Anda di halaman 1dari 56

1

BAB I
PENDAHULUAN

Pembangunan Kesehatan secara umum bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup dan perilaku sehat bagi setiap orang, agar terwujud derajat kesehatan yang optimal
yang ditandai dengan kemampuan individu untuk hidup lebih produktif secara sosial maupun ekonomi.
Pembangunan kesehatan sendiri telah semakin menjadi perhatian luas termasuk dalam tatanan
desentralisasi atau Otonomi daerah, kesehatan menjadi salah satu bidang wajib yang didesentralisasikan
sehingga perlu ada institusi yang memainkan peran untuk melaksanakan urusan-urusan pemerintahan
dibidang kesehatan.
Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) adalah salah satu sarana pelayanan kesehatan yang
penting di Indonesia. Jika ditinjau dari sistem pelayanan kesehatan di Indonesia maka peranan dan
kedudukan puskesmas adalah sebagai ujung tombak sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Adapun
yang dimaksud dengan Puskesmas adalah Fasilitas pelayanan Kesehatan yang menyelenggarakan upaya
Kesehatan Masyarakat dan Upaya Kesehatan Perseorangan tingkat pertama dengan lebih mengutamakan
upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi tingginya di wilayah
kerjanya. Selain itu juga puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan
kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan kesehatan strata pertama, di suatu wilayah
kerja. Puskesmas merupakan salah satu institusi terdepan yang memberikan pelayanan kepada masyarakat
di bidang kesehatan. Oleh karena itu pembangunan kesehatan harus menjadi perhatian serius bagi para
stake holder karena mempunyai multi efek terhadap pembangunan dibidang-bidang lainnya.
Untuk meningkatkan pembangunan kesehatan, diperlukan pengembangan dalam sistem informasi
kesehatan. WHO dalam salah satu publikasi menyatakan bahwa sistem informasi kesehatan tidak dapat
berdiri sendiri melainkan harus menjadi bagian fungsional dari sistem kesehatan tersebut. Sistem informasi
kesehatan mampu menyajikan informasi mengenai berbagai persoalan mengenai masalah kesehatan yang
di pengaruhi berbagai faktor. Selain itu sistem informasi kesehatan dapat membantu pihak puskesmas
dalam melakukan evaluasi bagi program yang telah dijalankan.
Profil Kesehatan UPT Puskesmas Soasio tahun 2018 menyajikan Informasi Kesehatan secara
menyeluruh di wilayah UPT Puskesmas Soasio pada tahun 2018 khususnya cakupan Pelayanan Kesehatan
sebagai dasar Evaluasi tahunan dan pemantauan kecamatan sehat tahun 2018 yang menjadi visi Puskesmas
Soasio, sejalan dengan

2
Visi pembangunan kesehatan nasional yaitu “ Masyarakat Kecamatan Tidore yang Mandiri dan
Berkeadilan”.
Untuk mencapai visi tersebut Puskesmas Soasio menjabarkannya kedalam misi sebagai berikut:
1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kecamatan Tidore melalui pemberdayaan masyarakat,
termasuk swasta dan masyarakat madani
2. Melindungi kesehatan masyarakat Kecamatan Tidore dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan
yang Paripurna, merata bermutu dan berkeadilan.
3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan.
4. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik

Gambaran mengenai Profil Puskesmas Soasio Tahun 2018 memuat berbagai data tentang
kesehatan, yang meliputi derajat kesehatan, upaya kesehatan dan sumber daya kesehatan. Profil kesehatan
juga menyajikan data pendukung lain yang berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan.
Keseluruhan data yang ada merupakan gambaran tingkat pencapaian penyelenggaraan pelayanan
kesehatan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan. Dengan sistematika sebagai
berikut:
BAB I : Pendahuluan. Bab ini berisi tentang latar belakang dan tujuan diterbitkannya Profil kesehatan
Puskesmas Soasio tahun 2018 serta sistematika penyajiannya
BAB II : Gambaran Umum. Pada Bab ini disajikan gambaran umum dari Puskesmas Soasio yang meliputi
keadaan geografis, administratif, dan informasi umum lainnya.
BAB III : Situasi Derajat Kesehatan. Pada Bab ini menyajikan situasi perkembangan derajat kesehatan yang
meliputi, Jumlah Kematian kematian dan Kesakitan, akibat masalah kesehatan serta informasi terkait
lainnya.
BAB IV : Situasi Upaya Kesehatan. Pada Bab ini berisi keluaran hasil kegiatan program UKP (upaya
kesehatan perorangan), UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat) berdasarkan wilayah kerja beserta informasi
lainnya.
BAB V : Kesimpulan. Bab ini diisi dengan hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari
Profil Kesehatan Puskesmas Soasio tahun 2018
BAB VI : Penutup.

3
BAB II
GAMBARAN UMUM & LINGKUNGAN

A. KEADAAN GEOGRAFIS
1. Letak Geografis
UPT Puskesmas Soasio berada di kecamatan Tidore, yang terdiri dari 13 kelurahan
dengan luas wilayah ialah 35,58 Km2, dan batas wilayah sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Cobodoe Kecamatan Tidore Timur
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Tongowai Kecamatan Tidore Selatan
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Lada ake Kecamatan Tidore Utara
- Sebelah Timur Berbatasan dengan Laut Halmahera.
Adapun luas masing masing kelurahan sebagai berikut :

NO KELURAHAN/DESA LUAS (Km2)

1 Seli 4.75
2 Soadara 1,50
3 Topo 6,00
4 Topo Tiga 2,00
5 Soasio 1.37
6 Gamtufkange 2,19
7 Gurabunga 4,46
8 Folarora 3,50
9 Tambula 1,05
10 Tomagoba 3,00
11 Tuguwaji 1,22
12 Indonesiana 3.00
13 Goto 3,00

Tabel II.1. Luas Wilayah Kerja Puskesmas Soasio Menurut


Kelurahan/Desa (Km2)

4
Adapun penyebaran jumlah desa dan kelurahan serta jarak tempuh dari Tomagoba,
sebagai lokasi dari Puskesmas Soasio pada tabel berikut :

NO DESA/KELURAHAN LOKASI PUSKESMAS JARAK(Km)


1 Seli Tomagoba 4
2 Soadara Tomagoba 3
3 Topo Tomagoba 5
4 Topo Tiga Tomagoba 3
5 Soasio Tomagoba 2
6 Gamtufkange Tomagoba 1
7 Gurabunga Tomagoba 5
8 Folarora Tomagoba 2
9 Tambula. Tomagoba 2
10 Tomagoba Tomagoba 1
11 Tuguwaji Tomagoba 2
12 Indonesiana Tomagoba 2
13 Goto. Tomagoba 3

Tabel II.2. Penyebaran Jumlah Desa/Kelurahan Serta Jarak Tempuh


dari Kel.Tomagoba Sebagai Lokasi Puskesmas Soasio

2. Musim
Pada Umumnya seperti musim yang ada di Indonesia timur, wilayah kerja UPT
Puskesmas Soasio beriklim Tropis dan keadaan iklim sangat dipengaruhi oleh iklim laut, dan
dikenal ada 2 musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau biasanya juga diselingi
dengan 2 kali masa pancaroba setiap tahun.

5
Berikut ini adalah peta wilayah UPT Puskesmas Soasio

6
B. Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk diwilayah kerja UPT Puskesmas Soasio pada tahun 2018 tercatat
sebanyak 19357 jiwa yang terdiri dari 49 % penduduk Laki Laki dan 51 % penduduk perempuan.

Goto Seli Soadara


13 % 5% 4,4 % Topo
8%
Topo Tiga
Indonesiana 3%
13%
Soasio
8 %

Gamtufkange
Tuguwaji 10 %
12 %

Gurabunga
3%
Folarora
Tomagoba Tambula 4%
16 % 5 %

GRAFIK II.1 Proporsi Penduduk per kelurahan tahun 2018

Dari diagram diatas dapat dilihat distribusi jumlah penduduk terbesar berada di
kelurahan Tomagoba ( 3003 jiwa), diikuti oleh kelurahan Indonesiana (2418 jiwa ), data ini
sesuai dengan hasil pendataan yang dilakukan oleh Puskesmas dan disamakan dengan data
Kelurahan.
1. Persebaran dan Kepadatan Penduduk
Persebaran Penduduk di Kecamatan Tidore masih belum merata, sebagaimana
perhitungan dari kepadatan penduduk rata-rata sebesar 523 jiwa/km, sedangkan range
antara kepadatan penduduk tertinggi dan terendah yaitu, pada kelurahan Tuguwaji
dengan kepadatan penduduk tertinggi sebesar 1815 jiwa /km dan kepadatan terendah
di kelurahan Gurabunga sebesar 133 jiwa/km.

