Anda di halaman 1dari 15

Pemeriksaan Persediaan 50

(Inventories) |

4.1 Pengertian
Menurut PSAK No.14 (IAI, 2002 : 14.1-14.2, 14.9) persediaan adalah aktiva :
a. yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.
b. dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau
c. dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam
proses atau pemberian jasa.

Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali, misalnya
barang dagang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah dan
properti lainnya untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakup barang jadi yang
telah diproduksi, atau barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi
perusahaan, dan termasuk bahan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam
proses produksi.

Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya
lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk
dijual atau dipakai.
Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi, mana yang lebih
rendah (the lower of cost and net realiable value).

Persediaan mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :


o biasanya merupakan aktiva lancar (current assets) karena masa perputarannya
biasanya kurang atau sama dengan satu tahun.
o merupakan jumlah yang besar, terutama dalam perusahaan dagang dan industri
o mempunyai pengaruh yang besar terhadap neraca dan perhitungan laba rugi,
kesalahan dalam menentukan persediaan pada akhir periode akan
mengakibatkan kesalahan dalam jumlah aktiva lancar dan total aktiva, harga
pokok penjualan, laba kotor dan laba bersih, taksiran pajak penghasilan,
pembagian dividen dan laba rugi ditahan, kesalahan tersebut akan terbawa ke
laporan keuangan periode berikutnya.
Pemeriksaan Persediaan 51
(Inventories) |

Contoh dari perkiraan-perkiraan yang biasa digolongkan sebagai persediaan adalah :


o Bahan baku (raw materials)
o Barang dalam proses (work in process)
o Barang jadi (finished goods)
o Suku cadang (spare-parts)
o Bahan pembantu : olie, bensin, solar
o Barang dalam perjalanan (goods in transit), yaitu barang yang sudah dikirim
oleh supplier tetapi belum sampai di gudang perusahaan.
o Barang konsinyasi : consignment out (barang perusahaan yang dititip jual pada
perusahaan lain). Sedangkan consignment in (barang perusahaan lain yang
dititip jual di perusahaan) tidak boleh dilaporkan/dicatat sebagai persediaan
perusahaan.

4.2 Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives) Persediaan


1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas
persediaan.
2. Untuk memeriksa apakah persediaan yang tercantum di neraca betul-betul ada
dan dimiliki oleh perusahaan pada tanggal neraca.
3. Untuk memeriksa apakah metode penilaian persediaan (valuation) sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/Standar Akuntansi
Keuangan.
4. Untuk memeriksa apakah sistem pencatatan persediaan sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.
5. Untuk memeriksa apakah terhadap barang-barang yang rusak (defective),
bergerak lambat (slow moving) dan ketinggalan mode (absolescence) sudah
dibuatkan allowance yang cukup.
6. Untuk mengetahui apakah ada persediaan yang dijadikan jaminan kredit.
7. Untuk mengetahui apakah persediaan diasuransikan dengan nilai
pertanggungan yang cukup.
8. Untuk mengetahui apakah ada perjanjian pembelian/penjualan persediaan
(purchase/ sales commitment) yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap
laporan keuangan.
Pemeriksaan Persediaan 52
(Inventories) |

9. Untuk memeriksa apakah penyajian persediaan dalam laporan keuangan sudah


sesuai dengan prisinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.

Penjelasan atas tujuan pemeriksaan :


1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas
persediaan. Jika akuntan publik dapat meyakinkan dirinya bahwa internal
control atas perolehan, penyimpanan dan pengeluaran persediaan berjalan
efektif, maka luasnya pemeriksaan dalam melakukan substantive test atas
persediaan dapat dipersempit.

