Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PEMBAHASAN

A. Definisi Tradisi Peta Kapanca


1. Pengertian Peta Kapanca

Tradisi Peta Kapanca merupakan salah satu bagian dari prosesi


perkawinan Adat Bima yang dilaksanakan pada malam hari, dan biasanya
dilaksanakan di “UMA RUKA” (Rumah Mahligai atau Peraduan) atau juga dapat
dilaksanakan dirumah pengantin perempuan. Tradisi Peta Kapanca ini
dilaksanakan sehari sebelum dilaksanakan Akad Nikah dan Resepsi perkawinan.
Biasanya acara ini diikuti oleh Ibu-ibu dan remaja perempuan lainnya agar
mengikuti jejak calon pengantin wanita yang sedang mempersiapkan diri menjadi
seorang Ratu yang akan mengakhiri masa lajangnya. Sehingga mereka dapat
mengambil hikmahnya dalam mengakhiri masa lajangnya kelak. Peta Kapanca
adalah melumatkan Daun pacar (Inai) pada kuku, telapak tangan dan kaki calon
pengantin wanita yang dilakukan secara bergantian oleh ibu-ibu dan tamu
undangan yang semuanya adalah kaum wanita.
Dalam acara ini biasanya ada rangkaian bunga-bunga telur yang pada saatnya
nanti akan diperuntukan bagi Ibu-ibu undangan yang masih memiliki anak gadis,
bunga-bunga telur ini diberikan kepada anak gadis mereka, telurnya untuk
dikonsumsi anak gadisnya sedangkan rangkaian bunga dijadikan hiasan pada
kamar anak gadisnya. Katanya dengan memakan dan lalu menyimpan bunga-
bunga telur ini, maka mereka akan cepat mendapatkan jodoh.
Itulah sebabnya upacara kapanca ini merupakan dambaan para ibu dalam
masyarakat Bima, di mana mereka mengharapkan puteri-puteri mereka segera
melewati upacara yang sama yang menandai hari bahagia mereka seperti malam
ini, maksud dan tujuan pengantin wanita dilumuti dengan daun pacar pada kuku,
telapak tangan dan kaki pengantin wanita tadi, menandakan diri mereka yang
tadinya bermanja-manja dengan memanjakan kukunya dan bermalas-malasan, lalu
tangan dan kaki yang mulus ini dikotori dengan daun pacar ini memberitahukan
kepada kita semua anak kita ini/adik kita ini dalam waktu yang tidak lama lagi
akan melakukan tugas dan fungsi sebagai ibu rumah tangga atau istri dan akan
mulai berkerja keras dan rajin demi mencapai rumah tangga yang bahagia dan
sejahtera mawadah warahmah dunia akhirat.
2. Prosesi Peta Kapanca
Dalam tradisi Peta Kapanca, ada beberpa prosesi yang dilakukan, berikut
proses-proses tersebut :
a. Sangongo
Sangongo merupakan proses pemberian parfum kepada calon mempelai
perempuan dengan cara diuapkan ke seluruh tubuhya sang calon mempelai
perempuan atau dengan istilah yang kita ketahui saat ini, yaitu spa (mandi uap).
Proses penguapan ini dilakukan dengan menggunakan rempah-rempah yang
dimasukkan kedalam air yang berfungsi untuk membersihkan tubuh dan
bunga-bunga atau daun pandan untuk mewangikan badan. Sangongo sendiri
dilakukan sebelum Peta Kapanca dengan maksud agar sang calon mempelai
perempuan sudah mulai harus dapat menjaga dan merawat tubuh nya dengan
baik.
b. Boho Oi Ndeu
Boho Oi Ndeu seperti artinya, merupakan prosesi siraman atau
memandikkan sang calon mempelai perempuan. Boho Oi Ndeu dilakukan
Inang Pengasuh Pengantin sebelum pengantin wanita di rias dan dibawah
singgasana Ratu semalam.

