Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR REUMATIK (REUMATOID ARTRITIS)


1. Definisi
Penyakit rematik atau dalam bahasa medisnya disebut rheumatoid
artritis (RA) adalah peradangan sendi kronis yang disebabkan oleh ganggun
autoimun. Gangguan autoimun terjadi ketika system kekebalan tubuh yang
berfungsi sebagai pertahanan terhadap penyusup seperti virus, bakteri, dan
jamur keliru menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri.
Kata arthritis berasal dari dua kata Yunani. Pertama, arthron, yang
berarti sendi. Kedua, itis yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis
berarti radang sendi. Sedangkan Reumatoid arthritis adalah suatu penyakit
autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) mengalami
peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya
menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi (Gordon, 2002).
Engram (1998) mengatakan bahwa, Reumatoid arthritis adalah
penyakit jaringan penyambung sistemik dan kronis dikarakteristikkan oleh
inflamasi dari membran sinovial dari sendi diartroidial.
Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non-bakterial yang
bersifat sistemik, progresif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta
jaringan ikat sendi secara simetris (Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah
Orthopedi, hal. 165).
Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang
menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248).
Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak
sampai usia lanjut. Namun resiko akan meningkat dengan meningkatnya umur
(Felson dalam Budi Darmojo, 1999).
Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang
tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam
membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan
deformitas lebih lanjut (Susan Martin Tucker, 1998).

1
Artritis Reumatoid (AR) adalah kelainan inflamasi yang terutama
mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan
dengan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas, dan keletihan
(Diane C. Baughman, 2000).
Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi kronik dengan
manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh
(Arif Mansjour, 2001)

2. Klasifikasi Reumatoid Artritis


Buffer (2010) mengklasifikasikan reumatoid arthritis menjadi 4 tipe, yaitu:
a. Reumatoid arthritis klasik
Pada tipe ini harus terdapat 7 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
b. Reumatoid arthritis defisit
Pada tipe ini harus terdapat 5 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
c. Probable Reumatoid arthritis
Pada tipe ini harus terdapat 3 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
d. Possible Reumatoid arthritis
Pada tipe ini harus terdapat 2 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 3 bulan.

3. Anatomi Fisiologi
Muskuluskeletal terdiri dari tulang, otot, kartilago, ligament, tendon,
fasia, bursae dan persendian.
a. Tulang
Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada bagian intra-seluler.
Tulang berasal dari embryonic hyaline cartilage yang mana melalui proses
“osteogenesis” menjadi tulang. Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang
disebut Osteoblast. Proses mengerasnya tulang akibat menimbunnya
garam kalsium.

2
Fungsi tulang adalah sebagai berikut:
 Mendukung jaringan tubuh dan menbuntuk tubuh.
 Melindungi organ tubuh (jantung, otak, paru-paru) dan jaringan lunak.
 Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi dan
pergerakan )
 Membuat sel-sel darah merah di dalam sumsum tulang (hema
topoiesis).
 Menyimpan garam-garam mineral. Misalnya kalsium, fosfor.
Tulang dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan
bentuknya :
1) Tulang panjang (femur, humerus ) terdiri dari satu batang dan dua
epifisis. Batang dibentuk oleh jaringan tulang yang padat.epifisis
dibentuk oleh spongi bone (Cacellous atau trabecular )
2) Tulang pendek (carpalas) bentuknya tidak teratur dan cancellous
(spongy) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat.
3) Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri dari dua lapisan tulang padat
dengan lapisan luar adalah tulang cancellous.
4) Tulang yang tidak beraturan (vertebra) sama seperti tulang pendek.
5) Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak di sekitar
tulang yang berdekatan dengan persendian dan didukung oleh tendon
danjaringan fasial,missal patella (kap lutut)
b. Otot
Otot dibagi dalam tiga kelompok, dengan fungsi utama untuk kontraksi
dan untuk menghasilkan pergerakan dari bagian tubuh atau seluruh tubuh.
Kelompok otot terdiri dari:
1. Otot rangka (otot lurik) didapatkan pada system skeletal dan berfungsi
untuk memberikan pengontrolan pergerakan, mempertahankan sikap
dan menghasilkan panas
2. Otot Viseral (otot polos) didapatkan pada saluran pencernaan, saluran
perkemihan dan pembuluh darah. Dipengaruhi oleh sisten saraf
otonom dan kontraksinya tidak dibawah control keinginan.

