Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM JARING KONTROL GEODESI

KELAS A

Dosen:

Prof. Dr. Ir. Bangun Muljo Sukojo, DEA. DESS

Nurwatik, S.T., M.Sc.

Pembuatan Jaring Kontrol Horisontal dengan Pengamatan GPS

Oleh:

Imam Arief Santoso NRP. 03311340000014

Ahmad Alfath Septian N. NRP. 03311340000023

Sabrina Nur Afiah NRP. 03311340000059

Anggun Aprilia Sari NRP. 03311340000075

Nabil Amirul Haq NRP. 03311340000087

i
KATA PENGANTAR

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................. i
KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR............................................................................................ iv
DAFTAR TABEL................................................................................................. iv
BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Tujuan dan Manfaat ........................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................
2.1 Jaring Kontrol Horisontal ..................................................................................
2.2 Pengertian GNSS ...............................................................................................
2.3 Prinsip Dasar Penentuan Posisi dengan GNSS .................................................
2.4 Metode-Metode untuk Menentukan Posisi dengan GPS ..................................
2.5 Kesalahan dan Bias ...........................................................................................
2.6 Segmen GPS .....................................................................................................
2.7 Sinyal GPS.........................................................................................................
2.8 Perataan Jaring GPS...........................................................................................
2.9 Sistem Koordinat ...............................................................................................
BAB III. PELAKSANAAN ..................................................................................
3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan .......................................................................
3.2 Alat dan Bahan .................................................................................................
3.3 Personil dan Tugasnya .....................................................................................
3.4 Diagram Alir Praktikum ...................................................................................
BAB IV. HASIL DAN ANALISA .......................................................................
4.1 Hasil ................................................................................................................
4.2 Analisa ............................................................................................................
BAB V. PENUTUP .............................................................................................
5.1 Kesimpulan .....................................................................................................
5.2 Saran ...............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................
LAMPIRAN ........................................................................................................

iii
DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

iv
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu fungsi yang paling penting dari ilmu geodesi adalah
penentuan posisi titik-tiitk secara teliti pada suatu sistem referensi atau
datum yang terdefinisi dengan baik (well-defined). Dengan demikian, ilmu
Geodesi merupakan ilmu sains yang mempelajari penentuan bentuk bumi,
sekaligus merupakan sarana yang praktis untuk memperoleh data spasial.
Bagaimanapun juga, sering dijumpai adanya pemisahan antara teknik
penentuan posisi “geodetik” secara sangat teliti dengan penentuan posisi
yang tidak memenuhi syarat ketelitian tertentu. Ada suatu spektrum
ketelitian pengukuran mulai dari yang tinggi sampai akurasi yang rendah.
Hal ini telah lama disadari dan diwujudkan dalam bentuk sistem hierarki
yang digunakan dalam survey titik-titik kontrol (Control Survey). Jaring
titik kontrol Geodesi dibangun dari suatu teknik pengukuran dengan
ketelitian yang tinggi, untuk kemudian dibagi/dirapatkan (broke-
down/densified) dengan pengukuran yang memiliki tingkat ketelitian yang
lebih rendah.

Penentuan posisi titik-titik secara teliti pada zaman dahulu dilakukan


dengan cara triangulasi dengan melakukan pengukuran di atas gunung.
Seiring berjalannya waktu, teknologi survei dan pemetaan semakin
berkembang, dimana terdapat instrumen theodolite, total station, dan GPS
yang sangat membantu dalam dunia survei. Dengan menggunakan GPS, kita
dapat mendapatkan posisi suatu titik secara langsung, atau tanpa melakukan
pengukuran sudut dan jarak pada antar titik.

Akan tetapi, hasil pengukuran poisisi titik tersebut, harus diikatkan


pada titik kontrol, yang kemudian dilakukan perataan pada jaringnya. Pada
era sekarang, terdapat banyak perangkat lunak (software) yang mampu
melakukan keseluruhan proses pengolahan data pengukuran Jaring GPS
tersebut, mulai dari perangkat lunak komersial, seperti GPSurvey,
2

GeoGenius, Topcon Tools, Trimble Total Control, Pinnacle, dll, hingga


perangkat lunak ilmiah yang boleh digunakan secara cuma-cuma, seperti
Gamit/GlobK, Bernesse, dan lain sebagainya.

Pada praktikum kali ini, kami melakukan pembuatan jaring kontrol


horisontal dengan melakukan pengamatan GPS.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari diadakannya praktikum ini adalah:

1. Mahasiswa mampu mendesain sebuah jaring kontrol

2. Mahasiswa mengenal dan mampu menggunakan alat GPS Geodetik,


utamanya GPS TOPCON

3. Mahasiswa terampil dalam menggunakan GPS TOPCON.

4. Mahasiswa mampu mendownload dan mengolah data hasil pengukuran


GPS

5. Mahasiswa mampu menghitung perataan jaring pengukuran GPS.

6. Menghitung titik koordinat yang output nya dapat digunakan sebagai


titik referensi
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jaring Kontrol Horisontal