c. Zikir Kapanca
Sebelum Peta Kapanca dimulai, terlebih dahulu dilakukan zikir oleh
beberapa orang sambil memegang dan melambaikan sapu tangan kuning. Hal
ini dimaksudkan agar Allah meridhai rumah tangga yang dirajut pasangan.
Dibeberapa daerah zikir kapanca ini berbeda-beda intonasinya. Zikir kapanca
ini biasanya di dendangkan oleh ketua adat (Lebe) tujuan adalah untuk
meminta do’a supaya Allah SAW memberkahi pernikahannya dan menjadikan
keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.
d. Peta Kapanca

Saat upacara kapanca ini, calon pengantin wanita akan dirias layaknya
riasan pengantin serta memakai pakaian adat lalu didudukkan di tengah tamu
yang hadir. Penempelan Kapanca sendiri dilakukan terlebih dahulu oleh wanita
terhormat dari dua belah pihak keluarga, lalu dilanjutkan dengan anggota
keluarganya yang lain.

Gambar 1.1 Penempelan Kapanca pada mempelai wanita yang dilakukan oleh para tamu
(Sumber : https://alanmalingi.wordpress.com/2010/04/09/upacara-peta-kapanca)

Dalam prosesi ini ada beberapa hal yang harus diketahui :

 7 lilin yang harus dinyalakan dan 7 orang yang akan menempelkan pacar.
karena pernikahan itu harus diterangi dengan cahaya yang bisa menerangi
di tengah gelapnya kehidupan ini. Jumlahnya 7 itu menunjukan bahwa
semua yang diciptakan oleh Tuhan itu identik dengan 7 seperti tujuh lapis
langit dan bumi dsb.
Gambar 1.2

(Sumber : https://alanmalingi.wordpress.com/2010/04/09/upacara-peta-kapanca)

 Menggunakan daun inai/pacar. Daun inai/pacar digunakan karena


penggunaan daun pacar ini disunahkan dalam islam dan tidak
membatalkan wudhu serta baik untuk kesehatan juga

Gambar 1.3 Daun Pacar yang sedang dilumatkan

(Sumber : https://alanmalingi.wordpress.com/2010/04/09/upacara-peta-kapanca/)

 Menempelkan kapanca di kuku calon mempelai wanita. Hal ini


menandakan bahwa wanita ini sudah ada yang meminang dan akan segera
diakad dan akan segera melepas masa lajangnya.
Gambar 1.4 Penempelan daun pacar

(Sumber : https://alanmalingi.wordpress.com/2010/04/09/upacara-peta-kapanca/)

 Menempelkan pacar pada telapak tangan. Hal ini diharapakan agar calon
mempelai wanita diharapkan dapat menerima calon mempelai pria dengan
apa adanya dan harus bersyukur dengan jodoh yang telah diberikan oleh
Tuhan yang Maha Esa.

Gambar 1.5

(Sumber : https://alanmalingi.wordpress.com/2010/04/09/upacara-peta-kapanca/)

 Bunga-bunga telur yang ditancap pada batang pohon pisang. Telur ini
tidak boleh dimakan oleh wanita yang sudah berkeluarga akan tetapi telur
ini akan dibawakan oleh ibu-ibu untuk anaknya dan berharap anaknya
akan segera dipinang.
Gambar 1.6

(Sumber : https://alanmalingi.wordpress.com/2010/04/09/upacara-peta-kapanca/)

 Beras yang diberi pewarna kuning. Setiap ibu-ibu melakukan peta kapanca
biasanya menebar beras yang telah diberi pewarna kuning dulu. Beras itu
memberikan simbol kesejahteraan dan kebahagiaan serta akan mengusir
pengganggu yang akan mengganggu rumah tangganya nanti.
e. Rawa Mbojo
Rawa mbojo ini semacam nyanyian tradisional masyarakat Bima yang
syairnya berupa pantun dan nasihat untuk calon pengantin sambil diiringi suara
alat musik biola dan gentaong. Rawa mbojo ini mengandung nilai hiburan dan
menandakan rasa bahagianya keluarga calon mempelai wanita atas
dipinangnya anak perempuan. Dan biasanya Rawa Mbojo ini digelar semalam
suntuk.
B. Asal Mula Peta Kapanca

Bima yang juga dikenal dengan Dana Mbojo dahulu dibagi menjadi 4 jaman,
yaitu jaman Naka (Prasejarah/Animisme), jaman Ncuhi (Proto Sejarah), jaman
Kerajaan (Masa Klasik), dan jaman Kesultanan (Masa Islam).