3
3. Otot jantung didapatkan hanya pada jantung dan kontraksinya tidak
dibawah control keinginan.
c. Kartilago
Kartilago terdiri dari serat-serat yang dilakukan pada gelatin yang kuat.
Kartilago sangat kuat tapi fleksibel dan tidak bervascular. Nutrisi
mencapai kesel-sel kartilago dengan proses difusi melalui gelatin dari
kapiler-kapiler yang berada di perichondrium (fibros yang menutupi
kartilago) atau sejumlah serat-serat kolagen didapatkan pada kartilago.
d. Ligament
Ligament adalah sekumpulan dari jaringan fibros yang tebal dimana
merupakan akhir dari suatu otot dan dan berfungsi mengikat suatu tulang.
e. Tendon
Tendon adalah suatu perpanjangan dari pembungkus fibrous yang
membungkus setiap otot dan berkaitan dengan periosteum jaringan
penyambung yang mengelilingi tendon tertentu, khususnya pada
pergelangan tangan dan tumit. Pembungkus ini dibatasi oleh membrane
synofial yang memberikan lumbrikasi untuk memudahkan pergerakan
tendon.
f. Fasia
Fasia adalah suatu permukaan jaringan penyambung longgar yang
didapatkan langsung dibawah kulit sebagai fasia supervisial atau sebagai
pembungkus tebal, jaringan penyambung yang membungkus fibrous yang
membungkus otot, saraf dan pembuluh darah.bagian ahair diketahui
sebagai fasia dalam.
g. Bursae
Bursae adalah suatu kantong kecil dari jaringan penyambung dari suatu
tempat, dimana digunakan diatas bagian yang bergerak, misalnya terjadi
pada kulit dan tulang, antara tendon dan tulang antara otot. Bursae
bertindak sebagai penampang antara bagian yang bergerak sepaerti pada
olecranon bursae, terletak antara presesus dan kulit.

4
h. Persendian
Pergerakan tidak akan mungkin terjadi bila kelenturan dalam rangka
tulang tidak ada. Kelenturan dimungkinkan karena adanya persendian,
suatu letak dimana tulang berada bersama-sama. Bentuk dari persendian
akan ditetapkan berdasarkan jumlah dan tipe pergerakan yang
memungkinkan dan klasifikasi didasarkan pada jumlah pergerakan yang
dilakukan.
Berdasarkan klasifikasinya terdapat 3 kelas utama persendian yaitu:
 Sendi synarthroses (sendi yang tidak bergerak)
 Sendi amphiartroses (sendi yang sedikit pergerakannya)
 Sendi diarthoses (sendi yang banyak pergerakannya)
Perubahan fisiologis pada proses menjadi tua. Ada jangka periode
waktu tertentu dimana individu paling mudah mengalami perubahan
musculoskeletal. Perubahan ini terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja
karena pertumbuhan atau perkembangan yang cepat atau timbulnya terjadi
pada usia tua. Perubahan struktur system muskuloskeletal dan fungsinya
sangat bervariasi diantara individu selama proses menjadi tua. Perubahan
yang terjadi pada proses menjadi tua merupakan suatu kelanjutan dari
kemunduran yang dimulai dari usia pertengahan. Jumlah total dari sel-sel
bertumbuh berkurang akibat perubahan jaringan penyambung, penurunan
pada jumlah dan elasitas dari jaringan subkutan dan hilangnya serat otot,
tonus dan kekuatan. Perubahan fisiologis yang umum adalah:
 Adanya penurunan yang umum pada tinggi badan sekitar 6-10 cm.
pada maturasi usia tua.
 Lebar bahu menurun.
 Fleksi terjadi pada lutut dan pangkal paha
Sendi merupakan suatu engsel yang membuat anggota tubuh dapat
bergerak dengan baik, juga merupakan suatu penghubung antara ruas
tulang yang satu dengan ruas tulang lainnya, sehingga kedua tulang
tersebut dapat digerakkan sesuai dengan jenis persendian yang
diperantarainya.

5
Sebagian besar sendi kita adalah sendi sinovial. Permukaan tulang
yang bersendi diselubungi oleh tulang rawan yang lunak dan licin.
Keseluruhan daerah sendi dikelilingi sejenis kantong, terbentuk dari
jaringan berserat yang disebut kapsul. Jaringan ini dilapisi membran
sinovial yang menghasilkan cairan sinovial untuk “meminyaki” sendi.
Bagian luar kapsul diperkuat oleh ligamen berserat yang melekat pada
tulang, menahannya kuat-kuat di tempatnya dan membatasi gerakan yang
dapat dilakukan.
Sendi dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu:
 Sendi fibrosa, dimana tidak terdapat lapisan kartilago, antara tulang
dihubungkan dengan jaringan ikat fibrosa, dan dibagi menjadi dua
subtipe yaitu sutura dan sindemosis.
 Sendi kartilaginosa, dimana ujungnya dibungkus oleh kartilago hialin,
disokong oleh ligament, sedikit pergerakan, dan dibagi menjadi subtipe
yaitu sinkondrosis dan simpisis.
 Sendi sinovial. Sendi sinovial merupakan sendi yang dapat mengalami
pergerakkan, memiliki rongga sendi dan permukaan sendinya dilapisi
oleh kartilago hialin. Kapsul sendi membungkus tendon-tendon yang
melintasi sendi, tidak meluas tetapi terlipat sehingga dapat bergerak
penuh. Sinovium menghasilkan cairan sinovial yang berwarna
kekuningan, bening, tidak membeku, dan mengandung lekosit. Asam
hialuronidase bertanggung jawab atas viskositas cairan sinovial dan
disintesis oleh pembungkus sinovial. Cairan sinovial mempunyai
fungsi sebagai sumber nutrisi bagi rawan sendi.
Jenis sendi sinovial :
 Ginglimus : fleksi dan ekstensi, mono axis.
 Selaris : fleksi dan ekstensi, abd & add, biaxial.
 Globoid : fleksi dan ekstensi, abd & add; rotasi sinkond multi axial.
 Trochoid : rotasi, mono axis.
 Elipsoid : fleksi, ekstensi, lateral fleksi, sirkumfleksi, multi axis.