Adalah sekumpulan titik kontrol horisontal (X dan Y) yang


satu sama lain dikaitkan dengan data ukuran jarak dan/atau sudut, dan
koordinatnya ditentukan dengan metode pengukuran/pengamatan tertentu
dalam suatu sistem referensi kordinat horisontal tertentu (BSN, 2002).
Kualitas dari koordinat titik-titik dalam suatu jaring kontrol horisontal
umumnya akan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti sistem peralatan
yang digunakan untuk pengukuran/pengamatan, geometri jaringan, strategi
pengukuran/pengamatan, serta strategi pengolahan data yang
diterapkan. Sistem referensi yang digunakan pada JKH ini adalah ellipsoid
dan perhitungan data dilakukan dengan metode hitung perataan parameter
atau bersyarat.
Umumnya, data jaring kontrol horisontal didapatkan dari hasil
survei terestris. Pada survey dengan metode terestris, penentuan posisi
titik-titik dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap target atau
objek yang terletak di permukaan bumi. Ada dua cara dalam metode
terestris, yaitu:
 Tidak Langsung
Merupakan metode dimana data yang didapatkan
langsung berupa data koordinat horisontal X dan Y, cara ini
dapat dilakukan dengan instrumen GNSS.
 Langsung
Metode ini memanfaatkan instrumen optis seperti
theodolit maupun Electronic Total Station untuk
mendapatkan data jarak dan sudut.

2.2 Pengertian GNSS

Global Positioning System (GPS) merupakan suatu konstelasi yang


terdiri tidak kurang dari 24 satelit yang meyediakan informasi koordinat
posisi yang akurat secara global. GNSS mempergunakan satelit dan
komputer untuk melakukan penghitungan posisi dimanapun di muka bumi
ini. Sistem ini dimiliki, dioperasikan dan dikontrol oleh United States
Departement of Defenses (DoD). GNSS dapat dipergunakan secaral global
dimanapun dan oleh siapapun dimuka bumi ini secara gratis.

Global Navigation Satellite System (GNSS) merupakan istilah


singkatan dari suatu sistem satelit navigasi yang menyediakan posisi
geospasial dalam lingkup global.
4

GNSS beroperasi secara penuh sejak Desember 2009. Seiring itu


GLONASS punya Russia mempunyai cakupan seluruh dunia dengan 18
satelit yang tersedia sejak Desember 2009, dan satelit GALILEO milik
Eropa juga COMPASS milik China sedang dikembangkan.

GLONASS (GLObal'naya NAvigatsionnaya Sputnikovaya Sistema,


atau Global Navigation Satellite System) merupakan sistem navigasi ruang
angkasa milik Russia yang bisa disamakan dengan sistem GNSS milik
Rusia. Satelit berjumlah 21 pada 3 bidang orbit datar.

2.2 Prinsip Dasar Penentuan Posisi dengan GNSS

Konsep dasar penentuan posisi dengan GNSS adalah reseksi jarak,


yaitudengan pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit GNSS
yangkoordinatnya telah diketahui. Secara vektor, prinsip dasar penentuan
posisidengan GNSS diperlihatkan pada gambar berikut.

Gambar 1. Prinsip dasar penentuan posisi dengan GNSS (Pendekatan Vektor)

Pada pengamatan dengan GNSS, yang dapat diukur adalah jarak


antara pengamat dengan satelit (bukan vektornya), agar posisi pengamat
dapat ditentukan maka dilakukan pengamatan terhadap beberapa satelit
sekaligus secara simultan. Gambar berikut adalah ilustrasi prinsip dasar
penentuan posisi dengan GNSS.

Gambar 2. Prinsip dasar penentuan posisi dengan GNSS


5

Koordinat titik-titik yang dihasilkan dari suatu survai GNSS adalah


posisi titik 3-D yang mengacu pada datum WGS-84 dalam sistem koordinat
kartesian (X,Y,Z) dan geodetik (L,B,H).

Gambar 3. Sistem koordinat GNSS

2.3 Metode-Metode untuk Menentukan Posisi dengan GPS

Pada dasarnya konsep dasar penentuan posisi dengan GPS adalah


perpotongan ke belakang denga jarak. Yaitu mengukur jarak kebeberapa
satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Perhatikan gambar berikut :

Gambar 4. Perpotongan Kebelakang GPS

Penentuan posisi dengan GPS dapat dikelompokkan atas beberapa


metode diantaranya:
6

A. Metode Absolut

Metode Absolut Penentuan posisi dengan GPS metode absolut


adalah penentuan posisi yang hanya menggunakan 1 alat receiver GPS.
Karakteristik penentuan posisi dengan cara absolut ini adalah sebagai
berikut:
 Satelit-satelit mengirim sinyal secara terus menerus (posisi satelit,
waktu dll) Receiver GPS menerima sinyal tersebut dan menghitung
jarak ke satelit tersebut

 Receiver GPS menerima sinyal (dan jarak ke masing masing satelit)


dari minimal 4 satelit dan mengkalkulasi posisi receiver GPS

 Receiver GPS menerima sinyal (dan jarak ke masing masing satelit)


dari minimal 4 satelit dan mengkalkulasi posisi receiver GPS

B. Metode relatif (differensial)

Penentuan posisi relatif atau metoda differensial adalah menentukan


posisi suatu titik relatif terhadap titik lain yang telah diketahui koordinatnya
pengukuran dilakukan secara bersamaan pada dua titik dalam selang waktu
tertentu:
 Memerlukan minimal 2 receiver, satu ditempatkan pada titik yang
telah diketahui koordinatnya.
 Posisi titik ditentukan relatif terhadap titik yang diketahui.

 Konsep dasar adalah differencing process dapat mengeliminir atau


mereduksi pengaruh dari beberapa kesalahan dan bias.
 Ketelitian posisi yang diperoleh bervariasi dari tingkat mm sampai
dengan dm.

