Anda di halaman 1dari 8

Judul The Effect of Interdialytic Combined Resistance and Aerobic Exercise

Training on Health Related Outcomes in Chronic Hemodialysis Patients: The


Tunisian Randomized Controlled Study

Jurnal Frontiers in Physiology

Volume dan Volume 8 artikel 288


Halaman
Tahun 2017
Penulis Frih, B., Jaafar, H., Mkacher, W., Salah, Z.B., Hammami, M.,Frih, A.

Reviewer Desak Made Wahyu Ariningsih


Tanggal 22 Januari 2017
Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efek dari kombinasi program latihan
Penelitian endurance-resistance training terhadap penilaian psikologis dan fisiologis pasien
yang menjalani hemodialisis (HD) pada fase interdialisis.
Subjek a. kriteria inklusi
Penelitian  Pasien yang menjalani HD di Nephrology and Internal Medicine
Service of CHU Monastir Tunisia.
 Pasien yang menjalani HD pada rentang waktu Maret 2012 hingga
Juni 2013.
b. kriteria eksklusi
 Pasien dengan penyakit jantung kronis
 Pasien yang memiliki penyakit jantung iskemik
 Pasien yang memiliki aritmia tidak terkontrol atau hipertensi
 Pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil
 Pasien dengan gangguan muskuloskeletal yang memiliki
kontraindikasi terhadap latihan
 Pasien yang telah melakukan latihan secara teratur sebelum
dimulainya penelitian ini
Metode  Metode penelitian yang digunakan adalah single blinded, randomized control
Penelitian trial.
 Pasien yang masuk dalam kriteria inklusi penelitian diacak menjadi 2 kelompok
menggunakan sistem acak pada komputer. Kelompok yang mendapatkan
perlakuan terdiri dari 21 subjek dengan jenis kelamin laki-laki dan kelompok
kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan terdiri dari 20 subjek dengan jenis
kelamin laki-laki.
 Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan. Kelompok perlakuan melakukan sesi
latihan 4 kali per minggu, dilakukan pada hari dimana tidak dilakukannya
hemodialisis, Kelompok kontrol tetap melakukan aktivitas keseharian tanpa
diberikan intervensi khusus oleh peneliti.
 Pengambilan data dilakukan sebelum penelitian (initial assessment) dan 4 bulan
setelah penelitian. Pengukuran dilakukan oleh blinded investigator yang sama
dengan melakukan penilaian pada psikologis, fisiologis, dan fisik.
 Analisis statistika menggunakan software Statistica versi 10 untuk Windows.
Data disajikan dalam bentuk rata-rata dan standar deviasi. Uji normalitas data
menggunakan uji Saphiro-Wilk Test. Analisis data menggunakan uji ANOVA.
Bonferroni Test digunakan untuk menentukan letak perbedaan yang signifikan
(p<0,05). Masing-masing variabel performa fisik menggunakan perubahan
relative (%) dengan 95% CI. Perbandingan hasil antara kedua kelompok
dianalisis menggunakan Pooled SD.
Definisi Penyakit ginjal kronis ditandai dengan menghilangnya fungsi ginjal secara
Operasional progresif dan menjadi salah satu penyakit serius yang mendunia dengan insiden
Variabel lebih tinggi pada Negara berkembang. Di Afrika Utara, dilaporkan insiden gagal
Dependen ginjal berkisar 34 sampai 200 kasus per satu juta populasi (Barsoum, 2003).
Hemodialisis (HD) merupakan terapi yang paling sering digunakan di negara
berkembang untuk mengganti fungsi ginjal yang rusak. Tunisia merupakan
Negara di Afrika Utara yang memiliki prevalensi pasien dengan HD sebanyak 680
pasien per satu juta penduduk dibandingkan Negara lain (Gharbi, 2010).
Telah diketahui bahwa pasien yang menjalani HD akan mengalami penurunan
aktivitas fisik karena aktivitas fisik yang berkurang dan menurunya kapasitas
aerobic, kekuatan otot, dan daya tahan. Selain itu treatmen HD juga berpengaruh
pada perubahan metabolik secara signifikan seperti adanya hipovolemia karena
ultrafiltrasi, perubahan konsentrasi elektrolit, dan inflamasi sistemik yang
semuanya akan berpengaruh pada fungsi aktivitas fungsional.
Alat Ukur a. Analisis Biokimia