7
NO NAMA KELURAHAN JUMLAH LUAS WILAYAH KEPADATAN
PENDUDUK (Km) PENDUDUK/Km

1 SELI 952 4,75 201


2 SOADARA 787 1,50 525
3 TOPO 1487 6,00 248
4 TOPO TIGA 521 2,00 261
5 SOASIO 541 1,37 395
6 GAMTUFKANGE 1920 2,19 877
7 GURABUNGA 595 4,46 133
8 FOLARORA 739 3,50 211
9 TAMBULA 812 1,05 773
10 TOMAGOBA 3003 3,00 1001
11 TUGUWAJI 2214 1,22 1815
12 INDONESIANA 2418 3.00 806
13 GOTO 2368 3,00 789
JUMLAH 19357 37.04 523

Tabel II.3 Kepadatan penduduk menurut kelurahan

Dari tabel diatas maka dapat dilihat tingkat kepadatan penduduk yang tertinggi berada
di kelurahan Tuguwaji ( 1815 jiwa/ Km2) dan Tomagoba ( 1001 jiwa/Km2).
Semakin tinggi kepadatan penduduk dapat menyebabkan berkurangnya keseimbangan antara
penduduk dan lingkungan, sehingga dapat mengakibatkan sanitasi lingkungan yang kurang
baik. Hal ini dapat mempercepat terjadinya penularan penyakit bila ada anggota keluarga yang
menderita penyakit menular.
C. KEADAAN PENDUDUK MISKIN
Pada tahun 2018 jumlah masyarakat miskin untuk kecamatan Tidore sebanyak 6405 jiwa
atau 33 % dari jumlah penduduk.
Data Keluarga miskin yang di dapat adalah hasil pendataan yang dilakukan oleh Badan Pusat
Statistik ( BPS ) Kota Tidore Kepulauan melaui sensus penduduk kemudian hasil pendataan di
koordinasikan dengan Dinas kesehatan dan dinas sosial dan hasil pendataan tersebut dilakukan
validasi serta verifikasi dengan kelurahan setempat, yang dilakukan selama 2 (dua) minggu
maka didapatlah data penduduk miskin sebagaimana yang tertera diatas.

8
Untuk selengkapnya Gambaran penduduk miskin per kelurahan dan penduduk miskin
terbanyak di wilayah kerja UPT Puskesmas Soasio dapat dilihat pada tabel dan diagram berikut
ini :

PESERTA PESERTA
NO KELURAHAN JUMLAH KK JAMKESMAS JAMKESDA TOTAL

1 Seli 243 295 282 577

2 Soadara 222 189 290 479

3 Topo 375 316 290 606

4 Topo Tiga 150 238 154 392

5 Soasio 422 268 156 424

6 Gamtufkange 487 440 276 716

7 Gurabunga 189 120 96 216

8 Folarora 157 293 167 460

9 Tambula 190 221 82 303

10 Tomagoba 790 481 241 722

11 Tuguwaji 447 231 116 347

12 Indonesiana 621 255 203 458

13 Goto 438 483 241 724

Total 4731 3831 2594 6405

Tabel II.4 Distribusi Penduduk Miskin per Kelurahan tahun 2018

9
GOTO SELI
11 % 9% SOADARA
7%
INDONESIANA
7% Topo
TUGUWAJI 9%
5%

TOMAGOBA TOPO TIGA


11 % 6%
SOASIO
7%
FOLARORA GAMTUFKANGE
7% 11 %

TAMBULA
5%
GURABUNGA
3%

Garfik II.2 Diagram Distribusi Penduduk Miskin per Kelurahan tahun 2018

Dari diagram diatas dapat dilihat jumlah penduduk miskin terbanyak berada di
kelurahan Tomagoba ( 11,2 % dari jumlah penduduk miskin )

Sistem pelayanan masyarakat miskin yang dijalankan adalah merupakan program


berkelanjutan dari JKN yang sudah berintegrasi dengan BPJS ( Badan Penyelenggaraan
Jaminan Sosial ) saat ini BPJS telah mengakomodir JAMKESMAS dengan jumlah 3831 jiwa
dan JAMKESDA dengan jumlah 2594 jiwa.
Pada saat ini penduduk miskin dapat dilayani dipuskesmas Soasio dengan
menunjukkan kartu Jamkesmas dan kartu Jamkesda.

D. Sarana Prasarana Pendukung

1. Sarana Kesehatan
UPT Puskesmas Soasio memiliki satu unit gedung lama dan satu gedung baru
dengan mobilier yang cukup lengkap dan layak pakai. Unit rawat jalan dilengkapi dengan
bagian pendaftaran ( loket ), Ruang Poliklinik Umum, Poliklinik gigi, Klinik KIA-KB, ruang

10
Farmasi, ruang MTBS,ruangan ASI Laboratorium, ruang konseling yang di dalamnya
terdapat Klinik sanitasi, Prolanis dan Konsultasi Gizi, serta dilengkapi dengan ruang tunggu
pasien dan gudang obat.
Puskesmas Soasio juga memiliki 2 buah ambulance yang digunakan untuk kegiatan
operasional Puskesmas dan mengantar pasien rujukan.
Puskesmas Soasio juga membawahi 2 (dua) Puskesmas Pembantu (Pustu) dan 5 Polindes
yang masing masing terdapat di kelurahan Topo, kelurahan Gurabunga (PUSTU) kelurahan
Tambula , kelurahan Soadara, Topo tiga, Folarora dan Seli ( POLINDES), Masing masing
Pustu dan Polindes sudah ditempati oleh bidan desa dengan sarana dan prasarana yang
cukup.
Sarana Kesehatan yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Soasio seperti yang
tertera pada table di bawah ini:

NO SARANA KESEHATAN JUMLAH LOKASI


1 RSUD 1 Tuguwaji
2 Puskesmas Induk 1 Tomagoba
3 Puskesmas Pembantu 2 Topo dan Gurabunga

4 Polindes 5 Seli, Soadara, Topo Tiga, Folarora


Tambula
5 Prakter Dokter Umum 5 Indonesiana
6 Praktek Dokter Gigi 2 Tuguwaji, Goto
7 SpOg 2 Tuguwaji
8 SpB 0 _
9 SpA 1 Tuguwaji
10 SpPD 2 Tuguwaji
11 SpS 1 Tuguwaji
12 Praktek Bidan 1 Goto
13 Apotik 5 Tuguwaji, Indonesiana

Tabel.II.5. Sarana Kesehatan dalam wilayah kerja PKM Soasio

11
2. Ketenagaan.
Pada tahun 2018 tenaga Puskesmas Soasio berjumlah 50 orang. Jumlah ini terdiri
dari 36 orang tenaga Kesehatan dengan status PNS, PTT 4 orang dan tenaga sukarela
sebanyak 10 orang adapun Rasio tenaga kesehatan tertentu per 100.000 penduduk dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :

Rasio Nakes Target


Jumlah
Per 100.000 Pencapaian Thn
No Jenis Tenaga Tenaga
Penduduk 2015
1 Dokter Umum 3 15 14,6
3 Bidan 9 46 91,2
4 Perawat 9 46 70,6
5 Farmasi 2 10 10
6 Sarjana Kesehatan Masyarakat 6 31 23,2
7 Sanitarian 1 5 23,9
8 Nutrisoinis 3 15 16
Tabel II.6 Rasio Tenaga Kesehatan Per 100.000 Penduduk tahun 2018

Jika dilihat dari rasio tenaga kesehatan tertentu per 100.000 penduduk, maka
diperoleh gambaran bahwa tenaga kesehatan yang berada di Puskesmas Soasio memiliki
beban yang cukup tinggi serta sebagian besar belum memenuhi rasio tenaga kesehatan
sesuai yang ditargetkan, semakin tinggi ketersediaan tenaga di Puskesmas, maka semakin
baik pula ketersediaan tenaga puskesmas dalam menjalankan pelayanan kesehatan pada
masyarakat.

