Anda di halaman 1dari 11

BAB I

ISI JURNAL

1.1 Nama Jurnal


Brazilian Journal of Otorhinolaryngology
1.2 Judul Jurnal

Judul Asli : Unusual coexisting thyroglossal duct cyst and


second branchial cleft fistula in an adult
Judul Bahasa Indonesia : Kista duktus tiroglosal dan fistula celah brankial
kedua yang ada berdampingan secara tidak biasa
pada orang dewasa
1.3 Penulis

Lee Dong Hoon, Tae Mi Yoon, Joon Kyoo Lee, Sang Chul Lim

1.4 Tahun Terbit dan Tempat Kasus Jurnal


Tahun terbit jurnal yaitu tahun 2018 dan bertempat di Korea Selatan

1.5 Pengantar
Kista duktus tiroglosal adalah massa leher kongenital yang paling umum
terjadi, kemudian diikuti oleh anomali celah brankial. Kista duktus tiroglosal
tiga kali lebih banyak terjadi daripada anomali celah brankial. Namun,
sepengetahuan kami, kista duktus tiroglosal dan anomali celah brankial yang
ada berdampingan telah dilaporkan hanya sekali dalam literatur. Di sini, kami
menyajikan laporan kasus kedua dari kista duktus tiroglosal dan fistula celah
brankial kedua yang hidup pada seorang pria berusia 34 tahun.

1.6 Laporan Kasus


Seorang laki-laki berusia 34 tahun hadir dengan discharge mukoid leher
anterior dan lateral yang berulang sejak kecil. Pasien melaporkan tidak ada
riwayat medis yang relevan kecuali untuk tonsilektomi bilateral 25 tahun lalu.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan dua lubang eksternal pada leher pasien.
Satu terletak setinggi hyoid; yang lain ditemukan di sepanjang perbatasan
anterior dari sepertiga bagian bawah otot sternocleidomastoid (SCM). Tidak

1
ada massa yang teraba maupun saluran subkutan, dan tidak ada peradangan
aktif yang hadir di sekitar lesi. Pemindaian Tomografi Terkomputasi (CT)
leher memperlihatkan sebuah lesi kistik tepi meninggi memanjang 8.2 cm di
sepanjang leher anterior kiri, memanjang dari batas anterior dari sepertiga
bawah SCM ke fossa tonsilar (Gambar. 1). CT scan tidak menunjukkan
traktus fistula atau kista di tingkat hyoid, dan tidak ada hubungan antara
kedua lubang eksternal. Pharyngoesophagogram menunjukkan tidak ada
kebocoran dari faring.
Berdasarkan pengamatan ini, pasien didiagnosis dengan fistula celah
brankial kedua kiri dan kemungkinan kista duktus tiroglosal. Sebagai langkah
bedah pertama untuk fistula celah brankial, insisi elips transversal dibuat
sekitar lubang eksternal. Dengan traksi lembut pada fistula, pembedahan
berlanjut hingga ke bagian kepala. Setelah insisi stepladder, saluran fistula
dibedah ke fossa tonsilar, di mana ia diikat dan dipisahkan ( Gambar. 2 ) .
Kami melakukan operasi Sistrunk untuk fistula di tingkat hyoid di bawah
diagnosis kerja yaitu kista duktus tiroglosal ( Gambar. 2 ). Faringoskopi
intraoperatif mengungkapkan tidak ada pembukaan faring. Pemeriksaan
patologi dari lesi mengungkapkan kista duktus tiroglosal dan fistula celah
brankial. Perjalanan pasca operasi pasien lancar. Pada 14 bulan follow up,
belum ada rekurensi, dan pasien tetap asimptomatik.

2
Gambar 1. CT scan axial leher memperlihatkan sebuah lesi kistik tepi meninggi
memanjang 8.2 cm (panah) di sepanjang leher anterior kiri.

