Anda di halaman 1dari 7

Nama : Moh.

Zainal Arifandi
NIM : 09610029
Kelas : C

KARAKTERISTIK BUDAYA BARAT, TIMUR DAN ISLAM

A. Karakteristik Budaya Barat


Budaya Barat (kadang-kadang disamakan dengan peradaban Barat atau peradaban
Eropa), mengacu pada warisan norma-norma sosial, nilai-nilai etika, adat istiadat, keyakinan
agama, sistem politik, artefak budaya khusus, serta teknologi. Secara spesifik, istilah budaya
Barat dapat ditujukan terhadap:
• Pengaruh budaya Klasik dan Renaisans Yunani-Romawi dalam hal seni, filsafat,
sastra, dan tema hukum dan tradisi, dampak sosial budaya dari periode migrasi dan
warisan budaya Keltik, Jermanik, Romanik, Slavik, dan kelompok etnis lainnya, serta
dalam hal tradisi rasionalisme dalam berbagai bidang kehidupan yang dikembangkan
oleh filosofi Helenistik, skolastisisme, humanisme, revolusi ilmiah dan pencerahan, dan
termasuk pula pemikiran politik, argumen rasional umum yang mendukung kebebasan
berpikir, hak asasi manusia, kesetaraan dan nilai-nilai demokrasi yang menentang
irasionalitas dan teokrasi.
• Pengaruh budaya Alkitab-Kristiani dalam hal pemikiran rohani, adat dan dalam tradisi
etika atau moral, selama masa Pasca Klasik.
• Pengaruh budaya Eropa Barat dalam hal seni, musik, cerita rakyat, etika dan tradisi
lisan, dengan tema-tema yang dikembangkan lebih lanjut selama masa Romantisisme.
Konsep budaya Barat umumnya terkait dengan definisi klasik dari Dunia Barat. Dalam
definisi ini, kebudayaan Barat adalah himpunan sastra, sains, politik, serta prinsip-prinsip
artistik dan filosofi yang membedakannya dari peradaban lain. Istilah ini juga telah
dihubungkan dengan negara-negara yang sejarahnya amat dipengaruhi oleh imigrasi atau
kolonisasi orang-orang Eropa, misalnya seperti negara-negara di benua Amerika dan
Australasia, dan tidak terbatas hanya oleh imigran dari Eropa Barat. Eropa Tengah juga
dianggap sebagai penyumbang unsur-unsur asli dari kebudayaan Barat.
Beberapa kecenderungan yang dianggap mendefinisikan masyarakat Barat modern,
antara lain dengan adanya pluralisme politik, berbagai subkultur atau budaya tandingan
penting (seperti gerakan-gerakan Zaman Baru), serta peningkatan sinkretisme budaya sebagai
akibat dari globalisasi dan migrasi manusia.
Barat dalam pikirannya cenderung menekankan dunia objektif daripada rasa sehingga
hasil pola pemikiran demikian membuahkan sains dan teknologi. Filsafat Barat telah
dipusatkan kepada ujud dunia rasio. Oleh karenanya, pengetahuan mempunyai dasar empiris
yang kuat. Demikian pula dalam tradisi agama Barat, dunia empiris memiliki arti. Pada zaman
sekarang semakin nyata bahwa sikap aktif dan rasional di dunia Barat unggul, sebaliknya
pandangan hidup tradisional baik filsafat maupun agama ada kesan mundur.
Barat dalam cara berpikir dan hidupnya lebih terpikat oleh kemajuan material dan
hidup sehingga tidak cocok dengan cara berpikir untuk meninjau makna dunia dan makna
hidup. Dalam hal manusia, mereka beranggapan bahwa manusia adalah ukuran bagi
segalanya. Maksudnya manusia mempunyai kemampuan untuk menyempurnakan hidupnya
sendiri, dengan syarat bertitik tolak dari rasio, intelek dan pengalaman. Manusia oleh Barat
dipandang sebagai pusat segala sesuatu yang mempunyai kemampuan rasional, kreatif, dan
estetik sehingga kebudayaan Barat menghasilkan beberapa nilai dasar seperti demokrasi,
lembaga sosial, dan kesejahteraan ekonomi. Kesemuanya berpangkal demi penghargaan
mutlak bagi manusia. Manusia harus mendapat segala yang bernilai dalam mewujudkan
kemampuannya karena manusia yang memiliki nilai sehingga diukur dari kemampuannya,
bukan dari kebijaksanaan hatinya.
Tentang kebebasan di Barat cukup menarik untuk diamati. Semua orang Timur
menganggap bahwa Barat itu negara kebebasan, segala sesuatunya serba mungkin terjadi. Hal
ini dimulai dari sosialisasi anak, yang dibiarkan untuk membentuk dirinya sendiri dan
mengemangkan bakatnya sendiri. Akhirnya keebasan itu diwujudkan dalam berbagai bidang
kehidupan sosial, politik, kebudayaan, dan ekonomi. Tradisi kebebasan ini menimbulkan rasa
percaya diri dan kemampuan serta menghilangkan perbedaan status sosial.
Tradisi humanistik di Barat berupa penghargaan terhadap martabat manusia sebagai
suatu yang otonom, merdeka dan rasional, menunjang nilai-nilai demokrasi, lembaga sosial
dan kesejahteraan ekonomi. Nilai-nilai lain pun berkembang seperti, kebebasan,
perekonomian, dan teknologi. Di Barat orang lebih condong menekankan dunia empiris
sehingga mereka maju dalam sains dan teknologi. Melalui pengaruh Yunani, Barat berkemang
dalam pengetahuan deskriptif dan spesialisasi. Dukungan sikap Barat yang lebih besar
tekanannya kepada realitas dan nilai waktu menyebabkan perkembangan yang pesat dalam
filsafat prosesi pengonsepan evaluasi kreatif serta kemajuan. Manusia dengan alam menurut
konsep Barat adalah terpisah. Alam sebagai dunia luar harus dieksploitasi. Hal ini tertulis
dalam kata-kata: menaklukkan luar angkasa, menaklukkan alam dan hutan rimba.

