Anda di halaman 1dari 12

POLITEKNIK KARYA HUSADA

Tugas : Pancasila ( Pertemuan ke-2 )


Tanggal : 11 Oktober 2019
Prodi : DIII Keperawatan ( Kelas Khusus )

Disusun Oleh Kelompok II


 Viatika Linda Anggraini ( 144012485 )
 Mellania Tri Gustami ( 144012477 )
 Nuniafiana ( 144012479 )
 Hestiawati ( 144012467 )
 Hestiyani ( 144012468 )

SOAL....!!
1. Anda dipersilakan untuk menelusuri proses terjadinya peristiwa G30S PKI tersebut
agar mengetahui dimana letak penyimpangan peristiwa tersebut dengan nilai-nilai
Pancasila. Anda dipersilakan untuk mendiskusikan peristiwa G30S PKI tersebut
dalam kelompok dan melaporkannya secara tertulis.
2. Anda dipersilakan untuk mendeskripsikan dan mengkritisi faktor penyebab
rendahnya pemahaman dan pengamalan tentang nilai-nilai Pancasila dalam
masyarakat Indonesia. Kemudian, mendiskusikannya dengan teman sekelompok
dan melaporkannya secara tertulis.

Jawaban :
1. Sejarah Peristiwa G30SPKI

G30S merupakan gerakan yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden


Sukarno dan mengubah Indonesia menjadi negara komunis. Gerakan ini dipimpin oleh DN
Aidit yang saat itu merupakan ketua dari Partai Komunis Indonesia (PKI).Pada 1 Oktober
1965 dini hari, Letkol Untung yang merupakan anggota Cakrabirawa (pasukan pengawal
Istana) memimpin pasukan yang dianggap loyal pada PKI.Gerakan ini mengincar perwira
tinggi TNI AD Indonesia. Tiga dari enam orang yang menjadi target langsung dibunuh di
kediamannya. Sedangkan lainnya diculik dan dibawa menuju Lubang Buaya.
Jenazah ketujuh perwira TNI AD itu ditemukan selang beberapa hari kemudian.Sebelum
terjadi gerakan 30 september itu, sudah beredar isu dengan adanya Dewan Jenderal yang
menyatakan bahwa beberapa petinggi Angkatan Darat ingin mengkudeta kekuasaan
Presiden Sukarno. Menanggapi isu yang berdar, Presiden Sukarno disebut-sebut
memerintahkan pasukan pengawal istara untuk menangkap petinggi Angkatan Darat untuk
di adili. Namun sayangnya, sebelum operasi penangkapan tersebut terjadi sudah ada
oknum-oknum yang lebih dahulu membunuh mereka di lubang buaya.Isu dokumen Gilchris,
yang diambil dari nama dubes Inggris yaitu Andres Gilchrist sudah beredar hampir
bersamaan dengan isu Dewan Jenderal. Beberapa pihak menyatakan bahwa dokumen ini
sudah di palsukan oleh intelejen Ceko, di bawah pengawasan dari Jenderal Agayant dari
KGB Rusia.Dokumen ini menyatakan bahwa perwira-perwira Angkatan Darat telah dibeli
oleh pihak Barat. Selain itu Amerika Serika juga dituduh sudah memprovokasi militer
Indonesia karena memberika daftar nama-nama anggota PKI untuk di bunuh. Dinas
intelejen Amerika Serikat mendapatkan data-data campur tangan PKI pada peristiwa 30
September dari berbagai sumber, salah satunya dari buku yang ditulis John Hughes, yang
berjudul Indonesian Upheaval.Sampai saat ini belum ada bukti yang kuat tentang peran aktif
Soeharno dalam aksi penculikan para perwira-periwa tinggi Angkatan Darat. Satu-satunya
bukti bahwa sudah ada kolaborasi ketika pertemuan Soeharto, yang saat ini menjabat
sebagai Panglima Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat (Pangkostrad) dengan
Kolonel Abdul Latief di Rumah Sakit Angkatan Darat.Beredar isu bahwa sebenarnya
Soeharto sudah mengetahui tentang gerakan yang akan di lakukan pada dini hari 30
September, namun beliau mendiamkannya untuk meraih keuntungan tersendiri. Terbukti
setelah peristiwa 30 September tersebut, jurnal internasional mengungkap keterlibatan
Soeharto dan CIA, beberapa jurna di antaranya adalah Cornell Paper, karya Benedict
R.O’G. Anderson and Ruth T. McVey (Cornell University), Ralph McGehee (The Indonesian
Massacres and the CIA), Government Printing Office of the US (Department of State, INR/IL
Historical Files, Indonesia, 1963-1965. Secret; Priority; Roger Channel; Special Handling),
John Roosa (Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup
d’État in Indonesia), Prof. Dr. W.F. Wertheim (Serpihan Sejarah Thn 1965 yang Terlupakan).

