Anda di halaman 1dari 16

Pengukuran Atribut Kognitif dan Nonkognitif

& Konstrak Psikologi

MATA KULIAH

Konstruksi Alat Ukur Psikologi

DOSEN PENGAMPU

Dina Nisrina, M. Psi, Psikolog

Oleh:

Jamilatus Solehah (170104040015)

Pirda (170104040027)

Sarbiah (170104040030)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI

FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA

JURUSAN PSIKOLOGI ISLAM

BANJARMASIN

2019

0
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Objek pengukuran dapat berupa atribut fisik atau atribut psikologi.
Kelebihan atribut fisik, dapat diukur sampai pada tingkat skala ratio yaitu angka
interval yang memiliki harga 0 mutlak. Sedangkan atribut psikologi hanya dapat
di ukur sampai tingkat skala ordinal. Atribut psikologi dikategorikan menjadi;
atribut kemampuan kognitif (Intelegensi, Bakat dan Prestasi) dan atribut non
kognitif (Atribut kepribadian).
Untuk melakukan pengukuran atribut psikologi tersebut, diperlukan
konstrak untuk penyusunan alat ukur sebagai instrumen yang digunakan.
Konstrak ditetapkan untuk menjelaskan apa yang hendak di susun.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana penjelasan mengenai pengukuran atribut kognitif dan non
kognitif.
2. Bagaimana penjelasan mengenai konstrak psikologi.

C. TUJUAN
1. Memahami penjelasan mengenai pengukuran atribut kognitif dan non
kognitif.
2. Memahami penjelasan mengenai konstrak psikologi

1
PEMBAHASAN

A. Pengukuran Atribut Psikologi


Sebagai objek ukur, atribut psikologi dapat dikategorikan menjadi :
1. Atribut kemampuan (Kognitif)
Kemampuan psikologi adalah atribut yang menunjukkan kapasitas
intelektual atau fungsi fikir manusia, oleh karena itu biasa disebut sebagai
kemampuan kognitif yang terbagi menjadi; kemampuan potensial dan
kemampuan aktual.
a. Kemampuan yang bersifat potensial. Atribut potensial dikonsepkan
sebagai modal dasar dalam bentuk peluang (probabilitas) teoritik
individu untuk berkembang mencapai performansi yang optimal.
Potensi individu terbentuk tanpa tergantung pada faktor lingkungan
akan tetapi hanya dapat berkembang dalam bentuk performansi bila
ada stimulasi dari lingkungan dan pelatihan. Potensi merupakan batas
performansi optimal yang mungkin dicapai oleh individu.
Kemampuan kognitif bersifat stabil dan perubahan angka yang terjadi
dalam pengukuran biasanya tidak lebih dari fluktuasi variasi eror
standar. Kemampuan yang bersifat potensial yaitu kemampuan
potensial umum (Intelegensi) dan kemampuan potensial khusus
(Bakat).1
1) Intelegensi : intelegensi merupakan kemampuan menghadapi dan
menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif,
kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, dan
kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan
cepat sekali. Ketiga hal ini sama sekali tidak terlepas satu sama
lain, ketiganya hanya menekankan aspek-aspek yang berbeda dari
prosesnya. Binet menekankan masalah penalaran, imajinasi,
insight (wawasan), pertimbangan dan daya penyesuaian sebagai
proses mental yang tercakup dalam tingkah laku intelegent
(cerdas, pandai).2

1
Saifuddin Azwar. Penyusunan Skala Psikologi (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010) hlm 4
2
J.P. Chaplin. Kamus Lenegkap Psikologi (Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2014) hlm 253

2
2) Bakat : kapasitas intelektual dalam berbagai bidang khusus,
seperti; bakat verbal, bakat mekanikal, bakat seni, dan lain-lain. 3
b. Kemampuan yang bersifat aktual (Prestasi). Atribut aktual
dikonsepkan sebagai realisasi keberhasilan usaha berlajar dalam
wujud performansi yang mampu diperlihatkan oleh individu. Ada
individu yang memiliki potensi tinggi namun tidak mampu
memperlihatkan performansi yang maksimal yang semestinya dapat
dicapainya dan ada individu yang mampu mengaktualisasikan potensi
yang dimiliki secara penuh. Tingkat pencapaian performansi disebut
dengan prestasi yang merupakan paduan interaktif antara potensi dan
usaha (pembelajaran dan pelatihan).
Performansi maksimal yang dapat dicapai oleh seseorang dipengaruhi
oleh usaha dan dibatasi oleh potensi kognitifnya. Dengan demikian,
prestasi tidak stabil dari waktu ke waktu. Berkurangnya pelatihan
akan menurunkan tingkat prestasi dan meningkatnya pelatihan akan
menaikkan prestasi sejauh potensi memungkinkan.4

