Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTROANALISIS

DESIGN SENSOR POTENTIOMETRI

Oleh :
Nama : Achmad Fudhali
NIM : 161810301031
Kelompok :1
Nama Asisten : Mohammad Jamaluddin

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2018
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Potensiometri merupakan salah satu cabang dari ilmu kimia. Potensiometri
mempelajari hubungan antara potensial dari suatu sampel sebagai fungsi dari
konsentrasi dalam rangkaian sel elektrokimia. Potensiometri biasanya digunakan
dalam metode analisa kimiawi yang bisa digunakan sebagai metode penentuan
konsentrasi analit ataupun sebagai detektor terhadap adanya senyawa-senyawa
tertentu. Pengukuran potensial dalam sel elektrokimia sangat bergantung pada
konsentrasi dan aktivitas dari analit yang digunakan. Tegangan sel yang dihasilkan
pada metode ini bergantung pada banyaknya aktivitas salah satu zat
(Brett dan Brett, 2011).
Sensor kimia merupakan penemuan yang sangat bermanfaat dalam bidang
analisis kimia. Aplikasi dari sennsor kimia dapat meliputi bidang kesehatan sampai
bidang industri. Aplikasi sensor kimiawi dalam bidang kesehatan dapat berupa pH
meter dalam analisis obat ataupun dalan tes gula darah yang menggunakan sensor
yang sensitif terhadap kandungan gula dalam darah. Aplikasi dalam bidang
induustri yaitu dapat digunakn sebagai penentuan kandungan zat kima tertentu
dalam suatu bahan atau sampel baham. Keungguland dari sensor kimia yaitu
mampu menghasilkan rentang yang luas dalam analisisnya, merupakan alat yang
mudah dibuat sendiri dan mudah digunakan ( Janata, 2001 ).
Percobaan ini dilakukan dengan mendesain sensor kemudian dilanjutkan
pengujian sensor yang telah dibuat. Sensor potensiometri pada percobaan ini dibuat
dengan menggunakan logam Cu sebagai elektroda dan membran PTFE. Elektroda
Cu digabungkan dengan larutan CuSO4 yang terdapat dalam pipa. Elektroda Cu
tersebut akan menghasilkan kesetimbangan dengan kation yang terdapat di dalam
larutan. Proses pengukuran potensial dilakukan dengan mencelupkan kedua
elektroda ke dalam analit.
1.1 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada percobaan desain sensor potensiometri yaitu
bagaimana cara mendesain sensor untuk pengukuran analit secara potensiometri?

1.2 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan desain sensor potensiometri yaitu siswa memiliki
keterampilan dalam mendesain sensor untuk pengukuran analit secara
potensiometri.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)


2.1.1 Akuades (H2O)
Akuades (H2O) atau air memiliki sifat fisik dan kimia antara lain yaitu
memiliki berat molekul sebesar 18,02 g/mol, pH netral (pH = 7), titik beku 0℃, titik
didih 100℃ (212℉) dan massa jenis 1 g/cm3. Air juga memiliki tekanan uap sebesar
0,62 kPa dan bersifat stabil. Air tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau.
Akuades tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen dengan satu
atom oksigen. Akuades merupakan pelarut yang sangat baik. Akuades tidak
berbahaya, jadi tidak diperlukan penanganan khusus (Sciencelab, 2018).
2.1.2 PTFE Membran
Polytetrafluoroethylene atau PTFE merupakan membran yang memiliki
sifat hidrofobik atau suka air.PTFE berwarna putih dan tidak memiliki bau. PTFE
memiliki titik didih sebesar 327 ºC dan dapat terbaar pada suhu tinggi. PTFE dapat
terdekomposisi dan akan menghasilkan gas beracun pada temperatur diatas 400 ºC.
PTFE sebaiknya disimpan dalalam kondisi jauh dari sinar matahari dan pada
keadaan dingin. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan apabila PTFE terhirup
yaitu mencari tempat terbuka dengan udara yang segar, jika tidak dapat bernapas
segera dapatkan pertolongan medis. Pertolongan jika PTFE terkena kulit dan terjadi
kontak mata segera dibasuh dengan menggunakan air selama 15 menit, sesekali
kelopak mata dikedip-kedipkan. Pertolongan medis harus segera didapatkan
apabila terjadi iritasi berlanjut (Sciencelab, 2018).
2.1.3 Tembaga (II) Sulfat
Tembaga (II) sulfat merupakan bahan kimia yang memiliki rumus molekul CuSO4,
memiliki bentuk solid atau kristal padat dan tidak berbau. Titik didih dari tembaga
(II) sulfatsebesar 150 ºC dan titik leburnya sebesar 110 ºC.Warna dari tembaga (II)
sulfat adalah warna biru. Berat molekul dari tembaga (II) sulfat sebesar 249,69
g/mol. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan apabila terhirup yaitu segera
dibawa ke tempat terbuka. Tindakan apabila terjadi kontak mata dan kulit yaitu
segera mencuci dengan sabun selama 15 menit, apabila tertelan jangan
dimuntahkan (Sciencelab, 2018).

