Anda di halaman 1dari 10

PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK

KECAMATAN WONOSALAM
KANTOR DESA SIDOMULYO
Sekretariat : Komplek Balai Desa Sidomulyo Kec.Wonosalam Kab.Demak Kode Pos : 59571

RANCANGAN PERATURAN DESA SIDOMULYO


KECAMATAN WONOSALAM KABUPATEN DEMAK
NOMOR : ….. TAHUN ………..

TENTANG

PELAKSANAAN
SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT ( STBM )
DESA SIDOMULYO KECAMATAN WONOSALAM

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


KEPALA DESA SIDOMULYO

Menimbang : a. Bahwa kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap orang yang
pemenuhannya menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga,
masyarakat dan pemerintah daerah, termasuk pemerintah desa;
b. Bahwa dalam rangka mempertahankan Desa Sidomulyo sebagai satu-
satunya Desa ODF (Bebas Buang Air Besar di Sungai) di Kecamatan
Wonosalam, maka perlu meningkatkan perilaku masyarakat;
c. Bahwa dalam rangka meningkatkan tata cara dan perilaku masyarakat
dalam pemberdayaan pola hidup bersih dan sehat serta pengembangan
Sanitasi dasar di desa, perlu melaksanakan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM);
d. Bahwa sehubungan dengan hal sebagaimana tersebut dalam huruf a, b dan
c diatas, maka dipandang perlu ditetapkan dalam Rancangan Peraturan
Desa Tentang Pelaksanaan STBM di Desa Sidomulyo .

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa;


2. Undang – undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
2. Undang – undang Nomor Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah;
3. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005;
5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pembentukan dan Mekanisme Penyusunan Peraturan Desa;
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2006 tentang tata cara
Penyerahan urusan-urusan Pemerintah Kabupaten / Kota kepada Desa;
7. Perturan Menteri Desa PDTT Nomor 19 tahun 2017 tentang Prioritas
Penggunaan Dana Desa Tahun 2018.
7. Peraturan Menteri Kesehatan No. 3 Tahun 2014 Tentang Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat.
8. Peraturan Bupati Demak Nomor 53 Tahun 2017 tentang Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat di Lingkungan Kabupaten Demak;

Dengan Persetujuan Bersama

BADAN PERMUSYAWARATAN DESA SIDOMULYO


Dan
KEPALA DESA SIDOMULYO

MEMUTUSKAN

Menetapkan : RANCANGAN PERATURAN DESA SIDOMULYO KECAMATAN WONOSALAM


KABUPATEN DEMAK TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM SANITASI TOTAL
DAN PEMASARAN SANITASI (STBM )

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Rancangan Peraturan Desa ini yang dimaksud dengan :


1. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Demak .
2. Bupati adalah Bupati Demak .
3. Kecamatan adalah Kecamatan Wonosalam .
4. Pemerintah Desa adalah Pemerintah Desa Sidomulyo.
5. Desa adalah Desa Sidomulyo.
6. Kepala Desa adalah Kepala Desa Sidomulyo.
7. Perangkat Desa selanjutnya disebut Perangkat adalah Perangkat Desa Sidomulyo.
8. Badan Permusyawaratan Desa selanjutnya disingkat BPD adalah Badan Permusyawaratan Desa
Sidomulyo.
9. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang selanjutnya disingkat STBM adalah pendekatan untuk
mengubah perilaku higienis dan saniter melalui Pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan.
10. Pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang selanjutnya disebut Pilar STBM adalah perilaku
higienis dan saniter yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat.
11. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang selanjutnya disingkat PHBS adalah upaya menciptakan
kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan memberikan informasi dan
edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku untuk membantu masyarakat
mengenali dan mengetahui masalahnya sendiri, dalam tatanan rumah tangga, agar dapat
menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara, dan meningkatkan
kesehatannya.
12. Pemicuan adalah cara untuk mendorong perubahan perilaku higienis dan Sanitasi individu atau
masyarakat atas kesadaran sendiri dengan menyentuh perasaan, pola pikir, perilaku dan kebiasaan
individu atau masyarakat.
13. Verifikasi adalah serangkaian kegiatan untuk mengetahui kebenaran informasi atas laporan yang
disampaikan serta memberikan pernyataan atas keabsahan dari laporan tersebut.
14. Stop Buang Air Besar Sembarangan yang selanjutnya disebut Stop BABS adalah kondisi ketika
setiap individu dalam suatu komunitas tidak berperilaku buang air besar sembarangan yang
berpotensi menyebarkan penyakit.
15. Cuci Tangan Pakai Sabun yang selanjutnya disingkat CTPS adalah perilaku cuci tangan dengan
menggunakan air bersih yang mengalir dan sabun.
16. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga yang selanjutnya disingkat PAMMRT adalah
melakukan kegiatan mengelola air minum dan makanan di rumah tangga untuk memperbaiki dan
menjaga kualitas air dari sumber air yang akan digunakan untuk air minum, serta untuk
menerapkan prinsip higienis Sanitasi pangan dalam proses pengelolaan pengelolaan makanan di
rumah tangga.
17. Pengamanan Sampah Rumah Tangga yang selanjutnya disingkat PSRT adalah melakukan kegiatan
pengolahan sampah di rumah tangga dengan mengedepankan prinsip mengurangi, memakai ulang
dan mendaur ulang.
18. Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga yang selanjutnya disingkat PLCRT adalah melakukan
kegiatan pengolahan limbah cair di rumah tangga yang berasal dari sisa kegiatan mencuci, kamar
mandi dan dapur yang memenuhi standar baku mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan
kesehatan yang mampu memutus mata rantai penularan penyakit.
19. Tim Kerja STBM Desa adalah Tim yang dibentuk di desa dan ditetapkan dengan Keputusan Kepala
Desa untuk melaksanakan sosialisasi dan upaya pemicuan demi terselenggaranya STBM Desa.
20. Tim AMPL Kecamatan adalah tim kerja di tingkat Kecamatan dalam penyelenggaraan dan
pengendalian Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di tingkat daerah/kecamatan.

