Anda di halaman 1dari 9

2.1.

KONSEP DAN PENDEKATAN

2.1.1. Pewilayahan Komoditas


Pewilayahan komoditas dapat didefinisikan sebagai suatu kawasan produksi
yang dikembangkan menjadi sentra produksi untuk komoditas unggulan tertentu
yang memungkinkan untuk dikembangkan melalui (a) proses pengolahan lahan
usaha dan pengerahan investasi skala besar; dan (b) pengembangan sistem
produksi terintegrasi atau kluster industri untuk menghasilkan komoditas
unggulan yang memiliki permintaan pasar domestik dan ekspor.
Pembangunan daerah melalui pendekatan pewilayahan komoditas dimaksudkan
untuk mengejar ketertinggalan daerah itu menyusul daerah lain yang telah
berkembang atau maju. Dengan adanya pewilayahan komoditas, maka
pembangunan sarana dan prasarana ekonomi, sosial dan kelembagaan untuk
mengolah potensi dan sumberdaya lokal menjadi lebih fokus sehingga dapat
optimal kontribusinya dalam percepatan pembangunan daerahnya.
Pembangunan daerah melelui pendekatan pewilayahan komoditas menjadi
pilihan untuk mengentaskan kemiskinan ekonomi, karena kemiskinan ekonomi
akan berimplikasi menghasilkan kemiskinan lainnya. Oleh karena itu, titik gerak
pembangunan pertanian di daerah harus dimulai dengan pemberdayaan usaha
ekonomi. Potensial komoditas dan usaha menjadi acuan utama untuk disepakati
masyarakat daerah yang menjadi pelaku ataupun pemanfaat pembangunan.
Daerah pertanian dengan segala keterbatasannya tidak mungkin akan mampu
membangun dirinya sendiri tanpa dukungan, pendampingan, bantuan dan
fasilitasi dari pihak lain, baik itu pemerintah daerah maupun pemerintah pusat
dan para pihak yang berkepentingan dalam pembangunan daerah. Fasilitasi
dapat digunakan langsung oleh pelaku ekonomi dan juga oleh desa, kecamatan,
terutama dalam menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung usaha
ekonomi rakyat.

2.1.2. Komoditas Unggulan


Komoditas unggulan adalah komoditas yang diusahakan berdasarkan
keunggulan komparatif dan kompetitif serta ditopang oleh pemanfaatan teknologi
sesuai dengan agroekosistem untuk meningkatkan nilai tambah dan mempunyai
“multiplier effect” terhadap terhadap berkembangnya sektor lainnya. Secara
umum, suatu komoditas dapat dianggap sebagai komoditas unggulan apabila
komoditas tersebut memiliki karakteristik : (a) komoditas dapat diproduksi secara
terus-menerus pada tingkat produktivitas dan kualitas yang baik, dan (b) dapat

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG 2010 2-1


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Zonasi Perwilayahan Komoditas dan Produk Unggulan
Kabupaten Bengkayang
Bab 2 Metodologi Kegiatan

diserap oleh pasar dalam jumlah besar, dan (c) berkelanjutan, dan pada tingkat
harga yang wajar. Pengertian ini dapat beragam tergantung pada kriteria atau
sudut pandang yang digunakan. Beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai
penentuan komoditas unggulan adalah kecukupan pasokan, perolehan devisa,
potensi pengembangan, jumlah tenaga kerja yang terlibat dan lain-lain.
Berangkat dari keragaman sudut pandang tersebut, diperlukan adanya satu
pengertian dasar mengenai kmoditas unggulan.
Dua sisi yang harus diperhatikan dala penetapan komoditas unggulan, yaitu sisi
penawaran dan permintaan. Dari sisi penawaran, komoditas tersebut ditopang
oleh kesesuaian agroekosistem dan biofisik wilayah serta penguasaan teknologi
produksi. Dari sisi permintaan, komoditas tersebut mempunyai pasar riil yang
berkembang, baik di tingkat konsumsi langsung mauoun sebagai bahan baku
industri. Oleh karena itu, pendekatan keunggulan komoditas akan menciptakan
pertaian dinamis dan berkesinambungan. Pendekatan penetapan komoditas dan
produk unggulan secara skematik dapat dilihat pada Gambar 2.1 (LPPM IPB dan
Kemeneg PDT, 2007).