12
Jumlah Tenaga Kesehatan UPT Puskesmas Soasio
Tahun 2018
No Kepegawaian Jumlah Keterangan
1 Dokter Umum 3 PNS
2 Dokter Gigi 1 PNS
3 S1 Farmasi 1 PNS
4 Apoteker 1 PNS
5 S1 Keperawatan 1 PNS
6 D III Keperawatan 6 PNS (5) Sukarela (1)
7 SPK 2 PNS
8 D IV Kebidanan 3 PNS
9 D III Kebidanan 10 PNS (6) sukarela (4)
10 D I Kebidanan 2 PNS
11 SKM Kesling 1 PNS
12 SKM Gizi 7 PNS (5) sukarela (2)
13 SKM Promkes 2 PNS
14 SKM AKK 3 PNS
15 SKM Epidemiologi 1 Sukarela
16 D III Analis 3 PNS (1) sukarela (2)
17 D III Perawat Gigi 1 PNS
18 S1 Ekonomi 1 Honorer
Tabel II.7 Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Soasio

E. RASIO KADER AKTIF TERHADAP POSYANDU


Pada tahun 2018 telah dilakukan pembinaan kader yang didanai oleh dana BOK sehingga
jumlah keseluruhan kader posyandu sebanyak 95 orang yang tersebar di 19 posyandu. Itu artinya rasio
kader aktif terhadap posyandu adalah 5 kader per posyandu yang berarti tiap satu posyandu dilayani 5
orang kader aktif, namun sayangnya kader yang sudah dibina tersebut terkadang masih tidak aktif.
Untuk menunjang keaktifan kader maka oleh pemerintah daerah memberikan insentif kepada kader

13
posyandu sebesar Rp 100.000 dengan harapan kader Posyandu nantinya lebih terpacu untuk
meningkatkanfungsinya di posyandu dan ikut berperan dalam meningkatkan dejat kesehatan
masayarakat di wilayah mereka berdomisili.
F. PEMBIAYAAN KESEHATAN
Pendapatan Puskesmas berasal dari pendapatan rawat jalan (termasuk dari Pustu dan Polindes)
dan pendapatan lainnya yaitu sebesar Rp 86,396,649 dan semua pendapatan tersebut disetor kembali
kepada Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepulauan sebagai beban peraturan daerah yang telah
ditetapkan.
Dana Lain yang diterima berupa dana Bantuan Operasional Kesehatan yang bersumber dari
APBN Dana DAK NonFisik sebesar Rp. 200.000.000, dan dana JKN tahun 2018 sebesar Rp. 781,371,500.
UPT Puskesmas Soasio berupaya melaksanakan pelayanan yang memuaskan bagi masyarakat,
sehingga diperlukan pengelolaan dana secara optimal. Besarnya setoran perda serta dana operasional
yang tidak mencukupi, membuat puskesmas harus pandai pandai dalam penggunaan dana tersebut
dalam memenuhi kebutuhan yang belum tercukupi, terutama kebutuhan non medis ( perawatan Mobil
dan Perawatan Puskesmas ) dan juga sarana sarana edukasi yang dirasa masih kurang untuk memenuhi
itu semua, Puskesmas menggunakan dana dari Dana Bantuan Operasional (BOK) Dana JKN ( PBI dan Non
PBI ), yang pemanfaatannya sesuai dengan petunjuk teknis yang telah ditetapkan.
Untuk itu diharapkan adanya peningkatan kontribusi Pemerintah Daerah Kota Tidore
Kepulauan, dimasa mendatang dalam melakukan penyeimbangan dalam setoran perda dengan
Operasional rutin yang diberikan. Karena bukan tidak mungkin jika pelayanan puskesmas makin baik,
maka derajat kesehatan masyarakat lebih meningkat. untuk lebih jelasnya data keuangan Puskesmas
Soasio berdasarkan jenis dana dapat dilihat pada tabel berikut.

14
SUMBER DANA DAN ANGGARAN UPT PUSKESMAS SOASIO

URAIAN JUMLAH DANA(Rp) SUMBER DANA

BOK 480.000.000 APBN

OPERASIONAL PUSKESMAS 75.600.000 APBD II

KAPITASI JKN 634.195.350 BPJS

RETRIBUSI/PENDAPATAN PKM 80.689.200 PKM SOASIO

Total Rp. 1.270.484.550

Tabel II.8 Anggaran tahun 2018 dan sumber dana

15
BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN

A. SITUASI PELAKSANAAN PROGRAM KESEHATAN


Untuk tercapainya visi misi pembangunan kesehatan, Puskesmas Soasio
menyelenggarakan pelayanan berbagai upaya kesehatan baik kesehatan perorangan maupun
upaya kesehatan masyarakat. Dan dalam pelaksanaannya ada 2 upaya kesehatan yang
dikembangkan oleh Puskesmas Soasio yaitu Upaya Kesehatan Wajib(Esensial) dan Upaya
Kesehatan Pengembangan berdasarkan tujuan, sasaran dan Target yang akan dicapai adapun
Upaya Upaya Kesehatan yang dilaksanakan Puskesmas Soasio yaitu :
Upaya Kesehatan Perorangan yang dilaksanakan Puskesmas Soasio adalah :

JENIS PELAYANAN

1 LOKET 10. PELAYANAN APOTIK

2 PEMERIKSAAN UMUM 11. PENYULUHAN PERORANGAN

3 POLI GIGI 12. PELY. KESEHATAN HAJI

4 POLI KIA/KB 13. PELAYANAN PROLANIS

5 MTBS 14. PELAYANAN KESEHATAN JIWA

6 KLISAN 15. PELAYANAN IVA

7 IMUNISASI 16. PELAYANAN TB PARU

8 PELAYANAN LABORATORIUM 17. PELAYANAN KUSTA

9 PELAYANAN PENDAFTARAN HAJI

Tabel III. 1. Jenis Pelayanan

16
UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

UKM ESENSIAL UKM PENGEMBANGAN

1 PROMOSI KESEHATAN TERMASUK UKS 1 KESEHATAN USILA

2 UPAYA KESEHATAN KIA/KB 2 KESEHATAN JIWA

3 UPAYA KESEHATN GIZI KELUARGA 3 KESEHATAN GIGI DAN MULUT

4 UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN 4 KESEHATAN KERJA

5 UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT DAN 5 KESEHATAN HAJI


PENGENDALIAN PENYAKIT

Tabel III.2 Upaya Kesehatan

UPAYA INOVATIV

1 POSYANDU TK

2 AKTE GRATIS

3 SURAT SAHABAT

4 SMS INFORMASI DAN PENGADUAN

Tabel III.3 Upaya Inovativ

17
PRIORITAS PELAYANAN

PRIORITAS PELAYANAN PERORANGAN PRIORITAS UKM

1 PEMERIKSAAN UMUM 1 PRIORITAS UKM BERDASARKAN IDENTIFIKASI


KEBUTUHAN MASYARAKAT

2 FARMASI 2 BERDASARKAN HASIL PENILAIAN KINERJA (


PENGENDALIAN PENYAKIT )

3 PENDAFTARAN/ RM

4 LABORATORIUM

5 PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN INFEKSI

Tabel III. Prioritas Pelayanan

PENINGKATAN MUTU KESELAMATAN PASIEN

1 SURVEY KEPUASAN 1 KETAPATAN IDENTIFIKASI PASIEN

2 LEMBARAN KELUHAN DAN


HARAPAN MASYRAKAT / PASIEN 2 KETEPATAN PEMBERIAN OBAT

3 BUKU KELUHAN 3 KETEPATAN PROSEDUR TINDAKAN DAN


KEPERAWATAN

4 KOTAK SARAN 4 PENGURANGAN KEJADIAN RESIKO INFEKSIUS

5 SMS PENGADUAN

6 ANGKET

Tabel III.5 Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien

18
Disamping upaya –upaya tersebut diatas, upaya Laboratorium serta pencatatan dan Pelaporan
merupakan penunjang dari setiap upaya wajib dan upaya penunjang.

