Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPOTERMI, HIPOGLIKEMIA, DIABETES GESTASIONAL,


RDS, MEMANDIKAN BAYI DI RUMAH SAKIT
PELABUHAN PALEMBANG 2018

DI SUSUN OLEH:

RIZA MELITA

B.16.12.024

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA ADIGUNA

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN

PALEMBANG

2018
LAPORAN PENDAHULUAN

HIPOTERMI

A. Latar Belakang
Suhu normal pada neonatus berkisar antara 360C - 37,50C pada suhu
ketiak. Gejala awal hipotermia apabila suhu < 360C atau kedua kaki dan
tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah
mengalami hipotermia sedang (suhu 320C - <360C). Disebut hipotermia berat
bila suhu tubuh < 320C. Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia
diperlukan termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai 25 0C.
Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan awal penyakit
yang berakhir dengan kematian. yang menjadi prinsip kesulitan sebagai akibat
hipotermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia),
terjadinya metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan
menurunnya simpanan glikogen dengan akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori
tampak dengan turunnya berat badan yang dapat ditanggulangi dengan
meningkatkan intake kalori.

B. Definisi

Hipotermia adalah keadaan ketika seorang individu mengalami atau


beresiko mengalami penurunan suhu tubuh terus menerus di bawah 35,500C
per rektal karena peningkatan kerentanan terhadap faktor eksternal.
Bayi hipotermia adalah bayi dengan suhu badan di bawah normal. Adapun
suhu normal bayi dan neonatus adalah 36,5°C-37°C (suhu axila) Adapun gejala
hipotermi, apabila suhu <36°C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin. Bila
seluruh tubuh bayi terasa dingin maka bayi sudah mengalami hipotermia
sedang (suhu 32-36°C).disebut hipotermia berat bila suhu <32°C.

1
C. Klasifikasi
Berdasarkan kejadiannya, hipotermia dibagi atas:
1. Hipotermia sepintas, yaitu penurunan suhu tubuh 1-2oC sesudah lahir. Suhu
tubuh akan menjadi normal kembali sesudah bayi berumur 4-8 jam, bila
suhu lingkungan diatur sebaik- baiknya.
2. Hipotermia akut terjadi bila bayi berada di lingkungan yang dingin selama
6--12 jam.
3. Hipoterroia sekunder. Penurunan suhu tubuh yang tidak disebabkan oleh
suhu lingkungan yang dingin, tetapi oleh sebab lain seperti sepsis,
sindrom gangguan pernapasan dengan hipoksia atau hipoglikemia,
perdarahan intra-kranial tranfusi tukar, penyakit jantung bawaan yang
berat, dan bayi dengan BBLR serta hipoglikemia.
4. Cold injury, yaitu hipotermia yang timbul karena terlalu lama dalam
ruangan dingin (lebih dari 12 jam).
D. Etiologi
Penyebab Utama
Kurang pengetahuan cara kehilangan panas dari tubuh bayi dan pentingnya
mengeringkan bayi secepat mungkin. Resiko untuk terjadinya hipotermia.
1. Perawatan yang kurang tepat setelah bayi lahir
2. Bayi dipisahkan dari ibunya segera setelah lahir.
3. Berat lahir bayi yang kurang dan kehamilan prematur
4. Tempat melahirkan yang dingin (putus rantai hangat).
5. Bayi asfiksia, hipoksia, resusitasi yang lama, sepsis, sindrom dengan
pernafasan, hipoglikemia perdarahan intra kranial.
E. Faktor Pencetus
Faktor pencetus terjadinya hipotermia :
a) Factor lingkungan.
Hiportermia dapat terjadi dengan agak cepat pada neonates, khusunnya
mereka yang dilahirkan dalam ruangan ber-AC atau mereka yang terpapar
dengan suhu ruangan sebelum cairan ketuban mongering.

2
b) Syok.
Suhu tubuh dapat menurun drastis selama keadaan syok.
c) Infeksi
Hipotermia lebih mungkin terjadi pada bayi dibandingkan anak-anak yang
lebih tua.
d) Gangguan endokrin metabolic.
Suhu tubuh subnormal atau gangguan pengaturan suhu kadang- kadang
terjadi pada gangguan ini contohnya aciduria pada kelainan bawaan ini
mengalami hipotermia sebagai bagian keadaan metaboliknya yang sedikit.
e) Kurang gizi, energi protein( KKP)
Pada anak –anak dengan kwashiorkor, suhu tubuh dapat menurun dibawah
35C walaupun suhu lingkungan yang tinggi.Resiko ini tertinggi selama
minggu pertama perawatan di rumah sakit.
f) Obat-obatan.
Sedasi berat akibat obat- obataan dapat menimbulkan suhu tubuh sub
normal seperti alcohol, narkotik, barbiturate, fenotiazin, atropine, over
dosis asetaminofen.
E. Tanda dan gejala hipotermia bayi baru lahir
Gejala hipotermia bayi baru lahir
1. Bayi tidak mau minum/ menetek.
2. Bayi tampak lesu atau mengantuk.
3. Tubuh bayi teraba dingin.
4. Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi, menurun dan kulit tubuh bayi
mengeras(sklerema)
Tanda- tanda hipotermia sedang :
1. Aktifitas berkurang, letargis.
2. Tangisan lemah.
3. Kulit berwarna tidak rata.
4. Kemampuan menghisap lemah.
5. Kaki teraba dingin.
6. Jika hipotermia berlanjut akan timbulcidera dingin

