Anda di halaman 1dari 13

Alat dan Cara Kerja Alat-Alat yang digunakan pada Proses Leaching Skala

Industri

Leaching adalah proses ekstraksi padat-cair dengan perantara suatu zat


pelarut. Proses ini dimaksudkan untuk mengeluarkan zat terlarut dari suatu
padatan atau untuk memurnikan padatan dari cairan yang membuat padatan
terkontaminasi. Metode yang digunakan untuk ekstraksi akan ditentukan oleh
banyaknya zat yang larut, penyebarannya dalam padatan, dan sifat padatan
(Bambang dkk, 2008). Zat terlarut yang menyebar merata di dalam padatan, akan
membuat material yang dekat permukaan akan pertama kali larut terlebih dahulu.
Pelarut kemudian akan menangkap bagian pada lapisan luar sebelum mencapai zat
terlarut. Proses akan menjadi lebih sulit dan laju ekstraksi menjadi turun.
Proses leaching berlangsung dalam tiga tahap, yaitu pertama perubahan
fase dari zat terlarut yang diambil pada saat zat pelarut meresap masuk. Kedua,
terjadi proses difusi pada cairan dari dalam partikel padat menuju keluar permu-
kaan. Ketiga, perpindahan zat terlarut dari suatu padatan ke zat pelarut. Laju
perpindahan massa dalam rongga-rongga partikel sukar untuk diketahui karena
sulitnya menentukan bentuk dari lorong tempat perpindahan terjadi. Ekstraksi
padat-cair, satu atau beberapa komponen yang dapat larut dipisahkan dari bahan
padat dengan bantuan pelarut. Proses ekstraksi ini digunakan dalam skala besar
terutama dibidang, industri bahan alami dan makanan. Industri bahan alami
tersebut digunakan untuk memperoleh bahan aktif dari tumbuhan atau organ
binatang untuk keperluan farmasi, kopi dari biji kopi (Ayu dkk, 2016).
Operasi kontinyu pada ekstraksi cair-cair dapat dilaksanakan dengan
sederhana, karena tidak hanya pelarut, melainkan juga bahan ekstraksi cair secara
mudah dapat dialirkan dengan bantuan pompa. Bahan ekstraksi berulang kali
dapat dicampur dengan pelarut atau larutan ekstrak dalam arah berlawanan yang
konsentrasinya senantiasa meningkat. Kedua fasa dipisahkan dengan cara penjer-
nihan. Bahan ekstraksi dan pelarut terus-menerus diumpankan ke dalam alat,
sedangkan rafinat dan larutan ekstrak dikeluarkan secara kontinu. Ekstraktor yang
paling sering digunakan adalah kolom-kolom ekstraksi, di samping itu juga digu-
nakan perangkat pencampur-pemisah (mixer-settler). Alat-alat ini terutama
digunakan apabila bahan ekstraksi yang harus dipisahkan berada dalam kuantitas
yang besar, atau bila bahan tersebut diperoleh dari proses-proses yang sebelumnya
dilakukan secara terus-menerus (Rudi dkk, 2009).
Alat tidak kontinyu yang sederhana digunakan misalnya untuk mengolah
bahan dalam jumlah kecil, atau bila hanya sekali-kali dilakukan ekstraksi.
Pemisahan yang dapat dilakukan yaitu fasa berat dari fasa ringan. Penurunan
lapisan antar fasa seringkali dikontrol secara elektronik dengan perantaraan alat
ukur konduktivitas. Bantuan secara mekanik dapat dilakukan dengan pelampung
atau benda apung. Alat-alat ekstraksi tak kontinyu dan kontinyu berikut ini
biasanya merupakan bagian dari suatu rangkaian lengkap (Ayu dkk, 2016).
Rangkaian tersebut terdiri atas, alat untuk pengolahan awal yaitu
pengecilan ukuran dan pengeringan bahan ekstraksi. Ekstraktor yang fungsi
utamanya adalah perlengkapan untuk memisahkan larutan ekstrak dari rafinat
seringkali menyatu dengan ekstraktor. Peralatan untuk mengisolasi ekstrak atau
meningkatkan konsentrasi larutan ekstrak dan memperoleh kembali pelarut.
Simplisia diproses dengan kondisi dan alat manufaktur yang baik. Lingkungan
yang baik, tidak adanya kontaminasi, bersih, peralatan menggunakan kualitas baja
yang tahan karat dan dapat tahan pada kondisi suhu dan pH (Rudi dkk, 2009).
Permukaan bagian dalam dari alat yang digunakan haruslah licin dan rata
sehingga dapat mencegah terjadinya pelengketan yang mungkin dapat
menimbulkan kontaminasi pada bets berikutnya. Alat yang digunakan luas dan
penyekatan ruangan haruslah disesuaikan dengan baik. Ventilasi udara, pada alat
tersebut terletak pada permukaan bagian dalam setiap ruang dipasang untuk
mencegah adanya debu yang menempel pada alat (Soepadiyo dkk, 2003).

