Anda di halaman 1dari 6

Resume Mata Kuliah

“ECONOMIC CONSEQUENCES AND POSITIVE ACCOUNTING THEORY”

Disusun Oleh:
Reza Wahyu Pradita (196020302111016)

Program Magister Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya
2019

1
CHAPTER 8

ECONOMIC CONSEQUENCES dan POSITIVE ACCOUNTING THEORY

A. Economic Consequences

Adalah konsep yang menyatakan bahwa disamping


implikasi dari teori pasar sekuritas efisien, pilihan
kebijakan akuntansi juga dapat mempengaruhi nilai
perusahaan.

Intinya adalah bahwa gagasan tentang konsekuensi ekonomi adalah merupakan kebijakan
akuntansi perusahaan dan perubahannya dalam kebijakan. Terutama, hal ini penting bagi
manajemen. Tetapi, jika hal ini penting bagi manajemen, maka kebijakan akuntansi penting bagi
investor yang memiliki perusahaan, karena manajer dapat mengubah dengan baik operasi aktual
dari perusahaan mereka akibat perubahan kebijakan akuntansi tersebut. Sebagai contoh, manajer
mungkin akan memotong maintenance dan H&D untuk mengkompensasi kebijakan akuntansi
baru yang menurunkan bottom line.
Penting untuk menggaris bawahi bahwa “kebijakan akuntansi” mengacu pada berbagai
kebijakan akuntansi, tidak hanya satu yang mempengaruhi arus kas perusahaan. Misalnya, sebuah
perusahaan mengubah dari declining-balance menuju straight-line amortization. Hal ini tidak
akan mempengaruhi arus kas operasi perusahaan. Hal ini tidak akan berdampak pada pajak
pendapatan yang dibayarkan, karena otoritas pajak memiliki regulasi capital cost allowance
mereka sendiri. Akan tetapi, kebijakan amortisasi yang baru ini akan secara pasti mempengaruhi
reported net income. Jadi, menurut doktrin konsekuensi ekonomi, perubahan kebijakan akuntansi
itu penting, meskipun kurang berdampak terhadap arus kas. Berdasarkan teori pasar efisien,
perubahan tersebut tidak penting (meskipun pasar mungkin bertanya mengapa perusahaan
mengubah kebijakan) karena future cash flow dan nilai pasar dari perusahaan tidak dipengaruhi
secara langsung.
Pemahaman akan konsep konsekuensi ekonomi terhadap pilihan kebijakan akuntansi
adalah penting untuk dua alasan, yaitu
a. Pertama, konsep ini menarik. Banyak dari kejadian yang paling menarik dari praktek akuntansi
berasal dari konsekuensi ekonomi.

2
b. Kedua, temuan bahwa kebijakan akuntansi itu tidak penting adalah bertentangan dengan
pengalaman akuntan.
Banyak akuntansi keuangan yang dikhususkan untuk diskusi dan berargumen tentang
kebijakan akuntansi mana yang harus digunakan dalam berbagai situasi, dan banyak perdebatan
serta konflik dalam presentasi laporan keuangan mencakup pilihan kebijakan akuntansi.
Konsekuensi ekonomi konsisten dengan pengalaman dunia nyata.

B. Munculnya “Economic Consequences”


Sejak tahun 1960-an, profesi akuntansi Amerika mulai peduli dengan meningkatnya
pengaruh dari “outside forces” dalam proses penetapan standar. Dua perkembangan paralel telah
menandai hal ini, (1) Individu dan kelompok yang jarang memperlihatkan minat dalam penetapan
standar akuntansi mulai mengintervensi secara aktif dan kuat dalam proses penetapan standar, dan
(2) Pihak-pihak tersebut mulai meminta argumen dibandingkan mereka yang secara tradisional
telah bekerja dalam diskusi akuntansi. Konsekuensi ekonomi telah digunakan untuk
mendeskripsikan beberapa argumen tersebut.
Zeff (1978) mendefinisikan konsekuensi ekonomi sebagai berikut.

“dampak dari laporan akuntansi dalam perilaku pengambilan


keputusan bisnis, pemerintah, serikat pekerja, investor dan
kreditur”.