3
Tanda- tanda hipotermia berat.
1. Aktifitas berkurang, letargis,
2. Bibir dan kuku kebiruan.
3. Pernafasan lambat.
4. Bunyi jantung lambat.
5. Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolic.
6. Resiko untuk kematian bayi
Tanda - tanda stadium lanjut hipotermia
1. Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang.
2. Bagian tubuh lainnya pucat
3. Kulit mengeras merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan
tangan.
F. Penatalaksanaan Hipotermia.
Segera hangatkan bayi, apabila terdapat alat yang canggih seperti
inkubator dan Infant warm yang gunakan sesuai ketentuan.
Adapun prosedur pemakaian Inkubator adalah sebagai berikut:
1. Sebelum bayi dimasukan kedalam inkubator, bersihkan bayi dengan
handuk dan pakaikan kain pakaian bayi.
2. Hidupkan pemanas inkubator bayi dan biarkan sekitar 3 menit untuk
memastikan bahwa suhu didalamnya sesuai.
3. Masukan bayi ke dalam inkubator.
4. Jalankan software pada PC client kemudian masukan identitas bayi
seperti nama, nama Ibu, Jam/Tgl lahir.
5. 2-3 jam sekali ada peringatan untuk memberi susu bayi. Jika
peringatan ini muncul, maka perawat akan langsung menuju inkubator dan
memberi susu.

4
6. Jika bayi menangis maka akan ada warning pada PC client lalu
perawa akan menghampiri inkubator kemudian memeriksanya apakah
lapar, BAB, mengompol, atau tidak nyaman.
7. Setelah diketahui penyebabnya, perawat kemudian memencet tombol
opsi untuk feedback ke PC clientnya. Sehingga kegiatan ini pun terekam.
8. Pada PC server, dokter/pihak manajemen hanya mengontrol data
rekaman dari semua aktifitas bayi dalam 1 hari kemudian dibandingkan
dengan data eferensi perawatan bayi normal. Sehingga hasil akhirnya bayi
tersebut dapat dikategorikan bayi sehat atau tidak.
Hipotermia Sedang
1. Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering,bersih, dapat hangat
2. Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru bila ibu dan bayi
beradadalam satu selimut atau kain hangat yang disertrika terlebih
dahulu. B ila selimut atau kain mulai mendingin, s e g e r a ganti dengan
selimut/ kain yang hangat.
3. Ulangi sampai panas tubuh ibu mendingin, segera ganti dengan selimut
/kain yang hangat.
Mencegah bayi kehilangan panas dengan cara :
1. Memberi tutup kepala/ topi bayi.
2. Mengganti kain/ popok bayi yang basah dengan yang kering dan hangat.
Hipotermi Berat
1. Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering,bersih, dan hangat
2. Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru, bila perlu ibu dan
bayiberada dalamsatuselimut atau kain hangat.
3. Bila selimut atau kain mulai mendingin. Segera ganti dengan selimut atau
lainnya hangat ulangisampai panas tubuh ibu menghangatkan tubuh bayi .
Mencegah bayi kehilangan panas dengan cara :
1. Memberi tutup kepala/ topi kepala.
2. Mengganti kain/ pakaian/ popok yang basah dengan yang kering atau
hangat

5
3. Biasanya bayi hipotermi menderita hipoglikemia. Karena itu ASI sedini
mungkindapat lebih sering selama bayi menginginkan. B ila terlalu lemah
hingga tidak dapat atau tidak kuat menghisap ASI. Beri ASI dengan
menggunakan NGT. Bila tidak tersedia alat NGT. Beri infus dextrose 10%
sebanyak 60 ±80ml/kg/liter.
4. Segera rujuk di RS terdekat.

