Anda di halaman 1dari 4

Peluruhan Gamma

Pendahuluan

Seperti halnya inti atom yang tereksitasi maka inti yang tereksitasi dapat
memancarkan foton. Inti atom dapat berada pada keadaan tereksitasi sebagai akibat
peluruhan alfa, beta, atau melalui proses tumbukan dengan zarah lain. Dalam menuju ke
tingkat energi dasarnya, inti atom melepaskan energi dalam bentuk radiasi foton sinar
gamma.
Sebuah inti yang tereksitasi dapat meluruh dengan cara emisi radisi elekromagnetik dengan
cara konversi internal menuju tingkat energi inti yang lebih rendah. Proton ynag tereksitasi dapat
memancarkan radiasi elektromagnetik sinar gamma melalui proses peluruhan. Hal ini identik dengan
transisi elektron tereksitasi dalam atom dari tingkat energi yang lebih tinggi ke tingkat energi yang
lebih rendah disertai dengan pancaran radiasi elektromagnetik atau pancaran elekton auger. Pada
umumnya keadaan inti tidak berupa keadaan zarah tunggal, sehingga penyusunan kembali nukleon
pada peluruhan gamma adalah sangat kompleks. Sinar gamma mempunyai energi yang khas dengan
rentangan 0,1 MeV sampai dengan 10 MeV, yang merupakan kharakteristik selisih energi antara
keadaan-keadaan inti. Energi-energi ini bersesuaian dengan panjang gelombang dengan rentang
104 fm sampai dengan 100 fm.

Kinematika Emisi Foton


Di dalam suatu peluruhan gamma, nukleus yang awalnya dalam keadaan tereksitasi akan
membuat transisi ke keadaan energi yang lebih rendah dan dalam prosesnya memancarkan
foton, yang dinamakan sinar 𝛾. Ditemukan bahwa sinar 𝛾 muncul dengan energi-energi
diskret, yang menunjukkan bahwa nukleus-nukleus memiliki tingkat-tingkat energi diskret.
Energi foton sinar 𝛾 diberikan oleh persamaan berikut:
h𝜈 = Eu - Ei
Jauh berbeda dengan foton-foton yang teremisi dalam transisi-transisi atom, dimana
energinya berorde hanya beberapa eV, energi-energi sinar 𝛾 berada dalam rentang
puluhan keV hingga MeV. Lantaran foton-foton sinar 𝛾 tidak membawa muatan atau
massa, nomor atom dan muatan nukleus tidak mengalami perubahan dalam peluruhan
gamma. Kebanyakan nukleus tereksitasi yang mengalami peluruhan gamma memiliki
waktu paruh kecil berorde s yang tidak dapat diukur, lebih singkat daripada waktu
paruh keadaan elektronik tereksitasi. Namun keadaan tereksitasi ini dinamakan isomer
dan keadaan tereksitasi dikenai sebagai keadaan isomerik.
Pancaran energi foton – rasiasi gamma – adalah suatu hal yang khas dalam nuklir dari
beberapa tingkatan keadaan untuk keadaan dasar suatu konfigurasi. Perubahan keadaan ini
dengan nuklir yang sama untuk proses peluruhan beta dan peluruhan alfa. Ini hanya
menggambarkan suatu nukelon dalam nukleus dengan massa yang rendah dari keadaan nilai
dasar ke keadaan paling dasar.

Klasifikasi Peluruhan Gamma

Radiasi elektromagnetik dihasilkan oleh muatan titik yang bergerak. Pada


kenyataannya inti atom merupakan distribusi muatan yang lebih luas. Aliran arus listrik
dibangkitkan oleh gerakan spin dan orbit nukleon-nukleon. Medan listrik dan medan magnet
yang dihasilkan dalam transisi keadaan inti adalah sangat kompleks.
Dalam perhitungan klasik, distribusi arus-muatan aktual dikembangkan dalam
momentum multipol. Untuk distribuasi muatan statis ei ditempatkan pada (xi, yi, zi). Momen
multipol memiliki dimensionalitas dengan L menyatakan orde momen. Sebagai contoj jika L
= 0, maka merupakan muatan total. Jika L = 1, maka merupakan komponen momen dipol
listrik sistem. Jika zarah-zarah membawa momen magnetik sebagaimana muatan, maka kita
dapat mengembangkan distribusi magnetisasi dalam momen multipol magnet.