 Pejabat Tinggi yang Menjadi Korban

Keenam perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang menjadi korban dalam peristiwa ini
adalah:
- Letnan Jendral Anumerta Ahmad Yani
- Mayor Jendral Raden Soeprapto
- Mayor Jendral Mas Tirtodarmo Haryono
- Mayor Jendral Siswondo Parman
- Brigadir Jendral Donald Isaac Panjaitan
- Brigadir Jendral Sutoyo Siswodiharjo
Sementara itu, Panglima TNI AH Nasution yang menjadi target utama berhasil
meloloskan diri. Tapi, putrinya Ade Irma Nasution tewas tertembak dan ajudannya, Lettu
Pierre Andreas Tendean diculik dan ditembak di Lubang Buaya.
Keenam jenderal di atas beserta Lettu Pierre Tendean kemudian ditetapkan sebagai
Pahlawan Revolusi. Sejak berlakunya UU Nomor 20 tahun 2009, gelar ini juga diakui
sebagai Pahlawan Nasional.
Selain itu, beberapa orang lainnya juga menjadi korban pembunuhan di Jakarta dan
Yogyakarta. Mereka adalah:
- Brigadir Polisi Ketua Karel Satsuit Tubun
- Kolonel Katamso Darmokusumo
- Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto

 Pasca Kejadian

Setelah peristiwa G30S/PKI rakyat menuntut Presiden Sukarno untuk membubarkan PKI.
Sukarno kemudian memerintahkan Mayor Jenderal Soeharto untuk membersihkan semua
unsur pemerintahan dari pengaruh PKI.
Soeharto bergerak dengan cepat. PKI dinyatakan sebagai penggerak kudeta dan para
tokohnya diburu dan ditangkap, termasuk DN Aidit yang sempat kabur ke Jawa Tengah tapi
kemudian berhasil ditangkap.Anggota organisasi yang dianggap simpatisan atau terkait
dengan PKI juga ditangkap. Organisasi-organisasi tersebut antara lain Lekra, CGMI,
Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia, Gerakan Wanita Indonesia dan lain-lain.
Berbagai kelompok masyarakat juga menghancurkan markas PKI yang ada di berbagai
daerah. Mereka juga menyerang lembaga, toko, kantor dan universitas yang dituding terkait
PKI.Pada akhir 1965, diperkirakan sekitar 500.000 hingga satu juta anggota dan pendukung
PKI diduga menjadi korban pembunuhan. Sedangkan ratusan ribu lainnya diasingkan di
kamp konsentrasi.

 Diperingati Pada Zaman Orba

Pada era pemerintahan Presiden Soeharto, G30S/PKI selalu diperingati setiap tanggal 30
September. Selain itu, pada tanggal 1 Oktober juga diperingati sebagai Hari Kesaktian
Pancasila.Untuk mengenang jasa ketujuh Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa
ini, Soeharto juga menggagas dibangunnya Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya,
Jakarta Timur.

 Diabadikan dalam Film Propaganda

Pada tahun 1984, film dokudrama propaganda tentang peristiwa ini yang berjudul
Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI dirilis. Film ini diproduksi oleh Pusat Produksi Film
Negara yang saat itu dimpimpin Brigjen G. Dwipayana yang juga staf kepresidenan
Soeharto dan menelan biaya Rp 800 juta.
Mengingat latar belakang produksinya, banyak yang menduga bahwa film tersebut ditujukan
sebagai propaganda politik. Apalagi di era Presiden Soeharto, film tersebut menjadi
tontonan wajib anak sekolah yang selalu ditayangkan di TVRI tiap tanggal 30 September
malam.Sejak Presiden Soeharto lengser pada tahun 1998, film garapan Arifin C. Noer
tersebut berhenti ditayangkan oleh TVRI. Hal ini terjadi setelah desakan masyarakat yang
menganggap film tersebut tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.

 Setelah Kejadian 30 September

PKI mampu menguasai dua sarana komunikasi vital, yaitu studio RRI dan Kantor
telekomunikasi setelah tragedi pembunuhan beberapa perwira Angkatan Darat. PKI
menyiarkan pengumuman melalui RRI, bahwa Gerakan 30 September yang ditunjukan
kepada para perwira tinggi anggota “Dewan Jenderal” sudah merencanakan pengkudetaan
terhadap pemerintah. PKI juga mengumumkan bahwa sudah terbentuk “Dewan Revolusi”
yang diketuain oleh Letkol Untung Sutopo.

Selain itu pada sore hari tanggal 1 oktober 1965, PKI membunuh Kolonel Katamso
(Komandan Korem 072/Yogyakarta) dan Letnan Kolonel Sugiyono (Kepala Staf Korem
072/Yogyakarta) karena sudah menolak berhubungan dengan Dewan Revolusi. Presiden
Sukarno dan Sekjen PKI Aidit menanggapi pembentukan para Dewan Revolusioner sebagai
pembenrontakan. Dan memutuskan berpindah ke Pangkalan Angkatan Udara Halim untuk
mencari perlindungan.

Pada tanggal 6 Oktober, Presiden Sukarno menghimbau rakyat untuk menciptakan adanya
“persatuan nasional”, yaitu persatuan antara angkatan bersenjata dan para korbannya, dan
penghentian kekerasan. Selain itu Biro Politik dari Komite Sentral PKI meminta semua
anggota dan organisasi-organisasi massa untuk mendukung “pemimpin revolusi Indonesia”
dan tidak melawan angkatan bersenjata.

