Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM ULSTRASONOGRAFI

“TEKNIK PEMERIKSAAN USG


ABDOMEN 1 (LIVER, PEBULU DARAH, DAN BILLIARY SYSTEM”
Disusun untuk Memenuhi Tugas Semester IV Mata Kuliah Teknik Ultrasonografi Dasar
Dosen Pengampu : Ibu Ary Kurniawati,S.ST, M.Si

Disusun oleh:

Kelompok 3/Kelas 2B:

1. Alfahri Reza Mahendra (P1337430117048)


2. Rifqi Anisa (P1337430117051)
3. Khansa Intan Larasati (P1337430117052)
4. Destarani Ramadanti (P1337430117054)
5. Hesti Fitriatul Lubnaningtyas (P1337430117057)
6. Ashvini Nurulhidayah S. (P1337430117059)
7. Dyah Ayu Dwi Wardani (P1337430117061)
8. Ivani Betharia D.P.S (P1337430117082)
9. Loevian Robert Purwanto (P1337430117092)
10. Annisa Dewi Arumsari (P1337430117093)
11. Iwan (P1337430117098)

PRODI D-III TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI JURUSAN TEKNIK


RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI SEMARANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat

dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum ultrasonografi yang

berjudul “Teknik Pemeriksaan USG Abdomen 1 (Lver, Pembuluh Darah, dan Billiry System”.

Dalam penyusunan laporan praktikum ini penulis telah banyak mendapat bantuan,

bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu penulis tidak lupa mengucapkan

banyak terima kasih kepada :

1. Ibu Ary Kurniawati,S.ST, M.Si dosen pengampu Praktik Teknik Ultrasonografi

Dasar Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan

Kementrian Kesehatan Semarang.

2. Keluarga tercinta yang selalu memberi dukungan, semangat dan doa dengan tulus.

3. Rekan-rekan mahasiswa Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi

Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang.

4. Semua pihak yang telah turut serta membantu penyusunan makalah ini sehingga

dapat selesai tepat pada waktunya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari

kesempurnaan, mengingat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis. Oleh karena

itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi

kesempurnaan laporan ini. Akhir kata, penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat

bagi penulis sendiri dan juga bagi pembaca.

Semarang, 27 Maret 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang....................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan................................................................................................... 2
D. Manfaat Penulisan................................................................................................. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Ginjal………………………………………………………………….. 3
B. Dasar-dasar Pemeriksaan USG………………………………………………….. 15
C. Tinjauan Pesawat USG.......................................................................................... 16

BAB III ISI

A. Tata Laksana Praktikum........................................................................................ 21


B. Hasil Praktikum..................................................................................................... 25
C. Evaluasi dan Analisis Hasil Praktikum.................................................................. 27

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan............................................................................................................ 30
B. Saran...................................................................................................................... 30

DAFTAR REFERENSI..................................................................................................... 31

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ultrasonografi (USG) merupakan suatu prosedur diagnosis yang digunakan untuk

melihat struktur jaringan tubuh atau analisis dari gelombang Doppler, yang

pemeriksaannya dilakukan diatas permukaan kulit atau diatas rongga tubuh untuk

menghasilkan suatu ultrasound didalam jaringan.


Ultrasonografi dapat digunakan untuk mendeteksi berbagai kelainan yang ada

pada abdomen, otak, kandung kemih, jantung, ginjal, hepar, uterus atau pelvis. Selain

itu USG juga dapat digunakan untuk membedakan antara kista dan tumor. Pada

kehamilan cairan amnion dapat menambah refleksi gelombang suara dari plasenta dan

fetus sehingga dapat mengidentifikasi ukuran, bentuk dan posisi, kemudian dapat

mendeteksi pankreas, limpa, tiroid dan lain-lain.