 Jaman Naka (Prasejarah)

Kebudayaan masyarakat Bima pada jaman Naka masih sangat sederhana.


Masyarakat belum mengenal sistem ilmu pengetahuan dan teknologi, pertanian,
peternakan, pertukangan atau perindustrian serta perniagaan dan pelayaran. Untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mencari dan mengumpulkan kekayaan
alam yang ada disekitarnya seperti umbia-umbian, biji-bijian dan buah-buahan.
Selain mencari dan mengumpulkan makanan untuk kebutuhan sehari-hari, mereka
juga sudah gemar berburu. Kehidupan masyarakat pada jaman Naka (Prasejarah)
selalu berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain. Masyarakat pada jaman
Naka sudah mengenal agama atau kepercayaan. Kepercayaan yang meraka anut
pada masa itu disebut Makakamba dan Makakimbi, yang dalam ilmu sejarah
disebut kepercayaan Animisme dan Dinamisme.

 Jaman Ncuhi (Proto Sejarah)

Demikian jaman Naka berakhir, masyarakat Bima memasuki jaman baru,


yaitu jaman Ncuhi. Pada jaman Ncuhi, sekitar abad ke 8 M, masyarakat Bima
mulai berhubungan dengan para pedagang dan musafir yang berasal dari daerah
lain. Para pedagang dan musafir itu berasal dari Jawa, Sulawesi Selatan, Sumatera
dan Ternate. Pada saat itulah masyarakat Bima sudah mengenal sistem ilmu
pengetahuan dan teknologi, pertanian, peternakan, pertukangan dan pelayaran
serta perniagaan. Sejak itulah keadaan Dana Mbojo sudah mulai berubah dan
masyarakat sudah mulai tinggal menetap dan mendirikan rumah. Keadaan pun
mulai berkembang, sehingga lahirlah istilah dou Labo Dana (Rakyat dan Negeri)
yaitu adanya Kampung, Kota dan Desa, dan pemimpin mereka pada saat itu
disebut Ncuhi. Ncuhi bukan hanya sebagai pemimpin pemerintahan, tetapi Ncuhi
juga sebagai pemimpin agama. Disini Ncuhi bukan hanya berperan sebagai
“Hawo Ro Ninu” rakyat (Pengayom dan Pelindung rakyat), tetapi Ncuhi juga
harus memegang teguh falsafah Maja Labo Dahu (Malu dan Takut). Ncuhi pada
jaman itu ada lima, dari kelima Ncuhi tersebut, yang bertindak selaku pemimpin
dari Ncuhi lainnya adalah Ncuhi Dara. Berikut nama Ncuhi dan wilayah-wilayah
yang dipegang oleh masing-masing Ncuhi :

 Ncuhi Dara diangkat menjadi pemimpin seluruh Ncuhi sekaligus


pemimpin di wilayah Mbojo/Bima bagian Tengah;
 Ncuhi Parewa diangkat menjadi pemimpin di wilayah Selatan, yaitu di
kecamatan Belo, Woha dan Monta sekarang;
 Ncuhi Bangga Pupa diangkat menjadi pemimpin di wilayah Utara, yaitu di
kecamatan Wera sekarang;
 Ncuhi Bolo diangkat menjadi pemimpin di wilayah Barat, yaitu di
kecamatan Bolo dan Donggo sekarang;
 Ncuhi Doro Woni diangkat menjadi pemimpin di wilayah Timur, yaitu di
kecamatan Wawo dan Sape sekarang;

Gabungan dari seluruh wilayah Dana Mbojo atau Bima ini, diberi nama Babuju.
Sesuai dengan nama tempat dalam Mbolo Ro Dampa. Nama Mbojo berasal dari
kata Babuju.

