Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM SEDIMENTASI

Disusun untuk memenuhi Tugas Matakuliah Laboratorium Pengolahan Limbah Industri

Tanggal Praktikum : 26 September 2019

Tanggal Pengumpulan Laporan : 3 Oktober 2019

Dosen Pembimbing : Keryanti, S.T., M.T.

Oleh :

Heri Kurniawan NIM 171411045

Intan Puspitarini NIM 171411046

Ismail Hamzah NIM 171411047

Jihan Azizah NIM 171411048

Kelompok 4 (3B)

PROGRAM STUDI D3-TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Proses sedimentasi umumnya digunakan untuk mengendapkan partikel halus
(fine particle) dan partikel kasar dengan cara pengendapan. Kualitas cairan yang
dihasilkan dari pengendapan umumnya dinyatakan dalam satuan kekeruhan (turbidity).
Semakin kecil nilai kekeruhan, maka cairan tersebut semakin jenuh atau sebaliknya.
Umunya sedimentasi digunakan pada pengolahan air (water treatmenat) dan
pengolahan air limbah (waste water treatment).
Hasil pengendapan akan membentuk lumpur (sludge) yang berada di bagian
bawah bak sedimentasi. Lumpur yang terbentuk umumnya berasal dari proses kimia
(koagulasi dan flokulasi) disebut lumpur kimia/mineral dan bersifat B3. Sedangkan
lumpur yang berasal dari proses biologi disebut lumpur biologi yang bersifat ramah
lingkungan.
Proses sedimentasi dipengaruhi oleh jenis aliran cairan yang melalui bak
sedimentasi, dan gaya gravitasi. Semakin kecil/lambat aliran, maka pengendapan
semakin baik begitu juga sebaliknya.

1.2. Tujuan Praktikum


1. Menentukan waktu pengendapan optimum dalam bak sedimantasi
2. Menentukan efisiensi pengendapan endapan.
BAB II

DASAR TEORI

2.1. Definisi Sedimentasi


Sedimentasi adalah suatu proses pemisahan suspensi secara mekanik menjadi dua
bagian, yaitu slurry dan supernatant. Slurry adalah bagian dengan konsentrasi partikel
terbesar, dan supernatant adalah bagian cairan yang bening. Proses ini memanfaatkan
gaya gravitasi, yaitu dengan mendiamkan suspensi hingga terbentuk endapan yang
terpisah dari beningan (Foust, 1980). Pemisahan dapat berlangsung karena adanya gaya
gravitasi yang terjadi pada butiran tersebut. Proses sedimentasi dalam industry kimia
banyak digunakan ,misalnya pada proses pembuatan kertas dimana slurry berupa bubur
selulose yang akan dipisahkan menjadi pulp dan air, proses penjernihan air (water
treatment),dan proeses pemisahan buangan nira yang akan diolah menjadi gula.
Pada pengolahan air limbah, sedimentasi umumnya digunakan untuk:
1. penyisihan grit, pasir, atau silt (lanau).
2. penyisihan padatan tersuspensi pada clarifier pertama.
3. penyisihan flok / lumpur biologis hasil proses activated sludge pada clarifier
akhir.
4. penyisihan humus pada clarifier akhir setelah trickling filter. Pada pengolahan
air limbah tingkat lanjutan, sedimentasi ditujukan untuk penyisihan lumpur
setelah koagulasi dan sebelum proses filtrasi. Selain itu, prinsip sedimentasi
juga digunakan dalam pengendalian partikel di udara.

2.2. Metode Sedimentasi


Menurut Firdaus (2015) pada proses sedimentasi ada beberapa metode yang dapat
dilakukan diantaranya:
1. Metode sedimentasi secara fisik yang berdasarkan gaya gravitasi. Sedimentasi
adalah proses pemisahan padatan yang terkandung dalam limbah cair oleh gaya
gravitasi. Proses sedimentasi biasanya dilakukan setelah proses koagulasi dan
flokulasi. Dimana koagulasi merupakan proses penambahan bahan kimia
(koagulan) ke dalam cairan yang akan diolah membentuk gumpalan (flok).
Sedangkan Flokulasi merupakan proses dimana gumpalan diaduk untuk
mempercepat pembentukan flok, sehingga dapat dipisahkan dengan cara
sedimentasi dan filtrasi. Ada dua cara sedimentasi :
a. Sedimentasi diawal (Primary Sedimentation) dapat dilakukan jika
kekeruhan tinggi, untuk mengurangi resiko kerusakan pompa atau mesin
pada treatment berikutnya.
b. Sedimentasi diakhir (Secondary Sedimentation) digunakan untuk
memisahkan dan mengumpulkan lumpur (sludge) dari proses sebelumnya.
2. Metode sedimentasi secara kimia dengan cara penambahan bahan kimia.
Sedimentasi secara kimia dibedakan menjadi dua :
a. Pengaturan pH
Dilakukan jika hasil kali kelarutan ion-ionnya melampaui harga Ksp-nya
sehingga terbentuk endapan. Endapan akan terbentuk hanya jika
konsentrasi ion logam dan hidroksil saat itu adalah lebih tinggi dari yang
diperbolehkan oleh hasil kali kelarutan. Karena konsentrasi ion logam
dalam cuplikan/ sample yang sebenarnya tak jauh berbeda satu sama lain,
maka konsentrasi ion hidroksilah yang memegang peranan menentukan
dalam pembentukan endapan-endapan demikian karena fakta bahwa di
dalam air, hasil kali konsentrasi ion hydrogen dan hidroksil benar-benar
konstan (Kw = -1014) pada 250C . Dengan memakai prinsip hasil kali
kelarutan, kita dapat menghitung pH minimum yang diperlukan untuk
sedimentasi suatu hidroksi logam. Beberapa hidroksida (seperti AgOH atau
Cu(OH)2) bisa melarut dalam larutan amonia pada pH yang bahkan lebih
rendah lagi.
b. Penambahan pereaksi
 Pereaksi sulfida
Kebanyakan ion logam membentuk senyawa sulfida tak larut, kecuali ion
logam alkali dan alkali tanah. Dengan dasar perbedaan kelarutan yang besar
pada senyawa – senyawa sulfida dalam asam encer. Contoh : gas H2S dan
larutan anion sulfida.
 Pereaksi larutan ion Klorida
Untuk memisahkan ion perak terhadap ion logam yang lain.
 Pereaksi larutan ion Sulfat
Untuk memisahkan kation Timbal, Barium dan Stronsium.
2.3. Sedimentasi Kontinu
Pada proses sedimentasi kontinu waktu detensi (t) adalah sebesar volume basin (v)
dibagi dengan laju alir (Q). Overflow rate (Vo) menggambarkan besarnya kecepatan
sedimentasi adalah fungsi dari laju alir (Q) dibagi dengan luas permukaan basin (Ap).
Laju linier (V) mengambarkan besarnya kecepatan horizontal adalah fungsi dari laju
alir (Q) dibagi dengan luas area tegak lurus

