuatu yang tidak hanya
buruk dan menyakitkan, melainkan juga menghina. Dan memang demikian,
memaksakan sesuatu pada orang lain berarti mengabaikan martabatnya sebagai
manusia yang sanggup untuk mengambil sikapnya sendiri. Maka kita merasa
paling terhina kalau sesuatu dipaksanakan kepada kita dengan ancaman atau
bujukan. Kalau diminta artinya kalau kebebasan kita dihormati, kita sering
bersedia untuk memberikan dengan hati yang lapang tetapi kalau kita terpaksa kita
merasa terhina dan tidak mau. Kebebasan adalah mahkota martabat kita sebagai
manusia.

2) Kebebasan Sosial.

Jadi hakikat kebebasan terletak dalam kemampuan kita untuk menentukan diri
kita sendiri. Kebebasan itu disebut eksistensial karena merupakan sesuatu yang
menyatu dengan manusia, artinya termasuk eksistensinya sebagai manusia.
Kebebasan itu termasuk kemanusiaan kita. Sebagai manusia kita bebas. Karena
kebebasan itu merupakan eksistensial kita dan kita biasanya tidak sadar bahwa kita
memilikinya.

Itulah mengapa kebebasan biasanya kita ahyati dalam hubungan dengan orang
lain. Kebebasan dalam arti kemampuan untuk menentukan diri kita sendiri
sedemikian kita andaikan hingga tidak banyak yang kita fikirkan. Yang menjadi
keprihatinan kita adalah mengapa kebebasan kita terhadap usaha orang lain untuk
menggerogotinya. Maka dalam bahasa kita sehari-hari kebebasan difahami
sebagai realitas negatif; keadaan dimana kemungkinan kita untuk menentukan
tindakan kita sendiri tidak dibatasi oleh orang lain. (Jadi “negatif” bukan sebagai
penilaian, melainkan dalam arti logika untuk menjelaskan apa itu kebebasan sosial,
kita harus memakai kata tidak). Manusia itu bebas apabila kemungkinan-
kemungkinan nya untuk bertindak tidak dibatasi oleh orang lain. Karena
kebebasan itu secara hakiki dihayati dalam hubungan dengan orang lain dan itulah
yang dinamakan dengan kebebasan sosial.

Memang tidak dapat disangkal bahwa bannyak orang mempunyai motivasi


untuk mengurangi kebebasan kita, artinya untuk berkuasa atas kita. Berhadapan
dengan ancaman itu kita menjadi sedemikian sadar akan nilai kemampuan untuk
menentukan diri kita sendiri, sehingga keadaan dimana kita tidak berada di bawah
paksaan atau penentuan orang lain kita beri nama kebebasan. Jadi kebebasan sosial
adalah keadaan di mana kemungkinan kita untuk bertindak tidak dibatasi dengan
sengaja oleh orang lain.

Kebebasan sosial manusia terdiri dari tiga macam yaitu :

a) Kebebasan jasmani, apabila kita tidak di bawah paksaan.


b) Kebebasan rohani, apabila kita bebas dari tekanan psikis.
c) Kebebasan normatis, apabila kita bebas dari kewajiban dan larangan.

Antara kebebasan jasmani dan rohani terdapat hubungan yang erat. Kebebasan
jasmani bersumber pada kebebasan rohani dan sekaligus mengungkapkan dan
menyatakannya. Bebas dalam arti jasmani dan rohani berarti kita dapat atau
sanggup untuk melakukan sesuatu. Sedangkan bebas dalam arti normatif tidak
mengatakan sesuatu tentang kesanggupan kita, melainkan bahwa kita boleh
melakukan sesuatu. Maka gangguan terhadap kebebasan jasmani dan rohani
langsung memasuki otonomi manusia terhadap dirinya sendiri karena membuat
kita tidak sanggup melakukan sesuatu, sedangkan pembatasan kebebasan normatif
membiarkan otonomi kita tetap utuh.

Dengan demikian kita dapat memerincikan kebebasan sosial sebagai berikut;


seseorang adalah bebas dalam arti sosial. Apabila ia tidak berada di bawah
paksaan, tekanan atau kewajiban dan larangann dari fihak orang lain.

b. Pembatasan Kebebasan

Manusia itu sebagai mahkluk sosial. Itu berarti bahwa manusia harus hidup
bersama dengan manusia-manusia lain dalam ruang dan waktu yang sama, dan dengan
mempergunakan alam yang terbatas sebagai dasar untuk memenuhi kebutuhannya.
Hal itu berarti bahwa kita disatu fihak saling membutuhkan dan dilain fihak bersaing
satu sama lain. Dan oleh karena itu kelakuan harus kita sesuaikan dengan adanya
orang lain. Bagaimanapun juga, kepentingan semua orang lain yang hidup dalam
jangkauan tindakan kita perlu kita perhatikan. Kalaupun kita tidak mau menghiraukan
mereka, kita terpaksa akan melakukannya kalau tidak mau terus menerus bertabrakan.
Jadi pertanyaannya bukan apakah kebebsan sosial kita memang boleh dibatasi atau
tidak.
Sebagai mahluk sosial yang hidup bersama dalam dunia yang terbatas, sudah
jelas manusia harus menerima bahwa masyarakat membatasi kesewenangannya.
Pertanyaan yang sebenarnya berbunyi sejauh mana, dan dengan cara mana, kebebasan
kita boleh dibatasi? Jadi bahwa kebebasan sosial kita terbatas, sudah jelas dengan
sendirinya yang perlu ialah agar pembatasan itu dapat dipertanggung jawabkan.
Karena kalaupun kebebasan kita harus dibatasi, hal itu tidak berarti bahwa segala
macam pembatasan dapat dibenarkan. Pada dasarnya ada dua alasan untuk membatasi
kebebasan manusia.

Alasan pertama ialah hak setiap manusia atas kebebasan yang sama. Keadilan
menutut agar apa yang kita tuntut bagi kita sendiri, pada prinsipnya juga kita akui
sebagai hak orang lain. Oleh karena itu hak seseorang atas kebebasannya menemukan
batasnya pada hak sesama saya yang sama luasnya. Tidak masuk akal kalau di ruang
kuliah seseorang mau menggunakan dua kuris, selama masih ada mahasiswa yang
belum dapat duduk. Dengan demikian maka kebebasan seseorang tidak boleh sampai
mengurangi kebebasan orang lain yang sama luasnya.

Alasan yang kedua bagi pembatasan kebebasan adalah bahwa setiap orang
bersama semua orang lain merupakan anggota masyarakat. Setiap individu
mempunyai eksistensi, hidup dan berkembang hanya karena pelayanan dan bantuan
banyak orang lain, jadi berkat dukungan masyarakat. Maka masyarakat berhak untuk
membatasi kesewenangan kita demi kepentingan bersama, baik dengan melarang kita
mengambil tindakan-tindakan yang dinilai merugikan masyarakat, maupun dengan
meletakkan kewajiban-kewajiban tertentu pada kita yang harus kita penuhi. Dengan
demikian masyarakat berhak untuk membatasi kebebasan kita sejauh itu perlu untuk
menjamin hak-hak semua anggota dan demi kepentingan dan kemajuan masyarakat
sebagai keseluruhan, menurut batas wewenang masing-masing. Pembatasan itu tidak
boleh melebihi apa yang perlu untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Maka lembaga-
lembaga masyarakat itu harus mempertanggung jawabkan pembatasan kebebasan
anggota masyarakat. Masyarakat tidak boleh mengadakan pembatasan yang
sewenang-wenang. Suatu pembatasan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Justru agar pertanggung jawaban selalu dapat dituntut pembatasan kebebasan


