Anda di halaman 1dari 52

Tray Dryer

LAPORAN UOP 2

TRAY DRYER

Kelompok : 6

Alristo Sanal 1106070836

Galih Mery Damaiati 1206314610

Ratna Dewi Verinasari 1106070893

Willi Yaohandy 1106052991

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK 2014

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 1


Tray Dryer

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengeringan pada umumnya diartikan sebagai pemisahan air yang jumlahnya sedikit dari
bahan padat dan dibedakan dengan evaporasi (penguapan) yang diartikan sebagai pemisahan
air yang jumlahnya relatif banyak dari larutan. Bahan yang ditangani dengan proses
pengeringan beragam jenis dan sifatnya, dari bahan yang berbentuk granular seperti biji-bijian
sampai bahan yang berbentuk amorf, fibrus, gel, sabun, perekat, susu dll. Karena banyak jenis
dan sifat yang ditangani, maka banyak sekali jenis alat pengering yang dirancang sesuai dengan
kebutuhan.
Pengeringan adalah salah satu proses penting dalam industri. Contoh industri yang
banyak menggunakan proses ini adalah industri susu dan farmasi. Adapun tujuan dilakukannya
proses pengeringan ini adalah :
 Untuk mengurangi biaya transport.
 Agar bahan tersebut memenuhi spesifikasi untuk diproses lebih lanjut.
 Untuk menghindari kerusakan seperti pembusukan dan korosi.
Sebagian besar pengeringan menggunakan bahan pengering udara sebagai psychrometric
banyak berperan dalam operasi pengeringan. Dalam percobaan ini yang akan dipelajari adalah
aspek kadar air kesetimbangan dalam bahan padat, kecepatan pengeringan, mekanisme
pengeringan dan fenomena transfer panas dan massa.
Pada percobaan ini dilakukan proses pengeringan bahan padat menggunakan alat
pengering yang bernama Tray Drier. Tray drier adalah alat pengering yang dirancang untuk
pengeringan bahan yang membutuhkan wadah. Bahan padat dengan berbagai variasi ukuran
akan dikeringkan dengan cara mengalirkan udara panas yang berasal dari heater. Udara panas
ini akan mengalir ke tray drier dan menguapkan air yang terkandung didalam bahan padat.
Pada proses inilah fenomena transfer panas dan transfer massa terjadi.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 2


Tray Dryer

1.2 Tujuan Percobaan


 Mahasiswa dapat menentukan kondisi variabel-variabel proses operasi pengeringan
yang diperlukan untuk melakukan operasi pengeringan optimum.
 Mahasiswa mampu menggunakan Psychrometric Chart.
 Mahasiswa mampu memprediksi laju pengeringan suatu padatan basah dalam suatu
persamaan empirin.
 Untuk mengetahui pengaruh ukuran partikel, variasi temperatur, dan variasi laju alir
udara terhadap laju pengeringan.
 Mahasiswa mampu menerangkan tahapan-tahapan pengeringan dalam suatu kurva
pengeringan.
 Mahasiswa dapat menerangkan dasar-dasar mekanisme pengeringan

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 3


Tray Dryer

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Prinsip Pengeringan


Pengeringan pada umumnya diartikan sebagai pemisahan air yang jumlahnya sedikit
dari bahan padat dan dibedakan dengan evaporasi (penguapan) yang diartikan sebagai
pemisahan air yang jumlahnya relatif banyak dari larutan. Dalam proses pengeringan terjadi
pemakaian panas dan pemindahan air dari bahan yang dikeringkan yang berlangsung secara
serentak.
Ditinjau dari pergerakan bahan padatnya, pengeringan dapat dibagi menjadi dua, yaitu
pengeringan batch dan pengeringan kontinyu. Pengeringan batch adalah pengeringan dimana
bahan yang dikeringkan dimasukkan ke dalam alat pengering dan didiamkan selama waktu
tertentu. Pengeringan kontinyu adalah pengeringan dimana bahan basah masuk secara
sinambung dan bahan kering keluar secara sinambung dari alat pengering.
Pengeringan merupakan proses penghilangan sejumlah air dari material. Dalam
pengeringan, air dihilangkan dengan prinsip perbedaan kelembaban antara udara pengering
dengan bahan yang dikeringkan. Material biasanya dikontakkan dengan udara kering yang
kemudian terjadi perpindahan massa air dari material ke udara pengering. Dalam beberapa
kasus, air dihilangkan secara mekanik dari material padat dengan cara di-press, sentrifugasi
dan lain sebagainya.Cara ini lebih murah dibandingkan pengeringan dengan menggunakan
panas. Kandungan air dari bahan yang sudah dikeringkan bervariasi bergantung dari produk
yang ingin dihasilkan. Sebagai contoh, garam kering mengandung 0,5% air, batu bara
mengandung 4% air dan produk makanan mengandung sekitar 5% air. Biasanya pengeringan
merupakan proses akhir sebelum pengemasan dan membuat beberapa benda lebih mudah untuk
ditangani.
Variabel penting dalam proses pengeringan adalah kontak antara udara dengan zat
padat yang memiliki kelembaban tertentu. Keadaan setimbang dari zat padat akan diperoleh
pada suatu waktu tertentu, sehingga kelembaban dalam padatan tersebut akan setimbang
dimana kelembaban dan temperaturnya akan sama dengan kelembaban lingkungannya. Hal ini
disebut juga dengan kelembaban setimbang. Untuk beberapa padatan, nilai ini tergantung pada
arah dimana kesetimbangan diperoleh. Nilai berbeda akan diperoleh karena tergantung baik
pada sampel basah yang dikeringkan melalui desorpsi atau sample kering yang menyerap

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 4


Tray Dryer

kelembaban melalui absorbsi. Dibawah ini adalah grafik yang menunjukkan kesetimbangan air
untuk beberapa komponen padat.

Gambar 2.1 Kurva kesetimbangan kadar air untuk beberapa zat padat

2.2 Kurva Pengeringan


Pengeringan merupakan proses perpindahan panas dan massa secara simultan. Panas
yang ditransfer dibutuhkan untuk menguapkan air. Perubahan kadar air dalam bahan terhadap
waktu dan laju pengeringan terhadap kandungan air biasanya ditunjukkan dalam suatu kurva
dibawah ini:

0.6
Free-Moisture x (Kg H2O/Kg dry solid)

A
0.5
B
0.4

0.3
C
0.2
D
0.1 E

0
0 2 4 6 8 10 12 14
Time , t (h)

Gambar 2.2 Kurva umum laju pengeringan untuk kondisi pengeringan konstan
(air bebas vs waktu)

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 5


Tray Dryer

Bagian AB menunjukkan tahap warming-up. Kurva BC menunjukkan kecepatan


pengeringan tetap. Titik C adalah Critical Moisture Content. Bagian CD menunjukkan
kecepatan pengeringan menurun. Titik E menunjukkan keadaan dimana permukaan padatan
menjadi tidak jenuh dan kecepatan pengeringan menjadi ditentukan oleh gerakan molekul air
dalam padatan. Bagian CD disebut tahap kecepatan menurun pertama dan bagian DE
merupakan tahap menurun kedua.
Laju pengeringan suatu bahan yang dikeringkan antara lain ditentukan oleh sifat bahan
tersebut seperti bulk density, kadar air awal, serta hubungannya dengan kadar air
kesetimbangan pada kondisi pengeringan. Laju pengeringan maksimum biasanya tidak
dipakai. Hal ini untuk mengurangi dan mencegah terjadinya pengkerutan, pengerasan
permukaan, retak permukaan bahan serta akibat lain yang tidak diinginkan terjadi pada
pengeringan produk pangan padat.
Pada gambar dibawah ini terdapat dua fase laju pengeringan yaitu laju pengeringan
tetap dan laju pengeringan menurun sama seperti halnya pada gambar 2.2

Gambar 2.3 Kurva laju pengeringan vs kandungan air bebas

Periode laju pengeringan tetap dicirikan dengan penguapan air dari suatu permukaan
yang jenuh basah suatu produk atau permukaan air didalam produk yang dikeringkan. Laju
pengeringan tetap ini akan berlangsung terus selama migrasi air ke permukaan (ke tempat
penguapan berlangsung) lebuh besar daripada air yang menguap dari permukaan. Suhu
permukaan bahan yang dikeringkan pada kondisi ini relatif tetap, mendekati suhu bola basah
udara pengering dan laju pengeringan tetap ini tidak bergantung kepada produk yang
dikeringkan.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 6


Tray Dryer

Bila proses pengeringan diteruskan, air di dalam produk akan berkurang, migrasi air ke
permukaan tidak mampu mengimbangi cepatnya air menguap dari permukaan ke udara sekitar.
Dimulainya fase ini merupakan akhir dari periode pengeringan dengan laju tetap dan disebut
kadar air kritis (critical moisture content), tanda dimulainya periode laju pengeringan menurun
pertama. Pada keadaan tersebut, permukaan bahan yang dikeringkan sudah tidak jenuh dan
mulai kelihatan ada bagian yang mengering. Faktor yang mengendalikan laju pengeringan pada
periode ini adalah hal-hal yang mempengaruhi perpindahan air didalam bahan padat yang
dikeringkan. Bergantung dari produk yang dikeringkan, produk pangan yang tidak higroskopis
biasanya hanya memiliki satu periode laju pengeringan menurun, sedangkan produk pangan
higroskopis memiliki dua periode laju pengeringan menurun. Periode laju pengeringan
menurun biasanya merupakan periode operasional pengeringan terpanjang.

2.3 Psychrometric Chart


Psychrometric chart adalah sebuah diagram yang menggambarkan kesetimbangan
sebuah cairan dalam udara/gas yang berdasarkan pada fungsi suhu, tekanan dan volumetric
specific. Diagram ini dapat digunakan untuk menentukan kandungan cairan yang ada didalam
gas tersebut untuk kondisi dan parameter tertentu. Psychrometric chart yang sudah paling
umum digunakan adalah Psychrometric chart uap air – udara.