Zeff mencatat beberapa contoh di USA dimana bisnis, asosiasi industri, dan pemerintah
berusaha untuk mempengaruhi standar akuntansi yang ditetapkan oleh the Accounting Principle
Board (pendahulunya FASB) dan pendahulu lainnya seperti the Committee on Accounting
Procedure (CAP).

C. Hubungan antara Pasar Sekuritas Efisien dan Konsekuensi Ekonomi


Teori pasar sekuritas efisien memprediksi tidak ada reaksi harga terhadap perubahan
kebijakan akuntansi yang tidak berdampak pada profitabilitas dan arus kas. Jika tidak ada reaksi
harga sekuritas (menyiratkan ada perubahan dalam biaya dan modal perusahaan), hal ini belum
jelas mengapa manajemen dan regulator harus secara khusus fokus dengan kebijakan akuntansi
yang perusahaan gunakan. Dengan kata lain, teori pasar efisien menunjukkan pentinganya full

3
disclosure, termasuk pengungkapan kebijakan akuntansi. Namun demikian, sekali pengungkapan
penuh akan kebijakan akuntansi dibuat, maka pasar akan mempresentasikan nilai dari sekuritas
perusahaan pada kebijakan yang digunakan dan tidak akan tertipu dengan variasi reported net
income yang timbul dari perbedaan pada kebijakan akuntansi.
Dalam area yang penting akan pilihan kebijakan akuntansi, seperti akuntansi untuk ESOs,
memperlihatkan bahwa konstituensi manajemen secara jelas bereaksi terhadap perubahan dalam
kebijakan akuntansi. Beragam reaksi ini diringkas dalam konsep konsekuensi ekonomi. Pilihan
kebijakan akuntansi adalah penting meski tidak berdampak terhadap arus kas. Kebijakan akuntansi
memiliki potensi untuk mempengaruhi keputusan manjemen sesungguhnya, termasuk kebijakan
untuk mengintervensi mendukung atau menentang standar akuntansi yang diusulkan.

D. Teori Accounting Positive Theory


Scoot mendefinisikan Positive accounting theory (PAT) adalah sebagai berikut.

“berkaitan dengan memprediksi tindakan seperti pilihan kebijakan


akuntansi oleh pimpinan perusahaan dan bagaimana manajer akan
merespon standar akuntansi baru yang diusulkan”.

Teori akuntansi positif dipopulerkan oleh Watt dan Zimmerman. Menurut Watt and
Zimmerman, PAT adalah sebagai berikut

menyatakan bahwa Positive accounting theory lebih menjelaskan


kepada praktek-praktek akuntansi. Positive accounting theory
dirancang untuk menjelaskan dan memprediksi dimana perusahaan
akan melakukan dan dimana perusahaan tidak akan menggunakan
metode khusus yang seharusnya perusahaan gunakan.

Scoot menjelaskan bahwa PAT mengambil pandangan bahwa perusahaan mengelola


perusahaannya dengan cara yang paling efisien demi memaksimalkan prospek mereka untuk
bertahan. Perusahaan dapat dipandang sebagai ikatan kontrak, bahwa perusahaan tersebut dapat
dijelaskan dengan luas oleh kontrak yang ada. Contoh kontrak perusahaan adalah kontrak dengan
karyawan, pemasok, peminjam, dan shareholders sebagai operasi utama. Perusahaan ingin
meminimalkan berbagai contracting cost berhubungan dengan kontrak ini. Biaya yang termasuk

4
didalamnya seperti biaya negosiasi, biaya meningkat dari moral hazard dan pengamatan contract
performance, cost of possible renegotiation atau contract violation yang seharusnya diantisipasi
selama jangka waktu kontrak. Contracting cost juga mempengaruhi cost of capital perusahaan,
karena obligasi dan saham mewakili kontrak antara perusahaan dan penyedia modal. Kontrak
dengan contracting cost lebih rendah disebut efficient contracts.
Fokus PAT adalah pada hubungan diantara berbagai macam individu termasuk dalam
menyediakan sumber-sumber pada organisasi dan bagaimana akuntansi digunakan untuk
membantu fungsi-fungsi hubungan organisasi tersebut. PAT yang dikembangkan oleh Watt dan
Zimmerman ini berdasarkan dari central economic based-asumption dimana semua aksi individu
digerakkan oleh kepentingan pribadi (self-interest) dan semua individu-individu akan beraksi
dalam kesempatan yang ada untuk meningkatkan kemakmurannya.