B A B II
PENYELENGGARAAN STBM DI DESA
Pasal 2
Penyelenggaraan STBM di desa bertujuan untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang higienis dan
saniter menuju PHBS secara mandiri dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.

Pasal 3
1) Penyelenggaraan STBM di desa dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dengan berpedoman
pada pilar STBM.
2) Pilar STBM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas perilaku:
a. Stop BABS;
b. CTPS;
c. PAMMRT;
d. PSRT; dan
e. PLCRT.
3) Pilar STBM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk memutus mata rantai
penularan penyakit dan keracunan.
Pasal 4
Perilaku Stop BABS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a diwujudkan melalui kegiatan
yang meliputi:
a. membudayakan perilaku buang air besar secara sehat yang dapat memutuskan alur kontaminasi
kotoran manusia sebagai sumber penyakit secara berkelanjutan;
b. menyediakan dan memelihara sarana buang air besar yang memenuhi standar dan persyaratan
kesehatan; dan
c. mendorong terlaksananya Stop BABS di desa melalui gerakan membangun jamban keluarga secara
mandiri dengan kewajiban:
(1) Setiap rumah wajib memiliki jamban keluarga.
(2) Setiap orang wajib buang air besar pada jamban.

Pasal 5
Perilaku CTPS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf b diwujudkan melalui kegiatan yang
meliputi:
a) Membudayakan perilaku cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun secara
berkelanjutan;
b) Menyediakan dan memelihara sarana cuci tangan yang dilengkapi dengan air mengalir, sabun dan
saluran pembuangan air limbah; dan
c) Mendorong terlaksananya gerakan ctps di desa secara khusus pada saat paling kritis, seperti:
1. Setelah buang air besar.
2. Sebelum menyiapkan makanan.
3. Setelah menceboki bayi.
4. Sebelum menyusui/memberi makan kepada bayi.
5. Sebelum/sesudah makan.

Pasal 6
Perilaku PAMMRT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf c diwujudkan melalui kegiatan
yang meliputi:
a. Membudayakan perilaku pengelolaan air layak minum dan makanan yang aman dan bersih secara
berkelanjutan;
b. Menyediakan dan memelihara tempat pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga yang
sehat; dan
c. Mendorong terlaksananya gerakan pammrt di desa dengan mengonsumsi air minum dan makanan
yang sudah dimasak/diolah dengan baik dan higienis.

Pasal 7
Perilaku PSRT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf d diwujudkan melalui kegiatan yang
meliputi:
1) Membudayakan perilaku memilah sampah rumah tangga sesuai jenisnya dan membuang sampah
rumah tangga pada tempatnya;
2) Melakukan pengurangan (reduce), penggunaan kembali (reuse), dan pengolahan kembali (recycle);
dan
3) Mendorong terlaksananya gerakan psrt di desa dengan menyediakan dan memelihara sarana
pembuangan sampah rumah tangga pada tempatnya.
Pasal 8
Perilaku PLCRT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf e diwujudkan melalui kegiatan
yang meliputi:
a) Melakukan pemisahan saluran limbah cair rumah tangga melalui sumur resapan dan saluran
pembuangan air limbah;
b) Memelihara dan menggunakan sarana penampungan limbah cair rumah tangga; dan
c) Mendorong terlaksananya gerakan plcrt di desa dengan mewajibkan setiap rumah tangga untuk
menyediakan saluran pembuangan dan penampungan limbah cair rumah tangga.

