Anda di halaman 1dari 16

Referat

Teknik Hipotensi dan Induksi


Hipotermia

Pembimbing:
dr. Shirly, SpAn

Penyusun:
Edo J. Sihombing 07120070056
Hanna Honoris 07120070041
Cynthia Sabrina 07120080012
Audrey Budiono 07120080088

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Anestesi


Universitas Pelita Harapan
Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I Raden Said Sukanto
Periode7 Januari 2013 – 2 Februari 2013
I. Hipotensi terkontrol
A. Merupakan suatu kewajiban bagi yang menggunakan teknik kuat dan berbahaya
dalam mengontrol hipotensi agar mengenal farmakologi dan fisiologis yang terlibat.
Jenis obat serta dosis yang digunakan harus dengan benar ditentukan berdasarkan
usia pasien, status mental dan fisik pasien, prosedur operator dalam operasi,
kemampuan skill operator operasi, operator anestesi, ruang pemulihan dan personil
dalam instalansi perawatan intensif

1. Sebelum memilih metode untuk mengontrol hipotensi, perlu diyakinkan bahwa


penggunaanya harus melebihi keuntungan dibandingkan denga kerugiannya.

2. Sewaktu di indikasikan dan diberikan dengan hati – hati, obat pengontrol


hipotensi dapat menjadi efektif dan aman, sehingga menciptakan situasi yang
baik untuk operasi serta bagi operator operasi.

B. Keuntungan

1. Metode yang digunakan dapat meminimalkan darah yang hilang serta kebutuhan
transfusi darah.

2. Mengurangi “oozing”

3. Menurunkan kebutuhan jumlah obat anestesi yang diperlukan

C. Indikasi

1. Operasi kepala dan leher

2. Neurosurgical : aneurysm, meningioma, dan eksisi tumor vaskular

3. Operasi kanker dengan perdarahan yang sulit dikontrol

4. Prosedur pelvik, seperti pelvik eksenterasi dengan diseksi node

5. Operasi vascular, seperti portacaval shunt

6. Operasi ortopedik : untuk prosedur disartikulasi dan pembenaran skoliosis

D. Kontraindikasi

1. Gagal jantung

2. Arterosklerosis
3. Hipertensi (berat)

4. Penyakit serebrovaskular

5. Gangguan funngsi ginjal dan hati

6. Adanya tanda anemia dan atau penurunan volume darah

7. Innsufisiensi pernafasan

8. Glaukoma dengan sudut sempit, disaat obat untuk memblok ganglionik tidak
digunakan akibat dilatasi pupil

9. Seorang anestesi yang tidak familiar dengan tekniknya; team penata ruang
operasi atau operator bedah yang kerjanya lambat; dan atau staf bagian
preoperasi yang memiliki pengalaman minimal atau tidak berpengalaman sama
sekali.

E. Kebutuhan

1. Resiko dalam Keutungan melebihi resiko kerugian.

2. Pemilihan pasien yang tepat.

3. Pemilihan posisi pasien yang tepat

4. Monitor dengan tepat :

a) Tekanan darah arterial. Monitor tekanan darah secara berkala dapat lebih
tepat dengan canul arteri radial.

b) Tekanan sentral vena

c) Menggunakan elektrokardioskop

d) Monitor gravimetrik (weighing of sponges) dan observasi ketat darah pada


botol suctionn (perhatikan pula cairan yang digunakan untuk irigasi pada
area operasi).

e) Monitor temperatur

f) Tentukan analisa gas darah, hemoglobin dan hematokrit

5. Memberikan ventilasi dan oksigen yang cukup

6. Menganti darah yang hilang

7. Volume darah yang normal sebelum operasi


8. Meminimalisasikan durasi dalam periode hipotensi.

9. Tersedianya operator anestesi dan operator operasi yang berpengalaman dan


berkemampuan

10. Perawatan dan pengawasan pasca operasi yang baik di ruang pemulihan atau
ICU.

a) Mengetahui dengan pasti bahwa darah yang keluar telah digantikan.

b) Pasien harus dalam keadaan sadar, berespon dan memiliki ventilasi yang
baik dan serta warna kulit yang baik.

