Anda di halaman 1dari 30

1

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI


MENGGUNAKAN ALAT PERAGA MISTAR HITUNG GESER
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA TENTANG SIFAT
OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT DI KELAS V
SD NEGERI 11 PARIT TIGA

Oleh:

ISNAN ARDIANSYAH
NIM. 8 2 1 2 1 7 7 3 5
isnan.ardiansyah@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kemampuan siswa dalam mengerjakan soal


masih kurang, siswa belum dapat menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan,
serta kemampuan siswa dalam menentukan model matematika yang digunakan dalam
penyelesaian soal sehingga hasil belajar siswa rendah. Tujuan Penelitian ini adalah untuk
meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan Metode Demonstrasi menggunakan
Alat Peraga Mistar Hitung Geser pada Mata Pelajaran Matematika tentang Sifat Operasi
Hitung Bilangan Bulat di Kelas V di SD Negeri 11 Parit Tiga. Subyek penelitian adalah
siswa-siswi Kelas V (lima) dengan jumlah siswa 26 Siswa ( Laki-laki =13, Perempuan =
13) Tahun Pelajaran 2013/2014. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 12 September
s.d. 03 Oktober 2013, semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014. Berdasarkan hasil
penelitian menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran
mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi belajar berupa ketuntasan
belajar dari masing-masing siklus I (53,85%), Siklus II (65,38%), dan siklus III (100%).
Jadi penerapan metode demonstrasi menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas V (lima) SD Negeri 11 Parittiga.

Kata Kunci : Hasil Belajar, Matematika, Metode Demonstrasi, Alat peraga Mistar
Hitung Geser
.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan
dampak tertentu terhadap sistem pengajaran. Pandangan mengenai konsep
2

pengajaran terus-menerus mengalami perkembangan sesuai dengan kemajauan


ilmu dan teknologi.
Sejauh ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa
pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih
berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah
menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi
belajar ‘baru’ yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang
tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang
mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa
anak akan belajar lebih baik jika lingkungan belajar diciptakan alamiah. Belajar
akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan
mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi
terbukti berhasil dalam kompetensi jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali
anak memecahkan persoalan dalam jangka panjang.
Namun kenyataannya guru cenderung mengikuti isi kurikulum dan anak
belajar secara verbal, keadaan semacam ini jauh dari konsep belajar bermakna.
Seharusnya, menurut Cahyo (2013 : 54) peran guru adalah sebagai fasilitator dan
mediator yang tugasnya membantu siswa untuk mau belajar sendirin dan
merumuskan pengetahuannya agar proses belajar siswa bermakna.
Belajar bermakna menuntut adanya konteks pembelajaran yang muncul di
lingkungan tempat tinggal siswa, hal ini dapat dilakukan dengan jalan mengajak
siswa belajar di luar kelas atau mengajak mereka mendekati sumber belajar.
Maksudnya agar diperoleh ide-ide, dan masalah-masalah yang dapat dilihat dan
diamati di lingkungan sekitarnya. Pola pembelajaran seperti ini akan membantu
siswa dalam proses berpikir dan pada gilirannya siswa aktif dalam belajar. Pada
dasarnya siswa sendiri yang akan menyelesaikan masalah-masalah yang dia
dapatkan sesuai dengan konsep materi yang dipelajari. Salah satu konsep yang
akrab dengan lingkungan adalah konsep kegiatan manusia yang dapat
mempengaruhi keseimbangan alam. Konsep ini menjadi lebih bermakna jika di
3

dalam pelajaran siswa diajak langsung kelapangan untuk melakukan


penyelidikan terhadap permasalahan yang mereka hadapi Di sisi lain, metode dan
pendekatan yang diterapkan oleh guru umumnya masih menerapkan metode
ceramah atau ekspositori.
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pengamatan guru SD Negeri 11 Parittiga secara langsung,
diperoleh gambaran bahwa ternyata kesulitan yang dihadapi oleh para siswa
adalah
a. Mereka kurang mampu mengaitkan konsep-konsep matematika yang
dipelajarinya dengan kegiatan kehidupan sehari-hari.
b. Dan pada umumnya siswa belajar dengan menghafal konsep-konsep
matematika bukan belajar untuk mengerti konsep-konsep matematika.
c. Selain itu, siswa kesulitan dalam memecahkan soal-soal matematika yang
berbentuk aplikasi, bahkan lebih jauh dari itu ada kesan siswa menganggap
pelajaran matematika hanya merupakan suatu beban, sehingga tidak heran
jika banyak siswa yang tidak menyenangi pelajaran matematika.
d. Dari hasil pengamatan terhadap lembar jawaban siswa terlihat bahwa ada
beberapa penyebab hal ini bisa memungkinkan terjadi, 1 yaitu: kemampuan
siswa dalam mengerjakan soal masih kurang, siswa belum dapat menentukan
apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan, serta kemampuan siswa dalam
menentukan model matematika yang digunakan dalam penyelesaian soal
sehingga hasil belajar siswa rendah.
2. Analisis Masalah
Dalam mengajarkan matematika, sebaiknya diusahakan agar siswa mudah
memahami konsep yang ia pelajari, sehingga siswa lebih berminat untuk
mempelajarinya. Jika sekiranya diperlukan media atau alat peraga yang dapat
membantu siswa dalam memahami konsep matematika, maka seyogyanya guru
menyiapkan media atau alat peraga yang diperlukan
Oleh karena itu pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan strategi
yang cocok diterapkan dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi siswa
4

SD Negeri 11 Parittiga dalam proses belajar matematika. Proses pembelajaran


berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan
transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih
dipentingkan daripada hasil.
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Dalam konteks tersebut, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa
manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka
sadar bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupannya. Dengan
demikian mereka memposisikan diri sebagai dirinya sendiri yang memerlukan
suatu bekal untuk masa depannya. Dengan pembelajaran berbasis kontekstual
diharapkan akan mempermudah dalam memahami dan memperdalam
matematika untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis melakukan penelitian
tentang Implementasi Pembelajaran Matematika Berbasis Kontekstual dalam
Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa SD Negeri 11 Parittiga.
Bertitik tolak dari rincian permasalahan di atas, dilakukankanlah tindakan
dengan menggunakan partisipasi belajar dan dirumuskanlah masalah penelitian
tindakan kelas ini sebagai berikut: “Penerapan Metode Demonstrasi
menggunakan Alat Peraga Mistar Hitung Geser untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Matematika tentang Sifat Operasi Hitung
Bilangan Bulat di Kelas V di SD Negeri 11 Parit Tiga”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah di atas, permasalahan yang dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1. Apakah penerapan Metode Demonstrasi menggunakan Alat Peraga Mistar
Hitung Geser dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran
Matematika tentang Sifat Operasi Hitung Bilangan Bulat di Kelas V di SD
Negeri 11 Parit Tiga?
5