6
Secara fisiologis sendi yang dilumasi cairan sinovial pada saat
bergerak terjadi tekanan yang mengakibatkan cairan bergeser ke tekanan
yang lebih kecil. Sejalan dengan gerakan ke depan, cairan bergeser
mendahului beban ketika tekanan berkurang cairan kembali ke belakang.
(Price, 2005; Azizi, 2004).
Rawan sendi yang melapisi ujung-ujung tulang mempunyai fungsi
ganda yaitu untuk melindungi ujung tulang agar tidak aus dan
memungkinkan pergerakan sendi menjadi mulus/licin, serta sebagai
penahan beban dan peredam benturan.
Rawan sendi tersusun oleh kolagen tipe II dan proteoglikan yang
sangat hidrofilik sehingga memungkinkan rawan tersebut mampu menahan
kerusakan sewaktu sendi menerima beban yang kuat. Perubahan susunan
kolagen dan pembentukan proteoglikan dapat terjadi setelah cedera atau
penambahan usia (Wilson, 2005; Laboratorium histologi FK UNS, 2009).

4. Etiologi Artritis Reumatoid


Penyebab utama penyakit reumatik masih belum diketahui secara pasti.
Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, hormonal dan
faktor sistem reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi
seperti bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001).
Hingga kini penyebab Remotoid Artritis (RA) tidak diketahui, tetapi
beberapa hipotesa menunjukan bahwa RA dipengaruhi oleh faktor-faktor :
a. Mekanisme IMUN ( Antigen-Antibody) seperti interaksi antara IGC dan
faktor Reumatoid
b. Gangguan Metabolisme
c. Genetik
d. Faktor lain : nutrisi dan faktor lingkungan (pekerjaan dan psikososial)
Adapun Faktor risiko yang akan meningkatkan risiko terkena nya
artritis reumatoid adalah :
a. Jenis Kelamin.
Perempuan lebih mudah terkena AR daripada laki-laki. Perbandingannya
adalah 2-3:1.

7
b. Umur.
Artritis reumatoid biasanya timbul antara umur 40 sampai 60 tahun.
Namun penyakit ini juga dapat terjadi pada dewasa tua dan anak-anak
(artritis reumatoid juvenil)
c. Riwayat Keluarga.
Apabila anggota keluarga anda ada yang menderita penyakit artritis
reumatoid maka anda kemungkinan besar akan terkena juga.
d. Merokok.
Merokok dapat meningkatkan risiko terkena artritis reumatoid.

5. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala setempat :
a. Sakit persendian disertai kaku terutama pada pagi hari (morning stiffness)
dan gerakan terbatas, kekakuan berlangsung tidak lebih dari 30 menit dan
dapat berlanjut sampai berjam-jam dalam sehari. Kekakuan ini berbeda
dengan kekakuan osteoartritis yang biasanya tidak berlangsung lama.
b. Lambat laun membengkak, panas, merah, lemah.
c. Poli artritis simetris sendi perifer. Semua sendi bisa terserang, panggul,
lutut, pergelangan tangan, siku, rahang dan bahu. Paling sering mengenai
sendi kecil tangan, kaki, pergelangan tangan, meskipun sendi yang lebih
besar seringkali terkena juga.
d. Artritis erosif, sifat radiologis penyakit ini. Peradangan sendi yang kronik
menyebabkan erosi pada pinggir tulang dan ini dapat dilihat pada
penyinaran sinar X.
e. Deformitas, pergeseran ulnar, deviasi jari-jari, subluksasi sendi
metakarpofalangea, deformitas boutonniere dan leher angsa. Sendi yang
lebih besar mungkin juga terserang yang disertai penurunan kemampuan
fleksi ataupun ekstensi. Sendi mungkin mengalami ankilosis disertai
kehilangan kemampuan bergerak yang total.
f. Rematoid nodul, merupakan massa subkutan yang terjadi pada 1/3 pasien
dewasa, kasus ini sering menyerang bagian siku (bursa olekranon) atau

