Anda di halaman 1dari 13

BAB III

BEBERAPA ISU DALAM ANALISIS PERBANDINGAN


LAPORAN KEUANGAN
Analisis berdasarkan laporan keuangan akan melibatkan beberapa perbandingan baik
terhadap perusahaan lainnya terhadap data pada periode-periode sebelumnya. Data-
data tersebut dengan demikian harus bisa diperbandingkan satu sama lainnya
(Comparable) baik terhadap perusahaan lainnya atau terhadap data periode
sebelumnya. Perbedaan-perbedaan yang mungkin muncul, yang membuat
perbandingan tidak konsisten, harus di identifikasikan . Bab ini akan membicarakan
beberapa isu yang harus dipertimbangkan dalam analisis laporan keuanan agar laporan
keuangan lebih bisa diperbandingkan (comparable). Isu-isu tersebut adalah :
1. Laporan keuangan yang disesuaikan kembali
2. Perbedaan klasifikasi rekening
3. Perbedaan prinsip-prinsip akuntansi
4. Perbedaan Periode Pelaporan
5. Perbandingan dengan data historis dan dengan perusahaan lain

3.1. LAPORAN KEUANGAN YANG DISESUAIKAN KEMBALI


Ada beberapa situasi dimana perusahaan diharuskan menyesuaikan kembali laporan
keuangan periode yang lalu ;
1. Jika perusahaan pada periode sekarang memutuskan untuk menghentikan lini
bisnis tertentu, maka pendapatan dan biaya yang berkaitan dengan lini bisnis
tersebut dan laba atau rugi yan diharapkan yang disebabkan pelepasan lini
bisnis tersebut akan diklasifikasikab dalam rekening “Operasi yang Dihentikan
(Discontinued Operations)dalam laporan laba-rugi, Neraca juga akan
memisahkan asset lini bisnis yang akan dihentikan tersebut. Pendapatan dan
biaya dari lini bisnis tersebut, yang pada tahun lalu masuk dalam rekening
Pendapatan Operasional, sekarang harus diklasifikasikan lagi dan masuk
kedalam rekening operasi yang dihentikan dalam analisis perbandingan laporan
keuangan dengan periode-periode sebelumnya.
2. Jika perusahaan bergabung dengan perusahaan lain dalam transaksi yang
masuk pada katagori Pooling Interests, maka laporan keuangan yang lama
(periode lalu) harus menyesuaikan laporan keuangan yang baru seperti kalau
kedua perusahaan tersebut bergabung sejak dulu.
3. Perubahan-perubahan prinsip akuntansi (Misal, perubahan dari LIFO menjadi
FIFO) mengharuskan perusahaaan menyesuaikan kembali laporan keuangan
masa lalunya supaya mencerminkan prinsip yang baru tersebut.
Masalah muncul, apakah analisis akan menggunakan data yang semula seperti
yang tercantum untuk masing-masing tahun, ataukah akan menggunakan data
yang disesuaikan dengan perubahan yang terjadi. Misalkan menggunakan data
yang semula, maka analis bisa membagi kedalam dua periode yaitu periode
sebelum perubahan terjadi dan sesudah terjadi perubahan . Analisis bisa dimulai
dari tahapan baru yaitu menggunakan data sesudah perubahan terjadi. Tetapij
masalah yang terjadi adalah sedikitnya data untuk analisis perbandingan dan
proyeksi masa mendatang.
Masalah lain yang timbul adalah dalam penghitungan beberapa rasio. Beberapa
rasio bisa dihitung langsung dengan menggunakan data-data yang ada di neraca
atau laporan laba-rugi pada periode yang bersangkutan, misalkan rasio lancar (
Aktiva lancar/ hutang lancar) atau rasio leverage (Hutang /Modal Sendiri). Tetapi
ada beberapa rasio lain, seperti perhitungan tingkat keuntungan, sebagai contoh
adalah perhitungan Return On Assets, dimana laba bersih dibagi rata-rata asset.
Rata-rata asset adalah rata-rata asset periode sekarang dengan aset periode
sebelumnya. Dalam situasi ini tidak bisa diambil rata-rata asset, karena asset ini
sudah disesuaikan dengan perubahan yang baru, tetapi asset periode yang lalu
belum disesuaikan. Dengan demikian terjadi perbandingan yang tidak konsisten.
Laporan keuangan sebelumnya bisa disesuaikan kembali (Penyesuaian mundur
kebelakang), sehingga perbandingan laporan keuangan periode sekarang
dengan periode sebelumnya akan lebih konsisten, penyesuaian mundur
mestinya dilakukan sampai diperoleh periode observasi yang cukup sebagai
dasar analisis dan proyeksi masa mendatang.
Untuk melihat kasus semacam ini, diberikan contoh sebuah perusahaa yang
memutuskan untuk menghentikan lini bisnisnya pada periode ke lima (Tabel 3.1)
Perusahaan melaporkan kerugian sebesar 188,3 juta dari operasi yang
dihentikan tersebut pada tahun ke lima.
Ada dua macam laporan Laba-rugi, yaitu laporan laba-rugi yang semula seperti
yang dilaporkan oleh perusahaan dan laporan laba-rugi yang sudah disesuaikan
dengan perubahan yang terjadi. Perhatikan bahwa laba yang terjadi berbeda
antara kedua laporan tersebut. Laba operasional setelah disesuaikan
menunjukkan angka yang lebih rendah untuk tahun ke 4 dan ke 3.
Perhatikan juga neraca konsolidasi PT ABC. Nampak bahwa asset dari lini bisnis
yang akan dihentikan dipisahkan (untuk asset non lancar, sebesar 517,5 untuk
tahun ke 5 dan 18,4 untuk tahun ke 4). Perhitungan yang melibatkan rata-rata
asset tidak mungkin dilakukan dilakukan apabila ingin memperoleh
perbandingan yang konsisten.
Tabel3.1. Laporan Keuangan Konsolidasi PT ABC (Rp Juta) (seperti
dilaporkan semula)

