Anda di halaman 1dari 45

ABSTRAK

SUTARYONO, S.Pd., M.M.Pd. Upaya Meningkatkan Kompetensi Pedagogik


Guru Melalui Supervisi Akademik di SMP Negeri 1 Terisi, Penelitian Tindakan
Sekolah (PTS), Indramayu: SMP Negeri 1 Terisi - Indramayu, Februari 2018.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui langkah-langkah yang tepat


dalam melaksanakan supervisi akademik sehingga mampu meningkatkan
kompetensi pedagogik guru terutama dalam proses pembelajaran yang pada
akhirnya akan berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan.
Penelitian dilakukan dengan dua siklus. Pada setiap siklus memiliki
perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi yang berbeda-beda. Subyek
penelitian kepala sekolah dan guru. Kepala sekolah dengan tindakan supervisi
akademiknya, sedangkan guru SMP Negeri 1 Terisi sebagai obyek sekaligus
subyek dalam pemberian perlakuan supervisi akademik. Teknik pengumpulan
data melalui supervisi kelas dengan tahapan mensupervisi guru dalam proses
pembelajaran dan pengamatan pembelajaran di kelas, untuk mencatat kejadian-
kejadian penting yang berhubungan dengan penelitian terutama pada waktu proses
pembelajaran berlangsung.
Teknik analisa data yang menjadi pedoman pengolahan data dengan
menggunakan prosentase (%) pencapaian dengan konstanta 100. Dan untuk
melihat interpertasi dengan menggunakan kriteria interpertasi skor untuk
memperkuat penafsiran dalam kesimpulan sebagai berikut: 80% - 100% (Baik
Sekali), 66% - 79% ( Baik), 56% - 65% (Cukup), dan 40% - 55% (Kurang).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam pelaksanaan proses
pembelajaran mengalami peningkatan prosentase pada tiap tahapannya, dari siklus
I mencapai rata-rata 63% (cukup) dan pada siklus II mencapai rata-rata 68%
(baik). Terdapat peningkatan kemampuan guru sebesar 5% dari siklus I. Secara
rinci terjadi peningkatan yang signifikan terhadap kondisi awal sekolah bila
dibandingkan dengan keadaan akhir pada siklus II. Ketepatan guru masuk ke
dalam kelas meningkat 48%, pemanfaatan media belajar meningkat 32%, metode
variatif meningkat 31%, dan strategi belajar meningkat 36%.

Kata Kunci: Kompetensi Pedagogik, Supervisi Akademik, dan Peningkatan Mutu


Pendidikan Menengah (SMP).

0
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007

tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah menegaskan bahwa seorang kepala

sekolah/madrasah harus memiliki lima dimensi kompetensi minimal yaitu:

kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial.

Permendiknas ini merupakan upaya yang sangat penting untuk menghasilkan

kepala sekolah/madrasah yang kuat di dalam mewujudkan kualitas siswa

yang diharapkan mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan berjiwa

kewirausahaan (entrepreneurship).

Salah satu tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi

akademik. Supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam

meningkatkan mutu proses pembelajaran. Sasaran supervisi akademik adalah

guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP,

pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan

teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil

pembelajaran serta penelitian tindakan kelas (Modul Supervisi Akademik,

Dirjen PMPTK, 2010).

Oleh karena itu, sekolah, sebagai institusi formal yang diharapkan

dapat mencetak siswa yang berkualitas, harus dijalankan oleh para pendidik

dan tenaga kependidikan yang memiliki profesionalisme yang tinggi untuk

memajukan sekolah. Tetapi berdasarkan pengamatan selama satu tahun

1
terakhir, terlihat motivasi dan profesionalisme dari sebagian guru cenderung

rendah dalam tugas-tugas mengajar. Hal tersebut dapat dinilai dari hal-hal

sebagai berikut: (1) Hanya 50% dari guru yang hadir tepat waktu di kelas

pada saat jam mengajar; (2) Hanya 30% dari guru yang memanfaatkan media

belajar pada saat mengajar; (3) Hanya 40% dari guru yang menggunakan

metode mengajar secara variatif; (4) Hanya 20% guru yang menggunakan

strategi belajar secara tepat. Selain masalah-masalah di atas, berdasarkan

laporan kemajuan pembelajaran triwulan I Tahun Pelajaran 2016/2017

terdapat sekitar 40% jumlah siswa perkelas, nilainya belum mencapai KKM.

Untuk mengatasi masalah di atas, penelitian ini akan melakukan

tindakan berupa supervisi akademik, agar motivasi serta profesionalisme guru

terutama dalam pengelolaan pembelajaran (kompetensi pedagogik) dapat

meningkat dengan baik. Menurut Sullivan dan Glantz (2005) supervisi adalah

pembinaan kinerja guru dalam mengelola pembelajaran. Sedangkan menurut

Sergiovanni (1987) ada dua tujuan supervisi; pengembangan profesional dan

motivasi kerja guru.

Melalui PTS ini diharapkan guru-guru dapat meningkatkan motivasi

serta profesionalismenya dalam melaksanakan tugas dan fungsi pokoknya

terutama pada kompetensi pedagogik (pengelolaan pembelajaran) sehingga

dapat meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

2
B. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang muncul dapat

diidentifikasi sebagai berikut:

1. Rendahnya motivasi serta profesionalisme guru dalam melaksanakan

tugas pokoknya sebagai pendidik terutama dalam proses pembelajaran

(kompetensi pedagogik)

2. Hanya 20% dari guru yang menggunakan strategi belajar secara tepat.

3. Hanya 50% dari guru yang hadir tepat waktu di kelas pada saat jam

mengajar.