B. Karakteristik Budaya Timur


Nilai budaya Timur pada intinya banyak bersumber dari agama-agama yang lahir di
dunia Timur. Pada umumnya, manusia-manusia Timur menghayati hidup yang meliputi
seluruh eksistensinya. Berpikir secara Timur tidak bertujuan menunjang usaha-usaha manusia
untuk menguasai dunia dan hidup secara teknis, sebab manusia timur lebih menyukai intuisi
daripada akal budi. Inti kepribadian manusia Timur tidak terletak pada inteleknya, tetapi pada
hatinya. Dengan hatinya mereka menyatukan akal budi dan intuisi serta inteligensi dan
perasaan. Ringkasnya, mereka mengahayati hidup tidak hanya dengan otaknya.
Nilai budaya yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan Budha membuat kebijaksanaan
Timur bersifat kontemplatif, tertuju kepada tinjauan kebenaran. Dengan demikian, berpikir
kontemplatif dipandang sebagai puncak perkembangan rohani manusia. Pemikir Timur lebih
menekankan segi dalam dari jiwa, dan realitas di belakang dunia empiris dianggap sebagai
sesuatu yang hanya lewat dan bersifat khayalan. Timur lebih menekankan disiplin
mengendalikan diri, sederhana, tidak mementingkan dunia, bahkan menjauhkan diri dari
dunia.sesuatu yang baik menurut Timur tidak terdapat hanya dalam dunia benda, tidak dengan
memanipulasi alam, mengubah masyarakat dan mencari pencarian zat yang satu, di dalam diri
kita atau di luarnya.
` Di Timur dicari keharmonisan dengan alam, sebab alam memberi kehidupan, memberi
makanan, tempat berteduh, bahan untuk seni dan sains. Nafsu untuk memperoleh hikmah atau
kerinduan akan keselamatan dan kebebasan diri dari penderitaan dunia, bagi Dunia Timur
cukup kuat. Ide bkeselamatan ini besar pengaruhnya dalam membentuk mentalitas, teori, dan
praktek bangsa Timur. Jalan untuik memperolewh ini semua tidak terlketak pada akal
budinya, tetapi dilalui meditasi, tirakat (ascetic), dan mistik.
Dalam hal menegakkan norma, Timur tidak hanya bersumber dari ajaran agama, tetapi
ide abstrak atau simbolik pun dapat terwujud kongkret dalam praktek kehidupannya. Mencari
ilmu tidak hanya untuk menambah pengetahuan intelektual saja, tetapi mencari
kebijaksanaan.
Sikap orang Timur terhadap alam adalah menyatu dengan alam, tidak memaksakan
diri dengan atau mengeksploitasi alam, bahkan mengeinginkan harmoni dengan alam karena
alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kalau alam binasa,
maka manusia pun akan binasa. Untuk menjaga hubungan yang harmonis terkadang muncul
ekspresi kongkret dalam bentuk hubungan mistik manusia dengan alam. Ringkasnya, Dunia
Timur menginginkan kekayaan hidup,aan benda, tenang tentram, menyatu diri, fatalisme,
pasivitas, dan menarik diri.