Gambar 2.4 Psychrometric Chart


Psikometrik merupakan suatu bahasan tentang sifat-sifat campuran udara dengan uap air,
dan ini mempunyai arti yang sangat penting dalam pengkondisian udara karena udara pada

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 7


Tray Dryer

atmosfir merupakan percampuran antara udara dan uap air, jadi tidak benar-benar kering.
Kandungan uap air dalam udara pada untuk suatu keperluan harus dibuang atau malah
ditambahkan. Untuk memahami proses – proses yang terjadi pada karta psikometrik perlu
adanya pemahaman tetnang hukum dalton dan sifat – sifat pada yang ada dalam karta
psikometrik, yaitu:

 Temperatur bola kering.


Temperatur bola kering merupakan temperatur yang terbaca pada termometer sensor kering
dan terbuka, namun penunjukan dari temperatur ini tidak tepat karena adanya pengaruh radiasi
panas.

 Temperatur bola basah.


Temperatur bola basah merupakan temperatur yang terbaca pada termometer dengan sensor
yang dibalut dengan kain basah. Untuk mengukur temperatur ini diperlukan aliran udara
sekurangnya adalah 5 m/s. Temperatur bola basah sering disebut dengan temperatur jenuh
adiabatik.

 Titik embun.
Titik embun adalah temperatur air pada keadaan dimana tekanan uapnya sama dengan tekanan
uap air dari udara. Jadi pada temperatur tersebut uap air dalam udara mulai mengembun dan
hal tersebut terjadi apabila udara lembab didinginkan. Pada tekanan yang berbeda titik embun
uap air akan berbeda, semakin besar tekanannya maka titik embunnya semakin besar.

 Kelembaban relatif.
Kelembaban relatif didefinisikan sebagai perbandingan fraksi molekul uap air di dalam udara
basah terhadap fraksi molekul uap air jenuh pada suhu dan tekanan yang sama, atau
perbandingan antara tekanan persial uap air yang ada di dalam udara dengan tekanan jenuh uap
air yang ada pada temperatur yang sama.

 Kelembaban spesifik (rasio kelembaban)


Kelembaban spesifik (w) adalah berat atau massa air yang terkandung didalam setiap kilogram
udara kering, atau perbandingan antara massa uap air dengan massa udara kering yang ada
didalam atmosfer.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 8


Tray Dryer

 Entalpi.
Entalpi merupakan energi kalor yang dimiliki oleh suatu zat pada temperatur tertentu, atau
jumlah energi kalor yang diperlukan untuk memanaskan 1 kg udara kering dan x kg air (dalam
fasa cair) dari 0oC sampai mencapai t oC dan menguapkannya menjadi uap air (fasa gas).

 Volume spesifik.
Volume spesifik merupakan volume udara campuran dengan satuan meter-kubik per kilogram
udara kering.

2.4 Transfer Panas Pada Pengeringan.


Laju pengeringan air dari bahan padat ditentukan oleh laju transfer panas
kepermukaan penguapan. Pada keadaan steady lajua transfer panas ke permukaan penguapan
di balance oleh laju transfer massa air ke udara pengering. Jika transfer panas yang
diperhitungkan hanya konveksi saja maka kecepatan pengeringan pada periode tetap adalah:
𝑞 ℎ ( 𝑇 − 𝑇𝑖)
𝑅𝑐 = =
𝐴𝜆 𝜆

Keterangan :
𝑞 = 𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑛𝑑𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛
𝐴 = 𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑢𝑎𝑝𝑎𝑛
ℎ = 𝑘𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑝𝑖𝑛𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠 𝑘𝑜𝑛𝑣𝑒𝑘𝑠𝑖
𝑇 = 𝑠𝑢ℎ𝑢 𝑑𝑟𝑦𝑒𝑟
𝑇𝑖 = 𝑠𝑢ℎ𝑢 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛
𝜆 = 𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠 𝑙𝑎𝑡𝑒𝑛

Dari persamaan diatas, laju pengeringan dapat diprediksi dari persamaan transfer panas dan
persamaan transfer massa.
Apabila transfer panas secara kondukasi, konveksi dan radiasi diperhitungkan, maka
kecepatan pada periode tetap (Rc) menjadi :

𝑞 (ℎ + 𝑈𝑘)(𝑇 − 𝑇𝑖) + ℎ(𝑇 − 𝑇𝑖)


𝑅𝑐 = =
𝐴𝜆 𝜆

Keterangan :

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 9


Tray Dryer

𝑞 = 𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑛𝑑𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛


𝐴 = 𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑢𝑎𝑝𝑎𝑛
ℎ = 𝑘𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑝𝑖𝑛𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠 𝑘𝑜𝑛𝑣𝑒𝑘𝑠𝑖
𝑇 = 𝑠𝑢ℎ𝑢 𝑑𝑟𝑦𝑒𝑟
𝑇𝑖 = 𝑠𝑢ℎ𝑢 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛
𝜆 = 𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠 𝑙𝑎𝑡𝑒𝑛
𝑘 = 𝑐𝑜𝑛𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑦 𝑐𝑜𝑒𝑓𝑓
𝑈 = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 ℎ𝑒𝑎𝑡 𝑡𝑟𝑎𝑛𝑠𝑓𝑒𝑟 𝑐𝑜𝑒𝑓𝑓

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 10


Tray Dryer

BAB III
PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
 Anemometer
 Mesin Tray Drier
 Psychrometer
 Stopwatch
 Timbangan

3.1.2 Bahan
 Air
 Bahan Padat Berupa Pasir dengan Variasi Ukuran (Besar, Sedang dan Kecil)

3.2 Variabel – Variabel dalam Percobaan


 Diameter Partikel (Pasir)
 Laju Alir Udara
 Temperatur
 Waktu

3.3 Prosedur Percobaan


3.3.1 Kurva Pengeringan
 Mengisi 4 buah tray dengan pasir basah (bahan non porous granular solid) dengan
ketebalan kira-kira 10 mm. Menimbang terlebih dahulu berat pasir kering sebelum
dijenuhkan dengan air, lalu drain terlebih dahulu air bebasnya. Mencatat berat basah
bahan padat (pasir).
 Mengatur pengontrol kecepatan udara pengering pada posisi ditengah dan pemanas pada
posisi maksimum.
 Mencatat berat pasir pada setiap interval waktu, selama operasi pengeringan.
 Membuat tabel dengan format kolom sebagai berikut:
Berat pasir kering =
Waktu =

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 11


Tray Dryer

Berat pasir bersih =


Kandungan air =
Laju pengeringan =
 Membuat kurva
a) Kandungan air vs Waktu
b) Kandungan air vs Laju Pengeringan
 Menunjukkan dan memberikan diskusi mengenai:
a) Titik a,b,c,d, dimana proses pengeringan berubah dari regim satu ke regim lain..
b) Mekanisme Pengeringan
c) Bagaimana/apa/dimana kadar air kesetimbangan dalam kurva tersebut?

3.3.2 Pengaruh Ukuran Partikel


 Menyediakan 3 ukuran partikel yang berbeda, yaitu 0,3 mm, 0,5 mm dan 0,8 mm, sesuai
screen analysis.
 Melakukan tahap-tahap percobaan seperti prosedur sebelumnya untuk setiap ukuran
partikel.
 Membuat tabel dan kurva hasil percobaan.
 Memberikan diskusi mengenai :
a) Pengaruh ukuran partikel pada kadar air kesetimbangan
b) Pengaruh ukuran partikel pada kandungan air keritis
c) Dapatkah mekanisme kapiler menerangkan perpidahan massa disini atau mengikuti
mekanisme lain?

3.3.3 Pengaruh Temperatur


 Melakukan tahap percobaan seperti pada prosedur sebelumnya
 Melakukan beberapa run operasi pengeringan dengan kecepatan udara dan berat bahan
yang sama, tetapi temperatur udara berbeda. Temperatur udara diatur dengan pengontrol
pemanas. Mengukur temperatur dry dan wet di upstream (sebelum tray) emnggunakan
aspirating psychrometer.
 Membuat tabel dan kurva data yang diperoleh.
 Memberian diskusi mengenai pengaruh suhu pada periode laju pengeringan konstan
a) Apakah laju pengeringan berbanding langsung dengan (Tv – Ti) seperti teori?

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 12


Tray Dryer

b) Apakah pengaruh suhu pada kadar air kesetimbangan dan berikan penjelasan fisika
mengenai ketergantungan ini?
c) Dalam praktek, apakah sembarang suhu udara pengering bisa dipakai untuk suatu
jenis bahan?

3.3.4 Pengaruh Kecepatan Udara Pengering


 Melakukan tahap percobaan seperti pada prosedur sebelumnya
 Matikan pemanas
 Melakukan satu run operasi pengeringan sampai selesai pada kecepatan udara maksimum
(sekitar 1,5 m/s dan gunakan anemometer)
 Melakukan beberapa run operasi pengeringan pada kecepatan udara pengering yang lain
tetapi menggunakan berat bahan yang sama.
 Mencatan data dan membuat kurvanya
 Memberikan diskusi mengenai hubungan kecepatan udara pengering dan laju udara
pengeringan pada periode laju konstan.
a) Untuk beberapa padatan laju pengeringan pada periode konstan dapat ditulis: Rc 𝛼
hc (Tv – Ti) dan menurut hasil percobaan Seborg (1937) diperoleh hc 𝛼 G0,8 apakah
hasil percobaan saudara sesuai dengan analisa teori?
b) Bagaimana hubungan kecepatan udara dengan laju pengeringan pada periode
menurun?
c) Apakah laju alir udara mempengaruhi kadar air kesetimbangan?
d) Bagaimana penjelasan fisika mengenai proses yang terjadi?