1. Ekstraksi pada Industri Kelapa Sawit Menggunakan Oil Clarifier


Minyak sawit yang didapatkan dari expeller masih berupa minyak kental
karena mengandung partikel padat yang berwujud seperti lumpur dan susah
dipisahkan dari minyak. Para Ilmuwan telah menggunakan banyak metode untuk
memisahkan padatan dari minyak, tetapi cara yang paling efektif adalah dengan
menambahkan banyak air pada minyak. Penambahan ini akan memisahkan
minyak bening ke atas dan air bersama kotoran ke bawah. Alat berupa dua
silinder, dengan satu silinder lebih kecil berada di dalam silinder yang lebih besar.
Minyak dimasukkan kedalam silinder yang besar melalui bagian bawahnya.
Minyak beningan akan naik ketas, seiring penambahan minyak ke dalam silinder
besar. Minyak bening dari silinder besar selanjutnya mengisi silinder kecil dan
dikeluarkan melaui bagian bawah silinder kecil. Minyak ini kemudian dipanaskan
untuk mengurangi kadar air dan didapatkan Crude Palm Oil(CPO) (Qiram, 2017).
Minyak yang berada dilapisan atas Crude Oil Tank (COT) dipompakan ke
Oil Settling Tank (OST) untuk diendapkan. Fungsi dari OST ialah mengendapkan
kotoran-kotoran yang terdapat dalam minyak. Proses pengendapan ini dapat
berlangsung sempurna apabila suhu minyak dapat dipertahankan pada suhu 80°C.
Kekentalan minyak pada suhu ini akan lebih rendah sehingga fraksi-fraksi akan
berada dibagian bawah tanki dan mengendap. Campuran minyak yang terdapat
dalam OST terdiri dari tiga lapisan yaitu, lapisan minyak, lapisan sludge dan
lapisan lumpur, semakin lama cairan minyak berada dalam OST maka pemisahan
akan semakin sempurna dan lumpur pun akan mengendap (Heruhadi, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi lama minyak bertahan dalam OST
yaitu, ukuran luas permukaan dan tingginya tanki. Luas permukaan yang semakin
besar, maka tangki semakin bebas partikel-partikel ekstraksi mengendap.
Beberapa pabrik dijumpai OST yang bentuk silinder dengan jumlah yang lebih
banyak, sehingga sistem ini dapat disebut dengan semi continuous. Keberhasilan
OST memisahkan minyak dipengaruhi pada masa tunggu dan cara pengenceran
minyak. Minyak yang masuk harus diatur perbandingan minyak dengan air,
sehingga minyak dapat bertahan lebih lama dalam tanki (Farid dkk, 2013).
Lumpur yang berada di bawah tanki yaitu yang berada pada cone dapat
mengganggu proses pengendapan, yaitu bila cone ditutupi oleh lumpur maka
dasar tanki yang berlumpur membentuk sebuah bidang datar, yang berarti akan
mengurangi volume pada tanki dan akan mengurangi waktu tunggu dalam OST.
Pembuangan lumpur yang terlalu cepat dapat mempertinggi oil losses, karena
dalam lumpur tersebut terdapat minyak yang melekat. Minyak dalam lumpur juga
dipengaruhi oleh suhu pemanasan. Pembuangan cairan berlumpur, cairan ini
berada dibagian tengah yang dialirkan ke dalam sludge tank dan kemudian akan
dipompakan ke sludge separator atau decanter. Kontinuitas pemompaan dapat
membantu pemisahan minyak dalam settling tank.
Cairan lumpur pada Cylindrical Settling Tank dialirkan secara overflow
(Jami dan Nuri, 2012). OST terdiri dari dua bentuk yaitu bentuk bak bersambung
yang disebut dengan Continuous Settling Tank (CST) dan bentuk silinder. Kedua
bentuk ini memiliki mekanisme pemisahan yang berbeda-beda (Nurul dkk, 2016).
CST adalah tipe bak bersambung yang dapat memisahkan lumpur sambil mengalir
dari satu kamar ke kamar bak yang lain (Hasballah dkk, 2018).
Pemisahan dapat berlangsung dengan baik apabila kecepatan aliran lebih
lambat dari kecepatan mengendap dari zat minyak. Pemisahan sludge akan
berjalan dengan baik karena pemisahan cairan hanya menjadi dua fase yaitu fase
ringan dan berat. Fase berat mengalir dari bak yang satu ke bak lainnya melalui
dasar tanki, fase ringan mengalir dari bagian atas. Jumlah bak berpengaruh
terhadap pemisahan minyak, semakin banyak bak yang bersambung maka
pemisahan minyak dengan sludge semakin sempurna, demikian juga dengan suhu
minyak yang tinggi akan mempercepat proses pemisahan minyak. Suhu CST
hendaknya berkisar antara 80-90°C. Pemanasan yang efisien dapat dilakukan
dengan menggunakan steam pada pipa tertutup (Qiram, 2017).
Pemisahan sludge dalam tanki tergantung pada kecepatan aliran masuk
cairan dari decanter. Masuknya cairan minyak didalam CST bisa dari samping
dan mengikuti aliran spiral dan ada yang masuk langsung kebagian tengah yang
dibatasi dengan tabung. Suhu cairan dalam tanki dipertahankan 80-90°C sehingga
viskositas minyak dapat dipertahankan. Ukuran CST yang cukup besar pada akhir
pengolahan akan menyebabkan tidak seluruhnya minyak tertampung, jika minyak
harus diambil seluruhnya pada akhir pengolahan maka perlu power khusus untuk
membangkitkan alat klarifikasi, karena turbin sudah tidak bekerja lagi.
Suhu pada CST dapat dipertahankan dengan pemanasan dengan uap.
Desain pada CST terdapat pemanasan dengan menggunakan pipa uap tertutup dan
pipa uap terbuka. Pemanasan dengan uap langsung akan menyebabkan terjadinya
proses pembentukan emulsi yang dapat menurunkan efisiensi klarifikasi. Kualitas
minyak yang dihasilkan semakin jelek apabila minyak pada alat tersebut semakin
lama ditahan dalam OST. Mesin press hidrolik juga digunakan dalam proses eks-
traksi. Mesin press ini memiliki dua buah silinder pada mesin ini yakni silinder
kecil dan silinder master atau silinder besar (Agus dkk, 2016).
Cairan berupa oli hidrolik dimasukkan ke dalam silinder kecil. Piston di-
dorong untuk memampatkan oli hidrolik di dalamnya yang kemudian mengalir ke
silinder master melalui pipa. Tekanan pada silinder master dan piston di dalam
silinder master akan mendorong oli hidrolik kembali ke silinder kecil. Gaya yang
diterapkan pada oli hidrolik silinder kecil memiliki kekuatan yang lebih besar saat
mendorong master silider. Besarnya daya tekan dan kecepatan gerakan silinder
dikontrol menggunakan banyak valve (Irawan, 2015).