6
LAPORAN PENDAHULUAN
HIPOGLIKEMIA

A. Latar Belakang
Hipoglikemia merupakan komplikasi yang paling sering muncul
pada penderita diabetes mellitus. Hipoglikemia adalah menurunnya kadar
glukosa darah yang menyebabkan kebutuhan metabolik yang diperlukan
oleh sistem saraf tidak cukup sehingga timbul berbagai keluhan dan gejala
klinik . Hipoglikemia berdampak serius pada morbiditas, mortalitas dan
kualitas hidup. The diabetes Control and Complication Trial (DCCT)
melaporkan diperkirakan 2-4% kematian orang dengan diabetes tipe 1
berkaitan dengan hipoglikemia. Hipoglikemia juga umum terjadi pada
penderita diabetes tipe 2, dengan tingkat prevalensi 70-80% (Setyohadi,
2011).
Hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah merupakan keadaan dimana
kadar glukosa darah berada di bawah normal, yang dapat terjadi karena
ketidakseimbangan antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik dan obat-
obatan yang digunakan. Sindrom hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis
antara lain penderita merasa pusing, lemas, gemetar, pandangan menjadi kabur
dan gelap, berkeringat dingin, detak jantung meningkat dan terkadang sampai
hilang kesadaran (syok hipoglikemia) (Nabyl, 2009).
B. Klasifikasi
Hipoglikemia akut menunjukkan gejala Triad Whipple. Triad Whipple
meliputi:
1. Keluhan adanya kadar glukosa darah plasma yang rendah. Gejala otonom
seperti berkeringat, jantung berdebar-debar, tremor, lapar.
2. Kadar glukosa darah yang rendah (<3 mmol/L). Gejala neuroglikopenik
seperti bingung, mengantuk, sulit berbicara, inkoordinasi, perilaku
berbeda, gangguan visual, parestesi, mual sakit kepala.
3. Hilangnya dengan cepat keluhan sesudah kelainan biokimia dikoreksi.

7
Hipoglikemia juga dapat dibedakan menjadi:
1. True hipoglikemi, ditandai dengan kadar glukosa darah sewaktu < 60
mg/dl
2. Koma hipoglikemi, ditandai dengan kadar glukosa darah sewaktu < 30
mg/dl
3. Reaksi hipoglikemi, yaitu bila kadar glukosa darah sebelumnya naik,
kemudian diberi obat hipoglikemi dan muncul tanda-tanda hipoglikemia
namun kadar glukosa darah normal.
4. Reaktif hipoglikemi, timbul tanda-tanda hipoglikemi 3-5 jam sesudah
makan. Biasanya merupakan tanda prediabetik atau terjadi pada anggota
keluarga yang terkena diabetes melitus.
C. Etiologi/Penyebab
Hipoglikemia dapat disebabkan oleh:

1. Pelepasan insulin berlebihan oleh pankreas


2. Dosis insulin atau obat-obatan lain yang terlalu tinggi, diberikan kepada
penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darah mereka
3. Kelainan pada kelenjar pituitari atau kelenjar adrenal
4. Gangguan penyimpanan karbohidrat atau pembentukan glukosa di hati.
D. Faktor Risiko
1. Bayi dari ibu dengan tetes melitus (IDM)
2. Neonatus besar untuk massa kehamilan (BMK)
3. Bayi prematur dan berbulan-bulan
4. BBLR yang KMK / bayi kembar mungkin memiliki penurunan cadangan
glikogen dari hati dan lemak tubuh
5. Bayi sangat sakit dengan kebutuhan metabolik yang meningkat atas
cadangan kalori
6. Nyeri atau stres neonatal (sindrom pernapasan, hipotermia)
7. Bayi dengan kelainan genetik / gangguan metabolisme (penyakit cadangan
glikogen, intoleransi glukosa)
8. Puasa Neonatus
9. Neonatus dengan polysitemia

