Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebijakan dasar pembangunan nasional tertuang dalam Pembukaan

Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh

tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan

kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan

kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dari sekian sektor

pembangunan, kebijakan terhadap legalitas tanah menjadi bagian yang sangat

penting bagi masyarakat yang membutuhkan kepastian hukum terhadap lahannya,

baik lahan untuk pertanian dan lahan non pertanian/ permukiman. Masyarakat

bisa lebih produktif jika lahan yang dimilikinya telah memiliki kepastian hukum.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 sebagai landasan utama

pembangunan nasional dalam bidang pertanahan, yang menyatakan bahwa:

“Bumi dan air beserta kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh

Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat”.

Undang-Undang Dasar 1945, telah menegaskan bahwa Negara Indonesia

merupakan Negara yang berdasarkan atas hukum (rechstaat) dan tidak

berdasarkan atas kekuasaan belaka (machstaat). Demikian pula soal tanah,

pemerintah berkewajiban memberikan kepastian hukum terhadap status tanah

yang dikuasai masyarakat atau badan usaha.

Negara Indonesia telah menjamin hak rakyatnya. Sebagai negara yang

demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta

1
menjunjung tinggi hak asasi manusia dan menjamin segala warga negara

bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahannya dengan tidak

terkecuali.

Kepastian hukum penting untuk mengatur kehidupan masyarakat adil,

dapat menghindarkan pelanggaran yang dapat dilakukan oleh masyarakat ataupun

penegak hukum itu sendiri. Untuk itu diperlukan adanya kaidah hukum yang

dapat dipergunakan negara dalam mengatur tatanan kehidupan masyarakat.

Demikian pula mengenai tanah atau lahan, Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria

didalam Pasal 19 menyatakan untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah

diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut

ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pendaftaran

tersebut meliputi:

1) Pengukuran, perpetaan dan pembukuan tanah.

2) Pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut.

3) Pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian

yang kuat.

Pendaftaran tanah diselenggarakan dengan mengingat keadaan negara

dan masyarakat, keperluan lalu lintas sosial ekonomi serta kemungkinan adanya

setiap jengkal tanah dimata hukum keagrariaan harus jelas status hak dan

pemegang haknya. Misalnya, tanah Hak Milik jelas bukan tanah Negara dan

berbedakriterianya dengan tanah-tanah Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha,

Hak Pakai, Hak Sarusun.

2
Begitupun bagi siapa saja yang boleh menguasai atau memilikinya serta

peruntukan penggunaan tanahnya mempunyai kriteria-kriteria yang

berbeda.Tanah hak milik ataupun tanah hak-hak lainnya wajib didaftarkan di

kantor-kantor pertanahan (BPN). Bukti bahwa tanah tersebut telah terdaftar adalah

sertifikat tanah yang sekaligus sebagai bukti penguasaan atau pemilikan

pemegangnya atas tanah tersebut.

Tujuan pemerintah mengadakan pendaftaran tanah dan penerbitan

sertifikat merupakan salah satu perwujudan dari tujuan pendaftaran tanah yang

dimaksud Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-

Pokok Agraria (UUPA), melalui Pasal 19 mengamanatkan bahwa pemerintah

mengadakan pendaftaran tanah untuk seluruh wilayah Republik Indonesia dan

bahwa sertifikat hak atas tanah merupakan bukti yang kuat mengenai suatu

penguasaan atau pemilikan tanah.

Pemerintah mewajibkan pendaftaran tanah dan penerbitan sertifikat

merupakan salah satu perwujudan dari tujuan pendaftaran tanah yang dimaksud.

UndangUndang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok

Agraria atau Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Pasal 19 UUPA

mengamanatkan bahwa pemerintah mengadakan pendaftaran tanah untuk seluruh

wilayah Republik Indonesia dan bahwa sertifikat hakatas tanah merupakan bukti

yang kuat mengenai suatu penguasaan atau pemilikan tanah.

Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran

Tanah, menjelaskan tujuan dan kegunaan pendaftaran tanah dan salah satu

produknya bernama Sertifikat hak atas tanah tersebut. Untuk memberikan

3
kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu

bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan

mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan.

Dalam Peraturan Menteri Negara Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan

Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan

Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap, yang mengatur pelaksanaan pendaftaran

tanah sistematis lengkap dilaksanakan untuk seluruh obyek Pendaftaran Tanah di

seluruh wilayah Republik Indonesia dan mengatur percepatan pelaksanaan

pendaftaran tanah sistematis lengkap.

Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap sebagaimana dirumuskan dalam

Pasal 1 Angka (2) Peraturan Menteri Negara Agraria dan Tata Ruang/Kepala

Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2017 adalah kegiatan pendaftaran

tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak bagi semua obyek

pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia dalam satu wilayah desa

atau kelurahan atau nama lainnya yang setingkat dengan itu, yang meliputi :

pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu

atau beberapa obyek pendaftaran tanah untuk keperluan pendaftarannya.

Atas dasar ketentuan di atas, perlu adanya tindakan pemerintah serta

kesadaran masyarakat dalam rangka pendataan tanah demi terwujudkan tertib

administrasi, tertib hukum dan memenuhi tuntutan masyarakat Indonesia.

Penyelenggaraan pendaftaran tanah akan menghasilkan suatu produk

akhir yaitu berupa sertifikat sebagai tanda bukti kepemilikan hak atas tanah.

Namun dalam pelaksanaannya, pasti ada hambatan, baik dalam pelaksanaan

4
administrasi maupun dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat masih ada yang

belum begitu mengerti akan pentingnya suatu pendataan tanah. Pemegang hak

atau tanah berhak mendapatkan bukti otentik yang berkekuatan hukum tentang

kepemilikan tanahnya dari lembaga yang berwenang, yaitu Badan Pertanahan

Nasional.

Secara nasional, kementrian agrarian dan tata ruang (ART)/BPN tahun

2017 mengusulkan 5 juta bidang tanah yang akan di data selanjutnya dibuatkan

sertipikat gratis oleh masing-masing BPN setempat di daerah dan pada tahun 2018

mengusulkan 7 juta bidang tanah tanah. Pada dasarnya penerbitan sertipikat tanah

melalui program PTSL ini tidak jauh berbeda dengan penerbitan sertipikat tanah

melalui Program Nasional Agrarian (PRONA) yaitu sama-sama dilaksanakan

secara gratis, juga dengan prasyarat dari pendaftaran hak hingga penerbitan atau

pelayanan dari BPN, pra pelayanan dibebankan oleh pemilik tanah, seperti

BPHTB, alas hak , materai, patok batas ditanggung oleh pemilik lahan.

Perbedaan PTSL dengan PRONA adalah melalui program prona,

pendataan prona sebagai penerima sertifikat prona dilakukan secara merata

diseluruh desa dan kelurahan dalam satu kabupaten. Sementara program PTSL

pendataannya dilakukan terpusat di satu desa dan berbeda dengan prona yang

hanya menerbitkan sertipikat tidak menyeluruh pada semua bidang tanah yang

tidak bersertipikat dalam satu daerah sementara PTSL seluruh tanah dalam daerah

tersebut yang belum memiliki sertifikat akan dibuatkan. Dalam PTSL ini, tanah

yang akan diterbitkan sertifikatnya akan di validitasi dulu keberadaannya apakah

tidak ada di dalamnya tanah yang bersengketa. Tanah yang bermasalah akan

5
dipending sampai kejelasan hukumnya ada. Kendala yang dihadapi dalam prona

adalah Kepala Desa yang tidak mau mengikuti program tersebut. Untuk lebih

jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :

Tabel 1.

Perbedaan Program Nasional Agraria (PRONA) dan PTSL

Dalam pelaksanaan PTSL tidak semua hal dibiayai APBN. Salah satunya

patok atau pilar. Untuk penentuan batas tanah diperlukan paling sedikit empat

patok atau pilar. Penyelesaian kasus-kasus pertanahan senantiasa menjadi

perhatian seluruh jajaran Badan Pertanahan Nasional RI di tingkat Pusat, Kantor

Wilayah Propinsi maupun Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia.

Sampai dengan tahun 2017 tercatat sedikitnya terjadi 659 konflik agrarian atau

pertanahan di berbagai wilayah di dengan luasan 520.491,87 hektar.

6
Konflik yang terjadi pada tahun 2016 yang berhubungan dengan hak

kepemilikan tanah keluarga yaitu 652.738 kasus, pada tahun 2017 konflik

menunjukkan kenaikan siginifikan alias 50% yaitu sebanyak 1.302.572 kasus. Hal

tersebut terjadi karena kriminalisasi warga terus terjadi, Kenyataan ini pada

akhirnya menjadi dasar timbulnya kekerasan dan perampasan yang dilakukan oleh

individu atau bahkan sekelompok orang tertentu, yang biasanya lebih sering

dikenal dengan “Viktimisasi Kejahatan Pertanahan”. Sebagai Negara hukum,

Indonesia dalam banyak kasus memperlihatkan bahwa kekerasan ini timbul dari

kepemilikan permasalahan sertifikat tanah.

Hal ini yang sering didengungkan akhir-akhir ini. Seperti data yang

ditunjukkan oleh KPA, bahwa dari semua sektor, perkebunan menempati posisi

pertama. Sebanyak 208 konflik agraria sektor ini sepanjang 2017, atau 32% dari

seluruh kejadian. Properti menempati posisi kedua dengan 199 atau 30% konflik.

Ketiga infrastruktur dengan 94 (14%), disusul sektor pertanian 78 (12%). Sektor

kehutanan ada 30 (5%), sektor pesisir dan kelautan 28 (4%), terakhir

pertambangan 22 (3%).

Untuk infrastruktur, konflik terjadi pada 52.607,9 hektar dan

pertambangan 45.792,8 hektar. Sektor pesisir dan kelautan 41.109,47 hektar,

sektor pertanian pangan 38.986,24 hektar. Luasan konflik sektor properti

10.337,72 hektar. Sedangkan, selama tiga tahun pemerintahan Jokowi–Jusuf Kalla

(2015-2017), terjadi 1.361 konflik agraria.

Dengan kasus yang beruntun tersebut, dilengkapi dengan banyaknya

tanah yang belum bersertifikat, banyak program yang dicanangkan oleh

7
pemerintah demi mengatasi permasalahan tanah yang timbul. Salah satunya

adalah program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). Program yang

awalnya dikenal dengan program nasional (prona) ini merupakan hal yang penting

dan strategis untuk dokumen daerah yang memiliki kepastian hukum dalam

mewujudkan kebenaran atas subyek dan obyek tanah itu sendiri.