2.2 Dasar Teori


2.2.1 Potensiometri
Potensiometri merupakan salaha satu cabang dari ilmu kimia. Potensiometri
mempelajari hubungan antara potensial dari suatu sampel sebagai fungsi dari
konsentrasi dalam rangkaian sel elektrokimia. Potensiometri biasanya digunakan
dalam metode analisa kimiawi yang bisa digunakan sebagai metode penentuan
konsentrasi analit ataupun sebagai detektor terhadap adanya senyawa-senyawa
tertentu, aplikasi dari metode ini biasanya digunakan dalam bidang kesehatan
seperti farmasi, pengukuran nilai pH dalam penentuan obat sangat bergantung pada
teknik analisa potensiometri. Pengukuran potensial dalam sel elektrokimia sangat
bergantung pada konsentrasi dan aktivitas dari analit yang digunakan. Pengukuran
dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pengukuran secara
langsun yaitu pada proses sel galvani segdangkan pengukuran secara tidak langsung
yaitu pada pengukuran secara teknik titrasi potensiometri. Tegangan sel yang
dihasilkan pada metode ini bergantung pada banyaknya aktivitas salah satu zat
(Brett dan Brett, 2011). Metode potensiometri didasarkan pada timbulnya
perbedaan nilai potensial antara elektroda indikator dengan elektroda pembanding
dalam suatu sel elektrokimia yang mana besarnya potensial yang dihasilkan
merupakan fungsi logaritma terhadap besarnya nilai konsentrasi ion yang terdapat
dalam larutan analit yang biasanya merupakan senyawa ionik. Penentuan
konsentrasi ion tertentu menggunakan metode ini dapat dilakukan dengan
menggunakan elktroda untuk ion yang ingin ditentukan. Elektroda mengandung
penyekat khusus yaitu berupa membran yang dapat memunngkinkan terjadinya
deteksi terhadap nilai potensial dari suatu pengukuran potensiometris, membran
yang digunakan dapat berupa membran gelas ataupun membran resin penukar
(Ismono, 1980).
Pengukuran secara potensiometri berdasrkan pada perbedaan nilai potensial
antara elektroda pembanding dengan elketroda indikator. Sensor kimia yaitu sensor
yang dapat mendeteksi adanya suatu molekul bermuatan tertentu dalam suatu
senyawa, aplikasi dari teknik ini yaitu penentuan voumetrik dari suatu senyawa
dalam dunia industri baik berupa ion ataupun molekul. Sensor bekerja dengan
adanya muatan yang melewati rangkaian elektroda dari perangkaat sensor.
Kelebihan yang dimiliki oleh sensor kimia yaitu harganya relaltif murah, mudah
untuk dibuat, mudah untuk digunakan, mempunyai rentang pengukuran yang luas
dan waktu analisis yang tidak membutuhkan waktu yang lama sehingga dapat
digunakan dalam analisa secara rutin. Desain sensor potensiometri jika dilihat dari
segi instrumentasi memungkinkan untuk dibuat dalam bentuk miniatur sehingga
dapat digunakan dalam pengukuran sampel dalam analisis alir ( Janata, 2001 ).
2.2.2 Sensor Kimia
Sensor kimia merupakan sensor yang mampu mendeteksi adanya suatu
spesi kimiawi dengan merubah konsentrasi kimia menjadi potelsial listrik. Sensor
merupakan alat yang dapat digunakan dalam sebagai detektor terhadap sinyal-
sinyal atau gejala yang terjadi akibat adanya perubahan energi baikitu energ kimia,
mekanik ataupun perubahan energi listrik. Sensor mempunyai tingkat kepekaan
dalam pengukurannya terhadap suatu analit yang bergantung pada sensitivitas dan
linearitas dari sensor tersebut. Respon yang linier akan menghasilkna sensitivitas
sama untuk jangjauan pengukuran secara keseluruhan (Sharon, 1982).
Perkembangan elektrokimia sebagai salah satu teknik analisa mengalami
perkembangan yang cukup pesat dan menjadi bidang penelitian yang semakin
digemari dimasa sekarang. Sautu sensor dapat diartikan sebagai suatu perangkat
yang mampu meberikam informasi lanjutan mengenai lingkungan. Sensor kimia
dapat bertindak sebagai detektor dan mampu memberikan informasi secara
langsung mengenai kunatitas dari suatu spesi dalam sampel. . Bagian pada sebuah
sensor elektrokimia yang menginformasikan respon menjadi sinyal yang terdeteksi
dalam instrumen dari lapisan kimia atau biokimia yang merespon analit dari
lingkungannya yaitu transduser (Janata, 2001). Pada metode analisis potensiometri
umumnya menggunakan elektroda selektif ion. Elektroda selektif ion (ESI) adalah
suatu setengan sel elektrokomia yang menggunakan membran sebagai sensor kimia
lingkungan ionik dan mengukur aktivitas (konsentrasi) ion-ion, yang potensialnya
berubah-ubah secara reversible terhadap perubahan aktivitas ion dalam larutan yang
dapat menembus antarmuka membran-membran yang diukurnya.
Elektroda potensial membran atau eletroda membran menggunakan fungsi
konsentrasi analit dengan nilai potensial yang dihasilkan. Elektroda yang digunakan
pada sensor potensiometri terdaapat daua buah yang ditempatkan dalam larutan
dalam dan ditempatkan pada larutan sampel untuk elektrode yang lainnya.
Membran yang digunakan akan menghasilkan reaksi dengan analit yang akan
dianalisa dengan interaksi yang akan menghasilkan beda potensial antara kedua sisi
dengan potensial sel
Esel = Eref (inert) – Eref (sampel) + Emembran + Ei,j
Potensial dari membran akan memepengaruhi nilai potensial dari sel, hali ini
dikarenakan nilai potensial dari elektroda pembanding maupun potensial dari cairan
penghubung mempunyai nilai yang konstan. Potensial membran muncul karena
adanya interakksi antara analit dengan membran pada sisi yang bersebrangan
(Harvey, 2000).
Berikut skema alat percobaan desain sensor potensiometri :