2.4 Kesalahan dan Bias


Kesalahan dan Bias yang tejadi pada pengamatan GPS pada
dasarnya terkait dengan:

 Satelit, seperti kesalanan ephimeris, jam satelit dan selective


availability (SA).
 Medium Propagasi, seperti bias ionosfer, bias troposfer.
 Receiver GPS, seperti kesalahan jam receiver, kesalahan yang terkait

dengan antena dan noise (derau).
 Data Pengamatan, seperti ambuigitas fase dan cycle slips.

7

 Lingkungan sekitar GPS receiver, seperti multipath dan imaging.


Berikut merupakan penjelasan dari berbagai kesalahan yang mungkin


terjadi saat pengukuran GPS.
1. Kesalahan ephemeris
Kesalahan ephemeris adalah kesalahan dimana orbit satelit yang
dilaporkan tidak sama dengan orbitsatelit yang sebenarnya. Pada
dasarnya dapat disebabkan oleh faktor:
 Kekurang telitian pada proses perhitungan orbit satelit oleh
station pengontrol satelit
 Kesalahan dalam prediksi orbit untuk periode setelah
uploading ke satelit
 Penerapan kesalahan yang sengaja seperti pada selective
availability (SA) yang sejak 2 mei 2000 telah ditiadakan.

Untuk mereduksi kesalahan orbit yaitu dengan:

 Terapkan metode differnsial positioning


 Perpendek panjang baseline
 Perpanjang interval waktu pengamatan
 Tentukan parameter kesalahan orbit dalam proses estimasi
 Gunakan informasi orbit yang lebih teliti seperti ultra rapid
ephemeris, rapid ephemeris atau precise ephemeris

2. Bias Ionosfer

Ionosfer adalah bagian dari atmosfer yang mempunyai sejumlah


elektron dan ion bebas dimana ionbebas dan elektron ini mempengaruhi
perambatan gelombang radio. Lapisan ionosfer terletak kira-kiraantara
60 sampai dengan 1000 km. Besarnya jumlah elektron dan ion bebas
tergantung dariaktifitas matahari.
Efek bias ionosfer mempunyai variasi spasial dan juga
temporal.

a. Variasi spasial efek umumnya berfrekuensi rendah dan terutama


terkait dengan regionalisasidari aktivitas ionosfer (daerah
ekuator, lintang menengah dan daerah ouroral).
b. Variasi temporal efek ionosfer bisa berfrekuensi tinggi
(scintillation), menengah (variasi hariandan musiman) maupun
rendah (variasi 11 tahunan).
8

Untuk mereduksi effek ionosfer ini adalah:

 Gunakan GPS dengan 2 frekuensi (L1,L2)


Penggunaan 2 frekuensi ini adalah untuk memperkuat
sinyal, jadi apabilla Frekuensi pembawa 1 adalah L1, maka
fungsi L2 adalah memperkuat sinyal L1 hinggal sinyal bisa
sampai ke receiver.
 Lakukan differencing data pengamatan
Maksud dari differencing survei adalah melakukan
pengamatan/pengukuran dengan menggunakan 2 GPS
geodetik atau lebih supaya hasil yang didapat dari beberapa
receiver tersebut dapat di differensial kan satu sama lain.
 Baseline yang pendek
Saat pengukuran akan lebih baik apabila jarak antar
baseline tidak terlalu jauh, karena apabila baseline
terletakterlalu jauh maka hasil differrensial juga akan
semakin kurang teliti karena terpengaruh oleh efek
kelengkunga bumi salah satunya.
 Pengamatan pada pagi atau sore hari
Pada saat melakukan pengamatan di siang hari ion-
ion di lapisan ionosfer akan mengalami bias yang cukup
besar karena pengaruh dari sinar matahari yang sangat terik.
Ion-ion tersebut akan bereaksi terhadap banyaknya intensitas
cahaya matahari yang panas.
Sedangkan pada malam hari lapisan ion di ionosfer
akan terkondensasi karena lapisan udara pada malam hari
cenderung lebih pekat dan lebih rapat daripada pagi, siang
atau sore hari.
 Gunakan model prediksi global ionosfer
 Gunakan parameter koreksi yang dikirim oleh sistem satelit
3. Bias Troposfer

Ketika snyal GPS masuk ke lapisan troposfer akan terjadi


refraksi yang menyebabkan adanya perubahan kecepatan dan arah,
beberapa cara untuk mereduksi efek ini adalah:
 Differencing data pengamatan
 Perpendek baseline
 Diusahakan pada ketinggian dan
metrologis yang sama
 Menggunakan model koreksi lokal
troposfer
9

 Menggunakan pengamatan water vapor radiometer (WVR)


untuk mengeliminasi besarnya komponen basah
 Estimasi besaarnya parameter bias troposfer dalam bentuk zenit
scale factor untuk setiap lintasan satelit
 Gunakan parameter koreksi yang dikirimkan oleh sistem
WADGPS
4. Multipath

Multipath adalah pantulan dari benda-benda disekitar receiver.


Ada beberapa pendekatan dalam menghadapi multipath:
 Hindari lingkungan yang reflektif

Gunakan antena GPS yang baik dan tepat
 Gunakan bidang dasar antena pengabsorsi sinyal
 Jangan amati satelit yang berelevasi rendah
 Lakukan pengamatan yang relatif panjang
5. Ambuigity fase (cycle ambuigity)

Ambuigity adalah jumlah gelombang penuh yang tidak terukur


oleh GPS. Ambuigitas ini merupakanbilangan bulat. Pada One-Way dan
single difference ambuigitas ini tidak bisa dipisahkan dengan kesalahan
dari jam ssatelit dan receiver, sedangkan pada pengamatan double
difference efek darikesalahan jam receiver dan satelit sudah dieliminasi
sehingga sifat kebulatan harganya dapat ditentukan.

