Anda di halaman 1dari 11

AUDITING

Analisis Tanggung Jawab Manajemen dan Auditor


Terhadap Kasus Garuda

Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. Tri Widyastuti, SE., M.M., Ak., CA.,

Disusun Oleh:
1. Alboin Sihombing NPM: 5518221033
2. Yuda Sri Bagus A NPM: 5518221052
3. Muhyi TIdak Masuk
4. Irda Tidak Masuk
5. Eka Tidak Masuk

MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS PANCASILA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

Audit Laporan Keuangan

Auditing adalah proses pengumpulan dan evaluasi bukti mengenai suatu informasi untuk
menetapkan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi tersebut dengan kriterianya.
Auditing hendaknya dilakukan oleh seseorang yang kompeten dan independen.” (Arens)

Auditor’s Responsibilities

Menurut PSA 1 (SA 110) revisi, menyatakan bahwa :

“Auditor memiliki tanggung jawab untuk merencanakan dan menjalankan audit untuk
memperoleh keyakinan yang memadai apakah laporan keuangan telah bebas dari salah saji
material, yang disebabkan oleh kesalahan ataupun kecurangan. Karna sifat dari bahan bukti
audit dan karakteristik kecurangan, auditor harus mampu mendapatkan keyakinan yang
memadai, namun bukan absolute, bahwa salah saji material telah dideteksi. Auditor tidak
memiliki tanggung jawab untukmerencanakan dan menjalankan audit untuk mendapatakan
keyakinan yang memadai bahwa kesalahan penyajian yang disebabkan oleh kesalahan
maupun kecurangan, yang tidak signifikan terhadap laporan keuangan telah terdeteksi”

Paragraf ini membahas mengenai tanggung jawab auditor untuk mendeteksi kesalahan
penyajian yang sifatnya material dalam laporan keuangan serta diskusi terkait dalam standar
mengenai tanggung jawab auditor untuk mendeteksi salah saji yang material memasukkan
beberapa istilah dan kalimat penting.

Salah Saji Material versus Tidak Material. Kesalahan saji biasanya dianggap material jika
gabungan dari kesalahan-kesalahan yang belum dikoreksi dan kecurangan dalam laporan
keuangan akan mengubah atau memengaruhi keputusan orang-orang yang menggunakan
laporan keuangan tersebut. Akan menjadi sangat mahal (tidak mungkin) jika auditor harus
bertanggung jawab dalam menemukan semua kesalahan maupun kecurangan yang sifatnya
tidak material.

Keyakinan Memadai. Standar audit mengindikasikan keyakinan yang memadai sebagai


tingkat yang tinggi, namun tidak absolut, bahwa laporan keuangan telah bebas dari salah saji
material. Konsep “memadai namun bukan absolut” menandakan bahwa auditor bukanlah
penjamin kebenaran atas laporan keuangan.
Auditor bertanggung jawab untuk mendapatkan tingkat keyakinan yang memadai, namun
bukan absolut, untuk beberapa alasan berikut :

1. Sebagian besar bahan bukti audit berasal dari pengujian sample populasi, misalnya untuk
akun piutang dagang atau persediaan.

2. Penyajian akuntansi berisi estimasi yang kompleks, di mana melibatkan ketidakpastian dan
dapat dipengaruhi oleh kejadian di masa mendatang. Akibatnya, auditor harus mengandalkan
bukti yang meyakinkan, namun tidak menjamin.

3. Sering kali sangat sulit , atau bahkan tidak mungkin bagi auditor untuk mendeeksi
kesalahan saji dalam laporan keuangan, khususnya ketika terjadi kolusi di antara manajemen

Argumen terbaik bagi auditor ketika kesalahan penyajian yang material tidak dapat ditemukan
adalah dengan telah menjalankan audit sesuai dengan standar audit.

Kesalahan versus Kecurangan. PSA 70 (SA 316) membedakan dua jenis salah saji yaitu,
kesalahan (errors) dan kecurangan (fraud). Suatu kesalahan merupakan salah saji dalam
pelaporan keuangan yang tidak disengaja, sedangkan kecurangan merupakan salah saji
dalam saji yang disengaja.contoh kesalahan diantaranya lupa memperhitungkan harga bahan
baku lama dalam menentukan biaya persediaan dengan metode lebih rendah antara biaya
dan harga pasar.