Pasal 9
Penjelasan lebih lanjut mengenai pilar STBM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 tercantum dalam
lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala Desa ini.

BAB III
KETENTUAN LARANGAN
Pasal 10
1) Pemerintah Desa Sidomulyo Kecamatan Wonosalam sesuai hasil musyawarah bersama Badan
Permusyawaratan Desa menetapkan beberapa larangan sebagaiman ketentuan yang diatur dalam
Peraturan Desa ini
2) Bentuk larangan yang ditetapkan sebagaimana ayat (1) antara lain :
a. Larangan Buang Air Besar Di Aliran Sungai, baik sungai irigasi maupun non irigasi.
b. Larangan membuat Dinding Darurat (bedeng) untuk Buang Air Besar di Sungai.
c. Larangan membuang popok bayi di sungai.
d. Larangan membuang limbah ternak di sungai.
e. Larangan membuang Limbah Rumah Tangga di sungai.
3) Ketentuan sebagaiman dimaksud pada ayat (2) berlaku untuk seluruh masyarakat Desa Sidomulyo
dan luar Desa Sidomulyo dengan Wilayah atau Ruang Lingkup sebagaimana dimaksud pada pasal
2
BAB IV
PEMICUAN STBM
Pasal 11
1) Dalam menyelenggarakan STBM di desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, dilakukan
pemicuan kepada masyarakat.
2) Pemicuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, kader
kesehatan, relawan dan/atau masyarakat yang memiliki pengetahuan/kecakapan mengenai STBM.
3) Pemicuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk memberikan kemampuan dalam:
a. Merencanakan perubahan perilaku;
b. Memantau terjadinya perubahan perilaku;
c. Mengevaluasi hasil perubahan perilaku; dan
d. Memonitoring kelanjutan perubahan perilaku.

4) Sasaran pemicuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah masyarakat di desa terdiri dari :
a. Setiap warga/keluarga yang belum melaksanakan lima pilar STBM;
b. Setiap warga/keluarga yang telah memiliki fasilitas sanitasi tetapi belum memenuhi syarat
kesehatan.
c. Setiap warga/keluarga yang ada di desa.

Pasal 12
Tata cara pemicuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 tercantum dalam lampiran yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala Desa ini.

BAB V
HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT
Pasal 13
Dalam penyelenggaraan STBM di desa, masyarakat berhak:
1. Memperoleh informasi mengenai rencana program/kegiatan penyelenggaraan STBM di desa;
2. Memperoleh penyuluhan dan pelatihan dalam rangka pemberdayaan masyarakat; dan
3. Mengikuti atau berperan serta dalam perumusan kebijakan, pengelolaan, pelaksanaan dan/atau
penyelenggaraan STBM di desa.

Pasal 14
Dalam penyelenggaraan STBM di desa, masyarakat wajib:
a. Memberikan informasi sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan dan pengelolaan
program/kegiatan penyelenggaran STBM di desa;
b. Mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku tentang penyelenggaraan STBM di desa; dan
c. Menjaga keberlanjutan penyelenggaraan program/kegiatan STBM di desa.

Pasal 15
Dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program/ kegiatan STBM di desa, perlu memperhatikan
peran serta masyarakat dan para pemangku kepentingan desa.

BAB VI
TANGGUNGJAWAB PEMERINTAH DESA
Pasal 16
1) Demi mendukung penyelenggaraan STBM di desa, pemerintah desa bertanggung jawab dalam:
a. Penyusunan peraturan dan kebijakan teknis;
b. Fasilitasi pengembangan teknologi tepat guna;
c. Penyediaan panduan media komunikasi, informasi, dan edukasi; dan
d. Fasilitasi pengembangan penyelenggaraan stbm;
2) Untuk mendukung penyelenggaraan STBM di desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
pemerintah desa berperan:
a. Menetapkan skala prioritas wilayah untuk penerapan STBM;
b. Melakukan koordinasi lintas sektor dan lintas program dalam rangka pengembangan
penyelenggaraan STBM;
c. Melaksanakan pelatihan teknis bagi Tim Kerja STBM Desa; dan
d. Melakukan pemantauan dan evaluasi.
3) Dalam mendukung penyelenggaraan STBM di desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2), pemerintah desa dapat melibatkan tenaga ahli, institusi pendidikan, institusi keagamaan,
swasta, dan lembaga mitra/pihak ketiga lainnya.

Pasal 17
1) Pemerintah desa dalam mendukung penyelenggaraan STBM di desa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 15, mengacu pada strategi dan tahapan penyelenggaraan STBM.
2) Strategi dan tahapan penyelenggaraan STBM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam
lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala Desa ini.