6. Cycle slips

Cycle slips adalah ketidak kontinyuan dalam jumlah gelombang


penuh dari fase gelombang pembawa yang damati karena terputus dalam
pengamatan sinyal. Cycle slips ini disebabkan :

 Mematikan dan menghidupakan receiver.


 Terhalangnya sinyal untuk diterima olwh antenna
 Rendahnya ratio signal to noise
 Adanya kerusakan komponen dalam receiver

Beberapa metode yang umum diterapkan yaitu :

 Penggunaan polynomial berorde rendah yang dicocokan (fitting)


ke time series dari variable yang diuji
 Penggunaan differencing data ukuran yang berorde 2,3,dan 4

7. Kesalahan jam
10

Kesalahan jam ada dua yaitu jam satelit dan jam receiver.
Kesalahan jam satelit terjadi karena ada penyimpangan offset, drift dan
drift rate. Komponen kesalahan pada jam receiver lebih besar
dibandingkan dengan jam satelit dikarenakan penggunaan jam yang
berbeda.

Jam yang berada di satelit menggunakan jam atom yang


ketelitiannya hingga 10-9 detik (nano second) sedangkan jam yang ada
di receiver masih menggnakan jam Quartz sehingga antara satelit dan
recceiver pas terdapat selisih akurasi pada waktu sinyal dikirimkan dan
diterima.

Ada dua cara untuk menanggulangi kesalahan ini yaitu dengan


mengestimasi parameter kesalahan jam receiver (offset, drift dan drift
rate) dan juga dengan melakaukan differencing data pangamatan. Untuk
melakukan koreksi juga dapat dilakukan pengamatan dengan satelit non-
GPS yakni dengan menggunakan teknologi terbaru yang dinamakan
dengan Navigation Message yang di dalamnya terdapat data-data yang
digunakan untuk mengkoreksi satelit GPS dan outputnya berupa koreksi
data koordinat oleh satelit non-GPS.

2.5 Segmen GPS


Global Positioning System (GPS) merupakan suatu konstelasi
yang terdiri tidak kurang dari 24 satelit yang menyediakan informasi posisi
koordinat. GPS dapat dipergunakan secara global dimanapun dan oleh
siapapun dimuka bumi ini secara gratis.

Gambar 5. Segmen GPS

Secara garis besar GPS dibagi menjadi tiga segmen : kontrol,


angkasa, dan pengguna.
a. Segmen Kontrol
Segmen kontrol merupakan otak dari GPS, yang melakukan
pemantauan terhadap transmisi informasi navigasi dan “penyetelan”
yang dilakukan oleh satelit. Segmen ini meliputi 5 stasiun pemantau
11

dan stasiun upload yang terdistribusi di seluruh dunia. Setiap satelit


akan melewati stasiun pemantau dua kali dalam satu hari.
- Menerima informasi, menstrasmisikan informasi
- Monitor orbit satelit

Gambar 6. Segmen Kontrol


b. Segmen Angkasa
Segmen angkasa merupakan konstelasi NAVigation Satellite
Timing And Ranging (NAVSTAR) dari satelit-satelit yang
memancarkan sinyal GPS. Orbit satelit berada pada ketinggian
sekitar 20.200 km di atas bumi dan melakukan revolusi terhadap
bumi setiap 12 jam.

Gambar 7. Segmen Angkasa


c. Segmen Pengguna
Berbagai sektor menggunakan GPS untuk penentuan posisi,
baik dari kalangan sipil maupun militer. Aplikasinya meliputi
pertanian, penerbangan, pelayanan darurat, rekreasi, dan
pemantauan kendaraan.

2.6 Sinyal GPS


Sinyal GPS menggunakan modulasi fase yang dinamakan binary
biphase modulation. Dimana dalam memodulasikan suatu gelobang ada
beberapa parameter yang dapat diubah dalam proses modulasi. Dengan
mengamati satelit dalam jumlah yang cukup, seseorang dapat
memprosesnya untuk mendapatkan informasi mengenai posisi, kecepatan,
dan waktu, ataupun parameter-paramter turunannya.
12

a. Carriers (Gelombang Pembawa)


Satelite GPS mengirim sinyal dalam dua frekuensi. L1 dengan
1575.42 Mhz dengan membawa dua status pesan dan pseudo-
random code untuk keperluan perhitungan waktu. L2 membawa
1227.60 MHz dengan menggunakaan presesi yang lebih akurat
karena untuk keperluan militer. Daya sinyal radio yang dipancarkan
hanya berkisar antara 20-50 Watts. Ini tergolong sangat rendah
mengingat jarak antara GPS dan satelit sampai 12.000 mil. Sinyal
dipancarkan secara line of sight (LOS), dapat melewati awan, kaca
tapi tidak dapat benda padat seperti gedung, gunung.

b. Pseudo-Random Codes (Kode Jarak)


