Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN

“ ALIRAN PERENIALISME,ESENSIALISME DAN


REKONSTRUKSIONISME ”

DOSEN PENGAMPU : Dra. ROSDIANA,M.Pd

DISUSUN OLEH :

NO NAMA NIM
1 SALSALINA UKURTA S 3193322009
2 SITI WARDANI NUR AZMI 3192422010
3 CICI KIRANI 3192422008

JURUSANA PENDIDIKAN ANTROPOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “
Aliran Pragmatisme,eksistensialisme,dan progresivisme” ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas pada mata kuliah Filsafat Pendidikan. Selain itu, makalah ini juga bertujuan
untuk menambah wawasan tentang aliran-aliran dalam filsafat para pembaca dan
juga bagi penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra.Rosdiana,M.Pd, selaku


dosen pengampu mata kuliah Filsafat Pendidikan yang telah memberikan tugas
ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang
studi yang saya tekuni.Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan
makalah ini.

Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan
demi kesempurnaan makalah ini.

Medan, 21 September 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembahasan aliran – aliran filsafat merupakan penelahan salah satu
aspek sekaligus menyangkut dengan faham dan pandangan para ahli pikir
dan filosuf. Dari kajian ini para ahli melihat sesuatu atau menyeluruh,
mendalam dan sistematis. Para filsus menggunakan sudut pandang yang
berbeda sehingga menghasilkan filsafat yang berbeda pula. Antara aliran
atau paham satu dengan yang lainnya, ada yang saling bertentangan dan
ada pula yang memiliki konsep dasar yang sama. Akan tetapi meskipun
bertentangan, bukanlah untuk saling dipertentangkan. Justru dengan
banyak aliran atau paham yang sudah diperkenalkan oleh tokoh – tokoh
filsafat, kita dapat memilih cara yang pas dengan persoalan yang sedang
kita hadapi.
Memahami sistem filsafat sesungguhnya menelusuri dan mengkaji
suatu pemikiran mendasar dan tertua yang mengawali kebudayaan
manusia. Suatu sistim, filsafat berkembang berdasarkan ajaran seorang
atau beberapa orang tokoh pemikir filsafat. Sistem filsafat sebagai suatu
masyarakat atau bangsa. Sistem filsafat amat ditentukan oleh potensi dan
kondisi masyarakat atau bangsa itu, tegasnya oleh kerjasama faktor dalam
dan faktor luar. Faktor-faktor ini diantaranya yang utama ialah sikap dan
pandangan hidup, citakarsa dan kondisi alam lingkungan. Apabila cita
karsanya tinggi dan kuat tetapi kondisi alamnya tidak menunjang, maka
bangsa itu tumbuhnya tidak subur (tidak jaya).Tujuan dari penulisan
makalah ini sendiri, selain memenuhi kewajiban membuat tugas, adalah
untuk memenuhi rasa ingin tahu dan keterkaitan penulis terhadap bab
aliran filsafat perenialisme,esensialisme,danrekonstruksionisme.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat kami rumuskan
masalah sebagai berikut :
a. Bagaimanakah pengertian dari aliran perenialisme,esensialisme
dan rekonstruksionisme
b. Siapa saja yang berperan dan paling berperan dalam aliran – aliran
filsafat tersebut?
c. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :

a. Untuk mengetahui pengertian dari aliran- aliran filsafat


b. Untuk mengetahui tokoh – tokoh yang berperan dalam aliran –
aliran tersebut
BAB II

PEMBAHASAN

A. PARENIALISME

Di Zaman modern ini, banyak kemunculan kritis di berbagai bidang


kehidupan manusia, pertama dalam bidang pendidikan. untuk mengembalikan
keadaan krisis ini ,parenialisme memberikan jalan keluar, yaitu dengan
mengembalikan pada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan
teruji ketangguhannya. Parenialisme memandang pendidikan sebagai jalan
kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. parent ya lisna
memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktik pada
kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang(Muhammad Noor Syam,1986:296).

Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah aristoteles kemudian didukung
dan dilanjutkan oleh St . Thomas aquinas yang menjadi pembaru utama di abad
ke-13(Hamdani Ali , 1993:154). aristoteles dan thomas aquinai meletakkan dasar
bagi filsafat ini hingga pada pokoknya ajaran filsafat ini tidak berubah semenjak
abad pertengahan. kendati banyak bermunculan dan berjatuhan rival - rifal aliran
filsafat ini namun dia tetap berlanjut dari generasi ke generasi dari tahun ke tahun
bahkan ratusan tahun dan tetap tumbuh dan berkembang.