Pada tanggal 12 Oktober 1965, pemimpin-pemimpin Uni-Soviet Brezhnev, Mikoyan dan


Kosygin mengirim pesan khusus kepada Presiden Sukarno: “Kita dan rekan-rekan kita
bergembira untuk mendengar bahwa kesehatan anda telah membaik. Kita mendengar
dengan penuh minat tentang pidato anda di radio kepada seluruh rakyat Indonesia untuk
tetap tenang dan menghindari kekacauan. Himbauan ini akan dimengerti secara
mendalam.”Atas saran dari rekan-rekannya, pada tanggal 16 Oktober 1965, Presiden
Sukarno melantik Mayjen Suharto menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat di Istana
Negara. Berikut kutipan amanat presiden Sukarno kepada Suharto pada saat Suharto
disumpah :

‘’Saya perintahkan kepada Jenderal Mayor Soeharto, sekarang Angkatan Darat


pimpinannya saya berikan kepadamu, buatlah Angkatan Darat ini satu Angkatan daripada
Republik Indonesia, Angkatan Bersenjata daripada Republik Indonesia yang sama sekali
menjalankan Panca Azimat Revolusi, yang sama sekali berdiri di atas Trisakti, yang sama
sekali berdiri di atas Nasakom, yang sama sekali berdiri di atas prinsip Berdikari, yang sama
sekali berdiri atas prinsip Manipol-USDEK. Manipol-USDEK telah ditentukan oleh lembaga
kita yang tertinggi sebagai haluan negara Republik Indonesia. Dan oleh karena Manipol-
USDEK ini adalah haluan daripada negara Republik Indonesia, maka dia harus dijunjung
tinggi, dijalankan, dipupuk oleh semua kita. Oleh Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan
Udara, Angkatan Kepolisian Negara. Hanya jikalau kita berdiri benar-benar di atas Panca
Azimat ini, kita semuanya, maka barulah revousi kita bisa jaya.
Soeharto, sebagai panglima Angkatan Darat, dan sebagai Menteri dalam kabinetku, saya
perintahkan engkau, kerjakan apa yang kuperintahkan kepadamu dengan sebaik-baiknya.
Saya doakan Tuhan selalu beserta kita dan beserta engkau!

B.Letak penyimpangan peristiwa tersebut dengan nilai-nilai Pancasila.

G 30 S PKI menculik, menyiksa dan membunuh 10 orang prajurit ABRI Pancasialis.


Perbuatan mereka yang sewenang wenang itu bertentangan deengan Pancasila, terutama
sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

- Mayor Jendral Soeharto dengan tegas menggermpur dan menghancurkan G 30 S


PKI dan kemudian membubarkan PKI yang benar benar berkhianat. Tindakan Mayor
Jendral Soeharto yang menghancurkan G 30 S PKI sesuai dengan pengalaman pacasila,
terutama sila Kemanusiaan yang adil dan beradab.

- Ideologi komunisme tidak bisa dijadikan ideologi Bangsa Indonesia, harna


bertentanggan dengan jiwa dan semangat bangsa yang menjunjung tinggi asas Ketuhanan
Yang Maha Esa.

- Salah satu penipuan yang dilakukan oleh para pengikut komunis atau PKI supaya
bisa diterima oleh Rakyat Indonesia sejak pertama kali di Indonesia Merdeka adalah bahwa
komunisme sesuai dengan jiwa Pancasila, khususnya sila ke lima mengenai Keadilan
Sosial.

- Rakyat dipandang sebagai alat ntuk mencapai kemakmuran kliping yang sangat halal
untuk dibunuh bila di perlukan. Jadi sesungguhnya komunisme bertentangan dengan sila ke
lima dari Pancasila.

- Cara cara komunis yang memecah belah rakyat non-komunis serta pasti melakukan
pemberontakan untuk merebut kekuasaan serta menolak bermusyawarah jelas
bertentangan dengan sila ke tiga dan ke empat pancasila.
2. Faktor penyebab rendahnya pemahaman dan pengamalan tentang nilai-nilai
Pancasila dalam masyarakat Indonesia.

Di era globalisasi ini banyak nilai-nilai Pancasila yang begitu penting telah tergeser oleh
nilai-nilai dan pola pikir kebaratan yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia yang
ketimuran. Hal berakibat adanya krisis moral yang terjadi pada bangsa Indonesia di
berbagai lapisan masyarakat, mulai dari para elite-elite politik hingga individu-individu.
Selain itu hal ini merupakan ancaman bagi bangsa Indonesia untuk menjaga nilai-nilai
Pancasila agar tidak tenggelam dengan selalu mengimplementasikan Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari.

Tindakan kriminal seperti pengeboman, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, korupsi,


kolusi, dan nepotisme sudah menjadi masalah yang sering terjadi. Hal ini terjadi karena
manusia telah melupakan hakekatnya sebagai makhluk yang berTuhan, makhluk sosial, dan
makhluk pribadi sehingga tidak lagi menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi. Sifat dasar
manusia yang serakah dan selalu ingin mendapatkan lebih adalah salah satu hal
penyebabnya.