B. SITUASI DERAJAT KESEHATAN


Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyrakat dapat dilihat dari kejadian kematian
dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Disamping itu kejadian kematian juga dapat digunakan
sebagai indicator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan
kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai
survey dan penelitian. Angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI)
Penurunan angaka kematian bayi sangat berpengaruh pada kenaikan umur harapan hidup ( UHH)
waktu lahir. Angka kematian bayi sangat peka terhadap perubahan dengan kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat, sehingga perbaikan derajat kesehatan tercermin pada penurunan AKB
Angka kesakitan penduduk di dapat dari data yang berasal dari masyarakat ( community based
data ) yang dapat diperoleh dengan pengumpulan data baik dari Dinas kesehatan maupun dari
sarana pelayann kesehatan (facility based data) yang diperoleh dari system pencatatan dan
pelaporan.
1. Penyakit Menular
Penyakit menular yang disajikan dalam profil kesehatan antara lain penyakit malaria, TB paru,
Infeksi Saluran pernafasan akut (ISPA), penyakit kusta.
a. Penyakit Malaria
Sehubungan dengan wilayah kerja puskesmas soasio merupakan wilayah endemis malaria
maka penyakit malaria masih harus terus di pantau melalui annual parasite incidence ( API),
dari hasil laporan pengamatan dilapangan belum ditemukan penderita malaria.
b. Penyakit TB Paru
Jumlah kasus baru TB paru di wilayah UPT Puskesmas soasio sebanyak … orang dan jumlah
kematian akibat TB paru belum ada.
c. Penyakit kusta.
Sampai saat ini kusta masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat. Hal ini
dibuktikan dari masih tinggi jumlah penderita kusta di kecamatan tidore dan adanya

19
peningkatan kasus baru di kelurahan tertentu. Penyakit kusta dapat mengakibatkan
kecacatan pada penderita. Masalah ini diperberat dengan masih tingginya stigma di kalangan
masyarakat. Akibat dari kondisi ini sebagian penderita dan mantan penderita dikucilkan
sehingga tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan serta pekerjaan yang memperberat
kondisi penderita sehingga meningkatnya angka kemiskinan.
Diketahui kecamatan tidore masih menyimpan kantong kantong kusta dengan penderita
sebanyak …orang.

2. Penyakit Potensi KLB/ wabah


a. Demam Berdarah Dengue.
Penyakit demam berdarah (DBD) telah menyebarluas ke seluruh wilayah. Penyakit ini sering
muncul seiring cuaca yang berubah ubah. Pada awalnya pola epidemic terjadi setiap 5
tahunan, namun dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan
periode 2-5 tahunan, sedangka angka kematian cenderung menurun.
Upaya pemebrantasan DBD dititik beratkan pada penggerakkan potensi masyarakat untuk
dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk , pemantauan angka bebas jentik
serta pengenalan gejala DBD dan penanganan nya dirumah tangga.jumlah kasus DBD tahun
2018 sebanyak … kasus dan yang meninggal akibat DBD 0.
3. Penyakit Tidak menular.
Semakin meningkatnya arus globalisasdi segala bidang perkembangan teknologi dan industry
telah banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat, serta situasi
lingkungan misalnya perubahan pola konsumsi makanan, berkurangnya aktivitas fisik dan
meningkatnya polusi lingkungan. Perubahan tersebut tanpa disadari telah memberi pengaruh
terhadap terjadinya transisi epidemiologi dengan semakin meningkatnya kasus kasus penyakit
tidak menular seperti hipertensi, diabetes, hiperkolesterol, gagal ginjal, gagal jantung dan
sebaginya.

20
4. Status gizi
Status gizi masyarakat dapat diukur memalalui beberapa indicator, antara lain bayi dengan
Berat badan lahir rendah (BBLR), status gizi balita.
5. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
Berat badan lahir rendah ( kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu factor utama yang
berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori
yaitu BBLR karena premature atau BBLR karea intra uterin growt retardastion ( IUGR), yaitu
bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang.
6. Gizi Balita
Status gizi balita merupakan salah satu indicator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan
masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi adalah pengukuran antropometric yang
menggunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U).

21
BAB IV
SITUASI UPAYA KESEHATAN
1. UPAYA KESEHATAN PERORANGAN (UKP)
Upaya kesehatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, teritegrasi dan
berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam
bentuk pencegajhan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan
kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.
Berikut ini adalah bentuk kegiatan UKP di UPT Puskesmas Soasio yang terdiri dari :
a. Loket.
Melayani pendaftaran poli, pembayaran pendaftaran rawat jalan, pengelolaan rekam medic.
b. Pelayanan pemeriksaan Umum
Poli umum memberikan pelayanan pengobatan umum untuk anak dan dewasa, perawatan luka,
dan surat rujukan.
c. Poli Gigi dan Mulut
Memberikan pelayanan pemeriksaan gigi dan mulut, pengobatan gigi, cabut gigi, scalling (
pemebersihan gigi dan tambal gigi.
d. Poli KIA/KB
Memberikan pelayanan pemeriksaan Kehamilan (ANC), perawatan rawat jalan ibu nifas (PNC),
perawatan luka post SC, pelayanan kontrasepsi, pemeriksaan IVA dan konseling kebidanan.
e. Poli MTBS
Memberikan pelayanan pemeriksaan bayi/balita sakit, srceening pneumonia.
f. Penyuluh Perorangan
Memberikan konseling, dan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga.
g. Imunisasi.
Memberikan pelayanan imunisasi kepada bayi dan balita serta ibu hamil.
h. Pelayanan Laboratorium.
Melakukan pemeriksaan laboratorium.

22
i. Pendaftaran haji.
Memberikan pelayanan pembuatan surat keterangan dokter terkait pendaftaran haji,
pemeriksaan tahap pertama calin jamaah haji dan penulisan buku haji bagi calon jamaah haji
yang akan berangkat.
j. Pelayanan Kefarmasian.
Memberikan pelayanan kefarmasian pasien rawat jalan dan konseling obat.
k. Pelayanan Prolanis
Memberikan pelayanan pengobatan pada pasien hipertensi dan diabetes serta melaksanakan
program senam bagi penderita diabetes dan juga melayani kasus rujukan baik rujukan
puskesmas maupun tindak lanjut rujukan balik.
l. Pelayanan Kesehatan Jiwa.
Memberikan pengobatan dan pemantauan terhadap penderita gangguan jiwa.
m. Pelayanan TB paru dan Kusta
Memberikan pelayanan pengobatan serta pemantauan terhadap kepatuhan minum obat bagi
penderiata TB paru dan penderita Kusta.
Berikut ini adalah capaian secara keselurahan dari Upaya Kesehatan Perorangan.

A. Pelayanan Kesehatan Dasar.


1. Cakupan Kunjungan Rawat Jalan.
Kunjungan rawat jalan adalah kunjungan kasus baru rawat jalan di pelayanan kesehatan yang
mencakup kunjungan berobat umum dan gigi, kunjungan laboratorium, KIA, KB, MTBS, Klinik
Sanitasi, Konseling Gizi, serta Kunjungan Pustu / Polindes.

23
Grafik III.1 Kunjungan Rawat Jalan

Dari diagram diatas dapat dilihat adanya penurunan kunjungan pasien rawat jalan jumlah
kunjungan rawat jalan 15805 dengan rincian kunjungan umum 4308, BPJS PBI 5102 dan
BPJS Non PBI sebanyak 6395 bila dibandingkan dengan tahun 2015 kunjungan rawat jalan
mengalami peningkatan (13464).

2. Cakupan 10 Macam Penyakit Terbanyak.


Presentase 10 macam penyakit Masih tidak jauh berbeda dengan tahun tahun sebelumnya
penyakit yang masih mendominasi adalah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) namun
ada sedikit peningkatan kasus jumlah kasus yaitu di tahun 2015 sebanyak 2386 kasus
namun di tahun 2018 meningkat menjadi 2513 kasus, hal ini menggambarkan bahwa
secara epidemiologi penyebaran penyakit disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor
lingkungan dan faktor kebersihan perorangan serta perubahan iklim yang terjadi. untuk itu
diperlukan edukasi dan penyuluhan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang
harus terus digalakan khususnya dibeberapa kelurahan yang mempunyai kebersihan
lingkungan dan perorangan yang masih rendah.