8
10. Neonatus dengan erythroblastosis
11. Obat-obatan ibu seperti steroid, simpatomimetik beta, dan beta blocker
E. Gejala Hipoglicemia
Hipoglikemia simptomatik pada neonatus cenderung terjadi selama 6-
12 jam kehidupan. Sering menyertai penyakit-penyakit seperti : distress
perinatal, terlambat pemberian minum dan bayi dari ibu DM. Tidak ada
perbedaan dalam hal jenis kelamin. Juga termasuk dalam golongan ini ialah
bayi dari ibu DM insulin dependen (IDM) dan ibu menderita DM kehamilan
(IGDM). Meskipun sebanyak 50% dari IDM dan 25% IGDM mempunyai
kadar glukose < 30 mg/dl selama 2-6 jam kehidupan, ke-banyakan tidak
memperlihatkan akibat-akibat dari hipoglikemianya. Umumnya sembuh
spontan, tetapi sebagian kecil (10-20%) kadar gula tetap rendah. Beberapa di
antaranya menunjukkan respons yang balk terhadap suntikan glukagon 300
mikro gram atau 0,3 mg/kgBB im, tidak lebih 1 mg total-nya
Neonatus simptomatik gejalanya tidak khas, misalnya : apati,
anoreksia, hipotoni, apnu, sianosis, pernapasan tidak teratur, kesadaran
menurun, tremor, kejang tonik/klonik, menangis tidak normal dan cengeng.
Kebanyakan gejala pertama timbul sesudah 24-28 jam kehidupan
F. Patofiologi
1. Hipoglikemi sering terjadi pada BBLR, karena cadangan glukosa
rendah.
2. Hipoglikemi adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat
menimbulkan kejang yang berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila tidak
dikelola dengan baik akan menimbulkan kerusakan pada susunan saraf
pusat bahkan sampai kematian.
3. Kejadian hipoglikemi lebih sering didapat pada bayi dari ibu dengan
diabetes melitus.
4. Glukosa merupakan sumber kalori yang penting untuk ketahanan hidup
selama proses persalinan dan hari-hari pertama pasca lahir.

9
5. Setiap stress yang terjadi mengurangi cadangan glukosa yang ada karena
meningkatkan penggunaan cadangan glukosa, misalnya pada asfiksia,
hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasan.
G. Komplikasi
Kerusakan otak, koma, kematian

H. Pemeriksaan penunjang

 Kadar glukosa darah (GD) ,\


 Tes fungsi ginjal ,
 Tes fungsi hati
 C- peptide
I. Penatalaksanaan
Untuk penanganan bayi yang mengalami hiplogikemia dapat dilakukan
dengan:
1. Monitor
Pada bayi yang beresiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu DM) perlu
dimonitor dalam 3 hari pertama :
 Periksa kadar glukosa saat bayi datang/umur 3 jam
 Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa
normal dalam 2 kali pemeriksaan
 Kadar glukosa ≤ 45 mg/dl atau gejala positif tangani hipoglikemia
 Pemeriksaan kadar glukosa baik, pulangkan setelah 3 hari penanganan
hipoglikemia selesai
2. Penanganan hipoglikemia dengan gejala :
 Bolus glukosa 10% 2 ml/kg pelan-pelan dengan kecepatan 1 ml/menit\
 Pasang dekstrosa 10% = 2 cc/kg dan diberikan melalui intravena
selama 5 menit dan diulang sesuai kebutuhan (kebutuhan infus glukosa
6-8 mg/kg/menit).

10
LAPORAN PENDAHULUAN
DIABETES GESTASIONAL

A. Latar Belakang
Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) didefinisikan sebagai gangguan
toleransi glukosa berbagai tingkat yang diketahui pertama kali saat hamil
tanpa membedakan apakah penderita perlu mendapat insulin atau tidak. Pada
kehamilan trimester pertama kadar glukosa akan turun antara 55-65% dan hal
ini merupakan respon terhadap transportasi glukosa dari ibu ke janin.
Sebagian besar DMG asimtomatis sehingga diagnosis ditentukan secara
kebetulan pada saat pemeriksaan rutin.
Di Indonesia insiden DMG sekitar 1,9-3,6% dan sekitar 40-60% wanita
yang pernah mengalami DMG pada pengamatan lanjut pasca persalinan akan
mengidap diabetes mellitus atau gangguan toleransi glukosa. Pemeriksaan
penyaring dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu dan 2
jam post prandial (pp). Bila hasilnya belum dapat memastikan diagnosis DM,
dapat diikuti dengan test toleransi glukosa oral. DM ditegakkan apabila kadar
glukosa darah sewaktu melebihi 200 mg%. Jika didapatkan nilai di bawah 100
mg% berarti bukan DM dan bila nilainya diantara 100-200 mg% belum pasti
DM. Pada wanita hamil, sampai saat ini pemeriksaan yang terbaik adalah
dengan test tantangan glukosa yaitu dengan pembebanan 50 gram glukosa dan
kadar glikosa darah diukur 1 jam kemudian. Jika kadar glukosa darah setelah
1 jam pembebanan melebihi 140 mg% maka dilanjutkan dengan pemeriksaan
test tolesansi glukosa oral. Gangguan DM terjadi 2 % dari semua wanita
hamil, kejadian meningkat sejalan dengan umur kehamilan, tetapi tidak
merupakan kecenderungan orang dengan gangguan toleransi glokusa , 25%
kemungkinan akan berkembang menjadi DM.

B. Definisi
Diabetes gestasional adalah gangguan dari glukosa yang dipicu oleh
kehamilan biasanya menghilang setelah melahirkan (Murrayetal.,2002).