2. Atribut bukan kemampuan (Nonkognitif)


Atribut psikologi yang bukan kemampuan kognitif kadang-kadang
disebut sebagai atribut kepribadian dan sebagai atribut afektif.
Menyangkut metoda penyusunan instrumen, atribut kemampuan dikenal
(mengikuti definisi Cronbach, 1970) sebagai performansi tipikal (typical
performance). Performansi tipikal inilah yang menjadi objek ukur skala-
skala psikologi.5

B. Konstrak Psikologi
1. Konstrak psikologi
Konstrak menurut Widhiarso (2010) adalah tingkat abstraksi yang tertinggi
yang berguna untuk menginterpretasikan data dan pengembangan teori. Konstrak
tersebut di manifestasikan dalam bentuk data baik kualitatif maupun kuantitatif.

3
Saifuddin Azwar. Penyusunan Skala Psikologi. hlm 5
4
Saifuddin Azwar. Penyusunan Skala Psikologi. hlm 5
5
Saifuddin Azwar. Penyusunan Skala Psikologi. hlm 5

3
Manifestasi tersebut dalam sebuah kajian ilmiah melalui berbagai metode
pengumpulan data. Dan setidaknya ada tiga metode utama pengumpulan data,
yaitu : pengukuran, observasi dan wawancara.6
Jadi, konstrak ialah bangunan pengertian oleh peneliti tentang atribut yang
akan diteliti yang diperoleh melalui berbagai sumber seperti teori, hasil-hasil
penelitian terdahulu, observasi dan wawancara yang dinyatakan dalam definisi
operasional.
Awalnya, psikologi lebih di terima sebagai bagian dari filsafat. Karena
fenomena psikologis didapat melalui berbagai argumen atau pemikiran logis tanpa
di dasari data lapangan. Kemudian, psikologi dapat membuktikan hal-hal yang
tidak tampak maupun nampak tersebut. Fenomena psikologi sekarang dapat
dimanifestasikan melalui skor yang dapat di uji secara statistika. Ilmu eksakta bisa
menerima psikologi melalui metode penelitian kuantitatif tersebut sehingga
psikologi dapat berkembang pesat seperti saat ini.
Dalam mencapai kajian kuantitatif tersebut, psikologi mengukur berbagai jenis
perilaku nampak maupun proses mental. Kegiatan ini di sebut sebagai pengukuran
psikologis.7

2. Pengukuran konstrak psikologi


Menurut Azwar (2016) pengukuran di artikan sebagai prosedur pemberian
angka terhadap atribut atau variabel dalam suatu kontinum.8 Pengukuran psikologi
memiliki perbedaan dengan pengukuran fisik. Pengukuran fisik bersifat pasti,
konsep atau konstrak bisa di persepsikan sama oleh banyak orang dan instrumen
yang di gunakan sudah dapat di terima secara universal. Sedangkan pengukuran
psikologi, konstrak psikologi bersifat hipotetik. Tidak ada kesepakatan universal
tentang suatu konstrak tertentu dan instrumen tidak bisa secara tepat mengukur
konstrak tersebut. Bahkan, instrumen harus di buat sendiri oleh peneliti yang
tentunya sumber error sangat mungkin terjadi.
Melalui pengukuran ini, fenomena yang tampak dan tidak tampak dapat di
wujudkan melalui berbagai angka. Data kuantitatif yang di dapat digunakan untuk
6
Jelpa Periantalo, Validitas Alat Ukur Psikologi : Aplikasi Praktis (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2015)
hlm 4
7
Jelpa Periantalo, Validitas Alat Ukur Psikologi. hlm 4
8
Saifudin Azwar, Dasar-Dasar Psikometrika Edisi II ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2015) hlm 4