2. Apakah penerapan Metode Demonstrasi menggunakan Alat Peraga Mistar


Hitung Geser dapat meningkatkan aktivitas siswa pada Mata Pelajaran
Matematika tentang Sifat Operasi Hitung Bilangan Bulat di Kelas V di SD
Negeri 11 Parit Tiga?
C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Penulis mengadakan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dapat:

1. Meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan Metode Demonstrasi


menggunakan Alat Peraga Mistar Hitung Geser pada Mata Pelajaran
Matematika tentang Sifat Operasi Hitung Bilangan Bulat di Kelas V di SD
Negeri 11 Parit Tiga.
2. Mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menerapkan Metode
Demonstrasi menggunakan Alat Peraga Mistar Hitung Geser pada Mata
Pelajaran Matematika tentang Sifat Operasi Hitung Bilangan Bulat di Kelas
V di SD Negeri 11 Parit Tiga.
D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Berdasarkan latar tujuan penelitian di atas, dapat dirumuskan manfaat
penelitian, yaitu:
1. Bagi Siswa
Bagi siswa, kontribusi manfaat yang diharapkan dapat diberikan dari
hasil tindakan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan dengan
berlandaskan kaidah PTK ini adalah:
a. Siswa dapat termotivasi dalam pembelajaran sehingga mengurangi
kebosanan dalam belajar.
b. Kemampuan awal siswa dapat digali secara optimal agar siswa belajar
lebih mandiri dan kreatif, khususnya ketika mereka akan mengkaitkan
dengan pelajaran baru.
c. Aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika meningkat.
2. Bagi Guru
6

Secara lebih khusus, kontribusi manfaat yang diharapkan dapat


diberikan dari hasil tindakan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan
dengan berlandaskan kaidah PTK ini adalah:
a. Memberikan tambahan pengalaman tentang cara menemukan
kelemahan/masalah dalam pembelajaran melalui refleksi.
b. Guru dapat menerapkan pembelajaran berdasarkan masalah sebagai salah
satu metode yang dapat membantu guru dalam membelajarkan siswa
akan konsep-konsep matematika sehingga dengan mudah memahami
konsep tersebut dengan baik sehingga pembelajaran matematika di kelas
tidak monoton.
c. Sebagai acuan dalam mendapatkan cara yang efektif dalam penyajian
pelajaran.
3. Bagi Sekolah
Hasil tindakan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan dengan
berlandaskan kaidah PTK ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang
positif terhadap kemajuan sekolah, yang antara lain tercermin pada:
a. Sebagai masukan dalam upaya perbaikan pembelajaran sehingga dapat
menunjang tercapainya target kurikulum dan daya serap siswa seperti
yang diharapkan
b. Mempertinggi mutu belajar mengajar.
KAJIAN PUSTAKA

A. Belajar dan Mengajar


Belajar adalah sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan
tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam
situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu
1. Hakikat Belajar
Belajar adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi dengan
lingkungannya. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan
kualitatif individu sehingga tingkahlakunya berkembang (Soemanto, 2006 :
104).
7

Perubahan perilaku dalam proses belajar terjadi akibat dari interaksi


dengan lingkungan. Interaksi biasanya berlangsung secara sengaja. Dalam
bukunya Strategi Pembelajaran di SD, Anitah, et.al. (2009 : 2.5) hakikat
belajar dapat dikatakan sebagai suatu proses yang artinya dalam belajar akan
terjadi proses melihat, membuat, mengamati, menyelesaikan masalah atau
persoalan menyimak, dan latihan.
Proses belajar harus diupayakan secara efektif agar terjadi adanya
perubahan tingkahlaku siswa yang disebabkan oleh proses-proses tersebut.
Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam
diri individu. Sebaliknya apabila terjadi perubahan dalam diri individu maka
belajar tidak dikatakan berhasil.
2. Pengertian Mengajar
Mengajar sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur
lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga
terjadi proses pembelajaran. Atau dikatakan, mengajar sebagai upaya
menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar
bagi para siswa. Kondisi itu diciptakan sedemikian rupa sehingga membantu
perkembangan anak secara optimal baik jasmani maupun rohani, baik fisik
maupun mental.
Mengajar adalah pembelajaran dan pembinaan siswa mengenai
bagaimana belajar, bagaimana berfikir dan bagaimana menyelidiki .
Pengertian mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan
belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan
suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak
didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar mengajar
(http://contoh-surat.net/pengertian-belajar.html).
Sedangkan Menurut Thoifuri (2008 : 37) mengajar adalah kegiatan
yang dilakukan guru dan anak didik secara bersama-sama untuk memperoleh
pengetahuan melalui proses pembelajaran yang akhirnya membentuk
perilaku atau kepribadian anak.
8

Menurut Anitah, et.al. (2009 : 5.2) mengajar bukan hanya


menyampaikan bahan pelajaran pada siswa, tetapi merupakan suatu proses
upaya membimbing dan memfasilitasi siswa supaya dapat belajar secara
efektif dan efisien.
Dalam bukunya Belajar dan pembelajaran, Dimyati dan Mudjiono
(2002 : 4-5), dampak kegiatan mengajar adalah hasil yang dapat diukur,
seperti tertuang dalam angka rapor, angka dalam ijazah, atau kemampuan
meloncat setelah latihan. Dampak pengiring lainnya adalah terapan
pengetahuan dan kemampuan di bidang lain, suatu transfer belajar.
B. Belajar Matematika
Menurut Muhsetyo (2011 : 1.26), pembelajaran matematika adalah proses
pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang
terencana sehingga siswa memperoleh kompetensi tentang bahan matematika
yang dipelajari.
Menurut Cahyo (2013 : 239) dalam pembelajaran matematika, guru harus
berperan sebagai pemimpin sekaligus fasilitator belajar, sedangkan siswa
berperan sebagai individu yang belajar. Konsep matematika dapat difahami
dengan mudah apabila kendala utama yang menyebabkan anak sulit memahami
dapat dikurangi atau dihilangkan. Anak pada umumnya melakukan abstraksi
berdasasarkan intuisi dan pengalaman kongkrit, sehingga cara mengajarkan
konsep-konsep matematika dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan objek
kongkrit. Oleh karena itu, usaha-usaha yang dilakukan guru akan sangat
mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran.
Menurut Hernawan, et.al. (2010 : 8.27) mata pelajaran matematika
berfungsi untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dengan menggunakan
bilangan dan symbol-simbol serta ketajaman penalaran yang dapat membantu
memperjelas dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, dalam mengajarkan matematika perlu adanya benda-
benda kongkrit yang merupakan model dari ide-ide matematika, yang selanjutnya
disebut sebagai alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran. Alat bantu
9