harus dilakukan secara terbuka dan terus terang, tak perlu ditutup tutupi. Masyarakat
dan berbagai lembaga di dalamnya dalam batas wewenang masing-masing memang
berhak untuk membatasi kebebasan manusia dan oleh karena itu tidak perlu malu malu
melakukannya. Mereka hendaknya dengan terbuka mengemukakan peraturan-
peraturan dan larangan-larangan yang memang meraka anggap perlu. Dengan
demikian masyarakat yang bersangkutan seperlunya dapat menuntut pertanggung
jawaban. Kalau aturan-aturan dan larangan-larangan itu perlu, hendaknya hal itu
diperhatikan. Kalau perlunya itu tidak dapat dipertanggungjawabkan, peraturan-
peraturan itu bersifat sewenang-wenang dan harus dicabut. Jadi kebebasan dibatasi
atas nama kebebasan yang sebenarnya. Yang buruk pada cara pembatasan
kebebasan ini ialah bahwa tidak dipertanggung jawabkan. Dengan argumen bahwa
kebebasan yang sebenarnya tidak dibatasi, mereka yang membatasinya menghindar
dari pertanggung jawaban. Jadi hendaknya dia memilih; membiarkan bebas atau tidak.
Kalau tidak, katakan dengan terus terang dan berikan pertanggung jawabab. Kalau
pertanggung jawaban itu masuk akal pembatasan akan kita terima. Tetapi kalau kita
memang bebas, hendaknya bebas sungguhan, artinya kita bebas sekehendak kita.
Bahwa kita harus mempertanggung jawabkan kebebasan kita secara moral terhadap
kita sendiri adalah lain masalah. Tetapi dari fihak masyarakat kebebasan sosial kita
berarti kita boleh menentukan sendiri apa yang kita kehendaki.

Pembenaran pembatasan kebebasan dengan alasan kebebasan bertanggung


jawab sebenarnya tidak lebih daripada pengakuan bahwa pembatasan yang
dikehendaki tidak diberanikan dikemukakan dengan terus terang karena rupa rupanya
tidak dapat dipertanggung jawabkan didepan umum. Jadi yang tidak bertanggung
jawab adalah fihak yang mau membatasi kebebasan atas nama kebebasan yang
bertanggung jawab itu. Dengan demikian maka dapat dipahami bahwasannya
kebebasan manusia memang jelas boleh dan bahkan harus dibatasi tetapi pembatasan
itu harus dikemukakan dengan terus terang dan dapat dipertanggung jawabkan.
Adapun pembatasan-pembatasan yang dimaksud diantaranya adalah sebagai
berikut:

1) Pembatasan dari dalam. Segala keterbatasan yang dimiliki manusia secara


fisik maupun secara psikis.
2) Pembatasan dari lingkungan. Kondisi-kondisi lingkungan tertentu yang
membuat berbagai keinginan dan tindakan manusia tidak mungkin dilakukan.
3) Pembatasan dari masyarakat. Setiap manusia memiliki kebebasannya masing-
masing dan hal tersebut menjadi pembatas bagi kebebasan menusia yang
lainnya.Kebebasan manusia tidak sama dengan kesewenangan. Kebebasan kita
secara hakiki terbatas oleh kenyataan bahwa kita adalah anggota masyarakat.
Keterbatasan itu dapat diperinci kedua arah:
Pertama: Hak kita untuk bertindak menemukan batasnya dalam hak setiap
orang lain atas kebebasan yang sama.
Kedua: kita hanya dapat hidup karena kebutuhan kita terus menerus dipenuhi
oleh orang lain, oleh masyarakat. Karena itu masyarakat berhak membatasi
(secara terbuka) kesewenangan saya demi kepentingan bersama.

c. Cara pembatasan kebebasan.

Dengan cara apakah kebebasan kita dibatasi, maka pada prinsipnya ada tiga cara
untuk membatasi kebebasan manusia yang diantaranya :

1) Melalui paksaan atau pemerkosaan fisik.

2) Melalui tekanan atau manipulasi psikis.

3) Melalui pewajiban dan larang.

Cara pembatasan tersebut diatas dapat dicontohkan sebagai berikut; Apabila


kita bertanya bagaimana kita dapat mencegah seseorang masuk kedalam kamar pribadi
kita?

Cara pertama adalah dengan mengunci kamar itu. Cara itu aman, siapapun tidak
dapat masuk. Tidak perlu kita bedakan antara orang yang bertanggung jawab dan yang
tidak. Anjing pun tidak akan bisa masuk.

Cara kedua adalah kita dapat mengkondisikan seseorang sedemikian rupa,


hingga begitu ia melihat pintu kamar kita, ia mulai bergetar ketakutan dan tidak
sanggup untuk memegang pegangan pintu meskipun pintu sebenanya tidak apa-apa
dan tidak terkunci. Cara itu juga dapat dipakai untuk anjing atau sapi; sapi misalnya
mudah belajar merasa takut terhadap kawat sederhana yang bertenganan listrik rendah;
kalau kemudian listrik dimatikan, sapi untuk waktu yang cukup lama tidak berani
menyentuk kawat yang membatasi perumputannya itu.
Yang menarik ialah bahwa pembatasan fisik dan psikis tidak hanya berlaku bagi
manusia melainkan juga bagi binatang. Inti cara itu adalah bahwa sikap fihak yang
mau dirintangai agar jangan masuk tak perlu diperhitungkan. Pokoknya dia tak
sanggup masuk, entah karena secara fisik tidak dapat, entah karena ada hambatan
psikis yang kuat.

Lain sifatnya cara ketiga, yaitu kita memasang tulisan pada pintu kamar;
“dilarang masuk”. Pembatasan kebebasan ini tidak lagi efektif terhadap anjing dan
sapi melainkan hanya terhadap manusia. Dan bukan terhadap sembarang orang,
melainkan hanya terhadap orang yang mengerti bahasa Indonesia. Orang lain
barangkali mengira itu nama penghuni dan justru masuk menanyakan sesuatu pada
“pak masuk”.

Jadi ketiga cara diatas mengandaikan pengertian bahwa hanya mahluk hidup
yang mempunyai pengertian yang memahaminya. Cara pembatasan tersebut diatas
disebut normatif. Artinya kita diberi tahu tentang sebuah norma atau aturan kelakuan.
Cara ini menghormati kekhasan manusia sebagai mahluk yang berakal budi.
Pembatasan fisik dan psikis meniadakan kebebasan eksistensial. Orang tidak dapat
masuk. Jadi kemauannya, rasa tanggung jawabnya, tidak memainkan peranan. Tettapi
pembatasan normatif tetap menghormati kebebasan eksistensial manusia. Pembatasan
itu berarti bahwa ia tidak boleh masuk. Dan itu berarti bahwa ia tetap dapat saja masuk
apabila ia tidak mau memperhatikan pemberitahuan tersebut.

Jadi pembatasan kebebasan sosial secara normatif tetap menghormati martabat


manusia sebagai mahluk hidup yang dapat menentukan sendiri sikap dan tindakannya.
Pertimbangan ini menunjukkan bahwa satu-satunya cara yang wajar untuk membatasi
kebebasan adalah secara normatif, melalui pemberitahuan. Jadi yang harus dibatasi
adalah kebebasan normatif, bukan kebebasan fisik dan rohani. Hanya dengan cara itu
martabat manusia sebagai mahluk yang berakal budi, bebas (secara eksistensial) dan
bertanggung jawab dihormati sepenuhnya. Pemaksaaan selalu merendahkan manusia
karena martabatnya itu dianggap sepi dan ia direndahkan. Maka pembatasan
kebebasan manusia memang perlu dan harus dilakukan secara normatif jadi
dengan menetapkan peraturan dan cara pemberitahuan dan bukan dengan
paksaan.
Akan tetapi, bagaimana kalau orang tidak mau tahu dan tidak bertanggung
jawab? Jadi kalau ia tidak taat kepada peraturan tersebut. Kemungkinan tersebutlah
yang melahirkan faham hukum. Hukum adalah sistem peraturan kelakuan bagi
masyarakat yang bersifat normatif tetapi dengan ancaman tambahan bahwa siapa yang
tidak menaatinya akan ditindak. Oleh karena itu masyarakat juga berhak untuk
memastikan bahwa aturan yang dianggapnya penting bagaimanapun tidak dilanggar.
Oleh kerena itu juga masyarakat juga berhak untuk seperlunya mengambil tindakan
untuk menjamin bahwa aturan-aturan itu dihormati.