Gambar 2.1 Sendimentation Tank Continue (Firdaus, 21015)


2.4. Sedimentasi Batch
Besarnya nilai koefisien Drag (CD) bergantung pada pola aliran sekitar partikel,
apakah laminar atau turbulen. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya nilai CD sebagai
fungsi dari nilai bilangan Reynolds (Nre).

Gambar 2.2 Sendimentation Tank Batch (Firdaus, 21015)


2.5. Klasifikasi Sedimentasi
Klasifikasi sedimentasi didasarkan pada konsentrasi partikel dan kemampuan
partikel untuk berinteraksi. Klasifikasi ini dapat dibagi ke dalam empat tipe (lihat juga
Gambar 2.1), yaitu:
1. Settling tipe I: pengendapan partikel diskrit, partikel mengendap secara individual
dan tidak ada interaksi antar-partikel.
2. Settling tipe II: pengendapan partikel flokulen, terjadi interaksi antar-partikel
sehingga ukuran meningkat dan kecepatan pengendapan bertambah.
3. Settling tipe III: pengendapan pada lumpur biologis, dimana gaya antar-partikel
saling menahan partikel lainnya untuk mengendap.
4. Settling tipe IV: terjadi pemampatan partikel yang telah mengendap yang terjadi
karena berat partikel.

Gambar 2.3 Empat Tipe Sedimentasi

2.6. Mekanisme Sedimentasi

Tahapan sedimentasi dideskripsikan dengan observasi pada tes batch settling


ketika partikel–partikel padatan mengendap dari suatu slurry dalam silinder kaca
(Foust, 1980). Gambar 2.4(a) menunjukkan slurrydalam silinder dengan konsentrasi
padatan yang seragam. Seiring dengan berjalannya waktu, partikel-partikel padatan
mulai mengendap dan laju mengendapnya partikel tersebut diasumsi sebagai terminal
velocity. Pada Gambar 2.4(b) terdapat beberapa zona konsentrasi. Daerah D didominasi
endapan partikel-partikel padatan yang lebih berat dan lebih cepat mengendap. Pada
zona C terdapat partikel dengan ukuran yang berbeda-beda dan konsentrasi yang tidak
seragam. Daerah B adalah daerah dengan konsentrasi yang seragam dan hampir sama
dengan keadaan mula-mula. Pada daerah B ini partikel-partikel turun dengan bebas
hambatan dan terjadi proses free settling. Di atas daerah B adalah daerah A yang berupa
liquid jernih. Jika sedimentasi dilanjutkan, tinggi dari tiap daerah bervariasi seperti pada
Gambar 2.4(c) dan Gambar 2.4(d). Daerah A dan D semakin luas, sebanding dengan
berkurangnya daerah B dan C. Pada akhirnya daerah B dan C akan hilang dan semua
padatan terdapat pada daerah D sehingga hanya tersisa daerah A dan D. Keadaan seperti
ini disebut dengan “Critical Settling Point” (Gambar 2.4(e)), yaitu keadaan dimana
terbentuk bidang batas tunggal antara liquidjernih dan endapan.

Gambar 2.3 Tahapan Proses Pengendapan (Setiadi dkk, 2014)


2.7. Kecepatan Sedimentasi
Pada proses pengendapan dalam keadaan free settling, model persamaan yang
dapat digunakan untuk menghitung kecepatan penurunan partikel pada proses
sedimentasi adalah sebagai berikut:
1. Stokes-Newton Law
Jika sebuah partikel turun di dalam fluidakarena gaya gravitasi, maka kecepatan
pengendapan akan tercapai apabila jumlah dari gaya friksi (drag force) dan gaya
apung (buoyancy) sebanding dengan gaya gravitasi benda (Sukardjo,
2004).Persamaan kecepatan pengendapan adalah sebagai berikut :
𝑔𝐷 2 (𝜌𝑠−𝜌)
𝑉𝑠 = (1)
18𝜇

Dimana Vs adalah kecepatan pengendapan, g percepatan gravitasi, D diameter


partikel, ρs densitas partikel, ρ densitas cairan, dan μ viskositas cairan.
2. Persamaan Farag
Farag merumuskan suatu persamaanuntuk kecepatan sedimentasi dengan
variabel konsentrasi cairan. Persamaannya dapat dirumuskan (Farag, 1996)
𝑔𝑑𝑝2 (𝜌𝑠−𝜌)𝜀^2
𝑣= (2)
18𝜇𝑏

3. Persamaan Fergusson-Church
Persamaan kecepatan pengendapan dapat dirumuskan (Ferguson, 2004)
𝜌𝑔𝐷 2
𝑣 = 18𝜇+√0,3𝜌𝑔𝐷3 (3)