Pendekatan yang dilakukan dalam PTSL ini adalah melalui desa per desa,

kabupaten per kabupaten, serta kota per kota di seluruh Indonesia. Pendaftaran

tanah adalah suatu rangkaian kegiatan, yang dilakukan oleh negara/pemerintah

secara terus menerus dan teratur, berupa pengumpulan keterangan atau data

tertentu mengenai tanah-tanah tertentu yang ada di wilayah-wilayah tertentu,

pengolahan, penyimpanan dan penyajiannya bagi kepentingan rakyat, dalam

rangka memberikan jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan, termasuk

penerbitan tanda-buktinya dan pemeliharaannya. Penyelenggaraan pendaftaran

tanah dalam masyarakat modern merupakan tugas negara yang dilaksanakan oleh

pemerintah bagi kepentingan rakyat, dalam rangka memberikan jaminan kepastian

hukum di bidang pertanahan. Sebagian kegiatannya yang berupa pengumpulan

data fisik tanah yang haknya didaftar, dapat ditugaskan kepada swasta. Tetapi

untuk memperoleh kekuatan hukum, hasilnya memerlukan pengesahan pejabat

pendaftaran yang berwenang, karena akan digunakan sebagai data bukti.

Sebutan pendaftaran tanah atau land registration menimbulkan kesan

bahwa obyek utama pendaftaran atau satu-satunya obyek pendaftaran adalah

tanah. Memang, mengenai pengumpulan sampai penyajian data fisik, tanah yang

merupakan obyek pendaftaran yaitu untuk dipastikan letaknya, batas-batasnya,

8
luasnya dalam peta pendaftaran dan disajikan juga dalam “daftar tanah”. Kegiatan

pendaftaran tanah untuk pertama kali (“initial registration”) dapat dilakukan

melalui dua cara, yaitu secara sistematik dan secara sporadik.

Pendaftaran tanah secara sistematik adalah kegiatan pendaftaran tanah

untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak, yang meliputi semua obyek

pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian wilayah suatu

desa atau kelurahan. Umumnya prakarsa datang dari pemerintah.

Contoh pendaftaran tanah secara sistematik adalah yang diatur dalam

Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional nomor

Nomor 35 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah

Sistematis Lengkap .

Pendaftaran tanah secara sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah

untuk pertama kali mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah dalam

wilayah atau bagian wilayah suatu desa atau kelurahan secara individual atau

massal, yang dilakukan atas permintaan pemegang atau penerima hak atas tanah

yang bersangkutan (Boedi Harsono. 2008: 72-74). Hak milik atas tanah, demikian

pula setiap peralihan, pembebanan dengan hak-hak lain, dan hapusnya hak milik

atas tanah harus didaftarkan ke kantor pertanahan Kabupaten/ Kota setempat.

Pendaftaran ini merupakan alat pembuktian yang kuat (Pasal 23 UUPA).

Pendaftaran tanah untuk pertama kalinya atas Hak Milik diterbitkan tanda bukti

hak berupa sertifikat.

Sertifikat menurut Pasal 1 angka 20 Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun

1997 tentang Pendaftaran Tanah, adalah surat tanda bukti hak sebagaimana

9
dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA untuk hak atas tanah, hak

pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun, dan hak tanggungan

yang masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan (Urip

Santoso. 2005 :96).

Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap merupakan program pemerintah

yang mengacu pada Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan

Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2017 tentang Perubahan

Atas Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan

Nasional Nomor 35 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran

Tanah Sistematis Lengkap yang berhak mengikuti program ini dijelaskan pada

Pasal 14 yaitu: Pertama, Terhadap tanah yang sudah dibuatkan berita acara

penyelesaian proses Pendaftaran Tanahnya, dibukukan dalam daftar umum

pendaftaran tanah dan daftar lainnya, dan ditandatangani oleh Ketua Panitia

Ajudikasi Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap. Kedua, Bidang tanah yang

telah dibukukan dan telah ditandatangani sebagaimana dimaksud pada Ayat (1),

diterbitkan Sertfpikat Hak atas Tanah oleh Kepala Kantor Pertanahan atau dapat

didelegasikan kepada Ketua Panitia Ajudikasi Pendaftaran Tanah Sistematis

Lengkap. Ketiga, Penerbitan Sertifikat sebagaimana dimaksud pada Ayat (2)

diberikan kepada peserta Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap, meliputi:

1. Warga Negara Indonesia, bagi perorangan.

2. Masyarakat yang termasuk dalam Program Pemerintah Bidang Perumahan

Sederhana.

10
3. Badan Hukum keagamaan dan Badan Hukum sosial yang sesuai antara

penggunaan dengan peruntukan tanahnya.

4. Pegawai Negeri Sipil, Tentara Nasional Indonesia, atau Kepolisian Republik

Indonesia.

5. Veteran, Pensiunan Pegawai Neferi Sipil, Purnawirawan Tentara Nasional

Indonesia, Purnawirawan Kepolisian Republik Indonesia dan Suami/Istri/

Janda/ Duda Veteran/ Pensiunan Pegawai Negeri Sipil/ Purnawirawan Tentara

Nasional Indonesia/ Purnawirawan Kepolisian Republik Indonesia.

6. Instansi Pemerintah dan Pemerintah Daerah, untuk melaksanakan tugas dan

fungsinya dan tidak bersifat profit.

7. Nazhir, atau Masyarakat hukum adat.

8. Peserta Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap selain sebagaimana dimaksud

pada Ayat (3), bidang tanahnya hanya dilakukan pendaftaran pada Daftar

Tanah dan daftar lainnya. Pertama, Penerbitan Sertifikat Hak atas Tanah

peserta Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap sebagaimana dimaksud pada

Ayat (4), dilakukan atas biaya sendiri sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan. Kedua, Terhadap tanah obyek landreform dan tanah

transmigrasi yang menjadi objek Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap,

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Ayat (2), penerbitan haknya melalui

mekanisme sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketiga,

Dalam hal penerima sertifikat belum mampu melunasi Bea Perolehan Hak atas

Tanah dan Bangunan, maka dalam Buku Tanah dan Sertifikat diberi catatan

sebagai pajak terhutang dari pemilik tanah yang bersangkutan. Keempat,

11
Pelaksanaan penerbitan Sertifikat yang terdapat catatan pajak terhutang dari

pemilik tanah yang bersangkutan sebagaimana dimaksud pada Ayat (7)

dibuatkan daftar secara periodik untuk setiap bulan dan disampaikan kepada

Bupati/Wali Kota. Kelima, Penerbitan Sertifikat Hak atas Tanah sebagaimana

dimaksud pada Ayat (1) dilaksanakan dengan syarat sebagai berikut:

1) Penerima hak menyerahkan surat-surat bukti kepemilikan yang asli.

2) Penerima hak membuat Surat Pernyataan Bea Perolehan Hak atas Tanah

dan Bangunan Terhutang yang menjadi warkah Hak atas Tanah yang

bersangkutan, dan dicatat dalam Buku Tanah dan Sertifikat Hak atas

Tanahnya, dan

3) Peralihan atau perubahan data Sertifikat Hak atas Tanah hanya dapat

dilakukan setelah yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa Bea

Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terhutang sudah dilunasinya.

Pengaturan mengenai pembiayaan terdapat dalam Pasal 15 Peraturan

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik

Indonesia Nomor 1 Tahun 2017 yaitu:

1) Sumber pembiayaan untuk percepatan pelaksanaan Pendaftaran Tanah

Sistematis Lengkap dapat berasal dari pemerintah, pemerintah daerah,

Corporate Social Responsibility (CSR), Badan Usaha Milik Negara/Badan

Usaha Milik Daerah, badan hukum swasta dan/atau dana masyarakat

melalui Sertifikat massal swadaya.

2) Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) berasal dari: Pertama,

Daftar Isian Program Anggaran (DIPA) Kementrian Agraria dan Tata

12
Ruang/Badan Pertanahan Nasional dan/atau kementrian/lembaga

pemerintah lainnya. Kedua, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah

(APBD) Provinsi, Kabupaten//Kota dan Dana Desa. Ketiga, Corporate

Social Responsibility (CSR), Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha

Milik Daerah.

Selain sumber pembiayaan sebagaimana dimaksud pada Ayat (2),

pembiayaan percepatan pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap

dimungkinkan berasal dari kerjasama dengan pihak lain yang diperoleh dan

digunakan serta dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

Kabupaten Kupang sebagai salah satu Kabupaten penopang ibu Kota

Propinsi dan merupakan Kabupaten yang memiliki wilayah administrasi paling

luas yang ada di NTT, dengan total luas wilayah 5,298.13 Km persegi yang

terbagi dalam 3,278.25 Km persegi luas lautan dan 442.52 Km persegi luas garis

pantai dan 1,577.36 Km persegi luas wilayah daratan (Badan Pusat Statistik

Kabupaten Kupang, 2019).

Kantor ATR/BPN kabupaten kupang sebagai perpanjangan tangan

pemerintah pusat di daerah yang mempunyai tugas untuk mendata dan

memberikan sertifikat hak atas tanah kepada masyarakat, selama ini telah

mencapai banyak kesuksesan salah satunya adalah pencapaian dalam hal mendata

dan memberikan sertifikat kepada masyarakat. Sejauh ini ATR/BPN di kabupaten

kupang sudah menghasilkan 100.813 buah sertifikat tanah dari 6.26.025,979

meter persegi (0.18 % dari total luas wilayah daratan di kabupaten kupang).

13
ATR/BPN kabupaten Kupang terus berbenah dalam memberikan

pelayanan kepada masyarakat yang berhubungan dengan kepemilikan atas tanah.

Hal ini menjadikan setiap jengkal tanah menjadi sangat penting untuk memiliki

kepastian hukum untuk meminimalisasi potensi konflik, Namun disayangkan

tidak semua masyarakat memiliki pengetahuan tentang cara pendaftaran tanah,

cara memperoleh sertifikat, dan cara Badan Pertanahan Nasional memproses

permohonan sertifikat tanah. Selain soal sertifikasi tanah, masyarakat juga masih

banyak yang kurang paham bagaimana memproses pendaftaran tanah secara

sistematik lengkap. Padahal masyarakat memiliki kesempatan jaminan hukum

atas tanahnya lewat proses pendaftaran secara sistematis lengkap. Adapun data

pencapaian pelaksanaan Program PTSL di Kabupaten Kupang adalah sebagai

berikut :

Tabel 2

Pencapaian Pengukuran tanah dan Pembuatan sertifikat

melalui program PTSL

Luas Wilayah (dalam Hitungan Sertifikat)


Tahun Target Target Pencapaian Presentase
Nasional Kabupaten
2017 5 Juta 10 Ribu 10 Ribu 100 %
2018 7 Juta 17 Ribu 10 Ribu 100 %
2019 9 Juta 10 Ribu Sedang
-
Berjalan
Total 21 Juta 37 ribu 20 ribu 100 %
Sumber : Hasil Olahan Peneliti, September 2019

14
Dari data tabel 2 dapat dilihat bahwa target yang direncanakan di tingkat

nasional cenderung bertambah 2 juta sertifikat pertahunnya. Hal tersebut berlaku

untuk semua daerah di Indonesia termasuk Kabupaten Kupang.