C. Karakteristik Budaya Islam


Kebudayaan Islam ialah istilah yang khususnya digunakan dalam akademia sekular
untuk memerikan kesemua amalan kebudayaan yang sepunya kepada orang Islam daripada
segi sejarah. Oleh sebab agama Islam berasal pada abad ke-6 di Semenanjung Arab, bentuk
kebudayaan Muslim yang awal adalah lebih banyak daripada orang Arab. Dengan peluasan
empayar-empayar Islam yang pesat, orang Islam berhubung dan menyerap kebudayaan-
kebudayaan Parsi, Turki, Mongol, India, Melayu, Berber, dan Indonesia.
"Kebudayaan Islam" pada dirinya merupakan sebuah istilah yang menimbulkan
perbalahan. Orang Islam tinggal di banyak negara dan komuniti yang berbeza. Justera,
mengasingkan apa yang menyatukan mereka selain daripada agama Islam adalah sesuatu
perkara yang susah. Bagaimanapun, ahli akademik sekular tidak hendak mengakui masalah
itu kerana mereka melihatkkan agama sebagai salah satu aspek antropologi dan sejarah
budaya.
Marshall Hodgson, ahli sejarah Islam yang terkenal, memerhatikan kesulitan tersebut
antara penggunaan agama dan penggunaan akademik sekular untuk perkataan bahasa
Inggeris, "Islamic" (bersifat Islam) dan "Muslim", di dalam karya tiga-jilidnya, The Venture
Of Islam (Penjelajahan Islam). Untuk mengatasi masalah tersebut, beliau mencadangkan
bahawa kedua-dua istilah itu digunakan hanya untuk fenomena agama lalu mereka istilah
"Islamicate" (Islamikat) untuk menandakan semua aspek kebudayaan orang Muslim sejarah.
Bagaimanapun, cadangannya tidak pernah digunakan secara meluas, dengan kekeliruan
penggunaan umum kedua-dua perkataan itu masih wujud.
Yang termasuk kebudayaan Islam :
Amalan dan kepercayaan agama
C.J. Whites menyatakan bahawa kebudayaan Islam umumnya merangkumi semua
amalan yang berkembang dan berkisar pada agama Islam, baik amalan al-Quran seperti sholat
mahupun yang bukan daripada al-Quran seperti pembahagian dunia Islam. Di Bengal,
kebudayaan Islam juga merangkumi tradisi Baul yang memudahkan pemelukan Islam secara
aman di kebanyakan kawasannya.
Arab
Kesusasteraan Islam awal adalah dalam bahasa Arab kerana bahasa itu merupakan
bahasa komuniti-komuniti Nabi Muhammad s.a.w. di Mekah dan Madinah. Oleh sebab
sejarah awal komuniti Islam menumpukan pengasasan agama Islam, hasil kesusasteraan
mereka bersifat agama. Lihat rencana tentang al-Quran, Hadis, dan Sirah Rasul Allah yang
merupakan sastera komuniti Islam yang terawal.
Dengan pembentukan Kerajaan Bani Ummaiyyah, kesusasteraan Muslim sekular
dikembangkan (lihat Hikayat Seribu Satu Malam). Sedangkan ia tidak mempunyai sebarang
kandungan agama, sastera sekular itu disebar oleh orang Arab ke seluruh pelosok empayar
dan justera itu, menjadi sebahagian kebudayaan yang tersebar luas.
Nikah
Perkahwinan dalam Islam dianggap sebagai amat sangat penting. Nabi Muhammad
s.a.w., nabi Islam yang terakhir, menyatakan bahawa "menikah adalah setengah daripada
agama". Terdapat banyak hadis yang menyanjung pentingnya perkahwinan dan kekeluargaan.
Dalam Islam, nikah ialah ikatan undang-undang dan kontrak sosial antara seseorang
lelaki dan seseorang perempuan, sebagaimana digalakkan oleh Syariat Islam.
Seni
"Wayang Kulit", seni boneka bayang Indonesia, membayangkan campuran kepekaan
asli dan kepekaan Islam.
"Advice of the Ascetic" (Nasihat seorang Zahid), sebuah miniatur Parsi abad ke-16
yang disimpan di Istana Golestan, Tehran.
Seni Islam yang membentuk sebahagian kajian Islam, terutamanya bersifat abstrak
dan hias. Ia menggambarkan reka bentuk Arabes bergeometri dan berbunga-bunga serta juga
reka bentuk seni khat pada sepanjang sejarahnya. Berbeza dengan tradisi seni Kristian yang
cenderung menggambarkan manusia, seni Islam tidak merangkumi penggambaran makhluk,
termasuk manusia. Kekurangan pemotretan tersebut adalah kerana Islam awal mengharamkan
pelukisan manusia, termasuk gambar Nabi Muhammad s.a.w. kerana perbuatan sedemikian
dipercayai akan menggoda penganutnya supaya mengamalkan penyembahan berhala.
Larangan melukis gambar manusia atau ikon sebegini dikenali sebagai anikonisme.
Bagaimanapun, pada sepanjang dua abad yang lalu, disebabkan semakin banyak perhubungan
dengan peradaban Barat, larangan tersebut telah dilonggarkan sehingga hanya orang Muslim
yang paling ortodoks kini menentang pemotretan.
Seni Islam biasanya menumpukan Allah, dan oleh sebab Allah tidak boleh
dilambangkan dengan imejan ["All you believe him to be, he is not"], corak geometri
dipergunakan sebagai ganti. Corak-corak ini adalah serupa dengan gaya Arabes yang juga
melibatkan pengulangan reka bentuk geometri, tetapi tidak semestinya digunakan untuk
mengungkapkan idaman susunan dan alam semula jadi.
DAFTAR PUSTAKA

http://ms.wikipedia.org/wiki/Kebudayaan_Islam
http://ms.wikipedia.org/wiki/budaya_barat-vs-budaya timur
http://ms.wikipedia.org/wiki/dunia timur
Sulaeman, M. Munandar. 2005. Ilmu Budaya Dasar. Bandung: PT Refika Aditama
Poespowardjodjo, Soerjamto.1993. Strategi Kebudayaan. Jakarta : Gramedia