Tindakan macam apa yang boleh diambil? Jawabannya ialah tindakan fisik! Jadi
orang yang memang tidak mau tahu, boleh dipaksa untuk taat dan boleh seperlunya
dikenai sangsi dalam bentuk hukuman. Jadi orang yang mengancam orang lain boleh
ditangkap diborgol dan dijatuhi hukuman penjara. Semua tindakan itu mengurangi
kebebasan fisiknya, sama halnya dengan kerbau yang diikat dikandangnya. Bahwa
tindakan fisik yang sebetulnya tidak wajar diambil, adalah kesalahannya sendiri karena
ia tidak menanggapi pembatasan normatif.

Yang tidak dapat dibenarkan sebagai cara untuk membuat orang taat adalah
manipulasi psikis. Manipulasi psikis secara moral selalu buruk dan harus dinilai jahat,
karena merusak kepribadian orang dari dalam. Paksaan fisik hanya mengenai
kejasmaniahan manusia. Apa yang difikirkannya, sikap hatinya, jadi sumber daya
penentuannya sendiri tidak tersentuh. Dalam arti ini betul bahwa dalam belenggu pun
orang masih dapat tetap bebas. Tindakan fisik yang perlu tidak mau memperkosa
otonomi seseorang terhadap dirinya sendiri, melainkan hanya mencegah agar ia
jgangan merugikan orang lain. Sedangkan manipulasi psikis merusak manusia dari
dalam. Maka tekanan psikis, menakut-nakuti, penggunaan berbagai obat bius, sugesti
dan hipnose, penyiksaan dengan tujuan untuk memperlemah ketekadan batinnya tidak
pernah dapat dibenarkan, melainkan selalu harus dikutuk sebagai kotor dan jahat.

d. Alasan-alasan Yang Membenarkan Adanya Kebebasan

Kebebasan adalah suatu keadaan atau situasi di mana manusia benar-benar


merasa diri sebagai seorang pribadi yang berdiri sendiri dan tidak diasingkan dari diri
sendiri. Kebebasan adalah keadaan dan cara hidup yang stabil, yaitu suatu keadaan
bebas, yang olehnya manusia menjadi tuan atas hidupnya sendiri dan memiliki diri
sendiri. Di dalam keadaan seperti itu diandaikan manusia bisa mengambil dan
mengatur tanggung jawabnya sendiri.

Kondisi ideal seperti itu dalam kenyataan ternyata belum dialami oleh manusia
secara penuh. Manusia masih harus berhadapan dengan berbagai hal yang tidak
sempurna. Manusia masih harus berhadapan dengan aneka pembatasan-pembatasan
yang selalu menghalangi proses pengembangan hidupnya. Manusia masih harus
berusaha mendobrak segala macam rintangan yang membelenggu kebebasan dirinya.
Bahwa dalam kenyataan manusia senantiasa harus berjuang melawan bentuk-bentuk
rintangan dan paksaan yang membatasi kebebasannya, merupakan tanda bahwa
kebebasan manusia merupakan sesuatu yang senantiasa menuntut penyempurnaan.
Manusia hidup dalam ruang dan waktu. Manusia adalah makhluk yang bertubuh.
Maka pada hakekatnya kebebasan itu selalu terbatas.Manusia selalu tergantung pada
lingkungan fisik dan sosial. Misalnya orang yang buta pasti tidak bisa menikmati
keindahan seni lukis karena ia tidak mempunyai kemampuan visual. Seorang tuna
rungu tidak bisa menikmati sebuah musik yang paling indah.

Kenyataan adanya keterbatasan-keterbatasan dalam hidup manusia itu pada


akhirnya melahirkan pandangan yang mengatakan bahwa kebebasan hanyalah sebuah
slogan-slogan kosong dan “wishful thingking” yang tidak mungkin dapat dicapai oleh
semua orang. Maka pertanyaan-pertanyaan kritis juga muncul, yaitu:

Apa manusia sungguh bebas? Benarkah manusia adalah tuan atas


tindakannya sendiri? Benarkah manusia mempunyai kemampuan untuk
menentukan dirinya sendiri? Bukankah dalam kenyataan kita sering
berhadapan dengan pengalaman yang membuat kita berpikir bahwa kita tidak
bebas? Bukankah kita sering berjumpa dengan pembatasan-pembatasan dan
rintangan-rintangan yang membuat kita tidak bebas? Kalau demikian apakah
kebebasan itu hanyalah sebuah teori yang sama sekali tidak sesuai dengan
kenyataan hidup manusia? Atau apakah kebebasan itu hanyalah sebuah ideal
hidup manusia yang selama hidupnya harus diperjuangkan namun tak
pernah akan tercapai secara penuh?

Pertanyaan-pertanyaan kritis di atas secara langsung mendorong orang untuk


membuktikan adanya kebebasan dalam hidup manusia. Atas berbagai cara banyak
pemikir yang mencoba membuktikan kebebasan. Kita sendiri, sebagai makluk yang
bereksistensi sebenarnya juga ditantang untuk meyakinkan diri kita sendiri dan orang
lain, bahwa kita adalah bebas. Bagaimanapun kita menginginkan kepastian. Namun
ternyata tidak mudah memulai usaha untuk membuktikan adanya kebebasan, apalagi
kebebasan tidak mungkin dibuktikan secara matematis. Pembuktian selalu
mengandaikan adanya “jarak” antara subyek yang meneliti dan obyek yang harus
diteliti. Dalam hal ini kita akan menemukan kesulitan jika kita harus membuktikan
kebebasan dalam diri manusia. Alasannya adalah karena antara kebebasan dan
eksistensi manusia itu terdapat hubungan yang sangat erat, sehingga seakan-akan tidak
mungkin manusia melepaskan diri dari padanya. Karena pembuktian secara matematis
tidaklah mungkin, maka satu-satunya pembuktian yang bisa ditempuh adalah refleksi
kritis. Louis Leahy dalam hal ini menempuh tiga jalan, yaitu dengan argumen
persetujuan umum, argumen psikologis dan argumen etis. Tiga jalan itu ditempuhnya
terutama dalam kaitannya dengan pemikiran kritis para pemikir modern dan para ahli
psikologi yang mengingkari adanya kebebasan dalam diri manusia.

1) Argumen Persetujuan Umum

Adanya kebebasan dalam diri manusia dapat dibuktikan berdasarkan argumen


persetujuan umum. Artinya sebagian besar manusia percaya bahwa dirinya dan
orang lain adalah bebas. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang sifatnya teoretis,
melainkan praktis, yaitu berdasarkan pengalaman. Setiap hari manusia mengalami
bahwa dirinya adalah bebas, walaupun mungkin hanya dalam batas-batas tertentu,
karena manusia harus berhadapan dengan pelbagai rintangan dan halangan.

Kebebasan manusia terdapat dalam pergumulan terus-menerus dalam kesulitan


dan rintangan, baik yang berasal dari dalam diri manusia sendiri maupun dari luar
diri manusia. Perjuangan dalam berbagai kesulitan itu menyadarkan manusia akan
kebebasannya. Seandainya manusia tidak dibenturkan pada pelbagai bentuk
rintangan dan halangan, ia tidak akan menyadari kebebasannya. Sebaliknya
seandainya manusia menyadari bahwa dirinya tidak bebas, maka juga tidak
mungkin ia akan berusaha berjuang mengatasi kesulitan dan rintangan yang
menghalangi kebebasannya. Apalagi tidak mungkin ia berjuang mengubah sesuatu
dalam diri pribadinya dan dalam lingkungan sekitarnya. Justru karena benturan-
benturan pada yang lain itulah manusia menjadi sadar akan dirinya sendiri.