2. Industri Oleoresin dari Cassia Vera (Kayu Manis)


Ekstraksi yang digunakan pada indutri ini menggunakan alat yang praktis
dan menggunakan teknologi sederhana. Alat ini bisa diaplikasikan pada industri
kecil dan menengah dalam upaya meningkatkan nilai tambah dan diversifikasi
produk Cassia vera. Prinsip kerja dari alat ini yaitu mekanisme dengan pe-
manasan yang diatur menggunakan thermostat dan pengadukan menggunakan
motor penggerak berpengaduk. Ekstraksi dapat dilakukan didalam silinder dengan
volume 50 liter. Mekanisme penyaringan umumnya dilakukan dengan pengaturan
pevakuman melalui kran-kran dan vakum meter. Penyaringan menggunakan kom-
presor yang dimodifikasi dari outlet nya dengan meteran vakum (Ayu dkk, 2016).
Hasil uji coba dari 4 kg bahan memerlukan waktu penyaringan 50 menit,
tekanan rata-rata 10 cmHg dan dapat menyaring sebanyak 560 ml. Sistem
penyulingan vakum ini dilakukan dengan pengaturan pemanasan memakai
thermostat dan memakai pompa vakum. Ekstraksi pada industri obat-obatan yaitu
pada tahun 2003 Borobudur Natural Herbal Industry (BNHI) mendirikan unit
ekstraksi modern yaitu Borobudur Extraction Center (BEC), untuk meningkatkan
kualitas produk yang dihasilkan serta menyediakan bahan baku obat herbal
berkualitas baik. BEC menggunakan mesin teknologi canggih buatan Jerman,
menggunakan tiga tahapan yaitu perkolasi, evaporasi dan pengeringan (Nurul dkk,
2016). Perkolasi bertujuan untuk mengambil kandungan bahan aktif dari rempah-
rempah dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Kapasitas perkolasi ini adalah
sekitar 8000 liter sehingga dapat memproses 40-50 ton rempah kering.