Gambar 2.1 desain sensor potensiometri


(Sumber : Skoog, 2004)
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat f

Alat yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah konductor (Kawat
Cu), batang gelas atau batang plastik berbentuk silinder, beaker glass, pipet volume,
lem plastik, pipet tetes.
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah PTFE membran,
larutan standar CuSO4 1 M, dan akuades.
3.2 Diagram Alir
3.2.1 Prosedur Design Sensor
Batang gelas/plastik

- Dimasukkan kawat Cu dan larutan


CuSO4 jika telah ditutup dengan
membran

Sensor Potensiometri

- Diuji pada larutan 5-10 ml CuSO4


0,5 M dihubungkan kedua elektroda

Nilai potensial

- Diperlakukan triplo

Standart deviasi dan nilai relatif standart deviasi

- Diganti larutan dengan konsentrasi 0,1


; 0,05 ; 0,01 ; 0,005 M dan dibuat kurva
kalibrasi

Linier range dan sensitifitas elektroda


3.3 Prosedur Kerja

3.3.1 Prosedur Disain Sensor


Dipersiapkan batang gelas/plastik berbentuk pipa, tutup ujung pipa dengan
membran dan ikat dengan karet (O ring). Dimasukan kawat tembaga, dan isi ruang
kosong dengan larutan CuSO4 0.01M sehingga logam Cu terendam sedalam 1 cm
dari dasar tabung gelas/plastik. Diisipkan bahan isolator di ujung tabung untuk
menahan posisi kawat Cu tidak bergerak.

3.3.2 Pengujian Sensor


Dipersiapkan 5 – 20 mL larutan standar CuSO4 dengan konsentrasi 0.5M dan
dimasukkan dalam beaker gelas. Dimasukan sensor potensiometri yang sudah
dibuat kedalam beaker glass yang berisi larutan standar CuSO4 dan dimasukkan
juga logam Cu kedua sebagai elektroda referensi. Dihubungkan kedua elektroda di
atas dengan Voltmeter, dan dicatat nilai potensialnya ketika nilai voltase sudah
konstant. Diulangi percobaan tersebut sebanyak tiga kali, dihitung standart
deviasinya dan nilai relatif standar deviasinya. Diangkat elektroda dan dibilas
dengan akuades, diganti larutan dalam beaker dengan larutan CuSO4 dengan
konsentrasi , 0.1; 0.05; 0.01 dan 0.005M dan dibuat kurva kalibrasi berdasar
potensial yang terukur dengan konsentrasi larutan standar yang sesuai. Ditentukan
linier range, sensitifitas dari elektroda yang dibuat
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Tabel 4.1.1 Data hasil percobaan