8
sepanjang permukaan ekstensor lengan bawah, bentuknya oval atau bulat
dan padat.
Tanda dan gejala sistemik :
Lemah, demam tachikardi, berat badan turun, anemia, anoreksia. Bila ditinjau
dari stadium, maka pada RA terdapat tiga stadium yaitu:
a. Stadium sinovitis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang
ditandai adanya hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat istirahat
maupun saat bergerak, bengkak, dan kekakuan.
b. Stadium destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi
juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon.
Selain tanda dan gejala tersebut diatas terjadi pula perubahan bentuk pada
tangan yaitu bentuk jari swan-neck.
c. Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali,
deformitas dan ganggguan fungsi secara menetap. Perubahan pada sendi
diawali adanya sinovitis, berlanjut pada pembentukan pannus, ankilosis
fibrosa, dan terakhir ankilosis tulang.
Artritis rematoid bisa muncul secara tiba-tiba, dimana pada saat yang
sama banyak sendi yang mengalami peradangan. Biasanya peradangan bersifat
simetris, jika suatu sendi pada sisi kiri tubuh terkena, maka sendi yang sama di
sisi kanan tubuh juga akan meradang. Yang pertama kali meradang adalah
sendi-sendi kecil di jari tangan, jari kaki, tangan, kaki, pergelangan tangan,
sikut dan pergelangan kaki.
Sendi yang meradang biasanya menimbulkan nyeri dan menjadi kaku,
terutama pada saat bangun tidur atau setelah lama tidak melakukan aktivitas.
Beberapa penderita merasa lelah dan lemah, terutama menjelang sore hari.
Sendi yang terkena akan membesar dan segera terjadi kelainan bentuk.
Sendi bisa terhenti dalam satu posisi (kontraktur) sehingga tidak dapat
diregangkan atau dibuka sepenuhnya. Jari-jari pada kedua tangan cenderung

9
membengkok ke arah kelingking, sehingga tendon pada jari-jari tangan
bergeser dari tempatnya.

6. Patofisiologi
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema,
kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang
berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular
kartilago dari sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau
penutup yang menutupi kartilago. Pannus masuk ke tulang sub chondria.
Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada
nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan
sendi. Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara
permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu
(ankilosis). Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen
jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari
persendian. Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebabkan osteoporosis
setempat.
Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang. Ditandai dengan
masa adanya serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang yang
sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Yang lain,
terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid)
gangguan akan menjadi kronis yang progresif.
Pada Reumatoid arthritis, reaksi autoimun (yang dijelaskan
sebelumnya) terutama terjadi dalam jaringan sinovial. Proses fagositosis
menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah
kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya
pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan
menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi
yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan turut terkena karena serabut
otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas
otot dan kekuatan kontraksi otot (Smeltzer & Bare, 2002).

10
Pathway Artritis Reumatoid

7. Komplikasi
a. Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya proses
granulasi di bawah kulit yang disebut subcutan nodule.
b. Pada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot.
c. Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli.
Tromboemboli adalah adanya sumbatan pada pembuluh darah yang
disebabkan oleh adanya darah yang membeku.
d. Terjadi splenomegali.
Splenomegali merupakan pembesaran limfa, jika limfa membesar
kemampuannya untuk menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah putih dan
trombosit dalam sirkulasi menangkap dan menyimpan sel-sel darah akan
meningkat.

11
8. Kriteria Diagnostik Artritis Reumatoid
Kriteria American Rheumatism Association untuk Artritis Reumatoid, Revisi
1987.
No Kriteria Definisi
1 Kaku pagi hari Kekakuan pada pagi hari pada persendian
dan disekitarnya, sekurangnya selama 1 jam
sebelum perbaikan maksimal
2 Artritis pada 3 daerah Pembengkakan jaringan lunak atau
persendian atau lebih efusi (bukan
pertumbuhan tulang) pada sekurang-
kurangnya 3 sendi secara bersamaan yang
diobservasi oleh seorang dokter. Dalam
kriteria ini terdapat 14 persendian yang
memenuhi kriteria yaitu PIP, MCP,
pergelangan tangan, siku pergelangan kaki
dan MTP kiri dan kanan.
3 Artritis Sekurang-kurangnya terjadi pembengkakan
pada persendian satu persendian tangan seperti yang tertera
tangan diatas.
4 Artritis simetris Keterlibatan sendi yang sama (seperti yang
tertera pada kriteria 2 pada kedua belah sisi,
keterlibatan PIP, MCP atau MTP bilateral
dapat diterima walaupun tidak mutlak
bersifat simetris.
5 Nodul Reumatoid Nodul subkutan pada penonjolan tulang atau
permukaan ekstensor atau daerah juksta-
artrikular yang diobservasi oleh seorang
dokter.
6 Faktor Reumatoid Terdapatnya titer abnormal faktor reumatoid
serum serum yang diperiksa dengan cara yang
memberikan hasil positif kurang dari 5%