Beberapa ciri internal control yang baik atas persediaan adalah :


a. Adanya segregation of duties (pemisahan tugas dan tanggung jawab)
antara bagian pembelian, penerimaan barang, gudang, akuntansi dan
keuangan.
b. Digunakannya formulir-formulir yang prenumbered (bernomor urut
tercetak), seperti : purchase requisition (permintaan pembelian), purchase
order (pesanan pembelian), delivery order (surat jalan), receiving report
(laporan penerimaan barang), sales order (pesanan penjualan), sales
invoice (faktur penjualan).
c. Untuk pembelian dalam jumlah besar dilakukan melalui tender.
d. Adanya sistem otorisasi, baik untuk pembelian, penjualan, penerimaan
kas/bank, maupun pengeluaran kas/bank.
e. Digunakannya anggaran (budget) untuk pembelian, produksi, penjualan,
dan penerimaan serta pengeluaran kas.
f. Pemesanan barang dilakukan dengan memperhitungkan economic order
quantity dan iron stock.
g. Digunakannya perpetual inventory system dan stock card, terutama di
perusahaan, yang nilai persediaan per jenisnya cukup material.
2. Untuk memeriksa apakah persediaan yang tercantum di neraca betul-betul ada
dan dimiliki oleh perusahaan pada tanggal neraca.
3. Untuk memeriksa apakah metode penilaian persediaan sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan. Pada umumnya persediaan dinilai berdasarkan harga
Pemeriksaan Persediaan 53
(Inventories) |

perolehan (acquisition cost), dalam hal ini bisa dipilih metode FIFO (first in
first out), LIFO (last in first out) atau AVERAGE COST (moving average atau
weighted average).
Untuk barang-barang yang harga jualnya sudah pasti (logam mulia) atau cepat
rusak (hasil pertanian seperti sayuran dan buah-buahan) bisa di nilai
berdasarkan harga jual. Untuk barang-barang yang usang, rusak atau bergerak
lambat bisa diadakan penyisihan (allowance) sehingga sesuai dengan metode
lower of cost or market (mana yang lebih rendah antara harga perolehan dan
harga pasar). Dalam keadaan inflasi, penggunaan FIFO akan mengakibatkan
harga pokok penjualan rendah dan laba kotor menjadi tinggi; penggunaan
LIFO akan menghasilkan laba kotor yang rendah; penggunaan AVERAGE
COST akan menghasilkan laba kotor yang lebih kecil dibandingkan FIFO
tetapi lebih besar dari penggunaan LIFO.
Dari segi undang-undang pajak tidak diperkenankan menggunakan LIFO
karena berarti pajak yang terutang akan lebih kecil dibandingkan penggunaan
FIFO dan AVERAGE COST.
4. Untuk memeriksa apakah sistem pencatatan persediaan sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Ada dua sistem pencatatan persediaan yang biasa digunakan, yaitu perpetual
system dan physical (periodical) system. Dalam perpetual system, setiap ada
pembelian, perkiraan persediaan akan didebit, setiap ada penjualan, perkiraan
persediaan akan dikredit. Jika digunakan physical system, perkiraan persediaan
tidak pernah didebit waktu pembelian dan tidak pernah dikredit waktu ada
penjualan. Karena itu jika perusahaan ingin mengetahui berapa saldo
persediaan pada akhir periode, harus dilakukan stock opname (perhitungan
phisik persediaan).
Jika perusahaan ingin memperkirakan berapa saldo persediaan pada akhir
bulan atau tanggal tertentu bisa digunakan Retail Inventory Method atau Gross
Profit Method. Namun demikian pada akhir tahun tetap terus dilakukan stock
opname, agar bisa diketahui berapa saldo persediaan yang betul-betul dimiliki
perusahaan. Perbedaan pencatatan antara perpetual dan physical inventory
system :
Pemeriksaan Persediaan 54
(Inventories) |

Perpetual Physical
Pembelian : Dr. Persediaan xx Dr. Pembelian xx
Cr. Utang/Kas xx Cr. Utang/Kas xx