Dengan demikian dimensi keterbatasan juga meniscayakan kesadaran akan


kebebasan. Memang dalam kenyataan hidup sehari-hari ada begitu banyak bentuk
pengalaman, serta ada pelbagai cara untuk menunjukkan bahwa manusia adalah
bebas. Dengan caranya sendiri manusia dapat menunjukkan bahwa tindakannya
merupakan corak asli dari ke-aku-annya dan bahwa pilihannya untuk melakukan
suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan benar-benar berasal dari
dorongan internal dirinya dan tidak dapat diterangkan melulu oleh pengaruh
eksternal.

Misalnya orang yang mengalami kedamaian dalam batin atau suatu keadaan
tenang. Dalam kondisi seperti itu ada orang yang menemukan bahwa dia berada di
atas situasi yang mengelilinginya. Artinya bahwa dirinya tidak ditaklukkan oleh
situasi itu dan bahwa dia mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk memilih
dan menempuh jalan yang sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Dengan demikian
dalam situasi terbatas pun manusia ternyata masih mempunyai kemampuan dalam
dirinya untuk memberi corak sendiri pada hidupnya. Dan hal itu membuktikan
bahwa manusia pada hakekatnya mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk
melihat tanda-tanda kebebasan pada dirinya sendiri dan kebebasan dalam konteks
hidup sesamanya.

2) Argumen Psikologis

Bahwa dalam kenyataannya manusia adalah bebas juga dapat dibuktikan secara
psikologis. Dalam pengalaman hidup sehari-hari manusia secara langsung atau tak
langsung dapat menyadari hal itu. Secara langsung artinya adalah pada saat
manusia melakukan suatu tindakan dia menyadari bahwa dirinya benar-benar
mempunyai kehendak bebas untuk melakukan suatu tindakan. Secara tidak
langsung artinya berdasarkan pelbagai keadaan yang tak dapat dipisahkan dari
tindakan manusia dan yang sungguh-sungguh menuntut adanya kebebasan sebagai
syarat untuk dimengertinya tindakan itu.

a) Kesadaran Langsung Akan Kebebasan


Kesadaran langsung akan kebebasan artinya kesadaran manusia akan
dirinya sebagai makhluk yang bebas yang muncul secara langsung pada saat
dia melakukan suatu tindakan secara bebas. Kesadaran ini terjadi tatkala
manusia membuat suatu pilihan atau ketika memutuskan untuk melakukan
tindakan ini atau itu, atau bertindak dengan cara begini atau begitu, atau
bahkan untuk bertindak atau tidak bertindak. Hal penting yang harus digaris-
bawahi di dalam pengertian ini adalah bahwa pilihan untuk bertindak atau tidak
bertindak itu selalu mengandaikan pemikiran manusia terlebih dahulu.
Pada saat itu manusia benar-benar merasakan dan menyadari bahwa dirinya
sama sekali tidak ditekan oleh faktor internal atau eksternal. Artinya bahwa
ketika manusia memilih untuk bertindak atau tidak bertindak dirinya benar-
benar tidak dikuasai oleh dorongan buta dan bahwa dia tidak diperlakukan
seperti binatang yang tidak mampu berpikir atau juga seperti benda-benda lain.

Contohnya :

Ada seorang mahasiswa yang ketika pulang dari kampus melihat dompet
tergeletak tanpa pemiliknya di sebuah jalan kecil. Muncul pemikiran pada
waktu itu, yaitu "mengambil dompet itu". Namun pada saat pikiran itu
muncul, di dalam diri mahasiswa itu juga muncul kesadaran bahwa jika ia
mengambil dompet itu dan tidak mengembalikan pada pemiliknya, maka ia
melakukan tindakan yang secara moral tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Setelah menimbang-nimbang, mahasiswa itu memutuskan: "Ya, saya akan
mengambil dompet itu", atau sebaliknya: "Saya akan mengembalikan
dompet itu kepada pemiliknya". Pada saat mahasiswa itu memutuskan
dengan menjawab ya atau tidak, ia sadar secara penuh bahwa dirinya telah
mengambil keputusan secara bebas.

Secara moral keputusan itu keluar dari "aku" mahasiswa yang terdalam
atau dari kehendaknya yang bebas. Keputusan itu diambil dalam kondisi tanpa
adanya pengaruh atau paksaan faktor-faktor eksternal. Keputusan itu lahir
dengan dibarengi oleh kesadaran bahwa secara moral saya bebas untuk
mengambil keputusan untuk melakukan tindakan.

b) Kesadaran Tak Langsung


Dalam pengalaman hidup sehari-hari yang kita sadari sering kita
menemukan bahwa suatu tindakan yang kita lakukan itu sungguh-sungguh
tidak bisa terjadi seandainya kita tidak bebas.

Contohnya :

Misalnya kita merundingkan sebuah persoalan. Di dalam berunding


diandaikan ada kebebasan dalam diri setiap orang yang ikut di dalamnya.
Karena jika tidak ada kebebasan, maka pasti juga tidak ada suatu
perundingan. Mungkin yang ada justru pemaksaan kehendak. Dan
pengalaman itu mengisyaratkan bahwa kita bisa berbuat lain. Artinya bahwa
orang yang melakukan perbuatan itu tidak dipaksa untuk melakukan
tindakan secara demikian.

Contoh lain misalnya kita mengagumi seorang yang sangat cemerlang


dalam prestasi akademis. Atau kita memuji teman kita yang sukses dalam
olah raga tinju. Prestasi-prestasi semacam itu mengandaikan adanya
kemampuan dari individu untuk mengatasi semua kesulitan atau rintangan-
rintangan. Dan kebebasan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk
mengatasi rintangan-rintangan itu.

Di mana letak aspek ketidak-langsungan kesadaran akan kebebasan dalam


tindakan-tindakan di atas? Letaknya adalah di dalam sikap “mengakui” akan
adanya kebebasan. Di dalam sikap memuji atau mengagumi keberhasilan
prestasi itu orang secara tidak langsung mengakui adanya kebebasan.
Mengapa? Keberhasilan dalam prestasi mengandaikan adanya kemampuan
mengatasi “kesulitan-kesulitan”. Dan penguasaan kesulitan-kesulitan itu
merupakan bentuk dari kebebasan manusia. Jadi pengertian kesulitan dalam
konteks ini bukanlah dalam arti fisik, tetapi psikologis. Dengan kata lain
kesulitan yang kami maksudkan di sini adalah kesulitan intern pada subyek jika
orang mengagumi keberhasilan prestasi maka secara tidak langsung orang juga
pasti mengakui adanya kebebasan.

3) Argumen Etik

Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab moral sangat erat. Maka tidak
mengherankan kalau kedua istilah itu sering digunakan secara bersama-sama.
Seandainya tidak ada kebebasan maka tidak akan ada tanggung jawab moral. Di
dalam hidup manusia dikenal prinsip: “harus melakukan yang baik dan
menghindari yang jahat”. Ungkapan itu merupakan suatu yang asasi dari hati
nurani manusia. Ia adalah dasar dari kewajiban moral dan di dalamnya terkandung
arti sangat mendasar kebebasan berkehendak. Hal itu karena kewajiban moral
selalu adalah keharusan untuk berbuat sesuatu secara bebas. Dan kewajiban moral
selalu mengandaikan adanya kebebasan.

Nilai-nilai moral merupakan cita-cita setiap manusia, dan jarak yang


memisahkan manusia dari nilai-nilai itu dihayati oleh manusia sebagai
ketidaksempurnaan manusiawi. Kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang
dilingkupi oleh ketidak-sempurnaan juga termasuk dalam penghayatan akan
kebebasannya.