Gambar 2.1
Pendekatan Penetapan Komoditas dan Produk Unggulan
(LPPM-IPB dan Kemeneg PDT, 2007)

SISI PENAWARAN SISI PERMINTAAN

1. AGROKLIMAT 1. PASAR LOKAL


2. BIOFISIK WILAYAH 2. PERKEMBANGAN HARGA
3. PENGUASAAN TEKNOLOGI 3. SPESIFIKASI MUTU

ANALISIS KESEIMBANGAN DAFTAR KOMODITAS (SISI


DAFTAR KOMODITAS
PENAWARAN DAN PERMINTAAN PERMINTAAN)

PRODUK POTENSIAL
KOMODITAS UNGGULAN CALON PRODUK UNGGULAN
AGROINDUSTRI

PRODUK UNGGULAN

AGROINDUSTRI PRODUK UNGGULAN

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG 2010 2-2


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Zonasi Perwilayahan Komoditas dan Produk Unggulan
Kabupaten Bengkayang
Bab 2 Metodologi Kegiatan

Sisi penawaran mencerminkan kemampuan suatu wilayah untuk menghasilkan


komoditas tersebut. Kemampuan ini meliputi kesesuaian lahan, kesesuaian
agroklimat, ketersediaan/penguasaan teknologi, karakteristik unggul dari suatu
komoditas, dan produktivitas. Parameter yang dapat diukur dari sisi penawaran
tersebut adalah produktivitas tinggi, produksi berkelanjutan dengan
kecenderungan semakin meningkat. Dalam kaitan ini, volume atau nilai produksi
dan produktivitas menjadi indikator penentu keunggulan bagi komoditas yang
ada. Sebaliknya, produktivitas dan lahan potensial menjadi ukuran utama bagi
komoditas potensial yang belum diusahakan. Komoditas tersebut harus dikaji
secara komprehensif untuk dapat membuat daftar komoditas riil dan potensial
dari sisi penawaran. Hasil analisis ini merupakan basis pengembangan
komoditas, baik secara individu maupun secara terpadu.
Sisi permintaan menggambarkan perilaku pasar komoditas yang meliputi volume
dan nilai permintaan (riil dan potensial) dan perkembangannya. Dengan
demikiansisi permitaan memberi isyarat(i)jumlah komoditas yang dapat diserap
pasar,(ii)karateristik/kualitas komoditas yang diinginkan,(III)tinkat harga,(iv)tata
niaga,dan(v) tigkat persaingan antar pelaku besar.bedasarkan informasi inidapat
ditetap kan komoditas potensial ,dan komoditas unggul dari sisi permintaan .lebih
jauh ,analisis ini akan diharapkan dapat menhasilkan suatu deskripsi pasar dan
deskripsi komoditas yang memiliki keunggulan .dengan demikian dapat disusun
suatu stategi pemenuhan kriteria pasar melalui prinsip keunggulan.
Dengan pendekatan yang sama,selain komoditas unggulan ,kajian pasardan
potensi wilayah dapat menghasilk anproduk unggulan yang meliputi
jenis,kualitas,nilai,dan volume permintaan.informasi ini dapat menjadi acuan
dalam penetapan produk-produk unggulan yg mempunyai pasar (riil dan
potensial).perpaduan antara kajian sisi penawaran dan sisi permintaan akan
menghasilkan daftarkomoditas dan produk unggulan.hal ini bearti bahwa
komoditas dan produk unggulan tersebut dapat diproduksi secara
berkesinambugan pada tingkat produktivitas yang menguntugkan.komoditas dan
produk yang dari sisi penawaran unggul tetapi tidak diminati pasar dapat di
kelompokan menjadi komoditas potensial.komoditas dan produk potensial juga
mencangkup jenis komoditas dan produk yang diminati pasar tetapi tidak (dapat)
dihasilkan ditinjau dari karakteristik wilayah.tujuan pengolahan komoditas
tersebut antara lian untuk meningkatkan nilai tambah,pengawetan,memenuhi
persyarat pasar ,dan lai –lain. Bedasarkan pada keterkaitan komoditas,dilakukan
analisis kelayakan tehnis dan teknologi,serta kelayakan finansial untuk dapat
menetukan tingkat keunggulan komoditas untuk penetapan prioritas
pengebangannya.
Pemilihan komoditas unggulan yang beroriaritas sumber day lokal dan pasar
untuk sektor pertanian didasarkan atas lima faktor,yaitu(1)teknis agronomois
,(2)kelayakan finasial,(3)pasar dan
pemasaran,(4)kelembagaan,serta(5)infrastruktur dan kebijakan
pemerintah.konsep otonomi daerah yang dituangkan dalam UU no.32/2002
tentang “pemerintahan daerah”danUUno.55/2002 tentang “Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah “(Revisi) merupakan salah satu
acuan dalam pembangunan .ekonomi daerah.pada dasarnya otonomi daerah
merupakan pejabaran semangat demokratisasi sesuai dengan tuntunan
reformasi seperti diamanatkan dalam TAP MPR no.XVTahun 1998.meskipun