Untuk kecurangan, terdapat perbedaan antara penyalahgunaan aset, yang sering disebut
juga sebagai kecurangan karyawan, dan kecurangan dalam pelaporan keuangan, yang sering
disebut juga dengan kecurangan manajemen.

Skeptisme profesional. PSA 04 (SA 230) mengharuskan pengauditan di desain untuk


menghasilkan keyakinan yang memadai untuk mendeteksi baik kesalahan-kesalahan yang
material maupun kecurangan dalam laporan keuangan. Skeptisme profesional merupakan
suatu perilaku pemikiran yang secara kritis dan penilaian kritis atas bahan bukti audit.

Tanggung Jawab Auditor dalam Mendeteksi Kesalahan Saji Material

Auditor menekan beragam kesalahan yang diakibatkan oleh kesalahan-kesalahan dalam


perhitungan, kealpaan, kesalahpahaman dan kesalahan penerapan standar akuntansi, serta
kesalahan dalam pengelompokan dan penjelasan.

Tanggung Jawab Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan Material

Standar audit juga mengakui bahwa kecurangan lebih sulit untuk dideteksi karena manajemen
atau karyawan yang terlibat dalam kecurangan tersebut berusaha untuk menutup-nutupi
kecurangan tersebut. Namun demikian, kesulitan dalam mendeteksi tidak mengubah
tanggung jawab auditor untuk merencanakan dan menjalankan audit dengan tepat untuk
mendeteksi salah saji material, baik yang disebabkan oleh kesalahan maupun kecurangan.

Kecurangan yang Diakibatkan Kecurangan dalam Pelaporan Keuangan dan Penyalahgunaan


aset baik kecurangan dalam pelaporan keuangan maupun penyalahgunaan aset berpotensi
membahayakan para pengguna laporan keuangan, namun ada perbedaan penting diantara
kedua kecurangan tersebut. Biasanya, namun tidak selalu, penggelapan aset dilakukan oleh
karyawan dan bukan manajemen, dan jumlah yang dicuri sering kali tidak signifikan.

Terdapat perbedaan penting antara penggelapan aset dan salah saji yang muncul dari
penggelapan aset tersebut. Pertimbangkan situasi berikut.

1. Aset diambil dan penggelapan ini ditutupi dengan cara menyalahsajikan aset. Misalnya,
kas yang ditagih dari konsumen telah dicuri sebelum dicatat sebagai penerimaan kas, dan
akun piutang untuk konsumen tersebut tidak dikreditkan. Sehingga salah saji ini tidak dapat
dideteksi.

2. Aset diambil dan penggelapan ini ditutupi dengan mengurangsajikan pendapatan atau
melebihsajikan beban. Misalnya, kas yang diterima dari penjualan tunai telah dicuri dan
transaksi tidak dicatat.

3. Aset diambil, namun penyalahgunaan dapat dideteksi. Laporan laba rugi dan catatan kaki
yang terkait dengan jelas menggambakan adanya penyalahgunaan tersebut.

Tanggung Jawab Auditor untuk Membongkar Tindakan Ilegal

Tindakan ilegal didefinisikan dalam PSA 31 (SA 317) sebagai pelanggaran terhadap hukum
atau peraturan pemerintah selain kecurangan. Dua contoh tindakan ilegal adalah pelanggaran
terhadap peraturan perpajakan yang ditetapkan pemerintah dan pelanggaran hukum
perlindungan lingkungan.

Tindakan Ilegal Berdampak Langsung. Tanggung jawab auditor yaitu setiap melakukan audit,
auditor biasanya akan mengevaluasi apakah terdapat bahan bukti yang tersedia yang
mengindikasikan adanya pelanggaran yang signifikan terhadap peraturan perpajakan
pemerintah. Untuk melakukan evaluasi ini, audtor dapat melakukan diskusi dengan personel
klien dan memeriksa laporan yang diterbitkan oleh kantor pajak setelah selesai memeriksa
pajak penghasilan klien.