Dimana vs adalah kecepatan pengendapan, g percepatan gravitasi, D diameter


partikel, ρs densitas partikel, ρ densitas air, dan μ viskositas air.
BAB III
METODOLOGI

3.1. Alat dan Bahan


3.1.1. Alat
 Turbiditymeter
 TDS-meter atau konduktometer
 pH meter
 Seperangkat alat sedimentasi

Gambar 3. Lamella Clarifier di Lab Pengolahan Limbah Industri

3.1.2. Bahan

 Tepung terigu
 Larutan PAC pekat
 Larutan flokulan 0,01%
 Larutan Kapur (CaO)
3.2. Langkah Kerja
3.2.1. Persiapan

membuat larutan
analisis pH, TDS
tepung 1 gr/L mengisi tangki
dan kekeruhan air
dalam 80 L (air bak umpan
umpan
baku)

mengatur pH=8
mengatur debit
dengan menyalakan
influen sebesar
penambahan pompa
3,2 L/menit
larutan kapur

mengukur debit menyalakan


mematikan pompa
influen dozing pump

Mengatur debit
flokulan dan matikan dozing
koagulan dengan pump
air

3.2.2. Operasi

menyalakan pengaduk bak


mengalirkan air baku
flokulasi dan koagulasi

mengambil sampel yang


mengalirkan koagulan dan
keluar dari lamella setiap
flokulan sesuai debit
2 menit
3.3. Keselamatan Kerja
 Menggunakan alat perlindunan diri saat praktikum.
 Tidak bergurau saat percobaan
 Mengetahui MSDS dari bahan kimia yang digunakan.
 Pastikan selalu menjaga kebersihan

3.4. MSDS
Natrium Hidroksida (NaOH)

Sangat berbahaya jika terjadi kontak kulit (korosif, mengiritasi, permeator), kontak
mata (iritan, korosif), terelan, dari terhirup. Jumlah kerusakan jaringan tergantung
pada panjang kontak. Kontak mata dapat mengakibatkan kerusakan kornea atau
kebutaan. Kontak kulit dapat menghasilkan peradangan dan terik. Menghirup
debunya akan menghasilkan iritasi pada gastro-intestinal atau saluran pernapasan,
yang ditandai dengan rasa terbakar, bersin dan batuk. Parah over-eksposur dapat
menghasilkan kerusakan paru-paru, tersedak, pingsan atau kematian. Peradangan
mata ditandai dengan kemerahan, penyiraman, dan gatal. Peradangan kulit ditandai
dengan gatal, kemerahan scaling,, atau, kadang-kadang, terik.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
 Volume air umpan : 80 Liter
 Berat tepung : 80 gram
 pH awal : 7
 Berat CaO : 10 gram
 Kekeruhan awal : 101,6 NTU
 TDS awal : 41,8 μS/cm
 pH setelah ditambah CaO : 8
 Laju alir koagulan : 62.2 mL/detik
 Laju alir flokulan : 62.2 mL/detik
 Volume bak sedimentasi : 40 Liter

No. Waktu Kekeruhan Konsentrasi DHL pH Efisiensi penurunan


(menit) (NTU) (µs/cm) Konsentrasi
1. 0 101,6 41,8 8 0
2. 2 24,78 51,6 8 75,61023622
3. 4 18,3 46,4 8 81,98818898
4. 6 13,36 43,4 8 86,8503937
5. 8 11,25 45,6 8 88,92716535
6. 10 9,86 45,2 8 90,29527559
7. 12 7,78 44,1 8 92,34251969
8. 14 7,12 45,7 8 92,99212598
9. 16 7,77 47,5 8 92,3523622
10. 18 7 44,9 8 93,11023622
11. 20 7,51 46,9 8 92,60826772
Kurva pengaruh waktu terhadap efisiensi pengendapan partikel padatan

Kurva Waktu Terhadap Efisiensi


pengendapan
100

80
Efisiensi (%)

60

40

20

0
0 5 10 15 20 25
Waktu (menit)

Kurva Pengaruh Waktu terhadap Kekeruhan

Kurva Kekeruhan Terhadap Waktu


120

100

80
Kekeruhan (NTU)

60

40

20

0
0 5 10 15 20 25
Waktu (menit)
Kurva pengaruh DHL terhadap Waktu

Kurva DHL Terhadap Waktu


60

50

40
DHL ((µs/cm))

30

20

10

0
0 5 10 15 20 25
Waktu (menit)