Parenialisme memandang bahwa kepercayaan kepercayaan aksiomatis


zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep
filsafat dan pendidikan jaman sekarang. Aristoteles memang telah
mengembangkan filsafat parent realisme dengan menelusuri sejauh mana
seseorang dapat menelusuri jalan pikiran manusia itu sendiri. sementara St
Thomas aquinas justru telah mengadakan beberapa perubahan sesuai dengan
tuntunan agama kristen saat agama itu datang. hingga lahirlah apa yang dikenal
dengan nama neo thoisme.
Pandangan dan Implikasi Aliran Perenialisme dalam Pendidikan

1. Pandangan tentang realita (ontologis)

Peremialisme memandang bahwa realitas itu bersifat universal dan ada dimana
saja, juga sama disetiap waktu. Inilah jaminan yang dapat dipenuhi dengan jalan
mengerti wujud harmoni bentuk-bentuk realita, meskipun tersembunyi dalam satu
wujut materi atau pristiwa-pristiwa yang berubah, atau pun didalam ide-de yang
bereang.

2. Pandangan tentang pengetahuan (Epistimologi)

Perennialisme mengakui bahwa impresi atau kesan melalui pengamatan tentang


individual thing adalah pangkal pengertian tentang kebenaran. Tetapi manusia
akan memperoleh pengetahuan lebih tepat jika bersandar pada asas-asas
kepercayaan dan bantuan wahyu; dan itulah tahu dalam makna tertinggi, yang
ideal

3. Pandangan tentang nilai (Axiologi)

Pandangan tentang hakikat nilai menurut perennialisme adalah pandangan


mengenai hal-hal yang bersifat spiritual. Yang absolut atau ideal (Tuhan) adalah
sumber nilai dan oleh karena itu nilai selalu bersifat teologis.

4. Pandangan tentang pendidikan

a) Pendidikan

Perenialisme memandangedukation as cultural regresion: pendidikan sebagai


jalan kembali,atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti
dalam kebudayaan masa lampau yang dianggap sebagai kebudayaan yang ideal.

b) Tujuan pendidikan

Bagi perenialist bahwa nilai-nilai kebenaran bersifat universal dan abadi, inilah
yang harus menjadi tujuan pendidikan yang sejati. Sebab itu, tujuan
pendidikannya adalah membantu peserta didik menyingkapkan dan
menginternalisasikan nila-nilai kebenaran yang abadi agar mencapai kebijakan
dan kebaikan dalam hidup.

c) Sekolah

Sekolah merupakan lembaga tempat latihan elite itelektual yang mengetahui


kebenaran dan suatu waktu akan meneruskannya kepada generasi pelajar yang
baru. Sekolah adalah lembaga yang berperan mempersiapkan peserta didik atau
orang muda untuk terjun kedalam kehidupan. Sekolah bago perenialist merupakan
peraturan-peraturan yangartificial dimana peserta didik berkenalan dengan hasil
yang paling baik dari warisan sosial budaya.

d) Kurikulum

Kurikulum pada aliran ini berpusat pada mata pelajaran, dan cenderung
menitikberatkan pada: sastra, matematika, bahasa, dan humaniora, termasuk
sejarah. Kurikulum adalah pendidikan liberal.

e) Metode

Metode pendidikan atau metode belajar utama yang digunakan oleh perenialist
adalah membaca dan diskusi, yaitu membaca dan mendikusikan karya-karya besar
yang tertuang dalam the great books dalam rangka mendisiplinkan pikiran.

f) Peranan guru dan peserta didik

Peran guru bukan sebagai perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan
guru juga sebagai “mirid” yang mengalami proses belajar serta mengajar. Guru
mengembangkan potensi-potensi self-discovery, dan ia melakukan moral
authority (otoritas moral) atas murid-muridnya karena ia seorang propesional
yang qualifietdan superior dibandingkan muridnya. Guru harus mempunyai
aktualitas yang lebih, danperfect knowladge.