Gambar 2. Temuan intraoperatif menunjukkan sebuah fistula celah brankial


kedua kiri yang sudah dibedah (panah hitam) dengan insisi stepladder, dan kista
duktus tiroglosal (panah putih) dengan tulang hyoid yang melekat. M, mandibula

3
1.7 Diskusi
Kista saluran tiroglosal adalah penyebab paling umum massa leher
kongenital. Mereka biasanya hadir sebagai massa di garis tengah leher dan
dapat ditemukan di setiap titik antara foramen sekum dan fossa jugularis
sternalis. Mereka tidak nyeri, membesar perlahan, dan mungkin berhubungan
dengan saluran fistula atau sinus. Dalam hal ini, kista duktus tiroglosal
muncul sebagai fistula. Anomali celah brankial dapat hadir sebagai kista,
sinus, sisa-sisa tulang rawan, atau fistula; mereka bertanggung jawab dalam
hampir sekitar 30% dari semua lesi kongenital kepala dan leher, dengan
mayoritas menjadi anomali celah brankial kedua. Secara keseluruhan, lesi
kistik lebih umum daripada fistula pada pasien dengan anomali celah brankial
kedua. Pasien saat ini muncul dengan fistula dengan lubang eksternal kecil
sepanjang batas anterior SCM bawah.
Ultrasonografi, CT, atau, magnetic resonance imaging (MRI) mungkin
bermanfaat untuk mengevaluasi kedua kista duktus tiroglosal dan anomali
celah brankial. Perawatan yang pasti dari kista duktus tiroglosal dan anomali
celah brankial adalah eksisi bedah lengkap dari seluruh saluran. Setelah CT
scan diagnostik pada kasus ini, penulis melakukan pembedahan eksisi
seluruh traktus dengan operasi Sistrunk dan insisi stepladder.
Ada beberapa karakteristik unik untuk kasus ini. Pertama, ini adalah
kasus kedua yang melaporakan kista duktus tiroglos yang ada bersama
dengan fistula celah brankial kedua pada orang dewasa. Temuan ini
menyoroti bahwa kista duktus tiroglosal dan fistula celah brankial ditemukan
pada orang dewasa. Oleh karena itu, berdampingannya kista duktus tiroglosal
dengan fistula celah brankial harus dipertimbangkan sebagai diagnosis
banding lesi pada leher, bahka pada orang dewasa. Kedua, pasien tidak
muncul dengan riwayat infeksi dan prosedur pembedahan sebelumnya untuk
lesi leher kongenital. Ada kemungkinan kejadian kista duktus tiroglosal
asimptomatik dan fistula celah brankial tanpa teraba lesi leher pada orang
dewasa. Ketiga, jika dicurigai ada kista saluran tiroglosal dewasa, operasi
Sistrunk, menghilangkan bagian tengah hyoid, adalah pilihan terapi yang

4
optimal tidak hanya untuk alasan estetika, tetapi juga untuk manajemen
berulang infeksi dan potensi bahaya keganasan.

1.8 Kesimpulan
Berdampingannya kista duktus tiroglosal dengan fistula celah brankial
harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding lesi leher, bahkan pada orang
dewasa.

1.9 Konflik Kepentingan


Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.

1.10 Daftar Pustaka


1. Erikci V, Hos¸gör M. Management of congenital neck lesions in children.
J Plast Reconstr Aesthet Surg. 2014;67:e217---22.

2. Roback SA, Telander RL. Thyroglossal duct cysts and branchial cleft
anomalies. Semin Pediatr Surg. 1994;3:142---6.

3. 3. Kyi M, Zin T, Paijan R, Abdullah, Din N. A case of an adult


synchronous thyroglossal cyst and branchial sinus: case report. Internet J
Pathol. 2012:13.

4. 4. Androulakis M, Johnson JT, Wagner RL. Thyroglossal duct and second


branchial cleft anomalies in adults. Ear Nose Throat J. 1990;69:318---22.

5. Ozoleck JA. Selective pathologies of the head and neck in children: a


developmental perspective. Adv Anat Pathol. 2009;16:332---58.

6. 6. Hong SM, Moon SB. Low-lying thyroglossal duct cyst with lat-eral
cervical discharge masquerading as a second branchial cleft fistula: a
case report. J Pediatr Surg. 2013;48:429---31.

5
BAB II

TELAAH JURNAL

2.1 Analisis Penulisan Jurnal

1. Desain Jurnal

Pada jurnal ini menggunakan desain studi case report. Case report
yaitu melporkan suatu kejadian (kasus penyakit) yang tidak biasa dan
menggambarkan atau dapat sebagai petunjuk awal untuk identifikasi penyakit
baru/efek merugikan dari pajanan. Desain yang digunakan telah sesuai
dengan tujuan dimana penulis ingin melaporkan suatu kasus penyakit yang
terjadi.