Tindakan Ilegal Berdampak Tidak Langsung. Denda potensial yang besarnya signifikan dan
sanksi yang diberikan berdampak tidak langsung terhadap laporan keuangan dengan
menciptakan kebutuhan untuk mengungkapkan liabilitas kontinjensi sejumlah denda yang
mungkin harus dibayarkan. Contoh tindakan ilegal ini diantaranya pelanggaran peraturan
insider trading, hukum hak sipil, dan peraturan keselamatan karyawan. Standar audit
menyatakan bahwa auditor tidak memberikan keyakinan bahwa tindakan-tindakan ilegal
berdampak tidak langsung dapat dideteksi.

Akumulasi Bukti Ketika Tidak Ada Alasan untuk Meyakini Adanya Tindakan ilegal Berdampak
Tidak Langsung. Auditor juga harus menanyakan pada manajemen mengenai kebijakan yang
mereka terapkan untuk mencegah tindakan ilegal dan apakah manajemen mengetahui
adanya hukum dan peraturan yang mungkin telah dilanggar perusahaan. Selain itu auditor
tidak diharuskan untuk mencari tindakan ilegal berdampak tidak langsung kecuali ada alasan
yang memadai untuk meyakini bahwa telah terjadi tindakan pelanggaran hukum.

Akumulasi Bukti Ketika Ada Alasan Untuk Meyakini Adanya Tindakan Ilegal Berdampak
Langsung atau Tidak Langsung yang Mungkin Timbul. Ketika auditor yakin bahwa suatu
tindakan ilegal telah terjadi, beberapa tindakan diperlukan untuk menentukan apakah tindakan
ilegal yang dicurigai tersebut memang benar-benar terjadi. Tindakan-tindakan itu sebagai
berikut :

1. Auditor pertama kali harus menanyakan pada manajemen yang tingkatnya lebih tinggi dari
pihak yang dicurigai terlibat dalam tindakan ilegal yang potensial.

2. Auditor harus berkonsultasi dengan penasehat hukum klien atau ahli lainnya memiliki
pengetahuan mengenai potensial tindakan ilegal.

3. Auditor harus mempertimbangkan untuk menambah akumulasi bahan bukti audit untuk
menentukan apakah benar-benar terjadi tindakan ilegal.

Tindakan Ketika Auditor Mengetahui Adanya Tindakan Ilegal. Tindakan pertama yang
dilakukan ketika tindakan ilegal teridentifikasi adalah mempertimbangkan dampaknya
terhadap laporan keuangan, termasuk kecukupan pengungkapannya. Dampak dari tindakan
ilegal ini mungkin sangat kompleks dan sulit untuk diselesaikan. Auditor juga harus
mempertimbangkan dampak dari tindakan ilegal tersebut terhadap hubungan KAP dengan
manajemen. Auditor juga harus mengkomunikasikan dengan komite audit atau otoritas
lainnya yang setara untuk meyakinkan bahwa mereka mengetahui adanya tindakan ilegal
tersebut. Komunikasi dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis. Jika dilakukan secara
lisan, sifat komunikasi dan diskusi yang dilakukan harus didokumentasikan dalam arsip
pengauditan. Jika klien menolak untuk menerima laporan audit yang dimodifikasi, atau tidak
melakukan tindakan yang segera untuk menangani tindakan tersebut, maka dirasa penting
bagi auditor untuk menarik diri dari kontrak kerja tersebut.