pembelajaran ini digunakan dengan maksud agar anak dapat mengoptimalkan


panca inderanya dalam proses pembelajaran, mereka dapat melihat, meraba,
mendengar, dan merasakan objek yang sedang dipelajari.
C. Hasil Belajar
Hasil Belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat
adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk
penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai
aspek kehidupa sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan penilaian
terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai
aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku
secara kuantitatif .
(http://mtsalhidayahsungkai.blogspot.com/2013/05/pengertian-hasil-belajar-
siswa.html,)
Sedangkan Dimyati dan Mujiono (2002 : 3) hasil belajar merupakan hasil
dari suatu interaksi dari tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru,
tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa,
hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.
D. Alat Peraga
Dalam pembelajaran matematika SD, bahan pelajaran yang disampaikan
menjadi lebih mudah dipahami siswa, diperlukan alat bantu pembelajaran yang
disebut media/alat peraga.
1. Pengertian Alat Peraga
Alat peraga adalah alat (benda) yang digunakan untuk
menyampaikan pengetahuan, fakta, konsep, prinsip kepada siswa agar lebih
nyata atau konkrit. Pengertian alat peraga adalah suatu alat yang dapat
diserap oleh mata dan telinga dengan tujuan membantu guru agar proses
belajar mengajar siswa lebih efektif dan efisien (http://www.sarjanaku.
com/2011/03/pengertian-alat-peraga.html). sedangkan Menurut Muhsetyo
(2011 : 1.26), alat peraga adalah alat bantu pembelajaran yang secara sengaja
dan terencana disiapkan atau disediakan guru untuk mempresentasikan
10

dan/atau menjelaskan bahan pelajaran, serta digunakan siswa untuk dapat


terlebat langsung dengan pembelajaran matematika.
2. Kelebihan Penggunaan Alat Peraga
Menurut Anitah, et.al. (2009 : 6.6) kelebihan penggunaan media
pembelajaran sebagai alat peraga adalah dapat merangsang timbulnya proses
atau dialog mental pada diri siswa. Dengan perkataan lain, terjadi komunikasi
antara siswa dengan alat peraga atau secara tidak langsung tentunya antara
siswa dengan penyalur pesan (guru). Hal-hal lainnya kelebihan penggunaan
alat peraga dalam kegiatan pembelajaran, antara lain :
a. Menumbuhkan minat belajar siswa karena pelajaran menjadi lebih
menarik
b. Memperjelas makna bahan pelajaran sehingga siswa lebih mudah
memahaminya
c. Metode mengajar akan lebih bervariasi sehingga siswa tidak akan mudah
bosan
d. Membuat lebih aktif melakukan kegiatan belajar seperti :mengamati,
melakukan dan mendemonstrasikan dan sebagainya.
Sedangkan Muhsetyo, et.al. (2011 : 2.4) kelebihan penggunaan alat
peraga sebagai media pembelajaran, antara lain :
a. Lebih menarik dan tidak membosankan siswa.
b. Lebih mudah dipahami karena dibantu oleh visualisasi yang dapat
memperjelas uraian.
c. Lebih bertahan lama untuk diingat karena lebih terkesan terhadap
tayangan atau tampilan.
d. Mampu melibatkan peserta pembelajaran lebih banyak dan lebih tersebar
e. Dapat digunakan brulang kali untuk meningkatkan penguasaan bahan
ajar.
3. Kekurangan Alat Peraga
a. Mengajar dengan memakai alat peraga lebih banyak menuntut guru.
b. Banyak waktu yang diperlukan untuk persiapan
11

c. Perlu kesediaan berkorban secara materiil


4. Fungsi Alat Peraga
Ada beberapa fungsi atau manfaat dari penggunaan alat peraga dalam
pengajaran Matematika, di antaranya:
a. Dengan adanya alat peraga, anak-anak akan lebih banyak mengikuti
pelajaran dengan gembira, sehingga minatnya dalam mempelajari
Matematika semakin besar. Anak akan senang, terangsang, tertarik dan
bersilap positif terhadap pengajaran Matematika.
b. Dengan disajikannya konsep abstrak Matematika dalam bentuk konkret,
maka siswa pada tingkat-tingkat yang lebih rendah akan lebih mudah
memahami dan mengerti.
c. Alat peraga dapat membantu pembelajaran dengan melalui gambar dan
benda-benda nyatanya akan terbantu daya tiliknya sehingga lebih berhasil
dalam belajarnya.
d. Anak akan menyadari adanya hubungan antara pengajaran dengan benda-
benda yang ada di sekitarnya, atau antara ilmu dengan alam sekitar dan
masyarakat.
Konsep-konsep abstrak yang tersajikan dalam bentuk konkret, yaitu dalam
bentuk model Matematika dapat dijadikan objek penelitian dan dapat pula
dijadikan alat untuk penelitian ide-ide baru dan relasi-relasi baru.
5. Alat Peraga Mistar Hitung Geser
Contoh alat peraga, antara lain :
a. Papan tulis, buku tulis, dan daun pintu yang berbentuk persegi panjang
dapat berfungsi sebagai alat peraga pada saat guru menerangkan sub bab
bangun geometridatar persegi panjang.
b. Mistar Hitung Geser yang berbentuk mistar dapat berfungsi sebagai alat
peraga pada saat guru menerangkan Sifat Operasi Hitung Bilangan Bulat.
c. Pensil, kapur, lidi, biji-bijian dapat berfungsi sebagai alat peraga pada
saat memperkenalkan bilangan kepada siswa, dengan cara membilang
banyaknya anggota dari kelompok benda, sehingga pada akhir
12