Variabel Pemeriksaan biokimia dilakukan dengan teknik standar di Central
Dependen Laboratory of the University Hospital, Monastir, Tunisia. Hemoglobin
dianalisis dengan routine high performance liquid chromatography
berdasarkan prosedur pertukaran gas. Serum albumin diukur dengan
metode bromcresol green. Total kolesterol, kolesterol HDL, dan level
trigliserida menggunakan metode spektometri. Kolesterol LDL dihitung
menggunakan formula friedewald. C-reactive protein diperiksa dengan
immunoturbidimetry. Parameter tersebut diukur dengan sampel darah.
b. Ambulatory Blood Preassure Monitoring (ABPM)
Pengukuran tekanan darah dilakukan dengan mengukur ABPM 24 jam saat
waktu non dialisis menggunakan monitor oscillometri. Alat ini diprogram
untuk membaca tekanan darah 20 menit interval selama periode aktivitas
(jam 7.00-23.00) dan 30 menit interval selama periode tidur.
c. Short Form 36-item (SF-36)
SF-36 merupakan kuesioner yang digunakan untuk menilai kualitas hidup
pada pasien dengan penyakit kronis. Kuesioner ini terdiri dari 36 item yang
dibagi menjadi 8 penilaian. Skala penilaian adalah 0-100, semakin tinggi
skor menunjukkan keadaan pasien yang semakin baik.
d. Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS)
HADS merupakan kuesioner untuk mengukur tingkat kecamasan and
depresi yang terdiri dari 2 dimensi yaitu gejala kecemasan dan gejala
depresi pada pasien di layanan kesehatan.
e. Sit-to-Stand-to-Sit (STS)
STS-10 dan STS-60 merupakan pengukuran untuk menialai kekuatan otot
ekstremitas bawah. STS-10 merupakan waktu (detik) yang dibutuhkan
untuk melakukan 10 kali pengulangan dari duduk ke berdiri kemudian
duduk, sedangkan STS-60 merupakan jumlah pengulangan yang diperoleh
selama 60 detik. STS-10 dilakukan terlebih dahulu, kemudian 15 menit
setelah fase itirahat STS-60 dilakukan.
f. Six-Minute Walk Test (6MWT)
6MWT merupakan pengukuran yang dilakukan untuk menilai kemampuan
pasien untuk melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Tes ini
dilakukan di koridor dengan panjang 2 m, kemudian tape diletakkan
dengan jarak 2 m per tape. Kemudian pasien diminta untuk berjalan
melewati tape tersebut selama 6 menit.
g. Time UP and Go Test (TUG)
TUG merupakan tes yang dilakukan untuk mengukur keseimbangan dan
mobilitas fungsional. Tes ini dilakukan pada posisi awal pasien duduk pada
kursi, kemudian berdiri, berjalan dengan jarak 3 m, kemudian kembali ke
kursi, dan duduk. Pengukuran ini biasanya dilakukan untuk menilai risiko
jatuh pada lansia.
h. Handgrip Force Dynamometry
Kekuatan menggengam pada tangan diukur menggunakan dinamometer.
Pasien dalam posisi berdiri dan ekstensi elbow. Gerakan dilakukan 3 kali
pengulangan selama 4 detik, dengan periode istirahat 90 detik, dilakukan
pada lengan yang lebih dominan. Nilai tertinggi merupakan nilai yang
diambil.
i. Status Nutrisi
Status nutrisi diukur menggunakan mini nutritional assesment long form
(MNA-LF). MNA-LF terdiri dari skrining dan asesmen. Bagian skrining
terdiri dari 6 item dan bagian asesmen terdiri dari 12 item. MNA-LF
memiliki total skor 0-30 poin. Skor ≤ 17 dikategorikan malnutrisi, 18-23
dikategorikan memiliki risiko malnutrisi, ≥ 24 dikategorikan status nutrisi
adekuat.
Definisi  Latihan Tahanan (resistance training) adalah sebuah bentuk latihan aktif
Operasional yang kontraksi otot dinamis dan statisnya ditahan oleh gaya dari luar yang
Variabel diaplikasikan secara manual dan mekanik. Manfaat latihan tahanan adalah
Independen meningkatkan kinerja otot, meningkatkan kekuatan jaringan ikat (tendon,
ligament) dan otot, menambah densitas mineral tulang. Mengurangi risiko
cedera jaringan lunak saat beraktivitas, meningkatkan kinerja fisik,
menurunkan lemak tubuh, dan meningkatkan kualitas hidup. Latihan
tahanan pada proses conditioning dan adaptasi memberikan dampak