Tahun Buku Berakhir


Tahun 5 Tahun 4 Tahun 3
Dari Operasi Perusahaan
Penjualan 4285.2 5600.8 5550.8
Biaya-biaya
Harga Pokok Penjualan 2472.8 3165.9 3123.3
Biaya Penjualan, Umum, dan
Administrasi 1368.1 1849.4 1831.6
Biaya Depresiasi dan Amortisasi 110.4 133.1 58.7
Biaya Bunga 60.2 61.4 58.7

Total Biaya 4013.5 5209.8 5141.1

Laba Operasional Sebelum Pajak 271.7 391 409.7


Pendapatan/Biaya Lainnya -75.8 7.7 0

Pendapatan Operasional Sebelum


pajak 195.5 398.7 409.7
Pajak Pendapatan 80.5 165.3 164.6

Laba Operasional sesudah pajak,


sebelum lini bisnis yang dihentikan 115.4 233.4 245.1
Lini bisnis yang dihentikan (bersih
pajak) -188.3 0 0

Laba bersih (Rugi) -72.9 233.4 245.1

Laba perlembar saham


Laba Operasional sesudah pajak,
sebelum lini bisnis dihentikan 2.58 4.98 4.89
Laba Bersih -1.63 4.98 4.89
Rata-rata jumlah saham beredar
(juta) 44.7 46.9 50.1
(Setelah disesuaikan)

Tahun Buku Berakhir


Tahun 5 Tahun 4 Tahun 3
Dari Operasi Perusahaan
Penjualan 4285.2 4118.4 4028.3
Biaya-biaya
Harga Pokok Penjualan 2474.8 2432.8 2394.8
Biaya Penjualan, Umum, dan
Administrasi 1368.1 1251.5 1288.3
Biaya Depresiasi dan Amortisasi 110.4 99 94.2
Biaya Bunga 60.2 31.5 39.5