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 13


Tray Dryer

BAB IV
DATA DAN PENGOLAHAN DATA

Pada percobaan kali ini, praktikan akan melakukan 3 variasi yang nantinya akan
praktikan gunakan untuk melakukan pengolahan data, yang terbagi dalam 3 variasi yaitu:
 Variasi ukuran partikel,
 Variasi kecepatan aliran udara, dan
 Variasi temperatur.

4.1 Percobaan I: Pengaruh Ukuran Partikel


Data Percobaan

Tabel 4.1 Data Hasil Percobaan Variasi Ukuran Partikel Kecil

UKURAN
t W, Dry W, wet V,avg
KECIL V1 V2 V3 V4 V5 T,up (C) T,down (C)
(menit) (gram) (gram) (m/s)
T,wet T,dry T,wet T,dry

0 375 392 1.19 1.39 1.48 1.39 1.37 1.364 30 31 30.5 32

3 375 391 1.13 1.37 1.44 1.44 1.37 1.35 31 31.5 31 32

6 375 390 1.15 1.37 1.5 1.41 1.4 1.366 31 31.5 31.9 32

9 375 389 1.18 1.39 1.49 1.42 1.41 1.378 31.9 32 32 32

12 375 389 1.16 1.43 1.51 1.45 1.43 1.396 32 32 32 33


\

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 14


Tray Dryer

Tabel 4.2 Data Hasil Percobaan Variasi Ukuran Partikel Sedang


UKURAN W,
t W, wet V,avg
SEDANG Dry V1 V2 V3 V4 V5 T,up (C) T,down (C)
(menit) (gram) (m/s)
(gram) T,wet T,dry T,wet T,dry

0 480 494 1.16 1.51 1.53 1.28 1.38 1.372 31 31 31.5 31.5

3 480 494 1.21 1.44 1.53 1.5 1.46 1.428 31 31.5 30.5 30

6 480 493 1.22 1.27 1.44 1.46 1.45 1.368 31 32 30.5 31


9 480 493 1.17 1.41 1.51 1.52 1.57 1.436 30.5 31 31 30
12 480 493 1.17 1.49 1.55 1.51 1.6 1.464 31.5 31 31 31

Table 4.3 Data Hasil Percobaan Variasi Ukuran Partikel Besar


UKURAN W, W,
t V,avg
BESAR Dry wet V1 V2 V3 V4 V5 T,up (C) T,down (C)
(menit) (m/s)
(gram) (gram) T,wet T,dry T,wet T,dry

0 492 501 1.37 1.24 1.63 1.46 1.48 1.436 31 31 31 31

3 492 501 1.14 1.39 1.53 1.52 1.43 1.402 31 31 30.5 31

6 492 500 1.17 1.41 1.52 1.45 1.46 1.402 30.5 31 30.5 30.5

9 492 500 1.24 1.34 1.58 1.48 1.43 1.414 30.5 30.5 30 30.5

12 492 500 1.17 1.5 1.69 1.48 1.42 1.452 30 30 30.5 31

Keterangan:
t = selang waktu (menit)
Wd = berat pasir kering (gr)
Ww = berat pasir basah selama percobaan (gr)
v = kecepatan udara pengering (m/s)

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 15


Tray Dryer

Pengolahan Data dan Grafik


Mengetahui Pengaruh Ukuran Diameter Partikel terhadap Laju Pengeringan
Menghitung Kandungan Air selama Proses Pengeringan
Setleah praktikan memiliki data dari setiap masing-masing diameter, maka
selanjutnya praktikan akan mencari nilai dari Xi (Kandungan air yang terdapat dalam
pasir,untuk menghitung kandungan air dalam pasir praktikan menggunakan
persamaan dibawah ini:
𝑊𝑖 − 𝑊𝑠
𝑋𝑖 =
𝑊𝑠

Keterangan :
Xi = kandungan air dalam pasir (gr H2O/gr pasir)
Wi = berat pasir basah selama percobaan (gr)
Ws = berat pasir kering (gr)
Wst =berat pasir kering + tray (gr)
Setelah menghitung nilai dari Xi (Kandungan air yang terdapat dalam pasir) maka
akan mendapatkan data perhitungan kandungan air didalam partikel pasir untuk setiap
diameter partikel nya

Tabel 4.4 Kandungan Air dalam Pasir untuk Diameter Partikel Kecil
Pengukuran kandungan air (Xi)
t Wi Wst Ws Xi
0 392 375 153 0.11111
3 391 375 153 0.10458
6 390 375 153 0.09804
9 389 375 153 0.09150
12 389 375 153 0.09150

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 16


Tray Dryer

Tabel 4.5 Kandungan Air dalam Pasir untuk Diameter Partikel Sedang
Pengukuran kandungan air (Xi)

t Wi Wst Ws Xi

0 494 480 258 0.05426

3 494 480 258 0.05426

6 493 480 258 0.05039

9 493 480 258 0.05039

12 493 480 258 0.05039

Tabel 4.6 Kandungan Air dalam Partikel Pasir untuk Diameter Partikel Besar
Pengukuran kandungan air (Xi)

t Wi Wst Ws Xi
0 501 492 270 0.03333
3 501 492 270 0.03333
6 500 492 270 0.02963
9 500 492 270 0.02963
12 500 492 270 0.02963

Setelah itu memplot antara waktu vs kandungan air (Xi) pada ketiga variasi ukuran maka
didapatkanlah grafik dibawah ini:

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 17


Tray Dryer

0.12000

Kandungan air (gr H2O/gr pasir kering)


0.10000

0.08000 Diameter 0.3 mm


Diameter 0.6 mm
0.06000
Diameter 0.8 mm

0.04000 Linear (Diameter 0.3 mm)


Linear (Diameter 0.6 mm)
0.02000 Linear (Diameter 0.8 mm)

0.00000
0 3 6 9 12 15
Waktu (menit)

Gambar 4.1 Grafik wanktu(menit) vs Kandungan air pada ketiga ukuran

Menghitung Laju Pengeringan Air


Laju pengeringan air dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:
∆𝑊 1 |𝑊𝑖 − 𝑊𝑖−1 | 1
𝑅𝑖 = =
∆𝑡 𝐴𝑠 |𝑡𝑖 − 𝑡𝑖−1 | 𝐴𝑠
Keterangan:
Ri = laju pengeringan (g H2O / menit.cm2)
As = luas permukaan pengeringan (cm2)
t = waktu pengamatan (menit)
Wi=|𝑤𝑖 − 𝑤𝑖−1 |

Pengukuran laju pengeringan dari berbagai variasi ukuran pasir


Diameter 0.3 mm
Luas Tray 588

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 18


Tray Dryer

Tabel 4.7 Laju Pengeringan berat pasir keci


t Wi ∆W ∆t Ri Xi
0 392 0 0.00000 0.111111111
3 391 1 3 0.00057 0.104575163
6 390 1 3 0.00057 0.098039216
9 389 1 3 0.00057 0.091503268
12 389 0 3 0.00000 0.091503268

Diameter 0.6 mm
Luas Tray 588

Tabel 4.8 Laju Pengeringan berat pasir sedang


t Wi ∆W ∆t Ri Xi
0 494 0 0.00000 0.05426357
3 494 0 3 0.00000 0.05426357
6 493 1 3 0.00057 0.0503876
9 493 0 3 0.00000 0.0503876
12 493 0 3 0.00000 0.0503876

Diameter 0.8 mm
Luas Tray 588

Tabel 4.9 Laju Pengeringan dengan metode penurunan berat pasir besar
t Wi ∆W ∆t Ri Xi
0 501 0 0.00000 0.033333333
3 501 0 3 0.00000 0.033333333
6 500 1 3 0.00057 0.02962963
9 500 0 3 0.00000 0.02962963
12 500 0 3 0.00000 0.02962963

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 19


Tray Dryer

Diameter 0.3mm
0.00070

Laju Pengeeringan (gr/mnt.cm2)


0.00060
0.00050
0.00040
0.00030
0.00020 Diameter 0.3mm
0.00010
0.00000
0.00000 0.05000 0.10000 0.15000
Kandungan Air (gr H20/gr pasir kering

Gambar 4.2 Grafik Laju pengeringan terhadap kandungan air partikel kecil

Diameter 0.6mm
0.00060
Laju Pengeeringan (gr/mnt.cm2)

0.00050
0.00040
0.00030
0.00020 Diameter 0.6mm
0.00010
0.00000
0.048 0.05 0.052 0.054 0.056
-0.00010
Kandungan Air (gr H20/gr pasir kering

Gambar 4.3 Grafik Laju pengeringan terhadap kandungan air partikel sedang

Diameter 0.8mm
0.00060
Laju Pengeeringan (gr/mnt.cm2)

0.00050
0.00040
0.00030
0.00020 Diameter 0.8mm
0.00010
0.00000
-0.000100.029 0.03 0.031 0.032 0.033 0.034
Kandungan Air (gr H20/gr pasir kering

Gambar 4.4 Grafik Laju pengeringan terhadap kandungan air partikel besar

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 20


Tray Dryer

Mengetahui laju pengeringan dengan metode kenaikan kelembaban


Mengetahui Hupstream dan Hdownstream didapat dari melihat dari psychometric chart
Table 4.10 Perhitungan Laju penguapan dengan pasir berdiameter 0.3mm
upstream downstream
T dry
t Wi T wet (oC) T dry (oC) T wet (oC) (oC) H upstream H downstream ∆H v rata2 m
0 392 30 31 30.5 32 0.026 0.027 0.001 1.364 0.00096
3 391 31 31.5 31 32 0.027 0.028 0.001 1.35 0.00095
6 390 31 31.5 31.9 32 0.027 0.028 0.001 1.366 0.00096
9 389 31.9 32 32 32 0.027 0.028 0.001 1.378 0.00097
12 389 32 32 32 33 0.027 0.029 0.002 1.396 0.00197

Table 4.11 Perhitungan Laju penguapan dengan pasir berdiameter 0.6mm


upstream downstream
t Wi T wet T dry H upstream H downstream ∆H v rata2 m
T wet (oC) T dry (oC)
(oC) (oC)
0 494 31 31 31.5 31.5 0.028 0.028 0 1.372 0.00000
3 494 31 31.5 30.5 30 0.028 0.027 -0.001 1.428 -0.00101
6 493 31 32 30.5 31 0.028 0.028 0 1.368 0.00000
9 493 30.5 31 31 30 0.026 0.027 0.001 1.436 0.00101
12 493 31.5 31 31 31 0.027 0.028 0.001 1.464 0.00103

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 21


Tray Dryer

Table 4.12 Perhitungan Laju penguapan dengan pasir berdiameter 0.6mm


upstream downstream
t Wi T dry H upstream H downstream ∆H v rata2 m
T wet (oC) T wet (oC) T dry (oC)
(oC)
0 501 31 31 31 31 0.028 0.028 0 1.436 0.00000
3 501 31 31 30.5 31 0.028 0.028 0 1.402 0.00000
6 500 30.5 31 30.5 30.5 0.028 0.027 -0.001 1.402 -0.00099
9 500 30.5 30.5 30 30.5 0.027 0.027 0 1.414 0.00000
12 500 30 30 30.5 31 0.026 0.027 0.001 1.452 0.00102

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 22


Tray Dryer

Setelah mendapatkan data tersebut selanjutnya diplot ke grafik masing-masing diameternya.