membilang akan ditemukan bilangan yang sesuai dengan kelompok


benda tersebut.
(http://the-math-lovers-community.blogspot.com/2011/02/alat-peraga-dan-
sarana.html).
E. Metode Demonstrasi
1. Pengertian Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang menyajikan
bahan pelajarannya dengan mempertunjukan secara langsung objeknya atau
caranya melakukan sesuatu untuk mempertunjukan proses tertentu.
Menurut Daryanto dalam bukunya Strategi dan Tahapan Mengajar
(2013 : 14) metode demonstrasi adalah suatu cara penyajian informasi dalam
kegiatan belajar mengajar dengan mempertunjukkan tentang cara melakukan
sesuatu disertai penjelasan secara visual dari proses yang jelas. Sedangkan
Menurut Thoifuri (2008 : 55) metode pengajaran adalah cara yang ditempuh
guru dalam menyampaikan bahan ajar kepada peserta didik secara tepat dan
cepat berdasarkan waktu yang telah ditentukan sehingga diperoleh hasil yang
maksimal.
Demonstrasi dapat digunakan pada semua mata pelajaran. Dalam
pelaksanaan demonstrasi guru harus sudah yakin bahwa seluruh siswa dapat
memperhatikan (mengamati) terhadap objek yang akan didemonstrasikan.
Sebelum proses demonstrasi guru sudah mempersiapkan alat-alat yang akan
digunakan dalam demonstarsi tersebut.
2. Karakteristik Metode Demonstrasi
Menurut Anitah, et.al. (2009 : 5.25), Karakteristik Metode
Demonstrasi untuk kegiatan belajar mengajar, antara lain :
a. Mempertunjukan objek yang sebenarnya.
b. Ada proses peniruan.
c. Ada alat bantu yang digunakan.
d. Memerlukan tempat yang strategis yang memungkinkan seluruh siswa
aktif.
13

e. Dapat guru atau siswa yang melakukannya.


3. Langkah-Langkah Pelaksanaan Metode Demonstrasi dalam
Pembelajaran
Menurut Daryanto (2013 : 15) Prosedur metode demonstrasi yang harus
dilakukan dalam pembelajaran adalah:
a. Perencanaan dan Persiapan
Berikut ini faktor yang perlu diperhatikan :
1) Yakin bahwa semua keterampilan/kemampuan yang diisyaratkan
sudah dimiliki peserta.
2) Yakin bahwa lembar demonstrasi yang dibagikan sesuai dengan
demonstrasi yang akan disampaikan.
3) Mengatur lingkungan jumlah peserta dan memperhatikan
keselamatan kerja.
4) Mempersiapakn alat dan bahan dengan kondisi baik dan siap pakai.
5) Mempersiapkan diri dengan kondisi baik.
6) Mencoba demonstrasi terlebih dahulu.
b. Pelaksanaan Demonstrasi
Langkah-langkah demonstrasi sebagai berikut :
1) Membagi dan menjelaskan lembar kegiatan demonstrasi.
2) Memberikan gambaran tentang seluruh kegiatan demonstrasi dan
menunjukkan hasil akhirnya.
3) Menghubungkan kegiatan demonstrasi dengan keterampilan yang
dimiliki peserta dan keterampilan yang akan disampaikan.
4) Mendemonstrasikan langkah-langkah secara perlahan dan
memberikan waktu yang cukup pada peserta untuk mengamatinya.
5) Menentukan hal-hal yang penting dan kritis atau hal yang terkait
dengan keselamatan kerja.
c. Tindak lanjut
1) Bersama peserta didik menguasai pelaksanaan dan hasil peserta didik.
2) Mengulangi semua langkah demonstrasi jika perlu.
14

3) Memberi tugas pada peserta (membuat laporan dan lain-lain).


4. Kondisi dan Kemampuan Siswa
Menurut Anitah, et.al. (2009 : 5.26), Kemampuan yang perlu diperhatiakan
dalam menunjang keberhasilan demonstarsi diantaranya:
a. Mampu secara proses tentang topik yang dipraktekan.
b. Mampu mengelola kelas, menguasai siswa secara menyeluruh.
c. Mampu menggunakan alat bantu yang digunakan.
d. Mampu melaksanaka penilaian proses.
Menurut Anitah, et.al. (2009 : 5.26), Kondisi dan kemampuan siswa yang
harus diperhatikan untuk menunjang demonstrasi, diantaranya adalah :
a. Siswa memiliki motivasi, perhatian dan minat terhadap topik yang akan
didemonstrasikan.
b. Memahami tentang tujuan/maksud yang akan didemonstrasikan.
c. Mampu mengamati proses yang dilakukan oleh guru.
d. Mampu mengidentifikasi kondisi dan alat yang digunakan dalam
demonstrasi.
5. Kelebihan Metode Demonstrasi
Menurut Roetiyah (2008 : 83) kelebihan dengan demonstrasi, antara lain :
a. Proses penerimaan siswa terhadap pembelajaran akan lebih terkesan
secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dengan baik dan
sempurna.
b. Siswa dapat mengamati dan memperhatikan pada apa yang diperlihatkan
guru tersebut.
Menurut Anitah, et.al. (2009 : 5.26), Keunggulan Metode
Demonstrasi dalam kegiatan belajar mengajar adalah :
a. Siswa dapat memahami sesuai objek sebenarnya.
b. Dapat mengembangkan rasa ingin tahu siswa.
c. Siswa dibiasakan untuk kerja secara sistematis.
d. Siswa dapat mengamati sesuatu secara proses.
e. Siswa dapat mengetahui hubungan struktural atau urutan objek.
15

f. Siswa dapat membandingkan pada beberapa objek.