Potensial (mV) Relatif


Rata-rata
Standart standart
No. Konsentrasi Potensial
1 2 3 Deviasi Deviasi
(mV)
( %)
1. 0,005 16,9 16,5 17,0 16,8 0,26 1,55
2. 0,01 17,5 17,5 17,8 17,6 0,17 0,96
3. 0.05 19,4 19,4 19,5 19,43 0,058 0,298
4. 0.1 19,4 19,4 21,6 20,13 1,10 5,4
5. 0.5 36,7 34,6 34,6 35,3 1,21 3,43

4.2 Pembhasan
Percobaan kali ini ialah tentang desain sensor potensiometri dengan tujuan
untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam membuat sesnor potensiometri serta
menggunakannya untuk pengukuran analit didalamnya. Sensor kimia merupakan
sensor yang mampu mendeteksi adanya suatu spesi kimiawi dengan merubah
konsentrasi kimia menjadi potelsial listrik. Sensor merupakan alat yang dapat
digunakan dalam sebagai detektor terhadap sinyal-sinyal atau gejala yang terjadi
akibat adanya perubahan energi baikitu energ kimia, mekanik ataupun perubahan
energi listrik. Sensor mempunyai tingkat kepekaan dalam pengukurannya terhadap
suatu analit yang bergantung pada sensitivitas dan linearitas dari sensor tersebut.
Respon yang linier akan menghasilkna sensitivitas sama untuk jangjauan
pengukuran secara keseluruhan (Sharon, 1982). Sensor yang dibuat merupakan
sensor yang peka terhadap adanya suatu zat tertentu bergantung pada jenis elektroda
yang digunakan. Percobaan kali ini menggunakan elektroda Cu sebagai elektroda
refrensi sehingga esensor yang dibuat akan peka atau selektif terhadap adanya ion
Cu dalam suatu sampel larutan.
Percobaan diawali dengan pembuatan beberapa jenis larutan dengan
konsentrasi yang bervariasi dari pengenceran larutan induk CuSO4 dengan
konsentrasi 0,005; 0,01; 0,005; 0,1 dan 0,5 ppm. Pengenceran dilakukan agar ion-
ion dalam larutan CuSO4 terurai menjadi ion-ionnya berdasarkan pada persamaan
reaksi berikut ini
CuSO4 (aq) → Cu2+ (aq) + SO42- (aq) (4.1)
Penambahan air akan membuat ion Cu2+ dan ion SO42- semakin bebas bergerak.
Konsentrasi yang meningkat akan meningkatkan jumlah ion yang bergerak bebas
di dalam larutan. Larutan dengan beberapa variasi konsentrasi ini kemudian
digunakan sebagai larutan uji pada sensor yang telah dibuat untuk menentukan
standart deviasi, nilai relatif standar deviasi, sensitifitas dan linearitasnya.
Percobaan dilanjutkan dengan pembuatan sensor potensiometri. Pembuatan
sensor menggunakan bolpoin bekas sebagai wadah dari sensor yang akan
digunakan. Larutan CuSO4 0,01 M kedalam bolpoin dan dimasukkan logam Cu
sebagai elektroda indikator. Elektroda indikator merupakan elektroda yang
mempunyai nilai potensial yang bergantung pada aktivitas dari analitnya (Basset,
1994). Kawat Cu dimasukkan hingga terendam 1cm didalam larutan CuSO4 agar
terjadi interaksi antara larutan dengan kawat Cu sebagai elektroda indikator.
Membran yang digunakan pada percobaan ini merupakan plastik tipis dimana
membran akan memungkinkan terjadinya kontak antara muatan pada larutan dan
muatan pada sensor yang telah dibuat sehingga terbaca oleh mV meter sebagai nilai
potensial yang dihasilkan dari pengukuran yang telah dilakukan. Rangkaian
elektroda yang sudah dibuat kemudian dihubungkan dengan mV meter untuk
penentuan potensial analit.
Pengukuran dilakukan dari konsentrasi yang lebih rendah menuju
konsentrasi yang lebih tinggi. Perlakuan ini agar konsentrasi yang lebih lemah tidak
mempengaruhi pengukuran nilai potensial pada konsentrasi yang lebih besar.
Pengukuran dilakukan masing-masing tiga kali pengulangan untuk setiap
konsentrasi agar diperoleh data yang akurat dan presisi dimana nilai potensial yang
dihasilkan oleh sensor ini harus diuji dan ditentukan standar deviasinya untuk
mengetahui seberapa baik sensor ini bekerja. Pengukuran nilai potensial setiap
konsentrasi dilakukan dengan pencucian sensor, hal ini bertujuan untuk
mebersihkan sensor dari kotoran atau sisa analit pada pengukuran sebelumnya
mengingat sensor yang bersifat sangat sensitif sehingga menghasilkakn hasil
pengukuran yang baik. Hasil pengukuran yang diperoleh pada percobaan kali ini
ialah seperti tertera pada tabel hasil. Data yang diperoleh kemudian disajikan dalam
bentuk kurva kalibrasi berikut ini