12
kelompok kontrol yang diperiksa.
7 Perubahan gambaran Perubahan gambaran radiologis yang
radiologis khas bagi arthritis reumotoid pada
periksaan sinar X tangan posteroanterior atau
pergelangan tangan yang harus menunjukkan
adanya erosi atau dekalsifikasi tulang yang
berlokalisasi pada sendi atau daerah yang
berdekatan dengan sendi (perubahan akibat
osteoartritis saja tidak memenuhi
persyaratan).
Untuk keperluan klasifikasi, seseorang dikatakan menderita artritis reumatoid
jika ia sekurang-kurangnya memenuhi 4 dari 7 kriteria di atas. Kriteria 1
sampai 4 harus terdapat minimal selama 6 minggu. Pasien dengan dua
diagnosis tidak dieksklusikan. Pembagian diagnosis sebagai artritis reumatoid
klasik, definit, probable atau possible tidak perlu dibuat.

9. Pemeriksaan penunjang
a. Tes serologi : Sedimentasi eritrosit meningkat, Darah bisa terjadi anemia
dan leukositosis, Reumatoid faktor, terjadi 50-90% penderita
b. Sinar X dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada jaringan
lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan
(perubahan awal) berkembang menjadi formasi kista tulang, memperkecil
jarak sendi dan subluksasio. Perubahan osteoartristik yang terjadi secara
bersamaan.
c. Scan radionuklida : mengidentifikasi peradangan sinovium
d. Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan
irregularitas/ degenerasi tulang pada sendi
e. Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih besar
dari normal: buram, berkabut, munculnya warna kuning (respon inflamasi,
produk-produk pembuangan degeneratif), elevasi SDP dan lekosit,
penurunan viskositas dan komplemen (C3 dan C4).

13
f. Biopsi membran sinovial : menunjukkan perubahan inflamasi dan
perkembangan panas.
g. Pemeriksaan cairan sendi melalui biopsi, FNA (Fine Needle Aspiration)
atau atroskopi; cairan sendi terlihat keruh karena mengandung banyak
leukosit dan kurang kental dibanding cairan sendi yang normal.
Kriteria diagnostik Artritis Reumatoid adalah terdapat poli- arthritis
yang simetris yang mengenai sendi-sendi proksimal jari tangan dan kaki
serta menetap sekurang-kurangnya 6 minggu atau lebih bila ditemukan
nodul subkutan atau gambaran erosi peri-artikuler pada foto rontgen.
Beberapa faktor yang turut dalam memeberikan kontribusi pada
penegakan diagnosis Reumatoid arthritis, yaitu nodul Reumatoid,
inflamasi sendi yang ditemukan pada saat palpasi dan hasil-hasil
pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaaan laboratorium menunjukkan peninggian laju endap darah
dan factor Reumatoid yang positif sekitar 70%; pada awal penyakit faktor
ini negatif. Jumlah sel darah merah dan komplemen C4 menurun.
Pemeriksaan C- reaktifprotein (CRP) dan antibody antinukleus (ANA)
dapat menunjukan hasil yang positif. Artrosentesis akan memperlihatkan
cairan sinovial yang keruh, berwarna mirip susu atau kuning gelap dan
mengandung banyak sel inflamasi, seperti leukosit dan komplemen
(Smeltzer & Bare, 2002).
Pemeriksaan sinar-X dilakukan untuk membantu penegakan diagnosis
dan memantau perjalanan penyakitnya. Foto rongen akan memperlihatkan
erosi tulang yang khas dan penyempitan rongga sendi yang terjadi dalam
perjalanan penyakit tersebut (Smeltzer & Bare, 2002).

10. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi adalah:
a. Meringankan rasa nyeri dan peradangan
b. memperatahankan fungsi sendi dan kapasitas fungsional maksimal
penderita.
c. Mencegah atau memperbaiki deformitas.