Dengan kata lain, manusia menghayati kebebasannya dalam situasi-situasi


ketidaksempurnaan moral manusiawi. Dalam sejarah perkembangan manusia hal
itu terbukti bahwa justru karena kesadaran akan kekurangan atau kesalahan dan
ketidaksempurnaan moralnya, manusia mempunyai kesadaran akan kebebasannya,
yaitu bahwa dirinya dapat berbuat lain dari pada apa yang ditentukan dari
lingkungan di luar dirinya.

2.2. Tanggung Jawab

a. Definisi/ Pengertian.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia arti dari tanggung jawab adalah “keadaan
wajib dan menanggung segala sesuatunya”.11 Dalam hal ini tanggung jawab berarti
keadaan yang mewajibkan seseorang yang apabila kalau terjadi sesuatu apa-apa boleh
dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya.

Dalam filsafat pengertian tanggung jawab adalah kemampuan manusia yang


menyadari bahwa seluruh tindakannya selalu mempunyai konsekuensi. Perbuatan
tidak bertanggung jawab, adalah perbuatan yang didasarkan pada pengetahuan dan
kesadaran yang seharusnya dilakukan tapi tidak dilakukan juga.

Menurut Anton Adi Wiyoto dijelaskan bahwa arti tanggung jawab adalah
mengambil keputusan yang patut dan efektif.12 Patut berarti menetapkan pilihan
ynag terbaik dalam batas-batas normal sosial dan harapan yang umum diberikan,
untuk meningkatkan hubungan antar manusia yang positif, keselamatan, keberhasilan,
dan kesejahteraan mereka sendiri, misalnya : menanggapi sapaan dengan senyuman.
Sedangkan tanggapan yang efektif berarti tanggapan yang memampukan anak
mencapai tujuan-tujuan yang hasil akhirnya adalah makin kuatnya harga diri mereka,
misalnya : bila akan belajar kelompok harus mendapat izin dari orang tua.

11
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, 2008, Hal 154
12
Sedangkan menurut Pam Schiller dan Tamera Bryan pengertian tanggung
jawab adalah perilaku yang menentukan bagaimana kita bereaksi terhadap situasi
setiap hari, yang memerlukan beberapa jenis keputusan yang bersifat moral.13

Menurut Prof. Burhan Bungin (2006: 43), tanggung jawab merupakan restriksi
(pembatasan) dari kebebasan yang dimilik oleh manusia, tanpa mengurangi kebebasan
itu sendiri. Tidak ada yang membatasi kebebasan seseorang, kecuali kebebasan orang
lain. Jika kita bebas berbuat, maka orang lain juga memiliki hak untuk bebas dari
konsekuensi pelaksanaan kebebasan kita. Dengan demikian kebebasan manusia harus
dikelola agar tidak terjadi kekacauan. Dan norma untuk mengelola kebebasan itu
adalah tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sendiri merupakan implementasi
kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Maka demi kebaikn bersama, maka
pelaksanaan kebebasan manusia harus memperhatikan kelompok sosial di mana ia
berada.

Teori tanggung jawab sosial adalah respons terhadap kebuntuan liberalisme


klasik di abad ke-20. Dalam laporan Hutchins Commision di tahun 1947, teori
tanggung jawab sosialmenerima banyak kritik dari sistem mdia laissez-faire. Keritik
ini menyatakan adanya kecenderungan monopoli pada media, bahwa masyarakat atau
publik tidak kurang memperhatikan dan tidak berkepentingan dengan hak-hak atau
kepentingan golongan di luar mereka, dan bahwa komersialisasi menghasilkan budaya
rendah dan politik yang serakah. Teori tanggung jawab sosial menyatakan bahwa
media harus meningkatkan standar secara mandiri, menyediakan materi mentah dan
pedoman netral bagi warga negara untuk mengatur dirinya sendiri. Hal ini sangat
penting bagi media, karena kemarahan publik akan memaksa pemerintah untuk
menetapkan peraturan untuk mengatur media.

Teori tanggung jawab sosial dirumuskan pada saat Amerika mengalami masa
“kapitalisme akhir”. Sebleum PD II, organisasi-organisasi berita ternama di Amerika
berada dalam dominasi media tycoon, seperti William Randolph Hearst, Robert R.
McCormick dan Henry Luce. Para pemilik media yang sangat sukses ini mengatur
surat kabar, layanan via kabel, stasiun radio, studio film, dan majalah. Mereka aktif
secara politik dan menggunakan posisinya untuk mendukung calon presiden dan

13 Tamara Bryant. Pam Schiller. 2002. 6 Modal Dasar Bagi Anak. Jakarta. PT. Elex Media Komputindo,
Hal 131
mempengaruhi pemilu dan penerapan undang-undang. Pada saat yang sama, kekuatan
pemerintahan federal meingkat secara drastis. Program New Deal Franklin D.
Roosevelt membentuk program-program baru yang memperluas pengaruh
pemerintahan federal dan merubah sikap publik terhadap hubungan pemerintah dengan
sektor swasta. Kebijakan anggaran yang liberal membuatnya dibenci oleh para tokoh
media. Roosevelt mampu menggunakan oposisi mereka untuk mengarahkan simpati
publik terhadap pemerintahannya.

Teori tanggung jawab sosial dikembangkan setelah kematian Roosevelt, ketika


para penerbit berpengaruh tidak populer di kalangan publik. Publik selalu curiga
terhadap pers, bahkan ketika para pemimpin industri ini diganti dengan yang baru.
Pers telah merumuskan “kode etika’ selama berdekade (Masyarakat Editor Surat
Kabar Amerika (ASNE) menerapkan “aturan jurnalisme” (The Canons of Journalism)
di tahun 1923) dan televisi menjadi media paling populer pada saat itu.

Untuk bisa memahami nilai penting teori tanggung jawab sosial, kita harus
melihat pada konsep dasar yang membentuknya. Pada essay di tahun 1958, Sir Isaiah
Berlin membedakan kebebasan negatif dan positif sebagai dua aliran dalam filosofi
politik demokratis ua model yang membedakan John Locke dari Jean-Jacques
Rousseau. Berlin menyatakan bahwa politik liberal menjalankan kompomi dalam
hubungan keseharian, menempatkan kebebasan positif sebagai penyeimbang
kebebasan negatif; “nilai-nilai utama dari politik liberal positif hak-hak, untuk
berpartisipasi dalam pemerintahan adalah sarana untuk menjaga nilai-nilai utama
mereka, yaitu individualisme negatif kebebasan.

Kebebasan positif adalah poros konseptual tempat berkembangnya tanggung


jawab sosial. Implikasi hukum dari kebebasan positif dikembangkan oleh Zechariah
Chafee dalam karya dua jilid nya Government and Mass Communciation (1947).
Dalam penekenannya terhadap hak-hak dan kecurigaannya terhadap tindakan
pemerintah, terlihat jelas hubungan antara Chafee dengan tradisi liberal. Teori
tanggung jawab sosial tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. Ia menjelaskan
bahwa wilayah hak-hak moral berbeda dengan wilayah hak-hak hukum. Teori ini
secara filosofi radikal dan konservatis secara programnya.
b. Macam-Macam tanggung jawab.

Manusia itu berjuang memenuhi keperluannya sendiri atau untuk keperluan


pihak lain. Untuk itu ia menghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi
lingkungan alam. Dalam usahanya itu manusia juga menyadari bahwa ada kekuatan
lain yang ikut menentukan yaitu kekuasaan Tuhan. Dengan demikian tanggung jawab
itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya. Atas
dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu :
1) Tanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri.
Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk
memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai
manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah
kemanusiaan mengenai dirinya sendiri. Menurut sifat dasarnya manusia adalah
mahluk bermoral, tetapi manusia juga seorang pribadi. Karena merupakan seorang
pribadi, maka manusia juga mempunyai pendapat sendiri, perasaan sendiri, angan-
angan sendiri. Sebagai perwujudan dari pendapat, perasaan dan angan-angan itu
manusia berbuat dan bertindak. Dalam hal ini manusia tidak luput dari kesalahan,
kekeliruan, baik yang disengaja maupun tidak.