4. Hanya 30% dari guru yang memanfaatkan media belajar pada saat

mengajar.

5. Hanya 40% dari guru yang menggunakan metode mengajar secara

variatif.

6. Dalam laporan kemajuan pembelajaran triwulan I Tahun Pelajaran

2016/2017 terdapat sekitar 40% jumlah siswa perkelas, nilainya belum

mencapai KKM.

C. PEMBATASAN MASALAH

Dalam penelitian ini, dari masalah-masalah yang telah teridentifikasi

seperti telah disebutkan di atas, maka masalah penelitian dibatasi pada

rendahnya kompetensi pedagogik guru dalam melaksanakan proses

pembelajaran.

3
D. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah yang telah

diuraikan di atas, maka masalah pokok dalam penelitian ini dapat dirumuskan

sebagai berikut:

1. Apakah melalui supervisi akademik dapat meningkatkan kompetensi

pedagogik guru?

2. Bagaimana langkah-langkah supervisi akademik agar dapat

meningkatkan kompetensi pedagogik guru?

E. PEMECAHAN MASALAH

Dalam memecahkan masalah di atas, pendekatan pemecahan masalah

yang dilakukan adalah dengan melaksanakan supervisi akademik terhadap

guru dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru.

F. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian tindakan sekolah ini bertujuan untuk:

1. Meningkatkan kompetensi pedagogik guru terutama dalam proses

pembelajaran melalui supervisi akademik.

2. Mengetahui langkah-langkah yang tepat dalam melaksanakan supervisi

akademik agar dapat meningkatkan kompetensi pedagogik guru.

G. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian tindakan sekolah ini diharapkan dapat memberi manfaat

bagi kepala sekolah dalam memecahkan masalah guru, meningkatkan

4
kompetensi pedagogik guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya,

meningkatkan prestasi siswa dalam pembelajaran, dan pada akhirnya mening-

katkan kinerja dan mutu sekolah secara keseluruhan.

Di samping itu, untuk menemukan langkah-langkah yang tepat dalam

melaksanakan supervisi akademik sehingga mampu meningkatkan

kompetensi pedagogik guru serta dapat menjadi referensi bagi tindakan

serupa untuk kasus yang sama bagi peneliti lain.

5
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. HAKIKAT KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU

Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005,

dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan profesional adalah pekerjaan atau

kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan

kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang

memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan

profesi. Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat

pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk

mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi guru sebagaimana

dimaksud meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik,

kompetensi profesional, dan kompetensi sosial yang diperoleh melalui

pendidikan profesi.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun

2008 Tentang Guru, bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas

utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,

dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur

pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Profesionalisme yaitu bekerja sesuai dengan keahliannya dan mampu

meningkatkan kualifikasi dan kemampuan sosial serta dibuktikan dengan

ijazah yang diakui yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Guru

yang profesional adalah guru yang memiliki seperangkat pengetahuan,

6
keterampilan, dan perilaku yang harus dihayati, dikuasai, dan

diaktualisasikan oleh Guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Guru yang profesional dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik harus

memiliki kompetensi pedagogik sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008, yaitu sekurang -

kurangnya meliputi:

a. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;

b. Pemahaman terhadap peserta didik;

c. Pengembangan kurikulum atau silabus;

d. Perancangan pembelajaran;

e. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;

f. Pemanfaatan teknologi pembelajaran;

g. Evaluasi hasil belajar; dan

h. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi

yang dimilikinya.

B. HAKIKAT SUPERVISI AKADEMIK

Satu di antara tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi

akademik. Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan

keterampilan konseptual, interpersonal dan teknikal (Glickman, at al; 2007).

Teknik-teknik supervisi akademik meliputi dua macam, yaitu: individual dan

kelompok (Gwyn, 1961).

Kompetensi supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam

meningkatkan mutu proses pembelajaran. Sasaran supervisi akademik adalah

7
guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, yang terdiri dari materi

pokok dalam proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP, pemilihan

strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi

informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta

penelitian tindakan kelas.

Dalam melaksanakan supervisi akademik dikenal dua model supervisi

yaitu:

1. Model Supervisi Tradisional

a. Observasi Langsung

Supervisi model ini dapat dilakukan dengan observasi

langsung kepada guru yang sedang mengajar melalui prosedur: pra-

observasi, observasi dan post-observasi.

1) Pra-Observasi

Sebelum observasi kelas, supervisor seharusnya

melakukan wawancara serta diskusi dengan guru yang akan

diamati. Isi diskusi dan wawancara tersebut mencakup

kurikulum, pendekatan, metode dan strategi, media pengajaran,

evaluasi dan analisis.

2) Observasi

Setelah wawancara dan diskusi mengenai apa yang akan

dilaksanakan guru dalam kegiatan belajar mengajar, kemudian

supervisor mengadakan observasi kelas. Observasi kelas

meliputi pendahuluan (apersepsi), pengembangan, penerapan

dan penutup.

8
3) Post-Observasi

Setelah observasi kelas selesai, sebaiknya supervisor

mengadakan wawancara dan diskusi tentang: kesan guru

terhadap penampilannya, identifikasi keberhasilan dan

kelemahan guru, identifikasi ketrampilan-ketrampilan mengajar

yang perlu ditingkatkan, gagasan-gagasan baru yang akan

dilakukan.

2. Supervisi Akademik dengan Cara Tidak Langsung

a. Tes Dadakan

Sebaiknya soal yang digunakan pada saat diadakan sudah

diketahui validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukarannya.