GPS yang digunakan untuk publik akan memantau frekuensi L1
pada UHF (Ultra High Frequency) 1575,42 MHz. Sinyal L1 yang
dikirimkan akan memiliki pola-pola kode digital tertentu yang
disebut sebagai pseudorandom. Sinyal yang dikirimkan terdiri dari
dua bagian yaitu kode Protected (P) dan Coarse/Acquisition (C/A).
Kode yang dikirim juga unik antar satelit, sehingga memungkinkan
setiap receiver untuk membedakan sinyal yang dikirim oleh satu
satelit dengan satelit lainnya. Beberapa kode Protected (P) juga ada
yang diacak, agar tidak dapat diterima oleh GPS biasa. Sinyal yang
diacak ini dikenal dengan istilah Anti Spoofing, yang biasanya
digunakan oleh GPS khusus untuk keperluan tertentu seperti militer.
Beberapa karakteristik yang diharapkan dipunyai oleh sinyal
kombinasi linear untuk keperluan penentuan ambiguitas fase sinyal
GPS, diantaranya adalah:
- Ambiguitas adalah bilangan bulat (integer)
- Panjang gelombang relatif panjang
- Efek dari refraksi ionosfer relatif kecil
- Noise dari pengamatan relatif tetap kecil

c. Navigation Message
Ada sinyal frekuensi berkekuatan lemah yang di tambahkan pada
kode L1 yang memberikan informasi tentang orbit satelit, clock
corectionnya dan status sistem lainnya.

d. Informasi Almanak
Informasi almanak digunakan untuk mengetahui posisi
keberadaan satelit pada waktu tertentu diwaktu yang akan datang.
Almanak dipergunakan pada saat perencanaan pengukuran dan
untuk mendapatkan akuisisi informasi lokasi satelit lebih cepat bagi
receiver.
13

e. Informasi Ephimeris
Informasi ephimeris merupakan file data yang mengandung
informasi orbit untuk tiap satelit tertentu. Informasi ini dipergunakan
oleh receiver GPS bersamaan dengan penggunaan almanak internal
untuk menentukan posisi satelit secara presisi. Informasi ephimeris
ditransmisikan pada sinyal GPS, merupakan orbit sebenarnya dari
setiap satelit dan menghasilkan posisi GPS yang akurat.

Gambar 8. Ephemeris

2.7 Perataan Jaring GPS


Pengolahan data suatu jaringan survey GPS akan melibatkan
sejumlah 13ntenn baseline serta beberapa titik control yang sudah
diketahui koordinatnya dalam sistem WGS 1984. Hitung perataan tersebut
umumnya dilakukan menggunakan hitung perataan kuadrat terkecil, baik
dengan metode parameter maupun bersyarat.
Berikut ini penjelasan tentang konsep hitung perataan jarring GPS
diberikan dengan mengasumsikan penggunaan metode parameter dalam
sistem koordinat kartesian. Untuk memudahkan penjelasan, model
matematis untuk satu baseline yang geometrinya ditunjukkan pada gambar
di bawah ini akan dijelaskan terlebih dahulu sebelum model matematis
yang mencakup suatu jaringan diberikan.
B
B (dX, dY, dZ)
A
Baseline, tidak ada titik tetap

B (dX, dY, dZ) B

A
Baseline, satu titik tetap (A)
14

Gambar 9. Dua Kasus geometri suatu baseline (lepas dan terikat)


Pada hitung perataan kuadrat terkecil metode parameter, persamaan
pengamatan suatu baseline yang lepas dapat dituliskan dalam bentuk
persamaan sebagai berikut ini:
V + B = XB – XA
Dimana B (dXAB, dYAB, dZAB) adalah data ukuran baseline yang
merupakan hasil dari perhitungan baseline definitive V (VX, VY, VZ)
adalah koreksi terhadap baseline, dan XA (XA, YA, ZA) serta XB (XB, YB,
ZB) adalah 14ntenn posisi geosentrik dari titik-titik A dan B yang akan
ditentukan harganya (merupakan parameter yang dicari).
Dalam formulasi yang terdapat di atas, dapat ditulis juga sebagai
berikut:
𝑋𝐴
𝑉 = [−𝐼 𝐼] [ ] + 𝐵
𝑋𝐵
Dimana I adalah matriks identitas berdimensi (3 x 3). Persamaan di
atas dapat diuraikan kembali dalam bentuk formulasi berikut:
𝑋𝐴
𝑉𝑥 −1 0 0 1 0 0 𝑌𝐴 𝑑𝑋𝐴𝐵
𝑍𝐴
[𝑉𝑦] = [ 0 −1 0 0 1 0] – [𝑑𝑌𝐴𝐵 ]
𝑋𝐵
𝑉𝑧 0 0 −1 0 0 1 𝑌𝐵 𝑑𝑍𝐴𝐵
[ 𝑍𝐵 ]
Kalau seandainya kita mengacu pada formulasi yang umum
digunakan persamaan pengamatan dari hitung perataan kuadrat terkecil,
maka matriks A untuk suatu baseline lepas adalah:
−1 0 0 1 0 0
𝐴 = [−𝐼 𝐼 ] = [ 0 −1 0 0 1 0]
0 0 −1 0 0 1
Dan vektor parameter dan pengamatannya adalah:
𝑋 = [𝑋𝐴 , 𝑌𝐴 , 𝑍𝐴 , 𝑋𝐵 , 𝑌𝐵 , 𝑍𝐵 ] T
𝐿 = [𝑑𝑋𝐴𝐵 , 𝑑𝑌𝐴𝐵 , 𝑑𝑍𝐴𝐵 ]
Untuk suatu baseline yang terikat, dimana salah satu titik ujungnya
merupakan titik kontrol, seperti dicontohkan pada gambar 2.1 , persamaan
pengamatannya menjadi seperti berikut:
15