14
Program terapi dasar terdiri dari lima komponen dibawah ini yang merupakan
sarana pembantu untuk mecapai tujuan-tujuan tersebut yaitu:
a. Istirahat
b. Latihan fisik
c. Terapi panas
d. Nutrisi ; diet untuk penurunan berat badan yang berlebih
e. Pengobatan :
 Aspirin (anti nyeri) dosis antara 8 - 25 tablet perhari, kadar salisilat
serum yang diharapakan adalah 20-25 mg per 100 ml
 Natrium kolin dan asetamenofen, meningkatkan toleransi saluran cerna
terhadap terapi obat
 Obat anti malaria (hidroksiklorokuin, klorokuin) dosis 200 – 600
mg/hari, mengatasi keluhan sendi, memiliki efek steroid sparing
sehingga menurunkan kebutuhan steroid yang diperlukan.
 Garam emas
 Kortikosteroid
Bila Reumatoid artritis progresif dan, menyebabkan kerusakan sendi,
pembedahan dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan memperbaiki fungsi.
Pembedahan dan indikasinya sebagai berikut:
a. Sinovektomi, untuk mencegah artritis pada sendi tertentu, untuk
mempertahankan fungsi sendi dan untuk mencegah timbulnya kembali
inflamasi.
b. Arthrotomi, yaitu dengan membuka persendian.
c. Arthrodesis, sering dilaksanakan pada lutut, tumit dan pergelangan tangan.
d. Arthroplasty, pembedahan dengan cara membuat kembali dataran pada
persendian.
Terapi di mulai dengan pendidikan pasien mengenai penyakitnya dan
penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik antara
pasien dan keluarganya dengan dokter atau tim pengobatan yang merawatnya.
Tanpa hubungan yang baik akan sukar untuk dapat memelihara ketaatan
pasien untuk tetap berobat dalam suatu jangka waktu yang lama (Mansjoer,
dkk. 2001).

15
Penanganan medik pemberian salsilat atau NSAID dalam dosis terapeutik.
Kalau diberikan dalam dosis terapeutik yang penuh, obat-obat ini akan
memberikan efek anti inflamasi maupun analgesik. Namun pasien perlu
diberitahukan untuk menggunakan obat menurut resep dokter agar kadar obat
yang konsisten dalam darah bisa dipertahankan sehingga keefektifan obat anti-
inflamasi tersebut dapat mencapai tingkat yang optimal (Smeltzer & Bare,
2002).
Kecenderungan yang terdapat dalam penatalaksanaan Reumatoid arthritis
menuju pendekatan farmakologi yang lebih agresif pada stadium penyakit
yang lebih dini. Kesempatan bagi pengendalian gejala dan perbaikan
penatalaksanaan penyakit terdapat dalam dua tahun pertama awitan penyakit
tersebut (Smeltzer & Bare, 2002).
Menjaga supaya rematik tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari,
sebaiknya digunakan air hangat bila mandi pada pagi hari. Dengan air hangat
pergerakan sendi menjadi lebih mudah bergerak. Selain mengobati, kita juga
bisa mencegah datangnya penyakit ini, seperti: tidak melakukan olahraga
secara berlebihan, menjaga berat badan tetap stabil, menjaga asupan makanan
selalu seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh, terutama banyak memakan
ikan laut. Mengkonsumsi suplemen bisa menjadi pilihan, terutama yang
mengandung Omega 3. Didalam omega 3 terdapat zat yang sangat efektif
untuk memelihara persendian agar tetap lentur.

16
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Data Fokus Pengkajian
a. Wawancara
1) Identitas
Nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, tanggal
masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medik, suku bangsa, No. Register
dan alamat identitas penanggung jawab terdiri dari nama, usia,
pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, agama, hubungan dengan klien
dan alamat.
2) Riwayat kesehatan
- Keluhan utama
Merupakan keluhan yang ditemukan saat pengkajian
- Riwayat kesehatan sekarang
Menceritakan kapan klien mengalami kejadian seperti sekarang,
sifat klien, lamanya kejadian, serta gejala-gejala kejadian yang
mengalami riwayat kesehatan.
- Riwayat kesehatan keluarga
Perlu diketahui untuk memperoleh data apakah dalam keluarga
klien terdapat penyakit keturunan atau penyakit-penyakit karena
lingkungan yang dapat memperberat penyakit klien.
b. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral),
amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.
2) Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi sinovial
- Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)
- Catat bila ada krepitasi
- Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan
- Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara bilateral
3) Catat bila ada atrofi, tonus yang berkurang
4) Ukur kekuatan otot
5) Kaji tingkat nyeri
6) Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari

17
c. Aktivitas/istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress.
Pada sendi : kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan
simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu
senggang, pekerjaan, keletihan.
Keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit, kontraktur/ kelainan pada
sendi.
d. Kardiovaskuler
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki (mis: pucat intermitten,
sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
e. Integritas ego
Gejala : Faktor-faktor stres akut/ kronis. Keputus asaan dan
ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan). Ancaman pada konsep diri,
citra tubuh, identitas pribadi (misalnya ketergantungan pada orang lain).
f. Makanan/ cairan
Gejala ; Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/
cairan adekuat: mual, anoreksia. Kesulitan untuk mengunyah.
Tanda : Penurunan berat badan / kekeringan pada membran mukosa.
g. Hygiene
Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan
pribadi/ketergantungan
h. Neurosensori
Gejala : Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari
tangan / adanya pembengkakan sendi.
i. Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Fase akut dari nyeri (mungkin tidak disertai oleh pembengkakan
jaringan lunak pada sendi).
j. Keamanan
Gejala : Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, lesi kulit, ulkus kaki.
Kesulitan ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah
tangga.Demam ringan menetap, kekeringan pada mata dan membran
mukosa.