6. Kelemahan Metode Demonstrasi
Namun demikian, dalam metode dmonstrasi pun masih tetap ada
kelemahan yang kemungkinan perlu diantisipasi oleh guru bila akan
menerapkan metode ini. Menurut Anitah, et.al. (2009 : 5.27), kelemahan
metode Demonstrasi
a. Dapat menimbulkan berfikir konkret saja.
b. Bila jumlah siswa banyak efektifitas demonstrasi sulit dicapai.
c. Bergantung pada alat bantu.
d. Bila demonstrasi guru tidak sistematis, demonstrasi tidak berhasil.
e. Banyak siswa yang kurang berani.
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subjek, Tempat, Waktu Penelitian, Pihak yang Membantu


1. Subjek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas V (Empat) dengan jumlah siswa
26 Siswa ( Laki-laki =12, Perempuan = 14) Tahun Pelajaran 2013/2014.
2. Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan
penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat
di SD Negeri 11 Parittiga, Kecamatan Parittiga Kabupaten Bangka Barat.
3. Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian
ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 12 September
2013, 19 September 2013, 26 September 2013 dan 03 Oktober 2013,
semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014.
Tabel. 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Hari/Tanggal Tindakan Waktu Pokok Bahasan

Kamis, 12 September Pra 2x35 Sifat Operasi Hitung


2013 Siklus menit Bilangan Bulat
16

Kamis, 19 September Siklus I 2x35 Sifat Operasi Hitung


2013 menit Bilangan Bulat
Kamis, 26 September Siklus II 2x35 Sifat Operasi Hitung
2013 menit Bilangan Bulat
Kamis, 03 Oktober Siklus III 2x35 Sifat Operasi Hitung
2013 menit Bilangan Bulat
4. Pihak yang Membantu
Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan),
observation (pengamatan), dan reflection (refleksi), dan dibantu oleh
supervisor 2 untuk mengamati proses pembelajaran yang dilakukan dengan
menggunakan lembar pengamatan dan supervisor 1 yang bertugas
membimbing pelaksanaan PKP mahasiswa di kelas bimbingan PKP, serta
kepala SD Negeri 11 Parittiga.
B. Desain Prosedur Pebaikan Pembelajaran
Adapun prosedur pelaksanaan dalam penelitian ini peneliti deskripsikan
sebagai berikut:
1. Pra Siklus
a. Perencanaan
Peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana
pelajaran.
b. Pelaksanaan
1) Mendiskusikan materi pelajaran
2) Membimbing peserta didik.
c. Observasi
Pengamatan dilakukan terhadap aktifitas guru dan siswa dalam
pembelajaran.
d. Refleksi
Hasil evaluasi setelah pembelajaran pra siklus
2. Siklus I
a. Perencanaan
17

Adapun kegiatan yang diambil dalam tindakan pendahuluan


meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1) Observasi tentang kondisi siswa saat pelajaran berlangsung untuk
mengetahui kelemahan metode sebelum perbaikan.
2) Konsultasi dengan supervisor 2 tentang hasil observasi untuk
dijadikan dasar untuk merencanakan perbaikan
berdasarkan pada tindakan pendahuluan yang dilakukan peneliti
terhadap aktifitas siswa sebelum tindakan yang dilakukan, maka dapat
dijadikan sebagai tolak ukur untuk mengatasi persoalan dengan
menggunakan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga
Mistar Hitung Geser.
b. Pelaksanaan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan
proses pembelajaran yang mengacu pada persiapan yang sudah disiapkan
dalam perencanaan adpun pelaksanaan kegiatan sebagai berikut :
1) Membagi dan menjelaskan lembar kegiatan demonstrasi.
2) Memberikan gambaran tentang seluruh kegiatan demonstrasi dan
menunjukkan hasil akhirnya.
3) Menghubungkan kegiatan demonstrasi dengan keterampilan yang
dimiliki peserta dan keterampilan yang akan disampaikan.
4) Mendemonstrasikan langkah-langkah secara perlahan dan
memberikan waktu yang cukup pada peserta untuk mengamatinya.
5) Menentukan hal-hal yang penting dan kritis atau hal yang terkait
dengan keselamatan kerja.
c. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan
tindakan yang dibantu oleh supervisor 2, kegiatan observator merupakan
upaya untuk merekam segala aktifitas yang terjadi dalam proses belajar
mengajar berlangsung juga mengamati prilaku guru mengajar metode
demonstrasi dengan menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser, yang
18

nantinya akan diarahkan sebagai bahan refleksi dan perbaikan tindakan


selanjutnya.
d. Refleksi
Pengkajian data pada tahap refleksi melibatkan observer sehingga
diharapkan evaluasi dan refleksi akan lebih efektif, hasil dan refleksi ini
digunakan sebagai diskusi balikan untuk merencanakan dan mengadakan
perbaikan pada pelaksanaan tindakan berikutnya.
Berdasarkan hasil tindakan yang disertai observasi dan refleksi
dapat diketahui kelemahan dan kekurangan kegiatan pembelajaran yang
dapat digunakan untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus II.
3. Siklus II
a. Perencanaan
Adapun kegiatan yang diambil dalam tindakan pendahuluan
meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1) Observasi tentang kondisi siswa saat pelajaran berlangsung untuk
mengetahui kelemahan metode sebelum perbaikan.
2) Konsultasi dengan supervisor 2 tentang hasil observasi untuk
dijadikan dasar untuk merencanakan perbaikan
berdasarkan pada tindakan pendahuluan yang dilakukan peneliti
terhadap aktifitas siswa sebelum tindakan yang dilakukan, maka dapat
dijadikan sebagai tolak ukur untuk mengatasi persoalan dengan
menggunakan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga
Mistar Hitung Geser.
b. Pelaksanaan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan
proses pembelajaran yang mengacu pada persiapan yang sudah disiapkan
dalam perencanaan adpun pelaksanaan kegiatan sebagai berikut :
1) Membagi dan menjelaskan lembar kegiatan demonstrasi.
2) Memberikan gambaran tentang seluruh kegiatan demonstrasi dan
menunjukkan hasil akhirnya.
19