Selain Keberhasilan pencapaian pelaksanaan PTSL di kabupaten

Kupang, ada pula beberapa hal yang dipandang bisa menjadi kegagalan dalam

pencapaian target tersebut yaitu Pegawai pelaksana PTSL, dimana pegawai

pelaksana diangkat melalui SK kepala kantor ATR/BPN untuk menjalankan dan

memenuhi target yang telah ditentukan oleh pemerintah pusat yaitu sebanyak 17

orang. Dilihat dari jumlah pegawai yang diangkat melalui SK kepala kantor

ATR/BPN dengan jumlah target sertifikat yang harus dicapai, membuat pegawai

harus bekerja ekstra. Hal tersebut menarik perhatian peneliti untuk

menuangkannya dalam suatu tulisan ilmiah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan keseluruhan uraian diatas dan memahami akan pentingnya

pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistem Lengkap (PTSL), menarik minat penulis

untuk menuangkannya dalam suatu tulisan ilmiah dengan judul: ‘'Kinerja Pegawai

Dalam Pelaksanaan Program Pendaftaran Tanah Sistem Lengkap (PTSL)'' Studi

Pada Kantor Agraria dan Tata Ruang (ATR)/ Badan Pertanahan Nasional (BPN)

Kabupaten Kupang''.

15
1.3 Tujuan Penelitian

Peneliti dalam Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan dan

menganalisis kinerja pegawai dalam Pelaksanaan Program Pendaftaran Tanah

Sistem Lengkap (PTSL) yang akan dilakukan pada Kantor Agraria dan Tata

Tuang (ATR)/ Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Kupang. Penelitian

ini secara detail bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang

Kualitas, Kuantitas, Ketepatan waktu dan Efektifitas.

1.4 Manfaat Penelitian

Peneliti sangat mengharapkan agar hasil dari penelitian ini dapat

bermanfaat dan bisa menjadi masukan bagi : Pertama, Pemerintah; Sebagai suatu

masukan dalam merumuskan dan membuat kebijakan. Kedua, Pelaksana

Program; Sebagai bahan informasi dan masukan dalam mengimplementasikan

program, kebijakan dan keputusan selanjutnya. Ketiga, Mahasiswa ; Sebagai

bahan informasi dan masukan bagi pihak–pihak lain yang berkepentingan serta

yang ingin melakukan penelitian selanjutnya. Keempat, Penulis ; Untuk

mengaplikasikan teori yang pernah didapat dengan kenyataan yang dihadapi

dilapangan

16
BAB II

TINJAUAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL

2.1 Tinjauan Pustaka

Peneliti dalam mendalami masalah yang ingin diteliti, menggunakan

beberapa teori yang dijadikan landasan dan penganggan, adalah sebagai berikut:

2.1.1 Kinerja

Keberhasilan kinerja suatu organisasi ditentukan oleh kualitas sumber

daya manusia dalam organisasi tersebut. Kinerja memiliki makna yang luas, tidak

hanya mengenai soal hasil kerja, melainkan juga mengenai dari proses kerja yang

berlangsung. Menurut Armstrong dan Baron (1998 : 15) kinerja adalah hasil

pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi,

kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi. Proses pelaksanaan

suatu organisasi harus melakukan monitoring, penilaian dan review terhadap

kinerja sumber daya manusia disuatu organisasi tersebut.

Melalui tiga hal tersebut bisa diketahui apakah kinerja dari pegawai

sejalan dengan pencapaian target.Apabila target tidak tercapai maka perlu

dilakukan evaluasi terhadap kinerja dari pegawai.

Perusahaan dalam melakukan evaluasi kinerja pegawai biasanya akan

menggunakan sebuah indikator penilaian. Menurut Robbins (2006 : 260)

pengukuran kinerja pegawai secara individu ada lima indikator, yaitu: Kualitas,

Kuantitas, Ketepatan Waktu, Efektivitas, Kemandirian.

17
2.1.2 Kualitas (Quality)

Kualitas merupakan salah satu aktor utama yang menentukan pemilihan

produk bagi pelanggan. Kepuasan pelanggan akan tercapai apabila kualitas

produk yang diberikan sesuai dengan kebutuhannya. Berikut ini beberapa

penjabaran mengenai pengertian kualitas :

Definisi Kualitas menurut Para Ahli:

1.2.1 Deming (1992) mendefinisikan kualitas sebagai perbaikan terus menerus. Ia

mendasarkan pada peralatan statistik, dengan proses bottom-up. Deming

(1992) tidak memasukkan biaya ketidakpuasan pelanggan, karena

menurutnya biaya ini tidak dapat diukur. Strategi Deming adalah dengan

melihat proses untuk mengurangi variasi dimana perbaikan kualitas akan

mengurangi biaya. Ia memiliki kepercayaan yang tinggi pada pemberdayaan

pekerja untuk memecahkan masalah, memberikan kepada manajemen

peralatan yang tepat.

1.2.2 Juran dalam Schonberger dan Knod (1997), kualitas adalah fitness for use/

kesesuaian penggunaan. Beberapa alat yang dapat digunakan untuk

pemecahan masalah adalah statistical process control (SPC). Ia berorientasi

untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Juran memperkenalkan quality

trilogy yang terdiri dari :Seberapa jauh atau baik proses atau hasil

menjalankan aktivitas mendekati kesempurnaan, ditinjau dari kesesuaian

dengan cara ideal menjalankan suatu kegiatan atau memenuhi tujuan yang

dikehendaki oleh suatu aktivitas.

18
1) Quality planning/ perencanaan kualitas. Perencanaan kualitas

merupakan proses untuk merencanakan kualitas sesuai dengan tujuan.

Dalam proses ini pelanggan diidentifikasikan dan produk yang sesuai

dengan kebutuhan pelanggan dikembangkan.

2) Quality control/ kontrol kualitas. Kontrol kualitas merupakan proses

mencapai tujuan selama operasi. Kontrol kualitas meliputi lima tahap:

Pertama, Menentukan apa yang seharusnya dikontrol. Kedua,

Menentukan unit-unit pengukuran. Ketiga, Menetapkan standar kinerja.

Keempat, Mengukur kinerja. Dan kelima, Evaluasi dengan

membandingkan antara kinerja sebenarnya dengan standar kinerja.

3) Quality improvement / perbaikan kualitas, untuk mencapai tingkat

kinerja yang lebih tinggi.

1.2.3 Menurut Taguchi (1987) kualitas adalah loss to society, yang maksudnya

adalah apabila terjadi penyimpangan dari target, hal ini merupakan fungsi

berkurangnya kualitas. Pada sisi lain, berkurangnya kualitas tersebut akan

menimbulkan biaya. Strategi Taguchi (1987) memfokuskan pada

peningkatan efisiensi untuk perbaikan dan pertimbangan biaya, khususnya

pada industri jasa.

1.2.4 Crosby (1979) mendefinisikan kualitas sebagai kesesuaian dengan

persyaratan. Ia melakukan pendekatan pada transformasi budaya kualitas.

Setiap orang yang ada dalam organisasi dilibatkan dalam proses dengan

menekankan pada kesesuaian dengan persyaratan individual. Proses ini

berlangsung secara top down. Konsep zero defect atau tingkat kesalahan nol

19
merupakan tujuan dari kualitas. Konsep ini mengarahkan pada tingkat

kesalahan produk sekecil mungkin, bahkan sampai tidak terdapat kesalahan.

1.2.5 Kotler (1997) mendefinisikan kualitas sebagai keseluruhan ciri dan

karakteristik produk atau jasa yang mendukung kemampuan untuk

memuaskan kebutuhan.

2.1.3 Kuantitas (Quantity )

Mangkunegara (2009) mengatakan Pengertian kuantitas kerja adalah

ukuran seberapa lama seorang karyawan dapat bekerja dalam satu harinya, atau

dapat dikatakan Pengertian kuantitas kerja adalah segala macam bentuk satuan

ukuran yang berhubungan dengan jumlah hasil kerja yang bisa dinyatakan dalam

ukuran angka atau padanan angka lainnya. Selanjutnya Chin & Osborne (2008)

berpendapat bahwa kuantitas adalah jumlah pertanyaan.

UU No. 10 Tahun 1992 tertulis bahwa kuantitas penduduk adalah jumlah

penduduk yang diukur dari perbedaan antara jumlah yang lahir, mati dan pindah

tempat tinggal.

Menurut Wungu dan Brotoharsojo (2003:56) bahwa “Quantity (kuantitas)

adalah segala bentuk satuan ukuran yang terkait dengan jumlah hasil kerja dan

dinyatakan dalam ukuran angka atau yang dapat dipadankan dengan angka”.

Sedangkan menurut Wilson dan Heyyel (1987:101) mengatakan bahwa “Quantity

of Work (kuantitas kerja) adalah jumlah kerja yang dilaksanakan oleh seseorang

pegawai dalam suatu periode tertentu. Hal ini dapat dilihat dari hasil kerja

pegawai dalam kerja penggunaan waktu tertentu dan kecepatan dalam

menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya.” Dengan demikian kuantitas kerja

20
dapat dilihat dari jumlah kerja dan penggunaan waktu. Jumlah kerja adalah

banyaknya tugas pekerjaanya, dapat dikerjakan. Penggunaan waktu adalah

banyaknya waktu yang digunakan dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan.

Penulis berpendapat bahwa kuantitas adalah jumlah. Dilihat dari maslah

yang ingin diteliti maka kuantias yang dimaksud oleh penulis adalah jumlah

pegawai yang diangkat oleh SK kepala Kantor untuk mengurusi program PTSL.

2.1.4 Ketepatan Waktu (Timeliness)

Definisi ketepatan waktu (timeliness) menurut Chairil dan Ghozali

(2001)dalam Ukago (2005) adalah “timeliness adalah suatu pemanfaatan

informasi oleh pengambil keputusan sebelum informasi tersebut kehilangan

kapasitas atas kemampuannya untuk mengambil keputusan” Ketepatan waktu bagi

pemakai informasi sangat penting, informasi yang tepat waktu berarti jangan

sampai informasi yang disampaikan sudah basi atau sudah menjadi rahasia umum.