 Jaman Kerajaan (Masa Klasik)

Dahulu saat Bima masih dalam masa Proto Sejarah/ Jaman Ncuhi, menurut
legenda yang pernah ada di Dana Mbojo tepatnya terdapat dalam kitab BO
(catatan kuno kerajaan Bima) bahwa dahulu ada seorang pemuda yang pertama
kali berlabuh di pulau Satonda, kemudian bertemu dengan seekor naga bersisik
emas. Sang naga melahirkan seorang putri dan kemudian diberi nama putri Tasi
Sari Naga. Pemuda itu bernama Sang Bima, lalu menikahi putri Tasi Sari Naga
dan melahirkan dua orang putra yang bernama Indra Zamrud dan Indra Kumala.
Menurut cerita yang terdapat dalam kitab BO Sang Bima juga diduga seorang
bangsawan Jawa. Sang Bima tercatat dalam kitab Negarakertagama, wilayah
kekuasaan Majapahit.

Sebelum mendirikan kerajaan, semua Ncuhi membentuk kesatuan wilayah di


bawah pimpinan Ncuhi Dara. Selama puluhan tahun Sang Bima berada di Jawa
Timur, Sang Bima mengirim dua orang putranya, yaitu Indra Zamrud dan Indra
Kumala. Indra Zamrud dijadikan anak angkat oleh Ncuhi Dara sedangkan Indra
Kumala dijadikan anak angkat oleh Ncuhi Doro Woni. Kemudian semua Ncuhi
melakukan Mbolo Ro Dampa (musyawarah) untuk menentukan siapa yang akan
menjadi pemimpin atau raja di Bima dan Dompu. Lalu berdasarkan hasil
kesepakatan dari semua Ncuhi, akhirnya Indra Zamrud dijadikan sebagai sangaji
atau raja di Bima sedangkan Indra Kumala dijadikan sebagai sangaji atau raja di
Dompu. Indra Zamrud di Tuha Ro Lanti atau dinobatkan menjadi sangaji atau raja
pertama di Bima. Setelah Indra Zamrud memiliki ilmu pengetahuan dalam
pemerintahan. Maka, berakhirlah jaman Ncuhi dan masyarakat Bima memasuki
jaman baru, yaitu jaman Kerajaan. Dan kepemimpinan bukan lagi dipegang oleh
Ncuhi, tetapi dipegang oleh sangaji atau raja. Sejak berdirinya kerajaan sekitar
pertengahan abad 11 M, Dana Mbojo memiliki dua nama, yaitu nama Mbojo dan
Bima.

 Jaman Kesultanan (Masa Islam)

Pada masa tahta Raja Rumata manuru Salisi mulailah di kenal agama Islam.
Kerajaan Bima pada waktu itu sekitar tahun 1618-1619 di Islamkan oleh Sultan
Goa dari Makassar. Rumata manuru Salisi digantikan oleh keponakannya anak
dari Rumata Mantau Asi Sawo bernama Al-Sultan Abdul Kahir al-Marhum
dengan gelar Rumata Mantau Bata Wadu pada tanggal 5 Juli tahun 1640 M. Pada
massa Rumata Mantau Bata Wadu peralihan dari model Kerjaan menjadi
Kesultanan setelah Bima dikalahkan dua kali oleh armada Makassar pada tahun
1618-1619, Dengan kekalahan ini Bima berkewajiban membayar upeti setiap
tahunnya, Raja Bima pertama kali masuk Islam pada tanggal 7 Februari 1621 dia
digelarkan Sultan Abdul Kahir al-Marhum. Sultan Abdul Kahir al-Marhum
dididik agama Islam oleh dua orang mubalik dari Sumatra, yaitu Datuk ri
Bandang dan Datuk ri Tiro. Jaman Sultan pun terus berlanjut selama beberapa
generasi Sangaji, hingga akhirnya berakhir pada masa kesultanan Muhammmad
Salahudiin pada tahun 1888 dengan gelar Ma Kadidi Agama. Sultan
Muhammmad Salahudiin memimpin kesultanan Bima hingga tahun 1917. Sultan
Muhammmad Salahuddin mempunyai dua orang anak Abdul Kahir II (Ama Ka'u
Kahi) yang biasa dipanggil dengan Putra Kahi dan St Maryam Rahman (Ina Ka'u
Mari). Masa pemerintahan Sultan Muhammmad Salahudiin adalah masa
pemerintahan terakhir kesultanan Bima karena setelah itu tidak ada lagi diangkat
sultan.
Gambar 2.1 Sultan Muhammad Salahuddin sekitar tahun 1930