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG 2010 2-3


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Zonasi Perwilayahan Komoditas dan Produk Unggulan
Kabupaten Bengkayang
Bab 2 Metodologi Kegiatan

banyak kalangan menilai bahwa secara konsepsi masih memiliki banyak


kelemahan,namun tidak dapat dipungkiri bahwa otonomi telah memberi nuansa
baru dalam kegiatan pembangunan didaerah. Melalui otonomi ,masyarakat
didaerah mempunyai kesempatan untuk mengatu diri sendiri melalui
pemerintahan sendiri dan melaksanakan pembanguna sesuai karakteristik
daerah masing-masing (kondisi geografi,sumberdaya alam, dan sosial budaya
masyarakat)Dengan terbukanya kesempatan tersebut,masyarakat seyogyanya
terpacu untuk lebih kreatif dalam pembangunan daerah masing-masing.
Secara teoritis dan faktual tidak semua komoditas disuatu daerah mempunyai
keunggulan di bandingkan daerah komoditas yang sama di daerah
lain.komparasi ini mengarahkan pada prioritas komoditas yang menghasilkan
keunggulan (advatages). Pembangunan yang berbasis pada keunggulan bearti
bedasarkan pada kelebihan yang menjadi kan selangkah lebih maju (step a
head). Pemanfaatan faktor kelebihan inilah yang menjadi awal pembangunan
berbasis keunggulan komparatif.
Pendekatan komoditas unggula menuntut konsentrasi pembangunan dengan
prioritas yakni oriontasi utama diberikan pada pemanfaatan keunggulan termasuk
minimisasi kendala,infrasrtuktur,kebijakan dan kelembagaan. Dengan
demikia,pembangunan komoditas unggulan harus bersifat terpadu melibatkan
semua sektor terkait. Pada akhirnya,efek multiplikasi akan mengimbas pada
sektor terkait dan sektor lainnya.
Keterbatasan dana sumberdaya pmbagunan harus dimanfaatkan secara efisien
dan terpusat pada sektor(sub sektor) yang mampu menimbulkan efek multiplikasi
yang besar. Dalam analisis pengembangan komoditas unggulan,progran sektoral
yang secara langsung terkait dengan komoditas unggulan (perindustrian dan
perdagangan,pertanian) dan yang mendukung pekerjaan umum,pendidikan
nasional,perkoperasian,perbankan) harus menjadikan pengembangan komoditas
unggulan sebagai acuan penyusunan prgran dn alokasi anggaran.
Faktor unggulan adalah awal dan bukan akhir dari proses pembangunan.
Sebagai modal dasar, keunggulan koperatif perlu dimanfaat kan secara
terencana,terprogram dan terpadu. Informasi pasar dan daerah daerah
persaingan perlu dikuasai agar dapat disusun langkah-langkah tranformasi yang
memadai.keunggulan komperatif yang dikelolah dalam lingkungan eksternal akan
dapat dioptimalkan dengan dukungan infrastruktur,menejemen
SDM,pengembangan teknologi dan peraturan yang kondusif. dalam
pengelolahan seyogyanya tidak dibentuk hambatan baru yang meninbulkan
inesfisiensi,produksi komoditas yang komparatif akan memiliki prospek
keberlanjutan yang pada giliranya mendomonasi pasar.pada tahap ini,faktor
pembatas tidak terletak pada permintaan tetapi pada penawaran. Faktor
pengganda marjin dan devisa yang dibentuk menjadi optimal sehingga
menimbulkan dampak sinergis dan multiplikasi ke dalam dan keluar sektor yang
bersangkutan.
Komoditas unggulan tidak serta merta diketahui oleh pelaku ekonomi yang
miskin dan terbatas. Oleh karena itu, menjadi kewajiban pemerintah untuk
mengadakan dan menyediakan informasi komoditas yang akurat tentang apa
saja yang secara potensial dapat cepat diusahakan, dirasakan dan komprehensif
dan lengkap serta disosialisasikan secara bertahap dengan penuh kehati-hatian.