Definisi tepat waktu menurut Baridwan (1997) dalam Anastasia dan Mukhlisin

(2003)“informasi harus disampaikan sedini mungkin agar dapat digunakan

sebagai dasar didalam pengambilan keputusan– keputusan ekonomi dan untuk

menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut”.

Penulis berpendapat Timeliness adalah Seberapa jauh atau baik sebuah

aktivitas diselesaikan, atau hasil yang diproduksi, pada waktu yang paling awal

yang dikehendaki dari sudut pandang koordinasi dengan output yang lain maupun

memaksimumkan waktu yang ada untuk kegiatan-kegiatan lain. Atau lebih

spesifik bisa dikatakan bahwa penyelesaian suatu tugas sesuai atau lebih awal dari

target waktu yang sudah ditentukan

21
2.1.5 Efektifitas (Effectiveness )

Dalam suatu organisasi dapat diukur tingkat keberhasilannya dengan

mengamati efektif tidaknya organisasi tersebut dalam menjalankan tugasnya. Kata

efektivitas pada dasarnya berasal dari kata “efek” dan digunakan dalam hubungan

sebab akibat. Efektifitas dapat dipandang sebagai suatu sebab dari variabel lain.

Efektivitas berarti bahwa tujuan yang telah direncanakan sebelumnya dapat

tercapai.

Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, efektif didefinisikan sebagai

berikut berhasil guna (tentang usaha tindakan), dapat membawa hasil, manjur

atau mujarab (tentang obat), ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesan).

Sedarmayanti (2001 : 59) mendefinisikan efektivitas sebagai “suatu

ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat tercapai”.

Pengertian efektivitas ini lebih berorientasi kepada keluaran sedangkan masalah

penggunaan masukan kurang menjadi perhatian utama. Apabila efisiensi dikaitkan

dengan efektivitas maka walaupun terjadi peningkatan efektivitas belum tentu

efisiensi meningkat.

Sondang P Siagan (2001 : 24) mendefinisikan : “Efektivitas sebagai

pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu yang

secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang dan jasa

atas kegiatan yang dijalankan.”

Efektivitas dalam hal ini menunjukan keberhasilan dari segi tercapai

tidaknya sasaran yang telah ditetapkan. Jika hasil kegiatan semakin mendekati

sasaran, berarti makin tinggi efektivitasnya.

22
2.1.6 Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL)

Menurut A.P Parlindungan, pendaftaran tanah berasal dari kata ''Cadastre''

(Bahasa Belanda Kadaster) suatu istilah teknis untuk suatu record (rekaman),

menunjukkan kepada luas, nilai dan kepemilikan terhadap suatu bidang tanah.

Kata ini berasal dari Bahasa latin “Capistratum” yang berarti suatu register atau

capita atau unit yang diperbuat untuk pajak tanah Romawi (Capotatio Terrens).

Dalam arti yang tegas, Cadastre adalah record pada lahan, nilai dari pada tanah

dan pemegang haknya untuk kepentingan perpajakan. Dengan demikian, Cadastre

merupakan alat yang tepat dalam memberikan uraian tersebut dan juga sebagai

Continous recording (rekaman yang berkesinambungan) dari hak atas tanah.

Istilah pendaftaran tanah dalam bahasa Latin disebut “Capistratum” di

Jerman dan Italia disebut “Calastro”, di Perancis disebut ”Cadastre”, di Belanda

dan juga di Indonesia dengan istilah “Kadastrale” atau “Kadaster”. Maksud dari

Capistratum atau Kadaster dari segi bahasa adalah suatu register atau capita atau

unit yang diperbuat untuk pajak Romawi, yang berarti suatu istilah teknis untuk

suatu record (rekaman) yang menunjukkan kepada luas, nilai dan kepemilikan

atau pemegang hak suatu bidang tanah, sedangkan kadaster yang modern bisa

terjadi atas peta yang ukuran besar dan daftar-daftar yang berkaitan. Sebutan

pendaftaran tanah atau land registration: menimbulkan kesan, seakan-akan objek

utama pendaftaran atau satu-satunya objek pendaftaran adalah tanah. Memang

mengenai pengumpulan sampai penyajian data fisik, tanah yang merupakan objek

pendaftaran, yaitu untuk dipastikan letaknya, batas-batasnya, luasnya dalam peta

pendaftaran dan disajikan juga dalam “daftar tanah”.

23
Pengertian pendaftaran tanah menurut Pasal 1 Peraturan Pemerintah (PP)

Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah adalah rangkaian kegiatan yang

dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus berkesinambungan dan teratur

meliputi pengumpulan, pengelolaan, pembukuan dan penyajian serta

pemeliharaan data fisik dan yuridis, dalam bentuk peta dan daftar mengenai

bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun termaksud pemberian

sertifikat, sebagai surat tanda bukti hanya bidang-bidang tanah yang sudah ada

haknya dan hak milik atas satuan rumah susun termasuk pemberian sertifikat

sebagai surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya

dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang

membebaninya.

Kata-kata “suatu rangkaian kegiatan” menunjuk kepada adanya berbagai

kegiatan dalam penyelenggaraan pendaftaran tanah, yang berkaitan satu dengan

yang lain, berturutan menjadi satu kesatuan rangkaian yang bermuara pada

tersedianya data yang diperlukan dalam rangka memberikan jaminan kepastian

hukum dibidang pertanahan bagi rakyat. Kata “terus menerus” menunjuk kepada

pelaksanaan kegiatan, yang sekali dimulai tidak akan ada akhirnya. Data yang

sudah terkumpul dan tersedia harus selalu dipelihara, dalam arti disesuaikan

dengan perubahan perubahan yang terjadi kemudian, hingga tetap sesuai dengan

keadaan terakhir.

Kata “teratur” menunjukan, bahwa semua kegiatan harus berlandaskan

peraturan perundang-undangan yang sesuai, karena hasilnya akan merupakan data

24
bukti menurut hukum, biarpun daya kekuatan pembuktiannya tidak sulalu sama

dalam hukum negara-negara yang menyelenggarakan pendaftaran tanah.

Berdasar rumusan pengertian dari pendaftaran tanah di atas, dapat

disebutkan bahwa unsur-unsur dari pendaftaran tanah yaitu:

1) Rangkaian kegiatan, bahwa kegiatan yang dilakukan dalam pendaftaran tanah

adalah, kegiatan mengumpulkan baik data fisik, maupun data yuridis dari

tanah.

2) dalam kegiatan pendaftaran tanah ini terdapat instansi khusus yang mempunyai

wewenang dan berkompeten, BPN (Badan Pertanahan Nasional).

3) Teratur dan terus menerus, bahwa proses pendaftaran tanah merupakan suatu

kegiatan yang didasarkan dari peraturan perundang-undangan, dan kegiatan ini

dilakukan secara terus-menerus, tidak berhenti sampai dengan seseorang

mendapatkan tanda bukti hak.

4) Data tanah, bahwa hasil pertama dari proses pendaftaran tanah adalah,

dihasilkannya data fisik dan data yuridis. Data fisik memuat data mengenai

tanah, antara lain, lokasi, batas-batas, luas bangunan, serta tanaman yang ada di

atasnya. Sedangkan data yuridis memuat data mengenai haknya, antara lain,

hak apa, pemegang haknya, dll.

5) Wilayah, bisa merupakan wilayah kesatuan administrasi pendaftaran, yang

meliputi seluruh wilayah Negara.

6) Tanah-tanah tertentu, berkaitan dengan oyek dari pendaftaran tanah.

7) Tanda bukti, adanya tanda bukti kepemilikan hak yang berupa sertifikat.

25
Berdasarkan uraian di atas maka diketahui bahwa pendaftaran tanah adalah

suatu rangkaian kegiatan, yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus menerus

dan teratur, berupa pengumpulan keterangan atau data tertentu mengenai tanah-

tanah tertentu yang ada di wilayah tertentu, pengolahan, penyimpanan dan

penyajiannya bagi kepentingan rakyat, dalam rangka memberikan jaminan

kepastian hukum di bidang pertanahan, termasuk penerbitan tanda buktinya dan

pemeliharaannya.

Berhubungan dengan tanah yang belum disertifikat, pemerintah

menargetkan akan melayani dan memberikan 126 Juta sertifikat, hingga tahun

2015 sertifikat tanah yang terlayani baru sebanyak 46 Juta sertifikat tanah

(sepertiga dari target pemerintah). Badan Pertanahan hanya bisa mengeluarkan

500 ribu sertifikat setiap tahunnya. Dengan kapasitas dari BPN tersebut jika

dirata-ratakan maka target pemerintah akan selesai 160 tahun lagi. Salah satu

penyebabnya yaitu kurangnya juru ukur tanah disemua daerah, maka pada tahun

2016 BPN mencari juru ukur tanah sesuaai dengan kebutuhan. Selanjutnya untuk

menjawab permasalahan diatas, Pemerintah melalui Badan Pertanahan Nasional

(BPN) melakukan program akselerasi pendaftaran tanah melalui Pendaftaran

Tanah Sistematis Lengkap (PTSL).

Hasil dari dilaksanakannya PTSL tahun 2017 sertifikat tanah yang

dibagikan melonjak sepuluh kali lipat menjadi 5 Juta Lembar, pelaksanaan PTSL

tahun 2018 naik menjadi 9 Juta Lembar sertifikat dan pada tahun 2019 ditargetkan

sebanyak 9 Juta lembar Sertifikat yang akan dibagikan.

26
Kabupaten Kupang mendapat target pelaksanaan PTSL tahun 2017

sebanyak 10 Ribu Sertifikat, pelaksanaan PTSL tahun 2018 sebanyak 17 Ribu

Sertifikat dan pelaksanaan PTSL tahun 2019 sebanyak 18 Ribu Sertifikat. Dengan

perbandingan juru ukur 8 orang sebagai petugas lapangan. Hal tersebut

merupakan suatu tantangan tersendiri bagi Badan Pertanahan Nasional Kab.

Kupang dimana kekurangan juru ukur dapat mempengaruhi pencapaian target dari

program PTSL.

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian ini mengacu pada penelitian terdahulu tentang partisipasi

masyarakat dalam program pembangunan. Akan tetapi, penelitian ini mempunyai

substansi masalah dan konteks yang berbeda dengan penelitian terdahulu lainnya.