c) Oksigen harus diberikan dengan mask atau nasal kanul

F. Obat-obatan dan metode

1. Trimethapan (arfonad) mennyebabkan hipotensi melalui blok ganglionik,


vasodilatasi secara langsung (mengurangi resistensi perifer) dan menyebabkan
pelepasan histamin

a) Trimethapan merupakan obat kerja pendek; menurunkan hipotensi dalam


durasi 10-30 menit yang bersifat reversal

b) Trimethapan harus dihindari pada pasien dengan alergi atau peningkatan


tekanan intracranial.

c) Trimethapan menyebabkan penurunan tekanan darah yang bertahap dan


cepat.

d) Mekanisme kerja pendekanya diakibatkan oleh cepatnya ekresi obat pada


urin (30%).

e) Level tekanan darah harus dihubungkan dengan”vascular ooze”, lalu


kemudian di pertahankan. Jaga tekanan darah jangan sampai berada
dibawah 80-90 torr, jika memungkinkan, untuk mengurangi komplikasi
pasca operasi. Pada pasien ASA kelas 1, penurunan sampai 70 torr masih
diperbolehkan.

f) Kerugian

(1) Takifilaksis

(2) Kadang – kadang dapat terjadi takikardi.

g) Dosis : IV drip larutan 0,1 % (1 mg/ ml atau 500ml dalam 5% D/W)


2. Nitroprusside

a) Nitroprusside (nipride) merupakan golongan kuat, kerja cepat dan di


administrasikan secara intravena.

b) Efek obatnya bekerja dengan vasodilatasi perifer dan menurunkan


resistensi perifer.

c) Mekanismenya secara langsung pada dinding pembuluh darah dan tidak


tergantung pada inervasi autonomik.

d) Setelah pemberian jangka pendek, obat akan bekerja lambat atau berhenti
dan tekanan darah akan meningkat. Tekanan darah kembali ke keadaan
sebelum operasi dalam 1- 10 menit.

e) Jarang terjadi takifilaksis

f) Sediaan yang tersedia yaitu larutan sodium nitroprusside dihidrat, 50 mg.


Sediaan di persiapkan dalam 500 / 1000ml of 5% D/W dibuat dengan
konsentrasi 0.01% hingga 0.002%. tergantung pada usia dan status fisik
pasien.

g) Degradasi dari nitroprusside terjadi bila terdapat cahaya dan atau pH yang
rendah, dan menghasilkan sodium ferrocyanide dan cyanide. Cyanide
beresiko terjadinya keracunan.

(1) Adanya komponen ini ditandai dengan perubahan warna pada larutan
dari normal, merah muda kecoklatan, ke warna abnormal : coklat
gelap atau biru. Bila terdapat salah satu warna abnormal, menandakan
bahwa sediaan ini tidak pantas untuk digunakan.

(2) Degradasi akibat sensitif terhadap cahaya dapat dicegah dengan


menyimpan nitroprusside dalam vial berwarna gelap atau
membungkusnya dengan kertas alumunium putih.

h) Nitroprusside harus diberikan dalam bentuk pompa infus atau dengan


microdrip, serta tekanan darah harus dipantau secara langsung dengan
canul arteri radial.

i) Walaupun nitroprusside merupakan agen hipotensi yang baik-bersifat


reversible dengan cepat dan dapat diprediksi- tetapi nitroprusside memiliki
efek samping metabolik jika dosis yang diberikan melebihi 3mg/kg bb.
Pada dosis tinggi dapat menyebabkan hipotensi yang berat dan atau
methemoglobinemia.
j) Dosis rata – rata nitroprusside adalah 3 mcg/kg/min (0,5-8 mcg/kg/min).
Satu vial (50mg) nitroprusside di larutkan dalam 500 ml D/W 5%; setiap
milliliter mengandung 100 mcg.