3. Leaching pada Ekstraksi Minyak Biji Jarak Pagar


Screw press adalah alat yang sangat penting di pabrik kelapa sawit yang
berfungsi untuk mengeluarkan minyak dari daging buah dengan cara pengepresan.
Pabrik kelapa sawit menggunakan alat screw press untuk melanjutkan proses
pemisahan minyak dari digester yang membawa massa press keluar. Pengolahan
pengepressan minyak kelapa sawit akan terganggu jika screw press mengalami
masalah. Hasil dan pemisahan cangkang dan fibre menjadi lebih sedikit dan tidak
maksimal jika screw press mengalami massalah (Hasballah dkk, 2018). Kondisi
setiap screw press sangat menentukan kualitas hasil pengepresan buah sawit.
Screw press di pabrik kelapa sawit fugsinya untuk memeras kelapa sawit
yang telah dicincang lalu masuk ke digester untuk mendapatkan minyak kasar.
Mesin ini terdiri dari 2 batang besi campuran yang berbentuk spiral (screw)
dengan susunan horizontal dan berputar berlawanan arah. Kelapa sawit yang telah
dilumatkan di digester akan terdorong dan ditekan oleh cone pada sisi lainnya,
sehingga buah sawit menjadi terperas (Soepadiyo dkk, 2003).
Buah yang telah hancur akan diperas dari ampas dan akan mendapat gaya
perlawanan hidrolik. Putaran screw akan membawa ampas keluar dari pressan
menuju cake breaker conveyor untuk menuju ke proses selanjutnya. Alat hidrolik
yang terpasang dibagian depan adalah jenis adjusting cone yang menekan mulut
press sehingga massa buah yang telah hancur terhimpit. Hasil dari pengepresan ini
adalah CPO, fibred dan nut. Kondisi operasi adjusting cone adalah sebesar 50-60
bar dan dengan kuat arus 35-40 ampere. Besar kecilnya tekanan pada adjusting
cone sangat mempengaruhi hasil pemerasan minyak.
Kerugian pada pabrik akan disebabkan pada saat pengolahan inti sawit
karena banyak terdapat nut yang pecah jika tekanan yang digunakan melebihi
batas rata-rata. Minyak yang dihasilkan akan berkurang jika tekanan dibawah rata-
rata (Hasballah dkk, 2018). Naik turunnya tekanan pada alat adjusting cone dapat
disebabkan jumlah pasokan listrik tidak memadai sehingga pompa hidrolik tidak
dapat bekerja maksimal. Proses pengepresan minyak mentah kelapa sawit ini akan
menghasilkan minyak kasar dengan kadar 50%, air 42%, dan zat padat 8%.
Efesiensi pada proses ekstraksi minyak kelapa sawit dengan screw press
dapat memperhatikan hal-hal seperti tekanan proses. Tekanan proses tidak
maksimal dapat menyebabkan losses minyak yang tinggi atau persentase broken
kernel yang tinggi. Suhu daging buah yang keluar dari digester harus 90-95oC,
sehingga pemisahan minyak dapat berjalan sempurna. Kondisi worm screw, press
cage maupun cone harus dilakukan pengecekan keausannya, karena dapat
mempengaruhi hasil minyak yang didapat. Lubang pori press cage yang
tersumbat akan membuat minyak terbawa keluar (Hasballah dkk, 2018).
Tiga tipe screw press yang umum digunakan dalam pabrik kelapa sawit
yaitu speichim, usine de wecker dan stork. Ketiga jenis alat ini mempunyai pe-
ngaruh yang berbeda-beda terhadap efisiensi pengepressan. Alat press speichim
memiliki feed screw, sehingga kontinuitas dan jumlah bahan yang masuk konstan.