Selain itu manusia tidak bisa mengendalikan sifat dasarnya yaitu menghalalkan segala cara
hingga mengesampingkan bahkan menghilangkan etika dan moral kehidupan serta
menyimpang dari norma Pancasila. Dari situlah awal mula masalah tersebut muncul. Kami
meyakini bahwa selain faktor-faktor yang bersifat internal seperti yang diatas, ada peran dari
faktor-faktor eksternal yang ikut menggeser dan ‘ melunturkan ‘ nilai-nilai Pancasila,
sebagai contoh adalah kehadiran internet.

Di dalam internet terdapat berbagai macam informasi yang kita butuhkan apabila kita adalah
seorang akademisi, akan tetapi di dalam internet pula banyak hal-hal negatif yang apabila
kita tidak menjaga diri kita dari pengaruh buruk internet, maka akan terjadi suatu degradasi
sosial dan degradasi moral karena kita tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana
yang salah. Sehingga pada akhirnya masyarakat luas akan semakin melupakan jati dirinya
sebagai warga Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan bukan tidak mungkin apabila kita
tidak menjaga diri kita dari ancaman lunturnya nilai-nilai Pancasila di masyarakat, kita akan
menjadi negara tanpa ciri-ciri khusus yang menunjukkan kita sebagai seorang warga negara
Indonesia.

Usaha menyejahterakan dan mencerdaskan bangsa haruslah dilandasi lima faktor yakni :
(1) Bebasnya bangsa Indonesia dari segala bentuk penjajahan, termasuk penjajahan
ekonomi. (2) Secara politik dan keamanan nasional, bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia harus dilindungi dari segala bentuk gangguan dan ancaman. (3) Kecerdasan
kehidupan bangsa, baik individu maupun masyarakat harus terwujud. (4) Aktivitas bangsa
untuk ikut serta menciptakan perdamaian dan ketertiban dunia. (5) Mengimplementasikan
konsep, prinsip dan nilai Pancasila, sehingga keadilan sosial dapat terwujud.

1. Hilangnya manusia yang ber-“ Ketuhanan Yang Maha Esa “

Dalam pemberitaan di berbagai media akhir-akhir ini kita sering dilihatkan dan dihadapkan
kepada fakta bahwa banyak terjadi aksi-aksi anarkis yang ditujukan kepada suatu kelompok
agama tertentu yang diduga dilakukan oleh suatu Ormas Keagamaan tertentu. Ini adalah
adalah satu contoh dan bukti dari belum diimplementasikannya nilai-nilai sila pertama yang
menjunjung kebebasan beragama bagi setiap warga Indonesia. Tindakan anarkis yang
mengatasnamakan suatu agama tertentu dijadikan tameng untuk melawan aparat hukum
dan mengahakimi suatu agama tertentu. Masyarakat Indonesia saat ini yang sudah berlabel
modern sepertinya tidak lagi memakai cara pandang dari sisi keagamaan dengan benar.
Masyarakat Indonesia saat ini yang sudah dikenal pintar sepertinya sudah tidak lagi
memandang sila pertama yaitu “ Ketuhanan Yang Maha Esa “ sebagai salah satu acuan
dalam menjalani kehidupan beragama di Indonesia melainkan hanya sebuah hafalan saat di
SD.

Nilai-nilai kegamaan yang bersumber langsung dari Tuhan sejatinya adalah suatu
kebenaran yang harus ditaati oleh setiap orang yang beragama dan dijadikan suatu ‘ batas ‘
dan ‘ pengingat ‘ saat melakukan suatu tindakan agar tidak melenceng dari norma dan nilai
kebenaran.Namun fakta yang sering dihadapkan kepada kita banyak yang memperlihatkan
betapa rusaknya moral masyarakat Indonesia saat ini. Bahkan lunturnya nilai-nilai dari sila
pertama ini sudah sampai kepada urusan pemerintahan dan ketatanegaraan. Aksi-aksi KKN
( Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme ) sepertinya sudah mendarah daging dan menjadi hal yang
lumrah bagi para elite-elite politik, baik ditingkat terendah seperti desa hingga ke tingkat
yang paling tinggi seperti jajaran wakil rakyat ( DPR ) dan pejabat-pejabat negeri.