4.2. Pembahasan
Heri Kurniawan (171411045)
Proses sedimentasi adalah prosespengendapan flok yang telah terbentuk pada
proses flokulasi akibat gaya gravitasi. Partikelyang mempunyai berat jenis lebih besar
dariberat jenis air akan mengendap ke bawah danyang lebih kecil akan mengapung atau
melayang ( Wityasari, 2015).
Pada percobaan menggunakan larutan tepung dengan konsentrasi 1000 ppm. Laju alir
influent yaitu 2,8 L/menit (hasil kalibrasi), waktu tinggal didalam lamella 14,28 menit,
waktu Operasi 32,14 menit dan mengkalibrasi laju alir alir koagulan dan flokulan yang
masing – masing memiliki laju alir 62.2 mL/detik dan 62.2 mL/detik. percobaan
dilakukan pada bak sedimentasi dengan volume 40 Liter. Dilakukan pengujian influent
terlebih dahulu dengan parameter uji pH yang bertujuan untuk menciptakan kondisi
proses sesuai dengan pH optimum koagulan bekerja, DHL untuk mengetahui pengaruh
koagulan, dan parameter kekeruhan untuk mengetahui kinerja dan hasil proses
sedimentasi.
 Pengaruh Koagulasi dan Flokulasi Pada Proses Sedimentasi
Pada dasarnya proses sedimentasi dilakukan dengan bantuan gaya gravitasi
sehingga pada proses pengedapan sangat dipengaruhi oleh ukuran partikel. Proses
sedimentasi dilakukan setelah proses koagulasi dan flokulasi, tujuannya adalah untuk
memperbesar partikel padatan sehingga menjadi lebih berat dan dapat tenggelam dalam
waktu lebih singkat (merieana, 2013).
Pada percobaan kami melakukan proses koagulasi dengan pengadukan cepat
dan flokulasi dengan pengandukan lambat. Tujuan dari pengadukan cepat
untuk menghasilkan turbulensi air sehingga dapat mendispersikan koagulan
yangakan dilarutkan dalam air. Pengadukan lambat dilakukan di bak
flokulasi untuk mempercepat kontak antar flok -flok yang terbentuk
sehingga menaikan diameter partikel dan massa jenis partekel. Pada bak
flokulasi tidak dilakukan pengadukan cepat karena dapat menghancurkan
flok – flok yang terbentuk.
Pada percobaan koagulan yang digunakan yaitu polialuminium klorida (PAC).
kelebihan PAC menurut Echanpin (2005) dalam Yuliati (2006), memiliki tingkat
adsorpsi yang kuat, mempunyai kekuatan lekat, tingkat pembentukan flok-flok tinggi
walau dengan dosis kecil, memiliki tingkat sedimentasi yang cepat dan merupakan agen
penjernih air yang memiliki efisiensi tinggi. Menurut Bambang (2016) PAC memiliki
pH optimum sekitar 4,5 – 8. Pada proses influent memiliki pH sekitar 7 sehingga
ditambahkan CaO sebanyak 10 gram untuk menaikan pH menjadi 8. Selain itu, pada
percobaan laju alir koagulan yaitu 62,2 mL/menit dan laju alir Flokulan 62,2 mL/menit.
 Pengaruh Sedimentasi Terhadap Kekeruhan
Salah satu parameter uji dalam menguji kinerja pengolahan air yaitu tingkat
kekeruhan dari air hasil pengolahan. Kekeruhan disebabkan oleh adanya zat yang
tersuspensi dan terlaru. Tingginya nilai kekeruhan berhubungan dangan padatan terlarut
dan tersuspensi. Semakin tinggi nilai padatan terlarut dan tersuspensi, maka nilai
kekeruhan juga semakin tinggi. Akan tetapi,tingginya padatan terlarut tidak selalu
diikuti dengan tingginya kekeruhan.
Pada percobaan hasil dari analisis influent air umpan memiliki nilai kekeruhan
awal sebesar 101,6 NTU. Pada proses dilakukan penganbilan data setiap 2 menit untuk
berbagai analisis. Hasil analisis pada parameter uji kekeruhan didapat bahwa semakin
lamanya proses maka nilai kekeruhan semakin menurun yang dapat dilihat pada
gambar. 1 berikut:
Kurva Kekeruhan Terhadap Waktu
120

Kekeruhan (NTU)
100
80
60
40
20
0
0 5 10 15 20 25
Waktu (menit)

Gambar 1. Nilai Kekeruhan Terhadap Waktu


Nilai kekeruhan dari proses pengolahan air dapat menjadi parameter untuk mengetahui
padatan tersuspensi (terigu) yang terendapkan. Semakin kecil nilai kekeruhan maka
semakin banyak padatan tersuspensi yang di endapkan. Pada waktu 2 menit, nilai
kekeruhan berkurang sangat derastis, hal ini menandakan bahwa laju proses
pengendapan berjalan dengan cepat dan proses koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi
berjalan dengan baik. Dari menit ke 2-12 nilai kekeruhan terus mengalami penurunan.
Namun pada menit ke 12-20 nilai kekeruhan mengalami fluktuatif namun tidah berbeda
jauh. Hasil yang fluktuatif didapat karena pada proses aliran koagulan mengalami
kebocoran sehingga mempengaruhi hasil dari proses koagulasi.
 Efisiensi Pengendapan pada proses sedimentasi
Untuk melihat kinerja dari proses sedimentasi dengan melihat efisiesi. Nilai
efisiensi didapat dari hasil perhitungan dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut:
𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑡
Efisiensi penurunan kekeruhan = 𝑥 100%
𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙

Dari percobaan didapatkan nilai efisiensi dalam setiap waktu seperti dalam gambar 2
Kurva Waktu Terhadap
Efisiensi pengendapan
100
80

Efisiensi (%)
60
40
20
0
0 5 10 15 20 25
Waktu (menit)

Gambar.2 Kurva waktu terhadap efisiensi pengendapan


Dari gambar.2 dapat dilihat bahwa semakin lamanya waktu proses sedimentasi maka
efisiensi pengendapan semakin tinggi, dan pada waktu tertentu akan mengalami tahap
stasioner dimana efisiensi tertinggi dalam proses pengendapan tercapai. Nilai efisiensi
tertinggi pada percobaan yaitu 93,11%.
 Pengaruh Proses Sedimentasi Terhadap Nilai Daya Hantar Listrik (DHL)
Menurut merieanna (2013) karakteristik pengendapan dalam proses sedimentasi
salah satunya dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk partikel yang cenderung memiliki
sedikit muatan listrik. Pengujian daya hantar listrik untuk mengetahui keadaan muatan
listrik pada larutan, selain itu penambahan koagulan dapat mempengaruhi nilai daya
hantar listrik. Nilai DHL yang dihasilkan dari percobaan dapat dilihat pada gambar 3.