Kontiunitas bahan yang masuk kedalam screw press mempengaruhi volume worm
yang paralel dengan penekan ampas. Volume yang kosong akan membuat tekanan
berkurang dan oil losses dalam ampas akan tinggi. Kondisi seperti ini membuat
beberapa pabrik yang menggunakan screw press (Setiawan, 2017).
Feed screw digunakan karena efektif dan pengepressan dengan tekanan
yang rendah untuk membuat minyak yang dihasilkan keluar. Tekanan yang rendah
membantu kerja dari screw press, karena kandungan minyak telah berkurang.
Kandungan minyak yang tinggi pada saat pengepressan sering mengganggu dalam
proses yaitu membuat kenaikan bahan padatan bukan minyak yang dihasilkan
dalam cairan. Penggunaan alat feed screw membutuhkan biaya perawatan yang
besar, maka dalam pengoperasiannya perlu dilakukan perhatian yang lebih
insentif. Tipe stork terdiri dari alat yang menggunakan feed screw dan ada juga
tanpa alat feed screw. Alat screw press terdiri dari dua jenis yaitu single shaft dan
double shaft yang memiliki kemampuan press berbeda-beda. Alat press yang
double shaft umumnya memiliki kapasitas yang bisa masuk sebagai umpan yang
lebih tinggi daripada alat press yang single shaft (Soepadiyo dkk, 2003).
4. Alat Ekstraktor dengan Pelarut Menguap
Ekstraktor digunakan bahan pelarut menguap yang berfungsi sebagai
bahan ekstraksi. Campuran antara cairan ekstrasi dengan bahan pelarut rnenguap
disebut micella. Cairan ekstraksi dipisahkan dari bahan pelarut menguapnya.
Bahan pelarut menguap tersebut, dapat dipergunakan kernbali untuk proses
ekstraksi selanjutnya. Cara kerja mesin ekstraktor dengan pelarut menguap
kontinyu yaitu diawali dengan bahan yang akan diekstraksi dihaluskan terlebih
dahulu dengan cara digiling. Bahan yang telah dihalus itu dipanasi dengan uap
panas, dan selanjutnya dilunakkan dengan gilingan pelunak hingga berupa bubur.
Bahan berupa bubur tersebut dialirkan melalui alat pengangkut dan
dimasukkan ke dalam tangki ekstraktor melalui lubang pemasukan dan ditampung
dalam ember-ember ekstraktor. Ember-ember ekstraktor yang sudah berisi bubur
bahan dan bahan pelarut menguap terus berputar, pada waktu ember berada pada
posisi teratas dari rangkaian ember-ember ekstraktor, bahan yang telah dicampur
dengan pelarut menguap tersebut dan ditampung dalam alat penampung yang
sekaligus memisahkan antara micella dan ampas bahan (Qiram, 2017).

5. Alat Ekstraksi pada Industri Nabati


Industri nabati menggunakan mesin press ulir. Cara kerjanya yaitu per-
tama hubungkan sumbu alat pres ulir dengan pulley dari motor listrik penggerak
dengan perantaraan sabuk. Motor penggerak kemudian dihidupkan, kemudian
masukkan bahan yang akan diekstraksi melalui lubang pemasukan bahan.
Gerakan sumbu yang terbentuk berbentuk spiral, maka bahan akan terdorong
kedepan dan ke dinding silinder serta bahan akan terkoyak-koyak hingga cairan
bahan akan terekstraksi. Hasil ekstraksi dengan menggunakan alat press ulir
mesin terbawa sebagian dari ampas bahan, hingga perlu dipisahkan lagi dengan
cara-cara yang lain, misalnya dengan cara pengendapan (Putri, 2009).