2. Langkanya “ Kemanusiaan yang adil dan beradab “

Nilai-nilai yang terkandung dalam sila kedua ini kami jabarkan sebagai berikut :
a. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antara
sesama manusia.Saling mencintai sesama manusia.
b. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
c. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
d. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia.
e. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
f. Menjaga sifat dan sikap Gotong Royong.
Nilai-nilai diatas apabila bisa dijalankan dan diimplementasikan sepenuhnya didalam
kehidupan bermasyarakat kami yakin Indonesia akan menjadi sebuah bangsa yang memiliki
tingkat kemiskinan rendah, sifat keramah-tamahan yang mendunia, sekaligus menjadi
sebuah bangsa yang unik dimata dunia karena keadilan dan keberadabannya dalam
kehidupan masyarakatnya tetap terjaga. Namun masih ingatkah pembaca dengan kejadian
seorang nenek tua yang karena tekanan ekonomi yang dialaminya terpaksa memungut dua
buah kakao yang ditemukannya di jalan lantas nenek tersebut dituntut dijatuhi hukuman di
persidangan ? Atau ingatkah pembaca tentang kejadian memalukan yang diperlihatkan oleh
para elite politik yang menamai dirinya sebagai “ Dewan Perwakilan Rakyat “ saat
berlangsungnya Sidang Paripurna terlibat aksi baku-hantam antar sesama anggota dewan
lainnya? Dan ingatkah pembaca dengan tingkah salah satu anggota dewan saat acara
Rapat Paripurna justru membuka situs porno? Semua contoh ini adalah bukti dari
bergesernya nilai-nilai dari sila kedua.
Kemanusiaan yang adil dan beradab semakin jauh dari kata terwujud apabila kita melihat
fakta-fakta yang terjadi di masyarakat. Dari sisi hukum kita dihadapkan kepada ketidak
adilan hukum yang berlaku di Indonesia yang seperti ‘ Pisau ‘ tajam kebawah, akan tetapi
tumpul keatas. Hal ini terbukti dengan banyaknya para pelaku korupsi yang merampok
milyaran bahkan trilyunan uang rakyat yang hanya dihukum kurang dari lima tahun penjara.
Sebagai contoh adalah Anggodo Widjojo yang terbukti merekayasa kriminaslisasi dua
anggota KPK masih bisa bebas seakan tidak terjerat oleh hukum. Tentu saja ini sangat
berlawanan dengan kisah seorang nenek yang bernama Minah yang secara terpaksa
memungut dua buah kakao seharga Rp. 2100 yang ditemukannya dijalan untuk dimakan
oleh dirinya yang saat itu kelaparan, akan tetapi ia harus menjalani hukuman penjara
selama 1.5 tahun dengan masa percobaan selama 3 bulan. Selain itu masih ingatkah
pembaca dengan kejadian memalukan yang terjadi saat sidang Paripurna terkait masalah
Bank Century beberapa anggota dewan yang terhormat terlibat aksi baku hantam? Hal ini
salah satu bukti bahwa keberadaban yang terdapat di sila kedua belum sepenuhnya
terlaksana.