Penjualan : Dr. Piutang/Kas xx Dr. Piutang/Kas xx


Cr. Penjualan xx Cr. Penjualan xx

Dr. Harga Pokok Penjualan xx ---


Cr. Persediaan xx

Perpetual system biasanya digunakan pada perusahaan yang jenis


persediaannya tidak banyak tetapi nilai persediaan per unitnya besar, misalnya
dealer mobil dan toko emas. Phisycal system biasanya digunakan pada
perusahaan yang jenis persediaannya banyak tetapi nilai persediaan per unitnya
kecil, misalnya toko bahan bangunan.
5. Untuk mengetahui apakah terhadap barang-barang yang rusak, bergerak lambat
dan ketinggalan mode sudah dibuatkan allowance yang cukup.
6. Untuk mengetahui apakah ada persediaan yang dijadikan jaminan kredit. Salah
satu bentuk barang jaminan dari kredit yang diperoleh dari bank adalah
persediaan. Jika ada persediaan yang dijadikan jaminan, hal ini harus
diungkapkan (di disclose) dalam catatan atas laporan keuangan (notes to
financial statements).
7. Untuk mengetahui apakah persediaan diasuransikan dengan nilai
pertanggungan (insurance coverage) yang cukup.
Persediaan harus diasuransikan, sehingga seandainya terjadi kebakaran, bisa
diperoleh ganti rugi dari perusahaan asuransi dan perusahaan bisa terhindar
dari kerugian karena kebakaran tersebut.
8. Untuk mengetahui apakah ada perjanjian pembelian/penjualan persediaan yang
mempunyai pengaruh yang besar terhadap laporan keuangan.
9. Untuk memeriksa apakah penyajian persediaan dalam laporan keuangan sudah
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.
Dalam hal ini harus diketahui sistem pencatatan persediaan yang digunakan
(perpetual atau physical system) dan metode penilaian persediaan yang
digunakan perusahaan (apakah berdasarkan harga perolehan, dengan FIFO,
LIFO atau Average cost method), apakah sudah diterapkan lower of cost or
market atas persediaan tersebut ?
Pemeriksaan Persediaan 55
(Inventories) |

4.3 Prosedur Pemeriksaan (Audit Procedures) Atas Persediaan


Prosedur pemeriksaan dibagi atas prosedur compliance test, analytical review
dan substantive test. Dalam praktiknya, prosedur pemeriksaan yang dibahas di sini
harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan yang diaudit. Prosedur pemeriksaan
persediaan mencakup pembelian, penyimpanan, pemakaian dan penjualan
persediaan, karena berkaitan dengan siklus pembelian, utang dan pengeluaran kas
serta siklus penjualan, piutang dan penerimaan kas.

Prosedur pemeriksaan untuk compliance test :


1. Pelajari dan evaluasi internal control atas persediaan.
Dalam hal ini auditor biasanya menggunakan internal control questionnaires.
Lakukan test transaksi (compliance test) atas pembelian dengan menggunakan
purchase order sebagai sample. Untuk test transaksi atas pernakaian persediaan
(bahan baku) bisa digunakan material requisition sebagai sample. Untuk test
transaksi atas penjualan, bisa digunakan faktur penjualan sebagai sample.
2. Tarik kesimpulan mengenai internal control atas persediaan.
Jika dari test transaksi auditor tidak menemukan kesalahan yang berarti, maka
auditor bisa menyimpulkan bahwa internal control atas persediaan berjalan
efektif. Karena itu substantive test atas persediaan, bisa dipersempit.

Prosedur pemeriksaan substantive atas persediaan :


1. Lakukan observasi atas stock opname (perhitungan phisik) yang dilakukan
perusahaan (klien).
2. Minta Final Inventory List (Inventory Compilation) dan lakukan prosedur
pemeriksaan berikut ini :
o check mathematical accuracy (penjumlahan dan perkalian).
o cocokkan “quantity per book” dengan stock card.
o cocokkan “quantity per count” dengan “count sheet” kita (auditor)
o cocokkan “total value” dengan buku besar persediaan.
3. Kirimkan konfirmasi untuk persediaan consignment out.
4. Periksa unit price dari raw material (bahan baku), work in process (barang dalam
proses), finished goods (barang jadi) dan supplies (bahan pembantu).
Pemeriksaan Persediaan 56
(Inventories) |