signifikan pada sistem tubuh. Ketika sistem tubuh diberikan beban yang
lebih besar dari biasanya tetapi sesuai dengan program latihan, tubuh akan
memberikan respon akut dan akan beradaptasi dari waktu ke waktu.
Adapun respon fisiologis pada struktur otot dan rangka saat latihan tahanan
adalah hipertropi pada serabut ott dan adanya perubahan komposisi serabut
otot.
 Latihan Aerobik (endurance training) adalah penambahan pemanfaatan
energy pada otot dengan menggunakan program latihan. Peningkatan
kemampuan otot untuk menggunakan energy adalah hasl langsung
peningkatan kadar enzim oksidatif dalam otot, peningkatan densitas dan
ukuran mitokondria, serta peningkatan suplai kapiler serabut otot. Sistem
kardiovaskular dan otot biasanya beradaptasi terhadap stimulus latihan
seiring berjalannya waktu. Perubahan signifikan dapat diukur setidaknya
setelah 10 minggu sampai 12 minggu.
Langkah- 1. Total sesi latihan yang dilakukan adalah 64 kali dan dibimbing oleh 2
langkah orang fisioterapi dan ahli kedokteran fisik. Sesi latihan dilakukan pada hari
Intervensi dimana pasien tidak menjalani HD, latihan diberikan selama 60 menit.
Program latihan merupakan kombinasi antara latihan tahanan dan latihan
aerobic. Setiap sesi latihan diawali dengan pemanasan selama 10 menit.
2. Latihan tahanan ditujukan untuk kapasitas anaerobik dimana pasien
melakukan gerakan dinamik closed-chain dan open chain strengthening.
Latihan tahanan untuk otot kuadrisep, pektoralis, triceps, biceps, dan
hamstring dilakukan di multigym. Pasien memulai latihan 50% dari 1
repetisi maksimal dengan 12-15 repetisi setiap latihan. Setiap bulan beban
ditingkatkan 5% dari 1 repetisi maksimal awal.
3. Latihan aerobik secara ditujukan untuk meningkatkan daya tahan
kardiopulmonal dengan melakukan latihan sepeda statis dan treadmill
selama 20 menit. Intensitas latihan disesuaikan dengan melakukan
monitoring denyut nadi dan skala borg dengan skor 5-6.
4. Latihan diakhiri dengan pendinginan meliputi stretching dan latihan
keseimbangan selama 10 menit.
Hasil a. Kapasitas Fisik
Penelitian Hasil uji analisis pada post-hoc test menunjukkan peningkatan yang
signifikan pada performa fisik pada kelompok perlakuan yaitu, STS-10 (-
16,2%), STS-60 (+23,43%), kekuatan handgrip (+23,54%), TUG (-
13,86%), dan 6MWT (+15,94%) jika dibandingan pada kelompok kontrol
(p<0,001).
b. Parameter Biologis
Hasil analisis post-hoc menunjukkan bahwa hasil akhir pengukuran
parameter tekanan darah sistolik dan diastolik menurun secara signifikan
(ES = -2,77 dan ES = -0,87) jika dibandingkan dengan pengukuran awal
pada kelompok perlakuan. Nilai HDL meningkat (ES = 1,15), sedangkan
nilai LDL (ES = -0,98) dan trigliserida (ES = -0,01) menurun. Namun pada
CRP, hemoglobin, albumin, dan total kolesterol tidak ada perubahan yang
signifikan (p>0,05).
c. Status Nutrisi
Hasil analisis post-hoc menunjukkan nilai MNA-LF setelah intervensi
lebih tinggi pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol (ES
= 1,43 [0,86 sampai 2.00], kategori : tinggi)
d. Parameter Psikologis
Hasil uji analisis dengan post-hoc menunjukkan adanya peningkatan pada
penilaian fisik dan mental pada kelompok intervensi (ES = 1.10 dan ES =
2,06) dan penurunan pada penialain kecemasan dan depresi secara
signifikan (ES = -1,65 dan ES = -0,87)
Pembahasan  Berdasarkan hasil yang didapatkan, pemberian latihan tahanan dan latihan
aerobik mampu meningkatkan kapasitas fisik pada pasien yang menjalani HD
karena CKD. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya (Reboredo et al,
2006) menunjukkan bahwa latihan aerobik pada sesi HD selama 3 bulan pada
14 pasien CKD yang menjalani hemodialisis mampu meningkatkan jarak saat
melakukan 6MWT sebesar 9%. Penelitian lainnya juga (Parson et al, 2006)
menunjukkan bahwa latihan aerobik selama 5 bulan pada 13 pasien CKD yang