Grafik Laju Penguapan Vs Kandungan Air


0.00250

0.00200

0.00150
Laju penguapan (gr/s)

0.00100

0.00050
Diameter 0.3 mm
0.00000
0.00000 0.02000 0.04000 0.06000 0.08000 0.10000 0.12000
-0.00050 Diameter 0.6 mm

-0.00100
Diameter 0.8 mm
-0.00150
Kandungan Air (kg H2O/kg pasir kering)

Gambar 4.5 Grafik Laju Penguapan terhadap Kandungan Air

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 23


Tray Dryer

4.2 Percobaan II: Pengaruh Laju Alir


4.2.1 Data Percobaan
Laju alir 4
Tabel 4.13 Data partikel untuk Air Flow = 4

Berat kosong 222

Berat tray + pasir 375

Berat tray + pasir + air 398

Berat padatan kering 153

Tabel 4.14 Data Laju pengeringan dengan air flow = 4

v (cm/s) upstream downstream


t W T wet T dry T wet T dry
(menit) (gram) 1 2 3 4 5 v rata-rata (oC) (oC) (oC) (oC)

0 398 1.07 1.28 1.33 1.26 1.22 1.232 33 36 32 36

3 397 1.16 1.26 1.36 1.3 1.28 1.272 31 34 33 34

6 397 1.09 1.23 1.31 1.28 1.23 1.228 32 33 32 33

9 396 1.15 1.23 1.38 1.28 1.23 1.254 32 33 31 32

12 396 1.1 1.17 1.26 1.26 1.23 1.204 32 31 32 31

Laju Alir 8
Tabel 4.15 Data partikel untuk Air Flow = 8
Berat kosong 222
Berat tray + pasir 375
Berat tray + pasir + air 409
Berat padatan kering 153

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 24


Tray Dryer

Tabel 4.16 Data Laju pengeringan dengan air flow = 8


v (cm/s) upstream downstream
t T wet T dry T wet T dry
(menit) W (gram) 1 2 3 4 5 v rata-rata (oC) (oC) (oC) (oC)

0 409 1.7 2.12 2.33 2.1 2.16 2.082 30 31 30 31


3 408 1.78 2.12 2.26 2.1 2.04 2.06 30 31 30 31
6 408 1.77 2.1 2.29 2.17 2.15 2.096 30 31 30 31
9 408 1.79 2.08 2.26 2.17 2.12 2.084 30 31 31 31

12 407 1.8 2.07 2.25 2.12 2.09 2.066 31 31 30 31

Tabel 4.17. Kandungan air untuk Variasi Laju Alir = 4


Pengukuran kandungan air (Xi)
t Wi Wst Ws Xi
0 398 375 153 0.15033
3 397 375 153 0.14379
6 397 375 153 0.14379
9 396 375 153 0.13725
12 396 375 153 0.13725

Tabel 4.18 Kandungan air untuk Variasi Laju Alir = 8


Pengukuran kandungan air (Xi)
t Wi Wst Ws Xi
0 409 375 153 0.22222
3 408 375 153 0.21569
6 408 375 153 0.21569
9 408 375 153 0.21569
12 407 375 153 0.20915

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 25


Tray Dryer

Grafik Kandungan Air Vs Waktu


0.25000

Kandungan Air (gr H2O/gr pasir)


0.20000

0.15000

0.10000 Skala Laju 4


Skala Laju 8
0.05000

0.00000
0 3 6 9 12 15
Waktu (menit)

Gambar 4.6 Grafik Kandungan Air terhadap Waktu untuk Variasi Laju Alir

Mencari Laju Pengeringan untuk Variasi Laju Alir


Variasi Laju Alir = 4
Luas Tray 588

Tabel 4.19 Laju Pengeringan untuk Varisi Laju Alir = 4


t Wi ∆W ∆t Ri Xi
0 398 0 0.00000 0.150327
3 397 1 3 0.00057 0.143791
6 397 0 3 0.00000 0.143791
9 396 1 3 0.00057 0.137255
12 396 0 3 0.00000 0.137255

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 26


Tray Dryer

Variasi Laju Alir = 8


Luas Tray 588

Tabel 4.20 Laju Pengeringan untuk Varisi Laju Alir = 8


t Wi ∆W ∆t Ri Xi
0 409 0 0.00000 0.222222
3 408 1 3 0.00057 0.215686
6 408 0 3 0.00000 0.215686
9 408 0 3 0.00000 0.215686
12 407 1 3 0.00057 0.20915

Grafik Laju Kandungan Air Vs Laju


Pengeringan
Laju Pengeringan (gr/mnt.cm2)

0.00060

0.00040

0.00020
Skala Laju 4
0.00000
0.135 0.14 0.145 0.15 0.155
Kandungan Air (gr H2O/gr pasir kering)

Gambar 4.7 Kandungan Air terhadap Laju Pengeringan pada Laju Alir 4

Grafik Laju Kandungan Air Vs Laju


Pengeringan
Laju Pengeringan (gr/mnt.cm2)

0.00060

0.00040

0.00020
Skala Laju 8
0.00000
0.205 0.21 0.215 0.22 0.225
-0.00020
Kandungan Air (gr H2O/gr pasir kering)

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 27


Tray Dryer

Gambar 4.8 Kandungan Air terhadap Laju Pengeringan pada Laju Alir 8
Mengetahui laju pengeringan dengan metode kenaikan kelembaban
Mengetahui H upstream dan H downstream didapat dari melihat dari psychometric chart

Table 4.21 Perhitungan Laju penguapan dengan Variasi Laju Alir = 4

upstream downstream
T wet T dry T wet T dry H H v
t Wi (oC) (oC) (oC) (oC) upstream downstream ∆H rata2 m
0 398 33 36 32 36 0.031 0.031 0 1.232 0.00000
3 397 31 34 33 34 0.027 0.032 0.005 1.272 0.00449
6 397 32 33 32 33 0.03 0.031 0.001 1.228 0.00087
9 396 32 33 31 32 0.03 0.03 0 1.254 0.00000
12 396 32 31 32 31 0.031 0.031 0 1.204 0.00000

Table 4.22 Perhitungan Laju penguapan dengan Variasi Laju Alir = 8


upstream downstream
T wet T dry T wet T dry H H
t Wi (oC) (oC) (oC) (oC) upstream downstream ∆H v rata2 m
0 409 30 31 30 31 0.02600 0.02600 0.00000 2.08200 0.00000
3 408 30 31 30 31 0.02600 0.02600 0.00000 2.06000 0.00000
6 408 30 31 30 31 0.02600 0.02600 0.00000 2.09600 0.00000
9 408 30 31 31 31 0.02600 0.02700 0.00100 2.08400 0.00147
-
12 407 31 31 30 31 0.02700 0.02600 -0.00100 2.06600 0.00146

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 28


Tray Dryer

Grafik Laju Penguapan Vs Kandungan Air


0.00500

0.00400
Laju penguapan (gr/s)

0.00300

0.00200
Skala Laju 4
0.00100
Skala Laju 8
0.00000
0.00000 0.05000 0.10000 0.15000 0.20000 0.25000
-0.00100

-0.00200
Kandungan Air (gr H2O/gr pasir kering)

Gambar 4.9 Laju penguapan terhadap Kandungan Air untuk Variasi Laju Alir

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 29


Tray Dryer

Percobaan III : Pengaruh Perubahan Temperature


Data Percobaan
Pada suhu 2
Tabel 4.23. Data partikel untuk Variasi Suhu = 2
Berat kosong 222
Berat tray + pasir 375
Berat tray + pasir + air 399
Berat padatan kering 153

Tabel 4.24 Tabel. Data Laju Pengeringan untuk Variasi Suhu = 2

v (cm/s) upstream downstream


t T wet T dry T wet T dry
(menit) W (gram) 1 2 3 4 5 v rata-rata (oC) (oC) (oC) (oC)

0 399 1.19 1.42 1.48 1.42 1.41 1.384 29.5 30 30 30

3 398 1.24 1.4 1.49 1.44 1.42 1.398 29.5 30 29.5 30

6 398 1.21 1.4 1.55 1.42 1.45 1.406 29.2 30 29.5 30.5

9 397 1.21 1.46 1.57 1.42 1.47 1.426 29.5 30 29 30

12 396 1.22 1.4 1.53 1.45 1.48 1.416 29.7 30 30 29.5

Pada suhu 7
Tabel 4.25 Data partikel untuk Variasi Suhu = 7
Berat kosong 222
Berat tray + pasir 375
Berat tray + pasir + air 577
Berat padatan kering 153

