Anda di halaman 1dari 6

TUJUAN

Membuat, memformulasi, dan mengevaluasi sediaan emulsi phenolphtalein 55mg/5mL,


paraffin liquidum 1200mg/5mL, gliserin 378mg/5mL.

LATAR BELAKANG

Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lain
dalam bentuk tetesan kecil. Tipe emulsi ada dua yaitu oil in water (o/w) atau minyak dalam air
(M/A), dan water in oil (w/o) atau air dalam minyak (A/M). Emulsi dapat distabilkan dengan
penambahan bahan pengemulsi yang disebut emulgator (emulsifying agent) atau surfaktan
yang dapat mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan
akhirnya menjadi satu fase tunggal yang memisah. Surfaktan menstabilkan emulsi dengan cara
menempati antar-permukaan tetesan dan fase eksternal, dan dengan membuat batas fisik
disekeliling partikel yang akan berkoalesensi, surfaktan juga mengurangi tegangan permukaan
antarfase sehingga meningkatkan proses amulsifikasi selama pencampuran (Syamsuni, 2006)

Sediaan yang dibuat adalah emulsi phenolptalein 55mg/5mL, paraffin liquidum


1200mg/5mL, gliserin 378mg/5mL. Efek farmakologi dari sediaan tersebut yaitu phenolptalein
merupakan golongan laksatif stimulan dan iritan yang memberikan efek pencahar dengan
merangsang mukosa usus dan menyempitkan usus. Kombinasi dari phenolptalein, gliserin, dan
paraffin liquidum sinergis untuk melancarkan buang air besar, kombinasi dari phenolptalein,
gliserin dan paraffin liquidum disebut laxadin. Laxadine tidak diperbolehkan digunakan dalam
jangka waktu panjang akan menyebabkan iritasi karena absorbsi dari paraffin liquidum
terutama dalam bentu sediaan emulsi dan terganggunya penyerapan vitamin larut lemak
(British National Formulation, 2009).

Emulsi phenolphtalein, gliserin, dan paraffin liquidum memiliki dosis sebagai berikut:

a. Dewasa = 1 – 2 sendok makan sehari 1x pada malam hari/


= 15mL – 30mL sehari 2x pada malam hari.
b. Anak – anak = ½ - 1 sendok makan sehari 2x.
= 7,5mL – 15mL sehari 1x
(Ikatan Apoteker Indonesia, 2012)

Bahan aktif yang digunakan yaitu phenolptalein, gliserin dan paraffin liquidum salah
satu bahan aktif yang digunakan tidak larut dalam air yaitu paraffin liquidum (Rowe, 2009)
sehingga sediaan dibuat sediaan emulsi yang terdiri dari 2 cairan yang tidak sama, dicampurkan
dengan mendispersikan salah satu cairan kedalam cairan lain dalam bentuk tetesan – tetesan
kecil. Pada sediaan fase minyak memiliki jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan fase
air sehingga pada formulasi sediaan dibuat tipe minyak dalam air dan umumnya emulsi tipe
minyak dalam air digunakan untuk pemakain dalam atau oral (Syamsuni, 2006)

Dalam pembuatan emulsi dengan bahan aktif phenolptalein, gliserin, dan paraffin juga
membutuhkan bahan tambahan atau eksipien seperti emulsifying agent, chelating agent,
antioksidan, pengawet, perasa, pemanis, dan pewarna yang akan meningkatkan akseptabilitas
sediaan yang dibuat. Eksipien yang akan digunakan harus sesuai dengan pH stabilitas dari zat
aktif tersebut.