Total Biaya 4013.5 3814.8 3816.8

Laba Operasional Sebelum Pajak 271.7 303.6 265.5


Pendapatan/Biaya Lainnya -75.8 53 2.7

Pendapatan Operasional Sebelum


pajak 195.5 356.6 268.2
Pajak Pendapatan 80.5 153.9 106.1

Laba Operasional sesudah pajak,


sebelum lini bisnis yang dihentikan 115.4 202.7 162.1
Lini bisnis yang dihentikan (bersih
pajak) -188.3 30.7 83

Laba bersih (Rugi) -72.9 233.4 245.1

Laba perlembar saham


Laba Operasional sesudah pajak,
sebelum lini bisnis dihentikan 2.58 4.32 3.24
Laba Bersih -1.63 4.98 4.89
Rata-rata jumlah saham beredar
(juta) 44.7 46.9 50.1
Tabel 3.2. Neraca Konsolidasi PT ABC

Tahun Fiskal
Berakhir
Mei Mei
Tahun 5 Tahun 4
Aset

Aset Lancar
Kas dan Investasi Jangka Pendek 66.8 66
Piutang Dagang (bersih) 284.5 550.6
Persediaan 377.7 661.7
Aktiva Lancar Lainnya 49.6
Biaya dibayar di muka 40.1 43.6
Aset bersih dari lini bisnis yang
dihentikan 517.5 18.4
Total Aktiva Lancar 1286.6 1389.9

Tanah, Bangunan dan Peralatan


Tanah 93.3 125.9
Bangunan 524.4 668.6
Peralatan 788.1 904.7
Pembangunan dalam pelaksanaan 80.2 130
Total 1486 1829.2
Dikurangi Akumulasi Depresiasi -530 -599.8
Total Tanah, Bangunan dan Peralatan
(Bersih) 956 1229.4

Aktiva Lainnya
Net Aset Non-Lancar 206.5
Goodwill 50.8 146
Investasi dan aset lainnya 162.7 92.8
Total Aktiva Lainnya 420 238.8
Total Aset 2662.6 2858.1
Utang dan Modal Saham
Utang lancar
Utang Dagang 360.8 477.8
bagian Lancar dari Utang Jangka
Panjang 59.4 60.3
Utang Wesel 379.8 251
Utang Pajak 1.4 74.3
Utang Gaji 91.8 119.1
Utang Lancar Lainnya 164 162.9
Total Utang Lancar 1057.2 1145.4
Utang Pajak jangka Panjang 449.5 362.6
Utang Jangka Panjang 29.8 76.5
Utang Lainnya 102.8 49
Utang Total 1639.3 1633.5

Modal Saham
Saham Biasa 213.7 215.4
Laba yang Ditahan 1201.7 1375
Dikurangi Treasury Stock (saham dibeli
kembali) -333 -291.8
Penyesuaian Kurs Mata Uang Asing -57.3 -74