(Sumber : https://alanmalingi.wordpress.com/2010/04/09/upacara-peta-kapanca/)

Dengan berakhirnya masa Kesultanan ini maka Dana Mbojo memasuki era
baru, yaitu era modern. Walaupun sekarang Bima sudah dimasuki kehidupan
modern saat ini namun tidak melupakan begitu saja tradisi dan budaya warisan
leluhurnya. Hal ini terbukti hingga saat, almarhum Ferry Zulkarnain yang masih
memiliki darah kesultanan Bima (Raja Bima masa kini) tetap menjaga dan
melestarikan adat yang sudah berjalan beratus-ratus lamanya.

Salah satu tradisi warisan yang melekat dan dibudayakan hingga saat ini
adalah Peta Kapanca. Peta Kapanca sendiri merupakan bentuk nyata keseriusan
masyarakat Bima dalam melestarikan budaya tempo dulu, dengan cara pemerintah
Kabupaten Bima mewajibkan warga masyarakat yang melangsungkan acara
pernikahan anaknya mengadakan acara Peta Kapanca.

Peta Kapanca sendiri merupakan tradisi warisan yang telah ada sejak jaman
Ncuhi (Proto Sejarah). Tradisi ini sebenarnya berasal dari agama hindu yang di
bawa oleh Brahmana yang pernah menginjakan kakinya di Dana Mbojo atau
Bima. Dahulu jauh sebelum Bima mengenal Islam, masyarakat Bima
mayoritasnya beragama Hindu. Tradisi peta kapanca ini kemudian dilakukan dan
lalu diajarkan oleh para Ncuhi kepada masyrakat Dana Mbojo. Tradisi peta
kapanca sendiri dilakukan oleh masyarakat Dana Mbojo untuk menandakan para
wanita suci atau wanita yang menjadi milik Dewa. Tradisi ini dilakukan sebagai
bukti rasa hormat dan kesetiaan mereka kepada Tuhan/Dewa yang mereka
percayai pada saat itu.

Kemudian pada jaman Kerajaan (Masa Klasik) tradisi peta kapanca ini
mengalami perubahan makna. Dahulunya tradisi ini dilakukan hanya untuk
menandai para wanita akan menjadi milik Dewa, namun pada jaman Kerajaan
tradisi ini mulai dilakukan untuk para wanita yang akan menikah sebagai tanda
bahwa mereka akan memulai kehidupan yang baru. Dan akhirnya tradisi ini pun
menjadi upacara yang wajib dilakukan sebelum pernikahan dilakukan.

C. Perkembangan Tradisi Peta Kapanca

Tradisi Peta Kapanca saat ini mulai mengalami perubahan. Sekarang makna
dari tradisi Peta Kapanca mulai melenceng dari makna sesungguhnya, yang
sebelumnya bermakna sebagai jembatan untuk mencapai pernikahan yang sakinah
mawadah warahmah dengan segala prosesi dan ketentuan tradisinya, sekarang
hanya dipandang sebagai upacara pernikahan biasa. Walau memang tidak semua
kalangan masyarakat berpandangan seperti itu, namun jika hal ini terus dibiarkan,
maka lambat laun tradisi ini pun akan perlahan menghilang.