3) Menghubungkan kegiatan demonstrasi dengan keterampilan yang


dimiliki peserta dan keterampilan yang akan disampaikan.
4) Mendemonstrasikan langkah-langkah secara perlahan dan
memberikan waktu yang cukup pada peserta untuk mengamatinya.
5) Menentukan hal-hal yang penting dan kritis atau hal yang terkait
dengan keselamatan kerja.
c. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan
tindakan yang dibantu oleh supervisor 2, kegiatan observator merupakan
upaya untuk merekam segala aktifitas yang terjadi dalam proses belajar
mengajar berlangsung juga mengamati prilaku guru mengajar metode
demonstrasi dengan menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser, yang
nantinya akan diarahkan sebagai bahan refleksi dan perbaikan tindakan
selanjutnya.
d. Refleksi
Pengkajian data pada tahap refleksi melibatkan observer sehingga
diharapkan evaluasi dan refleksi akan lebih efektif, hasil dan refleksi ini
digunakan sebagai diskusi balikan untuk merencanakan dan mengadakan
perbaikan pada pelaksanaan tindakan berikutnya.
Berdasarkan hasil tindakan yang disertai observasi dan refleksi
dapat diketahui kelemahan dan kekurangan kegiatan pembelajaran yang
dapat digunakan untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus III.
4. Siklus III
a. Perencanaan
Adapun kegiatan yang diambil dalam tindakan pendahuluan
meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1) Observasi tentang kondisi siswa saat pelajaran berlangsung untuk
mengetahui kelemahan metode sebelum perbaikan.
2) Konsultasi dengan supervisor 2 tentang hasil observasi untuk
dijadikan dasar untuk merencanakan perbaikan
20

berdasarkan pada tindakan pendahuluan yang dilakukan peneliti


terhadap aktifitas siswa sebelum tindakan yang dilakukan, maka dapat
dijadikan sebagai tolak ukur untuk mengatasi persoalan dengan
menggunakan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga
Mistar Hitung Geser.
b. Pelaksanaan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan
proses pembelajaran yang mengacu pada persiapan yang sudah disiapkan
dalam perencanaan adpun pelaksanaan kegiatan sebagai berikut :
1) Membagi dan menjelaskan lembar kegiatan demonstrasi.
2) Memberikan gambaran tentang seluruh kegiatan demonstrasi dan
menunjukkan hasil akhirnya.
3) Menghubungkan kegiatan demonstrasi dengan keterampilan yang
dimiliki peserta dan keterampilan yang akan disampaikan.
4) Mendemonstrasikan langkah-langkah secara perlahan dan
memberikan waktu yang cukup pada peserta untuk mengamatinya.
5) Menentukan hal-hal yang penting dan kritis atau hal yang terkait
dengan keselamatan kerja.
c. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan
tindakan yang dibantu oleh supervisor 2, kegiatan observator merupakan
upaya untuk merekam segala aktifitas yang terjadi dalam proses belajar
mengajar berlangsung juga mengamati prilaku guru mengajar metode
demonstrasi dengan menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser, yang
nantinya akan diarahkan sebagai bahan refleksi dan perbaikan tindakan
selanjutnya.
d. Refleksi
Pengkajian data pada tahap refleksi melibatkan observer sehingga
diharapkan evaluasi dan refleksi akan lebih efektif, hasil dan refleksi ini
21

digunakan sebagai diskusi balikan untuk merencanakan dan mengadakan


perbaikan pada pelaksanaan tindakan berikutnya.
Berdasarkan hasil tindakan yang disertai observasi dan refleksi
dapat diketahui kelemahan dan kekurangan kegiatan pembelajaran yang
dapat digunakan untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus III.
C. Teknik Analisis Data
1. Prinsip Pengumpulan Data
Dalam penelitian tindakan kelas ini dikumpulkan dua jenis data, yitu
data kuantitatif dan data kualitatif. Menurut Kunandar (2008 : 123) data
kuantitatif dapat dianalisis dengan deskriptif persentase, sedangkan data
kualitati dapat dianalisis secara kualitatif.
a. Data Kuantitatif adalah angka hasil belajar siswa.
b. Data Kualitatif yaitu data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang
menggambarkan ekspresi siswa tentang tingkat pemahamannya,
antusiasnya, kepercayaan diri, dan motivasinya.
2. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Tindakan Kelas
a. Tes, dipergunakan untuk mendapatkan data hasil belajar siswa.
b. Observasi, dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang aktivitas
siswa dalam PBM dan implementasi pembelajaran dengan menerapkan
metode demonstrasi menggunakan alat peraga garis bilangan mistar.
c. Diskusi antara guru, supervisor 2, dan kolaborator untuk refleksi hasil
siklus Penelitian tindakan kelas.
3. Alat Pengumpulan Data Penelitian Tindakan Kelas
a. Tes, menggunakan butir soal/instrument soal untuk mengukur hasil
belajar siswa.
b. Observasi, menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat
aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar matematika.
c. Diskusi, menggunakan lembar hasil pengamatan.
22

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Hasil penelitian diuraikan dalam tahapan berupa siklus-siklus pembelajaran
yang dilakukan dalam proses belajar mengajar di kelas. Dalam penelitian ini
dilakukan dalam tiga siklus sebagaimana pemaparan berikut ini.
1. Siklus Pertama
Siklus pertama terdiri dari empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan,
observasi dan refleksi, seperti berikut ini.
a. Perencanaan
1) Observasi tentang kondisi siswa saat pelajaran berlangsung untuk
mengetahui kelemahan metode sebelum perbaikan.
2) Konsultasi dengan supervisor 2 tentang hasil observasi untuk dijadikan
dasar untuk merencanakan perbaikan. Berdasarkan pada tindakan
pendahuluan yang dilakukan peneliti terhadap aktifitas siswa sebelum
tindakan yang dilakukan, maka dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk
mengatasi persoalan dengan menggunakan metode demonstrasi dengan
menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser.
b. Pelaksanaan
Pada saat awal siklus pertama pelaksanaan belum sesuai dengan rencana. Hal
ini disebabkan :
1) Sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar dengan cara
penyajian informasi dalam kegiatan belajar mengajar dengan
mempertunjukkan tentang cara melakukan penggunaan alat peraga
Mistar Hitung Geser untuk melakukan kegiatan belajar berupa Sifat
Operasi Hitung Bilangan Bulat dengan menerapkan metode demonstrasi.
2) Sebagian siswa belum memahami langkah-langkah pembelajaran dengan
menerapkan metode demonstrasi menggunakan alat peraga Mistar Hitung
Geser secara utuh dan menyeluruh.
Untuk mengatasi masalah diatas dilakukan upaya sebagai berikut.
23