Total Modal Saham 1023.3 1224.6


Total Kewajiban dan Modal Saham 2662.6 2858.1

Jika ada informasi yang cukup sehingga bisa dilakukan tanpa membuat asumsi
yang tidak realistis, penyesuaian mundur bisa dilakukan. Apabila tidak ada
informasi yang cukup, barangkali penyesuaian tidak bisa dilakukan. Akibatnya ,
setiap laporan keuangan bisa dianggap sebagai sebuah tahapan dalam sejarah
perusahaan. Jika perbandingan dilakukan, analisis harus hati-hati menentukan
perbedaan rasio antar periode disebabkan oleh perubahan tadi, ataukah oleh
factor lain, dan seberapa jauh perubahan tersebut akan berakibat terhadap
kesimpulan yang akan diambil. Jika perbedaan tersebut tidak terlalu besar,
barangkali kesimpulan yang akan dihasilkan tidak akan banyak berubah pada
saat sebelum maupun sesudah perubahan.
Jalan lain adalah dengan membagi periode laporan keuangan kedalam dua
tahap : (1) sebelum perubahan, (2) sesudah perubahan, Sesudah perubahan
merupakan tahapan baru dalam sejarah perusahaan, dan datanya akan
digunakan untuk proyeksi masa mendatang.
3.2 PERBEDAAN KLASIFIKASI REKENING
Seringkali perusahaan melakukan klasifikasi rekening-rekening dalam laporan
keuangan berbeda satu sama lainnya. Sebagai contoh, barangkali suatu
perusahaan akan melaporkan biaya depresiasi dan amortisasi secara terpisah,
perusahaan lain mengalokasikan biaya terseut ke harga pokok penjualan. Rasio
yang dihitung dengan menggunakan rekening tersebut tentunya tidak bisa
langsung diperbandingkan. Penyesuaian harus dilakukan, baik dengan
mengalokasikan biaya depresiasi dan amortisasi ke harga pokok penjualan pada
perusahaan pertama, atau mengeluarkan biaya depresiasi dari harga pokok
penjualan pada perusahaan yang kedua, Penyesuaian tersebut membuat
perbandingan menjadi lebih konsisten.
Jika ada informasi yang cukup, penyesuaian bisa dilakukan agar perbandingan
lebih konsisten. Tetapi jika tidak ada informasi yang cukup , barangkali tidak
perlu dilakukan penyesuaian. Pada situasi ini, analis harus member catatan
menenai perbedaan klasifikasi rekening tersebut agar interpretasi lebih lanjut
bisa mengacu pada catatan tersebut.

3.3. PERBEDAAN PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI


Sumber lain yang menyebabkan data bisa berbeda satu sama lain adalah
penggunaan prinsip-prinsip akuntansi yang berbeda. Dalam batasan yang telah
ditentukan Prinsip Akuntansi, perusahaan masih mempunyai beberapa
alternative penggunaan metode atau prinsip akuntansi yang dipakai untuk
pelaporan keuangan. Berikut ini contoh beberapa alternative Prinsip Akuntansi.
Beberapa Metode Akuntansi
Pengakuan Pendapatan Kontrak Jangka Panjang : Persentase Penyelesaian
(Percentage Of Completion), kontrak selesai (Completed Contract)
Asumsi aliran Persediaaan : FIFO (First in First Out), LIFO(Last In First Out),
Rata-rata tertimbang (Weighted Average).
Investasi Pada Surat Berharga : Historical Cost (Acquisition Cost), Lower Cost or
Market, Equity
Depresiasi : Garis Lurus (Straight Line), Declining Balance (Metode dipercepat),
Sum Of the Years Digit.
Lease : Operating Lease, Capital Lease
Akuisisi : Pembelian, Pooling of Interest
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah analisis akan melakukan
penyesuaian dalam perbandingan data, ataukah tidak ada penyesuaian dan
perbedaan tadi akan dibahas dalam interpretasi data. Apabila ada informasi
yang cukup, sehingga penyesuaian bisa dilakukan tanpa membuat asumsi yang
tidak realistis, maka penyesuaian bisa dilakukan . Tetapi apabila tidak ada
informasi yang cukup, barangkali tidak perlu dilakukan penyesuaian dan
perbedaan tadi akan dibicarakan dalam tahap interpretasi.