Selain maknanya yang melenceng, prosesinya juga mulai mengalami


perubahan. Seperti contohnya, jika Peta Kapanca yang sebelumnya diwajibkan
menggunakan daun inai/pacar, sekarang banyak masyarakat yang menggunakan
Henna kemasan untuk prosesi tersebut. Selain itu, dahulu Peta Kapanca hanya di
tempelkan pada kuku kaki dan tangan, dan telapak tangan saja. Namun sekarang
Kapanca tidak di tempelkan, melainkan dilukiskan diseluruh daerah tangan dan
kaki.
Gambar 3.1

(Sumber : https://alanmalingi.wordpress.com/2010/04/09/upacara-peta-kapanca/)

D. Contoh Daerah Lain Yang Memiliki Tradisi Yang Mirip Dengan Peta
Kapanca
1. Malam Bohgaca dari Aceh
Arti dari Malam Bohgaca adalah Malam Berinai (mengenakan pacar atau inai)
dan dilakukan sebelum akad nikah dilangsungkan.Daun pacar/inai melambangkan
isteri sebagai obat pelipur lara sekaligus sebagai perhiasan rumah tangga. Daun
pacar yang sudah di lepas dari tangkainya, ditempatkan dalam piring besar
kemudian ditumbuk. Daun pacar ini akan dipakaikan beberapa kali sampai
menghasilkan warna merah yang terlihat alami.
2. Malam Bainai dari Minangkabau
Malam Bainai di Minangkabau adalah malam seribu harapan, seribu doa bagi
kebahagiaan rumah tangga anak dara yang akan melangsungkan pernikahan esok
harinya. Tumbukkan daun inai atau daun pacar, ditorehkan pada kuku calon
mempelai oleh orang tua, ninik mamak, saudara, handaitaulan dan orang-orang
terkasih lainnya.
3. Upacara Mehndi dari India
Di India, mehndi merupakan salah satu cara mempercantik diri selain
memakai make up atau perhiasan. Bisa dipakai sehari-hari, atau memegang peran
penting dalam acara khusus seperti pernikahan. Biasanya 2 atau 3 hari sebelum
pernikahan dilangsungkan, mempelai perempuan akan menghadiri pesta mehndi
yang diselenggarakan bersama keluarga dan teman.
Tangan mempelai perempuan akan dihias mehndi dari ujung jari sampai siku,
dan di kaki dari ujung kaki sampai lutut. Nama mempelai laki-laki akan dituliskan
secara tersembunyi di sela-sela mehndi yang dipasang dan akan dijadikan
permainan kuis pencarian nama calonnya. Pada saat sebelum pernikahan dimulai
diadakan permainan dimana mempelai laki-laki harus menemukan lebih dahulu
dimana tulisan namanya disembunyikan. Kadang mempelai laki-laki pun dihiasi
dengan mehndi.
BAB II
PENGKAITAN MATERI