Soal yang diberikan sesuai dengan yang sudah dipelajari peserta

didik waktu itu.

b. Diskusi Kasus

Diskusi kasus berawal dari kasus-kasus yang ditemukan pada

observasi Proses Pembelajaran (PBM), laporan-laporan atau hasil

studi dokumentasi. Supervisor dengan guru mendiskusikan kasus

demi kasus, mencari akar permasalahan dan mencari berbagai

alternatif jalan keluarnya.

c. Metode angket

Angket ini berisi pokok-pokok pemikiran yang berkaitan erat

dan mencerminkan penampilan, kinerja guru, kualifikasi hubungan

guru dengan siswanya dan sebagainya.

9
2. Model Kontemporer (Masa Kini)

Supervisi akademik model kontemporer dilaksanakan dengan

pendekatan klinis, sehingga sering disebut juga sebagai model supervisi

klinis. Supervisi akademik dengan pendekatan klinis, merupakan

supervisi akademik yang bersifat kolaboratif. Prosedur supervisi klinis

sama dengan supervisi akademik langsung, yaitu: dengan observasi

kelas, namun pendekatannya berbeda.

Supervisi klinis adalah pembinaan kinerja guru dalam mengelola

proses pembelajaran (Sullivan & Glanz, 2005). Menurut Sergiovanni

(1987) ada dua tujuan supervisi klinis: pengembangan profesional dan

motivasi kerja guru.

Menurut Sullivan & Glanz (2005), pelaksanaan supervisi klinis

ada empat langkah yaitu:

a. Perencanaan pertemuan,

b. Observasi,

c. Pertemuan berikutnya, dan

d. Repleksi kolaborasi.

Langkah-langkah perencanaan pertemuan meliputi: 1)

memutuskan fokus observasi (pendekatan umum, informasi langsung,

kolaboratif, atau langsung diri sendiri), 2) menetapkan metode dan

formulir observasi, 3) mengatur waktu observasi dan pertemuan

berikutnya. Langkah-langkah observasi: a) memilih alat observasi, b)

melaksanakan observasi, c) memverifikasi hasil observasi dengan guru

pada pertemuan berikutnya, d) menganalisis data hasil verifikasi dan

10
menginterpretasi, dan e) memilih pendekatan interpersonal setelah

pertemuan berikutnya. Langkah-langkah pertemuan berikunya adalah

menentukan fokus dan waktu. Langkah-langkah refleksi kolaborasi: (1)

menemukan nilai-nilai apa? (2) mana yang kurang bernilai, (3) apa saran-

saran anda.

11
BAB III

METODE PENELITIAN

A. LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Terisi Kabupaten

Indramayu.

B. WAKTU DAN LAMA WAKTU PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 1 – 15 Februari 2017, selama

dua pekan.

C. SUBYEK DAN OBYEK PENELITIAN

Subyek penelitian kepala sekolah dan guru. Kepala sekolah dengan

tindakan supervisi akademiknya, sedangkan guru SMP Negeri 1 Terisi

sebagai obyek sekaligus subyek dalam pemberian perlakuan supervisi

akademik.

D. VARIABEL PENELITIAN

Variabel penelitian terdiri atas variabel bebas dan variabel terikat.

Variabel bebas (yang mempengaruhi) dalam penelitian ini adalah supervisi

klinis sedangkan variabel terikatnya (yang dipengaruhi) adalah kompetensi

pedagogik guru.

12
E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Teknik pengumpulan data melalui supervisi kelas.

1. Mensupervisi guru dalam proses pembelajaran.

2. Pengamatan pembelajaran di kelas, untuk mencatat kejadian-kejadian

penting yang berhubungan dengan penelitian terutama pada waktu proses

pembelajaran berlangsung.

F. TEKNIK PEMBAHASAN

Teknik pembahasan dilaksanakan dari hasil observasi dan evaluasi

dengan prosedur sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan,

(3) observasi dan evaluasi, (4) refleksi.

Adapun komponen yang dinilai sebagai berikut:

KRITERIA KETERANGAN/
NO. URAIAN KEGIATAN PENILAIAN DESKRIPTOR
1 2 3 4 YANG MUNCUL
1. Persiapan:
Masuk kelas tepat waktu.
Mengabsen siswa.
Mengecek kebersihan dan tempat
duduk siswa.
Memeriksa kelengkapan alat
pembelajaran.
2. Apersepsi:
Menjelaskan kompetensi dasar dan
tujuan pembelajaran.
Menyampaikan cakupan materi dan
keterkaitannya dengan materi
sebelumnya.
Menyampaikan uraian
kegiatan/langkah kegiatan sesuai
silabus.
Menyampaikan cakupan materi
kaitannya dengan kondisi nyata/riil.
3. Relevansi materi dengan tujuan

13
pembelajaran:
Materi sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
Materi diperkaya dengan
perkembangan terkini yang relevan.
Tersedia peta konsep (mind
maping) tujuan pembelajaran dan
materi ajar atau sejenisnya.
Materi disampaikan secara
sistematis sesuai tujuan
pembelajaran.
4. Penguasaan materi:
Tidak terpaku pada buku teks.
Mampu menjawab pertanyaan
siswa dan/atau menyelesaikan soal
tanpa keraguan.
Tidak diam sejenak atau bahkan
lupa ketika menjelaskan materi.
Mampu mengaitkan materi dengan
contoh nyata.