Gambar 4.1 Kurva kalibrasi larutan standar K2SO4


Kurva tersebut menunjukkan adanya kenaikan nilai beda potensial seiring dengan
naiknya konsentrasi larutan yang digunakan. Naiknya nilai potensial diakibatkan
semakin banyaknya ion Cu2+ yang berinteraksi dengan sensor sehingga semakin
besar nilai potensial yang dideteksi oleh sensor. Kurva yang dibuat berdasarkan
pada persamaan Nerst dimana dalam persamaan Nerst menunjukkan bahwa Log (c)
dan nilai potensial berbanding lurus.
Linearitas dari kurva dapat dilihat dari persamaan garis yang dibentuknya
yaitu y = 8.2506x + 33.277 dan nilai regresinya sebesar R² = 0.7452. Nilai regresi
menunjukkan besar linearitas suatu data hasil pengamatan. Data yang diperoleh
pada percobaan kali ini mempunyai nilai yang mendekati 1,00 dimana semakin
mendekati nilai 1,00 sebuah data akan semakin bagus serta data hasil pengukuran
dapat dikatakan lebih semakin akurat.
Hasil pengamatan kemudian digunakan untuk penentuan nilai standar
deviasi dan nilai standar deviaisi relatif. Standar deviasi menunjukkan seberapa
besar penyimpangan suatu alat yang digunakan untuk pengukuran suatu benda.
Penyimpangan yang semakin kecil akan menunjukkan bahwa alat tersebut
mempunyai nilai akurasi yang baik. Nilai standar deviasi dan nilai relatif standar
deviasi yang dihasilkan ialah seperti pada tabel hasil. Standar deviasi yang
dihasilkan cukup kecil sehingga akurasi dari desain sensor yang dibuat mempunyai
nilai akurasi yang cukup baik.
BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Desain sensor potensiometri dapat dibuat dengan menggunakan bahan yang
sederhana seperti bolpoin dan plastik bekas sebagai membran. Komponen dari
desain sensor potensiometri yaitu larutan CuSO4 dan kawat Cu. Interaksi dari
sensor dan larutan sampel akan menghasilkan nilai potensial yang berbeda-beda
bergantung pada besar konsentrasinya. Desain sensor potensiometri ditentukan
linearitas dan standar deviasinya untuk mengetahui seberapa akurat alat tersebut
dalam pengukuran potensial analit

5.2 Saran
Saran untuk percobaan kali ini sebaiknya praktikan melakukan semua
perlakuan secara hati-hati dan teliti. Pengukuran yang dilakukan baiknya secara
teliti karena sensor sangat sensitif terhadap adanya gangguan. Praktikan sebaiknya
mengkonsultasikan setiap tahap pekerjaannya kepada asisten praktikum.
DFTAR PUSTAKA

Basset,. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif. Jakarta : EGC.


Bret dan Bret.2011.Electro Chemical Sensing In Solutions Origins Aplication and
Future Respective .Journal of solid state electrochemistry 76; 988-996
Ismono.1980. Cara-cara Optik Dalam Analisa Kimia. Bandung ITB