3.4, PERBEDAAN PENANGGALAN LAPORAN KEUANGAN


Meskipun kebanyakan laporan keuangan menggunakan Desember sebagai akhir
periode, tetapi ada beberapa perusahaan yang menggunakan penanggalan pada
akhir periode bulan lalu. Pilihan semacam ini semakin popular apabila
perusahaan ingin menyesuaikan laporan keuangan nya dengan siklus musiman
bisnis. Siklus musiman biasanya tidak harus sesuai dengan penanggalan akhir
Desember.
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana perlakuan terhadap perbedaan
penanggalan tersebut ? Jawabannya tergantung pada dua hal : (1) Lamanya
perbedaan waktu, (2) Muncul atau tidaknya kejadian pada periode perbedaan
waktu tersebut yang bisa membuat perbandingan dua perusahaan tersebut tidak
konsisten. Biasanya apabila selisih penanggalan akhir sama atau kurang dari
tiga bulan, penyesuaian tidak perlu dilakukan. Dua perusahaan dengan
penanggalan akhir 31 Desember dan 31 Maret barangkali tidak memerlukan
penyesuaian, misalkan perusahaan kedua ( yang bertanggal31 Maret)
mengalami musibah kebakaran atau pemogokan, maka barangkali perlu
dilakukan penyesuaian apabila analis ingin membandingkan dengan perusahaan
pertama. Pengaruh musiman saja tidak perlu mendorong penyesuaian karena
pengaruh musiman sudah tercakup dalam periode satu tahun.
Apabila ada data triwulanan,j penyesuaian akan lebih mudah lagi dilakukan.
Misalkann suatu perusahaan mempunyai data penjualan kuartalan sebagai
berikut ini :
Tahun Kuartal Penjualan
2015 1 1.000
2 1.500
3 1.200
4 2.000
2016 1 1.200
2 1.300
3 1.300
4 2.500
Misalkan Analis akan membandingkan perusahaan tersebut dengan perusahaan
lain yang laporan keuangannya berakhir Maret 2015, maka penjualan
perusahaan tersebut bisa dususun menyesuaikan dengan perusahaan yang
bertanggal Maret 2015, sebagai berikut :
Penjualan = 1.500 + 1.200 + 2.000 + 1.200 = 5.900
(Nilai Penjualan dimulai dari kuartal ke2 atau akhir Maret/Awal April)
Misalkan analis ingin membandingkan perusahaan tersebut dengan perusahaan
lain yang laporan keuangannya berakhir tanggal 31 Juni 2015, perusahaan
tersebut bisa menyusun penjualan sebagai berikut :
Penjualan = 1.200 + 2.000 + 1.200 + 1.300 = 5.700.
(Nilai Penjualan dimulai dari kuartal ke-3 atau akhir Juni/Awal Juli)
Dengan penyesuaian semacam itu sekarang perbandingan penjualan menjadi
lebih konsisten.