3. Retaknya “ Persatuan Indonesia “

Indonesia adalah negara kepulauan dengan jajaran pulau-pulaunya yang berjumlah lebih
dari 17.560 pulau. Para Founding Father kita dengan susah payah berusaha untuk
mempersatukan seluruh kepulauan bekas jajahan untuk bersatu menjadi suatu negara yang
disebut Indonesia. Kita sebagai generasi penerus haruslah bisa menjaga harta warisan dari
generasi sebelumnya dengan sebaik mungkin. Selain itu, hal ini sudah tentu menjadi tugas
wajib pemerintah untuk memerhatikan kesejahterahan rakyatnya dimanapun mereka tinggal.
Namun, sudahkah hal ini dilakukan oleh pemerintah? Kita bisa melihat bahwa di Pulau Jawa
kemajuan teknologi, transportasi, telekomunikasi, akses pendidikan dan kesehatan sudah
sangat maju dan mudah didapatkan, hal ini sangat kontradiksi dengan keadaan yang terjadi
di pulau-pulau yang jauh dari Ibukota Jakarta, misalnya saja pulau Papua. Papua adalah
pulau yang memiliki berbagai kekayaan alam yang melimpah, akan tetapi pemerintah
seakan menutup mata terhadap kondisi yang dihadapi oleh masyarakat lokal Papua.
Pemerintah justru cenderung memanfaatkan situasi sulit yang dihadapi oleh masyarakat
Papua untuk menjual berbagai macam aset milik masyarakat Papua seperti tambang emas
kepada PT. Freeport. Hal ini bisa saja menjadi salah satu alasan dari retaknya “ Persatuan
Indonesia “ karena masyarakat lokal merasa di “ anak tirikan “ oleh pemerintah. Sebagai
contoh, di Papua terdapat organisasi separatisme bernama OPM ( Organisasi Papua
Merdeka ), di Maluku terdapat organisasi separatisme bernama RMS ( Republik Maluku
Serikat ), dan sebagai pengingat di Aceh ada GAM ( Gerakan Aceh Merdeka ), akan tetapi
antara pihak GAM dan pemerintah sudah setuju untuk berdamai berdasarkan hasil
konferensi di Den Haag Belanda. Dengan adanya gerakan separatisme dari beberbagai
daerah seperti contoh diatas, hal ini menandakan bahwa adanya rasa kekecewaan dari
masyarakat yang merasa “ dilupakan “ oleh pemerintah dalam segi kehidupan seperti
ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan berbagai macam sarana penunjang kemajuan
daerahnya. Kekecewaan masyarakat ini ditunjukkan dengan aksi-aksi pengibaran bendera
dari organisasi separatisme mereka sebagai penanda bahwa mereka ingin melepaskan diri
dari Republik Indonesia, inilah salah satu bukti dari Retaknya “ Persatuan Indonesia “
Selain itu, kami memberikan contoh dari sisi yang berbeda atas lunturnya nilai-nilai sila
ketiga. Misalnya saja dari sisi sesama individu dalam hal olahraga, kita sering mendengar
terjadinya kerusuhan antar suporter yang terjadi seusai tim kesayangannya berlaga, hal ini
menandakan bahwa mereka tidak memilik rasa persatuan sebagai sesama warga negara
Indonesia dan tidak memiliki semangat untuk memajukan persepakbolaan di Indonesia.
Dalam hal ini kami mempercayai bahwa ada pengaruh negastif yang secara tidak langsung
diberikan dari para politic figure yang mengurusi PSSI. Para pecinta sepak bola tanah air
baik secara langsung atau tidak langsung terpengaruh dari situasi politik yang memanas
didalam tubuh PSSI, dan hal ini berujung dengan dibuatnya dua laga kompetisi yang
berbeda dibawah PSSI yaitu , ISL ( Indonesia Super League ) dengan IPL ( Indonesia
Premier League ).
Pada dasarnya perbedaan makna dari persatuan dan kesatuan adalah, persatuan adalah
konsep awal yang dibuat oleh para Founding Father sebelum Indonesia merdeka, dengan
asumsi bahwa semua ras, agama, etnis, suku bangsa, dan bahasa yang terdapat di
Indonesia harus bisa bersatu dahulu sebelum menjadi sebuah kesatuan. Sedangkan makna
dari kesatuan adalah, seluruh perbedaan primordial yang ada di Indonesia sudah bersatu
dan melebur menjadi satu jati diri dan menjadi satu bangsa dan negara yaitu Indonesia
tanpa harus menghilangkan ciri khas dari masing-masing kriteria primordial
tersebut.Pemerintah tidak bisa menutup mata lagi terhadap kondisi rakyatnya yang berada
di pulau-pulau terluar dari batas wilayah Indonesia dan daerah-daerah perbatasan, karena
mereka pada dasarnya mengakui bahwa mereka adalah warga negara Indonesia yang rela
berkorban hidup dalam segala keterbatasan yang ada, dan selalu setia untuk mengibarkan
bendera merah putih di daerahnya. Apakah pemerintah masih bisa untuk mengutamakan
pembangunan di daerah perkotaan? Apakah pemerintah masih bisa untuk mengutamakan
jaminan kesehatan, pendidikan, transportasi hanya untuk daerah perkotaan? Sedangkan di
satu sisi, banyak warga negaranya yang dengan setia, rela berkorban, dan tanpa pamrih
bersedia untuk hidup dibawah garis kemiskinan sekaligus mengakui bahwa mereka adalah
warga negara Indonesia. Apabila pemerintah masih bersikap acuh tak acuh, maka bukan
tidak mungkin dalam 30-40 tahun kemudian akan banyak organisasi-organisasi separatisme
akan bermunculan di berbagai daerah dengan tujuan yang sama yaitu untuk melepaskan diri
dari Republik Indonesia.

4. Tidak adanya “ Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan dan perwakilan “

Pemimpin yang amanah, adil, bertanggung jawab, dan bijaksana adalah sosok ideal dari
seorang pemimpin suatu bangsa. Pemimpin dengan kriteria semacam ini peluang
keberhasilannya dalam memimpin suatu organisasi atau negara akan lebih besar, terlebih
apabila pemimpin semacam ini mengedepankan kepentingan bersama daripada
kepentingan pribadi. Indonesia yang sejak merdeka pada tahun 1945 sudah mengalami
pergantian presiden sebanyak enam kali dimana presiden terakhir adalah Susilo Bambang
Yudhoyono sudah menjadi presiden dalam dua periode kepresidenan. Namun sudahkah
rakyat Indonesia saat ini benar-benar dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam
permusyawaratan dan perwakilan ? .
Apabila kita melihat dari fakta dan kenyataan yang ada di masyarakat, mungkin Indonesia
bisa dikatakan masih belum sepenuhnya menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam sila
keempat. Hal ini bisa dilihat dari hasil-hasil sidang, rapat, atau berbagai pertemuan para elite
politik dimana kebanyakan tidak menghasilkan sesuatu hal yang secara konkrit memihak
rakyat. Sebagai contoh, masih ingatkah pembaca dengan kelakuan para petinggi elite politik
saat isu kenaikan harga bahan bakar di awal bulan April kemarin ? Dalam sidang tersebut
terlihat jelas bahwa para elite politik tidak sepenuhnya memihak kepada rakyat dan terkesan
ragu-ragu dalam mengambil keputusan yang berani dan memihak kepada rakyat. Perlu kami
tambahkan bahwa para wakil rakyat sekarang cenderung lebih mengutamakan kepentingan
pribadinya dibandingkan dengan kepentingan rakyat, dengan asumsi bahwa kesempatan
untuk memperkaya diri sendiri selama menjabat menjadi anggota dewan atau wakil rakyat
tidak datang dua kali. Tentu hal ini bisa dikatakan adalah suatu tindakan yang menciderai
hati rakyat dan menodai nilai-nilai Pancasila. Para pemimpin sekarang lebih menyukai untuk
memaksakan kehendak daripada bersikap sabar dalam mengambil keputusan demi
kepentingan rakyat Indonesia. Hal ini diperparah dengan metode yang dipakai para anggota
Dewan Perwakilan Rakyat dalam menentukan suatu keputusan, mereka lebih menyukai
cara pengambilan keputusan dengan Voting. Voting adalah cara menentukan keputusan
yang paling buruk, karena voting tidak mengedepankan pemikiran rasional melainkan
tergantung dari jumlah suara terbanyak. Kami berpendapat bahwa seharusnya apabila kita
menelaah lebih dalam dari nilai Pancasila khususnya sila keempat, Indonesia memiliki suatu
cara khusus dalam menyatukan suara dan memutuskan suatu permasalahan yaitu dengan
cara Musyawarah.