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 30


Tray Dryer

Tabel 4.26 Tabel. Data Laju Pengeringan untuk Variasi Suhu = 7


v (cm/s) upstream downstream
T
t v rata- T wet T dry wet T dry
(menit) W (gram) 1 2 3 4 5 rata (oC) (oC) (oC) (oC)
0 395 1.2 1.48 1.59 1.42 1.47 1.432 32 35 36 38
3 394 1.25 1.44 1.53 1.42 1.42 1.412 35 39 36 38
6 393 1.18 1.44 1.56 1.42 1.45 1.41 36 38 37 39
9 392 1.22 1.43 1.51 1.45 1.45 1.412 37 39 38 38.5
12 390 1.18 1.45 1.56 1.46 1.46 1.422 38 38.5 38 39

Tabel 4.27 Laju Pengeringan untuk Varisi Suhu = 2


Pengukuran kandungan air (Xi)
t Wi Wst Ws Xi
0 399 375 153 0.15686
3 398 375 153 0.15033
6 398 375 153 0.15033
9 397 375 153 0.14379
12 396 375 153 0.13725

Tabel 4.28 Laju Pengeringan untuk Varisi Suhu = 7


Pengukuran kandungan air (Xi)
t Wi Wst Ws Xi
0 395 375 153 0.13072
3 394 375 153 0.12418
6 393 375 153 0.11765
9 392 375 153 0.11111
12 390 375 153 0.09804

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 31


Tray Dryer

Grafik Kandungan Air Vs Waktu


0.18000

Kandungan air (gr H2O/gr pasir kering)


0.16000
0.14000
0.12000
0.10000
0.08000 Skala Temp 2
0.06000
Skala Temp 7
0.04000
0.02000
0.00000
0 3 6 9 12 15
Waktu (menit)

Gambar 4.10 Grafik Kandungan Air terhadap Waktu untuk Variasi Suhu

Laju Pengeringan untuk Variasi Suhu


Suhu = 2
Luas Tray 588

Tabel 4.29 Laju Pengeringan untuk Suhu 2


t Wi ∆W ∆t Ri Xi
0 399 0 0.00000 0.156863
3 398 1 3 0.00057 0.150327
6 398 0 3 0.00000 0.150327
9 397 1 3 0.00057 0.143791
12 396 1 3 0.00057 0.137255

Suhu = 8
Luas Tray 588
Tabel 4.30 Laju Pengeringan untuk Suhu 8
t Wi ∆W ∆t Ri Xi
0 395 0 0.000000 0.130718954
3 394 1 3 0.000567 0.124183007
6 393 1 3 0.000567 0.117647059
9 392 1 3 0.000567 0.111111111
12 390 2 3 0.001134 0.098039216

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 32


Tray Dryer

Grafik Laju Pengeringan Vs


laju pengeringan (gr H2O/mnt.cm2) Kandungan Air
0.00070
0.00060
0.00050
0.00040
0.00030
Suhu 2
0.00020
0.00010
0.00000
0.135 0.14 0.145 0.15 0.155 0.16
Kandungan Air (gr H2O/gr pasir kering)

Gambar 4.11 Kandungan Air terhadap Laju Pengeringan untuk Variasi Suhu = 2

Grafik Laju Pengeringan Vs


Kandungan Air
laju pengeringan (gr H2O/mnt.cm2)

0.001200

0.001000

0.000800

0.000600

0.000400 Suhu 7

0.000200

0.000000
0 0.05 0.1 0.15
Kandungan Air (gr H2O/gr pasir kering)

Gambar 4.12 Kandungan Air terhadap Laju Pengeringan untuk Variasi Suhu = 8

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 33


Tray Dryer

Mengetahui laju pengeringan dengan metode kenaikan kelembaban


Mengetahui H upstream dan H downstream didapat dari melihat dari psychometric chart

Table 4.31 Perhitungan Laju penguapan dengan Variasi Suhu = 2


upstream downstream
T wet T dry T wet T dry H H v
t Wi (oC) (oC) (oC) (oC) upstream downstream ∆H rata2 m
0 399 29.5 30 30 30 0.026 0.026 0 1.384 0.000000
3 398 29.5 30 29.5 30 0.026 0.026 0 1.398 0.000000
6 398 29.2 30 29.5 30.5 0.026 0.027 0.001 1.406 0.000992
9 397 29.5 30 29 30 0.026 0.026 0 1.426 0.000000
12 396 29.7 30 30 29.5 0.026 0.026 0 1.416 0.000000

Table 4.32 Perhitungan Laju penguapan dengan Variasi Suhu = 8


upstream downstream
T wet T dry T wet T dry H H v
t Wi (oC) (oC) (oC) (oC) upstream downstream ∆H rata2 m
0 395 32 35 36 38 0.03 0.037 0.007 1.432 0.007
3 394 35 39 36 38 0.035 0.037 0.002 1.412 0.002
6 393 36 38 37 39 0.037 0.038 0.001 1.41 0.001
9 392 37 39 38 38.5 0.038 0.04 0.002 1.412 0.002
12 390 38 38.5 38 39 0.04 0.04 0 1.422 0.000

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 34


Tray Dryer

Grafik Laju Penguapan Vs Kandungan Air


0.008000

0.007000

0.006000
laju penguapan (gr/s)

0.005000

0.004000
Skala Temperatur 2
0.003000
Skala Temperatur 7
0.002000

0.001000

0.000000
0.00000 0.05000 0.10000 0.15000 0.20000
-0.001000
Kandungan Air (gr H2O/gr pasir kering)

Gambar 4.13 Kandungan Air terhadap Laju Penguapan untuk Variasi Suhu

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 35


Tray Dryer

BAB V
ANALISIS

5.1 Analisis Percobaan


Pada percobaan modul Tray Dryer kali ini, ada 3 jenis percobaan yang dilakukan oleh
praktikan. Percobaan pertama adalah melakukan pengeringan menggunakan tray dryer dengan
memvariasikan ukuran partikel pasir basah yang akan dikeringkan. Tujuan dari percobaan
pertama ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran partikel pasir basah yang akan
dikeringkan terhadap laju pengeringan dan laju penguapan air yang terjadi. Oleh karena itu,
variabel bebas yang divariasikan dalam percobaan pertama ini adalah ukuran partikel pasir,
dimana digunakan pasir berukuran kecil (0,3 mm), sedang (0,5 mm), dan besar (0,7 mm).
Sementara, variabel kontrol yang dibuat konstan dalam percobaan ini adalah laju alir udara dan
suhu heater. Laju alir udara dan suhu heater diatur konstan pada skala 5 di controller. Laju alir
udara dan suhu heater dibuat konstan karena di dalam percobaan pertama ini, praktikan hanya
akan meninjau pengaruh ukuran partikel pasir sehingga variabel lainnya dibuat tetap.
Secara teoritis, proses pengeringan partikel pasir basah yang berukuran kecil (0,3 mm)
akan lebih cepat dibandingkan dengan pengeringan pada partikel pasir basah yang berukuran
sedang dan besar. Hal ini disebabkan karena semakin kecil ukuran partikel pasirnya, maka luas
permukaan total pasir akan semakin besar. Dengan semakin besarnya luas permukaan yang
dimiliki partikel pasir, maka luas bidang kontak antara partikel pasir dengan aliran udara akan
semakin besar pula. Ketika partikel pasir basah berkontak dengan udara, maka akan tercipta
gradien konsentrasi air antara udara dengan pasir basah. Pasir basah memiliki konsentrasi
kandungan air yang tinggi, sedangkan udara yang mengalir ke dalam tray dryer bersifat kering
dan hanya mengandung uap air dalam kadar yang rendah. Perbedaan konsentrasi kandungan
air antara di pasir basah dengan di aliran udara menjadi driving force terjadinya perpindahan
massa air dari pasir basah yang berkonsentrasi lebih tinggi ke udara yang berkonsentrasi lebih
rendah, sehingga akan terjadi pengeringan pada pasir. Pada partikel pasir yang berdiameter
kecil, karena memiliki luas permukaan dan luas bidang kontak antara pasir dengan udara yang
lebih besar, maka proses perpindahan massa yang terjadi lebih banyak, sehingga akan lebih
banyak air yang teruapkan pada pasir yang berdiameter kecil dibanding pasir yang besar.
Dengan demikian, jika banyaknya air yang teruapkan per satuan waktu dihitung, laju
pengeringan dan laju penguapan air pada partikel yang berukuran kecil akan lebih besar
dibanding partikel yang berukuran besar.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 36