B. ESENSIALISME

Esensialisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa suatu entitas


memiliki karakteristik yang inheren dan melekat sehingga tidak dapat dipisahkan
dengan entitas tersebut dan sekaligus mendefinisikannya. Ini mencakup keyakinan
akan esensi, yaitu apa yang membuat sesuatu adalah sesuatu tersebut, berlawanan
dengan kontingensi, yaitu sesuatu yang hanya kebetulan, yang ketiadaannya tidak
akan meniadakan sesuatu tersebut. Esensialisme memiliki arti yang berbeda dalam
biologi dan filsafat.

Essensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai


kebudayaan yang telah ada sejak peradaban umat manusia.Essensialisme
memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai terpilih yang
mempunyai tata yang jelas.

Essensialisme muncul pertama pada zaman renaissans dengan ciri


utamanya berbeda dengan progressivisme.Perbedaan ini terutama dalam
memberikan dasar berpijak mengenai pendidikan yang penuh fleksibilitas,dimana
secara terbuka untuk perubahan toleran dan tidak ada keterikatan dengan doktrin
tertentu.Bagi essensialisme pendidikan yang berpijak pada dasar pandangan itu
mudah goyah dan kurang terarah.Karena itu essensialisme memandang bahwa
pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan
lama,sehingga memberikan kestabilan dan arah yang jelas.

Essensialisme bukan merupakan filsafat tersendiri,yang mendirikan suatu


bangunan filsafat,melainkan merupakan suatu gerakan dalam pendidikan yang
memprotes terhadap pendidikan progresivisme.dalam pemikiran pendidikannya
memang pada umumnya didasari atas filsafat tradisional idealisme klasik dan
Realisme.Dua aliran filsfat ini bertemu sebagai pendukung essensialisme tetapi
tidak lebur menjadi satu,berarti tidak melepaskan sifat utama masing-masing.

Menurut Esensialisme nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya


social adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur
dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun dan didalamnya
berakar gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu.

Pandangan dan Implikasi Aliran Esensialisme dalam Pendidikan

a. Pandangan esensialisme mengenai belajar


Idealisme sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi
individu dengan menitikberatkan pada individu tersebut. Menurut idealisme, bila
seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami dirinya sendiri, terus
bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dengan mengambil landasan
fikir, belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya
sebagai substansi spiritual yang jiwanya membina dan menciptakan diri sendiri.
Belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai sosial
angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan diteruskan kepada
angkatan berikutnya.
Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua
jenis, yaitu determinasi mutlak dan determinasi terbatas. Determinisme mutlak,
menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-
halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini.
Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup
yang harmonis. Determinisme terbatas, memberikan gambaran kurangnya sifat
pasif mengenai belajar. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang
kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap
mereka, namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan.
b. Pandangan Esensialisme Mengenai Kurikulum
Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah
berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Kurikulum itu
bersendikan alas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri
masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan
ditujukan kepada yang serba baik. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak
didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah
ditentukan.
Menurut Essensialisme: “Kurikulum yang kaya, yang berurutan dan sistematis
yang didasarkan pada target yang tidak dapat dikurangi sebagai suatu kesatuan
pengetahuan, kecakapan- kacakapan dan sikap yang berlaku di dalam
kebudayaaan yang demokratis. Kurikulum dibuat memang sudah didasarkan
pada urgensi yang ada di dalam kebudayaan tempat hidup si anak”.
c. Peranan Sekolah menurut Essensialisme
Sekolah berfungsi sebagai pendidik warganegara supaya hidup sesuai dengan
prinsip-prinsip dan lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakatnya
serta membina kembali tipe dan mengoperkan kebudayaan, warisan sosial, dan
membina kemampuan penyesuaian diri individu kepada masyarakatnya dengan
menanamkan pengertian tentang fakta-fakta, kecakapan-kecakapan dan ilmu
pengetahuan.
d. Penilaian Kebudayaan menurut Essensialisme
Essensialisme sebagai teori pendidikan dan kebudayaan melihat kenyataan
bahwa lembaga-lembaga dan praktik-praktik kebudayaan modern telah gagal
dalam banyak hal untuk memenuhi harapan zaman modern. Maka untuk
menyelamatkan manusia dan kebudayaannya, harus diusahakan melalui
pendidikan.
e. Teori Pendidikan Menurut Eensialisme
1. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui
suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu
dan dengan demikian adalah berharga untuk diketahui oleh semua orang.
Pengetahuan ini diikuti oleh keterampilan. Keterampilan-keterampilan, sikap-
sikap, dan nilai-nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti (esensial) dari
sebuah pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang
tinggi, pengembangan intelek atau kecerdasan.
2. Metode Pendidikan
Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered). Umumnya diyakini bahwa
pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan, dan mereka haru
dipaksa belajar. Oleh karena itu pedagogi yang bersifat lemah-lembut harus
dijauhi, dan memusatkan diri pada penggunaan metode-metode tradisional yang
tepat. Metode utama adalah latihan mental, misalnya melalui diskusi dan
pemberian tugas; dan penguasan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian
informasi dan membaca.
3. Kurikulum
Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang mencakup mata-mata pelajaran
akademik yang pokok. Kurikulum Sekolah Dasar ditekankan pada pengembangan
keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan matematika. Kurikulum
Sekolah Menengah menekankan pada perluasan dalam mata pelajaran
matematika, ilmu kealaman, humaniora, serta bahasa dan sastra. Penguasaan
terhadap mata-mata pelajaran tersebut dipandang sebagai suatu dasar utama bagi
pendidikan umum yang diperlukan untuk dapat hidup sempurna. Studi yang ketat
tentang disiplin tersebut akan dapat mengembangkan kesadaran pelajar, dan pada
saat yang sama membuat mereka menyadari dunia fisik yang mengitari mereka.
Penguasaan fakta dan konsep-konsep pokok dan disiplin-disiplin yang inti adalah
wajib.
4. Pelajar
Siswa adalah makhluk rasional dalam kekuasaan fakta dan keterampilan-
keterampilan pokok yang siap melakukan latihan-latihan intelektif atau berpikir.
Sekolah bertanggungjawab atas pemberian pelajaran yang logis atau dapat
dipercaya. Sekolah berkuasa untuk menuntut hasil belajar siswa.
5. Pengajar
Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di
kelas. Guru berperanan sebagai sebuah contoh dalam pengawalan nilai-nilai dan
penguasaan pengetahuan atau gagasan-gagasan.