18
k. Interaksi sosial
Gejala : Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain, perubahan
peran, isolasi.
l. Riwayat Psiko Sosial
Pasien mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup tinggi apalagi
pada pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi karena ia
merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan merasakan
kegiatan sehari-hari menjadi berubah. Perawat dapat melakukan
pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan
harga diri klien.

2. Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan mengaitkan data tersebut dengan konsep,
teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan
masalah kesehatan dan keperawatan klien (Drs. Nasrul Effendy, 1995 ; 24)

3. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi
jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
b. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal.
Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.
c. Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan dengan
perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum,
peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas
d. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal;
penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.

4. Intervensi keperawatan
a. Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi jaringan
oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
Kriteria Hasil:
1) Menunjukkan nyeri hilang / terkontrol

19
2) Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas
sesuai kemampuan.
3) Mengikuti program farmakologis yang diresepkan,
4) Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam
program kontrol nyeri.
Intervensi Rasional
1. Kaji nyeri, catat lokasi dan 1. Membantu dalam menentukan
intensitas (skala 0-5). Catat kebutuhan manajemen nyeri dan
faktor-faktor keefektifan program
yangmempercepat dan tanda-
tanda rasa sakit non verbal
2. Berikan matras / kasur keras, 2. Matras yang lembut/ empuk, bantal
bantal kecil. Tinggikan linen yang besar akan mencegah
tempat tidur sesuai pemeliharaan kesejajaran tubuh yang
kebutuhan tepat, menempatkan stress pada sendi
yang sakit. Peninggian linen tempat
tidur menurunkan tekanan pada sendi
yang terinflamasi/nyeri
3. Tempatkan / pantau 3. Mengistirahatkan sendi-sendi yang
penggunaan bantal, karung sakit dan mempertahankan posisi
pasir, gulungan trokhanter, netral. Penggunaan brace dapat
bebat, brace. menurunkan nyeri dan dapat
mengurangi kerusakan pada sendi
4. Dorong untuk sering 4. Mencegah terjadinya kelelahan umum
mengubah posisi. Bantu dan kekakuan sendi. Menstabilkan
untuk bergerak di tempat sendi, mengurangi gerakan/ rasa sakit
tidur, sokong sendi yang pada sendi
sakit di atas dan bawah,
hindari gerakan yang
menyentak

20
5. Anjurkan pasien untuk mandi 5. Panas meningkatkan relaksasi otot,
air hangat atau mandi dan mobilitas, menurunkan rasa sakit
pancuran pada waktu bangun dan melepaskan kekakuan di pagi hari.
dan/atau pada waktu tidur. Sensitivitas pada panas dapat
Sediakan waslap hangat dihilangkan dan luka dermal dapat
untuk mengompres sendi- disembuhkan
sendi yang sakit beberapa
kali sehari. Pantau suhu air
kompres, air mandi, dan
sebagainya.

b. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal, nyeri,


ketidaknyamanan, intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.
Kriteria Hasil :
1) Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/ pembatasan
kontraktur.
2) Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/
atau konpensasi bagian tubuh.
3) Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan
aktivitas
Intervensi Rasional
1. Evaluasi/ lanjutkan 1. Tingkat aktivitas/ latihan tergantung
pemantauan tingkat dari perkembangan/resolusi dari peoses
inflamasi/ rasa sakit pada inflamasi.
sendi.
2. Pertahankan istirahat tirah 2. Istirahat sistemik dianjurkan selama
baring / duduk jika eksaserbasi akut dan seluruh fase
diperlukan jadwal aktivitas penyakit yang penting untuk mencegah
untuk memberikan periode kelelahan mempertahankan kekuatan.
istirahat yang terus menerus
dan tidur malam hari yang