Partisipasi merupakan suatu bentuk keikutsertaan seseorang atau sekelompok

anggota masyarakat dalam suatu kegiatan. Masyarakat memiliki arti yang sangat

penting dalam pembangunan, selain sebagai obyek pembangunan, masyarakat

juga diharapkan untuk berperan secara aktif sebagai subyek. Partisipasi

masyarakat merupakan perwujudan dari kesadaran dan kepedulian serta tanggung

jawab masyarakat terhadap pentingnya pembangunan yang bertujuan untuk

memperbaiki mutu hidup mereka karena kegiatan pembangunan bukanlah sekedar

kewajiban yang harus dijalankan oleh (aparat) pemerintah itu sendiri, tetapi perlu

adanya keterlibatan masyarakat sebagai objek pembangunan. adapun beberapa

penelitian terdahulu yang dapat disajikan oleh peneliti antara lain:

27
1. Bayu Dwilaksono Hanafi., 2017., Pengaruh Motivasi, Dan Lingkungan Kerja,

Terhadap Kinerja Karyawan, Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel

Mediasi Pada PT. Bni life insurance., Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis

(JPEB)., Vol.5 No.1 Maret 2017., http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/

jpeb/article/download/1935/1525/PDF., setiap perusahaan mempunyai tujuan

utama adalah mendapatkan laba sebanyak-banyaknya dan mengharapkan agar

perusahaan dapat berkembang. Karyawan merupakan kunci utama dalam

mencapai tujuan tersebut. Namun dalam pelaksanaannya, terkadang

perusahaan mengindahkan keberadaan dan kebutuhan dari para karyawannya.

Hal tersebut juga terjadi pada PT. Bni life insurance., Penelitian ini bertujuan

untuk menguji pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan, motivasi

terhadap kepuasan kerja, motivasi terhadap kinerja karyawan dengan

dimediasi oleh kepuasan kerja, pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja

karyawan, lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja, lingkungan kerja

terhadap kinerja karyawan yang dimediasi oleh kepuasan kerja, dan pengaruh

kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan., Metode penelitian ini

menggunakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan hubungan kausal

(causal effect) dan jenis data primer., Teknik pengumpulan data dengan

melakukan wawancara dan observasi dengan media kuesioner.Metode

analisis menggunakan statistik inferensial dengan tipe data parametrik, dan

menggunakan Structural Equation Modeling (SEM)., Hasil penelitian

menunjukan variabel motivasi terhadap kinerja karyawan berpengaruh positif

dan signifikan karena memiliki nilai t-value2.97 >t-tabel 1.96. Begitupun

28
motivasi terhadap kepuasan kerja memiliki nilai t value 2,31>t-tabel 1.96

yang berarti motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan

kerja. Motivasi terhadap kinerja karyawan yang dimediasi oleh kepuasan

kerja juga berpengaruh signifikan dengan nilai t-value-2.32 >t-tabel

1.96.Namun pada variabel lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan

menunjukan tidak berpengaruh dan signifikan karena nilai t-value0.00 <t-

tabel 1.96.Pada variabel lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja memiliki

pengaruh positif dan signifikan dengan nilai t-value sebesar 2.97 >t-tabel

1.96.Begitupun pada variabel lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan

dengan kepuasan kerja sebagai variabel mediasi mempunyai nilai t-value3.36

>t-tabel 1.96 yang berarti bahwa kepuasan kerja positif memediasi hubungan

antara lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan.Terakhir dapat dilihat

variabel kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan dengan nilai t-value-2.73

>t-tabel 1.96, jadi dapat diartikan variabel kepuasan kerja berpengaruh positif

dan signifikan terhadap kinerja karyawan.

2. Anidar KH dan Sri Indarti., 2015., Pengaruh Kemampuan dan Komitmen

Terhadap Motivasi dan Kinerja Pegawai Pada Sekretariat Daerah Kabupaten

Natuna., Jurnal Tepak Manajemen Bisnis., Vol. VII No. 3 September 2015.,

https://ejournal.unri.ac.id/index.php/JTMB/article/viewFile/3011/2943.pdf.,

Sekretariat Daerah Kaupaten Natuna menuntut kepada seluruh Pegawai

Negeri Sipil sebagai Abdi Negara dan pelayan masyarakat untuk

meningkatkan kemampuan dan kinerja, namun secara umum persepsi

pencapaian kinerja pegawai masih belum baik dan belum sesuai dengan apa

29
yang diharapkan, Hal ini dapat dilihat dari Laporan Akuntabilitas Kinerja

(LAKIP) Sekretariat Daerah Kabupaten Natuna Tahun 2014 dimana program

dan kegiatan masing-masing bagian yang tertuang dalam Dokumen

Pelaksanaan Anggaran Tahun 2014 dari Anggaran Rp. 50.763.157.440.00,-

hanya terealisasi sebesar Rp. 39.835.934.597.60,- atau (78%). Hal ini

menunjukkan bahwa capaian hasil setiap program dan kegiatan dinilai belum

tercapai secara optimal., Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk

mengetahui dan menganalisis pengaruh kemampuan terhadap motivasi

pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Natuna. 2. Untuk mengetahui dan

menganalisis pengaruh komitmen terhadap motivasi pegawai Sekretariat

Daerah Kabupaten Natuna. 3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh

kemampuan terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Natuna.

4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh komitmen terhadap kinerja

pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Natuna. 5. Untuk mengetahui dan

menganalisis pengaruh motivasi terhadap kinerja pegawai pada Sekretariat

Daerah Kabupaten Natuna. 6. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh

tidak langsung kemampuan terhadap kinerja melalui motivasi pegawai pada

Sekretariat Daerah Kabupaten Natuna. 7. Untuk mengetahui dan menganalisis

pengaruh tidak langsung komitmen terhadap kinerja melalui motivasi

pegawai pada Sekretariat Daerah Kabupaten Natuna., Metode penelitian yang

digunakan bersifat Kuantitatif dan menggunakan Analisis jalur (path

analysis) dan SPSS untuk menganalisis data., teknik pengumpulan data yang

digunakan adalah wawancara dan kuisioner., hasil penelitian dan pembahasan

30
yang telah dilakukan, maka penulis menyimpulkan beberapa hal sebagai

berikut : 1. Kemampuan kerja berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja

pegawai yang dimiliki pegawai maka semakin tinggi tingkat motivasi kerja

pegawai, sebaliknya semakin rendah kemampuan pegawai maka motivasi

pegawai juga rendah. Pada hasil penelitian tentang kemampuan kerja rata-rata

responden menjawab baik, hanya saja masih ada yang menjawab kurang baik

yang berarti masih adanya kemampuan pegawai yang belum optimal

diantaranya, belum sesuainya kemampuan akademik dan pendidikan dengan

bidang pekerjaan, penyelesaian pekerjaan belum tepat waktu, belum

mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam

menyelesaikan pekerjaan. 2. Komitmen organisasi berpengaruh signifikan

terhadap motivasi kerja pegawai, semakin tinggi komitmen organisasi

semakin tinggi tingkat motivasi kerja pegawai, sebaliknya semakin rendah

komitmen organisasi maka motivasi pegawai juga rendah. Pada hasil

penelitian tentang komitmen organisasi, rata-rata responden menjawab baik,

hanya saja masih ada yang menjawab kurang baik yaitu; pegawai merasa

tidak senang, tidak nyaman dan tidak aman berada, sehingga menimbulkan

rendahnya tingkat kesadaran pegawai dalam mentaati peraturan tata tertib

kantor, yang dilihat dari tingginya tingkat absensi pegawai, dan sikap acuh

dan masa bodoh dari pegawai. 3. Motivasi berpengaruh positif dan signifikan

terhadap kinerja pegawai. Pada hasil penelitian tentang motivasi, rata-rata

responden menjawab baik, hanya saja masih ada yang menjawab kurang baik

yaitu; belum puas terhadap tunjangan yang diberikan pegawai mengharapkan

31
dialokasikannya tunjangan transportasi dan alokasi uang makan dan minum

harian pegawai, pegawai belum merasa puas terhadap penghargaan yang

diberikan pimpinan, sistem promosi jabatan yang dilakukan selama ini belum

memenuhi harapan pegawai. 4. Semakin tinggi Kemampuan yang dimiliki

pegawai maka dapat meningkatkan kinerja pegawai Sekretariat Daerah

Kabupaten Natuna secara signifikan, sebaliknya semakin rendah tingkat

kemampuan yang dimiliki oleh pegawai maka kinerja Sekretariat Daerah

Kabupaten Natuna akan menurun signifikan. 5. Semakin tinggi komitmen

pegawai maka maka dapat meningkatkan kinerja pegawai Sekretariat Daerah

Kabupaten Natuna secara signifikan, sebaliknya semakin rendah tingkat

komitmen yang dimiliki oleh pegawai maka kinerja Sekretariat Daerah

Kabupaten Natuna akan menurun signifikan. 6. Semakin tinggi motivasi yang

dimiliki oleh pegawai maka secara langsung akan meningkatkan kinerja

secara signifikan, sebaliknya semakin rendah motivasi yang dimiliki pegawai

maka kinerja Sekretariat Daerah Kabupaten Natuna akan menurun secara

signifikan. 7. Pengaruh tidak langsung kemampuan terhadap kinerja melalui

motivasi memiliki pengaruh yang lebih besar dari pada pengaruh tidak

langsung komitmen terhadap kinerja melalui motivasi. Ini menunjukkan

bahwa faktor motivasi merupakan hal yang penting diperhatikan karena

perannya memberikan kontribusi terhadap kinerja.

3. Darti, Daryanti dan Rohanda, Sukaesi., 2013., Pengaruh Motivasi Kerja

Terhadap kinerja Pegawai di Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi

(BP AD) Propinsi Bengkulu., Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan

32
Volume: 1/No.2, Desember 2013, hlm 127-135., http://jurnal .unpad.ac.id/

jkip/article/view/9979/4915/pdf., Organisasi merupakan suatu kelompok

individu yang diorganisasikan dalam struktur tertentu untuk mencapai tujuan

tertentu. Untuk menjalankan suatu organisasi diperlukan adanya manusia

yang mengelola dan bergerak dalam orgaanisasi itu yaitu yang sering disebut-

sebut sebagai sumber daya manusia. Sumber daya manusia merupakan salah

satu unsur yang penting dan akan saling berinteraksi serta bergantung satu

dengan yang lain. SDM dalam hal ini adalah pegawai, dimana seorang

pegawai butuh untuk dimotivasi agar mampu melakukan pekerjaan dengan

baik., tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1. Mengukur berapa

besar pengaruh motivasi kerja intrinsik terhadap kinerja pegawai di BPAD

Propinsi Bengkulu. 2. Mengukur berapa besar pengaruh motivasi kerja

ekstrinsik terhadap kinerja pegawai di BPAD Propinsi Bengkulu., Metode

yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei eksplanatori

(survey explanatory) yaitu suatu metode survei yang bertujuan untuk menguji

hipotesis (Rusidi, 1990), dengan pendekatan kuantitatif. Sifat penelitian

adalah verifikasi dan deskriptif analisis., Teknik pengumpulan data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah, (1) Angket atau kuesioner

(questionnaires), (2) Observasi, (3) Wawancara, (4) Studi Kepustakaan.,

Kesimpulan penelitian sebagai berikut, Pengaruh motivasi kerja intrinsik

terhadap kinerja pegawai di BPAD Propinsi Bengkulu secara simultan

terdapat pengaruh yang signifikan dengan ditunjukkan oleh hasil perhitungan

thitung > ttabel, serta dengan koefisien jalur yang positif, artinya semakin

33
tinggi motivasi kerja intrinsik maka semakin tinggi pula kinerja pegawai;

Motivasi kerja ektrinsik terhadap kinerja pegawai di BPAD Propinsi

Bengkulu secara simultan terdapat pengaruh positif, artinya semakin tinggi

motivasi kerja ektrinsik maka akan semakin tinggi pula kinerja pegawai, serta

dengan koefisien jalur yang ditunjukkan dengan hasil perhitungan thitung >

ttabel, sehingga motivasi kerja ektrinsik berpengaruh secara signifikan

terhadap kinerja pegawai.