Pada saat muatan-muatan berosilasi, masing-masing momen multipol memancarkan


pola medan listrik dan medan magnet yang khas (kecuali untuk momen dengan L = 0).
Medan-medan yang dipancarkan dapat dikelompokkan, pertama, berdasarkan orde momen
yang memancarkan; kedua berdasarkan efek dari operasi paritas. Radiasi dipol listrik
memancarkan medan listrik yang mengubah tanda dalam operasi paritas, sedangkan radiasi
dipol magnet yang dihasilkan oleh sebuah loop arus yang berosilasi, tidak mengubah tanda.

Meskipun dalam persoalan radiasi klasik, sifat paritas tidak begitu penting, namun pada
peluruhan gamma yang terjadi di antara keadaan-keadaan inti, paritas memegang peranan
yang sangat penting. Dari hasil eksperimen telah ditemukan bahwa dalam peluruhan
elektromagnetik, kaidah ini dipatuhi dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi.

Dalam perhitungan mekanika kuantum masing-masing momen multipol dengan orde Lr,
menghasilkan radiasi yang membawa momentum sudut dengan besar Lr / ħ, sehingga
kekekalan momentum sudut mensyaratkan :

Perubahan paritas pr secara langsung terkait dengan Lr


Pada tabel 10.1 berikut disajikan klasifikasi radiasi gamma sebagai berikut :
Tabel 10.1 Klasifikasi Radiasi Gamma
Nama Singkatan Lr r
Dipol listrik E1 1 -1
Dipol magnet M1 1 +1
Kuadrupol listrik E2 2 +1
Kuadrupol magnet M2 2 -1
Oktupol listrik E3 3 -1

Meskipun klasifikasi ini tampaknya rumit, namun demikian dapat dilakukan


penyederhanaan berdasarkan kenyataan bahwa dalam praktiknya, biasanya tetapan peluruhan
gamma terdiri dari dua radiasi multipol. Himpunan dari suku-suku tertentu tereliminasi oleh
kaidah seleksi (10.25), (10.26), dan (10.27). Selanjutnya pada tabel 10.2 berikut disajikan
penerapan kaidah seleksi dengan contoh-contoh peluruhan gamma.
Tabel 10.2 Contoh-Contoh Peleruhan Gamma
Keadaan awal  Keadaan akhir Mode peluruhan yang dominan
2+ 0+ E2 
1+ 0+ M1 
½- ½+ E1 
2+ 2+ M1
9/2+ ½- M4
0+ 0+ Tidak terjadi peluruhan gamma

Keterangan :  (momentum sudut dan paritas total masing-masing keadaan),  (hanya


mungkin dengan mode peluruhan ini).