USG abdomen (abdominal Ultrasound) adalah prosedur yang digunakan untuk

memeriksa organ-organ dalam perut menggunakan sebuah transduser USG (probe)

yang ditempelkan erat pada kulit perut. Gelombang suara energi tinggi dari transduser

memantul pada jaringan dan membuat gema. Gema ini dikirim ke komputer, yang

membuat citra / gambar yang disebut sonogram. Juga disebut USG transabdominal.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis menarik beberapa rumusan masalah,

antara lain:
1. Apakah Anatomi dari organ Liver, Pembuluh darah dan Billiary System?
2. Bagaimana dasar-dasar pemerksaan USG?
3. Bagaimana tinjauan pada Pesawat USG?

Bagaimana evaluasi dan analisa dari hasil praktikum USG Abdomen 1?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan laporan praktikum ini adalah sebagai berikut:

1
1. Dapat mengetahui anatomi dari organ Liver, Pembuluh darah dan Billiary

System.
2. Dapat mengetahui dasar-dasar dilakukannya pemriksaan USG
3. Dapat mengetahui tinjauan Pesawat USG
4. Dapat mengetahui evaluasi dan analisa dari asil praktikum USG Abdomen 1.

D. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan laporan praktikum ini adalah:
1. Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman bagi para pembaca pada

umumnya, dan bagi penyusun pada khususnya.


2. Dapat lebih mengetahui tentang pemeriksaan USG Abdomen 1 beserta indikasi

dan sonogramnya.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Anatomi

a. Sistem Billiari

2
Kandung empedu adalah sebuah kantong yang berfungsi menampung cairan

empedu yang dihasilkan oleh hati. Kandung empedu yang normal akan terlihat

sebagai satu bangunan kantong yang meskipun bervariasi bentuknya, pada

umumnya berbentuk bulat atau bulat telur,ekolusen, dindingnya tegas, rata terletak

pada fosa vesika fellae menempel pada lobus kanan hati, anterior terhadap ginjal

kanan. Lokasi kandung empedu bervariasi, bisa sebelah medial atau lateral dari

lokasi normalnya. Kandung empedu terdiri dari tiga bagian, yaitu : Kolum, Korpus

dan fundus.

Bagian dari kandung empedu antara lain: Fundus, merupakan bagian

kandung empedu yang paling akhir setelah korpus vesikafelea. Corpus, bagian

dari kandung empedu yang didalamnya berisis getah empedu. Getah emepedu

adalah suatu cairan yang disekeresi setiap hari oleh sel hati yang dihasilkan setiap

hari 500-1000 cc, sekresinya berjalan terus menerus, jumlah produksi meningkat

3
sewaktu mencerna lemak.Colum merupakan leher dari kandung empedu yaitu

saluran yang pertama masuknya getah empedu ke badan kandung emepedu lalu

menjadi pekat berkumpul dalam kandung emepedu. Duktus sistikus panjangnya

kurang lebih 3 ¾ cm. Berjalan dari leher kandung empedu dan bersambung

dengan duktus hepatikus membentuk saluran empedu ke duodenum. Duktus

hepatikus, saluran yang keluar dari hati. Duktus koledokus, saluran yang membawa

empedu ke duodenum.

Besar kandung empedu pada umumnya 7- 10 cm (aksis panjang) dan 3-4 cm (aksis

pendek).Aksis panjang kandung empedu tidak melebihi 12 cm.Tebal dinding normal

maksimal 3 mm, isi kandung empedu normal tidak melebihi 200 ml.pada keadaan

tidak normal, kandung empedu tidak selalu besar, kadang ukurannya normal dan

kadang lebih kecil. Peredaran darah pada kandung empedu berasal dari arteri

sistikus, salah satu cabang dariarteri hepatica.

Anatomi Crossectional Sistem Billiary

SAGITAL – ABD – KE TRANS – ABD – KE

Kandung empedu berfungsi sebagaitempat menyimpan cairan empedu dan

memekatkan cairan empedu yang ada didalamnya dengan cara menyerap air dan

elektrolit.Cairan empedu ini adalah cairan elektrolit yang dihasilkan oleh sel hati.

4
Untuk membuang limbah tubuh tertentu (terutama pigmen hasil pemecahan sel

darah merah dan kelebihan kolesterol) serta membantu pencernaan dan penyerapan

lemak. Garam empedu menyebabkan meningkatnya kelarutan kolesterol, lemak dan

vitamin yang larut dalam lemak, sehingga membantu penyerapannya dari usus.

Hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dirubah menjadi

bilirubin dan dibuang ke dalam empedu. Berbagai protein yang memegang peranan

penting dalam fungsi empedu juga disekresi dalam empedu.Cairan empedu sebagian

besar adalah hasil dari excretory dan sebagian adalah sekresi dari pencernaan.

Garam-garam empedu termasuk ke dalam kelompok garam natrium dan kalium dari

asam empedu yang berkonjugasi dengan glisinatau taurin suatu turunan dari sistin,

mempunyai peranan sebagai pengemulsi, penghancuran dari bagian besar lemak

menjadi suspensi dari lemak dengan diameter± 1mm dan penyerapan dari lemak,

tergantung dari sistem pencernaannya. Terutama setelah garam-garam empedu

bergabung dengan lemak dan membentuk Micelles kompleks yang larut dalam air

sehingga lemak dapat lebih mudah terserap dalam sistem pencernaan. Ukuran lemak

yang sangat kecil sehingga mempunyai luas permukaan yang lebar sehingga kerja

enzimlipase dari pankreas yang penting dalam pencernaan lemak dapat berjalan

dengan baik. Kolesterol larut dalam empedu karena adanya garam-garam empedu

dan lesitin.

b. Anatomi Hati

Hati adalah organ instestinal yang terbesar dengan berat antara 1,2 sampai 1,8

kg / kurang lebih 25 % berat badan pada orang dewasa yang menempati sebagian

besar kuadran kanan atas perut.

Anatomi crossectional Liver

5
Letak Hati

Batas atas hati terletak sejajar dengan ruang interkosta V sebelah kanan. Batas

bawah hati menyerong ke atas iga IX sebelah kanan ke iga VIII sebelah kiri. Pada

permukaan bagian belakang (posterior) hati berbentuk cekung serta memiliki celah

transversal sepanjang 5 cm dari sistem porta hepatis. Pada omentum minor terdapat

mulai sistem porta yang mengandung arteri hepatika, vena porta, serta duktus

koledokus. sedangkan sistem porta terletak di depan vena kava serta di balik kandung

empedu.
Pada permukaan bagian depan (anterior) hati berbentuk cembung di bagi

menjadi dua lobus oleh adanya perlekatan ligamentum falsiform yaitu lobus kanan

serta lobus kiri, lobus kanan berukuran 2 kali lobus kiri. Pada bagian antara kandung

empedu di lobus kanan dengan ligamentum falsiform kadang ditemukan sebuah

daerah yang disebut dengan lobus kaudatus.

6
Hati terbagi menjadi 8 segmen dengan fungsi yang berbeda. Dalam Buku Ajar

Ilmu Penyakit Dalam menjelaskan bahwa secara mikroskopis di dalam hati manusia

terdapat 50.000 samapai 100.000 lobuli, setiap lobulus berbentuk heksagonal yang

terdiri atas sel hati berbentuk kubus yang tersusun radial mengelilingi vena sentralis.

Selain cabang-cabang vena porta juga arteri hepatika yang mengelilingi perifer

lobulus hati, serta terdapat salauran empedu yang berbentuk kapiler (kanalikuli

empedu yang berjalan diantara lembaran sel hati).


Hati mempunyai fungsi, diantaranya :

1) Metabolisme (karbohidrat, apolipoprotein, asam lemak, simpanan vitamin

alrut dalam lemak, obat2an).

2) Imonologi (pembuangann limfosit T CD8 teraktivasi, perkembangan limfosit

B fetus).

3) Sintesis (urea, albumin, faktor pembekuan, haptoglobin, seruloplasmin,

protein c reaktif). tetapi fungsi hati yang paling utama adalah pembentukan

serta ekskresi empedu.

4) Endokrin (sintesis 25-hidroksilae vitamin D).

5) Ekskresi (metabolit obat, sistesis empedu).