4. Donny Feronika Octorano., 2015., Pengaruh Koordinasi, Kompetensi Dan

Disiplin Terhadap Kinerja Pegawai Unit Layanan Pengadaan Kementerian

Agama Pusat (ULP KEMENAG Pusat)., Jurnal MIX, Volume V, No. 1, Feb

2015 (108 – 123)., http://journal.mercubuana.ac.id/index.php/Jurnal_Mix/

article/download/137/116., Kinerja pegawai merupakan penjabaran kuantitas

dan kualitas kerja yang dihasilkan individu organisasi yang terkait erat

dengan kinerja organisasi. Tetapi dalam data dan informasi yang didapati oleh

peneliti terdapat permasalahan kinerja pegawai yang diduga dipengaruhi oleh

beberapa faktor seperti koordinasi, kompetensi, dan disiplin. Kinerja pegawai

merupakan variabel dependen (terikat) sedangkan koordinasi, kompetensi dan

disiplin merupakan variabel independen (bebas). Adapun tujuan penelitian ini

adalah:(1) Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh koordinasi terhadap

kinerja pegawai ULP Kemenag Pusat; (2) Untuk mengetahui dan

menganalisis pengaruh kompetensi terhadap kinerja pegawai ULP Kemenag

Pusat;(3) Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh disiplin terhadap

kinerja pegawai ULP Kemenag Pusat;(4) Untuk mengetahui dan menganalisis

34
pengaruh koordinasi, kompetensi dan disiplin secara simultan terhadap

kinerja pegawai ULP Kemenag Pusat., Metode yang digunakan dalam

penelitian ini adalah Kuantitatif yang bersifat deskriptif dan verifikatif.,

dalam menggumpulkan data menggunakan teknik Kuisioner dan wawancara.,

Teknik Analisis data menggunakan model regresi linear, Uji Hipotesis

dilakukan melalui Uji t (t test), Uji F (F test), analisis koefisien determinasi

(R2), data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan alat bantu

analisis aplikasi SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 20.0.,

hasil penelitian antara lain : Pertama. Koordinasi berpengaruh terhadap

kinerja pegawaiULP Kemenag Pusat secara positifdan signifikan. Dimensi

pada variabel koordinasi yang paling kuat hubungannya adalah dimensi

koordinasi vertikal terhadap dimensi kualitas kerja pada variabel kinerja

pegawai. Kedua. Kompetensi berpengaruh terhadap kinerja pegawai ULP

Kemenag Pusat secara positif dan signifikan. Dimensi pada variabel

kompetensi yang paling kuat hubungannya adalah dimensi pengetahuan

(knowledge) terhadap dimensi kualitas kerja pada variabel kinerja pegawai.

Ketiga. Disiplin berpengaruh terhadap kinerja pegawai ULP Kemenag Pusat

secara positif dan signifikan. Dimensi pada variabel disiplin yang paling kuat

hubungannya adalah dimensi korektif terhadap dimensi kualitas kerja pada

variabel kinerja pegawai. Keempat. Koordinasi, kompetensi dan disiplin

secara simultan berpengaruh secara positif dan sangat signifikan terhadap

kinerja pegawai ULP Kemenag Pusat. Hal ini berarti apabila koordinasi,

35
kompetensi dan disiplin berjalan dengan baik maka kinerja pegawai ULP

Kemenag Pusat akan meningkat secara sangat signifikan.

5. Astadi Pangarso dan Putri Intan Susanti., 2016., Pengaruh Disiplin Kerja

Terhadap Kinerja Pegawai Di Biro Pelayanan Sosial Dasar Sekretariat Daerah

Provinsi Jawa Barat., Jurnal Manajemen Teori dan Terapan, volume: 9. No.

2, Agustus 2016., https://e-journal.unair.ac.id/JMTT/article/view/3019.pdf.,

Salah satu langkah strategis untuk mengembangkan kemampuan organisasi

yang terdapat pada Pemerintah Daerah yakni upaya penyempurnaan perilaku

manusia sebagai sumber daya yang memegang peranan penting dalam

menyelenggarakan tugas-tugas Pemerintah, sehingga semua tugas dapat

terlaksana secara efektif, efisien, dan produktif atau dapat dipresentasekan

diatas 95% namun dalam pelaksanaannya rata-rata presentase kinerja

karyawan pada tahun 2015 hanya sebesar 85,7% saja., Tujuan Penelitian ini

akan mengkaji bagaimana pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja karyawan.

Bagi organisasi yang memberikan pelayanan publik, tentu saja kinerja

karyawan itu dapat dilihat dari bagaimana organisasi tersebut dalam

memberikan pelayanan kepada public seperti dalam Sekretariat Daerah

Provinsi Jawa Barat yang memberikan pelayanan berkaitan dengan

masyarakat. Metode penelitian dalam penelitian ini memakai Pendekatan

Kuantitatif dengan menggunakan teknik kuisioner, observasi dan wawancara.,

Teknik analisis data yang dipakai adalah Analisis regresi linier sederhana

serta pengolahan data statistik data dengan bantuan program SPSS versi

36
23.0., disiplin kerja mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam

mempengaruhi terciptanya kinerja pegawai Biro Pelayanan Sosial Dasar

Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat secara optimal, nilai R (korelasi) yang

dihasilkan adalah 0,745, maka dapat dikatakan bahwa disiplin kerja dan

kinerja pegawai berhubungan positif sebesar 74,5%. Sedangkan koefisien

determinasi R2 (R Square) adalah 0,554, yang artinya adalah kemampuan

variabel disiplin kerja dalam mempengaruhi kinerja pegawai di Biro

Pelayanan Sosial Dasar Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat. adalah

sebesar 55,4% sedangkan 44,6% adalah sumbangsih dari faktor-faktor lain

yang tidak diamati dalam penelitian ini. Dalam analisis korelasi menunjukkan

bahwa hubungan yang sangat erat antara disiplin kerja dengan kinerja

pegawai, hubungan tersebut dapat dijelaskan dengan prosentase sebesar

74,5%.

Dari penelitian-penelitian terdahulu yang telah diuraikan oleh peneliti, ada

beberapa hal yang menjadi kemiripan yaitu sama-sama meneliti tentang kinerja

karyawan atau pegawai. Dari uraian deskripsi sebelumnya, untuk lebih jelasnya,

peneliti mencoba menguraikan persamaan dan perbedaan penelitian-penelitian

terdahulu dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, dapat di lihat pada

pemaparan pada tabel berikut ini:

37
Tabel 3.

Penelitian Terdahulu

N Persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini


Data Artikel Masalah dan Metode Penelitian
o Persamaan Perbedaan
1. Judul artikel: Masalah penelitian: Penelitian Terdahulu:
Pengaruh Motivasi, Dan Lingkungan Tujuan dari setiap perusahaan adalah Sama-sama meneliti tenta ingin menguji pengaruh
Kerja, Terhadap Kinerja Karyawan, mendapatkan laba sebanyak-banyaknya ng Kinerja Karyawan (Pe motivasi terhadap kinerja
Dengan Kepuasan Kerja Sebagai dan mengharapkan agar perusahaan dapat gawai). karyawan, motivasi terhadap
Variabel Mediasi Pada PT. Bni life berkembang. Karyawan merupakan kunci kepuasan kerja, motivasi
insurance. utama dalam mencapai tujuan tersebut. terhadap kinerja karyawan
Penulis: Namun dalam pelaksanaannya, terkadang dengan dimediasi oleh
Bayu Dwilaksono Hanafi perusahaan mengindahkan keberadaan kepuasan kerja, pengaruh
Nama Jurnal: dan kebutuhan dari para karyawannya. lingkungan kerja terhadap
Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Hal tersebut juga terjadi pada PT. Bni life kinerja karyawan, lingkungan
Bisnis (JPEB). insurance. kerja terhadap kepuasan
Volume: Teori yang dipakai: kerja, lingkungan kerja
Vol.5 No.1 Maret 2017 Lingkungan Kerja, Kepuasan Kerja dan terhadap kinerja karyawan
Kinerja Karyawan. yang dimediasi oleh kepuasan

38
(edisi/ISSU): Metode penelitian: kerja, dan pengaruh kepuasan
E-ISSN:2302–2663.,DOI:doi.org/10. Penelitian kuantitatif dengan menggu kerja terhadap kinerja karya
210 09/JPEB.005.1.6 nakan hubungan kausal (causal effect). wan. Penelitian ini dilakukan
Teknik analisis data: di PT BNI Life Insurance.
Statistik Inferensial dengan tipe data Penelitian Sekarang:
parametrik dan menggunakan Structural Menitik beratkan pada kinerja
Equation Modeling (SEM). pegawai dilihat dari
Kuantitas, Kualitas, ketepatan
waktu dan efektifitas.