C. REKONSTRUKSIONISME

Rekonstruksionisme berasal dari bahasa inggris Reconstruct yang berarti


menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan aliran rekonstruksionisme
adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun
tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern.Aliran ini dipelopori oleh
George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930. Mereka bermaksud membangun
masyarakat baru, masyarakat yang dipandang pantas dan adil.

Ide gagasan mereka secara meluas dipengaruhi oleh pemikiran progresif


Dewey, dan ini menjelaskan mengapa aliran rekonstruksionisme memiliki
landasan filsafat pragmatisme. Meskipun mereka juga banyak terinspirasi oleh
pemikiran Theodore Brameld, khususnya dengan beberapa karya filsafat
pendidikannya, mulai dari Pattern of Educational Philosophy (1950), Toward a
reconstructed Philosophy of Education (1956), dan Education as Power (1965).

Pada dasarnya aliran rekonstruksionisme sepaham dengan aliran


perenialisme bahwa ada kebutuhan mendesak untuk kejelasan dan kepastian bagi
kebudayaan zaman modern sekarang (hendak menyatakan krisis kebudayaan
modern), yang sekarang mengalami ketakutan, kebimbangan dan kebingungan.
Tetapi aliran rekonstruksionisme tidak sependapat dengan cara dan jalan
pemencahan yang ditempuh filsafat perenialisme. Aliran perenialisem memilih
jalan kembali ke alam kebudayaan abad pertengahan. Sementara itu alliran
rekonstruksionisme berusaha membina suatu konsensus yang paling luas dan
paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia.