menjalani hemodialisis mampu meningkatkan jarak saat melakukan 6MWT
sebesar 14%. Namun, latihan pada fase intradialitik mampu meningkatkan
komplikasi pada pasien seperti hipotensi, aritmia, pusing, dan spasme yang
diakibatkan oleh latihan. Oleh karena itu pemberian latihan pada fase
interdialitik menunjukkan hasil yang lebih efektif karena pasien mampu
melakukan gerakan secara full ROM. Penurunan aktivitas fisik pada pasien
CKD yang menjalani HD menjadi salah satu penyebab mortalitas pada pasien
ini. Maka pemberian latihan tahanan ditujukan untuk menjaga kekuatan otot
dan pemberian latihan aerobik ditujukan untuk menjaga daya tahan jantung
dan paru-paru.
 Banyak pasien yang mengalami gangguan fungsi ginjal menunjukan kelainan
pada metabolisme lipid. Hipertrigliseridemia dan HDL yang rendah adalah
kelainan yang sering pada pasien yang menjalani HD. Berbagai gangguan
metabolisme lipoprotein pada pasien uremia bisa disimpulkan adanya
penurunan katabolisme lipoprotein dan sintesis LDL yang tidak tepat. Pada
penelitian ini tidak ditemukan perubahan yang signifikan pada total kolesterol
antara kedua kelompok. Namun pada kelompok perlakuan HDL meningkat
dan trigliserida dan LDL menurun setelah program latihan. Maka dari itu,
latihan dapat bermanfaat untuk mengurangi dyslipidemia, yang merupakan
faktor risiko penyakit kardiovaskuler pada pasien CKD.
 Untuk inflamasi sistemik , level CRP sama antara kedua kelompok. Hasil ini
sama dengan penelitian sebelumnya (Wilund et al, 2010) setelah 4 bulan
latihan aerobic saat fase intradialitik. Namun pada penelitian yang berbeda
(Cheema et al, 2007) menunjukkan nilai CRP menurun setelah latihan tahanan
yang diberikan selama 8 bulan pada fase intradialitik.
 Pada penelitian ini peningkatan kapasitas fisik pada pengukuran 6MWT
berhubungan dengan status nutrisi yang diukur MNA-LF (r=0,51, p=0,081).
Hanya sedikit penelitian yang membahas mengenai pengaruh latihan terhadap
dietary intake pada pasien HD. Beberapa penelitian hanya meneliti perubahan
secara subjektif pada selera makan atau kemungkinan perubahan komposisi
energy intake.
 Gangguan kecemasan dan depresi diketahui berhubungan dengan peningkatan
risiko mortalitas dan kualitas hidup yang buruk pada populasi HD. Pasien
CKD yang menjalani HD memiliki kualitas hidup yang rendah terkait adanya
perawatan di rumah sakit dan kematian. Penelitian ini menunjukkan efek
positih program latihan terhadap aspek psikologis. Peningkatan kapasitas fisik
akan dibarengi dengan peningkatan kualitas hidup dan penurunan nilai
kecemasan dan depresi. Maka dari itu latihan fisik bisa dijadikan sebagai
pengobatan non-farmakologis untuk pasien CKD yang menjalani HD untuk
mengurangi komplikasi yang terjadi pada saat hemodialysis.
Kekuatan - Penelitian ini bermanfaat untuk praktisi kesehatan dalam memberikan
Penelitian pengobatan non-farmakologis untuk pasien CKD yang menjalani HD
- Penelitian ini menggunakan alat ukur yang mudah dilakukan untuk
pengukuran kapasitas fisik
- Penelitian ini menilai pengaruh latihan tahanan dan aerobic tidak hanya
dari segi kapasitas fisik saja, tetapi juga segi psikologis, satus nutrisi dan
marker biokimia juga dinilai
Kelemahan - Penentuan kriteria inklusi kurang spesifik sehingga kemungkinan hasil
Penelitian penelitian bias menjadi tinggi
- Subjek dalam penelitian ini masih sedikit dan semua berjenis kelamin laki-
laki, sehingga hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi pada populasi.
- Lama penelitian yang dilakukan hanya 4 bulan, sehingga hal ini mungkin
saja tidak mampu meningkatkan parameter marker inflamasi
- Pembahasan mengenai pengaruh latihan terhadap status nutrisi tidak
dijelaskan secara detail karena kurangnya penelitian sebelumnya yang
digunakan untuk bahan acuan
- Tidak adanya follow up setelah penelitian selesai