4
melihat deskripsi, korelasi, uji beda maupun pengaruh suatu variabel. Hal tersebut
belum pernah di lakukan pada masa sebelumnya, saat psikologi menjadi bagian
dari Filsafat. Sekarang, psikologi bisa memberikan skor tentang keadaan emosi
seseorang, bisa melihat apakah ada hubungan kecerdasan antara pria dan wanita.
Lebih lanjut lagi, psikologi bisa memprediksi hal-hal yang mungkin terjadi nanti,
misalnya psikologi melihat pola asuh orangtua terhadap keterampilan komunikasi
seorang anak. Dan semua hal tersebut di dapat melalui data pengukuran.9
Pengukuran psikologi tidak hanya bisa digunakan untuk proses mental, tetapi
juga bisa digunakan dalam ilmu yang berhubungan dengan prilaku manusia.
Misalnya; kesehatan, pendidikan, manajemen, politik, hukum, sosiologi. Ilmu
tersebut akan melakukan penelitian yang berhubungan dengan perilaku manusia.
Contoh, mahasiswa ilmu pendidikan ingin melakukan penelitian tentang
hubungan antara gaya belajar dengan nilai rapor matematika. Dimana gaya belajar
merupakan ranah psikologi yang membutuhkan instrumen dalam pengukurannya.
Alat ukur psikologi memiliki peran penting dalam penelitian perilaku manusia.
Alat ukur merupakan instrumen yang paling banyak digunakan dalam
penelitian. Instrumen berkaitan dengan validitas internal penelitian, dimana benar
atau salahnya penelitian tergantung pada alat ukur. Jika alat ukur yang digunakan
itu baik, maka betullah apa yang hendak di teliti. Jika tidak baik, kebenaran hal
yang di teliti perlu dipertanyakan.10

3. Pengukuran psikologi yang baik


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pengukuran psikologi memiliki
perbedaan yang mendalam dengan pengukuran fisik. Sebagian besar instrumen
pengukuran fisik sudah ada dan terbukti keakuratannya. Di belahan dunia mana
pun akan menggunakan instrumen yang relatif sama. Sama halnya dengan
keakuratan, hasilnya hampir sama. Hal ini berbeda dengan pengukuran psikologi
yang tidak tidak semudah itu. Pengukuran psikologi merupakan sebuah proses
yang belum tentu mencapai titik akhir. Ada banyak instrumen pengukuran
psikologi yang harus di buat sendiri oleh penggunanya. Dalam pembuatan

9
Jelpa Periantalo, Validitas Alat Ukur Psikologi. hlm 5
10
Jelpa Periantalo, Validitas Alat Ukur Psikologi. hlm 8-9

5
instrumen pengukuran psikologi tersebut, perlu di perhatikan persyaratan
pengukuran yang baik sebagai berikut :
a) Valid
Valid diartikan sebagai sah, benar dan betul apa yang hendak di ukur. Isi
atau komponen yang ada di dalam alat ukur tersebut memang mengungkap hal
yang hendak di ungkap. Itu tidak mengungkap hal yang di luar tujuan ukurnya.
Valid merupakan syarat utama dan wajib bagi semua alat ukur. Jika alat ukur
tersebut valid, maka betullah apa yang di ungkap.
b) Reliabel
Reliabel di artikan konsisten terhadap hasil ukur. Hasil ukur akan
menghasilkan skor tertentu. Apakah skor tersebut sama atau berbeda melalui
berbagai metode reliabilitas. Reliabilitas dapat dilakukan dengan metode :
1) Konsistensi internal : satu alat ukur dengan satu kali pengukuran.
2) Tes paralel : dua alat ukur yang setara dengan satu kurun waktu.
3) Tes ulang : dengan satu alat ukur dua waktu pengukuran yang berbeda.11
c) Diskriminatif
Diskriminatif diartikan kemampuan aitem membedakan individu. Individu
yang memiliki atribut dapat di beritahu oleh aitem. Individu yang tidak
memiliki atribut alat ukur pun dapat dijawab oleh aitem tersebut. Diskriminatif
dapat di tempuh melalui tiga metode; daya beda aitem, kesukaran aitem dan
efektivitas distraktor.
d) Standar
Standar diartikan memiliki kriteria objektif dalam berbagai proses
berkaitan dengan alat ukur. Alat ukur memiliki kelengkapan alat ukur (waktu,
bentuk penyajian, instrumen) setara. Siapa pun yang melakukan tes tersebut
harus dalam durasi waktu yang telah di tentukan. Bentuk penyajian apakah
yang dibacakan, membaca sendiri atau mengerjakan sesuatu harus sama antara
individu satu dengan yang lain. Metode pemberian skor seperti apa yang telah
ditentukan dan bentuk alat ukur harus juga sama baik ukuran, warna maupun
berat.
e) Praktis