Untuk mencapai tujuan tersebut, rekonstruksionisme berusaha mencari


kepepakatan semua orang mengenai tujuan utama yang dapat mengatur tata
kehidup manusia dalam suatu tatanan baru seluruh lingkungannya, maka melalui
lembaga dan proses pendidikan. Rekonstruksionisme ingin merombak tata
susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali
baru.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia
merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Oleh karenanya, pembinaan
kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia
melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar demi generasi
sekarang dan generasi yang akan datang sehingga terbentuk dunia baru dalam
pengawasan umat manusia.
Aliran ini memersepsikan bahwa masa depan suatu bangsa merupakan
suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia
yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan
hanya teori tetapi mesti menjadi kenyataan sehingga dapat diwujudkan suatu
dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan,
kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan
warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat
bersangkutan.
Dengan singkat dapat dikemukakan bahwa aliran rekonstruksionisme
bercita-cita untuk mewujudkan suatu dunia dimana kedaulatan nasional berada
dalam pengayoman atau subordinate dari kedaulatan dan otoritas internasional.
Pandangan dan Implikasi Aliran Rekonstruksionisme dalam Pendidikan
1. Pandangan Ontologi
Dengan ontologi, dapat diterangkan tentang bagaimana hakikat dari segala
sesuatu. Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat
universal, yang mana realita itu ada dimana dan sama di setiap tempat. Untuk
mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang konkrit dan menuju ke arah yang
khusus menampakkan diri dalam perwujudan sebagaimana yang kita lihat di
hadapan kita dan ditangkap oleh panca indra manusia seperti bewan dan
tumbuhan atau benda lain di sekeiling kita, dan realita yang kita ketahui dan kita
hadapi tidak terlepas dari suatu sistem, selain substansi yang dipunyai dan tiap-
tiap benda tersebut, dan dapat dipilih melalui akal pikiran.
Kemudian, tiap realita sebagai substansi selalu cenderung bergerak dan
berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teknologi). Dengan demikian
gerakan tersebut mencakup tujuan dan terarah guna mencapai tujuan masing-
masing dengan caranya sendiri dan diakui bahwa tiap realita memiliki perspektif
tersendiri.
2. Pandangan Epistimologis
Kajian epsitimologis aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliran
pragmatisme (progressive) dan perenialisme. Berpijak dari pola pemikiran bahwa
untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa
tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan
hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang
ilmu pengetahuan. Karenanya, baik akal maupun rasio sama-sama berfungsi
membentuk pengetahun, dan akal dibawa oleh panca indera menjadi pengetahuan
dalam yang sesungguhnya.
Aliran ini juga berpendapat bahwa dasar dari suatu kebenaran dapat dibuktikan
dengan self evidence, yakni bukti yang ada pada diri sendiri, realita dan
eksistensinya. Pemahamannya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada di
dalam pengetahuan ilmu itu sendiri. Sebagai ilustrasi, adanya Tuhan tidak perlu
dibuktikan dengan bukti-bukti lain atas eksistensi Tuhan (self evidence). Kajian
tentang kebenaran itu diperlukan suatu pemikiran, metode yang diperlukan guna
menuntun agar sampai kepada pemikiran yang hakiki. Penalaran-penalaran
memiliki hukum-hukum tersendiri agar dijadikan pegangan ke arah penemuan
definisi atau pengertian yang logis.
Ajaran yang dijadikan pedoman berasal dari Aristoteles yang membicarakan dua
hal pokok, yakni pikiran (ratio) dan bukti (evidence), dengan jalan pemikirannya
adalah silogisme. Silogisme menunjukkan hubungan logis antara premis mayor,
premis minor dan kesimpulan (condusion), dengan memakai cara pengambilan
kesimpulan deduktif dan induktif.
3. Pandangan Ontologis
Dalam proses interaksi sesama manusia, diperlukan nilai-nilai. Begitu juga
halnya dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak
mungkin melakukan sikap netral, akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar
telah melakukan proses penilaian, yang merupakan kecenderungan manusia.
Tetapi, secara umum ruang lingkup (scope) tentang pengertian “nilai” tidak
terbatas.
Aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas
supernatural yakni menerima nilai natural yang universal, yang abadi berdasarkan
prinsip nilai teologis. Hakikat manusia adalah pancaran yang potensial yang
berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang
kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. Kemudian, manusia sebagai subyek
telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya.
Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya apabila tidak dikuasai oleh hawa nafsu
belaka, karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan.
Neo-Thomisme memandang bahwa etika, estetika dan politik sebagai cabang
dari filsafat praktis, dalam pengertian tetap berhubungan dan berdasarkan pada
prinsip-prinsip dari praktek-praktek dalam tindakan-tindakan moral, kreasi
estetika dan organisasi politik. Karenanya, dalam arti teologis manusia perlu
mencapai kebaikan tertinggi, yakni bersatu dengan Tuhan, kemudian berpikir
rasional. Dalam kaitannya dengan estetika (keindahan), hakikat sesungguhnya
ialah Tuhan sendiri.
Aristoteles memandang bahwa kebajikan dibedakan menjadi dua macam, yakni
kebajikan intelektual dan kebajikan moral, kebajikan moral merupakan suatu
kebajikan berdasarkan pembiasaan dan merupakan dasar dari kebajikan
intelektual.
Implikasi Aliran Rekonstruksionalisme dalam Pendidikan
1. Tujuan Pendidikan