24
Setelah ISPA diikuti dengan Hipertensi Primer dengan 484 kasus, Dispepsia sebanyak 455
kasus sedangkan penyakit yang terendah yaitu penyakit Obs Febris sebanyak 127 kasus.

Grafik III. Sepuluh Macam Penyakit terbanyak

3. 10 Macam Pemakaian Obat terbanyak.


Berikut ini dapat dilihat bahwa disaat terjadi peningkatan kunjungan maka kebutuhan akan
obat pun meningkat sesuai dengan kebutuhan namun setelah adanya penggunaan obat
rasional maka dapat dilihat ada beberapa jenis obat yang harus ditekan penggunaannya
seperti antibiotik dan kortikosteroid.
Dari grafik dibawah ini dapat dilihat bahwa penggunaan antibiotik ( amoksilin ) sudah bisa
ditekan penggunaannya walaupun belum masuk kategori penggunaan tertinggi untuk itu
kedepannya diupayakan untuk melihat kembali atau penanggung jawab pelayanan dapat
mengontrol penggunaan obat jenis antibiotik.
Penggunaan obat tertinggi Puskesmas soasio adalah vitamin c. 50 ml yaitu sebanyak 31587
tablet diikuti dengan Vitamin B.com 27789 tablet, CTM 20844 tablet, dan paracetamol
sebanyak 19357 tablet.

25
Grafik III.3 Proporsi 10 Pemakaian obat terbanyak

4. Cakupan Penyakit Tidak Menular.


Program PTM atau Penyakit Tidak Menular sudah dilaksanakan puskesmas soasio
dimana penyakit penyaki degenerative sudah mulai meningkat seiring dengan
perubahan pola perilaku manusia dimana manusia tersebut sudah mulai jarang
melakukan kegiatan olah fisik dan sering mengkonsumsi makanan siap dan juga tingkat
stress turut mempengaruhi perkembangan penyakit penyakit tersebut.
Bila dilihat dari grafik di bawah ini cakupan PTM yang adalah hipertensi primer dengan
426 kasus dan yang terendah adalah penyakit paru obstruksi kronik sebanyak 3 kasus.

26
Grafik III.4 Cakupan Penyakit Tidak Menular.

2. UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT


A. Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial
1. Upaya Kesehatan Kesehatan Ibu dan anak dan Keluarga Berencana.
a. Kunjungan Ibu Hamil K1
Pelayanan Kesehatan ibu dan anak bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan
ibu dan anak sejak dalam kandungan. Sasaran programnya adalah ibu hamil, ibu
melahirkan dan bayinya serta ibu meyusui dan wanita usia subur.
Peningkatan Pelayanan ante natal yang sesuai standar pelayanan kebidanan untuk
menjamin perlindungan kepada ibu hamil sehingga deteksi dini faktor resiko,
pencegahan dan penanganan komplikasi dapat dilakukan dengan baik dan
diharapkan dapat menekan angka kematian ibu dan angka kematian bayi.

27
Grafik III.5 Cakupan K1

Bila dilihat Frekuensi kunjungan ibu hamil di puskesmas soasio untuk kunjungan K1
atau kontak pertama kali ibu hamil dengan petugas yang teringgi adalah di kelurahan
Indonesiana (100%), Goto (100%), Tomagoba (100%), Tambula (100%), Tuguwaji
(100%) dan gamtufkange (100%) dan belum capai target yang paling rendah yaitu
kelurahan Soadara dengan capaian 71 %. Hal ini menunujkkan bahwa capaian
kunjungan K4 masih belum mencapai target hal ini disebabkan oleh beberapa hal
yakni tingginya K1 akses dimana bumil belum menyadari betapa pentingnya
pemeriksaan kehamilan di awal kehamilan ini juga dipengaruhi masih kurangnya
pemahaman bumil dan keluarga.

28
b. Kunjungan Ibu Hamil K4

Grafik III.6 Cakupan K4

Cakupan K4 tertinggi adalah kelurahan Gamtufkange denagn capaian 96 % dan yang


terendah yaitu sebanayak 46% di kelurahan Topo Tiga.

c. Cakupan Persalinan di tolong Oleh Tenaga Kesehatan.


Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang
aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten, namun pada
kenyataannya di lapangan masih terdapat pertolongan persalinan masih dilakukan
oleh yang bukan kesehatan.
Dari 451 ibu bersalin, persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di Puskesmas
Soasio pada tahun 2018 sebanyak 76 % dan kelurahan dengan capaian tertinggi
adalah kelurahan Gurabunga (92%) dan yang terendah adalah kelurahan tuguwaji
(57%). Untuk itu data persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dapat dilihat
pada diagram berikut ini.

29
Grafik III.7 Cakupan Persalinan Oleh Nakes

d. Cakupan Kunjungan Nifas

Grafik III.8 Cakupan KF 3

Cakupan Kunjungan nifas lengkap yang tertinggi adalah sebanyak 88% di kelurahan
Gamtufkange dan yang terendah di kelurahan Folarora dengan capaian 63 %.

30
e. Cakupan Penanganan Kompliukasi Obstetri dan Neonatal.
Indikator ini mengukur kemampuan manajemen Program KIA dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada ibu hamil, bersalin
dan nifas dengan komplikasi dan juga kasus kegawat daruratan. neonatal yang
kemudian di tindak lanjuti sesuai dengan kewenangan.
Berikut ini adalah grafik Penanganan Komplikasi Obstetri dan Neonatal.

Grafik III.9 Cakupan PKO

Cakupan Komplikasi Obstetri yang tertinggi berada di kelurahan Seli, Topo, Tambula,
Soasio, Soadara, Tomagoba, Gamtufkange, Gurabunga, Goto dan Kelurahan Tuguwaji
dengan cakupan masing masing 100 %. Sedangkan kelurahan yang belum capai target
yaitu kelurahan Indonesiana dengan capaian 66 %.

31
Grafik III.10 Cakupan PKN

Cakupan penanganan Komplikasi Neonatal denagan capaian tertinggi yaitu di


kelurahan Seli dengan cakupan 100% dan yang terendah yaitu di kelurahan Tambula
denagan cakupan 36%.

f. Cakupan Pelayanan Penjaringan Anak Sekolah.


Cakupan penjaringan anak sekolah yang cakupan tertinggi yaitu kelurahan Gurabunga
dengan cakupan 100% sedangkan yang terendah sebanyak 80% dikelurahan seli.

32
Grafik III.11 Cakupan Penjaringan Anak sekolah

g. Cakupan KB Aktif
Pelayanan KB yang berkualitas adalah pelayanan KB yang sesuai standar dan
menghormati hak individu dalam merencanakan kehamilan sehingga diharapkan dapat
berkontribusi dalam menurunkan angka kematian Ibu.
Berikut ini adalah grafik cakupan peserta KB aktif terhadap Pasangan Usia Subur (PUS).

Grafik III.12 Cakupan KB Aktif

33
Di wilayah kerja Puskesmas Soasio pada tahun 2018 sasaran PUS sebanyak 36016 dari
jumlah tersebut yang menjadi peserta KB Aktif sebanyak 62 %, dibandingkan dengan
tahun lalu ada penurunan jumlah akseptor namun bila di lihat data capaian per
kelurahan ada beberapa kelurahan yang belum capai target hingga 50 % di antaranya
kelurahan Topo dan Topo Tiga, hal ini disebabkan jumlah penduduknya yang sangat
sedikit, dimana Sekolah sekolah yang ada di kelurahan tersebut masih sangat
kekurangan siswa, untuk itu Program Keluarga berencana di kelurahan Topo dan Topo
Tiga hanya di sarankan kepada pasangan yang sudah mempunyai anak lebih dari 2
orang.
Namun Program Keluarga Berencana tetap akan di laksanakan dan akan terus
dilakukan penyuluhan penyuluhan kepada masyarakat.
h. Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.