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG 2010 2-4


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Zonasi Perwilayahan Komoditas dan Produk Unggulan
Kabupaten Bengkayang
Bab 2 Metodologi Kegiatan

Pengalaman banyak menunjukkan bahwa komoditas yang disebut unggulan


daerah disosialisasikan dan kemudian direspon oleh masyarakat. Namun jika hal
tersebut tidak didukung oleh pasar (permintaan) maka pada gilirannya saat
panen, pembeli (pasar) tidak ada. Hal ini akan menumbuhkan frustasi bagi
masyarakat bahkan menjadi kontra produktif terhadap gagasan lain yang akan
diintroduksikan di kemudian hari.
Pengenalan komoditas, peluang investasi, pasar dan harga, serta jalur
distribusinya harus secara jelas disampaikan kepada masyarakat dan daerah.
Mengembangkan komoditas unggulan memerlukan investasi yang besar,
berkelanjutan dan perlu model pengelolaan dan kemitraan yang terbuka. Hak
dan kewajiban pelaku kemitraan harus transparan disampaikan dan didiskusikan.
Siapa melakukan apa dan akan mendapat apa, dengan jumlah berapa dan
kapan mendapatkannya, akan menjadi pertanyaan yang harus disiapkan
jawabannya.

2.2. RUANG LINGKUP STUDI


Ruang lingkup kegiatan studi pewilayahan komoditas pertanian unggulan
Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat akan meliputi kegiatan
sebagai berikut :

a. Penggumpulan Data dan Analisis Kondisi Eksisting

Tujuan utama kegiatan ini adalah mengumpulkan data penelitian sumber daya
lahan yang sudah ada termasuk data spasial (peta). Adapun data yang
dikumpulkan dan dianalisis meliputi:
1) Kebijakan pembangunan dan kebijakan spasial kabupaten
2) Kebijakan pembangunan dan kebijakan spasial kawasan komoditas dan
produk unggulan.
3) Kondisi fisik wilayah, meliputi :
 Kondisi geologi dan geomorfologi, yang terdiri atas kondisi geomorfologi,
geologi, litologi, dan lain sebagainya
 Kondisi tanah yang terdiri atas : penyebaran tanah, kualitas lahan,
kesesuaian lahan.
 Kondisi iklim yang meliputi tipe iklim, suhu udara, curah hujan,
kelembaban udara dsb.
 Kondisi Hidrologi, yang terdiri atas : kondisi DAS, kondisi air tanah,
kondisi air permukaan, dan lain sebagainya
1) Penyebaran dan kondisi serta potensi pertanian tanaman pangan dan
holikultura.
4) Penyebaran dan kondisi serta potensi perkebunan
5) Penyebaran dan kondisi serta potensi perikanan
6) Penyebaran dan kondisi serta potensi peternakan