𝑉𝑥 1 0 0 𝑋𝐵 𝑋𝐴 + 𝑑𝑋𝐴𝐵
[𝑉𝑦] = [0 1 0] [ 𝑌𝐵 ] − [ 𝑌𝐴 + 𝑑𝑌𝐴𝐵 ]
𝑉𝑧 0 0 1 𝑍𝐵 𝑍𝐴 + 𝑑𝑍𝐴𝐵

Dan untuk kasus ini:


A=I
X = [XB, YB, ZB]T
L = [XA + dXAB, YA + dYAB, ZA + dZAB]T
Solusi kuadrat terkecil untuk koordinat titik-titik dalam jaringan
adalah:
𝑋 = (𝐴𝑇 . 𝑃𝐿 . 𝐴)−1 . 𝐴𝑇 . 𝑃𝐿 . 𝐿
Dimana PL adalah matriks berat dari pengamatan yang dapat
dirumuskan sebagai berikut:
𝑃𝐿 = 𝑄𝐿 −1 = 𝜎0 2 . 𝐶𝐿 −1
Pada rumus di atas QL adalah matriks kofaktor, σ02 adalah faktor
variansi apriori (biasanya ditetapkan = 1), dan CL adalah matriks variansi
kovariansi (VCV) pengamatan yang dapat diformulasikan sebagai:
𝐶𝐵1 0 0 … 0
0 𝐶𝐵2 0 … 0
𝐶𝐿 = 0 …
… 0
0 𝐶𝐵3
… … … 0 0
[ 0 0 0 𝐶𝐵𝑛 ]
Matriks VCV dari koordinat titik-titik dalam jaringan yang diperoleh
dari hasil hitung perataan dapat ditentukan dengan rumus berikut:
𝐶𝐿 = 𝜎0 2 . (𝐴𝑇 . 𝑃𝐿 . 𝐴)−1
Dimana 𝜎0 2 adalah faktor variansi aposteori yang dihitung sebagai
berikut:
𝑉 𝑇 . 𝑃𝐿 . 𝑉
𝜎0 2 =
𝑛𝑝 − 𝑛𝑢
Dimana np dan nu adalah jumlah data pengamatan dan jumlah
parameter yang diestimasi.
2.8 Sistem Koordinat
Datum perhitungan posisi koordinat yang digunakan oleh GPS adalah
WGS-84. seandainya posisi koordinat titik–titik dipresentasikan dalam
datum lain, maka sebelum dilakukan pengukuran GPS diperlukan proses
16

transformasi koordinat dari datum WGS-84 ke datum bersangkutan


sehingga koordinat sebelum dan sesudah bias dievaluasi, dikarenakan sudah
dalam satu system referensi.
WGS 84 merupakan sistem koordinat kartesian geosentrik
menggunakan ellipsoid GRS (Geodetic Refrence System) 80. Adapun
parameter yang digunakan adalah:
a = 6378137 m
b = 6356752.3142 m
f = 1/298.257223563

Gambar 10. Sistem Koordinat WGS 1984


17

BAB III

PELAKSANAAN

3.1 Lokasi dan Jadwal Pelaksanaan

Praktikum GPS ini dilaksanakan di 3 lokasi, yaitu: Bundaran ITS


dengan patok paku payung (Titik 3), BM Sains Technopark (Titik 4), Teknik
Lingkungan dengan patok paku payung (Titik 2).

Gambar 11. Jaring Pada Lokasi Praktikum

 Praktikum diadakan di :

Tempat : Kampus ITS Sukolilo

Waktu : Jam 11:00 – 12:00, 6 Oktober 2019


18

3.2 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini, antara lain :

Alat :
1. GPS Geodetik Topcon Hiper Pro

Gambar 12. Topcon Hiper Pro

2. Tribrach

Gambar 13. Tribrach

3. Statif

Gambar 14. Statif


19

4. Roll Meter

Gambar 15. Roll meter

5. Aki basah

Gambar 16. Aki basah

6. Kabel konduktor
7. Form ukur
8. ATK
9. Smartphone
10. Laptop
11. TOPCON Tools versi 8.2.3

Bahan :
1. Cira Satelit Kawasan ITS
2. Raw Data Pengukuran GPS tanggal 23 November 2018
3.3 Personil Survey dan Tugasnya

No Nama Anggota Tugas

1 Imam Arief Santoso Pengamatan GPS di Titik 4 menggunakan GPS4,


pengolahan data, pembuatan laporan
20

2 Ahmad Alfath Pengamatan GPS di Titik 3 menggunakan GPS3,


Septia Nugroho pengolahan data, pembuatan laporan

3 Sabrina Nur Afiah Pengamatan GPS di Titik 4 menggunakan GPS4,


pengolahan data, pembuatan laporan

4 Anggun Aprilia Sari Pengamatan GPS di Titik 2 menggunakan GPS2,


pengolahan data, pembuatan laporan

5 Nabil Amirul Haq Pengamatan GPS di Titik 2 menggunakan GPS2,


pengolahan data, pembuatan laporan

Tabel 1. Personil dan Tugas

3.4 Diagram Alir Praktikum

Mulai

Perencanaan

Geometri Metode Peralatan

Persiapan

Mobilisasi

Pengukuran dan Pengamatan

Pengolahan Data

Koordinat Titik BM

Laporan

Selesai

Gambar 17. Diagram Alir Praktikum


21

Penjelasan diagram alir di atas adalah sebagai berikut:


1) Tahap perencanaan
Tahap perencanaan dalam pengukuran GPS ini meliputi:
a) Perencanaan geometri yaitu perencanaan penentuan titik
b) Perencanaan metode dan jadwal pengamatan;
c) Perencanaan alat yang akan digunakan selama persiapan dan
pelaksanaan pengukuran serta pengamatan.
Praktikum tersebut menggunakan receiver GPS Geodetik sebanyak tiga
buah yang dipinjam dari Laboratorium Geodesi Surveying Teknik
Geomatika ITS, dengan kode alat GPS2, GPS3, dan GPS4. Pengukuran di
lapangan dengan menggunakan metode jaring dengan durasi tiap satu
baseline sekitar 30 menit. Semua baseline non-trivial, dikarenakan semua
baseline merupakan hasil pengukuran.
2) Tahap persiapan
Tahap persiapan dalam pengukuran GPS ini meliputi peminjaman alat, yaitu
meminjam peralatan yang dibutuhkan selama praktikum di Lab Geodesi
Surveying.
3) Tahap pelaksanaan
Tahap pelaksanaan dalam pengukuran GPS meliputi:
a) Mobilisasi ke titik BM dengan membawa peralatan dan bahan untuk
praktikum;
b) Karena sebelumnya GPS2 dan GPS3 digunakan Kelompok lain untuk
pengukuran jaring di Titik 2 dan Titik 3, maka setelah Kelompok
tersebut selesai sesi nya, maka dua GPS tersebut tidak usah dimatikan;
c) Kami tinggal melakukan pengamatan GPS di Titik 4 dengan GPS 4
setelah sesi pengamatan GPS kelompok sebelumnya selesai.

4) Tahap pengolahan data


Pengukuran GPS ini menggunakan metode penentuan posisi static secara
differensial menggunakan data fase. Pangamatan satelit GPS dilakukan per-
baseline selama selang waktu 30 menit. Setelah dilakukan proses
pengukuran dan pengamatan, dilakukan pendownloadan data GPS. Proses
pengolahan data dijelaskan sebagai berikut:
a) Data pengukuran dibuka menggunakan software topcon tools.
Masukkan 3 data pengamatan pada 3 titik dengan format .tps

Gambar 18. Data Pengukuran GPS

b) Setelah itu, akan muncul tampilan titik yang telah di masukkan ke


dalam Topcon Tools beserta baselinenya seperti pada Gambar 19.
22

Gambar 19. Tampilan Data Pengamatan pada Topcon Tools

c) Setelah itu, ganti nama titik sesuai dengan lokasi pengukuran dan
jadikan BM Sains Technopark sebagai titik kontrol.

Gambar 20. Penamaan Titik dan Penentuan Titik Kontrol


23

d) Sebelumnya, seleksi terlebih dahulu waktu pengamatan (mengingat


GPS2 dan GPS3 digunakan sejak sesi kelompok sebelum kami) dan seleksi
satelit yang dianggap kurang bagus.

Gambar 21. Seleksi Waktu Pengamatan dan Satelit


e) Setelah itu, lakukan GPS PostProcessing

Gambar 22. GPS PostProcessing


e) Kemudian, setelah melakukan processing, import data dari internet agar
hasil pada post processing pertama (Broadcast) dapat menjadi lebih baik
nilai dari presisi dan standar deviasinya.

Gambar 23. Data Tambahan

f) Hasilnya titik pengamatan GPS sudah di koreksi dari data import


sebelumnya, yang sebelumnya Orbitnya masih Broadcast pada awal
24

pengolahan dapat berubah menjadi Precise. Koordinat ketiga titik


pengamatan GPS tersebut adalah:

NAMA TITIK EASTING (m) NORTHING (m)

TITIK 2 697935.756 9194986.647

TITIK 3 697722.061 9195019.187

TITIK 4 (Kontrol) 698170.890 9195385.126

Tabel 2. Data Koordinat Titik Jaring

g) Setelah itu lakukan perataan jaring dengan menekan tombol F8 di


keyboard. Dengan begitu, koordinat dari Titik 2 dan Titik 3 akan berubah
karena diratakan, dan akan mendapatkan data standar deviasi atau ketelitian
dari pengamatan GPS yang telah kami lakukan.

Gambar 24. Hasil Perataan Jaring di Topcon Tools


25

BAB IV

HASIL DAN ANALISA

4.1 Hasil

Dari hasil perataan Jaring di Topcon Tools, didapatkan hasil


koordinat Titik 2 dan Titik 3 sebagai berikut:

NAMA TITIK EASTING (m) NORTHING (m)

TITIK 2 697935.751 9194986.645

TITIK 3 697722.051 9195019.182

TITIK 4 (Kontrol) 698170.890 9195385.126

Tabel 3. Data Koordinat Titik Jaring

Standar deviasi dari hasil perataan jaring di Topcon Tools adalah


sebagai berikut:

NAMA TITIK EASTING (m) NORTHING (m)

TITIK 2 0.005 0.003

TITIK 3 0.004 0.003

TITIK 4 (Kontrol) 0 0

Tabel 4. Standar Deviasi Perataan

Gambar 25. Koordinat dan Standar Deviasi Hasil Perataan

Ketelitian horisontal hasil pengamatan GPS yang dihasilkan dari


perhitungan melalui Topcon Tools adalah sebagai berikut:

Gambar 26. Ketelitian Horisontal


26

4.2 Analisa

Dari hasil perataan, perbedaan koordinat Titik 2 dan Titik 3 dengan


sebelum diratakan adalah sebagai berikut:

NAMA TITIK EASTING (m) NORTHING (m)

TITIK 2 -0.005 -0.002

TITIK 3 -0.01 -0.005

TITIK 4 (Kontrol) 0 0

Tabel 5. Selisih Koordinat Sebelum dengan Sesudah Diratakan


Dan dari selisih tersebut, didapatkan standar deviasi untuk easting
paling besar adalah 0.005m dan northing 0.003m. Dengan hasil tersebut,
pengamatan GPS yang telah kami lakukan memiliki tingkat ketelitian yang
cukup tinggi, walau lama pengamatan GPS hanya sepanjang 30 menit.