Grafik III.13 Angka Kematian Bayi Dan Kematian IBU

Dari grafik diatas menunjukkan kematian bayi ditahun 2014 sebanyak 10 kasus, tahun
2015 sebanyak 11 kasus dan tahun 2018 sebanyak 11 kasus dengan penyebab kematian
sebanyak 7 kasus IUFD ( Intra Uterin Fetal Dead ), asfiksia dan kelainan kongenital
masing masing 2 kasus.

34
Sedangkan grafik kematian ibu hanya di tahun 2015 ada 2 kematian ibu yang disebabkan
oleh eklampsi dan hipertensi dalam masa nifas dan 2 kasus ini masing masing terjadi di
kelurahan Topo dan kelurahan Tambula.

2. Upaya Kesehatan Gizi Dan Keluarga.


Program gizi setiap tahun mendapat perhatian yang besar, karena status gizi yang baik
cenderung menciptakan sumber daya manusia yang tangguh dimasa mendatang, hal ini
sangat berkaitan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat, hal ini juga
harus didukung dengan pengetahuan masyarakat yang baik mengenai gizi. Berbagai
upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Soasio,
Salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya manusia (UKBM ) yang dikelola dan
diselenggarakan dari oleh untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat.
Namun sayang saat ini masyarakat masih menganggap bahwa posyandu adalah milik
puskesmas atau dinas kesehatan saja,
Berikut ini adalah gambaran program gizi ditahun 2018.
a. Cakupan D/S atau Balita ditimbang.
Ditahun 2018 cakupan Balita yang datang timbang (D/S) sebesar 61 %, bila
dibandingkan dengan tahun 2015 maka ada sedikit peningkatan ( D/S 41,3%).
Cakupan ini masih jauh dari target yakni 80%, hal ini dapat dilihat dari masih terdapat
beberapa kelurahan yang cakupan penimbangannya masih rendah.
Cakupan D/S tertinggi berada dikelurahan Folarora (79 %) dan yang terendah berada
di kelurahan Tuguwaji (45%), selain itu juga di tahun ini program gizi menambahkan
beberapa indicator yaitu Cakupan N/D dengan capaian 56 %, Cakupan T/D dengan
capaian 33 % dan Cakupan 2T/D sebanyak 7%.

35
Grafik III.14 Cakupan D/S

b. Cakupan Balita umur 6-59 bulan Mendapat Vitamin A

Grafik III.15 Cak Balita Mendapat Vitamin A

36
Dari grfaik di atas cakupan vitamin A yang tertinggi ada di kelurahan Topo dengan
cakupan 85,5% sedangkan yang terendah ada di kelurahan Tuguwaji dengan cakupan
50 %.

c. Cakupan Bayi Mendapat ASI Esklusif.


Cakupan Balita usia kurang dari 6 bulan mendapat ASI Esklusif yang tertinggi di
kelurahan Folarora dan Kelurahan Soadara masing masing dengan cakupan 100%
sedangkan cakupan yang masih di bawah target yaitu kelurahan Seli denagn 33%.

d. Cakupan Penanganan Gizi Buruk.


Penanganan Gizi buruk di UPT Puskesmas Soasio menjadi Prioritas dimana ada 2 kasus
gizi buruk yang terajdi di kelurahan Goto dan Kelurahan Indonesiana namun semua
kasus gizi buruk dapat tertangani dengan baik.

37
Grafik III.17 Cakupan Penanganan Gizi buru

e. Cakupan Bayi Berat Badan Lahir Rendah ( < 2500 gram )


Dari grafik diatas terdapat 13% kasus BBLR yang terjadi di kelurahan Tomagoba
sedangkan kasus terendah ada dikelurahan Tuguwaji dengan cakupan 1.6%

Garfik III.18 cakupan BBLR

3. Upaya Kesehatan Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Menular.

38
1. Cakupan Program P2 TB
TB Paru sampai saat ini masih menjadi masalah yang serius, oleh karena itu dilaksanakan
program penanggulangan TB secara nasional.
Di tahun 2014 dengan jumlah penduduk 19.359 jiwa, perkiraan suspek diperiksa dahak 387
orang, capaian yang didapat 123 orang. Perkiraan penderita BTA (+) 95 orang, capaian 74
orang. Pemantauan dan Evaluasi pelaksanaan penanggulangan TB di PKM Soasio, dapat
dilihat dari beberapa grafik indikator berikut

Grafik III.19 Cakupan Program P2 TB

Pada tahun 2018 terdapat 73 orang penderita TBC, dengan proporsi penderita TBC BTA +
sebanyak 15%, hal ini sudah berada dalam rentang target yakni 5- 15%. CDR (case
detection rate) masih 41% dimana target yang diperkirakan yaitu 70%. Sedangkan cure rate
masih di angka 20 %, ini jauh dari yang ditargetkan (85%).
Disamping penderita TB dewasa ada juga penderita TB anak yaitu sekitar 7 % dari target 15 %
.

39
Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa untuk program P2 TB masih perlu dilakukan upaya
upaya guna penyampaian pesan tentang penyakit TB kepada keluarga dan masyarakat dan
untuk pemantau minum obat juga perlu di tingkatkan lagi.
Di bawah ini adalah angka Kesembuhan ( Cure rate ) Dari 74 Kasus maka di tahun 2015
terdapat 80 % penderita TB yang sudah menjalani pengobatan dan dinyatakan sembuh.

2. Cakupan P2 Kusta.
Jumlah penduduk Kecamatan Tidore sebanyak 19.357 jiwa, didapatkan angka penemuan
suspek adalah 30 penderita dan penedrita kusta yang positif sebanyak 25 orang,
Pada tahun 2018 terdapat 25 penderita Kusta, yang terdiri dari 11 Kusta jenis MB dan 9 Kusta
jenis PB, dan dari 25 kasus yang ada terdapat penderita kusta anak sebanyak 5 orang dengan
jenis MB anak 4 kasus dan PB anak 1 kasus, ada peningkatan jumlah penderita kusta di tahun
2015 ini hal ini dikarenakan puskesmas melakukan Rapid Vilage Survei ( RVS ) di satu
kelurahan yaitu kelurahan Tambula dimana di tahun tahun sebelumnya juga terdapat
banyak penderita, pada tahap penyembuhan sudah ada 9 kasus yang sudah sembuh ( RFT
), sedangkan sisanya masih dalam tahap penyembuhan, dari sekian banyak penderita
tersebut diatas maka jumlah penderita kusta tahun 2018, untuk itu Puskesmas SoaSio terus
berupaya untuk mengeliminasi kusta, sehingga rantai penularan dapat di tekan. Upaya
upaya yang terus dilakukan adalah dengan tetap melakukan Rapid Vilage Survei ( RVS ) atau
yang disebut penemuan penderita baru di daerah daerah endemik kusta. Berikut adalah
Gambaran Penderita Kusta di Wilayah Puskesmas Soasio.

40
Garfik III.20 Cakupan Program P2 Kusta

Grafik III.21 Jumlah Kasus Kusta menurut Tipe

41
Garfik III.22 Angka Kesembuhan Kusta

SITUASI KUSTA DAN PENGOBATAN


MB MB PB PB Pindah
N0 Kelurahan DO
Dewasa Anak Dewasa Anak Pengobatan
1 Seli
2 Soadara
3 Topo 1 1
4 Topo Tiga
5 Soasio 1
6 Gamtufkange 3 2 1
7 Gurabunga
8 Folarora
9 Tambula 5 7 1 1
10 Tomagoba 1 1 1
11 Tuguwaji
12 Indonesiana 1
13 Goto 1 1
PKM 11 9 4 1 3 1

Garfik III.23 Situasi Kusta dan pengobatan.