21
tidak terganggu.
3. Bantu dengan rentang gerak 3. Mempertahankan/ meningkatkan fungsi
aktif/pasif, demikiqan juga sendi, kekuatan otot dan stamina
latihan resistif dan isometris umum. Catatan : latihan tidak adekuat
jika memungkinkan menimbulkan kekakuan sendi,
karenanya aktivitas yang berlebihan
dapat merusak sendi
4. Ubah posisi dengan sering 4. Menghilangkan tekanan pada jaringan
dengan jumlah personel dan meningkatkan sirkulasi.
cukup. Demonstrasikan/ Memepermudah perawatan diri dan
bantu tehnik pemindahan kemandirian pasien. Tehnik
dan penggunaan bantuan pemindahan yang tepat dapat
mobilitas. mencegah robekan abrasi kulit
5. Posisikan dengan bantal, 5. Meningkatkan stabilitas (mengurangi
kantung pasir, gulungan resiko cidera) dan mempertahankan
trokanter, bebat, brace posisi sendi yang diperlukan dan
kesejajaran tubuh, mengurangi
kontraktur

c. Gangguan citra tubuh/perubahan penampilan peran berhubungan dengan


perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan
penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.
Kriteria Hasil :
1) Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk
menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan
keterbatasan.
2) Menyusun rencana realistis untuk masa depan.
Intervensi Rasional
1. Dorong pengungkapan 1. Berikan kesempatan untuk
mengenai masalah tentang mengidentifikasi rasa takut/
proses penyakit, harapan masa kesalahan konsep dan

22
depan menghadapinya secara langsung
2. Diskusikan arti dari kehilangan/ 2. Mengidentifikasi bagaimana
perubahan pada pasien/orang penyakit mempengaruhi persepsi
terdekat. Memastikan diri dan interaksi dengan orang lain
bagaimana pandangaqn pribadi akan menentukan kebutuhan
pasien dalam memfungsikan terhadap intervensi/ konseling
gaya hidup sehari-hari, termasuk lebih lanjut
aspek-aspek seksual.
3. Diskusikan persepsi 3. Isyarat verbal/non verbal orang
pasienmengenai bagaimana terdekat dapat mempunyai
orang terdekat menerima pengaruh mayor pada bagaimana
keterbatasan. pasien memandang dirinya sendiri
4. Akui dan terima perasaan 4. Nyeri konstan akan melelahkan,
berduka, bermusuhan, dan perasaan marah dan
ketergantungan bermusuhan umum terjadi
5. Perhatikan perilaku menarik 5. Dapat menunjukkan emosional
diri, penggunaan menyangkal ataupun metode koping
atau terlalu memperhatikan maladaptive, membutuhkan
perubahan intervensi lebih lanjut
6. Susun batasan pada perilaku mal 6. Membantu pasien untuk
adaptif. Bantu pasien untuk mempertahankan kontrol diri, yang
mengidentifikasi perilaku positif dapat meningkatkan perasaan
yang dapat membantu koping. harga diri

d. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal;


penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.
Kriteria Hasil :
1) Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan
kemampuan individual.
2) Mendemonstrasikan perubahan teknik/ gaya hidup untuk memenuhi
kebutuhan perawatan diri.

23
3) Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat
memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi Rasional
1. Diskusikan tingkat fungsi 1. Mungkin dapat melanjutkan aktivitas
umum (0-4) sebelum timbul umum dengan melakukan adaptasi
awitan/ eksaserbasi penyakit yang diperlukan pada keterbatasan
dan potensial perubahan yang saat ini
sekarang diantisipasi
2. Pertahankan mobilitas, kontrol 2. Mendukung kemandirian fisik /
terhadap nyeri dan program emosional
latihan
3. Kaji hambatan terhadap 3. Menyiapkan untuk meningkatkan
partisipasi dalam perawatan kemandirian, yang akan meningkatkan
diri. Identifikasi /rencana untuk harga diri
modifikasi lingkungan
4. Kolaborasi: Konsul dengan ahli 4. Berguna untuk menentukan alat bantu
terapi okupasi. untuk memenuhi kebutuhan
individual. Mis; memasang kancing,
menggunakan alat bantu memakai
sepatu, menggantungkan pegangan
untuk mandi pancuran
5. Kolaborasi: Atur evaluasi 5. Mengidentifikasi masalah-masalah
kesehatan di rumah sebelum yang mungkin dihadapi karena tingkat
pemulangan dengan evaluasi kemampuan aktual
setelahnya.

5. Implementasi
Implementasi adalah fase ketika perawat menerapkan/ melaksanakan rencana
tindakan yang telah ditentukan dengan tujuan kebutuhan pasien terpenuhi
secara optimal (Nursalam, 2008).

24
6. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara
melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai
atau tidak. Dalam melakukan evaluasi perawat seharusnya memiliki
pengetahuan dan kemampuan dalam memahami respon terhadap intervensi
keperawatan, kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang
dicapai serta kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada
kriteria hasil. Pada tahap evaluasi ini terdiri dari dua kegiatan yaitu kegiatan
yang dilakukan dengan mengevaluasi selama proses perawatan berlangsung
atau menilai dari respon klien disebut evaluasi proses, dan kegiatan melakukan
evaluasi dengan target tujuan yang diharapkan disebut sebagai evaluasi hasil
(Hidayat, A.A.A, 2008.

25