11
Diabetes yang dialami oleh seorang ibu yang pernah menderita DM sebelum
hamil dan ibu mengalami DM pada saat hamil disebut diabetes mellitus
gestasional (Syafei Piliang, 1993).
C. Etiologi
Pada saat seorang wanita hamil, perubahan hormon-hormon dalam
tubuhnya membuat kerja insulin menjadi tidak efektif. Karena kerja insulin
membantu penyerapan glukosa oleh sel-sel tubuh tidak efektif, akibatnya
jumlah glukosa dalam darah meningkat dan penyebab lainnya adalah :
1. Pola makan
2. Faktor keturunan
3. Stres dan merokok
4. Kegemukan/obesitas
5. Bahan kimia dan obat-obatan
6. Mengkonsumsi karbohidrat berlebihan
7. Kerusakan pada sel pankreas
D. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala dari diabetes melitus gestasional sangatlah mirip
dengan penderita diabetes melitus pada umumnya, yaitu :
1. Poliuria (banyak kencing)
2. Polidipsia (haus dan banyak minum) dan polifagia (banyak makan)
3. Pusing, mual dan muntah
4. Obesitas, TFU > normal
5. Lemah badan, kesemutan, gatal, pandangan kabur, dan pruritus vulva
6. Ketonemia (kadar keton berlebihan dalam darah)
7. Glikosuria(ekskresi glikosa ke dalam urin)
8. Gula darah 2 jam > 200mg/dl
9. gula darah sewaktu > 200 mg/dl
10. Gula darah puasa > 126 mg/dl
E. Faktor Risiko
Hal-hal yang menjadi factor resiko diabetes mellitus adalah sebagai berikut :
1. Riwayat keluarga dengan DM

12
2. Glukosuria dua kali berturut-turut
3. Kegemukan
4. Keguguran kehamilan yang tidak bisa dijelaskan (abortus spontan).
5. Adanya hidramnion
6. Kelahiran anak sebelum besar.
F. Patofisiologi
Metabolisme karbohidrat selama kehamilan karena insulin yang
berlebih masih banyak dibutuhkan sejalan dengan perkembangan kehamilan.
Progesterone dan HPL menyebabkan jaringan ibu resiten terhadap insulin dan
menghasilkan enzim yang disebut insulinase yang dihasilkan oleh plasenta,
sehingga mempercepat terjadinya insulin.
Bila pankreas tidak dapat memproduksi insulin secara adekuat, maka
akan timbul suatu keadaan yang disebut hiperglikemia, sehingga dapat
menimbulkan kondisi kompensasi tubuh seperti meningkatkan rasa haus
(polidipsi), mengeksresikan cairan (poliuri), dan mudah lapar (polifagia).
G. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang dirasakan dapat berupa: polidipsi, poliuri,
polifagia, penurunan berat badan, lemah, mengantuk (somnolen), dan dapat
timbul ketoasidosis.
Pengaruh diabetes pada kehamilan adalah sebagai berikut.
1. Hiperemesis gravidarum.
2. Pemakaian glikogen bertambah.
3. Meningkatkan metabolism basal.
Dampak diabetes pada kehamilan adalah sebagai berikut.
1. Abortus dan partus prematurus.
2. Preeklamsi.
3. Hidramnion.
4. Kelainan letak janin.
5. Insufisiensi.
Pengaruh diabetes pada bayi yang dilahirkan adalah sebagai berikut.
1. Kematian hasil konsepsi dalam kehamilan muda mengakibatkan abortus.

13
2. Cacat bawaan.
3. Dismaturitas.
4. Janin besar
5. Kelainan neurologis.
H. Komplikasi Diabetes Melitus
Komplikasi diabetes mellitus dapat dibagi menjadi dua kategori.
1. Komplikasi metabolik akut.
2. Komplikasi-komplikasi vascular jangka panjang.
I. Penanganan Medis
Sesuai dengan pengelolaan medis diabetes mellitus pada umumnya,
pengelolaandiabetes mellitus gestasional juga didasari atas pengelolaan
gizi/diet dan pengendalian berat badan ibu .
1. Kontrol secara ketat gula darah, sebab bila kontrol kurang baik upayakan
lahir lebih dini, pertimbangkan kematangan paru janin. Dapat terjadi
kematian janin memdadak. Berikan insulin yang bekerja cepat, bila
mungkin diberikan melalui drips.
2. Hindari adanya infeksi saluran kemih atau infeksi lainnya. Lakukan upaya
pencegahan infeksi dengan baik.
3. Pada bayi baru lahir dapat cepat terjadi hipoglikemia sehingga perlu
diberikan infus glukosa.
4. Penanganan DMG yang terutama adalah diet, dianjurkan diberikan 25
kalori/kgBB ideal, kecuali pada penderita yang gemuk dipertimbangkan
kalori yang lebih mudah.
5. Cara yang dianjurkan adalah cara Broca yaitu BB ideal = (TB-100)-10%
BB.
6. Kebutuhan kalori adalah jumlah keseluruhan kalori yang diperhitungkan
dari:
 Kalori basal 25 kal/kgBB ideal
 Kalori kegiatan jasmani 10-30%
 Kalori untuk kehamilan 300 kalor
 Perlu diingat kebutuhan protein ibu hamil 1-1.5 gr/kgBB