3. P2 Malaria.

42
Di tahun 2018, Terdapat 360 kasus malaria klinis.. namun dari hasil pemeriksaan yang
dilakukan baik menggunakan RDT maupun pemeriksaan secara Mikroskopis ( pemeriksaan
DDR) untuk tahun 2015 belum ada kasus positif malaria, dan angka ABER 1,9 %, namun
Puskesmas terus melakukan tindakan tindakan pencegahan seperti penyuluhan tentang
pencegahan malaria, abatesasi, dan pemberian kelambu bagi ibu hamil dan bayi. Berikut ini
grfaik

Garfik III.24 Cakupan Program Malaria

4. Program Kesehatan Jiwa.


Program ini kembali dihidupkan kembali karena di tahun tahun sebelumnya program
kesehatan Jiwa masih jalan ditempat hal ini dikarenakan banyak kendala yang dihadapi
sehingga pelaksanaannya terhambat.
Ditahun 2015 langkah awal yang dilakukan adalah pendataan kembali jumlah penderita
gangguan jiwa kemudian dilakukan pengobatan dengan melibatkan keluarga penderita.
Jumlah penderita yang didapat adalah sebanyak 47 orang dengan jumlah penderita tertinggi
dengan diagnosa Shcizofrenia sebanyak 13 kasus dan diikuti dengan Gangguan Psikotik

43
sebanyak 10 kasus, penderita gangguan jiwa ini ada 34 orang sudah di teraphy dan 13 orang
sisanya belum di teraphy hal ini karena ada beberapa kendala yaitu anggota keluarga yang
tidak mau bekerjasama dan sebagian lagi tidak ada keluarga sehingga susah untuk di dekati.

Grafik III.25 Situasi Penderita Gangguan Jiwa

Grafik III.26 Pengobatan Pasien Jiwa.


5. Cakupan Program P2 ISPA.

44
Ditahun 2015 terdapat 2346 orang penderita batuk bukan pneumonia dari jumlah ini ada
penurunan kasus dari tahun 2014 2502 kasus, dengan usia < 1 tahun 302, usia 1-4 tahun
866 dan usia > 5 tahun 1178.

Garfik III.27 Cakupan Program P2 ISPA

6. Cakupam Imunisasi.
Kebijakan program imunisasi di Indonesia adalah penyelenggaraan imunisasi dilaksanakan
oleh pemerintah dan masyarakat dengan mempertahankan prinsip dan keterpaduan,
mengupayakan kualitas pelayanan yang bermutu serta perhatian khusus bagi daerah daerah
yang sulit secara geografis.
Strategi program imunisasi diantaranya memberikan akses kepada masyarakat membangun
kemitraan dan jejaring serta menjamin ketersediaan peralatan rantai vaksin dan alat suntik.
Pada tahun 2018, Secara umum hasil pencapaian imunisasi dasar bagi bayi di wilayah kerja
Puskesmas Soasio telah mencapai target. Namun prioritas kegiatan imunisasi di lakukan
pada kelurahan yang capaiannya masih rendah
Dari grafik di bawah ini dapat dilihat cakupan BCG sudah mencapai 83 %, Penthabio III 91
%, Polio 4 90 % dan Campak 99 %.

45
Grafik III.28 Cakupan Imunisasi BCG

KELURAHAN YANG CAPAI UCI (Universal child Imunization ) 2015


NO KELURAHAN SASARAN JL BY IMUNISASI DO % UCI
9-12 BLN LENGKAP
1 SELI 21 16 0 58
2 SOADARA 18 18 0 99,9 UCI
3 TOPO 34 37 1 100 UCI
4 TOPO TIGA 12 13 0 100 UCI
5 SOASIO 35 22 2 39,5
6 GAMTUFKANGE 43 36 1 70
7 GURABUNGA 13 11 0 71,5
8 FOLARORA 17 12 0 49,8
9 TAMBULA 18 15 0 69,4
10 TOMAGOBA 68 54 2 63
11 TUGUWAJI 50 37 2 54,7
12 INDONESIANA 55 47 4 73
13 GOTO 54 57 1 100 UCI
TOTAL 438 375 13 73,2

Grafik III.29 Situasi Desa UCI

46
Diatas ini adalah gambaran kelurahan UCI ( Universal Child Imunization ) ada 4 kelurahan
yang sudah memenuhi prasyarat kelurahan UCI yaitu Kelurahan Soadara, Topo, Topo Tiga
dan Kelurahan Goto. Bila di bandingkan dengan data pada tahun 2014 maka ada penurunan
jumlah kelurahan UCI dimana semua kelurahan sudah mencapai Kelurahan UCI, hal ini
disebabkan karena banyaknya sasaran yang ikut keluarga keluar daerah dan pencatatan yang
kurang baik. Untuk itu kepada pemegang program untuk bersama sama dengan kader untuk
melakukan pendataan sasaran yang ada, dan memperbaiki sistem pencatatan register. Serta
tetap melakukan sweeping sesudah selesai posyandu.

7. Cakupan Program P2 Diare.


Di Tahun 2015, terdapat 161 Kasus diare ada peningkatan kasus dari tahun 2014 yaitu
sebanyak 136 kasus Diare. Jumlah kasus terbanyak terdapat di kelurahan Indonesiana
sebanyak 49 kasus, dan jumlah kasus terendah ada di kelurahan Tambula dan Topo Tiga dan
Folarora dengan masing1 kasus, Berikut ini gambaran situasi Diare per kelurahan

Grafik III.30 Cakupan Program Diare

4. UPAYA PENYEHATAN LINGKUNGAN ( PL).

47
a. Cakupan Tempat Tempat Umum Yang Memenuhi Syarat.
Dari Grafik di bawah ini dapat dilihat hasil pencapaian program kesling di tahun 2018 telah
mencapai 98 % dari target ( 96 % ) secara keseluruhan program namun masih ada 1
kelurahan yang belum capai target hal ini disebabkan karena masih ada tempat tempat
umum yang belum semuanya di lakukan pemeriksaan.

TTU YANG MEMENUHI SYARAT

100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
100 98
98
96
94
92 90
90
88
86
84

Grafik III.31 Cakupan TTU Memenuhi Syarat

Sedangkan untuk cakupan rumah bebas jentik juga sudah mencapai target namun bila
dilihat dari kelurahan ada 2 kelurahan yang belum menacapai target yaitu kelurahan Goto
( 94%) dan kelurahan Topo Tiga ( 93 %).

b. Cakupan Rumah Bebas Jentik.


Untuk cakupan Stop Buang Air Besar Sembarangan ( Stop BABS ) ditahun 2018 telah
mencapai target yaitu 82 % dari target 85 % namun masih ada 6 kelurahan yang belum
capai target untuk itu kelurahan ini secara bertahap akan di jadikan kelurahan
pencanangan ODF ( Out Defekasi Free ), ditahun ini ada 2 kelurahan yang sudah menjadi
kelurahan pencanangan ODF yaitu kelurahan Gurabunga dan Kelurahan Folarora.

48
RUMAH BEBAS JENTIK

99
99 98
98 97 97 97 97
97 96 96
96 95 95 95 95
95 94
94 93
93
92
91
90

Grafik III.32 Cakupan Rumah Bebas Jentik.

c. Cakupan Keluarga Stop BABS


Cakupan Keluarga Stop BABS yang telah mencapai 99 % yaitu dikelurahan Gamtufkange
dan yang kelurahan yang belum capai target yaitu kelurahan Folarora (70%) sedangkan
Cakupan Puskesmas yaitu 82 % penggunaan jamban sehat hal ini menunjukan bahwa
masyarakat sudah sadar betul akan penggunaan jamban sehat bagi keluarga tidak
hanya penggunaan secara umum namun yang memenuhi syarat kesehatan.

49
Cakupan Keluarga Stop BABS

99 98
100 94 90 86 84 82 82
90 79
80 74 74 73 70 70
70
60
50
40
30
20
10
0

Grafik III.33 Cakupan Keluarga Stop BABS

d. Cakupan Jamban Sehat.


Untuk penggunaan jamban sehat puskesmas soasio telah mencapai 100 % dari 75 %
penggunaan jamban sehat hal ini menunjukan bahwa masyarakat sudah sadar betul
akan penggunaan jamban sehat bagi keluarga tidak hanya penggunaan secara umum
namun yang memenuhi syarat kesehatan.