Kurva DHL Terhadap Waktu


60
50
DHL ((µs/cm))

40
30
20
10
0
0 5 10 15 20 25
Waktu (menit)

Gambar 3. Kurva DHL terhadap waktu


Pada awal percobaan memiliki nilai DHL sektar 41,8 μS/cm, namun pada
menit ke 2 nilai TDS mengalami peningkatan menjadi 51,8 μS/cm hal karena adanya
zat flokulan yang dapat mempengaruhi nilai DHL setelaj itu mengalami penurunan
kembali menjadi rentang sekitar 43-46 μS/cm. Pada akhir proses nilai DHL yang
didapatkan 46,9 μS/cm. hal ini membuktikan bahwa penambahan flokulan dapat
mempengaruhi nilain DHL.
Berdasarkan percobaan dan pengujian parameter seperti nilai kekeruhan, DHL dan pH
percobaan sedimentasi berjalan dengan baik berdasarkan nilai kekeruhan yang menurun
dari 101,6 NTU menjadi 7,51 NTU. Untuk nilai pH sendiri berada pada pH 8 tidak
mengalami perubahan selama proses hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Bambang
(2016) bahwa penggunaan PAC tidak seginifikan menurunkan pH sehingga peralatan
proses sedimentasi dan kondisi proses dalam rentang kondisi yang baik.

Intan Puspitarini (171411046)


Sedimentasi adalah pemisahan solid-liquid menggunakan pengendapan secara
gravitasi untuk menyisihkan suspended solid. Pada parktikum ini, sedimentasi
bertujuan untuk mengurangi padatan tersuspensi (koloid). Sedimentasi merupakan
salah satu unit pengolahan pada air baku ataupun air limbah agar air dapat digunakan
sebagai air proses atau dapat dibuang ke lingkungan karena telah berada dalam rentang
baku mutu sehingga tidak akan mencemari lingkungan.

Proses sedimentasi kali ini menggunakan air kran yang telah dicampur dengan
tepung menjadi air keruh atau memiliki padatan tersuspensi. Selain itu, pada proses ini
terdapat peralatan pendukung yaitu bak koagulasi dan bak flokulasi. Koloid memiliki
gaya elektrostatis (gaya tolak) dan gaya Van Der Walls (gaya tarik) yang di dalamnya
menghasilkan gaya tolak yang lebih besar daripada gaya tariknya yang mengakibatkan
koloid bersifat stabil dan tidak dapat mengendap dengan sendirinya. Untuk
mengendapkan partikel koloid dibutuhkan zat kimia bernama koagulan yang bertujuan
mendestabilisasi muatan partikel koloid untuk membentuk fine floks melalui proses
koagulasi. Pada umumnya air limbah bermuatan negatif. Supaya terjadi proses
destabilisasi, maka koagulan bermuatan positif agar terjadi gaya tarik diantara
keduanya. Koagulan yang digunakan ialah PAC (Poly Aluminium Chloride) 60 ppm.
Menurut Eaglebrook Inc (1999) dalam Yuliati (2006), PAC merupakan koagulan
anorganik yang tersusun dari polimer makromolekul dengan kelebihan seperti memiliki
tingkat adsorpsi yang kuat, mempunyai kekuatan lekat, tingkat pembentukan flok-flok
tinggi walau dengan dosis kecil, memiliki tingkat sedimentasi yang cepat, cakupan
penggunaannya luas, merupakan agen penjernih air yang memiliki efisiensi tinggi,
cepat dalam proses, aman, dan konsumsinya cukup pada konsentrasi rendah. PAC
(AlnCl(3n-m)(OH)m) bekerja pada rentang pH 6-9. Maka dari itu, pH air baku dibuat basa
dengan penambahan CaO untuk mengoptimalkan reaksi koagulasi.pH setelah ditambah
CaO naik yang awalnya pH 7 menjadi pH 8.

Proses flokulasi ditujukan untuk menjaring fine flok menjadi flok yang lebih
besar lagi sehingga dapat diendapkan dengan menggunakan flokulan. Dosis flokulan
ialah 0.125 ppm. Peralatan pendukung pada proses koagulasi dan flokulasi ialah
agitator yang berfungsi untuk mempercepat reaksi atau tumbukan antara koagulan atau
flokulan dengan partikel koloid. Kecepatan agitator koagulan lebih cepat dibandingkan
kecepatan agitator flokulan. Hal tersebut dikarenakan apabila kecepatan agitator
flokulan besar akan mengahancurkan flok-flok besar yang terbentuk sehingga lebih
sulit untuk diendapkan

Proses sedimentasi dilakukan dalam lamella clarifier untuk mempercepat


proses sedimentasi melalui pembuatan sekat-sekat dengan kemiringan tertentu. Dalam
lamella clarifier terdapat endapan berwarna putih yang merupakan endapan tepung.
Hasil pengamatan kekeruhan air hasil proses sedimentasi menunjukkan bahwa nilai
kekeruhan akan berkurang seiring bertambahnya waktu. Kekeruhan tersebut
berkesinambungan dengan endapan, dimana semakin jernih air, maka endapan yang
terbentuk akan semakin banyak dan kekeruhan akan semakin kecil. Efisiensi
pengendapan yang paling signifikan ialah saat waktu ke-2 menit yaitu kenaikan sebesar
75,6% dengan nilai kekeruhan semula 101,6 NTU menjadi 24,78 NTU. Nilai kekeruhan
tersebut telah berada di bawah ambang batas, dimana nilai ambang batasnya ialah yaitu
25 NTU menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
416/MENKES/PER/IX/1990 Tanggal 3 September 1990. Efisiensi pengendapan
cenderung konstan saat menit ke-12 sampai menit ke-20 sekitar 92%. Efisiensi
pengendapan terbesar terjadi saat menit ke-18 sebesar 93,11% dengan kekeruhan 7
NTU. Pada menit ke-20 terjadi penurunan efisiensi pengendapan atau kenaikan
kekeruhan karena perubahan laju alir yang naik dari semula sehingga laju pengendapan
menurun dengan efisiensi pengendapan bernilai 92,6% . Selain itu, pH air setelah
sedimentasi tidak berubah yaitu 8 karena PAC bersifat tidak terlalu menurunkan air
limbah.