Sharon. 1982. Principles of Analysis Chemistry. New York: Harcourt Brace College
Publisher.
Harvey, David. 2000. Modern Analytical Chemistry. New York: McGraw-Hill
Comp.
Janata, J. 2001. Analysis Chemistry. United State: Experts Publishers.
ScienceLab. 2018. Material Safety Data Sheet of Cu [Serial Online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9922769 (diakses pada
tanggal 16 Maret 2018).
ScienceLab. 2018. Material Safety Data Sheet of CuSO4 [Serial Online].
https://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927321 (diakses pada
tanggal 16 Maret 2018).
ScienceLab. 2018. Material Safety Data Sheet of H2O [Serial Online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927321 (diakses pada
tanggal 16 Maret 2018).
Sharon. 1982. Principles of Analysis Chemistry. New York: Harcourt Brace College
Publisher.
Skoog, D.A.2004. Fundamentals of Analytical Chemistry. Canada : Thomson
Learng, Inc.
Tim Kimia Analtik. 2018. Penuntun Praktikum Elektroanalisis. Jember:
Universitas Jember.
Sciencelab.2018. Material Safety Data Sheet Of Aquades
.http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927321 (diakses 18
September 2018)
Sciencelab.2018. Material Safety Data Sheet Of Copper sulfide Pentahydrate.
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927321 (diakses 18
September 2018)
Sciencelab.2018. Material Safety Data Sheet Of Copper.
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927321 (diakses 18
September 2018)
LAMPIRAN

1. Pengenceran Larutan

a. Konsentrasi CuSO4 0,5 M


𝑀1 × 𝑉1 = 𝑀2 × 𝑉2
𝑀1 × 𝑉1
𝑉2 =
𝑀2
0,5𝑀 × 50 𝑚𝐿
𝑉2 =
1𝑀
𝑉2 = 25 𝑚𝐿
b. Konsentrasi CuSO4 0,1 M
𝑀1 × 𝑉1 = 𝑀2 × 𝑉2
𝑀1 × 𝑉1
𝑉2 =
𝑀2
0,1 𝑀 × 50 𝑚𝐿
𝑉2 =
1𝑀
𝑉2 = 5 𝑚𝐿
c. Konsentrasi CuSO4 0,05 M
𝑀1 × 𝑉1 = 𝑀2 × 𝑉2
𝑀1 × 𝑉1
𝑉2 =
𝑀2
0,05 𝑀 × 50 𝑚𝐿
𝑉2 =
1𝑀
𝑉2 = 2,5 𝑚𝐿
d. Konsentrasi CuSO4 0,01 M
𝑀1 × 𝑉1 = 𝑀2 × 𝑉2
𝑀1 × 𝑉1
𝑉2 =
𝑀2
0,01𝑀 × 50𝑚𝐿
𝑉2 =
1𝑀
𝑉2 = 0,5 𝑚𝐿
e. Konsentrasi CuSO4 0,005 M
𝑀1 × 𝑉1 = 𝑀2 × 𝑉2
𝑀1 × 𝑉1
𝑉2 =
𝑀2
0,005 𝑀 × 50 𝑚𝐿
𝑉2 =
1𝑀
𝑉2 = 0,2
2. Data Beda potensial
[CuSO4] Pengukuran 1 Pengukuran 2 Pengukuran 3 Rata-rata
(M) Beda Potensial Beda Potensial Beda Potensial (mV)
(mV) (mV) (mV)
0,005 16,9 16,5 17,0 16,8

0,01 17,5 17,5 17,8 17,6

0,05 19,4 19,4 19,5 19,43

0,1 19,4 19,4 21,6 20,13

0,5 36,7 34,6 34,6 35,3

3. Standar Deviasi

(16,9 − (16,8) )2 + (16,5 − (16,8) )2 + (17 − (16,8) )2


𝑆𝐷1 = √ = 0,26
3−1

(17,5 − (17,6) )2 + (17,5 − (17,6) )2 + (17,8 − (17,6) )2


𝑆𝐷2 = √ = 0,17
3−1

(19,4 − 19,43)2 + (19,4 − 19,43 )2 + (19,5 − 19,43 )2


𝑆𝐷3 = √ = 0,058
3−1

(19,4 − 20,3 )2 + (19,4 − 20,3 )2 + (19,4 − 20,3 )2


𝑆𝐷4 = √ = 1,10
3−1

(36,7 − 35,3 )2 + (34,6 − 35,3)2 + (34,6 − 35,3 )2


𝑆𝐷5 = √ = 1,21
3−1
4. Relatif Standar Deviasi
0,26
𝑅𝑆𝐷1 = × 100% = 1,55%
16,8
0,17
𝑅𝑆𝐷2 = × 100% = 0,96%
17,6
0,058
𝑅𝑆𝐷3 = × 100% = 0,298%
19,43
1,10
𝑅𝑆𝐷4 = × 100% = 5,4%
20,3
1,21
𝑅𝑆𝐷5 = × 100% = 3,43%
35,3