14
LAPORAN PENDAHULUAN RESPIRATORY DISTRESS
SYNDROME (RDS)

A. Latar Belakang
RDS (Respiratory Distress Syndrome) atau disebut juga Hyaline
membrane disease merupakan hasil dari ketidak maturan dari paru-paru
dimana terjadi gangguan pertukaran gas. Berdasarkan perkiraan 30 % dari
kematian neonatus diakibatkan oleh RDS atau komplikasi yang dihasilkannya
(Behrman, 2004 didalam Leifer 2007).
Secara tinjauan kasus, di negara-negara Eropa sebelum pemberian
rutin antenatal steroid dan postnatal surfaktan, terdapat angka kejadian RDS 2-
3%, di USA 1,72% dari kelahiran bayi hidup periode 1986-1987. Sedangkan
jaman modern sekarang ini dari pelayanan NICU turun menjadi 1%. Di
Negara berkembang termasuk Indonesia belum ada laporan tentang kejadian
RDS.
Sedangkan angka kematian kematian bayi (infant mortality rate), yakni
angka kematian bayi sampai umur satu tahun, di Negara-negara maju telah
turun dengan cepat dan sekarang mencapai angka di bawah 20 pada 1000
kelahiran. Penurunan angka kematian prenatal berlangsung lebih lambat,
sebabnya ialah karena kesehatan serta keselamatan janin dalam uterussangat
tegantung dari keadaan dan kesempurnaan bekerjanya system dalam tubuh ibu
yang mempunyai fungsi untuk menumbuhkan hasil konsepsi dari mudhigah
menjadi janin cukup bulan.
Di Negara-negara maju kematian prenatal ini mencapai angka dibawah
25 per 1000 seperti telah dijelaskan, prematuritas memegang peran penting
dalam hal ini. Selanjutny tidak jarang bersama-sama dengan prematuritas
terjadi factor-faktor lain seperti, kelainan congenital, asfiksia neonatorum,
insufisiensi plasenta, pelukaan kelahiran, dan lain-lain. Dua hal yang banyak
menentukan penurunan kematian prenatal ialah tingkat kesehatan serta gizi
wanita dan mutu pelayanan kebidanan yang tinggi di seluruh Negara.

15
B. Definisi
Respiratory Distress Syndrome adalah penyakit yang disebabkan oleh
ketidakmaturan dari sel tipe II dan ketidakmampuan sel tersebut untuk
menghasilkan surfaktan yang memadai.
Sindrom gawat napas (RDS) (juga dikenal sebagai idiopathic
respiratory distress syndrome) adalah sekumpulan temuan klinis, radiologis,
dan histologis yang terjadi terutama akibat ketidakmaturan paru dengan unit
pernapasan yang kecil dan sulit mengembang dan tidak menyisakan udara
diantara usaha napas. Istilah-istilah Hyaline Membrane Disease (HMD) sering
kali digunakan saling bertukar dengan RDS.
C. Etiologi
RDS terjadi pada bayi prematur atau kurang bulan, karena kurangnya
produksi surfaktan. Produksi surfaktan ini dimulai sejak kehamilan minggu
ke-22, makin muda usia kehamilan, makin besar pula kemungkinan terjadi
RDS. Ada 4 faktor penting penyebab defisiensi surfaktan pada RDS yaitu
prematur, asfiksia perinatal, maternal diabetes, seksio sesaria.. Surfaktan
biasanya didapatkan pada paru yang matur. Fungsi surfaktan untuk menjaga
agar kantong alveoli tetap berkembang dan berisi udara, sehingga pada bayi
prematur dimana surfaktan masih belum berkembang menyebabkan daya
berkembang paru kurang dan bayi akan mengalami sesak nafas.
D. Klasifikasi
Dibagi menjadi dua stadium, yaitu :
a. Eksudatif
Ditandai dengan adanya perdarahan pada permukaan parenkim paru,
edema interstisial atau elveolar, penekanan pada bronkiolus terminalis, dan
kerusakan pada sel alveolar tipe I (Somantri, 2009).
b. Fibroproliferatif
Ditandai dengan adanya kerusakan pada sel alveolar tipe II, peningkatan
tekanan puncak inspirasi, penurunan compliance paru, hipoksemia,
penurunan fungsi kapasitas residual, fibrolisis interstisial, dan peningkatan
ruang rugi ventilasi(Somantri, 2009).