5. Strategi Belajar (eksplorasi,


elaborasi, dan konfirmasi):
Guru melakukan aktivitas tanya
jawab/diskusi/memperagakan
sesuatu atau sejenisnya untuk
menemukan hakikat materi yang
akan/sedang dibahas. (eksplorasi)
Guru memperdalam materi dengan
mengaitkan satu/beberapa materi
dengan materi sejenis untuk
memperluas wawasan
siswa.(elaborasi)
Guru melakukan serangkaian post-
test atau sejenisnya untuk
memastikan bahwa siswa
memahami materi yang telah
disampaikan. (konfirmasi)
Guru secara konsisten
melaksanakan tahapan eksplorasi,
elaborasi, dan konfirmasi sampai
akhir pelajaran.
6. Metode:
Metode variatif.
Metode sesuai tujuan pembelajaran.
Metode mampu mempermudah
materi.
Metode mampu mencapai

14
target/tujuan kegiatan.
7. Media:
Menggunakan media dan alat
pembelajaran.
Penggunaan media tepat
sasaran/sesuai tujuan.
Menggunakan media tanpa
hambatan teknis.
Media menarik perhatian.
8. Manajemen Kelas:
Kelas dalam kendali guru,
terpelihara sampai pembelajaran
selesai.
Mengatur posisi tempat duduk
siswa sehingga suasana belajar
menjadi kondusif.
Membimbing siswa secara
individual/kelompok.
Memberikan banyak kesempatan
kepada siswa untuk berpartisipasi.
9. Pemberian motivasi kepada siswa:
Memberikan penguatan atau
penghargaan (reward) kepada siswa
baik berupa kata-kata, sentuhan,
atau bentuk lainnya.
Melaksanakan penilaian selama
kegiatan berlangsung.
Mampu memberikan motivasi
dengan tepat.
Respon terhadap keadaan motivasi
belajar siswa dengan melakukan
aktivitas yang dapat meningkatkan
motivasi (kisah inspiratif, simulasi,
games, dll yang relevan dengan
materi ajar).

10. Nada dan suara:


Suara dapat didengar oleh seluruh
siswa di dalam kelas.
Memberikan penekanan khusus
pada kata/kalimat penting.
Suara berintonasi (tidak datar).
Artikulasi suara jelas.
11. Penggunaan bahasa:
Menggunakan bahasa Indonesia
yang baku (EYD).
Menghindari pemotongan kata
yang tidak perlu.

15
Menghindari pengulangan kata
yang sama dan/atau tidak perlu.
Menggunakan bahasa yang singkat
dan padat (tidak bertele-tele).

12. Gaya dan sikap perilaku:


Bertutur kata santun dan edukatif.
Berdiri tepat di depan kelas serta
tidak monoton pada satu posisi
(misal; dengan berkeliling).
Menggunakan bahasa tubuh secara
tepat.
Menegur dan menyelesaikan
dengan baik segala bentuk
gangguan dalam belajar.

JUMLAH NILAI RIIL = …………….


JUMLAH NILAI IDEAL = 48 KLASIFIKASI
…………………………………
NILAI PERSENTASE = ……………%

Adapun Teknik analisa data yang menjadi pedoman pengolahan data

oleh penulis, mengacu kepada pendapat M. Ngalim Purwanto (1987 : 172)

dengan rumus sebagai berikut:

P = R x 100
T

Keterangan :

P = Prosentase

R = Jumlah skor yang diperoleh

T = Jumlah total skor maksimal

100 = Konstanta

16
Dan untuk melihat interpertasi dengan menggunakan kriteria

interpertasi skor (Arikunto, 2009: 245) untuk memperkuat penafsiran dalam

kesimpulan sebagai berikut:

Angka 80% - 100% = Baik Sekali

Angka 66% - 79% = Baik

Angka 56% - 65% = Cukup

Angka 40% - 55% = Kurang

G. RANCANGAN TINDAKAN

Rancangan tindakan dilakukan dengan prosedur penelitian

berdasarkan pada prinsip Kemmis dan Taggart (1988) yang mencakup

kegiatan sebagai berikut : (1) perencanaan (planning) , (2) pelaksanaan

tindakan (action), 3) observasi (observation) , (4) refleksi (reflection) atau

evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk

siklus.

Perencanaan

Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan

Pengamatan

Gambar 1. Desain Penelitian Tindakan Sekolah

17
1. Siklus 1

a. Perencanaan

1) Sosialiasi tujuan dan ruang lingkup penelitian kepada guru.

2) Penjelasan fokus penelitian tentang Supervisi Akademik.

3) Diskusi tentang pelaksanaan proses pembelajaran yang ideal.

b. Pelaksanaan

1) Pada Pertemuan awal, peneliti mengumpulkan seluruh guru.

2) Menjelaskan maksud dan tujuan Penelitian Tindakan Sekolah.

3) Penjelasan tentang kompetensi pedagogik guru difokuskan pada

perbaikan komponen proses pembelajaran. Berikut pula

penjelasan tentang aspek yang akan diamati melalui deskriptor

setara.

4) Tanya jawab tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan

penelitian.

c. Observasi

1) Penulis melakukan pengamatan sesuai rencana dengan

menggunakan lembar observasi.

2) Menilai tindakan dengan menggunakan format evaluasi.

3) Pada tahap ini seorang guru melakukan pembelajaran sesuai

dengan aspek dan indikator yang telah dijelaskan sebelumnya,

penulis dan PKS kurikulum melakukan supervisi kelas dengan

menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan.

18
d. Refleksi

1) Pertemuan refleksi segera dilakukan secepatnya setelah kegiatan

pelaksanaan pembelajaran untuk memperoleh masukan dari

guru yang di supervisi tentang kesan yang dialaminya setelah

disupervisi.

2) Mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan dan

mendiskusikannya dengan guru yang telah disupervisi.