3.5. PERBANDINGAN DENGAN DATA HISTORIS DAN


PERBANDINGAN DENGAN PERUSAHAAN LAIN
Rasio-rasio atau data-data keuangan yang telah dihitung untuk suatu
perusahaan bisa dibandingkan dengan data-data masa lalu dan juda dengan
data keuangan perusahaan lain agar diperoleh interpretasi yang lebih baik.
Perbandingan-perbandingan tersebut akan dibicarakan pada bab-bab
berikutnya. Disini akan dibicarakan secara singkat isu-isu yang berkaitan dengan
perbandingan tersebut.
Apabila analis melakukan perbandingan data keuangan dengan data data masa
lalu maka perusahaan akan melakukan analisis time series. Semakin banyak
observasi yang dimiliki analisis akan semakin baik. Dengan analisis time series
perusahaan bisa melihat pengaruh variable-variabel seperti variable makro
ekonomi (resesi, inflasi), variable industry (perubahan teknologi, peraturan)
variable mikro perusahaan (perubahan strategi, manajemen baru) terhadap data-
data keuangan, dan sekaligus melihat pola-pola tertentu dari data keuangan
yang dimiliki.
Dalam analisis semacam itu analis harus memperhatikan factor-faktor yang akan
berpengaruh besar terhadap perilaku data, dan bisa menjadi dasar interpretasi
keuangan perusahaan. Contoh-contoh factor tersebut adalah :
(1) Perubahan lini produk yang signifikan , misal melalui akuisisi atau penjualan
anak perusahaan. Kejadian semacam itu tentu akan mempengaruhi trend
data keuangan dan akan mempengaruhi analisis perbandingan dengan data
masa lalu (Analisis Time Series).
(2) Perubahan prinsip dan metode akuntansi. Perubahan ini akan mempengaruhi
data time series.
Masalah yang tidak memuaskan. dalam perbandingan dengan periode lalu
adalah data periode masa lalu barangkali berada pada tingkat yang tidak
memuaskan. Penjualan pada periode ini barangkali lebih besar dibandingkan
dengan penjualan pada periode lalu, dan kelihatannya merupakan berita baik.
Tetapi kalau penjualan pada periode lalu sebenarnya tidak memuaskan, maka
penjualan periode ini yang lebih besar belum tentu merupakan berita baik. Untuk
mengurangi masalah semacam ini, perbandingan dengan perusahaan lain atau
rata rata industry bisa dilakukan.
Disamping perbedaan angka absolute seperti yang dibicarakan di atas, seorang
analis juga harus memperhatikan persentase kenaikan atau penurunan suatu
data keuangan. Penjualan perusahaan yang naik 15% tentunya akan
diintepretasikan lain apabilan penjualan perusahaan lain cuma naik 5%,
meskipun kedua duanya sama sama naik.
Dalam perbandingan cross section dengan perusahaan perusahaan lain yang
sejenis atau industry., tugas pokok seorang analis adalah mengidentifikasikan
industry yang relevan untuk perbandingan.Idealnya perusahaan yang dipilih
sebagai perbandingan adalah perusahaan yang mempunyai produk yang serupa
(memenuhi kebutuhan yang sama, atau merupakan substitusi satu sama lain),
mempunyai strategi yang sama, mempunyai ukuran yang sama, dan mempunyai
umur yang sama. Barangkali criteria semacam itu terlalu ketat. Persyaratan-
persyaratan tersebut barangkali bisa diperlonggar karena pertimbangan praktis.
Kalau data-data industry tidak ada, barangkali perbandingan dengan satu atau
dua perusahaan yang serupa bisa dilakukan.
Beberapa isu dalam pemakaian rata-rata industry antara lain :
(1) Definisi industry.
Seperti yang dibicarakan di aas, definisi industry tidak mudah dilakukan.
Disamping itu banyak perusahaan yang mempunyai divisi yang bergerak
pada beberapa industry yang berbeda satu sama lain. Pada situasi ini hanya
divisi yang bergerak pada industry yang relevan yang bisa digunakan
sebagai perbandingan. Jika divisi lain perusahaan tersebut tidak signifikan
dibandingkan usaha pokoknya, barangkali data gabungan perusahaan bisa
digunakan untuk perbandingan
(2) Perhitungan rata-rata industry
Bagaimana rata rata industry dihitung, apakah dengan rata-rata biasa,
ataukah rata-rata tertimbang, ataukah menggunakan data median. Jika rata-
rata tertimbang digunakan, apa yang dipakai sebagai pembobot, penjualan,
nilai pasar, nilai buku asset, atau factor lain?
(3) Distribusi atas nilai rata-rata.
Interpretasi terhadap penyimpangan rasio keuangan suatu perusahaan
terhadap rata-rata industry akan berlainan apabila kita juga mempunyai
informasi standar deviasinya. Misalkan profit margin perusahaan 10% dan
rata-rata industry 13 %. Apabila standar deviasi rata rata industry tersebut
8% , tentu akan sampai pada kesimpulan yang berlainan dibandingkan
apabila standar deviasi tersebut 2 %.
(4) Definisi rasio keuangan .
Definis tersebut bisa berbeda dari satu publikasi ke publikasi lain. Karena
itu soerang analis harus mencermati definisi rasio-rasio keuangan ini.
Sebagai contoh, ROA (Return on Asset) bisa dihitung dengan membagi laba
bersih dengan total asetnya. Publikasi lain barangkali menggunakan rata-
rata asset (dengan menggabungkan asset pada periode t dengan asset
periode t1). Publikasi lain barangkali menggunakan laba operasional atau
laba sebelum pendapatan atau biaya luar biasa. Publikasi ini ingi
memfokuskan pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba pada
kondisi normal, di luar pendapatan atau biaya yang tidak normal yang bisa
terjadi (seperti musibah kebakaran)
Dengan memahami beberapa keterbatasan tersebut analis keuangan bisa lebih
berhati-hati dalam melakukan analisis.