Walaupun fungsi hati sangat beragam, tetapi fungsi yang paling utama hati

adalah pembentukan serta sekresi empedu. Hati mengekskresikan empedu

sebanyak satu liter per hari ke dalam usus halus. Unsur utama empedu adalah

air 90%, elektrolit, serta garam empedu. Walaupun pigmen empedu (bilirubin)

merupakan hasil akhir dari metabolisme. Secara fisiologi mempunyai peran

aktif, tetapi penting sebagai indikator penyakit hati serta penyakit saluran

7
empedu karena bilirubin mampu memberi warna pada jaringan serta cairan

yang berhubungan dengannya.

Hasil metabolisme monosakaria dari usus halus diubah menjadi glikogen yang

disimpan didalam hati (glikogenesis) untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Sebagian glukosa di metabolisme ke dalam jaringan agar dapat menghasilkan

tenaga. Kemudian sisanya di rubah menjadi lemak yang disimpan didalam

jaringan subkutan / menjadi glikogen yang disimpan di dalam otot. Fungsi hati

dalam metabolisme lemak adalah untuk menghasilkan kolesterol, lipoprotein,

asam asetoasetat, dan fosfolipid.Sedangkan fungsi hati dalam metabolisme

protein adalah untuk menghasilkan protein plasma berupa albumin yang sangat

diperlukan untuk mempertahankan tekanan osmotik koloid, & juga

fibrinogen,protombin,serta faktor beku lainnya.

c. Anatomi Pembuluh Darah

1. Aorta Abdominalis

Aorta abdominalis bermula dari otot diafragma, melewati hiatus

aorticus pada tingkat vertebra T12. Kemudian aorta terus menuju ke dinding

posterior dari abdomen di depan kolumna vertebralis. Aorta akan mengikuti

kurvatura dari vertebra lumbal dan bentuknya kemudian agak mencembung.

Pencembungan ini memuncak pada tingkat vertebra lumbal L3.

Posisi aorta abdominalis kemudian paralel terhadap vena cava

inferior, yang berada tepat di sebelah kanan dari aorta abdominalis. Bentuk

aorta abdominalis akan mengecil diameternya dengan semakin banyak

memberikan cabang.

8
Aorta abdominalis dan cabang-cabangnya

Cabang Vertebra Tipe Berpasangan? A/P Deskripsi


arteri T12 Parietal ya post. dimulai tepat di

phrenicus bawah

inferior diafragma
truncus T12 Viseral tidak ant. cabang yang

celiacus besar di sebelah

anterior
arteri L1 Viseral tidak ant. cabang besar di

mesentricus anterior,

superior bercabang tepat

di bawah truncus

celiacus
arteri L1 Viseral ya post. menuju

suprarenal ke kelenjar

media adrenalis
arteri L2 Viceral ya post. arteri yang

renalis besar, bercabang

di sisi samping

9
aorta

arteri L2 Viseral ya post. menjadi arteri

gonadalis ovarica pada

wanita
dan arteri

testicularis pada

pria
arteri L1-L4 Parietal ya post. menyuplai

lumbal dinding

abdomen dan

korda spinalis
arteri L3 Viseral tidak ant. cabang arteri

mesentricus yang besar

inferior
arteri L4 Parietal tidak post. arteri yang

sacralis bercabang dari

media tengah aorta


arteri illiaca L4 Terminal ya post. bercabang

communis (bifurkasi) untuk

memberikan

darah ke tungkai

bawah, pelvis,

dan akhir dari

aorta

abdominalis

10
Aorta Abdominalis dan Vena Cava

2. Vena Cava Inferior

Vena cava inferior adalah vena terbesar dalam tubuh, yang

membawa darah terdeoksigenasi dari bagian bawah tubuh ke atrium

kanan jantung. Ini terletak posterior ke rongga perut dan berjalan ke

jantung sebelah aorta perut. Vena cava inferior dibentuk oleh

konvergensi dari kanan dan kiri vena iliaka komunis. Vena ini

terletak tidak terpusat; sehingga ada beberapa pola drainase

asimetris.