3) Tanggapan-tanggapan dari guru yang disupervisi yang

difokuskan pada pembelajaran siswa.

4) Kesimpulan dan saran untuk perbaikan pada tahap berikutnya.

2. Siklus II

a. Perencanaan

1) Menginformasikan kepada guru tentang hasil siklus I.

2) Menyampaikan hasil observasi proses pembelajaran melalui

deskriptor yang telah muncul.

3) Mengadakan Tanya jawab tentang kelemahan proses

pembelajaran yang telah terjadi.

b. Pelaksanaan

1) Menginformasikan kepada guru, tentang kesesuaian dan

kemajuan (progress) hasil observasi.

2) Mengadakan diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan

pelaksanaan proses pembelajaran, jika masih ada yang belum

dipahami.

19
3) Mengumpulkan dokumen-dokumen penilaian supervisi

kunjungan kelas.

c. Observasi

1) Penulis melakukan pengamatan sesuai rencana dengan

menggunakan lembar observasi terutama pada aspek dan

descriptor yang belum muncul pada siklus I.

2) Menilai tindakan dengan menggunakan format evaluasi.

3) Pada tahap ini seorang guru melakukan pembelajaran sesuai

dengan aspek dan indikator yang telah dijelaskan sebelumnya,

penulis dan PKS kurikulum melakukan supervisi kelas dengan

menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan.

d. Refleksi

1. Pertemuan refleksi segera dilakukan secepatnya setelah kegiatan

pelaksanaan pembelajaran untuk memperoleh masukan dari

guru yang di supervisi tentang kesan yang dialaminya setelah

disupervisi pada kali yang kedua.

2. Mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan dan

mendiskusikannya dengan guru yang telah disupervisi.

3. Tanggapan-tanggapan dari guru yang disupervisi yang

difokuskan pada pembelajaran siswa.

4. Kesimpulan dan saran.

20
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. KONDISI SEKOLAH

Berdasarkan pengamatan selama satu tahun terakhir baik secara

kualitatif dan kuantitatif, terlihat motivasi dan profesionalisme dari sebagian

guru cenderung rendah dalam tugas-tugas mengajar. Hal tersebut dapat dinilai

dari hal-hal sebagai berikut: (1) Hanya 20% dari guru yang menggunakan

strategi belajar secara tepat; (2) Hanya 50% dari guru yang hadir tepat waktu

di kelas pada saat jam mengajar; (3) Hanya 45% dari guru yang keluar tepat

waktu sesuai jadwal mengajar; (4) Hanya 30% dari guru yang memanfaatkan

media belajar pada saat mengajar; (5) Hanya 40% dari guru yang

menggunakan metode mengajar secara variatif. Selain masalah-masalah di

atas, berdasarkan laporan kemajuan pembelajaran semester genap Tahun

Pelajaran 2016/2017 terdapat sekitar 40% jumlah siswa perkelas, nilainya

belum mencapai KKM.

B. KEGIATAN SIKLUS 1

1. Perencanaan

a. Sosialiasi tujuan dan ruang lingkup penelitian kepada guru.

b. Penjelasan fokus penelitian tentang Supervisi Akademik.

c. Diskusi tentang pelaksanaan proses pembelajaran yang ideal.

2. Pelaksanaan

a. Pada Pertemuan awal, peneliti mengumpulkan seluruh guru.

21
b. Menjelaskan maksud dan tujuan Penelitian Tindakan Sekolah.

c. Penjelasan tentang kompetensi pedagogik guru difokuskan pada

perbaikan komponen proses pembelajaran. Berikut pula penjelasan

tentang aspek yang akan diamati melalui deskriptor setara.

d. Tanya jawab tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan

penelitian.

3. Observasi

a. Penulis melakukan pengamatan sesuai rencana dengan menggunakan

lembar observasi.

b. Menilai tindakan dengan menggunakan format evaluasi.

c. Pada tahap ini seorang guru melakukan pembelajaran sesuai dengan

aspek dan deskriptor yang telah dijelaskan sebelumnya, penulis dan

PKS kurikulum melakukan supervisi kelas dengan menggunakan

lembar observasi yang telah disiapkan.

Secara umum, pertemuan pertama dengan guru-guru berjalan

lancar, walaupun menyita waktu yang agak lama, serta dari hasil diskusi

ada beberapa orang guru yang merasa belum siap dan keberatan untuk

menyiapkan proses pembelajaran yang memenuhi aspek dan deskriptor

hanya dalam jangka waktu 1 (satu) minggu, tetapi setelah diberikan

penjelasan mereka dapat mengikuti dan memahami tujuan penelitian.

4. Refleksi

Pada awal siklus ini, hasil observasi peneliti yang dibantu oleh

kolega diperoleh gambaran bahwa hasil siklus I total skor terendah 61%

artinya bahwa tingkat pelaksanaan proses pembelajaran cukup dan skor

22
tertinggi 70% artinya berada pada interpretasi baik dan hasil prosentase

rata-rata dari seluruh guru yaitu 63% (cukup). (untuk lebih jelasnya lihat

tabel 1)

23
Tabel 1. REKAPITULASI HASIL KUNJUNGAN KELAS SIKLUS I

Hasil skor Aspek dan Deskriptor Yang Muncul


Nama
No. Kls Klts Knts 1 2 3 4 5 6
Guru/Mapel
a b c d a b c d a b c d a b c d a B c d a b c d
1. A 7-A Ckp 63 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 0

