Anda di halaman 1dari 5

Kemenkes Minta Kemkominfo Memblokir Iklan

Rokok di Internet
17 Juni 2019 | Dilihat 120 Kali

Kemenkes Minta Kemkominfo Memblokir Iklan Rokok di Internet

Melalui surat dari Menteri Kesehatan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika
(Kemenkominfo) tertanggal 10 Juni 2019, Kemenkes meminta kepada Kemkominfo
untuk memblokir iklan rokok yang tersebar melalui media internet.

Permintaan blokir iklan rokok ini adalah usaha untuk menurunkan prevalensi merokok
pada masyarakat, khususnya anak dan remaja. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2018 ada peningkatan terhadap perokok anak dan remaja usia 10 hingga 18
tahun dari 7,2% di tahun 2013 menjadi 9,1% di tahun 2018.

Adapun peningkatan ini ditengarai karena tingginya anak dan remaja yang terpapar
iklan rokok di berbagai media seperti contohnya internet.

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menegaskan bahwa permintaan blokir iklan rokok ini
merupakan hasil tindak lanjut dari diskusi bersama Kemkominfo bulan April lalu.
Kementerian Kesehatan yakin bahwa Kemkominfo memiliki kesepahaman yang sama
dengan Kementerian Kesehatan terkait pembangunan kesehatan masyarakat.
Jangan Biarkan Rokok Merenggut Nafas Kita
02 Agustus 2019 | Dilihat 204 Kali

Jangan Biarkan Rokok Merenggut Nafas Kita

Indonesia menghadapi ancaman akibat meningkatnya jumlah perokok, perokok laki-laki


di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia dan diperkirakan lebih dari 97 juta
penduduk Indonesia terpapar asap rokok menurut (Riskesdas 2013). Kecenderungan
peningkatan merokok terlihat lebih besar pada kelompok anak-anak dan remaja
menurut (Riskesdas 2018) menunjukkan jika terjadi peningkatan prevalensi merokok
penduduk usia kurang dari usia 18 tahun dari 7,2% berubah menjadi 9,1%.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati setiap tanggal 31 Mei. Pada tahun 2019, tema
globalnya adalah Rokok dan Kesehatan Paru dengan subtema “Jangan Biarkan Rokok
Merenggut Nafas Kita”. Tema global ini dipilih untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat tentang dampak konsumsi rokok terhadap kesehatan paru serta terjadinya
beban penyakit yang berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia.

Kementerian Kesehatan bersama dengan Kementerian Lembaga terkait berupaya


melakukan upaya pengendalian iklan dengan pembatasan iklan rokok di Internet.
Diketahui promosi rokok di media sosial yang semakin marak dan cenderung
mempengaruhi anak-anak untuk menjadi perokok pemula. Iklan rokok di Internet telah
melanggar Undang-Undang No.36 Tahun 2009.
Dalam berbagai riset, diketahui jika faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) utama
yang bisa dicegah bersama adalah perilaku buruk merokok.

“Rokok merupakan faktor risiko penyakit yang memberikan kontribusi paling besar
dibanding faktor risiko lainnya. Seorang perokok mempunyai risiko 2 sampai 4 kali lipat
untuk terserang penyakit jantung koroner dan memiliki risiko lebih tinggi untuk
terserang penyakit jantung koroner dan memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang
penyakit kanker paru dan PTM lainnya,” ujar Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek pada
peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS), di kantor Kemenkes.

Distopia Rokok. Terjebak “Nikmat” dalam Jerat


Kemiskinan dan Kematian
08 Februari 2018 | Dilihat 242 Kali

Distopia Rokok. Terjebak “Nikmat” dalam Jerat Kemiskinan dan Kematian

Tingginya angka perokok di Indonesia bukan tak menuai polemik berkepanjangan.


Setidaknya ada tiga hal yang akan paling disoroti dari kerugian akibat rokok. Risiko akan
penurunan kualitas pada usia produktif, kerugian makro-ekonomi, dan tingginya angka
mortalitas dini akibat rokok.