Vena cava inferior lebih besar dan lebih panjang dari vena

cava superior (diameter sekitar 2 cm dan panjang sekitar 7 cm). Vena

yang mengalir ke vena cava inferior adalah vena tibialis anterior dan

posterior, vena fibula, vena poplitea, vena femoralis, vena iliaka

eksternal, vena saphena besar, iliaka vena umum, vena iliaka

eksternal dan interna, vena renal, vena portal hepatik , dan vena

hepatika. Vena cava inferior dimulai di bawah jantung, sedangkan

11
vena cava superior dimulai di atas jantung.

Surface Landmark

12
13
B. Dasar-Dasar Pemeriksaan USG

a. Prinsip USG

Ultrasonik adalah gelombang suara dengan frekwensi lebih tinggi daripada

kemampuan pendengaran telinga manusia, sehingga kita tidak bisa mendengarnya

sama sekali. Suara yang dapat didengar manusia mempunyai frekwensi antara 20 –

20.000 Cpd (Cicles per detik- Hertz).. Sedangkan dalam pemeriksaan USG ini

mengunakan frekwensi 1- 10 MHz ( 1- 10 juta Hz).

Gelombang suara frekwensi tingi tersebut dihasilkan dari kristal-kristal yang

terdapat dalam suatu alat yang disebut transducer. Perubahan bentuk akibat gaya

mekanis pada kristal, akan menimbulkan teganganlistrik. Fenomena ini disebut efek

Piezo-electric, yang merupakan dasar perkembangan USG selanjutnya. Bentuk

kristal juga akan berubah bila dipengaruhi oleh medan listrik. Sesuai dengan

polaritas medan listrik yang melaluinya, kristal akan mengembang dan mengkerut,

maka akan dihasilkan gelombang suara frekwensi tingi.

b. Prinsip Kerja Alat USG

Transducer bekerja sebagai pemancar dan sekaligus penerima gelombang

suara. Pulsa listrik yang dihasilkan oleh generator diubah menjadi energi akustik oleh

transducer yang dipancarkan dengan arah tertentu pada bagian tubuh yang akan

dipelajari. Sebagian akan dipantulkan dan sebagian lagi akan merambat terus

menembus jaringan yang akan menimbulkan bermacam-macam pantulan sesuai

dengan jaringan yang dilaluinya.

Pantulan gema yang berasal dari jaringan-jaringan tersebut akan membentur

transducer dan akan ditangkap oleh transducer, dan kemudian diubah menjadi pulsa

listrik lalu diperkuat dan selanjutnya diperlihatkan dalam bentuk cahaya pada layar

14
monitor. Gelombang ini kemudian diteruskan ke tabung sinar katoda melalui recevier

seterusnya ditampilkan sebagai gambar di layar monitor.

Gambar 2.4 Diagram Prinsip Dasar USG

C. Tinjauan Pesawat USG

Modalitas Ultrasonografi pada umumnya terdiri dari 3 komponen utama, yaitu

mesin USG itu sendiri, transducer (probe), dan monitor. Sebagai komponen tambahan

yaitu pencetak gambar. Ketiga komponen utama tersbut sebagai penentu kualitas citra

dari hasil pemeriksaan. (Block, 2012)


1. Mesin USG
Dari masin USG, terdapat bagian yang disebut dengan control panel. Pada control

panel terdapat beberapa tombol, yang seluruhnya tidak harus dimenegrti dengan

benar, namun ada baiknya lebih familiar dengan tombol-tombol tersebut, sehingga

lambat laun akan mengerti dengan sendirinya. (Block, 2012)

Gambar 2.15. Control Panel pada salah satu

pesawat USG (Block, 2012)

15
Keterangan: 1. On/off
2. Freeze
3. Pilihan penggunaan transducer
4. Kedalaman daya tembus
5. Power output
6. Time-gain compensation (TGC)

Fungsi dari tombol-tombol diatas adalah sebagai berikut.