2. B 7-B Ckp 65 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0

3. C 8-A Ckp 60 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0

4. D 8-B Ckp 61 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0

5. E 9-A Ckp 63 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0

6. F 9-B Ckp 64 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0

7. G 7-A Baik 66 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0

8. H 7-B Baik 70 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0

9. I 8-A Ckp 65 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1

10. J 8-B Ckp 61 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0

11. K 9-A Ckp 64 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1

12. L 9-B Ckp 65 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0

24
767/
1 1 1 1 1 1 1
Rata-rata Nilai/Jumlah: Ckp 12= 9 6 6 7 5 7 8 9 5 7 8 4 8 6 9 8 2
2 2 1 0 2 1 0
64

Tabel 1 LANJUTAN. REKAPITULASI HASIL KUNJUNGAN KELAS SIKLUS I

Hasil skor Aspek dan Deskriptor Yang Muncul


Nama Klts Knts 7 8 9 10 11 12
No. Kls
Guru/Mapel c
a b c d a b c d a b c d a b c d a b c d a b d
c
1. A 8-B Ckp 63 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1

2. B 8-B Ckp 65 1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0

3. C 8-B Ckp 60 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0

4. D 9-A Ckp 61 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0

5. E 8-B Ckp 63 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0

6. F 7-B Ckp 64 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1

7. G 7-B Baik 66 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1

8. H 7-A Baik 70 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0

9. I 7-A Ckp 65 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1

25
10. J 8-B Ckp 61 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1

11. K 7-B Ckp 64 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0

12. L 7-A Ckp 65 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1


767/
1 1 1 1 1 1
Rata-rata Nilai/Jumlah: Ckp 12= 5 3 8 5 4 7 8 8 4 9 5 7 5 7 6 6 9 6
2 0 0 1 0 0
64

Keterangan:
1 = deskriptor pada aspek muncul
0 = deskriptor pada aspek tidak muncul

26
C. KEGIATAN SIKLUS 2

1. Perencanaan

a. Menginformasikan kepada guru tentang hasil siklus I.

b. Menyampaikan hasil observasi proses pembelajaran melalui deskriptor yang

telah muncul.

c. Mengadakan Tanya jawab tentang kelemahan proses pembelajaran yang

telah terjadi.

d. Pelaksanaan

e. Menginformasikan kepada guru, tentang kesesuaian dan kemajuan

(progress) hasil observasi.

f. Mengadakan diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan

proses pembelajaran, jika masih ada yang belum dipahami.

g. Mengumpulkan dokumen-dokumen penilaian supervisi kunjungan kelas.

2. Observasi

Penulis melakukan pengamatan sesuai rencana dengan menggunakan

lembar observasi terutama pada aspek dan deskriptor yang belum muncul pada

siklus I. Pada siklus II ini akan dilihat apakah deskriptor yang telah muncul pada

siklus I dapat secara konsisten muncul kembali pada siklus II disertai dengan

penambahan deskriptor yang belum muncul sebelumnya.

3. Refleksi

Pada Siklus II didapatkan hasil sebagaimana tertera pada tabel 2,

halaman 28 dan 29, dengan hasil pengamatan penulis pada siklus II sebagai

berikut:

27
Terjadi peningkatan prosentase tingkat kesesuaian, skor terendah 65%

(interpretasi cukup ), dan skor tertinggi 80 % (interpretasi Baik ) jika

dibandingkan dengan siklus I, dengan rata-rata 68% (interpretasi Baik).

28
Tabel 2. REKAPITULASI HASIL KUNJUNGAN KELAS SIKLUS II

Hasil skor Aspek dan Deskriptor Yang Muncul


Nama
No. Kls Klts Knts 1 2 3 4 5 6
Guru/Mapel
a b c d a b c d a b c d a b c d a b c d a b c d
1. A 7-A Baik 71 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 0

2. B 7-B Baik 70 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0

3. C 8-A Ckp 65 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0

4. D 8-B Ckp 72 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0

5. E 9-A Baik 66 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0

6. F 9-B Baik 67 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1

7. G 7-A Baik 68 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1

8. H 7-B Baik 80 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0

9. I 8-A Ckp 65 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1

1
10. J 8-B Ckp 65 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1
J
11. K 9-A Baik 69 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0

12. L 9-B Baik 66 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1

29
824/
1 1 1 1 1 1 1 1
Rata-rata Nilai: Baik 12= 9 9 9 9 9 7 9 7 6 6 9 6 8 4 8 5
2 2 2 1 0 1 0 1
68

Tabel 2 LANJUTAN. REKAPITULASI HASIL KUNJUNGAN KELAS SIKLUS II

Hasil skor Aspek dan Deskriptor Yang Muncul


Nama
No. Kls Klts Knts 7 8 9 10 11 12
Guru/Mapel
a b c d a b c d a b c d a b c d a b c d a b c d
1. A 8-B Baik 71 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1

2. B 8-B Baik 70 1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0

3. C 8-B Ckp 65 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0

4. D 9-A Ckp 72 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0

5. E 8-B Baik 66 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0

6. F 7-B Baik 67 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1

7. G 7-B Baik 68 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1

8. H 7-A Baik 80 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0

9. I 7-A Ckp 65 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1

30
10. J 8-B Ckp 65 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1

11. K 7-B Baik 69 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0

12. L 7-A Baik 66 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1


824/
1 1 1 1 1 1
Rata-rata Nilai: Baik 12= 5 3 8 5 4 7 8 8 4 9 5 7 5 7 6 6 9 6
2 0 0 1 0 0
68

Keterangan:
1 = deskriptor pada aspek muncul
0 = deskriptor pada aspek tidak muncul

31
D. PEMBAHASAN TIAP SIKLUS, ANTAR SIKLUS, DAN PERBANDINGAN

DENGAN KONDISI AWAL SEKOLAH

Berdasarkan hasil siklus I dan siklus II, kemampuan guru secara umum dalam

pelaksanaan proses pembelajaran mengalami peningkatan prosentase pada tiap

tahapannya, dari siklus I mencapai rata-rata 63% (cukup) dan pada siklus II

mencapai rata-rata 68% (baik). Terdapat peningkatan kemampuan guru sebesar 5%

dari siklus I.