Pada kualitas usia produktif, secara tanpa disadari kebiasaan merokok memengaruhi
angka produktivitas. Merokok akan menurunkan kualitas dan kapasitas kinerja paru-
paru, padahal kondisi paru-paru akan sangat memengaruhi kondisi dan aktivitas fisik
tubuh. Oleh karena itu, semakin lama individu merokok, maka akan semakin menurun
produktivitas kerja. Karena kondisi fisik tubuh kita semakin lemah dan renta.
Rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia, sebagaimana diungkapkan oleh Asian
Productivity Organization (APO) tahun 2015, tingkat produktivitas tenaga kerja
Indonesia berada di bawah Malaysia dan Thailand bahkan Sri Lanka. Ironis jika
mengingat Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk paling tinggi, namun
produktivitas rendah.

Sedang pada kondisi perekonomian Indonesia, cukai rokok yang sering dianggap paling
menguntungkan dari sisi pendapatan negara. Ternyata fakta yang terjadi tidaklah
demikian, jika dibandingkan dengan faktor risiko kerugian yang diterima.

Hal ini diungkapkan dalam penelitian Soewarta Kosen (Policy Researcher, Kementerian
Kesehatan RI) bersama dengan WHO Indonesia, yang bertajuk Riset terbaru: kerugian
ekonomi di balik konsumsi rokok di Indonesia hampir Rp600 triliun.

Riset tersebut menunjukan kerugian makro-ekonomi akibat konsumsi rokok di


Indonesia pada tahun 2015 mencapai Rp600 triliun. Angka kerugian tersebut empat kali
lebih besar dibandingkan jumlah cukai rokok pada tahun tersebut (hanya menyumbang
Rp 139,5 triliun).

Kerugian yang diderita negara tak lain adalah karena tingginya risiko beban penyakit
dan meningkatnya angka kematian akibat jumlah perokok yang terus meroket. Hal
tersebut menyebabkan defisit keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Kesehatan terkait klaim hak fasilitas kesehatan.

Tak lebih dari jerat kemiskinan dan kematian

Pesatnya peningkatan konsumsi tembakau di Indonesia dalam kurun waktu 30 tahun


terakhir dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya; tingginya angka pertumbuhan
penduduk, harga rokok yang relatif murah, pemasaran yang leluasa dan intensif oleh
industri rokok, dan sikap tak acuh akan bahaya yang ditimbulkan tembakau.

Yang lebih ironis, catatan “keberhasilan” bisnis rokok di Indonesia “dipercantik” dengan
adanya fakta bahwa perokok di Indonesia, usianya semakin muda. Tobacco Control
Atlas ASEAN menunjukan data di mana jumlah perokok di bawah umur di Indonesia
sudah kepalang mengkhawatirkan. 30 persen anak Indonesia mulai merokok bahkan
sebelum genap berusia 10 tahun. Diperkirakan jumlahnya mencapai 20 juta anak, dan
terus naik tiap tahunnya.

Pada kasus perokok di bawah umur, banyak dari mereka tak acuh akan risiko dan
bahaya dari merokok. Anak-anak dan penjaja sebenarnya sadar bahwa merokok bukan
hal baik, bahkan tak jarang dari mereka sudah tahu Peraturan Pemerintah mengatur
bahwa membeli, dibelikan, dan/atau diberikan rokok itu dilarang pada anak di bawah
usia 18 tahun. Mereka tahu betul bahwa rokok membahayakan kesehatannya,
sayangnya mereka juga sadar kalau merokok sudah merupakan hal yang wajar dan
biasa di kalangan masyarakat.

Lebih lanjut, fakta yang menunjukan sekitar 70% perokok di Indonesia justru berasal dari
kalangan keluarga miskin. Disebutkan bahwa, belanja rumah tangga masyarakat miskin
untuk rokok menempati urutan ketiga tertinggi setelah makanan siap saji dan beras, dan
kesehatan serta pendidikan.

Kecenderungan lebih rela keluar uang dalam jumlah cukup besar untuk rokok
dibandingkan untuk biaya peningkatan taraf hidup seakan sudah biasa di kalangan
perokok di Indonesia. menurut data dari Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2010,
kebiasaan merokok menyebabkan pengeluaran tak perlu sebesar Rp231,27 triliun untuk
sesuatu yang nir-manfaat.