6. Alat Ekstraksi Mesin Pemeras Buah


Alat yang digunakan dalam pemeras skala komersil terdiri dari bagian-
bagian seperti mangkok-mangkok ekstraktor atau pemeras yang berupa sepasang
mangkok yang tersusun atas bawah. Dinding dari mangkok-mangkok tersebut be-
rupa jari-jari yang dapat saling masuk diantaranya. Mangkok dibagian tengah
bawah terdapat alat pemotong yang berbentuk bundar, dan berfungsi sebagai alat
pemotong dan pengepres. Mangkok yang terdapat pada alat ekstraksi ini terdapat
plat-plat tersebut dapat naik turun (Marsden, 1992).
Mangkok pemeras terpasang dalam sebuah sumbu yang tegak letaknya,
sumbu mangkok atas dihubungkan dengan alat peng-gerak hingga dapat bergerak
naik turun. Pasangan-pasangan mangkok tersebut diatur berderet-deret melingkar
dan keseluruhannya dapat berputar pada sebuah sumbu. Pasangan mangkok-
mangkok pemeras tersebut terdapat alat penampung cairan hasil ekstraksi dan
pada bagian lain terdapat alat penampung ampas bahan. Cara kerja mesin pemeras
buah skala komersil tersebut diawali dengan bahan-bahan yang akan diekstraksi
diletakkan diatas mangkok bawah, dan pada saat itu plat pendorong bahan mang-
kok pemeras bawah berada dipermukaan dari mangkok (Priyanto, 2018).
Alat tersebut kemudian akan turun, hingga bahan akan masuk dalam
mangkok bawah. Mangkok ekstraktor atas selanjutnya turun dan mengepres bahan
tersebut, ke alat pemotong yang berbentuk bundar yang terletak diatas mangkok
pemeras bawah, hingga cairan buah akan keluar dari bahan, melalui jari-jari
mangkok pemeras tersebut ke luar dari mangkok ekstraktor dan tertampung dalam
alat penampung cairan buah hasil ekstraksi. Cairan hasil ekstraksi tersebut diatas,
selanjutnya dilairkan ke alat penyaringan guna mendapatkan cairan buah yang
bersih. Proses pengepresan yang telah selesai, mangkok pemeras atas akan kem-
bali naik dan ampas bahan yang berada pada mangkok-mangkok tersebut, karena
dorongan dari plat pendorong akan keluar dari dalam mangkok pemeras dan
ditampung dalam alat penampung ampas bahan (Suandi, 2016).