3. Nitroglycerin

a) Nitroglycerin dapat diberikan secara intravena untuk mengurangi


tekanan darah.

b) Nitroglycerin mempunyai waktu paruh yang mendek, mudah


dikendalikan , dan tidka mempunyai efek toksik secara langsung atau
metabolit yang bersifat toksik.

c) Nitroglycerin menyebabkan vasodilatasi secara langsung dengan


bereaksi dengan otot polos pada dinding pembuluh darah dan bekerja
terutama pada capacitance vessels, yang mengakibatkan turunnya
aliran darah balik vena.

d) Nitroglycerin mungkin tidak dapat menyebabkan hypotension pada


pasien muda terutama pada anestesi dengan nitrous oxide-oxygen
dengan suplemen narkotik. Pada pasien ini diperlukan obat atau teknik
lain untuk penurunan tekanand arah yang signifikan.

e) Nitroglycerin tersedia dalam ampul gelas 20 mg yang berisi 10 mg


nitroglycerin atau 500 micrograms/mL. Cairan nitroglycerin yang
diperoleh dari pabrik termasuk cukup stabil ketika terkena paparan
sinar dan dapat disimpan hingga 3 tahun tanpa pendinginan.

f) Obat tersebut diserap oleh kantong plastik dan harus diberikan dari
botol gelas. Pompa infus merupakan metode pemberian yang paling
baik untuk pemberian yang dimulai pada 1mcg/kg/L hingga dinaikkan
sampai tekanan darah yang diinginkan.

4. Halothane, enflurane dan isoflurane dapat dipergunakan sendiri atau dengan


obat-obat penurun tekanan darah untuk mencapai hypotensi yang terkontrol.
Walaupun begitu, seorang anestesiologist harus mengetahui adanya
kemungkinan overdosis dalam usahanya untuk mengurangi tekanan darah
sistolik.

G. Efek fisiologis pada organ vital

1. Otak
a) Metabolisme otak mungkin tidak pada tingkat biasanya selama periode
hypotensi bila tekanand arah menjadi sangat rendah dan kepala pasien
lebih tinggi.

b) Ketika tekanan darah dikurangi dibawah 60 torr, vasodilasi serebral lagi


tidak mungkin terjadi sehingga tingkat tekanan darah yang rendah
mungkin disertai dengan pengurangan aliran darah otak.

c) Konsumsi oksigen tidak berubah secara signifikan.

d) Fungsi luhur dapat mengalami perubahan secara minor walaupun


perubahan ni biasanya bersifat sementara.

2. Jantung dan pembuluh darah

a) Perfusi pada pembuluh koroner tetap adekuat

b) Tidak ada kerusakan otot jantung yang permanen walaupun mungkin


terjadi iskemi yang bersifat sementara pada pasien lanjut usia atau pada
pasien dengan hipertensi bila tekanan darah dibiarkan tutun hingga
dibawah 60 torr. Pada pasien-pasien tersebut, tekanan darah sistolik harus
dijaga setidaknya 80 torr.

c) Curah jantung berubah dengan pengobatan atau teknik yang dipergunakan.

(1) Trimethaphan menyebabkan beberapa perubahan pada curah jantung.

(2) Dengan pentolinium (Ansolysen), perubahan pada curah jantung


bergantung dengan nadi.

(3) Blok spinal tinggi dan anestesi dalam menghasilkan penurunan


volume curah jantung yang signifikan.

(4) Nitroprusside tidak menghasilkan adanya perubahan pada curah


jantung bila tekanan darah dijaga di atas 80 torr dan kondisi lainnya
stabil.

3. Liver

a) Karena fisiologi dan anatomi peredaran darah liver, maka liver rentan akan
menurunnya tekanan darah.

b) Liver mendapat pasokan darah dari 2 sumber; (1) arteri hepatika


memberikan suplai 20% dari semua pasokan darah ke liver pada tekanan
oksigen tinggi (75% saturasi) dan (2) vena porta memberikan suplai 80%
pada liver dengan tekanan oksigen 74% saturasi.
c) Ketika tekanan darah sistolik jatuh dibawah 60 torr, liver menjadi sianosis
dan bengkak.

d) Ketika liver dihadapkan pada kondisi anoksia, (1) ia tidak dapat


membentuk urea dari garam amonia atau asam amino dan (2) ia tidak
dapat menginaktifasi zat-zat vasodepresor.