11
Jelpa Periantalo, Validitas Alat Ukur Psikologi. hlm 20-21

6
Praktis diartikan dapat digunakan dengan cara yang mudah. Metode
instruksi yang ada di dalam alat ukur tersebut sederhana. Subjek meupun tester
dapat menggunakan dengan mudah sehingga tidak bertele-tele.
f) Bermanfaat
Alat ukur psikologi harus bermanfaat demi kesejahteraan manusia.
Manfaat minimal adalah dalam penelitian psikologi. alat ukur harus dapat
membantu dalam menjelaskan berbagai fenomena yang ada. Bahkan, alat ukur
tersebut sebaiknya memiliki kekuatan dalam memprediksi perilaku masa
depan. Alat ukur bisa dijadikan dasar dalam mengetahui keadaan psikologis
seseorang untuk berikutnya dilakukan tindak lanjut. Alat ukur bisa memberi
gambaran tentang keadaan emosi, taraf kecerdasan, kepribadian, minat bakat
seseorang sehingga dapat dilakukan intervensi bagi individu yang
bersangkutan.12
Adapun konstrak psikologis umumnya minimal memiliki salah satu dari
tiga aspek, yaitu :
1) Aspek afektif
Aspek afektif berkaitan dengan faktor perasaan yang ada dalam
individu. Terkait dengan konstruk, maka konstruk psikologi dapat
menjelaskan bagaimana dinamika emosi pada diri individu
berdasarkan konstruk tersebut. Misalnya dalam konstruk kompetensi
moral versi Lind akan dilihat bahwa kompetensi moral diawali berupa
rasa suka atau tidak suka individu dalam menilai sesuatu. Suka dan
tidak suka merupakan aspek afeksi dan oleh karenanya konstruk
kompetensi moral merupakan salah satu atribut psikologi.
2) Aspek kognitif
Aspek kognitif adalah aspek pikiran yang ada dalam diri
individu. Misalnya contoh konstruk ini adalah memori, yaitu
kemampuan individu untuk memasukkan informasi, menahan
(menyimpan) informasi tersebut dan mengeluarkan kembali.
Berdasarkan konsep memori ini, maka dapat dipastikan bahwa memori
merupakan konstruk psikologi.

12
Jelpa Periantalo, Validitas Alat Ukur Psikologi. hlm22

7
3) Aspek psikomotor
Psikomotor adalah aspek perilaku. Dalam konsep psikomotor, yang
dimaksud adalah perilaku manusia baik perilaku makro (misalnya;
jalan) dan perilaku mikro (misalnya; tersenyum). Salah satu contoh
konstruk ini adalah agresi, yaitu perilaku yang dilakukan dengan
tujuan menyakiti orang lain baik rasa sakit secara fisik maupun
psikis.13