Tray Dryer

Pada percobaan kedua, praktikan bermaksud untuk melakukan pengeringan pasir basah
dengan memvariasikan laju udara pengering yang masuk ke dalam tray dryer. Oleh karena itu,
percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi laju udara pengering terhaadap laju
pengeringan dan laju penguapan air yang terjadi. Karena itu, laju udara pengering menjadi
variabel bebas di dalam percobaan ini, sementara yang menjadi variabel kontrolnya adalah
ukuran partikel pasir dan suhu heater. Ukuran pasir yang digunakan adalah pasir berukuran
kecil (0,3 mm) dan suhu heater yang digunakan berada pada skala 5.
Saat laju alir udaranya besar, maka kondisi aliran udaranya adalah turbulen. Sesuai
konsep mekanika fluida, aliran udara turbulen akan menghasilkan boundary layer yang tipis
pada dinding tray dryer. Adanya boundary layer ini akan memberikan tahanan atau hambatan
bagi proses perpindahan kalor. Dengan boundary layer yang tipis, maka tahanan terhadap
perpindahan kalor juga kecil, sehingga koefisien perpindahan kalor pada aliran turbulen
menjadi besar dan efisiensi transfer panas pada kondisi turbulen sangat maksimal. Jadi, saat
udara yang telah dipanaskan dengan heater memasuki tray dryer, ia akan berkontak dengan
pasir basah. Laju alir udara yang besar akan lapisan batas yang tipis, sehingga panas dari udara
akan dengan mudah ditransfer ke pasir basah. Karena pasir basah mendapat kalor, maka suhu
di pasir menjadi naik. Suhu ini akan diserap oleh air di dalam pasir, sehingga sebagian air akan
menguap menjadi uap air akibat panas yang diserap oleh air tersebut. Hal ini menyebabkan,
terjadi transfer massa berupa uap air dari pasir basah ke udara. Dengan demikian, pada kondisi
aliran turbulen, perpindahan kalor dan perpindahan massa dapat terjadi secara lebih cepat,
sehingga laju penguapan air dan laju pengeringannya lebih besar.
Sebaliknya, ketika laju aliran udaranya kecil, maka kondisi udara yang mengalir adalah
laminer. Sesuai dengan konseptual pada mekanika fluida, aliran udara laminer akan memiliki
boundary layer yang tebal pada dinding – dinding saluran, yang dalam hal ini berupa tray
dryer. Seperti yang telah dijelaskan di paragraf sebelumnya, pada percobaan ini dgunakan suhu
heater pada skala 5. Adanya heater ini akan membuat udara yang masuk menjadi panas dan
memiliki temperatur yang lebih tinggi dibanding temperatur pasir basah. Karena aliran
udaranya kecil (laminer), maka boudary layer nya tebal, sehingga akan memberikan hambatan
yang besar terhadap proses perpindahan kalor dari udara yang bersuhu lebih tinggi ke pasir
basah yang bersuhu lebih rendah. Proses perpindahan kalor yang kecil ini akan membuat
koefisien perpindahan kalor konveksi yang terjadi juga kecil, sehingga hanya sedikit kalor yang
ditransfer dari udara panas ke pasir basah, sehingga hanya sedikit air yang teruapkan dan
menghasilkan laju penguapan air dan laju pengeringan yang rendah.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 37


Tray Dryer

Di samping ditinjau dari ketebalan boundary layer nya, dapat pula ditinjau dari segi
gradien konsentrasinya. Ketika udara kering berkontak dengan pasir basah, ada perbedaan
gradien konsentrasi yang besar antara keduanya, sehingga hal ini akan memberikan driving
force yang besar untuk terjadinya perpindahan kalor dari udara kering yang panas ke pasir dan
perpindahan massa berupa menguapnya air ke udara di sekitarnya. Ketika air menguap ke
udara, air menjadi semakin jenuh akan air, sehingga gradien konsentrasi antara pasir basah dan
udara menjadi berkurang dan semakin mengecil, hingga suatu saat konsentrasi air di udara dan
pasir setimbang dan tak terjadi lagi penguapan dan pengeringan. Pada aliran turbulen, aliran
udara sangat cepat. Hal ini menyebabkan, semua udara di dalam tray dryer akan terus bergerak
dan mengalami sirkulasi secara cepat. Oleh karena itu, semua udara di dalam tray dryer akan
selalu diperbaharui. Ketika udara mendapat uap air dan mulai jenuh, udara tersebut akan
didorong keluar dari tray dryer oleh udara yang lainnya. Hal ini akan terus berlangsung dalam
kondisi turbulen, sehingga gradien konsentrasi antara pasir dan udara akan relatif konstan pada
delta konsentrasi seperti kondisi awal, sehingga penguapan air dari pasir basah akan dapat terus
berlangsung.
Percobaan ketiga adalah melakukan pengeringan dengan variasi suhu heater. Jadi,
tujuannya adalah mengetahui pengatuh variasi temperatur heater terhadap laju penguapan air
dan laju pengeringan. Oleh karena itu, variabel bebas yang divariasikan adalah suhu heater.
Sementara, laju alir udara dan ukuran partikel pasir dijaga konstan dan menjadi variabel
kontrol. Ukuran pasir yang digunakan adalah ukuran pasir kecil dan suhu heater dibuat menjadi
berada pada skala 5 di controller.
Ketika suhu heater meningkat, maka suhu udara yang masuk ke dalam tray dryer juga
akan meningkat. Selanjutnya, udara ini akan berkontak dengan pasir basah. Perbedaan suhu
antara udara panas dengan pasir basah akan menciptakan gradien temperatur yang menjadi
driving force terjadinya perpindahan kalor dari udara panas ke pasir basah. Jika temperatur
heater semaking tinggi, maka makin banyak kalor yang dapat ditransfer ke pasir basah. Hal ini
menyebabkan akan semakin banyak kalor yang bisa diserap oleh air yang ada di dalam pasir.
Dengan makin banyaknya kalor yang masuk ke dalam pasir, maka semakin banyak air yang
akan mencapai titik didihnya dan mengalami penguapan, sehingga laju penguapan air dan laju
pengeringan yang terjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, hal ini berdampak pada semakin
kecilnya waktu pengeringan yang dibutuhkan jika suhu heater semaking tinggi.
Selain itu, ada pula pengaruh humidity terhadap laju pengeringan. Humidity atau
kelembaban udara ini berpengaruh terhadap kejenuhan air yang terkandung di dalam udara.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 38


Tray Dryer

Semakin tinggi kelembaban udara, maka kandungan uap air yang terdapat di udara semakin
banyak, sehingga kondisi udara pada alat tray dryer menjadi jenuh. Kondisi jenuh akan
menghambat proses pengeringan, karena gradien konsentrasi antara udara dan pasir basah
menjadi semakin kecil. Kondisi terbaik adalah udara yang memiliki kelembaban rendah
sehingga air masih dapat menguap ke udara dan terjadi proses pengeringan.
Pada ketiga percobaan di atas, diukur pula data wet bulb temperature dan dry bulb
temperature pada posisi upstream dan downstream. Temperatur dry bulb menunjukkan
temperatur udara aktual, sementara temperatur wet bulb menunjukkan temperatur udara jenuh
(100% lembab) udara saat dibalut kapas basah. Temperatur wet bulb selalu lebih rendah
dibandung temperatur dry bulb karena pada pengukuran temperatur wet bulb, air pada kapas
basah akan berpindah ke udara di sekitarnya akibat adanya gradien konsentrasi antara kapas
basah dengan udara. Perpindahan komponen uap air ini akan menyebabkan udara menjadi
meningkat kelembabannya. Dengan peningkatan kelembaban ini, menunjukkan bahwa
kandungan uap air di udara semakin banyak, sehingga akan menurunkan temperatur udara. Hal
ini mengakibatkan, temperatur wet bulb akan terbaca lebih rendah dibandingkan temperatur
dry bulb.

5.2 Analisis Perhitungan dan Grafik

Pada percobaan ini praktikan melakukan 3 jenis variasi yaitu


 Pengaruh Diameter Partikel
 Pengaruh Laju Alir Udara Pemanas
 Pengaruh Suhu Udara Pemanas

Setelah melakukan percobaan dan mendapatkan data dilakukan perhitungan untuk


mendapatkan hasil yang dapat dianalisa oleh praktikan sehingga dapat tercapai tujuan-tujuan
dari praktikum ini.

5.2.1 Analisis Percobaan i

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 39


Tray Dryer

Pada percobaan pertama dengan variasi diameter partikel pasir diambil data-data yaitu massa
padatan sebelum dan sesudah proses pengeringan saat selang waktu tertentu, kelembaban, suhu
dry bulb dan wet bulb selama selang waktu tertentu, dan juga laju alir udara keluar. Setelah itu
dilakukan perhitungan dan didapat hasil seperti berikut :

0.12000
Kandungan air (gr H2O/gr pasir kering)

0.10000

0.08000 Diameter 0.3 mm


Diameter 0.6 mm
0.06000
Diameter 0.8 mm

0.04000 Linear (Diameter 0.3 mm)


Linear (Diameter 0.6 mm)
0.02000 Linear (Diameter 0.8 mm)

0.00000
0 3 6 9 12 15
Waktu (menit)

Gambar 5.1. Kurva Laju Pengeringan vs Kandungan Air untuk Percobaan 1

Dari grafik tersebut dapat terlihat pada ketiga pasir dengan diameter berbeda terjadi
penurunan kandungan air yang terdapat dalam pasir tersebut hal ini terjadi karena air yang ada
pada pasir berpindah ke dalam udara dikarnakan adanya perbedaan konsentrasi. Dimana air
yang menguap terlebih dahulu adalah Unbounded water atau free moisture yang adalah air
yang berada di sela-sela padatan karena adanya tegangan permukaan. Hal tersebut dikarnakan
Bounded water atau air terikat, yaitu air yang berada dalam bahan padat dan mempunyai
interaksi dengan zat padat tersebut sehingga sulit teruapkan.
Pada grafik diatas dapat dilihat antara kandungan air vs waktu dengan variasi diameter
parikel pasir dengan ukuran 0,3 mm, 0,6 mm dan 0,8 mm. Dapat dilihat pada grafik diatas besar
penurunan kandungan air terbesar dimiliki oleh pasir dengan diameter partikel sebesar 0,3 mm
disusul oleh pasir dengan ukuran 0,6 mm dan 0,8 mm. Hal ini dapat terjadi karena semakin
kecil diameter partikel pasir maka semakin luas luas permukaan pasir dimana semakin mudah
air yaitu unblunded water menguap. Teori tersebut dapat dilihat pada pasir dengan diameter

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 40


Tray Dryer

0,3 mm tetapi pada 0,6 mm dan 0,8 mm jumlah air yang menguap relatif sama. Hal tersebut
kemungkinan terjadi karena adanya kesalahan seperti berat dan kandungan air yang tidak sama.
Selanjutnya dihitung juga laju pengeringan dengan menggunakan 2 cara yaitu Laju
Pengeringan dengan metode penurunan berat dan laju pengeringan dengan metode kenaikan
kelembaban. Dengan menggunakan metode penurunan berat untuk menghitung laju
pengeringan didapat hasil sebagai berikut :