a. On/off
Untuk menghidupkan atau mematikan mesin. (Block, 2012)
b. Freeze
Fungsi dari tombol freeze adalah untuk menahan citra yang telah ditemukan

saat sedang melakukan scanning. (Block, 2012)


c. Pilihan penggunaan transducer
Tombol ini digunakan pada pesawat dengan transducer yang berjumlah lebih

dari satu. Dengan demikian, sonografer dapat memilih penggunaan transducer

yang akan digunakan berdasar bentuk, dan frekuensi. Penjelasaan mengenai

bentuk dan frekuensi yang digunakan sesuai dengan jenis transducer yang

telah diberi dari pabrikan. (Block, 2012)


d. Kedalaman daya tembus
Dalam pengaturan ini, dibantu dengan menggunakan knob untuk pengaturan

kedalaman ini. Pengaturan ini akan berdampak pada luasan scanning. (Block,

2012)

e. Power output, overall gain, dan time-gain compensation (TGC)


Power output pada dasarnya adalah untuk mengatur kecerahan dari citra yang

ditampakkan ada monitor. Apabila power output rendah, maka citra yang

ditampakkan akan menjadi lebih hitam (hypoechoic, atau bahkan anechoic).

Pada citra yang lebih hitam dengan power output yangrendah, dapat dijadikan

lebih cerah dengan menurunkan nilai gain. Kedua fungsi (power output dan

gain) tersebut, harus diatur secara seimbang unutk mendapat kualitas citra

yang baik.
Kesalahan yang terjadi dalam pengaturan power output dan gain akan

mengakibatkan noise. Noise akan timbul bila pengaturan gain terlalu tinggi

16
dan pengaturan power setting terlalu rendah. Selama praktikum berlangsung,

lambat laun akan mengerti pengaturannya.


Setiap mesin USG memiliki dua pengaturan gain. Yang pertama dalah

pengaturan overall gain, yang berfungsi untuk menerima gelombang suara dari

kedalaman area scanning citra. Yang kedua adalah time-gain compentation

(TGC) yang berfungsi secara umum untuk mengatur kecerahan citra yang

ditampilkan pada monitor. (Block, 2012)


2. Transducer (Probe)
Pada umumnya, terdapat tiga jenis transducer pada USG yang sering

digunakan pada pemeriksaan, yaitu transducer sector, transducer linear dan

curved aray.

Gambar 2.16. Jenis transducer a. sector, b. linear, c. curved

array (Block, 2012)

a. Transducer sector
Pada transducer ini, gelombang ultrasound akan bergerak mmebentuk kipas

angin (dikarenakan rotasi dari elemen transducer)


Kelebihan : Citra yang ditampilkan kecil (berfokus pada citra yang kecil),

dapat menampilkan citra dengan acoustic window yang kecil,

dapat menampakkan citra yang letaknya jauh dengan transducer

dengan jelas.

17
Kekurangan : Pada objek yang dekat dengan transducer, akan memiliki

resolusi yang rendah. (Block, 2012)


b. Transducer linear
Pada transducer ini, elemen transducer akan terpasang secara paralel dengan

posisi linear (garis lurus), dengan demikian akan menghasilkan citra yang

tegak lurus dengan transducer.


Kelebihan : Objek yang dekat dengan transducer akan memiliki resolusi

yang baik.
Kekurangan : Citra yang ditampakkan akan lebar. Tidak dapat melakukan

scnning citra dengan acoustic window yang dekat dengan

transducer. (Block, 2012)


c. Curved aray
Pada transducer dengan jenis curved aray, elemen piezoelectric tersusun sama

dengan transducer linear, hanya saja pada permukaan yang cembung.


Kelebihan : Gabungan dari transducer linear dan transducer sector
Kekurangan : Denistas akan menurun pada objek yang terletak dalam, sama

dengan transducer sector. (Block, 2012)

Selain karena bentuk transducer, faktor lain yang dapat mempengaruhi

transducer antara lain frekuensi. Kualitas citra dapat dipengaruhi oleh emisi

gelombang suara. Frekuensi dengan rentan 2,5 sampai dengan 7,5 MHz yang

umumnya digunakan pada ultrasound secara diagnostik. Frekuensi yang tinggi

akan mengakibatkan daya tembus menjadi lebih rendah namun resolusi lebih

tinggi, sedangkan frekuensi yang rendah akan memberikan daya tembus yang

lebih dalam dengan resolusi yang rendah. Biasanya, untuk pemeriksaan

obdomen bagian atas menggunakan frekuensi 3,5 MHz. (Block, 2012)