4. Jenis konstrak psikologi


Jenis konstrak merupakan hal yang penting untuk diketahui dalam penyusunan
alat ukur maupun penelitian psikologi. Periantalo (2014) mengatakan bahwa
pengetahuan jenis konstrak berdampak pada banya hal terutama pada propertis
psikometris. Teknik psikometris apa yang digunakan tergantung pada jenis
konstrak tersebut. Konstrak juga mengambarkan metode penskalaan apa yang
akan digunakan dan metode analisis juga tergantung pada konstrak tersebut.14
Adapun jenis konstrak psikologi adalah :
1) Konstrak linear
Konstrak linear mengungkap satu hal secara satu arah. Komponen
yang ada dalam konstrak tersebut secara bersama mengungkap satu jenis
konstrak saja. Komponen satu dengan yang lain memiliki kesamaan
karakteristik. Komponen tersebut mendukung satu sama lain. Begitu juga
dengan indikator perilaku dan aitem yang ada di dalam konstrak tersebut
mendukung satu sama lain. Komponen, indikator, maupun aitem dalam suatu
konstrak tersebut bida dikatakan mirip. Ketiganya memiliki kesamaan ciri
yang kuat bersama mencapai satu arah. Sebagian besar konstrak psikologi
berkonstrak linear, misalnya; motivasi belajar, komitmen organisasi,
kepuasaan konsumen, stres terhadap ujian dan kepatuhan minum obat
pasien.15
2) Konstrak bipolar

13
Shobahus Syahdiyah, Makna Konstruk Psikologi. 08 Maret 2017. Id.scribd.com diakses pada Kamis,
26 September 2019
14
Jelpa Periantalo, Validitas Alat Ukur Psikologi. hlm 10
15
Jelpa Periantalo, Validitas Alat Ukur Psikologi. hlm 11

8
Konstrak bipolar mengungkap dua hal yang berlawanan sekaligus. Jika
seseorang tidak memiliki aspek yang satu, ia berada pada aspek yang kedua.
Dimana saat seseorang memiliki skor yang tinggi pada satu aspek, ia akan
memiliki skor yang rendah pada spek yang lain. Pada dunia psikologi, ada
berbagai alat ukur yang menggunakan konstrak ini. Alat ukur yang paling
berkaitan adalah MBTI (Myers Briggs Type Indicator). Alat ukur yang juga
memiliki konstrak bipolar yaitu 16 Personality Factors.16
3) Konstrak ortogonal
Konstrak ortogonal mengungkap hal yang berbeda satu sama lain. Dalam
konstrak ini, terdapat berbagai jenis. Skor akhir dari konstrak ini adalah skor
dari masing-masing jenis tersebut dan tidak ada skor total untuk alat ukur
tersebut secara utuh. Jika konstrak mengungkap tiga jenis, maka akan ada tiga
skor pula. Konstrak seperti ini mudah ditemukan terutama pada alat ukur yang
sudah terstandarisasi. Sebagaian alat ukur yang sudah terstandarisasi
menggunakan model ini, seperti; EPPS, RMIB, Kuder, Papi Kostik, DISC,
Holland.

5. Aspek Dalam Konstruk


Setiap konsep psikologi dalam bentuk konstruk memiliki unsur pembentuk
dari konsep konstruk tersebut. Konsep pembentuk konstruk ini dikenal dengan
istilah aspek. Selain aspek, unsur ini juga dikenal dengan istilah dimensi dan
atribut. Aspek ini merupakan hal-hal apa saja yang menjadi dasar konseptual dari
tiap konstruk.
Beberapa konstruk hanya memiliki satu aspek namun konstruk yang lain bisa
terdeiri dari beberapa aspek. Selain itu ada konstruk yang memiliki aspek
kompleks. Berdasarkan perbedaan jumlah aspek dalam konstruk, maka alat ukut
yang dibuat memiliki keunikan sesuai dengan konsep konstruknya.
a. Konstruk dengan satu aspek
Tes kreatifitas verbal merupaakan salah satu alat ukur yang dibuat dari
konstruk psikologi yang memiliki satu aspek. Berdasarkan konstruk ini,
kreativitas verbal hanya akan menggali bagaimana kreatifitas seseorang dilihat
dari kemampuannya memproduksi kata-kata. Berdasarkan asumsi konstruk