5. Lakukan rekonsiliasi jika stock opname dilakukan beberapa waktu sebelum atau
sesudah tanggal neraca.
6. Periksa cukup tidaknya allowance for slow moving (barang-barang yang bergerak
lambat), barang-barang yang rusak dan barang-barang yang ketinggalan mode.
7. Periksa kejadian sesudah tanggal neraca (subsequent event).
8. Periksa cut-off penjualan dan cut-off pembelian.
9. Periksa jawaban konfirmasi dari bank, loan agreement (perjanjian kredit),
notulen rapat.
10. Periksa apakah ada sales atau purchase commitment per tanggal neraca.
11. Seandainya ada barang dalam perjalanan (goods in transit), lakukan prosedur
berikut ini :
o minta rincian goods in transit per tanggal neraca.
o periksa mathematical accuracy,
o periksa subsequent clearance.
12. Buat kesimpulan dari hasil pemeriksaan persediaan dan buat usulan adjustment
jika diperlukan.
13. Periksa apakah penyajian persediaan di laporan keuangan sudah sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.

Penjelasan Prosedur Audit :


1. Lakukan observasi atas stock opname yang dilakukan klien. Stock opname
dilakukan terutama untuk persediaan yang berada di gudang perusahaan. Untuk
barang consignment out dan barang-barang yang tersimpan di public
warehouse jika jumlahnya material harus dilakukan stock opname, jika tidak
material, cukup dikirim konfirmasi. Stock opname bisa dilakukan pada akhir
tahun atau beberapa waktu sebelum/sesudah akhir tahun. Untuk perusahaan
yang internal controlnya lemah, stock opname sebaiknya dilakukan pada
tanggal neraca.

2. Minta Daftar Hasil Stock Opname (Final Inventory List/Inventory Compilation).


Prosedur yang harus dilakukan terhadap Final Inventory List tersebut adalah :
o Check mathematical accuracy (penjumlahan dan perkalian)
Pemeriksaan Persediaan 57
(Inventories) |

o Cocokkan jumlah kolom value dengan saldo menurut buku besar


persediaan.
o Cocokkan jumlah menurut kolom stock card dengan saldo menurut stock
card (test basis).
o Bandingkan quantity per count dengan jumlah menurut count sheet auditor
(hanya bisa untuk barang yang ikut dihitung oleh auditor).
3. Kirimkan konfirmasi untuk persediaan consignment out (persediaan perusahaan
yang dititip jual ke perusahaan lain).
Biasanya barang konsinyasi jumlahnya tidak terlalu besar sehingga lebih
praktis untuk mengirim konfirmasi dibandingkan jika auditor harus
menghitungnya, selain itu auditor juga bisa memeriksa bukti pengiriman
barang konsinyasi tersebut.
4. Periksa unit price dari raw material, work in process, finished goods dan
supplies, untuk raw materials dan supplies : periksa faktur pembelian (supplier
invoice) yang terakhir dan perhatikan apakah perusahaan menggunakan FIFO,
LIFO atau Average Cost ?
5. Lakukan rekonsiliasi antara saldo menurut stock opname dan saldo per tanggal
neraca jika stock opname dilakukan beberapa waktu sebelum atau sesudah
tanggal neraca.
6. Periksa cukup tidaknya allowance untuk barang-barang yang bergerak lambat,
rusak dan ketinggalan mode.
7. Periksa kejadian sesudah tanggal neraca (subsequent event).
Tujuannya untuk mengetahui apakah ada penjualan fiktif yang dicatat untuk
memperbesar jumlah laporan penjualan (salah satu bentuk window dressing)
dan kumudian di awal periode berikutnya di-reverse/dibuat jurnal balik.
Untuk mencatat penjualan fiktif dibuat jurnal :

Dr. Piutang xx
Cr. Penjualan xx

Dan jika digunakan perpetual system ada tambahan jurnal :