3.6. RANGKUMAN
Dalam analisis perbandingan laporan keuangan , ada beberapa isu yang harus
diperhatikan agar perbandingan bisa lebih konsisten :
1. Laporan Keuangan yang Disesuaikan
2. Perbedaan Klasifikasi rekening
3. Perbedaan Prinsip-prinsip Akuntansi
4. Perbedaan Penanggalan Laporan Keuangan
5. Perbandingan dengan data historis dan perusahaan lain.
Apabila ada informasi yang cukup, laporan keuangan perusahan perlu disesuaikan
terlebih dahulu sebelum melakukan perbandingan laporan keuangan perusahaan
dengan laporan keuangan perusahaan lainnya (atau industry). Tujuan penyesuaian ini
agar perbandingan menjadi lebih konsisten. Apabila tidak ada informasi yang cukup
sehingga penyesuaian hanya bisa dilakukan dengan membuat asumsi yang tidak
realistis, maka penyesuaian barangkali tidak perlu dilakukan. Dalam kasus ini
interpretasi harus dilakukan lebih hati-hati, dengan mengingat perbedaan-perbedaan
tadi.
Dalam analisis time series dan perbandingan dengan rata-rata industry afa beberapa
hal yang perlu diperhatikan. Dalam analisis time series perubahan-perubahan structural
yang akan mempengaruhi perilaku data time series dan interpretasinya harus
diperhatikan. Dalam analisis perbandingan dengan industry, ada beberapa hal yang
harus diperhatikan :
(1) Definisi Industri
(2) Perhitungan Rata-rata Industri
(3) Distribusi atas nilai rata-rata industry
(4) Definisi rasio keuangan
Dengan memahami hal-hal tersebut , analisis keuangan bisa dilakukan dengan lebih
baik.

3.7. PERTANYAAN REVIEW


1. Apa tujuan penyesuaian laporan keuangan seperti yang dibicarakan dalam bab ini?
2. Apa pengaruh asset yang dipisahkan dalam peristiwa lini bisnis yang dihentikan,
dalam perhitungan rasio-rasio keuangan ?
3. Dalam situasi apa penyesuaian dilakukan dan dalam situasi apa penyesuaian tidak
dilakukan
4. Apa yang harus dilakukan apabila penyesuaian tidak dilakukan ?
5. Bagaimana pengaruh perbedaan klasifikasi rekening terhadap perbandingan data
data keuangan
6. Bagaimana pengaruh perbedaan prinsip-prinsip akuntansi terhadap perbandingan
data-data keuangan.
7. Sebutkan beberapa contoh alternative prinsip-prinsip akuntansi !
8. Bagaimana penyesuaian yang dilakukan apabila penanggalan laporan keuangan
berbeda
9. Hal-hal apa yang harus dilakukan apabila kita akan melakukan analisis data time
series ? rata-rata industry ?
10. Isu-isu apa saja yang akan muncul dalam analisis cross section atau perbandingan
3.8. PROBLEM
1. Misal ada data keuangan (tiga bulanan) dua perusahaan dengan penanggalan yang
berbeda

PT ABC Tahun Fiskal yang berakhir 30 Juni

Tahun !
Penjualan 1.074 1.423 1.430 1.655
Pendapatan 15 81 102 132
Bersih

Tahun 2
Penjualan 1.515 1.620 1.690 1.980
Pendapatan 145 110 92 101
Bersih

PT XYZ Tahun Kalender yang berakhir 31 Desember

Tahun 1
Penjualan 14.120 17.600 21.200 28.750
Pendapatan Bersih 2.500 3.890 3.000 3.600

Tahun 2
Penjualan 36.700 47.000 57.900 75.000
Pendapatan Bersih 4.100 5.000 6.500 8.300

Tahun 3
Penjualan 82.000 88.900 55.000 71.000
Pendapatan Bersih 8.890 7.200 (18.000) 700

Hitung Profit Margin untuk masing masing perusahaan untuk setiap data tiga bulanan
Bandingkan antara keduanya, sebelum dan setelah dilakukan penyamaan tanggal!
Apakah ada pola yang bisa diamati ? Jelaskan !

Anda mungkin juga menyukai