7. Agitated Leaching Tank


Industri pertambangan terutama pada proses pengolahan bijih logam
banyak menggunakan proses leaching. Tiga jenis leaching dalam pengolahan bijih
logam, yaitu heap leaching, vat leaching, dan agitated tank leaching. Agitated
tank leaching, yaitu pelindian emas dengan cara merendam bijih emas (diameter
kurang dari 0.15 cm) yang sudah dicampur dengan batu kapur dengan larutan
sianida pada suatu tangki dan selalu diaduk. Proses pengadukan selama 24 jam
untuk pelindian yang optimal. Proses yang terjadi didalam leaching tank adalah
pelarutan selektif antara emas dan perak dengan menggunakan reagen sianida
yang diperoleh dari larutan natrium sianida. Proses leaching yang dilakukan
adalah agitation leaching dengan pelarut sianida yang cocok untuk bijih dengan
kadar logam medium. Agitation leaching process dilakukan dengan adanya agitasi
yang berasal dari udara (Marsden, 1992).
Parameter yang harus di-perhatikan didalam leach tank agar proses
leaching mendapat hasil yang optimum yaitu, konsentrasi sianida, pH operasi,
persen solid, jumlah oksigen terlarut, pengadukan, waktu tinggal, dan temperatur
operasi. Sebelum dilakukan agitation leaching perlu dilakukan proses heap
leaching terlebih dahulu. Heap leaching dilakukan dengan cara meletakkan bijih
yang telah di-crush pada impervious liner (Eugene, 2009).
Larutan sianida diberikan dengan cara di-spray pada bagian atas dari
tumpukan dan larutan akan meresap ke bawah melalui tumpukan-tumpukan dan
akan terjadi proses leaching emas. Larutan yang kaya kandungan emas/gold
pregnant solution akan mengalir dari dasar tumpukan dan dikumpulkan untuk
proses recovery emas dengan metode carbon adsorption atau zinc precipitation
(Eugene, 2009). Heap leaching yang sudah mengandung emas akan dikontakkan
dengan karbon. Ada 3 metode yang umum digunakan, yaitu Carbon in Pulp (CIP)
menggunakan seragkaian agitated tank yang akan menjadi tempat terjadinya
kontak antara pregnant solution (hasil leaching) dengan karbon dan merupakan
metode paling konvensional. Secara umum biaya CIP lebih mahal dari CIL dan
membutuhkan lebih dari satu agitator, namun memiliki beberapa keunggulan.
Tingkat efisiensi adsorbsi karbon yang lebih tinggi dibandingkan dengan
CIL dan waktu resensi adsorbsi yang relatif lebih cepat. Kedua, yaitu Carbon in
Leach (CIL) menggunakan penggabungan proses leaching dengan carbon in pulp
dalam suatu agitated tank dengan ukuran yang lebih besar dari CIP. Bijih emas
yang biasanya digunakan adalah bijih emas mengandung native carbon yang
dapat menghambat proses recovery emas. Proses leaching dan carbon adsorption
digabung dalam suatu unit, konsentrasi karbon yang ada menjadi sehingga
kemampuan untuk gold recovery-nya tidak sebaik CIP. Proses adsorbsi tidak
berjalan efisien dan waktu resensinya lebih lama. Biaya operasional metode CIL
lebih rendah dibandingkan CIP dan hanya membutuhkan 1 agitator pada tank
tersebut (Sutan, 2018). Ketiga, yaitu Carbon in Column (CIC) alat ini meng-
gunakan serangkaian fluidized bed column (umumnya dengan atap terbuka),
mampu mengolah pregnant solution dengan kandungan solid 2-3%. Teknik
pengerjaannya adalah dengan memberikan kontak antara leached pulp dengan
granular karbon pada serangkaian agitating tanks dengan waktu retensi yang
cukup. Karbon akan di-recycle melalui sirkuit untuk menambah muatan sekitar 8-
10% dari beratnya. Alat vibrating screen digunakan yang sesuai, arang akan
dipisahkan dari pulp, karena alat ini akan membiarkan pulp untuk lolos sementara
karbon akan tertahan. Karbon kemudian akan dibawa ke stripping column untuk
diregenerasi. Teknik ini dapat juga digunakan pada proses pengolahan bijih emas
yang memiliki dengan kadar yang rendah (Eugene, 2009).
8. Dekanter Sentrifugasi pada Industri Makanan
Dekanter Sentrifugasi yang dirancang dari awal untuk menangani
konsentrasi padatan yang signifikan dalam suspensi, pada saat yang sama dapat