Dr. Harga Pokok Penjualan xx


Cr. Persediaan xx
Pada awal periode berikutnya dibuat reversing entry :
Pemeriksaan Persediaan 58
(Inventories) |

Dr. Penjualan xx
Cr. Piutang xx

dan jika digunakan perpetual system ada tambahan jurnal :

Dr. Persediaan xx
Cr. Harga Pokok Penjualan xx

8. Periksa cut-off penjualan dan cuf-off pembelian.


Tujuannya untuk meyakinkan jangan sampai ada pergeseran waktu dalam
pencatatan penjualan dan pembelian. Jadi jangan sampai ada penjualan tahun
2008 yang dicatat sebagai penjualan tahun 2009 atau penjualan 2009 yang
dicatat sebagai penjualan 2008. Perhatikan juga syarat pengiriman barang
apakah FOB shipping point atau FOB destination point.
9. Periksa jawaban konfirmasi bank, loan agreement (perjanjian kredit), notulen
rapat (minutes of meeting).
Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah ada persediaan yang dijadikan
sebagai barang jaminan atas kredit yang diperoleh perusahaan dari pihak
ketiga. Jika ada tentunya akan disebutkan dalam jawaban konfirmasi bank,
perjanjian kredit dan notulen rapat. Dan jika ada persediaan yang dijaminkan,
maka hal tersebut harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan (notes
to financial statements).
10. Periksa apakah ada sales atau purhase commitment pertanggal neraca. Jika ada
purchase atau sales commitment yang menimbulkan kerugian yang material
bagi perusahaan dalam periode berikutnya, hal tersebut harus dijelaskan dalam
catatan atas laporan keuangan.
Untuk itu auditor harus memeriksa kontrak penjualan dan pembelian yang
realisasinya akan dilakukan di periode berikutnya, dan memeriksa apakah ada
penurunan harga beli atau harga jual di pasar (market value) di periode
berikutnya.
11. Jika ada barang dalam perjalanan, lakukan prosedur audit yang diperlukan.
Prosedur auditnya adalah :
o Minta rincian barang dalam perjalanan pertanggal neraca.
o Periksa perhitungan mathematisnya (penjumlahan dan perkalian).
Pemeriksaan Persediaan 59
(Inventories) |

o Periksa apakah syarat pengiriman barang menggunakan free on board


(fob) shipping point atau fob destination point. Jika digunakan fob
destination point, disebut juga toko gudang pembeli, berarti hak milik
(title of ownership) dari barang akan berpindah dari tangan penjual ke
tangan pembeli pada saat barang tiba di gudang pembeli, dan ongkos
angkut menjadi tanggungan penjual. Jika digunakan fob shipping point,
disebut juga toko gudang penjual, berarti hak milik dari barang akan
berpindah dari tangan penjual ke tangan pembeli pada saat barang siap di
atas alat pengangkut (truk atau kapal), dan ongkos angkut menjadi
tanggungan pembeli.
o Periksa subsequent clearance (penyelesaian sesudah tanggal neraca).
Dalam hal ini auditor harus menanyakan kepada klien dan memeriksa
bukti pendukung, apakah sesudah tanggal neraca barang dalam perjalanan
tersebut sudah diterima. Bukti yang harus diperiksa adalah laporan
penerimaan barang (receiving report). Jika sesudah tanggal neraca, sampai
mendekati tanggal selesainya pemeriksaan lapangan, barang dalam
perjalanan belum juga diterima, kemungkinan terjadi pembatalan
pembelian atau kesalahan pencatatan. Misalnya pada waktu dikirim
purchase order dan dibayar uang muka pembelian dicatat :

Dr. Barang dalam perjalanan Rp.10.000.000


Cr. Kas/Bank Rp. 1.000.000
Cr. Utang Dagang Rp. 9.000.000

Pada saat barang diterima seharusnya dicatat :