3. Monitor
Monitor digunakan unutk menampilkan citra hasil scanning.

18
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Tata Laksana
a. Tata Laksana Pemeriksaan USG Sistem Biliari
Coba lakukan simulasi pelaksanaan praktikum pemeriksaan USG abdominal sistem

billiary dengan langkah sebagai berikut :


1. Persiapan Pasien

a. Lakukan wawancara dengan pasien yang meliputi identitas pasien.

b. Melakukan anamnesa pada pasien.

c. Catatlah data anamnesa dalam form permintaan foto

d. Menjelaskan prosedur pemeriksaan singkat pada pasien.

e. Menjelaskan kepada pasien agar mengganti baju dengan baju

pasien.

2. Persiapan alat
Mempersiapkan pesawat Ultrasonografi beserta jelly yang akan

digunakan pada pemeriksaan USG.


3. Lakukan simulasi pemeriksaan USG abdominal sistem billiary

sebagai berikut :

a. Prosedur pemeriksaan

1) Pasien supine dan abdomen pasien bebas dari pakian yang menutupinya.

2) Beri jelly pada area dibawah proc. Xyipoideus .

3) Letakkan transducer longitudinal dibawah proc. Xyipoidus .

4) Setelah mendapatkan gambaran yang pas atau bagus , tekan tombol

freeze .

b. Bidang Scanning

19
1) Longitudinal

2) Transversal

c. Pengukuran

1) Longitudinal :5- 7 cm

2) Transversal : 2 –3 cm

Ketebalan dinding

1) Longitudinal : kurang dari 3 mm

1) Transversal : kurang dari 3 mm

Ductus intrahepatic kanan --- tak tampak

Ductus intrahepatuc kiri --- tak tampak

Ductus hepatic communis-------4 mm atau kurang

Ductus Choledocus---------------5 mm atau kurang

Ductus Cysticus-------------------1 mm – 9 mm

d. Pola Echo

Anechoic

b. Tata Laksana Pemeriksaan USG Liver

Coba lakukan simulasi pelaksanaan praktikum pemeriksaan USG abdominal liver

dengan langkah sebagai berikut :

1. Persiapan Pasien

a. Lakukan wawancara dengan pasien yang meliputi identitas pasien.

b. Melakukan anamnesa pada pasien.

c. Catatlah data anamnesa dalam form permintaan foto

d. Menjelaskan prosedur pemeriksaan singkat pada pasien.

e. Menjelaskan kepada pasien agar mengganti baju dengan baju pasien.

20
2. Persiapan alat

Mempersiapkan pesawat Ultrasonografi beserta jelly yang akan digunakan pada

pemeriksaan USG.

3. Lakukan simulasi pemeriksaan USG abdominal liver sebagai berikut :

a. Prosedur pemeriksaan

1) Pasien supine dan abdomen pasien bebas dari pakian yang

menutupinya.

2) Beri jelly pada area dibawah proc. Xyipoideus .

3) Letakkan transducer longitudinal dibawah proc. Xyipoidus .

4) Setelah mendapatkan gambaran yang pas atau bagus , tekan

tombol freeze .

b. Bidang Scanning

1) Longitudinal (Intercostal dan Obligue/ Right Obligue)

2) Transversal

c. Pengukuran

Ukuran Normal : 10,5 ± 1,5 cm (long) 8,2 ± 1,9 cm (anteropost)

d. Pola Echo

1) Parenchim : Homogeneous

2) Diafragma Kurang : Echogenic

3) Ginjal : Lebih Echogenic

4) Limpa : sama

21
c. Tata Laksana Pemeriksaan USG Pembuluh Darah

Coba lakukan simulasi pelaksanaan praktikum pemeriksaan USG abdominal

pembuluh darah dengan langkah sebagai berikut :

1. Persiapan Pasien

a. Lakukan wawancara dengan pasien yang meliputi identitas pasien.

b. Melakukan anamnesa pada pasien.

c. Catatlah data anamnesa dalam form permintaan foto

d. Menjelaskan prosedur pemeriksaan singkat pada pasien.

e. Menjelaskan kepada pasien agar mengganti baju dengan baju pasien.

2. Persiapan alat

a. Mempersiapkan pesawat Ultrasonografi beserta jelly yang akan

digunakan pada pemeriksaan USG.

3. Lakukan simulasi pemeriksaan USG abdominal pembuluh darah

sebagai berikut :

a. Prosedur pemeriksaan

1) Pasien supine dan abdomen pasien bebas dari pakaian yang

menutupinya.

2) Beri jelly pada area dibawah proc. Xyipoideus .

3) Letakkan transducer longitudinal dibawah proc. Xyipoidus .

4) Untuk memperjelas Aorta maka transducer di swipping

kearah kiri pasien .

5) Setelah mendapatkan gambaran yang pas atau bagus , tekan

tombol freeze .

b. Bidang Scanning

1) Longitudinal

22
2) Transversal

3) Dilakukan pengukuran baik secara longitudinal maupun

transversal

c. Pola Echo

1) Lumen----Hypoechoic

2) Dinding---Hyperechoic

B. Hasil Sonogram
a. Gall Bladder

b. Liver

c. Pembuluh Darah Vena dan Aorta

23
C. Analisa Hasil Sonogram

24
a. Gall Bladder

Dari sonogram Longitudinal Gall blader, dengan posisi pasien supine :

Tampak liver homogenik, tampak vena porta (anechoic), dan dindingnya hiperechoic,

tampak gall blader dengan pola echo anechoic. Tampak juga ginjal kanan

(hypoechoic) dan pelvic renalnya yang hiperechoic, seperti pada sketsa anatomi

tersebut.

b. Liver

Longitudinal Liver dengan posisi pasien supine:

 Ukuran hati : Normal

 Echolevel : Isoecho (echo normal)

25
 Tepi dari hati : tumpul rata (blunt smooth)

 Permukaan hati : rata (smooth)

 Dinding pembuluh darah : tampak hiperechoid

c. PembuluhDarah Vena dan Aorta

Left Portal Vein

Longitudinal Portal Vein, potongan longitudinal dari lobus kiri dari liver,

dengan posisi pasien supine : tampak struktur lingkaran anechoic, dengan

dinding echogenic

26
Long Mid Aorta

Sacnning longitudinal, dengan posisi pasien supine tampak Superior mesentric

artery (anechoic), dan spleenic artery (anechoic), tampak liver (homoenik).

27
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Ultrasonografi (USG) merupakan suatu prosedur diagnosis yang digunakan untuk

melihat struktur jaringan tubuh atau analisis dari gelombang Doppler, yang

pemeriksaannya dilakukan diatas permukaan kulit atau diatas rongga tubuh untuk

menghasilkan suatu ultrasound didalam jaringan.


Ultrasonografi dapat digunakan untuk mendeteksi berbagai kelainan yang ada

pada abdomen, otak, kandung kemih, jantung, ginjal, hepar, uterus atau pelvis. Selain

itu USG juga dapat digunakan untuk membedakan antara kista dan tumor. Anatomi

pada pemeriksaan USG ada beberapa yaitu :


1. System Biliary
2. Hati
3. Pembuluh Darah

USG mempunyai prinsip kerja yaitu Transducer yang bekerja sebagai pemancar

dan sekaligus penerima gelombang suara. Pulsa listrik yang dihasilkan oleh generator

diubah menjadi energi akustik oleh transducer yang dipancarkan dengan arah tertentu

pada bagian tubuh yang akan dipelajari. Sebagian akan dipantulkan dan sebagian lagi

akan merambat terus menembus jaringan yang akan menimbulkan bermacam-macam

pantulan sesuai dengan jaringan yang dilaluinya.

B. SARAN

Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca khususnya tenaga kesehatan

dapat menerapkan pengkajian diagnostik ini dan dapat mencari referensi lain untuk

menambah pengetahuan pembaca mengenai pengkajian diagnostic pada pemeriksaan

USG.

DAFTAR REFERENSI

28
29

Anda mungkin juga menyukai