PROSEDUR

A. Pembuatan air bebas CO2 (Farmakope Indonesia. Edisi V, hlm 174)


1. Sejumlah air 500 mL dipanaskan hingga mendidih.
2. Diamkan selama 30 menit kemudian tutup dan dinginkan.
B. Alat dan bahan disiapkan
C. Botol dan beaker glass dikalibrasi
 Kalibrasi botol 62 mL
1. Air kran dimasukkan sebanyak ±62 mL kedalam beaker glass, kemudian
diukur sebanyak 62 mL menggunakan gelas ukur dan di masukkan
kedalam botol.
2. Batas kalibrasi ditandai lalu air kran tersebut dibuang.
3. Botol dibilas 2x dengan 2 mL aquadest lalu botol dikeringkan.
4. Botol siap digunakan.
 Kalibrasi beaker glass utama (beaker glass 1 liter)
1. Air kran dimasukkan sebanyak ±500 mL kedalam beaker glass,
kemudian diukur sebanyak 500 mL menggunakan gelas ukur dan di
masukkan kedalam beaker glass.
2. Batas kalibrasi ditandai lalu air kran tersebut dimasukkan kembali ke
dalam beaker glass biasa.
3. Air kran diukur sebanyak 80% dari total sediaan 500 mL, yaitu 400 mL.
Lalu dimasukkan ke dalam beaker glass khusus dapar.
4. Batas kalibrasi ditandai, lalu air kran tersebut dibuang. Beaker glass
dibilas 2× dengan 5 mL aquadest lalu botol dikeringkan.
5. Beaker glass utama siap digunakan.
 Kalibrasi beaker glass optimasi (beaker glass 1 liter)
1. Air kran dimasukkan sebanyak ±62 mL kedalam beaker glass, kemudian
diukur sebanyak 62 mL menggunakan gelas ukur dan di masukkan
kedalam beaker glass optimasi.
2. Batas kalibrasi ditandai lalu air kran dipindahkan ke dalam beaker glass
biasa.
3. Air kran diukur sebanyak 80% dari total sediaan 62 mL, yaitu 49,6 mL
menggunakan gelas ukur lalu dimasukkan ke dalam beaker glass
optimasi.
4. Batas kalibrasi ditandai lalu air kran dibuang, beaker glass dibilas 2x
menggunakan aquadest. Lalu beaker glass dikeringkan.
5. Beaker glass optimasi siap digunakan.
D. Penimbangan bahan optimasi
1. Phenolptalein seberat 0,682 gram ditimbang menggunakan cawan uap
pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak
langsung.
2. Paraffin liquidum seberat 14,88 gram ditimbang mengguakan cawan uap
pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak
langsung.
3. Gliserin seberat 0,0062 gram ditimbang menggunakan cawan uap pada
timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak langsung.
4. Kalium sorbat seberat 0,062 gram ditimbang menggunakan kertas
perkamen pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara
langsung.
5. Sukrosa seberat 12,4 gram ditimbang menggunakan kertas perkamen pada
timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara langsung.
6. Tween 80 seberat 1,24 gram ditimbang menggunakan cawan uap pada
timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak langsung.
7. Span 80 seberat 1,24 gram ditimbang menggunakan cawan uap pada
timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak langsung.
8. CMC-Na seberat 0,62 gram ditimbang menggunakan kertas perkaman
pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara langsung.
9. Butyl Hidroksitoluen seberat 0,0062 gram ditimbang menggunakan kertas
perkamen pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara
langsung.
10. Na- EDTA seberat 1,24 gram ditimbang menggunakan kertas perkamen
pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara langsung.
11. Perasa anggur seberat 0,0062 gram ditimbang menggunakan kaca arloji
pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak
langsung.
12. Pewarna ungu seberat 0,0062 gram ditimbang menggunakan kacar arloji
pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak
langsung.
E. Penimbangan bahan scale up
1. Phenolptalein seberat 5,5 gram ditimbang menggunakan cawan uap pada
timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak langsung.
2. Paraffin liquidum seberat 120 gram ditimbang mengguakan beaker glass
pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak
langsung.
3. Gliserin seberat 37,8 gram ditimbang menggunakan beaker glass pada
timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak langsung.
4. Kalium sorbat seberat 0,59 gram ditimbang menggunakan kertas
perkamen pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara
langsung.
5. Sukrosa seberat 100 gram ditimbang menggunakan kertas perkamen pada
timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara langsung.
6. Tween 80 seberat 10 gram ditimbang menggunakan cawan uap pada
timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak langsung.
7. Span 80 seberat 10 gram ditimbang menggunakan cawan uap pada
timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak langsung.
8. CMC-Na seberat 5 gram ditimbang menggunakan kertas perkaman pada
timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara langsung.
9. Butyl Hidroksitoluen seberat 0,05 gram ditimbang menggunakan kertas
perkamen pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara
langsung.
10. Na- EDTA seberat 0,026gram ditimbang menggunakan kertas perkamen
pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara langsung.
11. Perasa anggur seberat 0,05 gram ditimbang menggunakan kaca arloji pada
timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak langsung.
12. Pewarna ungu seberat 0,005 gram ditimbang menggunakan kacar arloji
pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan secara tidak
langsung.
F. Pembuatan mucilago CMC-Na
1. Mortir dipanaskan dengan sejumlah air
2. Setelah mortir dipanaskan lalu air dibuang.
3. Dimasukkan air 100 mL kedalam mortir, lalu CMC-Na ditabur hingga
mengembang.
4. Lalu digerus hingga terbentuk mucilago.
G. Pembuatan sediaan emulsi
1. Mortir dipanaskan.
2. Tween 80 dicampurkan dengan gliserin dan aquadest sebanyak 30 mL
dalam beaker glass lalu diaduk ad homogen ( fase air).
3. EDTA-Na dilarutkan dalam aquadest sebanyak 5 mL aquadest didalam
beaker glass diaduk hingga larut dan dimasukkan kedalam fase air,
dibilas dengan 2 mL aquadest.
4. Sukrosa dilarutkan dalam aquadest sebanyak 105 mL dalam beaker glass,
lalu diaduk hingga larut dan dimasukkan kedalam fase air, dibilas dengan
2 mLaquadest.
5. Span 80 dicampurkan dengan paraffin liquidum dan phenolptalein dalam
beaker glass diaduk ad homogen.
6. BHT dimasukkan kedalam fase minyak diaduk hingga homogen.
7. Kalium sorbat dimasukkan kedalam fase minyak diaduk hingga
homogen.
8. Fase air dipanaskan diatas hotplate sampai suhu mencapai 70°C dan fase
minyak hingga suhu 60°C.
9. Fase air yang telah mencapai suhu 70°C, dimasukkan kedalam mortir
panas lalu fase minyak dimasukkan kedalam fase air sedikit demi sedikit
hingga terbentuk corpus emulsi.
10. Mucilago CMC-Na dimasukkan kedalam corpus emulsi, digerus hingga
homogen lalu dimasukkan kedalam beaker glass.
11. Dimasukkan aquadest hingga 80% lalu di cek pH.
12. Ditambahkan pewarna ungu kedalam beaker glass , diaduk hingga
homogen.
13. Ditambahkan perasa anggur kedalam beaker glass, diaduk hingga
homogen.
14. Dilakukan evaluasi sediaan.