Parameter lain yang diamati saat sedimentasi ialah Daya Hantar Listrik (DHL)
dengan konduktometer. DHL diukur untuk mengetahui ion-ion terlarut dalam air. Pada
kurva DHL terhadap waktu menunjukkan bahwa daya hantar listrik berfluktuasi seiring
dengan bertambahnya waktu. DHL yang tinggi menunjukkan seberapa besar ion-ion
pada koagulan dan flokulan yang tidak dapat menarik atau bereaksi dengan ion pada air
limbah. seberapa besar koagulan yang telah bereaksi dengan air limbah. Koagulan dan
flokulan yang ditambahkan memiliki ion-ion yang terlarut dalam air dan ion tersebut
akan bereaksi dengan ion berlawanan pada air limbah. DHL menit ke-0 bernilai rendah
karena belum ada koagulan dan flokulan dapat terikat secara maksimal dengan partikel
koloid. Pada menit ke – 20, nilai DHL mencapai 46,9 µS/cm atau setara dengan 30
mg/L. Nilai DHL tersebut telah berada di bawah ambang batas yaitu 1500 mg/L.

Praktikum ini dilakukan secara kontinyu dengan menggunakan dozing pump


untuk mengalirkan koagulan dan flokulan ke air limbah. Saat praktikum, selang
koagulan keluaran dozing pump pecah karena terlalu besar menahan cairan koagulan.
Maka dari itu, selang diganti dan diperbaiki laju alirnya menjadi lebih besar dari
ketentuan untuk menghindari selang yang pecah kembali.

Berdasarkan penjelasan di atas, faktor-faktor yang memengaruhi sedimentasi


ialah:

 Diameter partikel : semakin besar diameter partikel, maka akan semakin


cepat laju pengendapan
 Berat jenis partikel : semakin besar berat jenis partikel maka akan semakin
cepat laju pengendapan
 Muatan partikel : muatan partikel pada suspense umumnya tolak menolak
antar partikel yang menyebabkan partikel tidak dapat berikatan satu sama lain
dan akan mempersulit proses pengendapan. Sebaliknya, apabila muatan partikel
berbeda, akan terbentuk ikatan antar partikel yang meningkatkan laju
pengendapan
 Suhu : semakin tinggi suhu, viskositas suspense akan semakin rendah karena
suhu tinggi mengakibatkan adanya energi kinetik partikel yang bertambah dan
memperbanyak tumbukan partikel akan mudah mengendap
 Luas permukaan bak pengendapan :Semakin besar luas permukaan bak
pengendapan, maka efisiensi pengendapan akan semakin besar
 Kedalaman bak pengendapan :Semakin dangkal kedalaman bak
pengendapan, akan cepat menimbulkan endapan dibanding bak pengendapan
dengan kedalaman yang besar akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
partikel dapat mengendap
 Viskositas cairan :Semakin tinggi viskositas koloid, laju pengendapan akan
semakin kecil karena memperkecil energi kinetik sehingga tumbukan antar
partikel menjaadi lebih sedikit

Ismail Hamzah (171411047)


Pengaplikasian sedimentasi sangat banyak dilakukan pada pengolahan air
industri atau pengolahan air limbah contohnya pada pengolahan air umpan boiler yang
kemudian diteruskan dengan pengolahan air primer. Padatan yang digunakan untuk
melakukan proses sedimentasi adalah tepung terigu yang dilarutkan dalam air tanah
sehingga menghasilkan padatan tersuspensi. Proses sedimentasi biasanya dilakukan
setelah proses koagulasi-flokulasi. Setelah itu masuk kedalam proses sedimentasi,
proses ini termasuk yaitu berfungsi untuk menurunkan materi padatan tersuspensi
(settleable solid). Prinsip kerja bak sedimentasi yaitu memisahkan padatan dengan
larutan memanfaatkan gaya gravitasi (Reynolds dan Richards, 1982). Proses
sedimentasi menggunakan bak sedimentasi yang dilengkapi oleh Plate settler. Plate
settler ini merupakan susunan keping sejajar, yang disusun dengan panjang, jarak, dan
sudut yang telah ditentukan sehingga berfungsi untuk memperluas bidang
pengendapan. Plate settler merupakan alat yang sering digunakan untuk meningkatkan
efisiensi penyisihan tanpa membutuhkan lahan yang terlalu luas (Prayitna, 1991 dalam
Pratiwi dan Hermana, 2014). Investigasi dan praktik di lapangan telah menentukan nilai
rasio panjang dan jarak antar plate settler terbaik yaitu berkisar antara 15 – 20 (Ziolo,
1995). Penambahan plate settler pada zona pengendapan akan mengurangi nilai
overflow rate (Prayitna, 1991 dalam Pratiwi dan Hermana, 2014) sehingga
memungkinkan efisiensi penyisihan akan meningkat (Demir, 1994).

Ada beberapa hal yang mempengaruhi proses sedimentasi yaitu kecepatan


aliran (flowrate), viskositas, densitas, dan ukuran diameter partikel. Pada proses
pengendapan kecepatan aliran akan berpengaruh karena gaya partikel menyebabkan
partikel bergerak kebawah sedangkan gaya aliran menyebabkan partikel bergerak
searah horizontal. Jumlah gaya tersebut menyebabkan partikel mengendap joko (2010).
Jika kecepatan aliran air semakin lambat maka beban dipermukaan air akan semakin
besar sehingga kecepatan pengendapan akan semakin meningkat. Viskositas akan
sangat berpengaruh pada proses sedimentasi semakin besar viskositasnya maka larutan
akan semakin kental sehingga padatan dengan larutan akan sulit terpisah. Kemudian
densitas atau berat jenis dari partikel akan sangat mempengaruhi sedimentasi semakin
besar densitasnya maka kecepatan pengendapannya akan semakin bertambah. Dan
terakhir ada diameter partikel, semakin besar ukuran diameter dari partikel maka
kecepatan pengendapan akan semakin cepat. proses pembesaran ukuran diameter pada
proses ini dipengaruhi oleh koagulan dan flokulan. Koagulan pada proses koagulasi
akan menggumpalkan partikel-partikel koloid menjadi partikel-partikel kecil (fineflocs)
(Bambang,2010) dibantu dengan proses pengadukan dengan kecepatan yang tinggi
tujuanya agar antar pertikel akan mendekat sehingga akan membentuk flok-flok kecil.
Koagulan memiliki muatan listrik sehingga akan mengganggu kestabilan laisan luar
partikel koloid. Kemudian diameter partikel ini dipengaruhi oleh flokulan, Flokulan
dalam proses flokulasi akan menggumpalkan flok-flok kecl yang dihasilkan pada
proses koagulasi sehingga menghasilkan gumpalan yang lebih besar dan lebih berat.