4. Paru-paru

a) Volume ruang mati fisiologis menjadi lebih besar

b) Kapasitas vital bertambah.

5. Ginjal

a) Pembentukan urin. Proses penyaringan ginjal berkurang apabila tekanan


sistolik berkurang. Di bawah 60 torr, pembentukan urine terhenti
walaupun ini bukan berarti bahwa kerurakan ginjal telah terjadi.

b) Aliran darah ginjal. Walaupun aliran darah ke ginjal menurun pada


awalnya, ia akan kembali pada tingkat sebelum operasi. Aliran darah
dijaga ketika tekanan sistolik turun melalui kompensasi vasodilasi.
Mekanisme ini akan mulai lumpuh apabila tekanan darah turun hingga di
bawah 60 torr.

H. Komplikasi. Induksi hipotensi dapat menjadi penyebab kesakitan dan kematian

1. Komplikasi yang paling umum

a) Trombosis serebral dan hipoksia

b) Perdarahan reaksi

c) Gagal ginjal, oliguria, dan anuria.

d) Coronary trombosis, gagal jantung dan henti jantung.

e) Fenomena tromboemboli

f) Delayed awakening

g) Hipotensi persisten

2. Angka kejadian dari komplikasi ini dilaporkan menurun dengan meningkatnya


pengalaman ahli anestesi dengan teknik ini.

I. Penggunaan vasopresor: dua sudut pandang


1. Beberapa pendapat mengatakan bahwa tekanan daah harus diperbolehkan untuk
kembali ke tingkat sebelum operasi sebelum penjahitan luka sehingga pendarahan
dapat dikauter atau diikat.

2. Sudut pandang lain menyatakan bahwa pemberian vasopresor betolak belakang


dengan tujuan induced hipotensi. Pembekuan darah terjadi pada pembuluh darah
yang berdilatasi. Ketika pemulihan hipotensi terjadi, vena-vena berkontraksi pada
bekuan-bekuan darah tersebut dan vasopresor dapat melepaskan bekuan hingga
terjadi perdarahan.

II. Hipotermia Terinduksi (Seluruh Tubuh)

A. Tujuan utama dari menginduksi suatu hipotermia adalah untuk memberikan operator
bedah suatu waktu operasi yang lebih panjang dimana, sirkulasi kepada organ-organ
vital dihentikan untuk sementara.

B. Pendinginan permukaan dengan menggunakan teknik tub (wadah terbuka)

1. Untuk pasien dewasa, premedikasi berupa 8mg morfin dan 0.4mg atropine
diberikan secara IM, 1 jam sebelum induksi anestesi.

2. Preoksigenisasi berupa pemberian 100% oksigen selama beberapa menit.

3. Lead EKG dipasang (penggunaan monitor EKG merupakan tahapan opsional).

4. Injeksi thiopental sebanyak 4mg/kgBB dan succinylcholine sebanyak


1.5mg/kgBB diberikan secara intravena untuk memfasilitasi tindakan intubasi.
Kemudian 0.5%-1% halothane atau 1% enflurane diberikan bersamaan dengan
pemberian 50% N2O dan 50% O2.

5. Termistor timpanik, rektal dan/atau esophagus ditempatkan untuk mengawasi


suhu tubuh.

6. Tubocurarine sebanyak 0.2mg/kgBB atau pancuronium sebanyak 0.1mg/kgBB


diberikan untuk mengatasi gejala menggigil dan diberikan bila diperlukan.
7. Ketika tanda-tanda vital stabil, pasien direndam di dalam air dingin dengan dagu
dan kepala di atas permukaan air. Ketika tanda-tanda vital kembali stabil,
kepingan bekuan es ditambahkan ke dalam air. Proses pendinginan biasanya
dilakukan selama 30-60 menit. Pasien tetap berada di dalam air es hingga suhu
tubuhnya turun 40% dari angka yang diinginkan karena, setelah pasien
dipindahkan dari tub ke meja operasi, suhu tubuh pasien akan terus menurun
secara perlahan hingga 3-4Celcius. Sehingga, bila temperatur yang diinginkan
adalah 28C, pasien dipindahkan dari tub ketika suhu mencapai 32C.

