Anda di halaman 1dari 2

JOMBANG — Telah menjadi tradisi selama Ramadhan, Pondok Pesantren di

Indonesia menggelar pengajian khusus untuk umum dan kajian kitab kuning.
Ini telah menjadi tradisi bertahun-tahun dan terpelihara hingga kini. “Sama
dengan tahun-tahun sebelumnya, beberapa kitab akan dibaca dan dikaji baik
di masjid yang pesertanya masyarakat umum maupun di pondok yang
pesertanya santri yang dibagi dalam

JOMBANG — Telah menjadi tradisi selama Ramadhan, Pondok Pesantren di Indonesia


menggelar pengajian khusus untuk umum dan kajian kitab kuning. Ini telah menjadi tradisi
bertahun-tahun dan terpelihara hingga kini.

“Sama dengan tahun-tahun sebelumnya, beberapa kitab akan dibaca dan dikaji baik di masjid
yang pesertanya masyarakat umum maupun di pondok yang pesertanya santri yang dibagi
dalam beberapa kelas,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, Desa Denanyar,
Kecamatan Jombang, KH Abdussalam Sokhib.

Gus Salam, panggilan akrabnya, menuturkan, sesuai jadwal, khataman kitab akan dimulai
sejak tanggal 1 hingga 25 Ramadhan.

“Kalau yang akan dibaca di masjid sekitar 10 kitab,” katanya. Selain kiai atau ustad
membacakan isi kitab, masyarakat bisa mengajukan pertanyaan terkait tema yang dibacakan.
“Sehingga ada dialog atau diskusi dua arah,” ujarnya.

Mambaul Ma’arif merupakan salah satu pesantren tertua di Jombang yang didirikan salah
satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Bisri Syansuri.

Memang, bagi umat Islam, ibadah Ramadhan tak hanya berpuasa yang hukumnya wajib.
Namun, Ramadhan juga jadi ajang menambah ilmu dan pengetahuan berbagai bidang. Mulai
tentang tata cara ibadah (fikih), moral, etika, keimanan, pendidikan, sosial kemasyarakatan,
tafsir Al-Qur’an dan hadits, hingga tasawuf.

Ilmu dan pengetahuan itu bisa didapat dari berbagai macam kitab berisi ajaran ibadah hingga
filsafat yang dibaca dan dikaji di berbagai pesantren. Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur,
Ramadhan jadi kesempatan para santri maupun masyarakat umum menambah ilmu dan
pengetahuan mereka dari kitab-kitab yang dibaca di masjid maupun pesantren.

Seperti biasanya, berbagai pesantren di Jombang mulai menggelar kajian kitab-kitab kuning
atau kitab gundul mulai awal Ramadhan dan akan dituntaskan (dikhatamkan) sampai
pertengahan atau akhir Ramadhan . Tanggal 1 Ramadhan 1440 Hijriyah tahun ini bertepatan
dengan 6 Mei 2019.

Disebut kitab kuning karena pada umumnya warna kertas pada kitab-kitab tersebut kuning
muda. Disebut kitab gundul karena pada umumnya hanya berisi kata atau kalimat berhuruf
Arab tanpa ada harakat atau tanda baca vokal dalam tata bahasa Arab.

Kajian kitab-kitab kuning juga dilakukan di masjid dan Pondok Pesantren Tebuireng, Desa
Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang, yang diasuh KH Salahudin Wahid atau Gus Solah. Salah
satu pengurus pesantren, Lukman Hakim, mengatakan dalam Ramadhan tahun ini Tebuireng
juga menggelar pengajian beberapa kitab.
“Pengajian kitab selama Ramadhan akan dimulai tanggal 6-26 Mei (1-21 Ramadhan ),”
katanya.

Peserta pengajian kitab di masjid adalah para santri dan masyarakat umum. Masyarakat bisa
dari Jombang atau luar Jombang yang sering diistilahkan santri kalong.

Santri kalong (kelelawar besar), menurut Lukman, maksudnya orang yang mengaji di pondok
lalu kembali ke rumah atau daerah asal mereka ibarat kelelawar yang kembali ke habitatnya.

Ada sekitar 23 kitab yang akan dibaca dan dikaji oleh 29 kiai dan ustad di Tebuireng. Kitab-
kitab tersebut mengajarkan tentang tata cara ibadah, moral, etika, keimanan, tafsir Al Qur’an
dan hadits, dan sebagainya. Yang paling banyak peminatnya biasanya kitab Sahih Bukhari.

Sahih Bukhari adalah kitab berisi hadits-hadits Nabi Muhammad yang terpercaya yang
diriwayatkan Imam Bukhori. Kitab ini juga rutin dibaca sejak zaman pendiri pondok
pesantren Tebuireng yang juga pendiri NU KH Hasyim Asy’ari.