Parameter yang kami uji pada praktikum sedimentasi adalah pH, DHL, dan
kekeruhan. Untuk nilai pH dari awal proses hingga akhir tidak mengalami perubahan
pH. Kemudian nilai daya hantar listrik (DHL) diukur dengan konduktometer.
Pengukuran DHL ini untuk membandingkan ion-ion sebelum proses sedimentasi dan
setelah proses sedimentasi. Hasil yang terukur mengalami fluktuasi tetapi hingga akhir
proses nilai DHL mengalami penurunan ini menunnjukan bahwa ion-ion yang
terkadung didalam larutan ikut mengendap didalam endapan sedimentasi yang nilai
semula yaitu 51,6 μS/cm menjadi 46,9 μS/cm. Nilai kekeruhan amati untuk mengetahui
kinerja dari proses sedimentasi dengan membandingkan nilai kekeruhan umpan masuk
dengan kekeruhan yang diambil setiap waktunya. Kekeruhan yang didapat pada umpan
masuk yaitu 101,6 NTU setelah berjalanya waktu nilai penurunan kekeruhan yang
paling signifikan terjadi pada dua menit pertama yaitu berubah menjadi 24,78 NTU
dengan memiliki eisiensi sebesar 75,61%. Hingga akhir proses sedimentasi nilai
kekeruhan terus mengalami penurunan tetapi nilainya tidak mengalami penurunan yang
sangat signifikan. Kekeruhan seiring berjalanya waktu nilainya terus menerus
mengalami penurunan sedikit-sedikit hingga ada akhir proses diketahui bahwa nilai
kekeruhanya 7,51. Dan diketahui efisiensinya yaitu 92,60%.
Jihan Azizah (171411048)

Sedimentasi merupakan proses pemisahan padatan yang tercampur didalam


suatu larutan dengan cara diendapkan secara gravitasi, sehingga menghasilkan air yang
lebih bersih. Proses sedimentasi berperan penting dalam proses industry seperti proses
pemurnian air dan pemurnian air limbah. Proses sedimentasi biasanya dilakukan setelah
air mengalami proses koagulasi dan flokulasi dengan penambahan koagulan dan
flokulan, dimana padatan dalam air tersebut akan membentuk flok-flok sehingga
mempercepat proses pengendapan pada bak sedimentasi. Bak sedimentasi yang
digunakan yaitu lamella clarifer yang merupakan bak berbentuk balok berkapasitas 40
liter dengan adanya sekat-sekat untuk memperbesar waktu tinggal.

Pada percobaan ini, air baku yang sudah ditambahkan dengan tepung harus di
atur pH nya hingga kondisi netral, penetralan dilakukan dengan penambahan kapur.
Penambahan kapur atau CaO dapat menaikkan pH menjadi 8 (kondisi netral).
Pengaturan pH ini bertujuan agar pada saat air yang telah melewati proses koagulasi
dan flokulasi, flok-flok yang sudah terbentuk tidak mudah hancur dan limbah yang
keluaran dari unit sedimentasi tidak terlalu asam saat dibuang ke lingkungan.

Tangki koagulan dan flokulan dilengkapi dengan pengaduk dan dozing pump.
Kalibrasi untuk dozing pump diatur sama agar laju alir untuk tangki koagulan, dan
tangki flokulan yang mengalir masuk kedalam lamella clarifer akan habis secara
bersamaan. Koagulan tidak langsung ditambahkan pada tangki umpan karena dapat
merubah konsentrasi air umpan. Pengadukan pada tangki koagulan adalah pengadukan
cepat dengan tujuan untuk mempercepat dan menyeragamkan penyebaran zat kimia
melalui air yang diolah. Sedangkan untuk pengadukan flokulasi adalah pengadukan
lambat karena pada tangki koagulasi akan terbentuk flok-flok halus sehingga pada saat
masuk kedalam tangki flokulan, flok-flok akan menggumpal agar gumpalan tersebut
tidak pecah maka dilakukan pengadukan lambat.

Saat berlangsungnya proses, dilakukan pengukuran beberapa parameter


diantaranya pH, DHL dan turbidity. Turbidity merupakan parameter utama karena
dapat mengetahui keefektifan proses sedimentasi. pH adalah agar flok yang sudah
terbentuk tidak pecah. Dan, DHL adalah untuk mengetahui apakah terdapat padatan
terlarut pada air limbah hasil proses sedimentasi ini.
Hasil dari percobaan yang telah dilakukan akan terbentuk endapan tepung
berwarna putih. Parameter pertama yaitu kekeruhan, nilai kekeruhan yang didapatkan
selama proses berjalan mengalami penurunan, sesuai dengan teori yang mengatakan
bahwa semakin lama waktu proses maka nilai kekeruhan akan semakin rendah. Dari
hasil akhir percobaan didapat nilai kekeruhan yaitu 7,51 NTU dengan kekeruhan
influen yaitu 101,1 NTU. Jika dibandingkan dengan parameter air bersih yaitu 25 NTU,
maka percobaan ini sudah dapat mencapai hasil yang diinginkan untuk pengoalahan air
limbah. Dan untuk efisiensi pengendapan akan mengalami kenaikan seiring dengan
menurunnya nilai kekeruhan. Efisiensi pengendapan akhir yang didapat bernilai 92,6%.