8. Teknik lain yang dapat digunakan adalah dengan selimut hipotermia. Suatu
campuran antibeku dialirkan melalui kumparan di dalamnya untuk mengatur
temperatur. Selimut tersebut harus didinginkan terlebih dahulu sebelum pasien
ditempatkan di dalamnya dan haruslah dilapisi dengan lapisan pelindung dari kain
untuk mencegah kerusakan kulit pada titik-titik tekanan. Pasien dianestesi terlebih
dahulu kemudian dipindahkan ke dalam selimut.

9. Bersamaan dengan turunnya suhu tubuh, konsentrasi anestetik diturunkan secara


bertahap hingga pemberiannya dihentikan saat suhu tubuh mencapai 28C-30C.
Pada tahap ini, pemberian agen-agen anestetik tidak lagi diperlukan, namun,
hiperventilasi terkontrol dengan oksigen tetap diberikan selama operasi
berlangsung. Dilatasi pupil umumnya terjadi selama periode hipotermik.

10. Pasien dipindahkan dari air es, dan dikeringkan dengan menggunakan handuk
mandi kemudian, ditempatkan pada matras berisi air untuk penghangatan
kembali. Bila pasien bergerak secara spontan ketika sedang dihangatkan kembali,
campuran 50% N2O dan 50% O2 biasanya cukup untuk membuat pasien kembali
diam.

11. Metode untuk penghangatan kembali bervariasi. Selama proses penghangatan


kembali berlangsung, refleks dan pergerakan spontan kembali muncul saat suhu
mencapai 31C dan kesadaran kembali saat suhu mencapai 32C-34C.

12.Ekstubasi dilakukan bila respirasi pasien adekuat.

13. Temperatur timpanik atau rektal dimonitor hingga 24 jam sesudah operasi untuk
memastikan bahwa suhu tubuh pasien tetap pada 36.5C. Pasien juga diawasi
secara teratur selama periode ini untuk mengetahui ada atau tidaknya tanda-tanda
dari syok hipertermia ataupun hipertermia reaktif.

C. Pertimbangan Fisiologik

1. Efek pada metabolisme

a) Ketika darah didinginkan, kurva disosiasi oksigen bergeser ke kiri.


b) Jumlah konsumsi oksigen turun bersamaan dengan turunnya temperatur tubuh
(namun, oksigen jaringan harus dipertahankan agar tidak turun secara
langsung).

c) Enzim oksidatif esensial tidak terinaktivasi oleh hipotermia.

2. Efek pada sistem respirasi

a) Saat suhu tubuh turun, solubilitas karbon dioksida di dalam darah meningkat.

b) Terjadi sedikit perubahan pada natrium, kalium, ataupun klorida darah selama
dan sesudah pendinginan.

3. Efek pada jantung

a) Laju nadi, aliran koroner, dan pengambilan oksigen pada jantung turun 50% saat
temperatur tubuh mencapai 25C.

b) Curah jantung turun bila gejala menggigil pasien dicegah

c) EKG: kompleks QRS bertambah panjang, interval P-R bertambah, terdapat


elevasi pada awal segmen S-T (prekursor dari fibrilasi ventrikel)

D. Perubahan Sirkulasi General

1. Aliran darah yang melalui otak, ginjal, dan area splanik turun seiring turunnya
suhu tubuh.

2. Mean arterial pressure turun 5% untuk setiap 1C yang turun di bawah suhu
37C.

E. Sistem Saraf

1. Konsumsi oksigen serebral turun pada suhu tubuh 25C; pengambilan oksigen
oleh otak turun hingga 33% dibandingkan pengambilan oksigen pada suhu 37C

2. Jumlah aliran darah otak turun 7% untuk setiap 1C yang turun di bawah suhu
37C.

3. Tekanan cairan serebrospinal turun.

4. Fungsi kortikal menurun, sehingga terjadi amnesia retrograde untuk kejadian


selama hipotermia berlangsung.