16
Jelpa Periantalo, Validitas Alat Ukur Psikologi. hlm 12

9
ini, makin mampu seseorang memproduksi kata-kata maka akan semakin
kreatif orang tersebut.
b. Konstruk dengan banyak aspek
Tes intelegensi merupakan salah satu konstruk yang unik. Beberapa
ilmuan menempatkan konstruk intelegensi sebagai konstruk dengan satu aspek
yaitu kemampuan berpikir abstrak namun ilmuan lain menempatkannya dalam
konstruk dengan beberapa aspek. Dalam konstruk intelegensi yang memiliki
banyak aspek, intelegensi dianggap sebagai kemampuan untuk menyelesaikan
permasalahan dalam kehidupan seseorang dengan demikian tes intelegensi
akan disesuaikan dengan permasalahan hidup dan kemampuan menyelesaikan
permasalahan tersebut.
c. Konstruk kompleks
Konstruk yang kompleks adalah konstruk yang tidak sekedar memiliki
beberapa aspek namun juga aspek dari konstruk dapat bertingkat dan masng-
masing tingkat dapat memiliki satu atau lebih aspek didalamnya. Beberapa
pengukuran psikologi yang memiliki kontruk yang kompleks adalah
kompetensi moral dan kesabaran.
Tes kesabaran memiliki konstruk yang cukup kompleks karena
didalamnya terdapat aspek utama dan aspek pendukung. Tiap aspek utama
dapat melibatkan beberapa aspek pendukung namun aspek pendukung tidak
dapat diukur terpisah dari aspek utama. Dengan demikian instrumen
pengukuran kesabaran menjadi lebih kompleks dari sekedar konstruk yang
memiliki satu atau beberapa aspek yang pararel.17

6. Tahapan penyusunan alat ukur psikologi


a. Penetapan konstrak
Peneliti menetapkan konstrak yang hendak di buat. Penetapan konstrak
ini adalah menjelaskan apa yang hendak di susun. Penliti mencari definisi
yang jelas tentang konstrak tersebut, melihat apa jenis konstraknya. Karena
jenis konstrak berdampak terhadap hal-hal yang dijelaskan berikutnya. Peneliti
pun harus menjelaskan tujuan penyusunan tes.

17
Shobahus Syahdiyah, Makna Konstruk Psikologi. 08 Maret 2017. Id.scribd.com diakses pada Kamis,
26 September 2019

10
b. Review konstrak beserta komponennya
Konstrak yang telah ditetapkan harus dilihat komponen yang
membentuknya. Komponen ini dapat berasal dari literatur, penelitian,
wawancara, observasi maupun buku pedoman. Komponen tersebut kemudian
harus di review oleh peneliti, rekan dan tentunya ahli konstrak tersebut.
Komponen tersebut kemudian di jabarkan melalui indikator perilak. Hal ini
bertujuan untuk memastikan bahwa konstrak, komponen dan indikator
perilaku selaras.
c. Penulisan aitem dan pemilihan model penskalaan
Indikator perilaku yang di buat menjadi batu pijak penulisan aitem.
Penulisan aitem memiliki kaidah yang perlu di taati. Penulisan aitem yang
tepat mengarah ke validitas alat ukur. Benar atau salahnya suatu alat ukur
psikologi tergantung pada penulisan aitem ini. Dalam penulisan aitem, peneliti
juga melihat format penskalaan yang dipilih, dan berdampak pada tata cara
pemberian skor.
d. Review penulisan aitem
Item yang ditulis harus di review untuk memastikan bahwa aitem yang
dibuat sudah sesuai dengan konstrak. Review aitem di mulai oleh peneliti
memastikan aitem sudah sesuai indikator, kemudian peneliti disarankan
meminta rekan peneliti untuk mereview lagi aitem tersebut. Berikutnya,
peneliti bertemu dengan ahli konstrak melihat aitem tersebut lalu peneliti juga
bertemu dengan ahli psikometri dengan tujuan meminta tanggapan tentang
aitem yang dibuat.
e. Uji validitas isi
Validitas isi ini terdiri dari validitas logis dan validitas tampang. Penetapan
konstrak, review konstrak sampai review aitem merupakan bagian dari
validitas logis. Uji validitas isi ini memastikan bahwa konstrak, komponen dan
indikator perilaku sampai aitem selaras. Uji validitas ini dilakukan sebelum uji
coba tes. Sedangkan validitas tampang bertujuan mendapatkan apresiasi
subjek agar termotivasi untuk mengerjakan alat ukur dengan sungguh-
sungguh.
f. Uji coba alat ukur
Aitem yang sudah direview disiapkan untuk uji coba. Peneliti menguji aitem
alat ukur tersebut pada sekelompok subjek.