a. Sekolah-sekolah rekonstruksionis berfungsi sebagai lembaga utama untuk


melakukan perubahan sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat.
b. Tugas sekolah-sekolah rekonstruksionis adalah mengembangkan ”insinyur-
insinyur” sosial, warga-warga negara yang mempunyai tujuan mengubah secara
radikal wajah masyarakat masa kini.
c. Tujuan pendidikan rekonstruksionis adalah membangkitkan kesadaran para
peserta didik tentang masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi umat
manusia dalam skala global, dan mengajarkan kepada mereka keterampilan-
keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut.

2. Metode pendidikan

Analisis kritis terhadap kerusakan-kerusakan masyarakat dan kebutuhan-


kebutuhan programatik untuk perbaikan.Dengan demikian menggunakan metode
pemecahan masalah, analisis kebutuhan, dan penyusunan program aksi perbaikan
masyarakat.

3. Kurikulum

Kurikulum berisi mata-mata pelajaran yang berorientasi pada kebutuhan-


kebutuhan masyarakat masa depan. Kurikulum banyak berisi masalah-masalah
sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi umat manusi, yang termasuk di
dalamnya masalah-masalah pribadi para peserta didik sendiri; dan program-
program perbaikan yang ditentukan secara ilmiah untuk aksi kolektif. Struktur
organisasi kurikulum terbentuk dari cabang-cabang ilmu sosial dan proses-proses
penyelidikan ilmiah sebagai metode pemecahan masalah.

4. Pelajar
Siswa adalah generasi muda yang sedang tumbuh menjadi manusia pembangun
masyarakat masa depan, dan perlu berlatih keras untuk menjadi insinyur-insinyur
sosial yang diperlukan untuk membangun masyarakat masa depan.

5. Pengajar

Guru harus membuat para peserta didik menyadari masalah-masalah yang


dihadapi umat manusia, mambatu mereka merasa mengenali masalah-masalah
tersebut sehingga mereka merasa terikat untuk memecahkannya. Guru harus
terampil dalam membantu peserta didik menghadapi kontroversi dan perubahan.
Guru harus menumbuhkan berpikir berbeda-beda sebaga suatu cara untuk
menciptakan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang menjanjikan
keberhasilannya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala


sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga
mencapai hakikat segala situasi tersebut. Dalam rangka perwujudan pendidikan
yang baik maka filsafat berperan penting dalam penciptaan-penciptaan kondisi –
kondisi yang benar-benar mendukung bagi pelaksanaan suatu kegiatan
kependidikan.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana


belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara
Lahirnya aliran-aliran dalam filsafat pendidikan pun selalu didasarkan atas
keinginan menciptakan manusia-manusia ideal melalui jalur pendidikan. Aliran-
aliran di dalam filsafat pendidikan di antaranya adalah perenialisme,
essensialisme, dan rekonstruksionisme
Saran
Sebagai calon guru sudah sepantasnya kita memilih filsafat yang baik
untuk kita terapkan dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari supaya kita
menjadi insan yang memahami akan makna kehidupan dunia ini dan supaya bisa
menjadi uswatun khasanah (suri tauladan) bagi peserta didik kita.
DAFTAR PUSTAKA
Tafsir, Ahmad. 2010. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jalaluddin dan Abdullah Idi. 2014. Filsafat Pendidikan. Jakarta : PT Rajagrafindo


Persada.
Yusnadi-Ibrahim Gultom- Wildansyah Lubis-Arifin Siregar.2019.Filsafat
Pendidikan. Jakarta : halamanmoeka.

Anda mungkin juga menyukai