Dr. Persediaan Rp.10.000.000


Cr. Barang dalam perjalanan Rp.10.000.000

Tetapi oleh bagian akuntansi (karena kurang teliti dan tidak di check
dahulu) dicatat :

Dr. Persediaan Rp.10.000.000


Cr. Utang Dagang Rp.10.000.000

Karena itu barang dalam perjalanan terus terlihat di buku besar dan neraca
sebesar Rp.10.000.000,- padahal per tanggal neraca barangnya sudah
diterima. Auditor harus mengusulkan audit adjustment sebagai berikut :
Pemeriksaan Persediaan 60
(Inventories) |

Dr. Utang Dagang Rp.10.000.000


Cr. Barang dalam perjalanan Rp.10.000.000

12. Buat kesimpulan dari hasil pemeriksaan persediaan dan dibuat usulan audit
adjustment jika diperlukan.
Auditor harus menyimpulkan (biasanya ditulis di Top Schedule) apakah
berdasarkan prosedur pemeriksaan yang telah dilakukannya, persediaan
disajikan secara wajar atau tidak.
13. Periksa apakah penyajian persediaan di laporan keuangan sudah sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.

4.4 Rangkuman

o Menurut SAK persediaan adalah aktiva : (a) yang tersedia untuk dijual dalam
kegiatan usaha normal, (b) dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan;
atau (c) dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan
dalam proses atau pemberian jasa.

o Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali,
persediaan juga mencakup barang jadi yang telah diproduksi, atau barang
dalam penyelesaian yang sedang diproduksi perusahaan, dan termasuk bahan
serta perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi.

o Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan
biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat
yang siap untuk dijual atau dipakai.

o Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi, mana yang lebih
rendah (the lower of cost and net realiable value).

o Persediaan mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : (a) biasanya merupakan


aktiva lancar (current assets) karena masa perputarannya biasanya kurang atau
sama dengan satu tahun, (b) merupakan jumlah yang besar, terutama dalam
Pemeriksaan Persediaan 61
(Inventories) |

perusahaan dagang dan industri, (c) mempunyai pengaruh yang besar terhadap
neraca dan perhitungan laba rugi.

4.5 Contoh Soal

1. Sebutkan pengertian persediaan menurut PSAK No.14 !


Jawab :
Persediaan adalah aktiva :
a. yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.
b. dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau
c. dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam
proses atau pemberian jasa.

2. Jelaskan cara pengukuran persediaan menurut Standar Akuntansi Keuangan !


Jawab :
Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi, mana yang lebih
rendah (the lower of cost and net realiable value).

3. Sebutkan ciri atau sifat-sifat dari perserdiaan !


Jawab :
o biasanya merupakan aktiva lancar (current assets) karena masa
perputarannya biasanya kurang atau sama dengan satu tahun.
o merupakan jumlah yang besar, terutama dalam perusahaan dagang dan
industri
o mempunyai pengaruh yang besar terhadap neraca dan perhitungan laba rugi,
kesalahan dalam menentukan persediaan pada akhir periode akan
mengakibatkan kesalahan dalam jumlah aktiva lancar dan total aktiva, harga
pokok penjualan, laba kotor dan laba bersih, taksiran pajak penghasilan,
pembagian dividen dan laba rugi ditahan, kesalahan tersebut akan terbawa
ke laporan keuangan periode berikutnya.
Pemeriksaan Persediaan 62
(Inventories) |

4.6 Soal Latihan

Petunjuk :
Tuliskan B jika menurut Saudara, kalimat berikut ini Benar dan
S jika Salah.