1) Guru dengan intensif memberi pengertian kepada siswa kondisi dalam


melaksanakan penerapan metode demonstrasi, dan cara penggunakan alat
peraga Mistar Hitung Geser.
2) Guru membantu siswa yang belum memahami langkah-langkah
pembelajaran dengan menerapkan metode demonstrasi.
Pada akhir siklus pertama dari hasil pengamatan guru dan kolaborasi
dengan supervisor 2 dapat disimpulkan :
1) Siswa mulai terbiasa dengan kondisi belajar dengan menggunakan alat
peraga yang didemonstrasikan.
2) Siswa mampu menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan
metode demonstrasi menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser
memiliki langkah-langkah tertentu.
c. Observasi dan Evaluasi
1) Hasil Evaluasi siklus I dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1. Hasil Evaluasi dan Aktivitas Siswa
No Tindakan Pra Siklus Siklus I Keterangan
1. Rata-Rata 58.85% 71,15% Belum tercapai
secara klasikal
2. Ketercapaian KKM 19,23% 53,85% Belum Tercapai
≥75
3. Aktivitas Siswa (%) 53,85% 65,38% Rendah

Dari skor ideal 100, skor perolehan rata-rata hanya mencapai 71,15 atau
71,15% dan ketuntasan belajar baru mencapai sebesar 53,85%.
2) Hasil observasi siklus 1. Aktivitas siswa dalam PBM
Hasil observasi aktivitas siswa dalam PBM selama siklus pertama baru
mencapai 65,38% aktif.
d. Refleksi dan perencanaan Ulang
Adapun keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada siklus pertama
adalah sebagai berikut.
24

1) Guru belum terbiasa menciptakan suasana pembelajaran yang mengarah


kepada pembelajaran kepada penerapan metode demonstrasi
menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser. Hal ini diperoleh dari
hasil observasi terhadap hasil evaluasi siklus I hanya mencapai 53,83%
dengan rata-rata 71,15.
2) Sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar dengan
menerapkan metode demonstrasi menggunakan alat peraga Mistar Hitung
Geser.
3) Masih ada siswa yang kurang mampu dalam memperagakan
pembelajaran yang dilakukan.
Gambaran perbandingan hasil evaluasi belajar dan Aktivitas siswa antara
Pra siklus dan siklus I, dapat digambarkan pada grafik 4.1 berikut.
80.00% 71.15%
65.38%
58.85%
60.00% 53.85% 53.85%
Persentase

40.00%
Pra Siklus
19.23%
20.00% Siklus I

0.00%
Nilai Rata-Rata
Ketuntasan
Aktivitas Siswa
Grafik 4.1 Hasil Evaluasi Belajar dan Aktivitas Siswa

Untuk memperbaiki kelemahan dan mempertahankan keberhasilan yang


ada maka pada pelaksanaan siklus kedua dapat dibuat perencanaan sebagai
berikut.
a. Memberikan motivasi kepada siswa agar lebih aktif lagi dalam pembelajaran.
b. Lebih intensif membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
c. Memberi pengakuan atau penghargaan (reward).
2. Siklus Kedua
Seperti pada siklus pertama, siklus kedua ini terdiri dari empat tahap,
yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi, seperti berikut ini.
a. Perencanaan
25

1) Observasi tentang kondisi siswa saat pelajaran berlangsung untuk


mengetahui kelemahan metode sebelum perbaikan, dengan memberikan
motivasi kepada siswa agar lebih aktif lagi dalam pembelajaran.
2) Lebih intensif membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
3) Memberi pengakuan atau penghargaan.
4) Konsultasi dengan supervisor 2 tentang hasil observasi untuk dijadikan
dasar untuk merencanakan perbaikan. Berdasarkan pada tindakan
pendahuluan yang dilakukan peneliti terhadap aktifitas siswa sebelum
tindakan yang dilakukan, maka dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk
mengatasi persoalan dengan menggunakan metode demonstrasi dengan
menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser.
b. Pelaksanaan
1) Suasana pembelajaran sudah terbiasa dengan kondisi belajar dengan cara
penyajian informasi dalam kegiatan belajar mengajar dengan
mempertunjukkan tentang cara melakukan penggunaan alat peraga
Mistar Hitung Geser untuk melakukan kegiatan belajar berupa Sifat
Operasi Hitung Bilangan Bulat dengan menerapkan metode demonstrasi.
2) Sebagian siswa termotivasi terhadap pembelajaran dengan menerapkan
metode demonstrasi menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser
secara utuh dan menyeluruh untuk bertanya.
3) Suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sudah mulai
tercipta.
c. Observasi dan Evaluasi
1) Hasil Evaluasi siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2. Hasil Evaluasi dan Aktivitas Siswa
No Tindakan Siklus I Siklus II Keterangan
1. Rata-Rata 71,15% 74,62% Belum tercapai secara
klasikal
2. Ketercapaian KKM ≥75 53,85% 65,38% Belum Tercapai
3. Aktivitas Siswa (%) 65,38% 73,08% Sedang
26

Dari skor ideal 100, skor perolehan rata-rata mencapai 74,62 atau 74,62%
dan ketuntasan belajar baru mencapai sebesar 65,38%.
2) Hasil observasi siklus 2. Aktivitas siswa dalam PBM
Hasil observasi aktivitas siswa dalam PBM selama siklus kedua
mencapai 73,08% aktif.
Gambaran perbandingan hasil evaluasi belajar dan Aktivitas siswa siklus
I dan siklus II, dapat digambarkan pada grafik 4.2 berikut.
74.62%
80.00% 71.15% 73.08%
70.00% 65.38% 65.38%
60.00% 53.85%
Peresentase

50.00%
40.00%
Siklus I
30.00%
20.00% Siklus II
10.00%
0.00%
Nilai Rata-Rata
Ketuntasan
Aktivitas Siswa
Grafik 4.2 Hasil Evaluasi Belajar dan Aktivitas Belajar

d. Refleksi dan perencanaan Ulang


Adapun keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada siklus pertama
adalah sebagai berikut.
1) Meningkatnya rata-rata nilai ulangan dari 71,15 menjadi 74,62 pada
siklus II.
2) Meningkatnya aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar didukung
oleh meningkatnya suasana pembelajaran yang mengarah pada penerapan
metode demonstrasi menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser.
3. Siklus Ketiga
a. Perencanaan
Planing pada siklus ketiga berdasarkan replaning siklus kedua yaitu.
1) Observasi tentang kondisi siswa saat pelajaran berlangsung untuk
mengetahui kelemahan metode sebelum perbaikan, dengan memberikan
motivasi kepada siswa agar lebih aktif lagi dalam pembelajaran.
2) Lebih intensif membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
27

3) Memberi pengakuan atau penghargaan.