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG 2010 2-5


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Zonasi Perwilayahan Komoditas dan Produk Unggulan
Kabupaten Bengkayang
Bab 2 Metodologi Kegiatan

7) Penggunaan lahan saat ini.


8. Kondisi sosial-budaya, meliputi :
 Aspek demografi, meliputi kajian jumlah, kepadatan, dan laju
pertambahan penduduk, kajian ketenagakerjaan, kajian migrasi, dll.
 Aspek sosial, meliputi kajian strata penduduk, kultur yang berkembang,
kelembagaan yang tumbuh di tengah masyarakat, dan lain sebagainya.
9. Kondisi ekonomi wilayah, meliputi :
 Kegiatan yang terkait dengan proses produksi, distribusi, pemasaran
komoditas pertanian tanaman pangan, holtikultura, perkebunan,
perikanan dan peternakan.
 Kegiatan yang terkait dengan industri berbasis pertanian dalam arti luas.
 Kontribusi komoditas sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan
peternakan terhadap pedapatan asli daerah.
10. Kegiatan perkotaan dan rencana tata ruang wilayah, meliputi :
 Kegiatan tata guna lahan saat ini telah berkembang
 Rencana tata ruangwilayah propindi/kabupaten
 Rencana tata ruang wilayah nasional, kawasan nasional tertentu
 Program-program pembangunan, khususnya yang terkait dengan
pengembangan wilayah propinsi
11. Penyebaran dan fungsi Prasarana dan Sarana Pertanian, Perkebunan,
Perikanan, Peternakan dan lainnya.

b. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan

1. Tahap Persiapan, meliputi konsolidasi dan mobilisasi tim


2. Tahap Pengumpulan Data Primer dan Sekunder
3. Tahap Kompilasi dan Analisis Data
4. Tahap penyusunan Peta-peta Tematik
5. Tahap Penyusunan Wilayah atau Zona Komoditas dan produk unggulan
Kabupaten Bengkayang.
6. Tahap akhir berupa penyusunan laporan yang berisi analisis makro
tentang pewilayahan komoditas dan produk unggulan Kabupaten
Bengkayang.

2.3. METODE STUDI


Alur yang digunakan untuk menyusun pewilayahan komoditas dan produk
unggulan di Kabupaten Bengkayang dapat dilihat seperti Gambar 2.1.

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG 2010 2-6


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Zonasi Perwilayahan Komoditas dan Produk Unggulan
Kabupaten Bengkayang
Bab 2 Metodologi Kegiatan

Gambar 2.1
Alur Penyusunan Pewilayahan Komoditas dan Produk Unggulan
Kabupaten Bengkayang.

PROFIL WILAYAH PRODUKSI

RENCANA MODEL PENGEMBANGAN WILAYAH BERBASIS


KOMODITAS DAN PRODUK UNGGULAN

PENENTUAN KOMODITAS
DAN PRODUK UNGGULAN

SISTEM PRODUKSI TERPADU SKALA USAHA EKONOMIS

KELEMBAGAAN JARINGAN
EKONOMI

PENGEMBANGAN
EKONOMI LOKAL

PENDAMPINGAN
DAN SOSIALISASI

Secara umum tahapan alur penyusunan pewilayahan komoditas produk


unggulan Kabupaten Bengkayang dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Review literatur dan data


Kegiatan ini dilakukan untuk menyusun model dileniasi wilayah komoditas dan
produk unggulan. Kegiatannya mencakup kajian dokumen-dokumen terkait
dengan pembangunan komoditas dan kebijakan pembangunan nasional dan
daerah termasuk kebijakan peraturan perundangan di pusat dan daerah provinsi
dan kabupaten.