Adapun ketercapaian kemampuan pada setiap indikator dan besarnya

prosentase pencapaian kemampuan pada setiap aspek dapat dilihat pada tabel 3 dan 4

berikut ini.

32
Tabel 3. Prosentase Ketercapaian Aspek dan Indikator Pada Siklus II dan Rata-Rata Prosentase Indikator Pada Setiap Aspek

Aspek dan Deskriptor Yang Muncul


1 2 3 4 5 6
a b c d a b c d a b c d a b c d a b c d a b c d
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 0
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0
1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1
1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0

1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1

1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1
1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0

1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1
12 12 12 11 10 11 9 9 9 9 9 7 9 7 6 6 9 6 8 4 8 10 11 5
10 10 10 92 83 92 75 75 75 75 75 58 75 58 50 50 75 50 67 33 67 83 92 42
0 0 0 % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % %

33
% % %
98% 81% 71% 58% 56% 71%

Aspek dan Deskriptor Yang Muncul


7 8 9 10 11 12
a B c d a b c d a b c d A b c d a b c d a b c d
1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1

1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0

1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0

1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0

1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0

1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1

1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1

1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0

1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1

1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1

1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0

34
1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1
12 10 5 3 8 10 5 4 7 8 8 4 9 5 7 5 11 7 6 6 9 10 10 6
10 83 42 25 67 83 42 33 58 67 67 33 75 42 58 42 92 58 50 50 75 83 83 50
0% % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % % %
62% 56% 56% 54% 62% 73%

35
Tabel 4. Rekapitulasi Prosentase Pada Setiap Aspek
Ketercapaian
No. Uraian Aspek Kategori
(%)

1. Persiapan 98 Baik Sekali

2. Apersepsi 81 Baik Sekali


Relevansi materi dengan tujuan
3. 71 Baik
pembelajaran
4. Penguasaan materi 58 Cukup
Strategi Belajar (eksplorasi, elaborasi, dan
5. 56 Cukup
konfirmasi)
6. Metode 71 Baik

7. Media 62 Cukup

8. Manajemen kelas 56 Cukup

9. Pemberian motivasi kepada siswa 56 Cukup

10. Nada dan Suara 54 Kurang

11. Penggunaan Bahasa 62 Cukup

12. Gaya dan Sikap Perilaku 73 Baik

36
Berdasarkan tabel 3 dan 4 di atas, masih terlihat aspek-aspek yang

membutuhkan perbaikan pada masa-masa yang akan datang. Walaupun demikian,

upaya memperbaiki keadaan awal sekolah dengan kondisi sebagaimana diuraikan

pada bagian (A) kondisi sekolah telah mengalami peningkatan. Berikut ini akan

dikomparasikan sejumlah keadaan awal dengan kondisi akhir pada siklus II pada

tabel 5.

Tabel 5. Komparasi Peningkatan Kondisi Awal Sekolah dengan Kondisi


Akhir Siklus II
Ketercapaian Ketercapaian
Selisih
No. Uraian Kondisi Keadaan Awal Keadaan Akhir
Peningkatan
(%) (Siklus II)
Masuk tepat
1. 50 98 48
waktu di kelas
Pemanfaatan
2. 30 62 32
media belajar
3. Metode variatif 40 71 31

4. Strategi belajar 20 56 36

37
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Kompetensi pedagogik guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran

mengalami peningkatan melalui supervisi akademik pada 2 (dua) siklus.

siklus I mencapai rata-rata 63% (cukup) dan pada siklus II mencapai rata-rata

68% (baik). Terdapat peningkatan kemampuan guru sebesar 5% dari siklus I.

Terjadi peningkatan yang signifikan terhadap kondisi awal sekolah

bila dibandingkan dengan keadaan akhir pada siklus II. Ketepatan guru masuk

ke dalam kelas meningkat 48%, pemanfaatan media belajar meningkat 32%,

metode variatif meningkat 31%, dan strategi belajar meningkat 36%.

B. SARAN

Pengumpulan data pada penelitian ini hanya berfokus pada hasil

observasi guru pada proses pembelajaran di kelas. Adapun hasil wawancara

guru dan siswa baik sebelum dan sesudah pelaksanaan supervisi tidak

menjadi bagian dalam teknik pengumpulan data pada penelitian ini mengingat

keterbatasan waktu yang ada.

Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang langkah-langkah perbaikan

pada aspek yang berkategori kurang maupun cukup melalui siklus ketiga dan

seterusnya.

38
Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang tingkat konsistensi

kemunculan deskriptor pada setiap siklus yang menjadi masa rentang

penelitian.

39
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi


Aksara.

Mukhtar dan Iskandar.2009. Orientasi Supervisi Pendidikan. Jakarta: GPP Press

Nawawi, Hadari.2006. Kepemimpinan Mengefektifkan Organsiasi. Yogyakarta:


Gadjah Mada University Press

Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005, Jakarta: Kementerian


Hukum dan HAM

Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Jakarta: Depdiknas.

PMPTK, Dirjen, Materi Supervisi Akademik Penguatan Kepala Sekolah dan


Pengawas, Jakarta: 2010.

Pidarta, Made. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta

Purwanto, M. Ngalim. 1987. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.