4) Konsultasi dengan supervisor 2 tentang hasil observasi untuk dijadikan
dasar untuk merencanakan perbaikan. Berdasarkan pada tindakan
pendahuluan yang dilakukan peneliti terhadap aktifitas siswa sebelum
tindakan yang dilakukan, maka dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk
mengatasi persoalan dengan menggunakan metode demonstrasi dengan
menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser.
b. Pelaksanaan
1) Suasana pembelajaran sudah terbiasa dengan kondisi belajar dengan cara
penyajian informasi dalam kegiatan belajar mengajar dengan
mempertunjukkan tentang cara melakukan penggunaan alat peraga
Mistar Hitung Geser untuk melakukan kegiatan belajar berupa Sifat
Operasi Hitung Bilangan Bulat dengan menerapkan metode demonstrasi.
2) Hampir semua siswa termotivasi terhadap pembelajaran dengan
menerapkan metode demonstrasi menggunakan alat peraga Mistar Hitung
Geser secara utuh dan menyeluruh untuk bertanya.
3) Suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sudah mulai
tercipta.
c. Observasi dan Evaluasi
1) Hasil Evaluasi siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2. Hasil Evaluasi dan Aktivitas Siswa
No Tindakan Siklus II Siklus III Keterangan
1. Rata-Rata 74,62% 86,15 Tercapai secara
klasikal
2. Ketercapaian KKM 65,38% 100% Belum Tercapai
≥75
3. Aktivitas Siswa (%) 73,08% 100% Baik
Dari skor ideal 100, skor perolehan rata-rata mencapai 86,15 atau 86,15%
dan ketuntasan belajar mencapai sebesar 100,00%.
2) Hasil observasi siklus 2. Aktivitas siswa dalam PBM
28

Hasil observasi aktivitas siswa dalam PBM selama siklus ketiga


mencapai 100% aktif.
Gambaran perbandingan hasil evaluasi belajar dan Aktivitas siswa siklus
II dan siklus III, dapat digambarkan pada grafik 4.3 berikut.
120.00%
100% 100%
100.00% 86.15%
74.62% 73.08%
Persentase

80.00% 65.38%
60.00%
40.00% Siklus II
20.00% Siklus III
0.00%
Nilai Rata- Ketuntasan Aktivitas
Rata Siswa
Grafik 4.3 Hasil Evaluasi Belajar dan Aktivitas Belajar

d. Refleksi dan perencanaan Ulang


Adapun keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada siklus pertama
adalah sebagai berikut.
1) Meningkatnya rata-rata nilai ulangan dari 74,62 menjadi 86,15 pada
siklus III.
2) Meningkatnya aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar didukung
oleh meningkatnya suasana pembelajaran yang mengarah pada penerapan
metode demonstrasi menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser.
B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa
Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa metode demonstrasi
menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser meningkatkan hasil belajar
siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa
terhadap materi yang disampaikan guru, ketuntasan belajar meningkat dari,
masing-masing siklus I (53,85%),Siklus II (65,38%), dan siklus III (100%).
2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses
pembelajaran dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak
29

positif terhadap hasil belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan


meningkatnya nilai rata-rata siswa yaitu siklus I (71,15), siklus II (74,62),
dan siklus III (86,15).
3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran
Meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar didukung oleh
meningkatnya aktivitas guru dalam mempertahankan dan meningkatkan
suasana pembelajaran yang mengarah pada pembelajaran dengan
menerapkan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga Mistar
Hitung Geser. Guru intensif membimbing siswa, terutama saat siswa
mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar dapat dilihat dari siklus I
(65,38%) aktif, siklus II (73,08%) aktif, dan siklus III (100%) aktif.
KESIMPULAN DAN SARAN TINDAKLANJUT

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan sebagai berikut.


a. Penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran menunjukkan peningkatan.
Hal ini dapat ditunjukkan dengan hasil evaluasi belajar berupa ketuntasan
belajar meningkat dari, masing-masing siklus I (53,85%),Siklus II (65,38%),
dan siklus III (100%) setelah menggunakan metode demonstrasi
menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser.
b. Peningkatan hasil belajar berupa nilai rata-rata mengalami peningkatan mulai
dari siklus I (71,15%),Siklus II (74,62%), dan siklus III (86,15%).
c. Dari hasil observasi memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas
siswa yang pada siklus I hanya 65,38% menjadi 73,08% pada siklus kedua
dan 100% pada siklus III.
B. Saran Tindak Lanjut
1. Dalam kegiatan belajar mengajar guru diharapkan menjadikan metode
demonstrasi menggunakan alat peraga Mistar Hitung Geser sebagai suatu
alternatif dalam mata pelajaran matematika untuk meningkatkan hasil belajar
siswa dan aktivitas siswa.
30

2. Karena kegiatan ini sangat bermanfaat khususbya bagi siswa dan guru, maka
diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam
pelajaran matematika maupun pelajaran lain.

DAFTAR PUSTAKA
Anitah, W. Sri., et.al. (2009). Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta:
Universitas Terbuka

Cahyo, Agus N. (2013). Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar.


Jogjakarta: DIVA Press

Daryanto. (2013). Strategi dan Tahapan Mengajar; Bekal Keterampilan Dasar bagi
Guru. Bandung: Yrama Widya

Dimyati dan Mujiono. (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Hernawan, Asep Herry., et.al.( 2010). Pengembangan Kurikulum dan Pengajaran.


Jakarta: Universitas Terbuka

Kunandar. (2009). Penelitian Tindakan Kelas; Sebagai Pengembangan Profesi


Guru. Jakarta: Rajawali Press.
Muhsetyo, Gatot., et.al. (2011). Pembelajaran Matematika di SD. Jakarta:
Universitas Terbuka

Rostiyah, NK. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Soemanto, Wasty.( 2006). Psikologi Pendidikan; Landasan Kerja Kepemimpinan


Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Thoifuri. (2008). Menjadi Guru Inisiator. Semarang : RaSAIL Media Group

http://contoh-surat.net/pengertian-belajar.html, diakses 26/10/2013


http://mtsalhidayahsungkai.blogspot.com/2013/05/pengertian-hasil-belajar-
siswa.html, diakses 26/10/2013
http://the-math-lovers-community.blogspot.com/2011/02/alat-peraga-dan-
sarana.html , diakses 26/10/2013
http://www.sarjanaku.com/2011/03/pengertian-alat-peraga.html, diakses
26/10/2013 , diakses 26/10/2013