mencapai konsentrat cair yang baik. Mesin ini mencakup prinsip sederhana.
Perbedaan kecepatan antara sekrup dan gulir memberikan gerakan menyampaikan
untuk mengumpulkan dan menghapus padatan, yang menumpuk di dinding
mangkuk. Dekanter merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan liquid-
liquid dengan prinsip perbedaan densitas dan kelarutan yang rendah. Proses
pemisahan menggunakan dekanter diusahakan pada temperatur rendah karena
proses pada temperatur yang tinggi densitas akan semakin kecil dan kelarutan
akan semakin tinggi, sehingga sulit dipisahkan (Agus, 2019).
Prinsip kerjanya adalah cairan atau suspensi yang dimasukkan dalam de-
kanter yang biasanya berbentuk silinder dari bagian porosnya, dekanter diputar
dengan kecepatan tertentu. Alat ini dalam industri makanan banyak digunakan,
seperti dehalogenasi garam-garam dan penyulingan minyak (Budiman, 2009).
Serat halus ini berasal dari serat atau ampas yang terputus-putus pada waktu
pengepresan. Dengan berkurangnya serat halus ini, cairan minyak tidak akan
terlalu kental, sehingga proses pemisahan didalam CST akan lebih sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, Nurul Iman Supardi, Angky Puspawan. 2016. Pengolahan Kelapa Sawit
Dengan Kapasitas Olah 30 Ton/Jam Di PT. BIO Nusantara Teknologi.
Jurnal Ilmiah Bidang Sains. Vol. 2(17): 12-19.
Ayu, R., Farhat, A. R., dan Edwin. 2016. Analisa Pengaruh Leaching Terhadap
Pembentukan Silika Nanopartikel. Jurnal Teknik. Vol 3(4): 25-32.
Bambang, S., dan Ayu, F. 2008. Pembuatan Minyak Makan Dengan Proses
Leaching. Jurnal Teknologi Kimia. Vol. 1(2): 1-7.
Budiman Agus. 2009. Metode Sentrifugasi Untuk Pemisahan Biodiesel
Dalam Proses Pencucian. Jurnal Riset Industry Vol. 3(1): 173-178.
Eugene, W. W. L., Mujumdar, A. S. 2009. Gold Extraction and Recovery
Processes. Singapore: NUS.
Farid, A. S., dan Rutman, M. T. 2013. Ekstraksi Minyak Kelapa Secara
Fermentasi Dalam Skala Besar. Jurnal Industri. Vol. 5(1): 29-35.
Hasballah, T., dan Siahaan, E. W. Pengaruh Tekanan Screw Press Pada Proses
Pengepresan Daging Buah Menjadi Crude Palm Oil. Jurnal Darma Agung.
Vol. 26(1): 722-729.
Heruhadi, Bambang. 2008. Pengembangan Teknologi Proses Pengolahan Jarak
Pagar (Pure Jatropha Oil) Kapasitas 6 Ton Biji/Hari. Jurnal Sains Dan
Teknologi Indonesia. Vol 10(3): 189-196.
Irawan, Septyan Andri, Sentosa Ginting, Terip Karo-Karo. 2015. Pengaruh
Perlakuan Fisis Dan Lama Penyimpanan Terhadap Mutu Minuman Ringan
Nila Tebu. Jurnal Rekayasa Pangan. Vol. 3(3): 343-353.
Jami, Abdul, Nuri, Hafni Lissa. 2012. Perekayasaan Tangki Pengendap Untuk
Memisahkan (NH4)4UO2(CO3)3 Dari Cairan NH4F. Jurnal Rekayasa
Perangkat Nuklir. Vol. 9(1): 25-33.
Marsden, J., House, I. 1992. The Chemistry Of Gold Extraction. United Kingdom:
Ellis Horwood.
Priyanto, A., dan Tri, Y. H., .2018. Pengaruh Kecepatan Sentrifugasi Terhadap
Karakteristik Ekstrak Aloe Chinnensis Baker.Jurnal Teknik.UMJ Vol.
1(1): 1-8.
Putri, R.I., Fauziyah, M., & Setiawan, A. 2009. Penerapam Kontroler Fuzzy
Untuk Pengendalian Kecepatan Motor Induksi 3 Fasa Pada Mesin
Sentrifugal. Jurnal INKOM. Vol. 3(2): 12-17.

Rudi, M., dan Sari, R. 2009. Ekstraksi Kontinyu Minyak Atsiri dari Daun Salam
Dengan Menggunakan Pelarut Metanol. Jurnal Teknik. Vol. 4(2): 30-42.
Sutan, Sandra Malin, Yusuf Hendrawan, Deivy Amaliya Tripdani. 2018. Kajian
Pemanasan Pada Proses Ekstraksi Minyak Jarak Pagar (Jatropha Curcas
L.) Menggunakan Hydraulic Press). Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis
Dan Biosistem. Vol. 6(1): 63-71.
Setiawan, A., dan Syafri. 2017. Pengaruh Perubahan Dimensi Dan Jenis Material
Terhadap Umur Worm Screw Press Type AP-17 Pada PTPN V Sei. Garo.
Jurnal Teknik. Vol. 4(2): 1-6.
Soepadiyo, M., dan Semangun, H. 2003. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Qiram, I. 2017. Pengaruh Jumlah Sekat Vertikal dan Debit Aliran Terhadap
Viskositas Oli Pada Separator Air Oli. Jurnal Dinamika Teknik Mesin. Vol
7(1): 37-44.