2. Judul artikel: Masalah penelitian: Penelitian Terdahulu:


Pengaruh Kemampuan dan Komitm Pegawai selalu diharapkan agar mampu Sama-sama ingin meneliti Bertujuan Untuk mengetahui
en Terhadap Motivasi dan Kinerja bekerja dengan baik dalam hal pelayanan tentang kinerja pegawai dan menganalisis pengaruh
Pegawai Pada Sekretariat Daerah kepada masyarakat, sebaliknya masih kemampuan terhadap motiva
Kabupaten Natuna. rendahnya tunjangan pegawai yang si pegawai, pengaruh komit
Penulis: diberikan, Masih ada sebagian pegawai men terhadap motivasi pega
Anidar KH dan Sri Indarti. yang dilibatkan dalam pekerjaan yang wai, pengaruh kemampuan
Nama Jurnal: bukan menjadi tanggungjawabnya dan terhadap kinerja pegawai,
Jurnal Tepak Manajemen Bisnis. Adanya sebagian pegawai yang sudah pengaruh komitmen terhadap

39
memenuhi syarat kepangkatan tapi belum kinerja pegawai, pengaruh
Volume: dipromosikan, hal-hal tersebut menjadi motivasi terhadap kinerja
Vol. VII No. 3 September 2015. alasan peneliti untuk meneliti. pegawai, pengaruh tidak
(edisi/ISSU): Teori yang dipakai: langsung kemampuan terha
National Journal Teori Kemampuan, Teori Komitmen dan dap kinerja melalui motivasi
Teori Motivasi. pegawai, pengaruh tidak lang
Metode penelitian: sung komitmen terhadap kine
Kuantitatif rja melalui motivasi pegawai.
Teknik analisis data: Penelitian Sekarang:
Metode analisis jalur (path analisis) dan Menitik beratkan pada kinerja
SPSS pegawai dilihat dari
Kuantitas, Kualitas, ketepatan
waktu dan efektifitas dalam
pelaksanaan program PTSL.
3. Judul artikel: Masalah penelitian: Penelitian Terdahulu:
Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Pegawai harus memiliki motivasi kerja Sama-sama menitik berat- Ingin mengukur berapa besar
kinerja Pegawai di Badan Perpus agar pelayanan kepada masyarakat dapat kan pada Kinerja Pegawai. pengaruh motivasi kerja intrin
takaan, Arsip dan Dokumentasi (BP dilakukan dengan baik. Motivasi terbagi sik dan ekstrinsik terhadap ki
AD) Propinsi Bengkulu menjadi 2 yaitu motivasi intrinsic (dari nerja pegawai di BPAD Prop.

40
Penulis: dalam) dan ekstrinsik (dari luar), namun Bengkulu.
Darti, Daryanti dan Rohanda, Suka pelaksanaannya belum sesuai dengan Penelitian Sekarang:
esi. harapan. Sehingga masih ada ketidak Menitik beratkan pada kinerja
Nama Jurnal: puasaan terhadap pelayanan. pegawai dilihat dari Kuan
Jurnal Kajian Informasi & Perpus Teori yang dipakai: titas, Kualitas, ketepatan wak
takaan. Teori Motivasi, Teori Kinerja, Teori tu dan efektifitas dalam pelak
Volume: 1/No.2, Desember 2013, Sumberdaya dan Teori Efisiensi sanaan program PTSL.
hlm 127-135., Metode penelitian:
(edisi/ISSU): Metode yang digunakan dalam penelitian
ISSN; 2303-2677 (print), ISSN: ini adalah metode survei eksplanatori
2540-9239 (online) (survey explanatory) dengan pendekatan
kuantitatif.
Teknik analisis data:
Menggunakan teknik analisis jalur (Path
Analysis), dengan aplikasi program Lisrel
8.80 serta pengolahan data dengan
bantuan program SPSS versi 15.0.

41
4. Judul artikel: Masalah penelitian: Penelitian Terdahulu:
Pengaruh Koordinasi, Kompetensi Kinerja pegawai merupakan penjabaran Sama-sama menitik berat- Ingin mengukur berapa besar
Dan Disiplin Terhadap Kinerja kuantitas dan kualitas kerja yang kan pada Kinerja Pegawai. pengaruh variabel-variabel
Pegawai Unit Layanan Pengadaan dihasilkan individu organisasi yang independen yaitu Koordinasi,
Kementerian Agama Pusat (ULP terkait erat dengan kinerja organisasi. Kompetensi dan Disiplin
KEMENAG Pusat) Tetapi dalam data dan informasi yang terhadap variabel dependen
Penulis: didapati oleh peneliti terdapat yaitu Kinerja Pegawai.
Donny Feronika Octorano permasalahan kinerja pegawai yang Penelitian Sekarang:
Nama Jurnal: diduga dipengaruhi oleh beberapa faktor Menitik beratkan pada kinerja
Jurnal MIX, seperti koordinasi, kompetensi, dan pegawai dilihat dari Kuan
Volume: Volume V, No. 1, Feb disiplin. Kinerja pegawai merupakan titas, Kualitas, ketepatan wak
2015 (108 – 123) variabel dependen (terikat) sedangkan tu dan efektifitas dalam pelak
koordinasi, kompetensi dan disiplin sanaan program PTSL.
(edisi/ISSU): merupakan variabel independen (bebas).
Journal National Teori yang dipakai:
Teori Koordinasi, Teori Kompetensi, Teo
ri Disiplin dan Teori Kinerja
Metode penelitian:
Metode yang digunakan dalam penelitian

42
ini adalah Kuantitatif yang bersifat
deskriptif dan verifikatif.
Teknik analisis data:
Analisis data menggunakan model regresi
linear, Uji Hipotesis dilakukan melalui
Uji t (t test), Uji F (F test), analisis
koefisien determinasi (R2), data yang
diperoleh kemudian diolah dengan
menggunakan alat bantu analisis aplikasi
SPSS (Statistical Product and Service
Solutions) versi 20.0.
5. Judul artikel: Masalah penelitian: Penelitian Terdahulu:
Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Salah satu langkah strategis untuk Sama-sama menitik berat- Ingin mengukur berapa besar
Kinerja Pegawai Di Biro Pelayanan mengembangkan kemampuan organisasi kan pada Kinerja Pegawai. pengaruh Penerapan disiplin
Sosial Dasar Sekretariat Daerah yang terdapat pada Pemerintah Daerah terhadap kinerja pegawai.
Provinsi Jawa Barat yakni upaya penyempurnaan perilaku
Penulis: manusia sebagai sumber daya yang Penelitian Sekarang:
Astadi Pangarso dan Putri Intan memegang peranan penting dalam Menitik beratkan pada kinerja
Susanti menyelenggarakan tugas-tugas pegawai dilihat dari Kuan

43
Nama Jurnal: Pemerintah, sehingga semua tugas dapat titas, Kualitas, ketepatan wak
Jurnal Manajemen Teori dan Terapan terlaksana secara efektif, efisien, dan tu dan efektifitas dalam pelak
Volume: Tahun 9. No. 2, Agustus produktif atau dapat dipresentasekan sanaan program PTSL.
2016. diatas 95% namun dalam pelaksanaannya
rata-rata presentase kinerja karyawan
pada tahun 2015 hanya sebesar 85,7%
saja.
Teori yang dipakai:
Teori Disiplin Kerja Teori Motivasi dan
Teori Kinerja
Metode penelitian:
Pendekatan Kuantitatif,
Teknik analisis data:
Analisis regresi linier sederhana serta
pengolahan data statistik data dengan
bantuan program SPSS versi 23.0.

44
3. Kerangka Konseptual

Penulis dalam menyusun sebuah kerangka konseptual, terlebih dahulu

melihat pada uraian-uraian sebelumnya. Hal tersebut menjadi dasar bagi penulis

untuk menjabarkannya dalam sebuah kerangka berpikir seperti di bawah ini :

GAMBAR 1.

Kerangka Berpikir

KUALITAS

KUANTITAS
KINERJA PELAKSANAAN
PEGAWAI KETEPATAN PROGRAM PTSL
WAKTU

EFEKTIFITAS

45
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lingkup Penelitian

3.1.1 Jenis Penelitian

Peneliti dalam Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif

dengan metode deskriptif. Dipilihnya pendekatan kualitatif dalam studi ini

dimaksudkan agar peneliti dapat mengungkap permasalahan secara empirik

berdasarkan konteks yang terjadi di lapangan. Fenomena yang ada dapat

digeneralisasikan secara empirik sesuai dengan fakta yang terjadi sehingga

permasalahan dalam pengelolaan Dana Desa dapat diungkap dengan baik.

3.1.2 Lokasi Penelitian

Kantor Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional ((ATR/

BPN) Kab. Kupang dipilih sebagai lokasi penelitian berdasarkan atas

pertimbangan bahwa dalam permasalahan yang ingin diteliti oleh peneliti tentang

kinerja pegawai dalam pelaksanaan program PTSL dinaungi oleh kantor

ATR/BPN kab. Kupang, dimana semua yang berhubungan dengan pendataan dan

pemberian sertifikat tanah merupakan tugas dan wewenang dari ATR/ BPN.

3.1.3 Jangka Waktu Penelitian

Peneliti menjadwalkan penelitian ini akan berlangsung selama 5 bulan,

dimulai dari bulan Oktober sampai selesai di bulan Februari 2019. Dengan

rincian jadwal kegiatan adalah sebagai berikut :

46
Tabel 4.
Jadwal Kegiatan Penelitian
BULAN
No Uraian kegiatan
Okt Nov Des Jan Feb
1. Pengumpulan Data XX XX
2. Tabulasi dan Analisis XX X
Data
3. Konsultasi Hasil XXX
4. Seminar Hasil X
5. Perbaikan Hasil XXX
6. Ujian Tesis X
7. Perbaikan XX
8. Penyerahan X

3.2 Populasi dan Informan Penelitian

3.2.1 Populasi

Populasi adalah generalisasi yang terdiri atas subjek/ objek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009). Populasi pada

penelitian ini adalah seluruh pegawai yang bekerja pada kantor ATR/BPN Kab.

Kupang yaitu sebanyak 58 orang.

3.2.2 Informan Penelitian

Informan dalam penelitian kualitatif penentuannya dilakukan pada saat

peneliti mulai memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung. Sejalan

dengan hal tersebut menurut Sugiyono (2006: 54) ''Penentuan informan caranya

dengan peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan

data yang diperlukan, selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh

dari informan sebelumnya itu, peneliti dapat menetapkan sampel lainnya yang

dipertimbangkan akan memberikan data lebih lengkap''. Sehingga Peneliti dalam

47
menentukan informan dalam penelitian kualitatif ini didasarkan dengan

pertimbangan tujuan tertentu (Purposive), Tujuannya agar peneliti mendapatkan

pemahaman yang mendalam atas hal yang ingin diteliti dan diharapkan

responden yang dipilih dapat memberikan informasi yang sesuai dengan tujuan

dari penelitian ini. Informan dalam penelitian ini sebagai berikut. 1. Kepala

Kantor ATR/BPN 2. Kepala seksi 3. Kepala bidang 4. Pegawai yang diangkat

melalui SK kepala Kantor. Informan yang sudah ditentukan sebelumnya akan

digolongkan dalam 2 jenis yaitu informan biasa dan informan kunci (key

informant). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5.