Bandung: Remaja Rosdakarya.

Riduwan.2007. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-karyawan dan peneliti


muda, Bandung : Alfabeta.

Tim Dosen Administrasi Pendidikan. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung:


Alfabeta

40
LEMBAR OBSERVASI GURU

INSTRUMEN KUNJUNGAN KELAS


PADA PROSES PEMBELAJARAN

Nama Guru :
Kelas :
Identitas Mata Pelajaran :
Standar Kompetensi :

Kompetensi Dasar :

Waktu :
Semester :
Hari/Tanggal :

KRITERIA KETERANGAN/
NO. URAIAN KEGIATAN PENILAIAN DESKRIPTOR
1 2 3 4 YANG MUNCUL
1. Persiapan:
Masuk kelas tepat waktu.
Mengabsen siswa.
Mengecek kebersihan dan tempat
duduk siswa.
Memeriksa kelengkapan alat
pembelajaran.
2. Apersepsi:
Menjelaskan kompetensi dasar dan
tujuan pembelajaran.
Menyampaikan cakupan materi dan
keterkaitannya dengan materi
sebelumnya.
Menyampaikan uraian
kegiatan/langkah kegiatan sesuai
silabus.
Menyampaikan cakupan materi
kaitannya dengan kondisi nyata/riil.
3. Relevansi materi dengan tujuan
pembelajaran:
Materi sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
Materi diperkaya dengan
perkembangan terkini yang relevan.
Tersedia peta konsep (mind
maping) tujuan pembelajaran dan
materi ajar atau sejenisnya.
Materi disampaikan secara

41
sistematis sesuai tujuan
pembelajaran.
4. Penguasaan materi:
Tidak terpaku pada buku teks.
Mampu menjawab pertanyaan
siswa dan/atau menyelesaikan soal
tanpa keraguan.
Tidak diam sejenak atau bahkan
lupa ketika menjelaskan materi.
Mampu mengaitkan materi dengan
contoh nyata.

5. Strategi Belajar (eksplorasi,


elaborasi, dan konfirmasi):
Guru melakukan aktivitas tanya
jawab/diskusi/memperagakan
sesuatu atau sejenisnya untuk
menemukan hakikat materi yang
akan/sedang dibahas. (eksplorasi)
Guru memperdalam materi dengan
mengaitkan satu/beberapa materi
dengan materi sejenis untuk
memperluas wawasan
siswa.(elaborasi)
Guru melakukan serangkaian post-
test atau sejenisnya untuk
memastikan bahwa siswa
memahami materi yang telah
disampaikan. (konfirmasi)
Guru secara konsisten
melaksanakan tahapan eksplorasi,
elaborasi, dan konfirmasi sampai
akhir pelajaran.
6. Metode:
Metode variatif.
Metode sesuai tujuan pembelajaran.
Metode mampu mempermudah
materi.
Metode mampu mencapai
target/tujuan kegiatan.
7. Media:
Menggunakan media dan alat
pembelajaran.
Penggunaan media tepat
sasaran/sesuai tujuan.
Menggunakan media tanpa
hambatan teknis.
Media menarik perhatian.

42
8. Manajemen Kelas:
Kelas dalam kendali guru,
terpelihara sampai pembelajaran
selesai.
Mengatur posisi tempat duduk
siswa sehingga suasana belajar
menjadi kondusif.
Membimbing siswa secara
individual/kelompok.
Memberikan banyak kesempatan
kepada siswa untuk berpartisipasi.
9. Pemberian motivasi kepada
siswa:
Memberikan penguatan atau
penghargaan (reward) kepada siswa
baik berupa kata-kata, sentuhan,
atau bentuk lainnya.
Melaksanakan penilaian selama
kegiatan berlangsung.
Mampu memberikan motivasi
dengan tepat.
Respon terhadap keadaan motivasi
belajar siswa dengan melakukan
aktivitas yang dapat meningkatkan
motivasi (kisah inspiratif, simulasi,
games, dll yang relevan dengan
materi ajar).

10. Nada dan suara:


Suara dapat didengar oleh seluruh
siswa di dalam kelas.
Memberikan penekanan khusus
pada kata/kalimat penting.
Suara berintonasi (tidak datar).
Artikulasi suara jelas.
11. Penggunaan bahasa:
Menggunakan bahasa Indonesia
yang baku (EYD).
Menghindari pemotongan kata
yang tidak perlu.
Menghindari pengulangan kata
yang sama dan/atau tidak perlu.
Menggunakan bahasa yang singkat
dan padat (tidak bertele-tele).

12. Gaya dan sikap perilaku:


Bertutur kata santun dan edukatif.
Berdiri tepat di depan kelas serta

43
tidak monoton pada satu posisi
(misal; dengan berkeliling).
Menggunakan bahasa tubuh secara
tepat.
Menegur dan menyelesaikan
dengan baik segala bentuk
gangguan dalam belajar.

JUMLAH NILAI RIIL = …………….


JUMLAH NILAI IDEAL = 48 KLASIFIKASI
NILAI PERSENTASE = ……………% …………………………………

Saran Pembinaan:
A : Baik Sekali : 80% -
100% ................................................................................
B : Baik : 66% -
79%
C : Cukup : 56% - ................................................................................
65%
D : Kurang : 40% -
55% ................................................................................

................................................................................

................................................................................

Terisi, ……………………….
Guru Mata Pelajaran, Kepala SMP Negeri 1 Terisi,

_________________________ SUTARYONO, S.Pd, M.M.Pd.


NIP. 19650412 199103 2 005 NIP. 19631002 199412 1 001

44