11
g. Analisis kuantitatif
Aitem yang sudah diuji coba kemudian dianalisis secara kuantitatif. Respon
jawaban dimanifestasikan dalam skor. Analisis yang biasa digunakan adalah
indeks diskriminasi aitem. Indeks daya beda aitem digunakan untuk melihat
apakah aitem mampu melihat apakai aitem mampu membedakan individu atau
tidak. Aitem kemudian diklasifikasikan agar bisa mengetahui aitem bisa
diterima atau tidak. Jika tidak, maka harus direvisi total atau dibuang.
h. Perakitan alat ukur final
Aitem yang diterima menjadi landasan perakitan alat ukur final. Aitem
tersebut dirakit sedemikian rupa. Perakitan bisa berdasakan spesifikasi aitem
yang direncanakan dari awal. Spesifikasi menjelaskan berapa proporsi aitem
indikator perilaku maupun komponen yang dibuatnya. Pemilihan aitem
mempertimbangkan skor kuantitatif yang didapat. Aitem dengan skor lebih
baik diutamakan dalam perakitan alat ukur. Kemiripan aitem pun perlu
dihindari.
i. Pembuatan norma dan interpretasi
Norma menjelaskan klasifikasi skor yang didapat subjek. Klasifikasi
ditafsirkan melalui interpretasi. Interpretasi menjelaskan makan dari
klasifikasi tersebut. Norma juga bisa menjelaskan kedudukan subjek dalam
kontrak yang hendak diungkap serta kedudukannya dengan subjek lain dalam
kelompok tertentu. Pembuatan norma ini menyesuaikan dengan jenis konstrak
yang dipilih. Norma dan interpretasi ini dituangkan dalam buku panduan tes.
j. Uji realibilitas
Alat ukur yang sudah dirakit diuji reliabilitas. Reliabilitas mengacu kepada
konsistensi atau keakuratan hasil ukur.
k. Uji validitas konstrak
Validitas konstrak merupakan jenis validitas kuantitatif yang didasakan data
empirik lapangan. Validitas ini merupakan uji isi alat ukur dengan dirinya
sendiri atau dengan hal lain yang setara.
l. Uji validitas kriteria.18

18
Jelpa Periantalo, Validitas Alat Ukur Psikologi. hlm 23-27

12
PENUTUP

KESIMPULAN

Atribut kemampuan psikologi adalah atribut yang menunjukkan kapasitas intelektual


atau fungsi fikir manusia. Yang meliputi prestasi belajar, intelegensi dan potensi khusus.
Untuk mengukur atribut kognitif ini diperlukan tes sebagai alat ukurnya. Adapun atribut non-
kognitif atau atribut yang bukan kemampuan kognitif kadang-kadang disebut sebagai atribut
kepribadian dan sebagai atribut efektif. Menyangkut metode penyususnan instrumen, atribut
non kognitif dikenal sebagai performasi tipikal (mengikuti definisi Cronbach, 1970).
Performansi tipikal inilah yang menjadi objek ukur skala-skala psikologi. Untuk pengukuran
atribut non kognitif diperlukan respon jenis ekspresi sentimen, yaitu jenis respon tidak dapat
dinyatakan benar atau salah, atau sering dikatakan semua respon benar menurut alasannya
masing-masing.

Konstrak menurut Widhiarso (2010) adalah tingkat abstraksi yang tertinggi yang
berguna untuk menginterpretasikan data dan pengembangan teori. Konstrak tersebut di
manifestasikan dalam bentuk data baik kualitatif maupun kuantitatif. Manifestasi tersebut
dalam sebuah kajian ilmiah melalui berbagai metode pengumpulan data. Dan setidaknya ada
tiga metode utama pengumpulan data, yaitu : pengukuran, observasi dan wawancara.

13
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. (2010). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, S. (2015). Dasar-Dasar Psikometrika Edisi II. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Chaplin, J. (2014). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Periantalo, J. (2015). Vliditas Alat Ukur Psikologi : Aplikasi Praktis. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Syahdiyah, S. (2017, Maret 08). Makna Konstruk Psikologi. Dipetik September Kamis, 2019,
dari Id.scribd.com.

14
No Nama/Nim Pertanyaan Jawaban Sanggahan

Banjarmasin, 27 September 2019

Moderator

15

Anda mungkin juga menyukai