5. Selama penghentian sirkulasi, terdapat periode 3 menit sebelum kerusakan masif


yang irreparable terjadi (pada suhu 37C), akan diperpanjang pada suhu 25C
hingga 15 menit.
F. Fungsi Ginjal

1. Hipotermia melindungi ginjal dari efek samping ketika aliran darah dihentikan
selama operasi.

2. Glomerular Filtration Rate dan aliran darah renal turun 30% pada suhu 25C.

G. Pertimbangan Secara Umum

1. Terdapat resiko pada penggunaan cairan dekstrosa selama hipotermia, karena


dekstrosa dimetabolisme dengan sangat lambat selama hipotermia maka dapat
terakumulasi pada cairan ekstraselular dan, dengan efek osmotiknya, dapat
menarik cairan dari sel. Cairan yang berlebih mengakibatkan dilusi pada cairan
ekstraselular dan serum elektrolit.

2. Serum potasium cenderung lebih rendah pada pH yang tinggi (alkalosis).


Potasium ekstraselular meningkat bila terjadi anoksia jaringan.

3. Selama proses penghangatan kembali, cairan dekstrosa harus tetap diberikan


karena pada kondisi ini, dekstrosa cenderung turun.

H. Hepar

1. Bila terjadi penghentian sirkulasi dengan cara induksi hipotermia, akan terjadi
peningkatan tekanan vena sentral dan munculnya tanda-tanda kongesti vena
hepatika, serta dapat juga terjadi kerusakan struktural yang cukup parah pada
hepar, mengakibatkan hilangnya fungsi hepar dan munculnya tanda-tanda asidosis
metabolik post-operative.

2. Proses konjugasi dan detoksifikasi morfin oleh hepar berlangsung lambat.

3. Metabolisme barbiturat terganggu.

4. Kemungkinan adanya norepinefrin dan tubocurarine yang tidak dihancurkan pada


area dengan vaskularisasi statis, dan ketika proses penghangatan kembali dapat
dilepaskan pada sirkulasi general.

5. Perubahan pada mekanisme pembekuan darah

a) Waktu perdarahan yang meningkat.

b) Retraksi pembekuan darah buruk.

I. Obat-obatan anestesi
1. Efek Tiopental menjadi terpotensiasis dan diperpanjang dalam keadaan
hipotermia. Tiopental mempunyai efek penekanan langsung pada miokardium,
sehingga penggunaannya harus dilarang pada induksi anestesi

2. Agen agen inhalasi

a) Hipotermia memperkuat efek obat-obatan anestesi dan memperlambat


ekskresinya. Oleh karena itu, selama hipotermia berlangsung, jumlah agen
anestesi yang diperlukan berkurang.

b) Halotan merupakan vasodilator yang kuat.

3. Pelumpuh otot

a) Efek turbocurarine menurun selama proses pendinginan. Perhatian harus


diberikan lebih saat proses penghangatan kembali, dimana efek non
depolarizing dari pelumpuh otot dapat terjadi.

b) Kekakuan otot dapat timbul pada suhu 33 0C; dan akan terus berlanjut sampai
penghangatan kembali.

c) Metabolisme dan eksresi dari tubocurarine dan efek pengembaliannya oleh


neostigmin tidak terganggu.

J. Obat-obatan yang mempengaruhi aktifitas kardiovaskular

1. Penurunan laju jantung dalam masa hipotermia dapat ditambahkan dengan


pemberian digitalis preoperative. Terapi terdiri atas injeksi dosis-dosis kecil
atropin.

2. Quinidin telah digunakan untuk pencegahan ventricular fibrilasi.

3. Aksi dari atropin menurun secara gradual selama proses pendinginan berlanjut.

4. Neostigmin mempunyai efek serupa selama hipotermia.

5. Epinefrin mempunyai aktifitas yang sama pada pasien yang didinginkan, paling
tidak hingga suhu 25 0C. Norepinefrin kurang aktif pada pasien hipotermia dan
mungkin dapat menjadi tidak aktif sampai proses penghangatan kembali, dimana
ia dapat menyebabkan hipertensi.

K. Keseimbangan Asam-basa

1. Kapasitas buffer dari darah menurun selama hipotermia.

2. Ventilasi alveolar dan kemampuan ginjal untuk mengatur asam-basa menurun.


3. Jantung sensitif pada pH darah yang rendah, dan dapat meningkatkan baik
iritabilitas dan kecenderungannya mengalami fibrilasi ventricular; oleh karena itu
pasien harus di hiperventilasi untuk menaikkan pH darah.