Pembahasan

Tanggung jawab auditor dalam kasus Garuda Indonesia

1. Material versus Immaterial Misstatements


- Dalam konteks kasus Garuda, cukup jelas bahwa transaksi dari kontrak
Mahata, signifikan menentukan tidaknya Garuda terhindar dari kerugian pada
periode 2018. Garuda memperoleh pendapatan senilai US$239,94 juta dari
Mahata pada 2018, dan menjadikan Garuda (grup) membukukan laba bersih
sebesar US$5,02 juta. Jika tidak ada kontrak itu, maskapai tentu bisa
mencatatkan rugi US$244 juta.
2. Reasonable Assurance
- Meskipun auditor tidak menjamin kebenaran absolut, dengan memiliki
keyakinan yang memadai sebagai tingkat yang tinggi bahwa laporan keuangan
telah bebas dari salah saji material sehingga hasi audit dapat dipertanggung
jawabkan.
- Dalam kasus garuda, auditor mengesampingkan hal ini dengan tidak
melakukan komprasai dan ekualisasi antara pendapatan dan beban dari
kontrak dengan Mahata.
3. Errors versus Fraud
- Garuda bekerja sama dengan Mahata yang berkomitmen untuk menanggung
seluruh biaya penyediaan, pelaksanaan, pemasangan, pengoperasian,
perawatan dan pembongkaran dan pemeliharaan termasuk jika ada
kerusakan, mengganti atau memperbaiki peralatan layanan konektivitas.
- Pemasangan peralatan layanan itu dipasang dalam penerbangan untuk 50
pesawat Garuda Indonesia tipe A320, 20 pesawat A330, 73 pesawat Boeing 737-
800 NG, dan 10 pesawat Boeing 777 dengan nilai US$131,94 juta. Kemudian,
layanan hiburan dipasang di 18 pesawat tipe A330, 70 pesawat Boeing 737-800
NG, satu pesawat Boeing 737-800 Max, dan 10 pesawat Boeing 777 dengan nilai
US$80 juta.
- Penyebab menggelembungnya pendapatan garuda yang hanya dikarenakan
transaksi dari satu perusahaan mengindikasikan kesalahan yang terjadi adalah
disengaja.
- Berdasarkan penelitian lebih lanjut garuda sebenarnya belum mendapatkan
bayaran dari Mahata atas kerja sama yang dilakukan. Namun manajemen tetap
menuliskannya sebagai pendapatan, sehingga secara akuntansi Garuda
Indonesia menorehkan laba bersih dari sebelumnya yang rugi sebesar US$216,58
juta sehingga factor kesengajaan dapat terjadi pada kasus ini.
4. Professional skepticism
- Skeptisme profesional merupakan suatu perilaku pemikiran yang secara kritis
dan penilaian kritis atas bahan bukti audit. JIka auditor menerapkan hal ini,
maka pencatatan pendapat tidak akan serta merta dapat dakui mengingat
lamanya kontrak yaitu 15 tahun.
- Harus ada perbandingan yang seimbang antara pendapatan (revenue)
dengan beban operasi di masing-masing tahun. Artinya pendapatan itu
harus disebar selama 15 tahun lagi, hal ini seharusnya dijadikan
pertimbangan auditor dalam melakasanakan auditnya.
5. Fraud resulting from fraudulent financial reporting versus misappropriation of assets
- Berdasarkan penjelasan diatas, kasus garuda adalah manipulasi laporan laba
rugi dengan mencatatkan pendapatan yang tidak wajar.
- Pencatatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan laba perusahaan secara
siknifikan.
6. Tanggung Jawab Auditor untuk Membongkar Tindakan Ilegal
- Sejauh ini belum ada indikasi tindakan illegal atas kasus ini.

TEORI TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN DALAM AUDIT

Tanggung jawab untuk menerapkan kebijakan akuntansi yang memadai, menjaga kecukupan
pengendalian internal dan menyajikan laporan keuangan yang wajar terletak pada
manajemen, bukan auditor. Karena mengoperasikan perusahaan sehari-hari, manajemen
perusahaan lebih mengetahui transaksi-transaksi dan aset yang terjadi di perusahaan,
liabilitas, dan ekuitas yang terkait, dibandingkan dengan auditor. Sebaliknya, pengetahuan
auditor mengenai hal tersebut serta pengendalian internal hanya terbatas pada apa yang
mereka dapatkan selama menjalankan pengauditan.