16
E. Manifestasi Klinis
1. Sesak nafas atau pernafasan cepat
2. Frekuensi nafas > 60 x/menit
3. Pernafasan cepat dan dangkal timbul setelah 6-8 jam setelah lahir
4. Retraksi interkostal, epigastrium, atau suprasternal pada inspirasi
5. Sianosis dan pernafasan cuping hidung
6. Grunting pada ekspirasi (terdengan seperti suara rintihan saat ekspirasi)
7. Takikardi (170 x/menit)
F. Patofisiologi
Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur
disebabkan oleh alveoli masih kecil sehingga kesulitan berkembang,
pengembangan kurang sempurna kerana dinding thorax masih lemah,
produksi surfaktan kurang sempurna. Kekurangan surfaktan mengakibatkan
kolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Hal tersebut
menyebabkan perubahan fisiologi paru sehingga daya pengembangan paru
(compliance) menurun 25% dari normal, pernafasan menjadi berat, shunting
intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia berat, hipoventilasi yang
menyebabkan asidosis respiratorik.
G. Penatalaksanaan
Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) dan Surasmi,dkk (2003) tindakan
untuk mengatasi masalah kegawatan pernafasan meliputi :
1. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat.
2. Mempertahankan keseimbangan asam basa.
3. Mempertahankan suhu lingkungan netral.
4. Mempertahankan perfusi jaringan adekuat.
5. Mencegah hipotermia.
6. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat.
Penatalaksanaan secara umum :
1. Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling
sering dan bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa
5%

17
 Pantau selalu tanda vital
 Jaga kepatenan jalan nafas
 Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)
2. Jika bayi mengalami apneu
 v Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
 v Lakukan penilaian lanjut
3. Bila terjadi kejang potong kejang
4. Segera periksa kadar gula darah
5. Pemberian nutrisi adekuat

18
LAPORAN PENDAHULUAN
MEMANDIKAN BAYI

A. Latar Belakang
Memandikan bayi adalah kegiatan penting yang harus dilakukan secara
benar oleh orang tua. Selain ditujukan untuk membersihkan badan bayi,
memandikan bayi perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak melukai bayi
mengingat kondisi bayi yang sangat lemah. Selain itu, memandikan bayi
merupakan bagian penting dari perawatan bayi. (seputar-
ibuhamil.blogspot.com/2013/09/cara-memandikan-bayi-baru-lahir.html?m)
Sebaiknya memandikan bayi ditunda sedikitnya 6 jam setelah kelahiran
bayi. Memandikan bayi dalam beberapa jam pertama kehidupannya dapat
mengarah pada kondisi hipotermi atau perubahan suhu bayi dan sangat
membahayakan keselamatan bayi. Pada kebanyakan Rumah Sakit, tubuh bayi
dibersihkan setiap hari. Setelah mengamati cara memandikan bayi, ibu harus
didorong untuk melakukan sendiri dan jika perlu bias dibantu agar ibu
mendapatkan kepercayaan diri.
Memandikan dimulai dengan wajah dan kepala. Kemudian dada bagian
atas, lengan, abdomen, punggung, tungkai dan terakhir bokong. Bila tali pusat
telah puput bayi dapat diletakkan kedalam bak mandi berisi air hangat. Karena
bayi tidak dapat duduk sendiri, tangan yang memandikan harus menyangga bayi
agar tidak tenggelam kedalam air. Untuk menghindari kedinginan, mandikan bayi
dengan cepat, kenakan pakaian bayi dengan cepat dan bungkus bayi dengan
selimut hangat.
Tidak terdapat waktu yang tepat untuk memandikan bayi. Namun
demikian, memandikan bayi harus dilakukan sebelum makan untuk menghindari
gerakan yang dapat menyebabkan regurgitasi.