E. Tiga Hipotesis Positive Accounting Theory


Ada tiga hipotesis dalam Positive Accounting Theory, yaitu

a. The Bonus Plan Hypothesis, semua hal lain dalam keadaan tetap, para manajer perusahaan

dengan rencana bonus cenderung untuk memilih prosedur akuntansi dengan perubahan laba

yang dilaporkan dari periode masa depan ke periode masa kini.

b. The Debt Covenant Hypothesis, dalam hipotesis ini semua hal lain dalam keadaan tetap, makin

dekat suatu perusahaan terhadap pelanggaran pada akuntansi yang didasarkan pada kesepakatan

utang, maka kecenderungannya adalah semakin besar kemungkinan manajer perusahaan

memilih prosedur akuntansi dengan perubahan laba yang dilaporkan dari periode masa depan

ke periode masa kini.

c. The Political Cost Hypothesis, dalam hipotesis ini semua hal lain dalam keadaan tetap, makin

besar biaya politik yang mesti ditanggung oleh perusahaan, manajer cenderung lebih memilih

prosedur akuntansi yang menyerah pada laba yang dilaporkan dari masa sekarang menuju masa

depan.

5
F. Penelitian Empiris Positive Accounting Theory
Positive Accounting Theory telah dihasilkan sejumlah penelitian empiris. Banyak
penelitian yang telah akrab menguji dampak dari tiga hipotesis yang dijelaskan di atas. Contohnya
adalah sebagai berikut.
 Bonus plan hypothesis yang diinvestigasi oleh Healy (1985), menemukan bukti bahwa manager
perusahaan dengan bonus plan berdasarkan pada net income yang dilaporkan dengan sistematis
diadpsi kebijakan akrual sehingga untuk memaksimalkan bonus ekspektasi mereka.
 Dichev dan Skinner (2002), menguji Debt Covenant Hypothesis.
 Jones (1991), meneliti tindakan perusahaan melaporkan net income lebih rendah selama
investigasi pembebasan impor.

G. Membedakan opportunistic dan efficient contracting versi PAT


Tiga hipotesis PAT yang dijelaskan di atas dalam bentuk opportunistic, yang diasumsikan
bahwa manager memilih kebijakan akuntansi untuk memaksimalkan utilitas ekspektasi mereka
relative untuk memberikan pemberian upah dan kontrak obligasi dan political cost. Hipotesis ini
juga bisa disebut sebagai bentuk efisiensi, dengan asumsi bahwa kontrak perusahaan dan sistem
kontrol internal dan pada umumnya tata kelola perusahaan, limit opportunism, dan memotivasi
manager memilih kebijakan akuntansi untuk mengontrol contracting cost, dengan cara demikian
menguntungkan perusahaan dan shareholder nya.
Ada dua bentuk PAT yang membuat prediksi sama. Contohnya adalah dari bonus plan
hypothesis seorang manager mungkin memilih amortisasi garis lurus diatas declining balance
sehingga opportunistically meningkatkan pembayaran upah. Tetapi, kebijakan yang sama dapat
dipilih dibawah bonus hypothesis untuk alasan efisiensi. Andaikan, amortisasi garis lurus
mengukur paling baik opportunity cost bagi perusahaan menggunakan capitas asset nya.
Kemudian, hasil amortisasi garis lurus dalam pelaporan income bahwa lebih baik mengukur
kinerja manager. Hasilnya, kebijakan akan lebih efisien memotivasi manager (dimana tujuannya
adalah bonus menempati tempat pertama) relative terhadap kemungkinan kebijakan amortisasi
lainnya. Konsekuensinya adalah akan sulit bagi perusahaan apakah perusahaan memilih kebijakan
akuntansi karena oppourtunism atau effisiensi.

Anda mungkin juga menyukai