2. Penulisan Jurnal

Judul jurnal harus menggambarkan kasus dengan akurat dan ringkas


dan cukup informatif untuk menari perhatian pembaca. Kata-kata yang
berlebihan seperti laporan kasus atau tinjauan literatur harus dihilangkan.
Judul yang baik terdiri dari 10-15 kata. Penulisan judul jurnal ini sudah baik,
dimana judul jurnal ini mampu menarik minat pembaca dan tidak
mencantumkan kata-kata laporan kasus di dalam judulnya serta judul jurnal
ini terdiri dari 12 kata dimana hal ini sudah memenuhi kriteria judul yang
baik (Cohen,dkk, 2003).

Jurnal yang baik tercantum nama penulis, tahun terbit dan disertakan
International standard Serial Number (ISSN) Jurnal. Pada jurnal ini juga
sudah tertera penulis dalam jurnal ini, tahun terbit jurnal, namun tidak
terdapat International Standard Serial Number (ISSN) pada jurnal.

6
3. Penulisan Komponen Jurnal Case Report

Komponen jurnal case report terdiri dari abstrak, pendahuluan,


laporan kasus, diskusi dan tinjauan pustaka. Berikut ini penjelasan untuk
masing-masing komponen jurnal (Gopikrishna, 2010).

Beberapa jurnal jenis case report tidak diperlukan adanya abstrak.


Jikalaupun diperlukan, abstrak tidak harus terstruktur, dan memberikan
informasi penting yang cukup untuk peneliti lain yang melakukan pencarian
basis data. Abstrak untuk laporan kasus umumnya lebih pendek daripada
kategori jurnal lainnya, dan biasanya 100 kata atau kurang panjangnya
(Gopikrishna, 2010). Pada jurnal ini, tidak dicantumkan abstrak. Hal ini
lumrah ditemukan pada jurnal jenis laporan kasus.

Bagian pendahuluan harus menyaatkan mengapa laporan kasus layak


diterbitkan dan dibaca, tidak hanya karena pernyataan yang rasional tetapi
juga karena dokter yang sibuk tidak mau membaca artikel jika mereka tidak
dapat menemukan relevansi dengan praktik mereka. Bagian pendahuluan juga
harus mengandung beberapa bukti dari literatur untuk mendukung klaim
penulis bahwa kasus yang disampaikan penting (Cohen,dkk, 2003). Pada
bagian pendahuluan jurnal ini telah dituliskan bahwa laporan kasus ini
merupakan laporan kasus kedua yang memaparkan kasus dimana adanya kista
duktus tiroglosal yang terdapat bersamaan dengan fistula celah brankial pada
orang dewasa, dimana untuk laporan kasus sebelumnya oleh Kyi, dkk tahun
2012 sudah disampaikan sebagai literatur yang mengklaim pentingnya kasus
ini.

Bagian penulisan laporan kasus, urutan kejadian harus disajikan dalam


urutan kronologis biasanya terdiri dari riwayat klinis, temuan pemeriksaan
fisik, hasil investigasi, diagnosis banding, diagnosis kerja, manajemen, tindak
lanjut dan diagnosis akhir (Gopikrishna, 2010). Pada jurnal ini laporan kasus
sudah disajikan dalam urutan kronologis dimana riwayat klinis pasien adalah
seorang pria berusia 34 tahun dengan keluarnya discharge mukoid dari leher

7
anterior dan lateral sejak kecil dan berulang dan pernah melakukan
tonsilektomi bilateral 25 tahun yang lalu. Temuan pemeriksaan fisik berupa
dua lubang terbuka pada leher. Diagnosis banding untuk kasus ini adalah
semua lesi massa pada leher, dan diagnosis kerja pasien ini adalah fistula
celah brankial kedua kiri dan kista duktus tiroglosal. Manajemen tindak lanjut
pasien ini adalah dilakukannya insisi untuk fistula celah brankialnya dan
operasi Sistrunk untuk kista duktus tiroglosus.