A. Koentjaraningrat
Kebudayaan umat manusia mempunyai tiga wujud dan tujuh unsur yang
bersifat universal. Unsur-unsur tersebut dianggap universal karena dapat
ditemukan pada semua kebudayaan bangsa-bangsa didunia. Menurut
koentjaraningrat ada tujuh tujuh kebudayaan universal, yaitu : bahasa, sistem
pengetahuan, organisasi sosial, sistem ekonomi, sistem teknologi, sistem
kesenian, dan sistem religi. Dalam makalah ini sendiri ada beberapa unsur yang
termasuk dalam unsur universal, yaitu :
1. Organisasi Sosial
Dalam tradisi peta kapanca ini, ada yang namanya mbolo weki. Mbolo weki
artinya berkumpul dalam bahasa Indonesia, dalam mbolo weki ini kita diajarkan
tentang bagaimana besosialisasi dan bertukar pendapat dengan berbagai orang.
Unsur organisasi sosial ini sendiri terletak pada interaksi dan antusias masyarakat
Bima saat mengikuti tradisi peta kapanca.
2. Sistem Religi
Tradisi peta kapanca memang dikenal sebagai warisan budaya bawaan dari
jaman Ncuhi (Proto Sejarah) yang dahulu diperkenalkan oleh para Brahmana yang
menganut agama Hindu, sebagai bukti kesetiaan mereka terhadap para dewa.
Namun sekarang tradisi peta kapanca sudah diadaptasikan kedalam agama islam,
sebagai contohnya ada zikir kapanca dalam prosesi upacara kapanca. Hal ini
membuktikan bahwa selain bermakna sebagai suatu tradisi yang wajib
dilestarikan, tradisi peta kapanca sendiri memiliki nilai religius didalamnya.
3. Sistem Kesenian
Selain memiliki nilai sosial dan religi, tradisi peta kapanca juga memiliki nilai
seni. Hal ini ditunjukkan pada prosesinya yang menghias calon mempelai wanita
dengan cara tradisional dan diiringi dengan beberapa hiburan didalamnya, seperti
tarian, permainan tradisional, dan rawa mbojo. Rawa mbojo merupakan seni
musik tradisional, berupa nyanyian yang menggunakan bahasa mbojo/Bima yang
diiringi dengan musik berupa violin/biola dan gentaong/gendang.
Selain tiga unsur yang bersifat universal ini, ada pembahsan dalam makalah ini
yang terkait dengan tiga perwujudhan budaya, yaitu wujud idiil atau mentifact
(ide, gagasan, nilai, norma), wujud sosial atau sosiofact (perbuatan, tingkah laku,
aktifitas), dan wujud fidik atau artifact (benda berwujud nyata hasil karya cipta
manusia), yaitu :
1. Wujud Mentifact
Wujud ide/metifact dari pembahasan makalah ini, yaitu dari keinginan para
Brahmana yang ingin menyebar luaskan ajaran agama Hindu di tanah Bima
dengan memperkenalkan suatu ritual keagamaan yang kemudian diadaptasikan
lagi mengikuti perkembangan jaman oleh Sangaji atau Raja Bima, hingga
akhirnya menjadi suatu tradisi yang menjadi warisan budaya yang turun temurun
dan dikenal hingga sekarang.
2. Wujud Sosiofact
Wujud social/sosiofact dapat kita lihat dari keterlibatan masyarakat Bima
dalam upacara peta kapanca yang melibatkan suatu aktifitas atau interaksi dari
individu anggota masyarakat yang berpola yang bertujuan untuk mengindahkan
dan melancarkan prosesi upacara tersebut.
3. Wujud Artifact
Wujud fisik/artifact dalam tradisi peta kapanca ini dapat terlihat pada inti dari
upacara itu sendiri yaitu penempelan daun pacar yang telah dilumatkan kepada
kuku kaki, dan tangan sang calon mempelai wanita sebagai tanda bahwa sebentar
lagi ia akan menempuh hidup baru dengan status yang baru pula.
B. Kebudayaan dan Peradaban
Dana Mbojo/Bima telah mulai membentuk peradaban sejak jaman Ncuhi
(Proto Sejarah) berlangsung, namun peradabannya sendiri masih terbagi-bagi dan
belum dinamakan Dana Mbojo atau Bima, hingga kedatangan putra Bima “Indra
Zamrud” yang lalu menjadi Sangaji Bima. Indra Zamrud ingin membentang
kekuasaannya dengan cara menyatukan wilayah-wilayah sekitar kerajaannya .
Dan salah satu caranya adalah dengan memperkenalkan agama Hindu dan
menjadikan upacara peta kapanca sebagai ciri khas dari tradisi kebudayaan
mereka. Hal ini pun terus berlanjut hingga pada abad ke-11 M, terciptalah nama
Mbojo dan Bima yang merupakan gabungan dari beberapa wilayah di kepulauan