5. Faktor dan penyebab lunturnya nilai-nilai Pancasila

Pertama, longgarnya pegangan terhadap agama . Sudah menjadi tragedi dari dunia maju,
dimana segala sesuatu hampir dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, sehingga
keyakinan beragam mulai terdesak, kepercayaan kepada Tuhan hanya sebagai simbol,
larangan-larangan dan perintah-perintah Tuhan tidak diindahkan lagi. Dengan longgarnya
pegangan seseorang peda ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada
didalam dirinya. Dengan demikian satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral yang
dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan peraturanya. Namun pada umumnya
pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari dalam diri sendiri. Karena
pengawasan masyarakat itu datang dari luar, jika orang luar tidak tahu, atau tidak ada orang
yang disangka akan mengetahuinya, maka dengan senang hati orang itu akan berani
melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum sosial itu. Sedangkan apabila dalam
masyarakat itu banyak ornag yang melakukuan pelanggaran moral, dengan sendirinya
orang yang kurang iman tadi tidak akan mudah pula meniru melakukan pelanggaran-
pelanggaran yang sama. Tetapi jika setiap orang teguh keyakinannya kepada Tuhan serta
menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, tidak perlu lagi adanya pengawasan yang
ketat, karena setiap orang sudah dapat menjaga dirinya sendiri, tidak mau melanggar
hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Tuhan. Sebaliknya dengan semakin jauhnya
masyarakat dari agama, semakin sudah memelihara moral orang dalam masyarakat itu, dan
semakin kacaulah suasana, karena semakin banyak pelanggaran-pelanggaran, hak, hukum
dan nilai moral.
Kedua, kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumah tangga, sekolah
maupun masyarakat. Pembinaan moral yang dilakukan oleh ketiga institusi ini tidak berjalan
menurut semsetinya atau yang sebiasanya. Pembinaan moral dirumah tangga misalnya
harus dilakukan dari sejak anak masih kecil, sesuai dengan kemampuan dan umurnya.
Karena setiap anak lahir, belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, dan
belum tahu batas-batas dan ketentuan moral yang tidak berlaku dalam lingkungannya.
Tanpa dibiasakan menanamkan sikap yang dianggap baik untuk manumbuhkan moral,
anak-anak akan dibesarkan tanpa mengenal moral itu. Pembinaan moral pada anak
dirumah tangga bukan dengan cara menyuruh anak menghapalkan rumusan tentang baik
dan buruk melainkan harus dibiasakan. Zakiah Darajat mangatakan, moral bukanlah suatu
pelajaran yang dapat dicapai dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral
dari sejak keci. Moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan tidak sebaliknya.
Seperti halnya rumah tangga, sekolahpun dapat mengambil peranan yang penting dalam
pembinaan moral anak didik. Hendaknya dapat diusahakan agar sekolah menjadi lapangan
baik bagi pertumbuhan dan perkembangan mental dan moral anak didik. Di samping tempat
pemberian pengetahuan, pengembangan bakat dan kecerdasan. Dengan kata lain, supaya
sekolah merupakan lapangan sosial bagi anak-anak, dimana pertumbuhan mental, moral
dan sosial serta segala aspek kepribadian berjalan dengan baik. Untuk menumbuhkan sikap
moral yang demikian itu, pendidikan agama diabaikan di sekolah, maka didikan agama yang
diterima dirumah tidak akan berkembang, bahkan mungkin terhalang. Selanjutnya
masyarakat juga harus mengambil peranan dalam pembinaan moral. Masyarakat yang lebih
rusak moralnya perlu segera diperbaiki dan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-
orang terdekat dengan kita. Karena kerusakan masyarakat itu sangat besar pengaruhnya
dalam pembinaan moral anak-anak. Terjadinya kerusakan moral dikalangan pelajar dan
generasi muda sebagaimana disebutakan diatas, karena tidak efektifnnya keluarga, sekolah
dan masyarakat dalam pembinaan moral. Bahkan ketiga lembaga tersebut satu dan lainnya
saling bertolak belakang, tidak seirama, dan tidak kondusif bagi pembinaan moral.
Ketiga, semua penyebab lunturnya nilai Pancasilan pada dasarnya karena budaya
materialistis, hedonistis dan sekularistis. Sekarang ini sering kita dengar dari radio atau
bacaan dari surat kabar tentang anak-anak sekolah menengah yang ditemukan oleh
gurunya atau polisi mengantongi obat-obat, gambar-gambar porno, alat-alat kotrasepsi
seperti kondom dan benda-banda tajam. Semua alat-alat tersebut biasanya digunakan untuk
hal-hal yang dapat merusak moral. Namun gajala penyimpangan tersebut terjadi karena
pola hidup yang semata-mata mengejar kepuasan materi, kesenangan hawa nafsu dan tidak
mengindahkan nilai-nilai agama. Timbulnya sikap tersebut tidak bisa dilepaskan dari
derasnya arus budaya matrealistis, hedonistis dan sekularistis yang disalurkan melalui
tulisan-tulisan, bacaan-bacaan, lukisan-lukisan, siaran-siaran, pertunjukan-pertunjukan dan
sebagainya. Penyaluran arus budaya yang demikian itu didukung oleh para penyandang
modal yang semata-mata mengeruk keuntungan material dan memanfaatkan
kecenderungan para remaja, tanpa memperhatikan dampaknya bagi kerusakan moral.
Derasnya arus budaya yang demikian diduga termasuk faktor yang paling besar andilnya
dalam menghancurkan moral para remaja dan generasi muda umumnya. Keempat, belum
adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah. Pemerintah yang diketahui
memiliki kekuasaan ( power ), uang, teknologi, sumber daya manusia dan sebagainya
tampaknya belum menunjukan kemauan yang sungguh-sunguh untuk melakuka pembinaan