Pada bagian diskusi jurnal, harus menjelaskan, mengklarifikasi dan


menafsirkan temuan utama secara singkat dan langsung ke intinya
(Gopikrishna, 2010). Pada bagain diskusi jurnal ini disampaikan bahwa kista
duktus tiroglosus dan fistula celah brankial harus dipertimbangkan sebagai
diagnosis banding lesi pada leher orang dewasa, dan ada kemungkinan
kejadian dimana kista duktus tiroglosal asimptomatik dan fistula celah
brankial tanpa teraba lesi leher pada orang dewasa serta jika dicurigai ada
kista saluran tiroglosal dewasa, operasi Sistrunk, menghilangkan bagian
tengah hyoid, adalah pilihan terapi yang optimal.

Daftar pustaka laporan kasus disediakan untuk penulis berikutnya


untuk digunakan sebagai bentuk evaluasi diri sebelum membuat jurnal
berikutnya (Cohen,dkk, 2003). Daftar pustaka pada jurnal ini menggunakan
van couver style dengan jumlah 6 sitasi.

2.2 Analisa PICO

Parameter Keterangan
Problem - Laki-laki 34 mengalami keluarnya discharge
mukoid pada leher anterior dan lateral yang
berulang sejak kecil.
- Pemeriksaan fisik:
1. Ditemukan dua lubang eksternal pada leher
pasien; satu terletak setinggi hyoid; yang lain
ditemukan di sepanjang perbatasan anterior

8
dari sepertiga bagian bawah otot
sternocleidomastoid (SCM)
2. Tidak teraba massa dan saluran subkutan
3. Tidak ada peradangan aktif di sekitar lesi
- CT-scan leher:
1. Pada leher anterior kiri ditemukan sebuah lesi
kistik sepanjang 8.2 cm dari 1/3 bawah SCM
ke fossa tonsilar
2. Pada tingkat hyoid tidak ditemukan adanya
fistula/kista
3. Tidak ada hubungan antara kedua lubang
eksterna
- Diagnosis: fistula celah brankial kedua kiri dan
kemungkinan kista duktus tiroglosus
- Patologi dari lesi: kista duktus tiroglosal dan
fistula celah brankial
Intervensi - Fistula celah brankial: insisi stepladder
- Kista duktus tiroglosus: operasi Sistrunk
Comparation - Kasus kedua yang melaporakan kista duktus
tiroglos yang ada bersama dengan fistula celah
brankial kedua pada orang dewasa
- Pasien tidak muncul dengan riwayat infeksi dan
prosedur pembedahan sebelumnya untuk lesi leher
kongenital
- Dicurigai ada kista saluran tiroglosal dewasa maka
dilakukan operasi Sistrunk
Outcome Perjalanan pasca operasi pasien lancar. Pada 14 bulan
follow up, belum ada rekurensi, dan pasien tetap
asimptomatik

BAB III

KEKURANGAN DAN KELEBIHAN JURNAL

3.1 Kekurangan Jurnal

9
Pada jurnal ini untuk semua komponen jurnal sudah memenuhi
penulisan jurnal jenis laporan kasus, namun untuk beberapa isi komponen
seperti pada bagian isi jurnal tidak terlalu dijelaskan secara khusus diagnosis
banding dari kasus. Kemudian juga dari komponen diskusi jurnal, jurnal ini
tidak mencantumkan kekurangan dari kasus.

3.2 Kelebihan Jurnal

Jurnal ini menyajikan sebuah kasus yang langka dimana ini


merupakan kasus kedua yang dilaporkan mengenai adanya kista duktus
tiroglosus bersama dengan fistula celah brankial pada orang dewasa. Jurnal
ini juga memberikan rekomendasi tindakan operasi yaitu berupa operasi
Sistrunk dan insisi elips transversal yang memberikan hasil yang baik berupa
tidak adanya timbul rekurensi pada pasien dan pasien tetap dalam keadaan
asimptomatik selama 14 bulan follow up.

DAFTAR PUSTAKA

Cohen, H., (2006). How To Write a Patient Case Report. American Journal
Health System Pharmacy. 63, 1888-1892

10
Gopikrishna, V. (2010). A Report on Case Report. Journal of Conservative
Dentisty, 13(4), 265-271.

11