Banyak laporan keuangan perusahaan publik yang memasukkan pernyataan mengenai


tanggung jawab manajemen dan hubungan dengan KAP. Tanggung jawab manajemen atas
kewajaran dalam representasi (asersi) pada laporan keuangan memberikan kebebasan bagi
manajemen untuk menemukan penyajian dan pengungkapan laporan keuangan yang
dianggap oleh auditor tidak dapat diterima, maka auditor dapat menerbitkan opini tidak wajar
(adverse) atau opini wajar dengan pengecualian (qualified) atau menarik diri dari kontrak
kerja.

Peraturan Bapepam-LK meningkatkan tanggung jawab manajemen terhadap laporan


keuangan dengan mengharuskan presiden direktur atau chief executive officer (CEO) dan
manajer keuangan (chief financial officer-CFO) perusahaan publik untuk mengesahkan
laporan keuangan yang dilaporkan kepada Bapepam-LK. Dalam menandatangani pernyataan
tersebut, manajemen mengesahkan bahwa laporan keuangan sepenuhnya telah sesuai
dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, bahwa semau informasi
yang diungkapkan dalam laporan keuangan adalah lengkap dan benar, dan bahwa
manajemen sepenuhnya bertanggung jawab atas pengendalian internal.
SEBUAH ANALISA ATAS KESALAHAN PIHAK MANAJEMEN PT GARUDA INDONESIA
PERSERO

Laporan Keuangan Garuda dimanipulasi siapa yang tanggung jawab?

Polemik ini berawal dari penolakan dua komisaris perseroan, yakni Chairal Tanjung dan Dony
Oskaria terhadap laporan keuangan Garuda Indonesia pada 2018.

Keduanya mencurigai transaksi yang berkontribusi besar terhadap kondisi keuangan Garuda
dari rugi besar menjadi untung hanya dalam 3 bulan. Transaksi yang dicurigai itu adalah
Perjanjian Kerja Sama Penyediaan Layanan Konektivitas Dalam Penerbangan, antara PT
Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia, pada 31 Oktober 2018.

Dari perjanjian itu, pendapatan GIAA dari Mahata sebesar 239,94 juta dolar AS yang di
antaranya sebesar 28 juta dolar AS merupakan bagian dari bagi hasil yang didapat dari PT
Sri Wijaya Air. Menurut kedua komisaris, seharusnya catatan transaksi itu tidak dapat diakui
dalam tahun buku 2018. Apalagi, durasi kerja samanya cukup panjang yakni mencapai 15
tahun.

kondisi ini jelas akan menimbulkan kerugian bagi pemerintah. Sebab bila Garuda benar-benar
untung, harusnya pemerintah bisa memperoleh pendapatan dari pajak penghasilan (PPh).
“Pajak yang sebelumnya disetor ke pemerintah karena Garuda catat laba bisa
dipermasalahkan. Karena Garuda faktanya rugi, jadi enggak bayar PPh.

jika tidak untung, maka bisa dianggap manajemen perusahaan dengan sengaja telah
memanipulasi laporan keuangan untuk mempengaruhi pemegang saham.

pihak yang paling bertanggung jawab dalam kasus ini adalah akuntan yang mengesahkan
laporan serta Direktur Keuangan Garuda selaku pihak yang menyusun laporan keuangan
tersebut.

Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Garuda Indonesia, Fuad Rizal mengklaim
perusahaannya tidak melanggar Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 23 karena secara
subtansi pendapatan dapat dibukukan sebelum kas diterima. “PSAK 23 menyatakan kategori
pengakuan pendapatan yaitu penjualan barang, penjualan jasa dan pendapatan atas bunga,
royalti dan dividen di mana seluruhnya menyatakan kriteria pengakuan pendapatan yaitu
pendapatan dapat diukur secara handal, adanya manfaat ekonomis yang akan mengalir
kepada entitas dan adanya transfer of risk.

Banyak faktor yang bisa terjadi dalam proses pemeriksaan sehingga membuat hasil audit
salah. Misalnya, tidak lengkapnya data yang disajikan perusahaan yang bersangkutan, atau
bisa juga kesalahan penyajian data keuangan sehingga mengakibatkan kesimpulan audit
yang disusun menjadi salah.