Sumbawa. Dari pembahasan ini dapat kita simpulkan bahwa tradisi peta kapanca
turut ambil adil dalam pembentukan peradaban Bima yang kita kenal sekarang ini.
C. Sifat Hakiki
Berikut sifat-sifat hakiki yang berkaitan dengan materi makalah ini :
1. Simbolik
Yang menjadi simbolik dari tradisi peta kapanca ini, adalah proses
penempelan kapanca pada kuku, telapak tangan dan kaki sang calon mempelai
wanita yang menandakan diri mereka yang tadinya bermanja-manja dengan
memanjakan kukunya dan bermalas-malasan, lalu tangan dan kaki yang mulus ini
dikotori dengan daun pacar ini memberitahukan kepada mereka bahwa dalam
waktu yang tidak lama lagi akan melakukan tugas dan fungsi sebagai ibu rumah
tangga atau istri dan akan mulai berkerja keras dan rajin demi mencapai rumah
tangga yang bahagia dan sejahtera mawadah warahmah dunia akhirat.
2. Dipelajari dan Diajarkan
Tradisi peta kapanca hingga sekarang masih ada karena faktor sifat hakiki
ini, yang dahulu dipelajari dan diajarkan oleh para Ncuhi kemudian dilanjutkan
oleh masyarakat Bima hingga sekarang.
3. Menyebar
Dari generasi ke generasi tradisi ini terus berlanjut dan diadaptasikan dengan
perkembangan jaman yang ada, hingga mulai sedikit diketahui oleh masyarakat
diluar Bima. Contohnya seperti di Makassar, Lombok, Bali, Jakarta, dan beberapa
daerah lainnya.
4. Sosial
Tradisi peta kapanca ini terus berkembang, bukan hanya diketahui oleh
individu dan sekelompok kecil dari penduduk yang berada dipedalaman, namun
juga dipelajari oleh sekelompok besar masyarakat yang tumbuh dari hubungan
social dan menjadikannya suatu budidaya yang harus dilestarikan.
5. Memberi Teladan
Tradisi ini juga memiliki nilai positif dan norma yang dijunjung tinggi oleh
masyarakat.
6. Memberi Kepuasan
Memberi kepuasan, yaitu dengan adanya hiburan seperti tarian, permainan,
dan juga musik daerah dalam prosesi upacara peta kapanca ini.
7. Menyesuaikan Diri (Adaptif)
Tradisi ini juga berkembang dengan mengadaptasikan prosesi, nilai
keagamaan dan sosialnya mengikuti perkembangan jaman.
8. Kontinum dan Kumulatif
Tradisi ini terus berlanjut dan terus berkembang hingga sekarang.
9. Terintegrasi
Sudah pasti tradisi ini terintegrasi.
10. Bevariasi
Tradisi peta kapanca ini juga memiliki prosesi yang bervariasi.
D. Dinamika Kebudayaan
Sebagai tradisi yang menjadi warisan budaya, upacara peta kapanca
berkembang sesuai dengan perubahan jaman dan kebutuhan manusia itu sendiri.
Dalam antropologi, dinamika kebudayaan berlangsung dalam beberapa proses,
yaitu : evolusi, akulturasi, difusi, asimilasi, dan inovasi.
1. Evolusi
Tradisi peta kapanca mengalami evolusi dari bentuk ritual keagamaan yang
sederhana, menjadi suatu upacara tradisi yang lebih kompleks mengikuti
perkembang jaman.
2. Akulturasi
Tradisi peta kapanca mengalami akulturasi dari tradisi budaya agama hindu,
lalu diadaptasikan menjadi tradisi islam. Dan prosesinya juga mengalami
perubahan lagi mengikuti perkembangan jaman.
3. Inovasi
Tradisi peta kapanca juga berinovasi. Yang awalnya hanya berisi prosesi
upacara biasa, lama-kelamaan mulai diisi dengan beberapa hiburan dan permainan
tradisional dan hingga sekarang peta kapanca dikenal sebagai tradisi kebudayaan
khas Dana Mbojo atau Bima.

KESIMPULAN

Tradisi peta kapanca merupaka upacara tradisi yang dilaksanakan sehari


sebelum upacara pernikahan dilaksanakan. Upacara peta kapanca hanya
diperuntukan untuk sang calon mempelai wanita, sebagai pengingat kepada
dirinya bahwa ia akan menempuh kehidupan yang baru dengan status yang baru
pula. Dalam tradisi peta kapanca ini terdapat beberapa unsur-unsur dari teori
Koentjaraningrat, Kebudayaan dan Peradaban, Sifat Hakiki, dan Dinamika
Kebudayaan.
BAB III
PENUTUP

A. Daftar Website

https://alanmalingi.wordpress.com/2010/04/09/upacara-peta-kapanca/

B. Daftar Narasumber

Narasumber : Gufran H. Abubakar Hasan


Profesi : Budayawan Bima
Pengalaman : Mantan anggota DPRD
Kabupaten Bima