Contoh :

Rudi membaca sambil berjalan. Meskipun sebentar-sebentar ia


melihat jalan, tetapi juga ia lengah, dan terperosk kesebuah lubang,
kakinya terkilir. Ia menyesali dirinya sendiri akan kejadian itu. Ia
harus beristirahat dirumah beberapa hari. Konsekuensi tinggal di
rumah beberapa hari merupakan tanggung jawab sendiri akan
kelengahannya.

2) Tanggung Jawab Terhadap Keluarga.


Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami istri, ayah
ibu dan anak-anak dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap
anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab
ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan
kesejahteraan, keselamatan, pendidikan dan kehidupan.

Contoh :

Seorang ibu telah dikarunia tiga anak, kemudian oleh sesuatu sebab
suaminya meninggal dunia, karena ia tidak mempunyai pekerjaan/
tidak bekerja pada waktu suaminya masih hidup, maka demi rasa
tanggung jawabnya terhadap keluarga ia melacurkan diri.
Ditinjau dari segi moral hal ini tidak bisa diterima karena melacurkan
diri termasuk tindakan di kutuk, tetapi dari segi tanggung jawab ia
termasuk orang yang dipuji, karena demi rasa tanggung jawabnya
terhadap keluarga ia rela berkorban menjadi manusia yang hina dan
dikutuk.
3) Tanggung Jawab Terhadap Masyarakat.
Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai
dengan kedudukannya sebagai mahluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain
maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut. Sehingga dengan
demikian manusia di sini merupakan anggota masyarakat yang tentunya
mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lain agar dapat
melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut. Wajarlah apabila segala
tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.

Contoh :

Hanafi terlalu congkak dan sombong, ia mengejek dan menghina


pakaian pengantin adat minangkabau. Ia tidak memakai pakaian itu,
bahkan penutup kepala yang dikeramatkan pun semula ditolak.
Tetapi setelah ada ancaman dari pihak pengiring, terpaksa Hanafi mau
memakainya juga. Didalam peralatan itu hampir pernikahan
dibatalkan, karena timbul perselisihan antara pihak kaum perempuan
dengan pihak kaum laki-laki. Pangkalnya dari Hanafi juga. Ia berkata
pakaian mempelai yang masih sekarang dilazimkan dinegerinya, yaitu
pakaian secara zaman dahulu, disebutkannya cara anak komedi
istambul. Jika ia dipaksa memakai secara itu sukalah urung sahaja,
demikian katanya dengan pendek. Setelah timbul pertengkaran
didalam keluarga pihaknya sendiri akhirnya diterimalah bahwa ia
memakai smoking, yaitu jas hitam, celana hita, dengan berompi dan
berdasi putih. Tetapi waktu hendak menutup kepalanya sudah
berselisih pula. Dengan kekerasan ia menolak pakaian daster suluk,
yaitu pakaian orang Minangkabau. Bertangisan sekalipun perempuan
meminta supaya ia jangan menolak tanda keminangkabauan yang
satu, yaitu selama beralat saja. Jika peralatan seudah selesai bolehlah
ia nanti memakai sekehendak hatinya nanti, karena lebih gila pula dari
pada anak komidi, bila memakai daster saluk dengan baju smocking
dan dasi. Setelah ibunya sendiri hilang sabarnya dan memukul mukul
dada di muka anak yang terpelajar itulah baru Hanafi menurut
kehendak orang banyak, sambil mengeluh dan keringat akan
badannya yang sudah tergadai. Untunglah ia menurutkan hal
menutup kepala itu, karena sekalian pengantar dan pasuimandan
(pengiring perumpuan) sudah berkata bahwa mereka tak sudi
menggiringkan mempelai “didong”. Akhirnya Hanafi tunduk pula
dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Meskipun
harus bersitegang dahulu. Sebagai pertanggung jawaban
kecongkakan dan kesombongannya itu, Hanafi harus menerima rasa
antipati dari masyarakat Minangkabau yang sangat ketat terhadap adat
itu.
4) Tanggung Jawab Terhadap Bangsa.
Suatu kenyataan lagi, bahwa tiap manusia, tiap individu adalah warga negara
suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat
oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak
dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus
bertanggung jawab kepada negara.

Contoh :

Seorang guru yang terkenal sebagai seorang guru yang baik, terpaksa
mencuri barang-barang milik sekolah demi rumah tangganya.
Perbuatan guru tersebut harus pula dipertanggung jawabkan kepada
pemerintah, kalau perbuatan itu diketahui ia harus berurusan dengan
pihak kepolisian dan pengadilan.

5) Tanggung Jawab Terhadap Tuhan.

Tuhan menciptakan dengan manusia di bumi bukanlah tanpa tanggung jawab,


melainkan untuk mengisi kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab
langsung terhadap Tuhan, sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari
hukuman-hukuman tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui
berbagai macam agam. Pelanggaran-pelanggaran dari hukuman tersebut akan
segera diperingatkan oleh Tuhan dan jika dengan peringatan yang keras pun
manusia masih juga tidak menghiraukan maka Tuhan akan melakukan kutukan,
sebab dengan mengabaikan perintah Tuhan berarti mereka meninggalkan tanggung
jawa yang seharusnya dilakukan manusia terhadap Tuhan sebagai penciptanya,
bahkan untuk memenuhi tanggung jawabnya manusia perlu pengorbanan.

Contoh :

Seorang biarawati dengan ikhlas tidak menikah selama hidupnya


karena dituntut tanggung jawabnya terhadap Tuhan sesuai dengan
hukum-hukum yang ada pada agamanya. Hal ini dilakukan agar ia
dapat sepenuhnya mengabdikan diri kepada Tuhan demi rasa
tanggung jawabnya. Dalam rangka memenuhi tanggung jawab ini ia
rela berkorban tidak memenuhi kodrat manusia pada umumnya yang
seharusnya meneruskan keturunannya, yang sebetulnya juga
merupakan sebagian tanggung jawabnya sebagai mahluk Tuhan.

2.3. Hubungan Kebebasan Dan Tanggung Jawab

Bertanggung jawab merupakan sikap moral yang dewasa. Dan tak mungkin ada
tanggung jawab tanpa ada kebebasan, maka disinilah letak hubungan antara kebebasan dan
tanggung jawab. Sejalan dengan adanya kebebasan atau kesengajaan, orang akan
bertanggung jawab atas tindakannya yang di sengaja dan berarti bahwa ia harus dapat
mengatakan dengan jujur bahwa tindakannya itu sesuai dengan penerangan. Orang yang
melakukan perbuatan tapi dalam keadaan tidur atau mabuk dan semacamnya tidak dapat di
katakan sebagai perbuatan yang dapat di pertanggung jawabkan karena perbuatan tersebut
tidak dilakukan berdasarkan akal sehatnya.

Pembahasan mengenai hubungan kebebasan dan tanggung jawab sama halnya dengan
uraian tersebut diatas. Namun kebebasan dari paksaan, tekanan dan larangan pada artinya
sendiri belum bernilai positif, melainkan hanya merupakan kesempatan atau ruang bagi kita.
Ruang itu perlu diisi, yang mengisinya adalah kita, dan pengisian itu disebut kebebasan
eksistensial. Adanya kebebasan berarti bahwa masyarakat menyediakan ruang bagi
kebebasan eksistensial kita. Jadi sekarang kitalah yang bertanggung jawab bagaimana
mempergunakannya. Apakah ruang kebebasan itu bernilai atau tidak tergantung pada
bagaimana kita menentukan diri kita didalamnya. Kebebasan berarti bahwa kitalah yang
bertanggung jawab atas sikap dan tindakan kita dan bukan masyarakat. Kita tidak dapat lari
dari tanggung jawab itu, kalaupun kita ikut-ikutan saja dan tidak berani untuk mengambil
sikap sendiri, hal itu pun tanggung jawab kita.