Ditambah lagi dengan hasil perhitungan RMS Error atau ketelitian


dari koordinat yang dihasilkan yang pada Titik 2, Titik 3, dan Titik 4 sama,
yaitu 0.005m atau 5mm, dapat dipastikan bahwa pengukuran yang kami
lakukan memenuhi toleransi pengukuran yang telah ditetapkan, yaitu
5.3mm.

 Perhitungan Syarat Absis dan Ordinat

Titik2-Titik3 Titik3-Titik4 Titik4-Titik2


Syarat Absis 213.7 -448.839 235.139 ΣX = 0
Syarat Ordinat -32.537 -365.944 398.481 ΣY = 0
Tabel 6. Syarat Absis dan Ordinat
Dari perhitungan syarat absis dan ordinat menggunakan data yang
telah diratakan, dihasilkan ΣX dan ΣY sama dengan nol. Dari hasil tersebut,
didapatkan sudah tidak ada kesalahan pada absis dan ordinat hasil perataan
dan telah memenuhi syarat.

 Perhitungan Syarat Penutup Sudut


Dilakukan perhitungan azimuth terlebih dahulu pada semua
baseline, berikut ini hasil perhitungannya:

Azimuth 2-3 278.6571


Azimuth 3-2 98.65711
Azimuth 3-4 50.8096
Azimuth 4-3 230.8096
Azimuth 4-2 210.5445
Azimuth 2-4 30.54449
Tabel 7. Azimuth
27

Setelah itu, kita hitung sudut dalam dengan rumus berikut:

1. Sudut dalam Titik 3 = Azimuth 3-2 – Azimuth 3-4


2. Sudut dalam Titik 4 = Azimuth 4-3 – Azimuth 4-2
3. Sudut dalam Titik 2 = Azimuth 2-4 – Azimuth 2-3

Dan dihasilkan sudut dalam sebagai berikut:


Titik 3 Titik 4 Titik 2 Total Sudut
47.84751 20.26511 111.8874 180
Tabel 8. Total Penutup Sudut
Dari hasil perhitungan total penutup sudut, didapatkan nilai 1800,
dimana nilai tersebut sudah sesuai dengan syarat penutup sudut sebuah
segitiga. Maka dari itu, pada hasil pengukuran ini tidak ada error dari
penutup sudut.
28

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

 Dari hasil pengamatan GPS untuk pembuatan jaring kontrol horisontal


dan post processingnya, didapatkan ketelitian horisontal sebesar 5mm
dan memenuhi toleransi dari toleransi ketelitian yang ditetapkan
sebesar 5.3mm.
 Syarat absis dan ordinat dari hasil pengamatan GPS untuk pembuatan
jaring kontrol horisontal dan post processingnya bernilai nol, atau sudah
tidak ada kesalahan absis atau ordinat.
 Dihasilkan sudut dalam jaring sebesar 1800, dapat disimpulkan bahwa
syarat penutup sudut sudah terpenuhi dan tidak terdapat kesalahan
penutup sudut.

5.2 Saran

 Pelajari lebih dalam juga tentang hitung perataan jaring secara manual
menggunakan perataan bersyarat, parameter, atau kombinasi.
 Buat jaring yang memiliki SoF tinggi, yaitu memiliki jarak baseline dan
sudut dalam yang relatif sama di tiap titiknya untuk hasil jaring yang
bagus.
 Untuk mendapatkan hasil yang bagus pada pengukuran, hendaknya
memilih titik yang tidak dekat dengan tiang listrk, tidak tertutup objek
di atasnya, tidak melakukan pengukuran di siang hari, hal ini bertujuan
untuk mengurangi bias pengukuran.
29

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Hasanuddin Z. 2007. Penentuan Posisi Dengan GPS dan Aplikasinya.


Jakarta : Pradnya Paramita.
Abidin, Hasanuddin Z. 2007. Penentuan Posisi Dengan GPS dan Aplikasinya.
Jakarta : Pradnya Paramita.
Birmingham,A.L.,Atlanta,G.A.,Jackson,M.S.,Nashville,T.N.,Charlotte,N.C.,2011.
SoftwareTopcon Tools. <URL:
http://www.earldudley.com/Software/Topcon_Tools.htmdiakses pada
tanggal 8 Desember 2018 pukul 08.55.
Heliani, Leni S., Widjayanti, N. 2005. Bahan Ajar Perataan Jaring Geodesi.
Yogyakarta : Jurusan Teknik Geodesi FT-UGM.
R, Stadyanto. 2017. Pembuatan Program Perhitungan Jaring Kontrol Horisontal
Titik Pantau Bendungan Sermo. Bogor : Universitas Pakuan.
30

LAMPIRAN