Profil Informan Penelitian

Rincian informan Jumlah


No
Informan Biasa Informan Kunci orang

1. Kepala Kantor 1

2 Kepala Bidang 1

3 Kepala Seksi 1

4 Pegawai yang ditugaskan 8

dengan SK

3.3 Fokus Penelitian

Kinerja Pegawai merupakan hasil kerja, baik itu secara kualitas maupun

kuantitas yang telah dicapai pegawai satgas fisik atau petugas ukur, dalam

menjalankan tugas-tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan

48
organisasi, dan hasil kerjanya tersebut disesuaikan dengan hasil kerja yang

diharapkan organisasi, melalui kriteria-kriteria atau standar kinerja pegawai yang

berlaku dalam organisasi.

3.3.1 Kualitas

Peneliti berpendapat bahwa Kualitas Kerja (Quality of work) adalah hal

yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya yang tinggi

pada gilirannya akan melahirkan penghargaan dan kemajuan serta perkembangan

organisasi melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan secara sistematis

sesuai tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang pesat.

dengan Indikator yang dipakai: Pertama, Tingkat Penguasaan dan pemapahaman

pelaksana program terhadap tujuan PTSL dengan Klasifikasi Sesuai, Kurang

Sesuai dan Tidak Sesuai. Kedua, Tingkat Penguasaan dan pemahaman Undang

undang dan peraturan pendukungnya pada pelaksana program guna mencapai

tujuan PTSL dengan Klasifikasi Sesuai, Kurang sesuai dan tidak sesuai. Ketiga,

Tingkat Penguasaan dan pemahaman aplikasi Alat Ukur RTK, KKP dan Autocad

pada pelaksana program guna mencapai tujuan PTSL dengan Klasifikasi Sesuai,

Kurang sesuai dan tidak sesuai.

3.3.2 Kuantitas

Kuantitas kerja adalah hasil yang dapat dilihat dari jumlah kerja dan

penggunaan waktu. Jumlah kerja adalah banyaknya tugas pekerjaanya, dapat

dikerjakan. Penggunaan waktu adalah banyaknya waktu yang digunakan dalam

menyelesaikan tugas dan pekerjaan. Dengan menggunakan indicator: Pertama,

Jumlah bidang terukur dan terpetakan oleh petugas satgas fisik pelaksana

49
program dalam program PTSL dengan Klasifikasi Sesuai, Kurang Sesuai dan

tidak sesuai. Kedua, Jumlah hari yang dibutuhkan oleh petugas satgas fisik

pelaksana program dalam program PTSL dengan Klasifikasi Sesuai, Kurang

Sesuai dan tidak sesuai.

3.3.3 Ketepatan Waktu

Ketetapan Waktu (Pomptnees) yaitu berkaitan dengan sesuai atau

tidaknyawaktu penyelesaian pekerjaan dengan target waktu yang direncanakan.

Setiap pekerjaan diusahakan untuk selesai sesuai dengan rencana agar tidak

mengganggu pada pekerjaan yang lain dengan indicator: Pertama, Perbandingan

antara target waktu dengan jumlah waktu yang digunakan pelaksana program

dalam mencapai tujuan Program PTSL, dengan Klasifikasi Tepat, Kurang Tepat

dan Tidak Tepat.

3.3.4 Efektifitas

Efektivitas kerja adalah penyelesaian pekerjaan yang dilakukan seseorang

atau sekelompok orang sesuai dengan waktu dan tujuan yang telah ditetapkan

sebelumnya dengan menggunakan indicator Pengamatan yang dilakukan terhadap

pelaksana program dalam efektivitas kerja terhadap jalannya program/ kegiatan,

dengan Klasifikasi Efektif, Kurang efektif dan Tidak Efektif.

3.4 Jenis dan Sifat Data Penelitian

Peneliti dalam melaksanakan penelitian ini menggunakan dua jenis

pengumpulan data, yaitu primer dan sekunder. Pertama, Data Primer yaitu data

yang diperoleh langsung dari pihak pelaksana kegiatan/program, dan Kedua, data

50
Sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen atau literature-

literatur yang mempunyai hubungan erat dengan tulisan ini.

Peneliti dalam mengumpulkan data, membagi data tersebut berdasarkan sifat data

yang terdiri dari dua yaitu data Kuantitatif dan data Kualitatif. Pertama, Data

Kuantitatif yaitu data yang didapat atau dikumpulkan berbentuk angka dan

bilangan, dan Kedua, Data Kualitatif yaitu data yang berbentuk non angka atau

keterangan yang berhubungan dengan penulisan ini.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Peneliti dalam menggumpulkan data menggunakan teknik sebagai

berikut:

1. Studi Kepustakaan (data sekunder): yaitu teknik pengumpulan data dan

informasi melalui berbagai literature, dokumen-doumen dan sumber bacaan

lainnya yang relevan dengan masalah penelitian.

2. Studi Lapangan (data Primer) yaitu pengumpulan data secara langsung pada

objek yang diteliti dengan metode: Observasi (pengamatan) yaitu

pengumpulan data melalui pengamatan langsung mengenai situasi dan

kondisi yang sedang terjadi, Interview (wawancara) yaitu penelitian yang

dilakukan dengan cara tanya jawab langsung antara peneliti dan Objek/

Informan secara sistematis berdasarkan tujuan penelitian, Dokumentasi yaitu

perolehan data melaui potret dari peneliti dan pengkajian dokumen-dokumen

yang berhubungan dengan masalah yang diangkat oleh penulis.

3.6 Teknik Pengolahan Data

51
Peneliti dalam mengelola data yang sudah diperoleh melalui wawancara,

dokumentasi dan observasi akan diolah melalui tahap-tahap sebagai berikut :

Editing, memeriksa kembali data atau informasi yang telah diperoleh dari

informan, Tabulasi, Data atau informasi yang telah diperoleh dari hasil editing

selanjutnya dimasukan ke dalam tabel-tabel yang sudah disiapkan,

3.7 Teknik Analisis Data

Peneliti dalam menjawab permasalahan yang diangkat dalam penelitian

ini, maka teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif kualitatif

yaitu data yang diperoleh dianalisis berdasarkan teori Miles dan Huberman

(2004), dimana Miles dan Huberman menyatakan bahwa langkah-langkah dalam

analisis data adalah reduksi data, penyajian data (display data) dan penarikan

kesimpulan (verifikasi).

3.7.1 Reduksi Data diartikan sebagai proses pemilihan, pemisahan, perbaikan

dan penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang

muncul dari catatan-catatan tertulis lapangan.

3.7.2 Penyajian data (display data) merupakan penyajian data dilakukan dengan

cara penyampaian informasi berdasarkan data yang dimiliki dan disusun

secara runtut dan baik dalam bentuk naratif, sehingga mudah dipahami.

Dalam tahap ini peneliti membuat rangkuman secara deskriptif dan

sistematis sehingga teman sentral dapat diketahui dengan mudah.

3.7.3 Verifikasi Data atau penarikan simpulan yaitu menarik simpulan

berdasarkan data yang di peroleh dari berbagi sumber, kemudian peneliti

mengambil simpulan yang bersifat sementara sambil mengambil data

52
pendukung atau menolak kesimpulan. Pada tahap ini, peneliti melakukan

pengkajian tentang kesimpulan yang telah diambil dengan data

pembanding teori tertentu. Pengujian ini dimaksudkan untuk melihat

kebenaran hasil analisis yang melahirkan kesimpulan yang dapat

dipercaya. Dengan cara ini diharapkan dapat diperoleh data yang lebih

akurat dan dapat membantu kelancaran peneliti.

3.8 Keabsahan Data

Peneliti dalam menganalisis data, sebelumnya harus memastikan apakah

data yang ditemukan telah akurat atau belum. Validasi data temuan dalam

penelitian kualitatif menurut Cuba (dalam Indrawan dan yaniawati., 2014., Hal

153) meliputi beberapa criteria, yakni: Credibility, Transferability,

Dependability, dan Confirmability. sebuah data dalam penelitian kualitatif dapat

dipertanggungjawabkan sebagai penelitian ilmiah sebelumnya perlu dilakukan uji

keabsahan data. Adapun uji keabsahan data yang dapat dilaksanakan.

3.8.1 Credibility

Credibility (kredibilitas) atau uji kepercayaan terhadap data hasil

penelitian yang disajikan oleh peneliti agar hasil penelitian yang dilakukan tidak

meragukan sebagai sebuah karya ilmiah dilakukan.

3.8.2 Transferability

Transferability merupakan validitas eksternal dalam penelitian kualitatif.

Validitas eksternal menunjukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil

penelitian ke populasi di mana sampel tersebut diambil (Sugiyono dalam

Indrawan dan yaniawati., 2014). Pertanyaan yang berkaitan dengan nilai transfer

53
sampai saat ini masih dapat diterapkan/dipakai dalam situasi lain. Bagi peneliti

nilai transfer sangat bergantung pada si pemakai, sehingga ketika penelitian dapat

digunakan dalam konteks yang berbeda di situasi sosial yang berbeda validitas

nilai transfer masih dapat dipertanggungjawabkan.

3.8.3 Dependability

Reliabilitas atau penelitian yang dapat dipercaya, dengan kata lain

beberapa percobaan yang dilakukan selalu mendapatkan hasil yang sama.

Penelitian yang dependability atau reliabilitas adalah penelitian apabila penelitian

yang dilakukan oleh orang lain dengan proses penelitian yang sama akan

memperoleh hasil yang sama pula. Pengujian dependability dilakukan dengan

cara melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Dengan cara

auditor yang independen atau pembimbing yang independen mengaudit

keseluruhan aktivitas yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan penelitian.

Misalnya bisa dimulai ketika bagaimana peneliti mulai menentukan masalah,

terjun ke lapangan, memilih sumber data, melaksanakan analisis data, melakukan

uji keabsahan data, sampai pada pembuatan laporan hasil pengamatan.

3.8.4 Confirmability

Objektivitas pengujian kualitatif disebut juga dengan uji confirmability penelitian.

Penelitian bisa dikatakan objektif apabila hasil penelitian telah disepakati oleh

lebih banyak orang. Hal terssebut berarti menguji hasil penelitian yang dikaitkan

dengan proses yang telah dilakukan. Apabila hasil penelitian merupakan fungsi

dari proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian tersebut telah memenuhi

standar confirmability. Validitas atau keabsahan data adalah data yang tidak

54
berbeda antara data yang diperoleh oleh peneliti dengan data yang terjadi

sesungguhnya pada objek penelitian sehingga keabsahan data yang telah disajikan

dapat dipertanggungjawabkan.

55