Dari hal tersebut, maka hubungan kebebasan dan tanggung jawab adalah
a. Ruang Kebebasan harus diisi dengan sikap dan tindakan
b. Kebebasan memungkinkan kita sendiri yang menentukan tindakan
c. Tindakan yang diambil dalam kebebasan menjadi tanggungjawab kita

Mempetanggung Jawabkan Kebebasan


Kekebasan bukan tanggung jawab kita dalam arti bahwa apa yang kita
putuskan tidak dapat kita lemparkan pada orang lain, melainkan keputusan itu
sendiri harus dipertanggung jawabkan. Bukan sembarang keputusan dapat disebut
bertanggung jawab. sikap dan tindakan-tindakan yang harus kita ambil tidak berdiri
diruang kosong, melainkan harus kita pertanggung jawabkan terhadap nilai-nilai
kemanusiaan yang sebenarnya, terhadap tugas yang menjadi kewajiban kita dan
terhadap orang lain. Sikap yang kita ambil secara bebas hanya memadai apabila
sesuai dengan tanggung jawab obyektif itu.

Jadi adanya kebebasan itu tidak berarti bahwa kita boleh memutuskan apa
saja dengan seenaknya. Bahwa kita diberi kebebasan sosial oleh masyarakat berarti,
bahwa kita dibebani tanggung jawab untuk mengisi ruang kebebasan itu secara
bermakna. Kita dapat juga memutskan sesuatu secara tidak bertanggung jawab.
Prinsip-prinsip moral dasar merupakan tolak ukur apakah kebebasan telah kita
gunakan secara bertanggung jawab. Jadi kita berada di bawah kewajiban berat untuk
mempergunakan kebebasan kita secara bertanggung jawab.

Makin bertanggung Jawab Makin Bebas.


Kadang-kadang orang menolak untuk bertanggung jawab dengan argumen,
bahwa kalau ia harus menyesuaikan diri dengan suatu tanggung jawab atau
kewajiban obyektif, maka ia tidak bebas lagi. Misalnya orang dihimbau agar ia
dalam mempergunakan perpustakaan juga memperhatikan kepentingan mahasiswa-
mahasiswa lain, misalnya dengan tidak memotong halaman-halaman tertentu dari
buku ensiklopedi, lalu ia menjawab bahwa kewajiban itu ditolaknya karena kalau ia
menerimanya, ia tidak lagi seratus persen bebas. Seakan-akan kebebasan eksistensial
hanya terjamin dalam sikap sewenang-wenang. Apakah yang dapat dikatakan
terhadap anggapan ini ?

Untuk menjawab pertanyaan itu kita harus menganalisis apa yang sebenarnya
terjadi apabila seseorang menolak untuk bertanggung jawab dengan argumen bahwa
dengan demikian ia akan kehilangan kebebasannya. Perlu diperhatikan bahwa yang
dipersoalkan disini bukan suatu pandangan yang berbeda mengenai kewajiban. Dapat
saja terjadi bahwa dua orang yang berbeda pendapat tentang apa yang wajib
dilakukan. Misalnya kakak yang hidup diluar negeri berpendapat bahwa adiknya
yang telah berkeluarga, wajib untuk menampung ibunya dalam rumah tangganya
supaya ibunya itu tidak merasa sendirian (meskipun secara ekonomis ibu itu
terjamin). Tetapi adiknya menolak dengan argumen bahwa kehadiran ibunya akan
membahayakan ketentraman dalam keluarganya dan bahwa ia berkewajiban untuk
mendahulukan kepentingan keluarganya. Dalam kasus ini adik itu tidak menolak
untuk bertanggung jawab, melainkan hanya mempunyai pandangan lain tentang apa
yang merupakan kewajibannya. Yang perlu dibahas disini adalah apabila orang
memang tidak mau bertanggung jawab dengan argumen kebebasan. Untuk
menganalisis argumentasi ini kita harus bertanya; apa artinya kebebasan kalau orang
menolak untuk bertanggung jawab ? apa ia lantas lebih bebas ?

Menolak untuk bertanggung jawab berarti; Tahu dan sadar tentang apa
seharusnya dilakukannya, tetapi tidak melakukannya juga. Mengapa ia tidak mau,
padahal ia menyadari tanggung jawabnya? Tentu karena melakukan tanggung jawab
dirasakan sebagai terlalu berat. Ada banyak kemungkinan mengapa orang tidak mau
bertanggung jawab; ia suka malas dan tidak bertanggung jawab adalah lebih ringan.
Ada urusan lain yang lebih menarik, jadi ia acuh tak acuh. Ia takut suatu bahaya.
Ada yang tidak setuju untuk melawan. Atau ia sedang sentimen, ia lagi tersinggung.
Atau ia tidak dapat mengatasi hawa nafsu atau emosi.

Orang yang tidak mau bertanggung jawab berada dalam situasi itu; disatu
fihak, ia sadar akan tanggung jawabnya. Jadi ia sebenarnya tahu perbuatan apa yang
paling bernilai baginya, yang paling pantas dan paling wajar. Tetapi karena ia malas,
tak suka susah, takut, lemas, emosi, sentimen atau dikuasai hawa nafsu maka ia tidak
kuat untuk melakukannya. Ia terlalu lemah untuk melakukan apa yang dilihatnya
sendiri sebagai paling luhur dan penting. Ia bagaikan orang yang sebenarnya senang
berdiri di puncak gunung, tetapi karena tak mau bangun pagi, tak tahan haus dan
dignin dan terlalu loyo untuk memaksa diri, maka ia tidak jadi naik.

Jadi menolak untuk bertanggung jawab tidak membuat kita menjadi lebih
bebas, melainkan sebaliknya. Orang yang tidak bertanggung jawab adalah orang
yang tidak kuat untuk melakukan apa yang dinilainya sendiri sebagai paling baik.
Jadi ia kurang bebas untuk menentukan dirinya sendiri dan kebebasan
eksistensialnya justru memudar.

Secara lebih terperinci, penolakan untuk bertanggung jawab mempunyai dua


akibat, Pertama persepsi atau wawasan semakin menyemput. Semuanya hanya
dilihat dari kepentingan dan perasaan sendiri. Yang penting ialah agar ia tak perlu
susah, tak terganggu, aman. Orang yang iri hati, tersinggung atau dendam memang
tertutup, mereka tidak dapat memperhatikan sesuatu di luar perasaan mereka sendiri.
Mereka berputar sekeliling mereka sendiri yang menyebabkan diri mereka semakin
sempit.

Kedua, orang yang tak mau bertanggung jawab semakin lemah, semakin
tidak bebas lagi untuk menentukan diri sendiri, sebagaimana kita lihat pada remaja
akhir akhir ini. Ia semakin membiarkan diri ditentukan oleh dorongan irasional yang
tidak dikuasainya, oleh perasaannya, emosinya, oleh sentimennya, oleh
kemalasannya, oleh perasaan takut. Ia tidak lagi sanggup untuk merealisasikan
sesuatu yang dilihatnya sebagai bernilai, karena mengalah terhadap perasaan-
perasaan subrasionalnya. Ia semakin tidak kuat untuk melawan arus. Jadi ia semakin
tidak bebas untuk menentukan dirinya sendiri.

Sebaliknya orang yang bersedia bertanggung jawab semakin kuat dan bebas
dan semakin meluas wawasannya. Ia tidak terhalang oleh segala macam perasaan
dalam mengejar apa yang dinilainya sebagai penting. Ia kuat dan terlatih untuk
mengatasi segala halangan dan kelemahan. Ia bagaikan pendaki gunung yang
tangguh. Kesulitan dan pengorbanan apa pun tidak akan menghalanginya dari
mencapai puncak gunung yang dicita-citakan. Memang, kemampuan utnuk
berkorban demi suatu tujuan luhur membuat kita menjadi tangguh dan bebas.