moral bangsa. Hal yang demikian semaikin diperparah lagi oleh adanya ulah sebagian elit
penguasa yang semata-mata mengejar kedudukan, peluang, kekayaan dan sebagainya
dengan cara-cara tidak mendidik, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini
belum adanya tanda-tanda untuk hilang. Mereka asik memperebutkan kekuasaan, mareri
dan sebagainya dengan cara-cara tidak terpuji itu, dengan tidak memperhitungkan
dampaknya bagi kerusakan moral bangsa. Bangsa jadi ikut-ikutan, tidak mau mendengarkan
lagi apa yang disarankan dan dianjurkan pemerintah, karena secara moral mereka sudah
kehiangan daya efektifitasnya. Sikap sebagian elit penguasa yang demikian itu semakin
memperparah moral bangsa, dan sudah waktunya dihentikan. Kekuasaan, uang, teknologi
dan sumber daya yang dimiliki pemerintah seharusnya digunakan untuk merumuskan
konsep pembinaan moral bangsa dan aplikasinya secara bersungguh-sungguh dan
berkesinambungan.
Kelima, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat
domestik,regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun
1945-66 tahun yang lalu, telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan
akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami
antara lain : terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya; perkembangan gagasan
hak asasi manusia ( HAM ) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasimanusia ( KAM );
lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi
kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan
terhadap “ manipulasi ” informasi dengan segala dampaknya.
Keenam, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat
terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila.
Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai
bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada
munculnya ‘ amnesia nasional ’ tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai ground
norm ( norma dasar ) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh
warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik.
Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar
dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini. Sebagai ilustrasi misalnya,
penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab
mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di
masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis,
terstruktur dan massive yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk
mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai “ tidak Pancasilais
” atau “anti Pancasila ”. Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli
pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan
kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncul lah
demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon
dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap
menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas
sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan. Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim
pemerintahan tertentu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan
milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu.Pancasila juga
bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar
negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia.
Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim
pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi
dasarnegara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan.
Ketujuh, perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami
bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya,
termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan
terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat
dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi
saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar.
Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan
keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.
7. Antisipasi
a. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai
produk dalam negeri.
b. Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
c. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
d. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti
sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
e. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial
budaya bangsa.
Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis
pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa dan
lunturnya nilai-nilai Pancasila dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga
kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa sebagai Bangsa Indonesia.

 Kesimpulan
Pada akhirnya kami dapat menarik satu kesimpulan bahwa, hampir 75% nilai-nilai yang
terdapat dalam Pancasila sudah luntur atau bahkan dilupakan oleh masyarakat Indonesia.
Hal ini dikarenakan beberapa faktor internal dan eksternal yang telah kami jabarkan di atas.
Apabila masyarakat Indonesia tidak segera berbenah diri dan mulai untuk
mengimplementasikan nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila kedalam kehidupan pribadi
dan bernegara, maka bukan tidak mungkin bangsa kita akan menjadi bangsa yang tidak
memiliki identitas, baik identitas ideologi ataupun identitas dari POLEKSOSBUDHANKAM.
Jadi, masih bisakah kita memandang permasalahan lunturnya nilai-nilai Pancasila ini
dengan sebelah mata? Masih bisakah kita untuk tetap melupakan nilai-nilai asli dari bangsa
kita yang susah payah dirumuskan dan dikonsepkan oleh para Founding Father negara
kita....? Nasib bangsa Indonesia berada di tangan kita masing-masing.

Anda mungkin juga menyukai