Diameter 0.3mm
0.00070
Laju Pengeeringan (gr/mnt.cm2)

0.00060
0.00050
0.00040
0.00030
0.00020 Diameter 0.3mm
0.00010
0.00000
0.00000 0.05000 0.10000 0.15000
Kandungan Air (gr H20/gr pasir kering

Gambar 5.2. Grafik Laju pengeringan terhadap kandungan air partikel kecil

Diameter 0.6mm
0.00060
Laju Pengeeringan (gr/mnt.cm2)

0.00050
0.00040
0.00030
0.00020 Diameter 0.6mm
0.00010
0.00000
0.048 0.05 0.052 0.054 0.056
-0.00010
Kandungan Air (gr H20/gr pasir kering

Gambar 5.3. Grafik Laju pengeringan terhadap kandungan air partikel sedang

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 41


Tray Dryer

Diameter 0.8mm
0.00060

Laju Pengeeringan (gr/mnt.cm2)


0.00050
0.00040
0.00030
0.00020 Diameter 0.8mm
0.00010
0.00000
-0.000100.029 0.03 0.031 0.032 0.033 0.034
Kandungan Air (gr H20/gr pasir kering

Gambar 5.4. Grafik Laju pengeringan terhadap kandungan air partikel besar

Dalam teorinya kurva pengeringan dibagi menjadi 3 bagian yaitu daerah warming-up,
daerah konstan (Constant Rate) dan daerah menurun (Falling Rater). Daerah warming-up
ditandai dengan kurva yang menanjak naik seiring dengan semakin berkurangnya kandungan
air. Daerah constant rate ditandai dengan laju pengeringan yang konstan seiring dengan
semakin berkurangnya kandungan air. Sementara daerah falling rate ditandai dengan tren kurva
pengeringan yang menurun seiring dengan semakin berkurangnya kandungan air.
Dari ketiga grafik diatas dapat dilihat bahwa terdapat daerah warming up dan falling rate pada
ketiga grafik namun hanya pada pasir dengan diameter 0,3 mm yang memberikan daerah
constant rate yang jelas dibandingkan dengan grafik lainnya. Hal tersebut dikarnakan
kurangnya data yang diambil dan interval waktu yang terlampau besar.
Selanjutnya kita mencari laju pengeringan dengan metode kenaikan kelembaban.
Prinsip dari metode kenaikan kelembaban ini adalah bahwa suhu downstream akan selalu lebih
tinggi dari suhu upstream. Hal ini dapat terjadi karena udara kering yang melewati tray akan
menyerap air yang berasal dari pasir sehingga suhu udara yang mengalir ke downstream akan
mengalami peningkatan akibat dari air yang ada pada pasir basah teruapkan oleh udara kering.
Selain menyebabkan suhu udara menjadi lebih panas air tersebut menyebabkan humidity pada
daerah downstream akan lebih besar daripada upstream karena udara yang melair ke
downstream sudah menyerap air dari pasir tersebut. Setelah dilakukan perhitungan di
pengolahan data maka didapat hasil sebagai berikut :

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 42


Tray Dryer

Grafik Laju Penguapan Vs Kandungan Air


0.00250

0.00200

0.00150
Laju penguapan (gr/s)

0.00100

0.00050
Diameter 0.3 mm
0.00000
0.00000 0.02000 0.04000 0.06000 0.08000 0.10000 0.12000
-0.00050 Diameter 0.6 mm

-0.00100
Diameter 0.8 mm
-0.00150
Kandungan Air (kg H2O/kg pasir kering)

Gambar 5.5. Grafik Laju Penguapan terhadap Kandungan Air

Dari grafik diatas kita dapat melihat adanya laju penguapan pada diameter 0,3 mm
paling tinggi dibandingkan dengan yang lain hal ini sesuai dengan teori yang telah dijelaskan
sebelumnya. Namun pada diameter 0,6 mm dan diameter 0,8 mm memberikan hasil yang sama
dimana seharusnya diameter 0,6 mm menghasilkan laju penguapan lebih tinggi dikarnakan
mempunyai luas permukaan yang lebih besar. Penyimpangan tersebut kemungkinan terjadi
karena adanya kesalahan-kesalahan yang akan dijelaskan pada analisa kesalahan

5.2.2 Analisis Percobaan ii


Percobaan ini dilakukan dengan variasi laju alir udara pemanas dimana diambil data-
data yaitu massa padatan sebelum dan sesudah proses pengeringan saat selang waktu tertentu,
kelembaban, suhu dry bulb dan wet bulb selama selang waktu tertentu, dan juga laju alir udara
keluar. Setelah itu dilakukan perhitungan dengan metode pengukuran berat dan didapat hasil
seperti berikut :

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 43


Tray Dryer

Grafik Kandungan Air Vs Waktu


0.25000

Kandungan Air (gr H2O/gr pasir)


0.20000

0.15000

0.10000 Skala Laju 4


Skala Laju 8
0.05000

0.00000
0 3 6 9 12 15
Waktu (menit)

Gambar 5.6. Grafik Kandungan Air terhadap Waktu untuk Variasi Laju Alir

Dari grafik tersebut dapat terlihat hasil percobaan dengan variasi laju alir skala 4 dan
skala 8. Dapat dilihat bahwa kandungan air di pasir tersebut berkurang seiring dengan
bertambahnya waktu. Hal ini disebabkan karena udara yang berada di dalam tray yang
sebelumnya kering akan meningkat kandungan airnya disebabkan perpindahan massa air dari
pasir ke udara dikarnakan perbedaan konsentrasi yang lama kelamaan akan menurun laju
penguapannya dikarnakan sistem semakin setimbang, kemudian udara yang telah meningkat
kandungan airnya tersebut bergerak karena memiliki laju alir dan digantikan dengan udara baru
yang masih kering sehingga dapat memberikan laju pengeringan yang kembali optimal. Selain
itu seriring dengan penambahan laju alir maka aliran akan berubah dari laminar ke turbulen
dimana pada aliran turbulen memiliki boundary layer yang tipis sehingga pertukaran panas
dapat terjadi lebih baik.
Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa kedua laju alir memberikan penurunan
kandungan air yang relatif sama, dimana seharusnya skala laju 8 memberikan penurunan yang
lebih besar. Hal ini terjadi karena adanya kesalahan ataupun perbedaan yang terjadi sangatlah
kecil sehingga tidak dapat terbaca dengan baik menggunakan alat yang ada.
Selanjutnya dihitung juga laju pengeringan dengan menggunakan 2 cara yaitu Laju
Pengeringan dengan metode penurunan berat dan laju pengeringan dengan metode kenaikan
kelembaban. Dengan menggunakan metode penurunan berat untuk menghitung laju
pengeringan didapat hasil sebagai berikut

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 44


Tray Dryer

Grafik Laju Kandungan Air Vs Laju


Pengeringan
Laju Pengeringan (gr/mnt.cm2) 0.00060

0.00040

0.00020
Skala Laju 4
0.00000
0.135 0.14 0.145 0.15 0.155
Kandungan Air (gr H2O/gr pasir kering)

Gambar 5.7. Kandungan Air terhadap Laju Pengeringan pada Laju Alir 4

Grafik Laju Kandungan Air Vs Laju


Pengeringan
Laju Pengeringan (gr/mnt.cm2)

0.00060

0.00040

0.00020
Skala Laju 8
0.00000
0.205 0.21 0.215 0.22 0.225
-0.00020
Kandungan Air (gr H2O/gr pasir kering)

Gambar 5.8. Kandungan Air terhadap Laju Pengeringan pada Laju Alir 8

Dapat dilihat pada grafik tersebut terjadi pengurangan kandungan air pada setiap
peningkatan laju pengeringan. Dimana seharusnya skala laju 8 akan memberikan laju
pengeringan yang lebih besar dibandingkan dengan skala laju 4 namun pada percobaan ini
kedua skala memberikan laju yang relatif sama. Hal ini terjadi karena adanya kesalahan
ataupun perbedaan yang terjadi sangatlah kecil sehingga tidak dapat terbaca dengan baik
menggunakan alat yang ada. Grafik yang terbentuk terlihat seperti ada 2 puncak dimana terjadi
penurunan laju penguapan hingga 0, hal ini dikarnakan pengurangan kandungan air yang
sedikit dan tidak bisa ditangkap oleh alat yang ada sehingga menghasilkan berat yang konstan
maka menyebabkan laju pengeringan menjadi 0. Seharusnya saat laju pengeringan mencapai
puncak maka akan masuk ke dalam daerah constant rate dimana akan terjadi laju paneringan
yang konstan yang terbentang di antara kedua puncak.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 45


Tray Dryer

Selanjutnya kita mencari laju pengeringan dengan metode kenaikan kelembaban.