Cakupan Jamban Sehat

100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
100
99,8
99,6
99,4
99,2 99
99
98,8
98,6
98,4

50
Grafik III.34 Cakupan Jamban Sehat
e. Cakupan Kunjungan Klisan.
Di tahun 2018 kunjungan klinik sanitasi sudah membaik dimana dari kunjungan pasien
sebesar 790 yang ditindak lanjuti di klinik sanitasi sebanyak 433 atau sudah 50 %
kunjungan yang ditindak lanjuti serta sudah dilakukan kunjungan rumah sebesar 18
kasus

Kunjungan Pasien dan Kunjungan Klien


Klisan

790
800
700
600
500 433 433
400
300
200
100 24 18 18
0

Grafik III.35 Cakupan Kunjungan Klisan

5. Cakupan Program Promosi Kesehatan


Cakupan strata desa siaga ditahun 2018 tidak jauh berbeda dengan tahun 2018 belum ada
peningkatan strata desa siaga dimana kategori pratama sebanyak 2 kelurahan, madya 7
kelurahan purnama 2 kelurahan dan mandiri 2 kelurahan hal ini disebabkan karena forum desa
yang diharapkan menjadi perhatian pemerintahan kelurahan namun masih belum ditanggapi
dengan serius. Oleh karena itu hal ini merupakan pekerjaan penting untuk mengadvokasi
kembali kepada kepala kelurahan agar mau kembali mengaktifkan forum desanya agar semua
permasalahan kesehatan yang terjadi dimasing masing kelurahan dapat dengan segera
tertangani dengan baik.

51
STRATA DESA SIAGA

No Kelurahan Pratama Madya Purnama Mandiri


1 Seli 1
2 Soadara 1
3 Topo 1
4 Topo Tiga 1
5 Soasio 1
6 Gamtufkange 1
7 Gurabunga 1
8 Folarora 1
9 Tambula 1
10 Tomagoba 1
11 Tuguwaji 1
12 Indonesiana 1
13 Goto 1
Jumlah 2 7 2 2

Garfik III.36 Strata Desa Siaga

Cakupan strata desa siaga ditahun 2018 tidak jauh berbeda dengan tahun 2015 belum ada
peningkatan strata desa siaga dimana kategori pratama sebanyak 2 kelurahan, madya 7 kelurahan
purnama 2 kelurahan dan mandiri 2 kelurahan hal ini disebabkan karena forum desa yang
diharapkan menjadi perhatian pemerintahan kelurahan namun masih belum ditanggapi dengan
serius. Oleh karena itu hal ini merupakan pekerjaan penting untuk mengadvokasi kembali kepada
kepala kelurahan agar mau kembali mengaktifkan forum desanya agar semua permasalahan
kesehatan yang terjadi dimasing masing kelurahan dapat dengan segera tertangani dengan baik.

52
Strata Kemandirian Posyandu
No Kelurahan Posyandu Pratama Madya Purnama Mandiri

1 Seli Ligamake 1
2 Soadara Kembang Jaya 1
3 Soasio Soningemalige I 1
Soningemalige II 1
4 Topo Bukit Jeruk 1
5 Topo Tiga Cempaka Putih 1
6 Gamtufkange Garo laha 1
Lesa yadi 1
7 Tambula Kailupa 1
8 Folarora Akenam 1
9 Gurabunga Kiekici 1
10 Tomagoba Flamboyan 1
Cleopatra 1
11 Tuguwaji Nusa Indah 1
Marimoi 1
12 Indonesiana Sarimalaha 1
Barak 1
13 Goto Garomoi 1
KenariPolres 1

Grafik III. Stara Kemandirian Posyandu.

53
BAB V
KESIMPULAN

Berbagai upaya pelayanan kesehatan telah dilaksanakan peningkatan mutu peningkatan jumlah
sarana dan prasarana pelayanan kesehatan, penambahan jumlah tenaga kesehatan yang bermutu
serta pembiayaan kesehatan baik dari pemerintah Kota Tidore Kepulauan Maupun dari Dinas
Kesehatan Propinsi Maluku Utara namun yang tak kalah penting adalah Dana bantuan operasional
Kesehatan ( BOK ) serta dana Jaminan Kesehatan yang diperuntukkan kepada puskesmas yang
dikucurkan pemerintah pusat guna membantu terlaksananya operasional Puskesmas. Kesenua itu
bermuara pada satu tujuan akhir yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Tolak ukur keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan ditandai dengan menurunnya angka
kematian ibu ( AKI ) angka Kematian Bayi ( AKB ) , Angka Kematian Balita ( AKBAL ) angka kesakitan
penyakit menular dan berkurangnya kasus gizi buruk.
Dalam Undang – Undang No 23 Tahun 1992 tentang kesehatan digariskan bahwa telah tersedia
sumber daya kesehatan yang meliputi sumber daya manusia sebagai tenaga pengelola, sarana
prasarana sebagai alat penunjang dan dana sebagai sumber pembiayaan pembangunan di bidang
kesehatan, yang selalu ditingkatkan secara terus menerus searah dengan kemajuan pembangunan
kesehatan.
Pembangunan kesehatan di wilayah kerja puskesmas soasio di tahun 2018 telah banyak
menunjukan peningkatan yang cukup menggembirakan, namun masih ada beberapa program
yang capaiannya masih menjadi perhatian dan prioritas serta membutuhkan kerja keras seperti
upaya promosi kesehatan, kunjungan balita di posyandu, untuk itu ditahun yang akan datang
diharapakan puskesmas soasio lebih meningkatkan mutu pelayanan dan peningkatan pencapaian.
Pendanaan yang bersumber dari APBD Kota Tidore Kepulauan dirasa telah dapat menopang
pelayanan kesehatan, namun hal ini dapat lebih ditingkatkan seiring dengan peningkatan
kebutuhan puskesmas yang disesuaikan dengan dampak kenaikan BBM, dimasa yang akan datang
diharapkan agar beban setoran PERDA dapat berkurang mengingat tujuan utama kita adalah
terjadi peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat,

54
sehingga dengan demikian masyarakat tidak menganggap, tugas utama puskesmas hanyalah
mengobati orang sakit tetapi lebih kepada upaya prefentif dan promotif.
Walau telah dicapai berbagai hasil pembangunan di bidang kesehatan, yang dilaksanakan melalui
berbagai program, namun dirasakan masih banyak yang harus dilakukan demi tercapainya derajat
kesehatan masyarakat yang optimal, sebagaimana yang kita harapkan bersama. Untuk itu kegiatan
promosi kesehatan perlu lebih di tingkatakan agar upaya untuk mempromosikan produk produk
puskesmas dapat diterima di masyarakat.
Maka dari itu dukungan dari masyarakat dan Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepulauan sangatlah
di harapkan karena tanpa dukungan, Puskesmas tidak akan dapat meningkatkan status derajat
kesehatan masyarakat.

55
BAB VI
PENUTUP

Program pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini telah berhasil meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat secara cukup bermakna, walaupun masih dijumpai berbagai
masalah dan hambatan yang akan mempengaruhi pelaksanaan pembangunan kesehatan.
Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut diperlukan indicator antara lain Indonesia
sehat 2015 dan indicator kinerja dari standar pelayanan minimal (SPM) dibidang kesehatan di
jajaran UPT Puskesmas Soasio kecamtan tidore serta indicator kinerja lainnya.
Profil kesehatan Puskesmas Soasio dibuat dalam rangka sebagai sarana penyedia data dan
informasi dalam rangka evaluasi tahunan kegiatan kegiatan dan pemantapan pencapaian program
untuk mencapai derajat kesehatan ynag optimal tahun 2018.
Tujuan utama kita adalah terjadi peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan sebagai pusat
pemberdayaan masyarakat, sehingga dengan demikian masyarakat tidak menganggap tugas
utama puskesmas hanyalah mengobati orang sakit tetapi lebih kepada upaya Preventif dan
Promotif.
Walau telah dicapai berbagai hasil pembangunan di bidang kesehatan, yang dilaksanakan melalui
berbagai program, namun dirasakan masih banyak yang harus di lakukan demi tercapainya derajat
kesehatan yang optimal sebagaimana yang kita harapkan bersama.
Dengan adanya penyusunan Profil Kesehatan UPT Puskesmas Soasio diharapkan dapat tersedia
data/informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai kebutuhan dalam rangka meningkatkan
kemampuan manajemen kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna sehingga dapat
dimanfaatkan untuk mengambil kebijakan dan keputusan.

56