Orang yang bertanggung jawab dengan demikian adalah orang yang


menguasai diri, yang tidak ditaklukan oleh perasaan-perasaan dan emosi-emosinya,
yang sanggup untuk menuju tujuan yang disadarinya sebagai penting, meskipun hal
itu berat. Jadi semakin kita bertekad untuk bertanggung jawabm semakin kita juga
bebas. Orang yang tidak menjadi dirinya sendiri dengan mengelak dari tanggung
jawabnya melainkan dengan mengakuinya dan dengan berusaha untuk
melaksanakannya.

2.4. Makna Kebebasan dan Tanggung Jawab

Orang sering berkata “Kebebasan harus disertai tanggung jawab”. Seringkali orang
itu berkata walaupun kita bebas, kita tidak boleh bebas-bebas semena-mena. Semacam
ucapan-ucapan retorika yang keluar untuk para kaum muda yang dianggap terlalu bebas.
Untuk sementara marilah kita tinggalkan dulu pendapat yang demikian karena itu dapat
membuat diri kita tidak akan maju-maju.

Kita harus sadar bahwa kebebasan selalu disertai dengan batasan. Ada kebebasan pasti
ada juga batasan. Ini terjadi karena kalau tidak ada batasan, tidak ada kebebasan, karena kita
sama sekali tidak mengerti apa itu kebebasan kalau tidak pernah ada batasan. Seperti prinsip
Yin dan Yang. Kita tidak akan mengenal gelap kalau tidak ada terang. Kita memerlukan
batasan untuk bisa memandang kebebasan itu.

Sebenarnya sebebas apapun bebasnya manusia, dia pasti memiliki batasan. Sejenak
kita lupakan hukum aturan masyarakat, sejak dasar kebebasan kita telah diikat oleh yang
namanya hukum alam. Hukum alam ini mengikat kebebasan kita, seperti halnya grafitasi.
Grafitasi mengikat kita sehingga kita tak bebas terbang. Jika kita meloncat maka kita akan
jatuh dan sakit. Ini adalah hukum mutlak. Alam membatasi pergerakan kita.

Sama seperti alam, kebebasan kita akhirnya dibatasi oleh masyarakat juga. Ada hal
yang bisa kita lakukan dan ada hal yang tidak bisa kita lakukan. Misalnya kita tidak bisa
bernafas di dalam air, kita tidak bisa menumbuhkan tangan. Semua hal itu mustahil. Ini
adalah batas dari kebebasan pertama kita. Pembatasan ini natural, karena mengatakan apa
yang bisa kita lakukan dan apa yang tidak bisa kita lakukan.

Pembatasan kedua dari kebebasan kita adalah etik. Artinya apa yang boleh dan apa
yang tidak boleh. Misal, kita bisa saja membunuh teman kita. Kita tidak dihalangi secara
alamiah untuk melakukan itu atau tidak melakukan itu. Kita punya kemampuan untuk
melakukannya.

Namun demikian kita tidak boleh melakukannya. Ini karena adanya pembatasan etis.
Pembatasan ini bersifat tidak senatural pembatasan secara alamiah. Karena kita memilih
perbuatan kita, maka ini menjadi subjek etika. Pembatasan ini berkaitan dengan
konsekuensi, baik secara natural maupun artificial.

Ketika melakukan perbuatan kita, maka kita akan mendapat konsekuensinya, misalnya
membunuh. Secara natural kita memiliki kebebasan untuk itu. Namun demikian kita bisa
mendapat akibat buruk dari hal itu. Akan mengakibatkan kita mendapat konsekuensinya,
baik secara langsung seperti rasa bersalah. Ataupun secara artificial, seperti hukuman dari
masyarakat.
Dalam arti inilah kebebasan harus memiliki tanggung jawab. Ini karena kebebasan
orang lain dibatasi oleh kebebasan orang yang lainnya. Jika satu orang memanfaatkan
kebebasannya maka dia akan mengurangi kadar kebebasan orang lain. Dan jika demikian
orang lain juga berhak mengurangi kebebasannya sehingga kita saling mengatur kebebasan
satu sama lain. Karena itulah ada aturan dalam kehidupan masyarakat agar kehidupan
terkendali dengan baik.
BAB III
KESIMPULAN

3.1. Kebebasan merupakan sebuah pengertian negatif jika diartikan sebagai tidak adanya
suatu larangan, rintangan dan pencegahan apapun. Pengertian kebebasan adalah
bersifat umum, dan tatkala belum disandarkan pada pengertian yang lain, maka tidak
akan menunjukkan tujuan dan hasil yang jelas. Dengan demikian, maka logika
kebebasan memberikan keterangan, kebebasan berbicara, kebebasan berpikir,
kebebasan seksual, kebebasan untuk menentap dan berhijrah, kebebasan untuk bekerja
dan lain sebagainya. Tidak ada filsuf pun didunia ini yang meyakini bahwa
kebebasan itu adalah berarti lepas kendali, tanpa aturan dan undang-undang.

3.2. Dalam filsafat pengertian tanggung jawab adalah kemampuan manusia yang
menyadari bahwa seluruh tindakannya selalu mempunyai konsekuensi. Perbuatan
tidak bertanggung jawab, adalah perbuatan yang didasarkan pada pengetahuan dan
kesadaran yang seharusnya dilakukan tapi tidak dilakukan juga. Tanggung jawab
menutut seseorang untuk berfikir sebelum melakukan hal-hal yang sedang di hadapi
nya, karena seseorang dapat dituntut, di persalahkan, diperkarakan jika terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan.

3.3. Kebebasan yang di dasarkan dengan tanggung jawab maka akan menjadi sesorang
menjadi di terima di masyarakat. Sama seperti alam, kebebasan kita akhirnya dibatasi
oleh masyarakat juga. Ada hal yang bisa kita lakukan dan ada hal yang tidak bisa kita
lakukan. Misalnya kita tidak bisa bernafas di dalam air, kita tidak bisa menumbuhkan
tangan. Semua hal itu mustahil. Ini adalah batas dari kebebasan pertama kita.
Pembatasan ini natural, karena mengatakan apa yang bisa kita lakukan dan apa yang
tidak bisa kita lakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Bdk. DR. Nico Syukur Dister OFM (1993), Filsafat Kebebasan. Kanisius.Yogyakarta.

Bdk. Nusa Putra (1994), Pemikiran Soedjatmoko Tentang Kebebasan, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.

Bdk. Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2008), Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta.

Dpchanurabone, Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani, Melalui


<http://dpchanurabone.blogspot.com/2011/04/kebebasan-tanggung-jawab-dan-
hati.html> [01/08/2011]

Rafael Edy Bosko dan M. Rifai’ Abduh (2010), Kebebasan Beragama atau berkeyakinan,
Seberapa Jauh, Kanisius, Yogyakarta,

Ibnu Harun, Memaknai Kebebasan, Melalui <http://herman1976.wordpress.com


/2008/10/15/memaknai-kebebasan/> [01/08/2011]

Abdullah Haidar (2003), Kebebasan Seksual Dalam Islam, Jakarta; Pustaka Jahra,.

Setyono, Agus (2009), Kebebasan dalam filsafat Louis Leahy Dan Dalam Pemikiran
Manusia Jawa, Telaah Filsafat Perbandingan. Melalui <http://agussetyonocm.
multiply.com/journal/item/76> [02/08/2011]

Adiwiyato, Anton. 2001. Melatih Anak Bertanggung Jawab. Jakarta. Mitra Utama.

Tamara Bryant. Pam Schiller. 2002. 6 Modal Dasar Bagi Anak. Jakarta. PT. Elex Media
Komputindo.