Prinsip dari metode kenaikan kelembaban ini adalah bahwa suhu downstream akan selalu lebih
tinggi dari suhu upstream. Hal ini dapat terjadi karena udara kering yang melewati tray akan
menyerap air yang berasal dari pasir sehingga suhu udara yang mengalir ke downstream akan
mengalami peningkatan akibat dari air yang ada pada pasir basah teruapkan oleh udara kering.
Selain menyebabkan suhu udara menjadi lebih panas air tersebut menyebabkan humidity pada
daerah downstream akan lebih besar daripada upstream karena udara yang melair ke
downstream sudah menyerap air dari pasir tersebut. Setelah dilakukan perhitungan di
pengolahan data maka didapat hasil sebagai berikut :

Grafik Laju Penguapan Vs Kandungan Air


0.00500

0.00400
Laju penguapan (gr/s)

0.00300

0.00200
Skala Laju 4
0.00100
Skala Laju 8
0.00000
0.00000 0.05000 0.10000 0.15000 0.20000 0.25000
-0.00100

-0.00200
Kandungan Air (gr H2O/gr pasir kering)

Gambar 5.9. Grafik Laju Penguapan terhadap Kandungan Air

Dari grafik diatas kita dapat melihat adanya penurunan dan mendapatkan bahwa laju
pengeringan pada skala laju 8 lebih rendah dibandingkan dengan skala laju 4. Hal ini
bertentangan dengan teori yang ada kemungkinan terjadi kesalahan dalam pembacaan
temperature sehingga mengakibatkan data kurang akurat.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 46


Tray Dryer

5.2.3 Analisis Percobaan iii


Percobaan ini dilakukan dengan variasi suhu udara pemanas dimana diambil data-data
yaitu massa padatan sebelum dan sesudah proses pengeringan saat selang waktu tertentu,
kelembaban, suhu dry bulb dan wet bulb selama selang waktu tertentu, dan juga laju alir udara
keluar. Setelah itu dilakukan perhitungan dengan metode pengukuran berat dan didapat hasil
seperti berikut :

Grafik Kandungan Air Vs Waktu


0.18000
Kandungan air (gr H2O/gr pasir kering)

0.16000
0.14000
0.12000
0.10000
0.08000 Skala Temp 2
0.06000
Skala Temp 7
0.04000
0.02000
0.00000
0 3 6 9 12 15
Waktu (menit)

Gambar 5.10. Grafik Kandungan Air terhadap Waktu untuk Variasi Suhu

Dari grafik tersebut dapat terlihat hasil percobaan dengan variasi suhu skala 2 dan skala
7. Dapat dilihat bahwa kandungan air di pasir tersebut berkurang seiring dengan bertambahnya
waktu. Dari grafik tersebut dapat dilihat penurunan kandungan air pada skala temperature 7
lebih besar dibandingkan dengan skala temperature 2 hal ini dikarnakan dengan meningkatnya
temperatur maka suhu pada pasir akan meningkat yang menyebabkan penguapan air pada pasir
semakin cepat.
Selanjutnya dihitung juga laju pengeringan dengan menggunakan 2 cara yaitu Laju
Pengeringan dengan metode penurunan berat dan laju pengeringan dengan metode kenaikan
kelembaban. Dengan menggunakan metode penurunan berat untuk menghitung laju
pengeringan didapat hasil sebagai berikut

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 47


Tray Dryer

Grafik Laju Pengeringan Vs


Kandungan Air
laju pengeringan (gr H2O/mnt.cm2) 0.00070
0.00060
0.00050
0.00040
0.00030
Suhu 2
0.00020
0.00010
0.00000
0.135 0.14 0.145 0.15 0.155 0.16
Kandungan Air (gr H2O/gr pasir kering)

Gambar 5.11. Kandungan Air terhadap Laju Pengeringan untuk Variasi Suhu = 2

Grafik Laju Pengeringan Vs


Kandungan Air
laju pengeringan (gr H2O/mnt.cm2)

0.001200

0.001000

0.000800

0.000600

0.000400 Suhu 7

0.000200

0.000000
0 0.05 0.1 0.15
Kandungan Air (gr H2O/gr pasir kering)

Gambar 5.12. Kandungan Air terhadap Laju Pengeringan untuk Variasi Suhu = 8

Dapat dilihat pada grafik tersebut terjadi pengurangan kandungan air pada setiap
peningkatan laju pengeringan. Dari kedua grafik tersebut dapat dilihat bahwa percobaan
dengan skala suhu 7 memberikan laju pengeringan yang lebih besar dibandingkan skala suhu
2, hal tersebut sesuai dengan teori yang ada. Pada percobaan dengan skala suhu 2 dapat dilihat
bahwa grafik yang terbentuk terlihat seperti ada 2 puncak dimana terjadi penurunan laju

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 48


Tray Dryer

penguapan hingga 0, hal ini dikarnakan pengurangan kandungan air yang sedikit dan tidak bisa
ditangkap oleh alat yang ada sehingga menghasilkan berat yang konstan maka menyebabkan
laju pengeringan menjadi 0. Seharusnya saat laju pengeringan mencapai puncak maka akan
masuk ke dalam daerah constant rate dimana akan terjadi laju paneringan yang konstan yang
terbentang di antara kedua puncak. Sedangkan pada percobaan dengan skala suhu 8 dapat
dilihat laju pengeringan terus naik hal ini berarti dalam waktu 12 menit, proses pengeringan
tersebut masih dalam tahap warming up.
Selanjutnya kita mencari laju pengeringan dengan metode kenaikan kelembaban. Setelah
dilakukan perhitungan di pengolahan data maka didapat hasil sebagai berikut :

Grafik Laju Penguapan Vs Kandungan Air


0.008000

0.007000

0.006000
laju penguapan (gr/s)

0.005000

0.004000
Skala Temperatur 2
0.003000
Skala Temperatur 7
0.002000

0.001000

0.000000
0.00000 0.05000 0.10000 0.15000 0.20000
-0.001000
Kandungan Air (gr H2O/gr pasir kering)

Gambar 5.13. Kandungan Air terhadap Laju Penguapan untuk Variasi Suhu

Dari grafik diatas kita dapat melihat adanya penurunan dan mendapatkan bahwa laju
pengeringan pada skala suhu 8 lebih tinggi dibandingkan dengan skala laju 4. Hal ini sesuai
dengan teori yang ada dimana penambahan suhu akan membuat air pada pasir lebih cepat
menguap.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 49


Tray Dryer

5.3 Analisis Kesalahan


Dalam percobaan ini, telah terjadi beberapa kesalahan dalam percobaan yang
menyebabkan adanya penyimpangan terhadap hasil percobaan. Berikut ini adalah beberapa
kesalahan yang terjadi :
- Untuk mengukur dry bulb temperature dan wet bulb temperature, digunakan alat
aspirating psychrometer yang terdiri atas 2 buat termometer. Satu termometer
digunakan untuk mengukur dry bulb temperature, sedangkan termometer yang
lainnya dibungkus dengan kapas basah untuk mengukur wet bulb temperature.
Secara teoritis, suhu wet bulb selalu lebih rendah dibanding suhu dry bulb. Namun,
faktanya ada beberapa hasil pengukuran yang memberikan nilai suhu wet bulb lebih
tinggi dibanding suhu dry bulb. Penyimpangan ini mungkin disebabkan karena alat
termometer yang digunakan sudah tua dan usang, sehingga tingkat sensitivitas
termometernya untuk mengukur suhu menjadi menurun. Di samping itu, nilai skala
terkecil termometer yang digunakan hanyalah 0,5OC. Nilai skala yang besar ini
menyebabkan kurangnya ketelitian termometer untuk mengukur suhu, sehingga
perubahan suhu yang kecil akan sulit terbaca oleh mata dan terkesan suhu tidak
berubah. Hal ini tentunya akan mempengarahi adanya kesalahan pembacaan suhu
pada termometer.
- Kesalahan juga terjadi pada saat penimbangan dengan neraca massa digital. Neraca
massa digital ini hanya menghasilkan angka berupa bilangan bulat dan tak bisa
menambilkan bilangan desimal. Hal ini menyebabkan, nilai besarnya massa pasir
yang diberoleh setiap waktunya menjadi kurang akurat. Hal ini menyebabkan, hasil
perhitungan berat air yang teruapkan nantinya menjadi kurang akurat dalam
merepresentasikan kondisi yang sesungguhnya.
- Saat meletakkan pasir ke dalam tray, pasir tidak benar-benar merata di semua
bagian. Hal ini menyebabkan ada beberapa bagian tray yang menjadi tergenang
dengan air saat pasir dibasahi. Hal ini tentunya akan mengganggu hasil pengukuran
massa yang diperoleh dimana penguapan yang terjadi pada air di dalam tray
menjadi kurang merata.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 50


Tray Dryer

BAB VI
PENUTUP

6.1 KESIMPULAN
- Pada percobaan pertama yang meninjau pengaruh perubahan variabel ukuran
partikel pasir terhadap laju pengeringan, diperoleh laju pengeringan yang fluktuatif
pada percobaan dengan partikel pasir kecil, sedang, maupun besar. Bahkan, ada laju
pengeringan pada beberapa selang waktu bernilai 0, sehingga seolah-olah tak ada
proses pengeringan yang terjadi. Padahal, sebenanrnya terjadi proses pengeringan
namun dalam jumlah yang kecil sehingga terkesan laju pengeringannya nol. Namun
demikian, di percobaan ini, tampak bahwa terdapat trend pengurangan kandungan
air di dalam pasir basah dan sesuai dengan teori.

- Pada percobaan kedua mengenai pengaruh perubahan variabel laju alir udara
pengering terhadap laju pengeringan, laju pengeringan saat laju alir udara berada
pada skala 8 lebih tinggi dibandingkan laju pngeringan pada laju alir berskala 4.
Hal ini menunjukkan bahwa pada skala 8, pengurangan kandungan airnya leboh
besar dan sesuai dengan teori dimana peningkatan laju alir udara akan
memperbanyak jumlah air yang diuapkan.

- Pada percobaan ketiga mengenai pengaruh perubahan variabel temperatur udara


pengering terhadap laju pengeringan, pada temperatur berskala 2, laju pengeringan
tidak terlalu tinggi, sedangkan di skala 7 cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan teori
bahwa semakin tinggi suhu udara maka air akan lebih cepat penguapannya dan laju
pengeringannya.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 51


Tray Dryer

6.2 SARAN

 Mengganti aspirating psicrometer dengan yang baru yang memiliki ketelitian dan
sensitivitas lebih baik. Diusahakan, termometer yang digunakan memiliki skala
terkecil 0,1OC, sehingga hasil pembacaan perubahan suhu wet bulb dan dry bulb
menjadi lebih akurat.
 Mengganti neraca massa digital dengan neraca digital baru yang memiliki ketelitian
hingga minimal 2 angka desimal, sehingga hasil pembacaan massa tray sebelum dan
setelah pengeringan lebih akurat.

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA Page 52