b. Survey dan identifikasi


Survey dan identifikasi merupakan implementasi pendekatan partisipatif dalam
pemenuhan data dan peta untuk masing masing-masing komoditas dan produk
unggulan. Survey diagnostik dan eksploratif maupun partisipatif digunakan untuk
mengumpulkan data atau informasi terkait. Pelaksanaannya dilakukan di

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG 2010 2-7


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Zonasi Perwilayahan Komoditas dan Produk Unggulan
Kabupaten Bengkayang
Bab 2 Metodologi Kegiatan

kabupaten. Survey ini dapat dilakukan sekaligus atau dilakukan dua kali setelah
dilakukan kegiatan analisis terkait yaitu pemilihan dan pemilahan data.

c. Analisis data pembuatan peta


Model analisis yang digunakan adalah metode superinpose terhadap peta dasar
yang ditumpang tindih dengan peta-peta lain. Selanjutnya dilakukan pembacaan
peta dengan metode yang baku digunakan dalam sistem pemetaan (kartografi) di
Indonesia. Untuk analisis data akan dilakukan pentahapan : pemilihan dan
pemilahan data, pembobotan dan validasi data, analisis data dengan tabulasi
keterkaitan dan optimalisasi intuitif tim pakar.

d. Penentuan komoditas dan produk unggulan


Sebelum menyusun rencana pengembangan komoditas dan produk unggulan
wilayah Kabupaten Bengkayang, perlu ditentukan komoditas unggulan untuk
masing-masing wilayah kecamatan. Komoditas itu merupakan komoditas yang
potensial untuk dikembangkan. Tingkat potensial komoditas dapat ditentukan
dengan menentukan kelompok, skor, bobot dan nilainya yang diukur dari
kelompok indikator :
1) Keadaan dan prospek pemasaran
2) Potensi kewirausahaan
3) Ketersediaan faktor produksi (termasuk bahan baku dan bahan
pembantunya)
4) Sarana dan prasarana
5) Faktor pertumbuhan dan
6) Keterkaitan
Tiap kelompok indikator terdiri atas beberapa indikator dan tiap indikator terdiri
atas beberapa komponen, dan masing-masing diberi bobot. Dengan
menggunakan formula itu kemudian diukur nilai lapangnya. Kemudian dilakukan
evaluasi akhir dengan pembobotan: jika nilai total kurang dari 30% dianggap
tidak potensial. Jika antara 31%-75% dianggap potensial dan jika >75%
dianggap sangat potensial. Setelah menentukan komoditas unggulan maka
dapat ditentukan rencana pengembangan wilayah produksi komoditas dan
produk unggulan tersebut. Data-data yang dibutuhkan untuk menyusun rencana
pengembangan wilayah produksi komoditas dan produk unggulan antara lain :
1) Ketersediaan input
2) Produksi dan luas areal untuk komoditas tertentu
3) Potensi pengolahan untuk komoditas tertentu
4) Keadaan dan prospek pemasaran (keadaan geografis)
5) Infrastruktur

e. Penyusunan profil wilayah komoditas dan produk unggulan


Kegiatan ini adalah kelanjutan dari review dan pengumpulan data. Model analisis
yang digunakan adalah metode superinpose terhadap peta dasar yang
ditumpang tindih dengan peta-peta lain. Selanjutnya dilakukan pembacaan peta
dengan metode yang baku digunakan dalam perpetaan di indonesia. Untuk
analisis data akan dilakukan pentahapan : pemilihan dan pemilahan data,

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG 2010 2-8


Laporan Pendahuluan
Penyusunan Zonasi Perwilayahan Komoditas dan Produk Unggulan
Kabupaten Bengkayang
Bab 2 Metodologi Kegiatan

pembobotan dan validasi data, dan analisis data dengan tabulasi keterkaitan dan
optimasi intuitif tim pakar.

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG 2010 2-9