Parameter untuk nilai pH, rentang pH air hasil akhir yaitu 8 karena penggunaan
PAC sebagai koagulan tidak menurunkan pH air, sehingga air limbah dapat dibuang ke
lingkungan karena berada pada kondisi netral.

Untuk nilai DHL dari setiap sampel yang diambil mengalami fluktuasi seiring
bertambahnya waktu proses. DHL efluen pada sampel akhir mengalami kenaikan dari
DHL influentnya dari 41,8 µS/cm ke 46,9 µS/cm. kenaikan DHL adalah akibat dari
koagulan anorganik yang bisa meningkatkan total padatan terlarut (TDS) konsentrasi
air yang diolah. Adanya peningkatan padatan terlarut ini menunjukkan bahwa flokulan
sudah tidak bisa mengikat partikel tersebut untuk menjadi flok.
DAFTAR PUSTAKA

Bambang (2016). Bahan ajar pengolahan air industri. Bandung :Polban.

Farag I., 1996, Fluid Flow, East Williston:New York

Fergusson R.I. and Church M., 2004,Journal of Sedimentary Research,p.p. 933-937.

Firdaus,Alqadr.2015. SENDIMENTASI TANK DENGAN SISTEM UNDERFLOW DAN

DILENGKAPI AGITASI MEKANIK UNTUK PENGOLAHAN AIR DAN

LIMBAH CAIR .Darussalam: Universitas Syiah Kuala

Foust A.S., 1980, Principle of Unit Operation, 4 ed., John Wiley and Sons: New York

Marieanna (2013). Penentuan Jenis Koagulan dan Dosis Optimum untuk Meningkatkan

Efisiensi Sedimentasi dalam Instalasi Pengolahan Air Limbah Pabrik Jamu X.

Bandung: Universitas Katolik Parahyangan

Setiadi, dkk.2014. Model Persamaan Faktor Koreksipada Proses Sedimentasi dalam Keadaan

Free Settling. Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Vol 6 No. 2.Teknik Kimia:

Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Sukardjo, 2004, Kimia Fisika, cetakan ke 3, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

https://media.neliti.com/media/publications/142964-ID-none.pdf, di unduh pada hari rabu, 2

oktober 2019 pukul 21.47

https://repository.ar-raniry.ac.id/5587/1/T%20Ryven%20Trias%20Kembara.pdf, diunduh

pada haru Rabu, 2 Oktober 2019 pukul 23.00

Wityasari, N. (2016).Penentuan Dosis Optimum PAC (Poly Aluminium Chloride) Pada

Pengolahan Air Bersih Di IPA Tegal Besar PDAM Jember.


LAMPIRAN
1. Menghitunng waktu tinggal didalam lamela =
𝑣′ 40 𝑙
𝑡′ = = = 14,28 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
𝑄 2,8 𝑙/𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
2. Menghitung waktu operasi =
𝑉 90 𝑙
𝑡= = = 32,14 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
𝑄 2,8 𝑙/𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
3. Menghitung laju alir flokulan =
𝑉 𝑓𝑙𝑜𝑘𝑢𝑙𝑎𝑛 2𝑙
𝑞′ = = = 0.0622 l/menit
𝑡 32,14 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

4. Menghitung laju alir koagulan =


𝑉 𝑘𝑜𝑎𝑔𝑢𝑙𝑎𝑛 2𝑙
𝑞= = = 0.0622 l/menit
𝑡 32,14 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

5. Menghitung Efisiensi penurunan kekeruhan =


𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑡
Efisiensi penurunan kekeruhan = 𝑥 100%
𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙
101,6−101,6
 Efisiensi penurunan kekeruhan pada t0 = 𝑥 100% = 0%
101,6

101,6−24,78
 Efisiensi penurunan kekeruhan pada t1 = 𝑥 100% = 75,61%
101,6

101,6−18,3
 Efisiensi penurunan kekeruhan pada t2 = 𝑥 100% = 81,98%
101,6

101,6−13,36
 Efisiensi penurunan kekeruhan pada t3 = 𝑥 100% = 86,85%
101,6

101,6−11,25
 Efisiensi penurunan kekeruhan pada t4 = 𝑥 100% = 88,92%
101,6

101,6−9,86
 Efisiensi penurunan kekeruhan pada t5 = 𝑥 100% = 90,29%
101,6

101,6−7,78
 Efisiensi penurunan kekeruhan pada t6 = 𝑥 100% = 92.34%
101,6

101,6−7,12
 Efisiensi penurunan kekeruhan pada t7 = 𝑥 100% = 92,99%
101,6

101,6−7,77
 Efisiensi penurunan kekeruhan pada t8 = 𝑥 100% = 92,35%
101,6

101,6−7
 Efisiensi penurunan kekeruhan pada t9 = 𝑥 100% = 93,11%
101,6
101,6−7,51
 Efisiensi penurunan kekeruhan pada t10 = 𝑥 100% = 92,60%
101,6

Gambar 1. Cairan efluen pada menit Gambar 2. Cairan efluen pada menit
ke 2 dan 4 ke 6 dan 8

Gambar 3. Cairan efluen pada menit Gambar 4. Cairan efluen pada menit
ke 10 dan 12 ke 14 dan 16

Gambar 5. Bak sedimentasi Gambar 6. Endapan pada Lamela


(Lamela)
Gambar 7. Dosing pump untuk Gambar 8. Saklar agitator untuk
mengalirkan koagulan & flokulan penagadukan pada proses ko-flok

Gambar 9. Seperangkat alat pada Gambar 10. Tangki umpan masuk


proses Sedimentasi

Gambar 11. Sekat-sekat pada Gambar 12. Tempat keluarnya efluen


lamela dan umpan koagulan & flokulan