Konversi Internal
Sebagai alternatif lain dari peluruhan gamma, dalam beberapa kasus inti tereksitasi
dapat kembali ke keadaan dasar dengan memberikan energi eksitasinya ke salah satu elektron
orbital di sekelilingnya. Proses ini dikenal sebagaikonversi internal, yakni sejenis efek
fotolistrik di mana sebuah foton nuklir diserap oleh elektron atomik. Konversi
internal merupakan transfer langsung energi eksitasi ke sebuah elektron. Elektron yang
terpancar memiliki energi kinetik sama dengan energi eksitasi nuklir yang hilang dikurangi
energi ikat elektron dalam atom.
Konversi internal adalah suatu proses elektromagnetik yang bersaing dengan emisi
gamma. Dalam hal ini medan-medan multipol elekrtomagnetik dari inti tidak menghasilkan
emisi foton, sebagai gantinya, medan-medan itu berinteraksi dengan elektron-elektron atomik
dan menyebabkan salah satu elektron dari atom. Tidak seperti pada peluruhan beta, elektron
tersebut tidak diciptakan dalam proses peluruhan, tetapi merupakan elektron yang
sebelumnya ada dalam orbit atom. Karena alasan itu laju peluruhan konversi internal dapat
diubah sedikit dengan mengubah lingkungan kimia dari atom tersebut sehingga berpengaruh
sedikit terhadap orbit atom. Konversi internal bukan merupakan proses dua langkah, di mana
foton mula-mula dipancarkan oleh inti dan kemudian menumbuk elektron orbit dengan
proses yang mirip dengan efek fotolistrik. Proses semacam itu memiliki kebolehjadian sangat
kecil.
Energi transisi dalam konversi internal muncul sebagai tenaga kinetik Ke elektron yang
dipancarkan dikurangi dengan energi ikat atom Eb yang harus diberikan untuk melepaskan
elektron dari kulit atom. Dengan Ei dan Ef secara berurutan menyatakan energi keadaan inti
awal dan akhir.
Seperti pada pembahasan energi ikat inti, maka kita ambil EB sebgai bilangan bulat
positif. Namun demikian energi keadaan terikat adalah negatif, dan kita menganggap bahwa
energi ikat sebagai energi yang harus kita berikan kepada atom untuk berpindah dari keadaan
itu ke energi nol. Karena energi ikat elektron bervariasi dengan orbit atom, untuk suatu ΔE
pada transisi tertentu akan menimbulkan konversi internal elektron-elektron yang terpancar
dari atom dengan energi yang berbeda-beda. Oleh karena itu spektrum elektron yang teramati
dari suatu sumber dengan emisi gamma tunggal terdiri dari sejumlah komponen-komponen
individual, tetapi komponen-komponen itu merupakan komponen yang terdiskrit dan sama
sekali tidak kontinu seperti elektron-elektron yang dipancarkan dalam peluruhan beta.
Sebagian besar sumber radioaktif akan memancarkan elektron-elektron peluruhan beta
maupun konversi internal, dan relatif lebih mudah untuk mengambil puncak-puncak konversi
internal diskrit yang menumpang pada spektrum beta kontinu, seperti disajikan pada gambar
10.2.

Persamaan (10.36) menjelaskan bahwa proses konversi internal memilki energi


ambang sama dengan energi ikat elektron dalam suatu kulit tertentu, sehingga elektron-
eletron konversi diberi label menurut kulit elektronik tempatelektron berasal, K, L, M, dan
sebagainya. Selanjutnya jika kita melakukan pengamatan dengan ketelitian yang sangat tinggi
maka kita dapat melihat substruktur yang bersesuaian dengan elektron-elektron individual
dalam kulit itu. Sebagai contoh kulit L (dengan bilangan kuantum utama n = 2) memiliki
orbit-orbit atomik 2s1/2, 2p3/2, dan 2p5/2 ; elektron-elektron yang berasal dari kulit-kulit ini
secara berturut-turut disebut elekron konversi LI, LII, LIII.
Segera setelah terjadi proses konversi internal, atom ditinggalkan dengan sebuah
lubang (hole) dalam salah satu kulit elektroniknya. Lubang ini selanjutnya diisi dengan cepat
oleh elektron-elektron dari kulit-kulit yang lebih luar, sehingga dapat diamati emisi sinar-x
karakteristik yang menyertai elektron-elektron konversi. Dengan dasar inilah, jika kita
mengamati emisi sinar gamma dari sumber radioaktif, maka biasnya juga diperoleh sinar-x
didekat ujung spektrum yang berenergi rendah.
Sebagai contoh tentang perhitunggan energi-energi elektron, kita analisis peluruhan
beta dari nuklida induk menjadi nuklida anak yang diikuti dengan pemancaran sinar gamma
tunggal dengan energi 279,190 keV. Untuk menghitung energi elektron konversi diperlukan
data tentang energi ikat elektron dalam atom Tl, karena dari atom itu emisi elektron terjadi.

Skema Peluruhan Gamma

Peluruhan gamma biasanya menyertai peluruhan alfa dan beta. Pada gambar 10.3
berikut ini disajikan skema peluruhan gamma yang menyertai peluruhan beta pada
sampel 27Mg.

Gambar. Pemancaran Beta dan Gamma Berturutan