BAB VII
TIM KERJA STBM DESA
Pasal 18
1) Untuk melaksanakan STBM di desa, Kepala Desa membentuk Tim Kerja STBM Desa.
2) Tim Kerja STBM Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melaksanakan kegiatan dan rencana
kerja sesuai kebutuhan dalam mendukung penyelenggaraan STBM di desa.
3) Tim Kerja STBM Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2), berkedudukan di Desa dan
bertanggungjawab kepada Kepala Desa dan Tim AMPL Kecamatan.
4) Keanggotan Tim Kerja STBM Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terdiri dari unsur
Pemerintah Desa, LKD, organisasi kemasyarakatan lainnya di desa, tenaga kesehatan, kader
kesehatan, relawan dan lembaga mitra/pihak ketiga lainnya.
5) Tim Kerja STBM Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan Keputusan Kepala
Desa.

Pasal 19
Tim Kerja STBM Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, bertugas dan bertanggungjawab dalam:
1) Menyusun rencana kerja penyelenggaraan STBM di desa;
2) Mengembangkan dan mengimplementasikan kampanye dan advokasi strategi pelaksanaan
program/kegiatan STBM Desa;
3) Mengkoordinasikan pelaksanaan program/kegiatan dan pemicuan STBM Desa;
4) Memfasilitasi pengembangan rantai suplai sanitasi dan lingkungan hidup;
5) Memantau, memverifikasi dan mengevaluasi hasil pemicuan dan perkembangan perubahan perilaku
masyarakat;
6) Melakukan pemutakhiran database kondisi perkembangan STBM Desa; dan
7) Menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan STBM Desa kepada Kepala Desa dan Tim AMPL
Kecamatan pada setiap akhir tahun.

Pasal 20
1) Tim STBM Desa melakukan verifikasi tingkat dasar dalam penyelenggaraan STBM di desa.
2) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan untuk memastikan terjadinya perubahan
perilaku masyarakat demi mencapai kondisi STBM.
3) Hasil verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilaporkan kepada Tim AMPL Kecamatan
sebagai dasar pembentukan Desa STBM.

Pasal 21
Hasil verifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3), mencakup 5 (lima) pilar STBM, yakni:
1) Tersedianya sarana buang air besar bagi setiap rumah tangga;
2) Tersedianya sarana pengelolaan air minum yang layak dalam setiap rumah tangga;
3) Tersedianya sarana cuci tangan pakai sabun pada setiap rumah tangga dan tempat pelayanan
umum;
4) Tersedianya sarana pengelolaan limbah cair yang benar pada setiap rumah tangga; dan
5) Tersedianya sarana pengelolaan sampah yang benar pada setiap rumah tangga.

BAB VIII
PEMANTAUAN DAN EVALUASI
Pasal 22
1) Pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan STBM di desa dilakukan oleh Pemerintah Desa bersama
Tim Kerja STBM Desa.
2) Pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan secara langsung dan/atau tidak
langsung dalam rangka mengukur perubahan dalam pencapaian program serta mendapatkan data
dan informasi penyelenggaraan STBM di desa.
3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan secara berkala terhadap standar kualitas
dan indikator kinerja pelaksanaan STBM.
4) Indikator kinerja pelaksanaan STBM sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:
a. aksesibilitas penyelenggaraan STBM;
b. keberhasilan penyelenggaraan STBM;
c. permasalahan yang dihadapi; dan
d. dampak penyelenggaraan STBM.
5) Tata cara pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala Desa ini.

BAB IX
PENGHARGAAN
Pasal 23
1) Pemerintah desa dapat memberikan penghargaan kepada orang/kelompok/badan yang berhasil
dalam mensukseskan dan/atau menyelenggarakan STBM di desa.
2) Ketentuan mengenai jenis dan tata cara pemberian penghargaan diatur lebih lanjut dalam
Keputusan Kepala Desa.

BAB X
PEMBIAYAAN
Pasal 24
1) Pembiayaan dalam penyelenggaraan STBM di desa bersumber dari masyarakat.
2) Pembiayaan untuk mendukung penyelenggaraan STBM oleh Pemerintah Desa bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, dan sumber lain yang tidak mengikat sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.

BAB XI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 25
Peraturan Kepala Desa ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Kepala Desa ini dengan
penempatannya dalam Berita Desa Sidomulyo .

Ditetapkan di : Sidomulyo
Pada tanggal : 12 Februari 2018

KEPALA DESA SIDOMULYO

(SUBADI)
RANCANGAN PERATURAN DESA SIDOMULYO
NOMOR : TAHUN 2018

TENTANG

PELAKSANAAN PROGRAM
SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT ( STBM )
DESA SIDOMULYO KECAMATAN WONOSALAM KABUPATEN DEMAK

DESA SIDOMULYO KECAMATAN WONOSALAM KABUPATEN DEMAK


TAHUN 2017