4. Kurva oksigen hemoglobin bergeser ke kiri; olehkarena itu hemoglobin lebih


mudah berikatan dengan oksigen.

5. Pada proses penghangatan, terjadi beberapa metabolic asidosis (kebanyakan


asidemia karena laktat)

L. Hipotermia dengan penggunaan penukar panas.

1. Keuntungan

a) Laju dan kedalaman penurunan suhu dapat terkontrol.

b) Pendinginan menuju temperatur yang diinginkan berlangsung cepat dalam


sirkulasi jantung-paru.

c) Proses pendinginan tidak dimulai sampai dada terbuka dan kondisi jantung
terkonfirmasi; sehingga periode total hipotermia dapat berkurang.

2. Kerugian. Kebutuhan kanulasi dari pembuluh darah besar dan biasanya, keadaan
dada terbuka membuat bedah saraf dan bedah abdominal tidak dapat dilakukan.

3. Prinsip pendinginan aliran darah. Beberapa bentuk penukaran panas diperlukan,


bersama dengan sebuah tuba plastik, dengan panjang 10-15 kaki, yang akan dialiri
darah.

4. Metode induksi pendinginan aliran darah termasuk pendinginan arteriovena,


venovena, dan pendinginan dengan mesin jantung-paru.

M. Aplikasi hipotermia pada pasien bedah saraf.

1. Efek general

a) Kebutuhan oksigen dan metabolisme menurun

b) Tekanan darah biasanya menurun dengan induksi anestesi; kemudian, dengan


mulainya proses pendinginan, kenaikan tekanan darah diikuti dengan
penurunan temperatur tubuh bertahap.

2. Otak

a) Tekanan intracranial dan volume otak berkurang

b) Laju metabolisme otak menurun.


c) Sirkulasi darah harus dikembalikan apabila terdapat aktifitas delta pada EEG.

d) Oklusi pada arteri serebri media harus dibatasi selama 15 menit pada suhu 30
0C.

e) Edema akibat trauma jaringan otak dapat dikurangi.

f) Perdarahan intra operasi dapat dikurangi.

3. Indikasi

a) Aneurysmectomy

b) Operasi arteri karotis pada leher

c) Operasi tumor vascular, seperti meningioma.

N. Hipotermia induksi. Teknik ini mungkin berguna pada penanganan (1) trauma kepala
berat, terutama trauma batang otak dengan demam tinggi, koma, takikardiam
takipnea, dan kekakuan, (2) CVA akut, dan sobekan aneurisma intracranial.

O. Komplikasi hipotermia yang berkepanjangan

1. Dapat menyembunyikan infeksi dan tanda-tanda kompresi serebral

2. Dapat timbul nekrosis tekanan pada kulit.

P. Analgesia pendinginan local (local refrigeration analgesia). Metode ini dapat


berguna untuk menangani ekstremitas yang terluka parah yang memerlukan
amputasi.

1. Jaringan didinginkan selama kurang lebih 1 jam, kemudian berikan tornikuet.


Torniket harus cukup kencang sehingga jaringan yang berada pada distal tornikuet
menjadi pucat.

2. Ekstremitas ditempatkan pada tumpukan es batu dan didinginkan selama 2-3 jam,
tergantung apakah tangan atau kaki. Ekstremitas diposisikan agar air dari es yang
meleleh menjauh dari ekstremitas.

3. Pasien ditempatkan di meja operasi dan ekstremitas dikeringkan. Efek analgesia


akan berlangsung selama 1 jam.

4. Ketika pembuluh besar telah diikat, torniket dilepas, dan hemostasis yang adekuat
sudah tercapai.

5. Ulserasi dari jaringan tidak akan terjadi jika jaringan tidak terlalu beku dan tidak
terlalu tertekan.
6. Kekurangan dari prosedur ini adalah waktu persiapan dan usaha yang dibutuhkan
untuk persiapan.

Anda mungkin juga menyukai