1. Dalam suatu perusahaan industri, persediaan terdiri dari barang dalam proses
dan barang jadi.
2. Kesalahan dalam menentukan persediaan pada akhir periode akan mengakibat-
kan kesalahan dalam perhitungan harga pokok penjualan dan laba perusahaan
hanya untuk periode tersebut.
3. Consignment-out merupakan bagian dari persediaan suatu perusahaan, sedang-
kan Consignment-in bukan merupakan persediaan perusahaan.
4. Salah satu tujuan pemeriksaan persediaan adalah untuk memeriksa apakah per-
sediaan yang tercantum di neraca betul-betul ada dan dimiliki oleh perusahaan
pada tanggal neraca.
5. Salah satu ciri dari internal control yang baik atas persediaan adalah
digunakannya sistem anggaran (budget) untuk pembelian, produksi, penjualan
dan penerimaan serta pengeluaran kas.
6. Barang yang harga jualnya sudah pasti (logam mulia) atau cepat rusak (hasil
pertanian seperti sayuran dan buah-buahan) bisa dinilai berdasarkan harga jual.
7. Dalam keadaan inflasi, penggunaan FIFO akan menghasilkan laba yang paling
rendah dibandingkan dengan penggunaan LIFO dan Average Cost.
8. Untuk menghindari kerepotan dalam melaksanakan stock opname, perusahaan
bisa saja menghitung jumlah persediaan akhir dengan menggunakan gross
profit method, karena metode tersebut sesuai dengan standar akuntansi
keuangan.
9. Perpetual system biasanya digunakan pada perusahaan yang jenis
persediaannya banyak tetapi nilai persediaan per unitnya kecil.
10. Jika ada persediaan yang dijadikan jaminan kredit yang diperoleh perusahaan
dari bank, hal tersebut harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.
11. Untuk memeriksa kewajaran dari nilai persediaan yang tercantum di neraca,
auditor harus memeriksa kewajaran dari jumlah (quantity) persediaan dan unit
Pemeriksaan Persediaan 63
(Inventories) |

costnya.
12. Untuk memeriksa kewajaran unit cost dari raw material, work in process, dan
finished goods, auditor harus melakukan test atas supplier invoice.
13. Untuk memeriksa apakah inventory dicantumkan di neraca berdasarkan “lower
of cost or market”, auditor harus membandingkannya dengan “Latest Invoice
Pric”.
14. Pencantuman nilai inventory di neraca berdasarkan “Replacement Cost” adalah
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
15. Untuk memeriksa kewajaran quantity inventory, auditor harus melakukan
pemeriksaan secara phisik dari inventory tersebut, sedapat mungkin 100%.
16. Dalam melakukan observasi atas inventory taking, auditor bertindak sebagai
pimpinan team dan auditorlah yang harus menyusun “Physical Inventory
Instruction”.
17. Observasi dari inventory taking harus dilakukan pada tanggal neraca atau
segera setelah/sebelum tanggal neraca.
18. Jika auditor tidak melakukan observasi atas inventory taking, dia bisa
melakukan prosedur alternatif untuk memeriksa kewajaran kuantitas inventory,
yaitu dengan melakukan test atas catatan akuntansi klien, misalnya : kartu
stock dan buku besar persediaan.
19. Untuk mengetahui apakah ada persediaan yang dijadikan jaminan, cara satu-
satunya yang dapat dilakukan auditor adalah memeriksa notulen rapat (minutes
of meeting) direksi.
20. Dalam menghitung landed cost dari barang import, beberapa unsurnya antara
lain cif, bea masuk, dan PPh 22.
21. Jika perusahaan menggunakan standard cost, seluruh variance yang timbul
harus dibebankan ke harga pokok penjualan.
22. Salah satu bentuk window dressing yang biasa dilakukan perusahaan adalah
mencatat sales commitment sebagai penjualan, walaupun penyerahan barang
baru dilakukan di periode berikutnya.
23. Dalam menentukan jumlah persediaan per tanggal neraca, auditor tidak perlu
memperhatikan apakah syarat pengiriman barang FOB shipping point atau
destination point.
Pemeriksaan Persediaan 64
(Inventories) |

24. Jika syarat pengiriman barang adalah FOB shipping point, maka hak milik dari
barang akan berpindah dari penjual ke pembeli pada saat barang tiba di gudang
pembeli.
25. Jika perusahaan menghitung harga pokok penjualannya dengan menggunakan
variable costing, hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia.