Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR

“REORDER POINT”

Disusun Oleh :

Aldi Putra Pratama (30417434)

Indah Dwi Arianti (32417898)

Kukuh Yuli Christianto (33417250)

Muhammad Ihsan Akbar (34417061)

Jurusan Teknik Industri


Fakultas Teknologi Industri
Universitas Gunadarma
Bekasi
2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan penyusunan makalah mata kuliah Sistem
Informasi Manufaktur yang berjudul “Re-Order Point”

Adapun maksud dilaksanakannya penyusunan makalah ini tidak lain adalah untuk memenuhi
tugas Sistem Informasi Manufaktur yang ditugaskan kepada penulis, sehingga penulis lebih
memahami tentang topik tersebut.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, sudilah
kiranya para pembaca untuk memberikan masukan dan saran sehingga isi makalah ini dapat
lebih sempurna. Sebelumnya penulis mohon maaf jika ada kesalahan cetak atau bahasa yang
kurang baku di dalam makalah ini.

Akhir kata penulis berharap semoga isi makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua
pembaca pada umumnya yang memerlukan di masa sekarang ataupun di masa yang akan
datang, khususnya bagi penulis.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bekasi, 03 Oktober 2018

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN................................................................... 1

1.1 Latar Belakang................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah............................................................ 3

1.3 Tujuan.............................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN..................................................................... 4

2.1 Pengertian Sistem Informasi Manufaktur……………… 4

2.2 Definisi Re-Order Point………………………………… 5

2.3 Faktor-Faktor Re-Order Point………………………….. 6

2.4 Penentuan Re-Order Point……………………………… 8

2.5 Manfaat Re-Order Point………………………………… 11

BAB III PENUTUP................................................................................. 12

3.1 Kesimpulan........................................................................ 12

3.2 Saran.................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 13

ii

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sistem Informasi Manufaktur termasuk dalam kerangka kerja Sistem Informasi


Manajemen (SIM) secara keseluruhan. Sistem informasi manufaktur lebih menekankan
kepada proses produksi yang terjadi dalam sebuah lantai produksi, mulai dari input bahan
mentah hingga output barang jadi, dengan mempertimbangkan semua proses yang terjadi.
Manajemen manufaktur membutuhkan informasi untuk menciptakan maupun untuk
mengoperasikan sistem produksi fisik.

Begitu pula dengan perusahaan manufaktur memerlukan informasi untuk


melangsungkan roda industrinya. Tanpa informasi yang akurat, perusahaan tidak dapat
menentukan kebijakan, bahkan peraturan yang dapat menunjang perbaikan maupun
perkembangan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memiliki sebuah system informasi yang
dikhususkan pada department. Sistem Informasi Manufaktur lebih menekankan kepada
proses produksi yang terjadi dalam sebuah lantai produksi, mulai dari input bahan mentah
hingga output barang jadi, dengan mempertimbangkan semua proses yang terjadi.

Semakin meningkatnya kegiatan usaha di bidang industri khususnya kerajinan,


persaingan yang terjadi di dunia usaha juga semakin ketat. Hal ini mendorong para pelaku
usaha untuk mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya guna menghasilkan produk yang
lebih berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Agar tujuan dapat tercapai,
perusahaan dalam aktivitas produksinya tentu membutuhkan adanya persediaan.

Persediaan merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus dari
perusahaan. Dengan adanya persediaan, perusahaan dapat mengantisipasi adanya
keterlambatan dalam pengadaan bahan baku maupun terjadinya permintaan barang jadi dari
konsumen yang tidak dapat dipenuhi secara mendesak.

Aneka Industri dan Kerajinan merupakan salah satu usaha yang bergerak di bidang industri
kerajinan . Dalam proses produksinya, bahan baku utama yang digunakan adalah tanah liat
atau clay. Dari hasil observasi yang telah dilakukan, diketahui bahwa hingga saat ini Aneka
Industri dan Kerajinan dalam perencanaan bahan bakunya masih belum melakukan
pengendalian persediaan.

Dalam pengendalian persediaan ada banyak metode yang dapat diterapkan


diantaranya metode Materials Requirements Planning (MRP), Just In Time (JIT), dan
Economic Order Quantity (EOQ). Namun pada penelitian ini peneliti menggunakan metode
analisis EOQ (Economic Order Quantity) karena metode ini dinilai lebih spesifik dalam
menentukan kuantitas bahan baku paling optimal sebab metode ini hanya berfokus pada satu
jenis bahan baku saja.

EOQ merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengendalikan


persediaan dengan meminimalkan biaya – biaya yang dikeluarkan guna memenuhi
persediaan tersebut. Ruang lingkup dari metode EOQ ini meliputi Safety Stock dan Reorder
Point.

Selain belum adanya persediaan bahan baku di gudang, Aneka Industri dan Kerajinan juga
belum menentukan kapan akan melakukan pembelian atau pemesanan ulang bahan baku
sebelum bahan baku habis. Untuk menentukan kapan bahan baku dapat dipesan dengan cara
menentukan titik pemesanan ulang (Reorder Point). diharapkan dapat menerapkan metode
tersebut untuk mengatasi masalah pengendalian dan pembengkakan biaya persediaan. Aneka
Industri dan Kerajinan juga dapat menentukan kapan harus melakukan pemesanan atau
pembelian bahan baku kembali.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang dapat diambil dari makalah ini sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan Sistem Informasi Manufaktur?

2. Apa yang dimaksud dengan Re-Order Point?


3. Bagaimana fungsi Re-Order Point ?

4. Bagaimana manfaat Re-Order Point?

1.3 Tujuan

1. Mampu menjelaskan maksud dari Sistem Informasi Manufaktur.

2. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang Re-Order Point

3. Melatih mahasiswa untuk lebih aktif dalam pencarian bahan-bahan materi Sistem
Informasi Manufaktur (Re-Order Point)

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sistem Informasi Manufaktur

Manufaktur, dalam arti yang paling luas adalah proses merubah bahan baku menjadi
produk. Proses ini meliputi perancangan produk, pemilihan material dan tahap‐tahap proses
dimana produk tersebut dibuat. Definisi manufaktur secara umum adalah suatu aktifitas yang
kompleks yang melibatkan berbagai variasi sumberdaya dan aktifitas perancangan produk,
pembelian, pemasaran, mesin dan perkakas, manufacturing, penjualan, perancangan proses,
production control, pengiriman material, support service, dan customer service.

Sistem Informasi Manufaktur adalah suatu sistem berbasis komputer yang bekerja dalam
hubungannya dengan sistem informasi fungsional lainnya untuk mendukung manajemen
perusahaan dalam pemecahan masalah yang berhubungan dengan manufaktur produk
perusahaan yang pada dasarnya tetap bertumpu pada input, proses dan output. Sistem ini
digunakan untuk mendukung fungsi produksi yang meliputi seluruh kegiatan yang terkait
dengan perencanaan dan pengendalian proses untuk memproduksi barang atau jasa.

Ruang lingkup sistem informasi manufaktur meliputi Sistem perencanaan manufaktur,


rencana produksi, rencana tenaga kerja, rencana kebutuhan bahan baku dan sistem
pengendalian manufaktur.

2.2 Definisi Re-Order Point

Sesuai dengan namanya, Re-Order Point adalah titik di mana barang sebaiknya

diminta oleh pihak gudang. Re-order point, mengacu pada jumlah persediaan yang ada di

gudang, di mana jika persediaan barang sudah mencapai pada jumlah tersebut, bagian gudang

wajib melaporkan ke bagian purchasing untuk dapat memproses pembelian barang.

Reorder Point (ROP) adalah metode untuk menentukan jangka waktu pemesanan

kembali bahan baku atau material lainya dari vendor/supplier. Reorder Point menjadi sangat

penting dikarenakan pada proses pemesanan barang terdapat waktu tunggu (lead time), di

mana barang yang dipesan tidak bisa langsung ada dan dapat digunakan. Jika lead time ini
tidak diperhitungkan maka akan muncul adanya kemungkinan stockout barang yang

mengakibatkan perusahaan tidak dapat berproduksi.

Dalam inventory management, utamanya dalam usaha retail, kita tentu harus menjaga

agar persediaan selalu dapat dijual. Pengawasan persediaan diperlukan, agar saat barang

diperlukan oleh bagian penjualan dapat langsung mendapatkannya dari pihak gudang. Di lain

pihak, persediaan barang di gudang tidak boleh terlalu bantak . over supply, hal ini akan

membuat modal berhenti dan meimiliki resiko barang rusak atau kehilangan menjadi semakin

besar. Supaya barang pergerakan barang “sehat” dan dalam jumlah yang terkendali, para

retailer wajib memiliki strategi dalam pengendaliannya. Pada titik inilah, re-order point

diperlukan oleh perusahaan.

ROP Menurut Para Ahli :

1. Rangkuti (2004:83)

Didalam bukunya menjelaskan bahwa pengertian reorder point (ROP) adalah strategi operasi

persediaan merupakan titik pemesanan yang harus dilakukan suatu perusahaan sehubungan

dengan adanya Lead Time dan Safety Stock.

2. Heizer dan Render (2011:75)

Sedangkan menurut Heizer dan Render yang menyatakan didalam bukunya bahwa reoder

point adalah saat (titik) persediaan dimana perlu diambil tindakan untuk mengisi kekurangan

persediaan pada barang tersebut.

2.3 Faktor-Faktor ROP


 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi ROP

1. Lead time adalah waktu yang dibutuhkan antara barang yang dipesan hingga

sampai diperusahaan.

2. Tingkat pemakaian bahan baku rata-rata persatuan waktu tertentu.

3. Persediaan Pengaman (Safety Stock), yaitu jumlah persediaan barang

minimum yang harus dimiliki oleh perusahaan untuk menjaga kemungkinan

keterlambatan datangnya bahan baku.

Dari ketiga faktor di atas, maka reorder point dapat dicari dengan rumus berikut ini :

Reorder point = (LT x AU) + SS

Keterangan : LT = Lead Time

AU = Penggunaan bahan baku

SS = Safety Stock

Setelah komputer pertama diterapkan secara berhasil dalam area akuntansi, komputer

diberikan tugas menegendalikan persediaan. Pendekatan paling sederhana adalah pendekatan

reaktif yaitu menunggu hingga saldo suatu jenis barang mencapai tingkat tertentu dan

kemudian memicu pesanan pembelian atau suatu proses produksi. Tingkat barang yang

berfungsi sebagai pemicu disebut titik pemesanan kembali (ROP) dan sistem yang

mendasarkan keputusan pembelian pada titik pemesanan kembali disebut sistem titik

pemesanan kembali. Manajer tidak suka sesuatu yang begitu ketat. Sebagai ukuran berjaga-

jaga disisihkan sejumlah persediaaan yang disebut safety stock. Perusahaan berharap tidak
perlu menggunakan safety stocknya, tetapi disediakan untuk bejaga - jaga seperti halnya ban

serep.

 Faktor Penghambat ROP

1. Terjadinya kesalahan dalam meramalkan perhitungan.

2. Keterlambatan penerimaan barang dari supplier yang disebabkan oleh

beberapa hal seperti terlalu banyak proses administrasi yang berbelit–belit,

sarana transportasi yang kurang memadai baik dari segi kualita maupun

kuantitas.

Realitanya ada faktor lain yang memberikan kontribusi besar terhadap lead time atau

jeda waktu secara keseluruhan, yaitu faktor internal perusahaan. Contoh dari faktor internal

yang berpengaruh terhadap lead time adalah waktu yang dibutuhkan untuk proses aproval

atau sering disebut dengan istilah “birokrasi”. Kebanyakan birokrasi di dalam perusahaan

membutuhkan waktu yang tidak sedikit, hal tersebut tidak lain dikarenakan dalam proses

birokrasi dibutuhkan persyaratan dan persetujuan dari beberapa bagian tertentu agar suatu

request dapat diproses ke tahap selanjutnya.

Dikarenakan berbagai alasan, sering sekali terjadi kondisi di mana pihak yang

berwenang terlambat dalam memberikan aproval yang mengakibatkan material request dari

departemen tidak dapat segera diproses menjadi purchase order. Keterlambatan proses

approval tersebut mengakibatkan lead time yang dibutuhkan sampai barang dapat digunakan

oleh departemen menjadi lebih lama.

2.4 Penentuan Re-order Point


Ada banyak metode yang dapat digunakan untuk mengukur re-order point. Metode

yang paling umum dan paling banyak digunakan adalah mengukur safety persediaannya

terlebih dahulu. Setelah angka safety persediaan ditentukan, safety persediaan dapat

ditentukan dengan mengalikan antara lead time dengan historis penjualan. Saat angka sudah

ditentukan, maka pada titik itulah bagian gudang segera mengajukan pembelian barang ke

purchasing.

Dengan demikian, diharapkan datangnya material yang dipesan tidak akan melewati

waktu sehingga akan melanggar safety stock. Apabila pesanan dilakukan sesudah melewati

reorder point, maka material yang dipesan akan diterima setelah perusahaan terpaksa

mengambil material dari safety stock.

Dengan penentuan/penetapan reorder point diperhatikan faktor-faktor, sebagai berikut :

1. Procurement lead time, yaitu penggunaan material selama tenggang waktu

mendapatkan barang

2. Besarnya safety stock, dimaksudkan dengan pengertian "procurement lead time"

adalah waktu dimana meliputi saat dimulainya usaha-usaha yang diperlukan untuk

memesan barang sampai barang/material diterima dan ditempatkan dalam gudang

penugasan.

Reorder point dapat ditetapkan dengan berbagai cara antara lain :

1. Menetapkan jumlah penggunaan selama "lead time" ditambah prosentase tertentu,

misalnya ditetapkan bahwa safety stock sebesar 50% dari penggunaan


2. selama "lead time" adalah 5 minggu, sedangkan kebutuhan material setiap

minggunya adalah 40 Unit, maka Reorder point = (5 x 40) + 50 % (5 x 40) = (200 +

100) = 300 unit.

3. Dengan menetapkan penggunaan selama "lead time" dan ditambah dengan

penggunaan selama periode tertentu sebagai safety stock misalnya kebutuhan selama

4 minggu, maka Reorder Point = (5 x 40) + (4 x 40) = 200 + 160 = 360 unit.

Apabila pesanan baru dilakukan sesudah persediaan tinggi 300 unit ini berarti

bahwa pada saat barang yang dipesan darang, perusahaan terpaksa sudah mengambil material

dari safety stock sebesar Rp. 60 unit. Pada waktu barang yang dipesan datang persediaan

dalam gudang tinggal 100 unit (yaitu 300 - 200) padahal safety stock sudah ditetapkan

sebesar 100 unit.

 Grafik ROP

Adapun grafik titik pemesanan kembali atau ulang (reorder point) berdasarkan buku

Heizer dan Render yang berjudul prinsip-prinsip manajemen operasi tahun 2011 dapat

ditunjukkan seperti pada gambar berikut dibawah ini :


Bentuk-bentuk persediaan mengasumsikan bahwa suatu perusahaan akan menunggu

hingga tingkat persediaannya mencapai 0 sebelum perusahaan tersebut memesan kembali dan

dengan seketika kiriman akan diterima. Keputusan akan memesan biasanya diungkapkan

dalam konteks titik pemesanan ulang tingkat persediaan dimana harus dilakukan pemesanan.

10

Berdasarkan definisi titik pemesanan kembali atau ulang (Re-Order Point) seperti

yang telah disebutkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa reorder point adalah waktu dan

saat-saat tertentu suatu perusahaan harus mengadakan pemesanan bahan baku kembali atau

ulang, sehingga datangnya pesanan tersebut tepat dengan habisnya bahan baku yang dibeli.

Reorder Point dihitung berdasarkan perkalian antara lead time dengan kebutuhan barang

dalam jangka waktu tertentu. Pada umunya lead time dihitung berdasarkan faktor eksternal

yaitu lamanya waktu produksi dan pengiriman barang oleh vendor. Begitupun pada software

ERP lainya, mereka juga menghitung lead time dari mulai purchase order masuk ke vendor

sampai barang diterima perusahaan.

2.5 Manfaat Re-Order Point

Manfaat utama dari menghitung reorder point adalah perusahaan dapat mengetahui

titik waktu kapan harus sudah melakukan order barang untuk produksi periode selanjutnya.

Dari sudut finansial reorder point menjadi salah satu faktor besar dalam memperhitungkan

“modal kerja” perusahaan setiap bulan. Hal tersebut dikarenakan secara umum 50 – 60%

uang perusahaan berada pada bentuk inventori. Perhitungan reorder point yang tidak tepat

akan berakibat pada stock inventori dengan kerugian jumlah uang yang tidak sedikit. Reorder
Point yang bagus adalah yang selaras dengan inventory turn over, sehingga perputaran barang

dan uang menjadi lebih efisien.

11

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari Paparan atau penjelasan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan
bahwa sesuai dengan makalah “ Re-Order Point” penulis menyimpulkan bahwa Re-
Order Point atau Titik pemesanan kembali adalah tingkat persediaan paling rendah
saat pesanan harus dibuat dengan pemasok untuk memastikan persediaan barang
masih ada untuk digunakan. Konsep ini sering salah diartikan karena titik pemesanan
kembali diartikan seolah-olah tidak boleh ada pemesanan kembali sebelum titik ini
dicapai. Dan untuk menghitung ROP ini menggunakan rumus : Reorder point = (LT
x AU) + SS

3.2 Saran

Untuk menerapkan metode Re-Order Point dapat mengefektifkan antara


pembelian persedian bahan baku dengan permintaan bahan baku secara tepat waktu,
sehingga dapat mengefisiensikan biaya persediaan bahan. Penerapan Re-Order Point
tidak disarankan dengan kuantitas yang terlalu rendah, karena menggangu persedian
bahan baku yang dapat habis sebelum persedian pengganti diterima sehingga
produksi dapat terganggu atau permintaan pelanggan tidak dapat dipenuhi .Kuantitas
yang terlalu tinggi juga dapat mengakibatkan pemborosan biaya persediaan bahan
baku dan biaya penyimpanan yang disebabkan persediaan bahan baku sudah datang
sementara persediaan digudang masih banyak.

12

DAFTAR PUSTAKA

1. (http://www.globalsuksessolusi.com/2017/05/12/pendekatan-internal-dan-eksternal-
dalam-menghitung-reorder-point/)

2. https://repository.widyatama.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/6495/Bab%205

.pdf?sequence=13

3. https://ukirama.com/id/blogs/cara-menentukan-reorder-point-untuk-mengatasi-

masalah-stock-gudang
13