B. Tujuan Memandikan Bayi


Memandikan bayi memiliki tujuan, diantaranya adalah :
1. Memberi rasa nyaman pada bayi

19
2. Membuat bayi tetap wangi dan bersih
3. Mengurangi risiko terjadinya infeksi
4. Mandi sebelum tidur akan membantu relaksasi
5. Merupakan bentuk perhatian ibu untuk menunjukkan rasa sayangnya.
C. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memandikan Bayi
Sebelum memandikan bayi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
1. Jangan memaksa bayi untuk mandi.
2. Hindari mandi tepat sebelum atau sesudah makan.
3. Jangan meninggalkan bayi sendirian ketika mandi.
4. Waktu yang tepat untuk memandikan bayi adalah sebagai berikut :
Sebaiknya memandikan bayi ditunda sedikitnya dalam 6 jam setelah
kelahiran bayi. Memandikan bayi dalam beberapa jam pertama
kehidupan dapat mengarah pada kondisi hipotermi dan sangat
membahayakan keselamatan bayi. Dalam minggu minggu pertama bayi
cukup mandi satu kali sehari dipagi hari. Jika perlu sore hari cukup
dibersihkan dari kulit yang basah atau keringat.
D. Peralatan yang Diperlukan Saat Memandikana Bayi
Berikut ini daftar keperluan untuk memandikan bayi, yaitu :
1. Meja mandi khusus jika ada
2. Handuk mandi
3. Popok atau handuk bersih untuk alas mandi
4. Waslap dua buah
5. Kapas lembab di tempatnya
6. Kapas kering di tempatnya
7. Kapas pembersih bertangkai (Cotten bud)
8. Baby oil
9. Tempat pakaian kotor
10. Perlengkapan pakaian bayi
11. Dua waskom berisi air
12. Bak mandi bayi

20
E. Persiapan Sebelum Memandikan Bayi
Sebelum meamndikan bayi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Bila perlu, persiapkan air hangat dengan suhu sekitar 40 hingga 48 derajat
celcius.
2. Isi bak atau bath tub bayi dengan air hangat lalu coba uji dengan siku.
3. Pastikan semua yang akan dipergunakan sudah berada di dekat bath tub atau
bak bayi.
4. Jika Anda melupakan beberapa barang, angkat dan pastikan bayi selalu dalam
gendongan Anda.
5. Jangan angkat telepon dan abaikan sementara bel pintu rumah ketika sedang
memandikan bayi. Ini dapat memecah fokus dan membahayakan bayi. Jika
memang mendesak, angkat dan gendong bayi selalu bersama Anda.
6. Jika pasangan atau rekan terbiasa kerap menelpon, beri tahu mereka jam-jam
dimana Anda biasa memandikan bayi.
F. Langkah-langkah Memandikan Bayi
Langkah-langkah atau prosedur memandikan bayi adalah sebagai berikut :
1. Menutup pintu dan jendela ruangan serta membuka pakaian bayi.
2. Bayi di angkat ke meja mandi, di letakkan pada posisi yang aman (jangan
risiko jatuh), dan gunakan selimut mandi.
3. Mata bayi dibersihkan menggunakan kapas lembab dengan cara menghapus
dari bagian dalam ke arah luar. Setiap mengusap kapas harus diganti.
4. Telinga bersihkan dengan kapas pembersih, setiap usapan kapas harus diganti
5. Muka dilap dengan waslap, setelah itu keringkan dengan handuk.
6. Boleh menggunakan sabun tetapi hati-hati karena sabun dapat menyebabkan
iritasi pada mata dan kulit bayi.
7. Kemudian kepala bayi ditaruh di atas tangan kiri, lalu disabun kemudian
bersihkan dengan waslap sampai bersih.
8. Membuka pakaian bayi kemudian tangan, badan, dan kaki disabun
menggunakan waslap basah.

21
9. Punggung disabun dengan cara bayi ditelungkupkan atau miring dengan dada
dan leher berada di atas lengan kiri serta tangan memegang lengan kanan bayi.
Lalu punggung di seka dengan waslap basah sampai bersih, lihat daerah-
daerah lipatan jangan ada yang tersisa.
10. Bokong, perinium, genetalia dibersihkan paling akhir untuk mencegah
kontaminasi karena daerah ini paling kotor.
11. Bayi masukkan ke dalam bak mandi bayi dengan cara memegang kepala dan
bahu kiri bayi dengan tangan memegang lengan kiri bayi dan tangan kanan
mengangkat bokong, kepala berada di atas air.
12. Kepala, badan dan anggota tubuh lainnya dibersihkan dengan waslap yang
satunya (yang belum kena sabun) dengan menggunakan tangan kanan.
13. Angkat bayi seperti pada waktu memasukkan bayi ke dalam bak mandi.
14. Setelah itu keringkan dengan handuk, beri minyak telon, baby oil.
15. Merawat tali pusat.
16. Memasang pakaian bayi.

22
DAFTAR PUSTAKA

Parker catharinr. 2008. Konsultasi kebidanan. Jakarta: erlangga


Farrer hellen. 2001. Perawatan maternitas edisi 2. Jakarta: EGC
Hidayat Alimul. 2007. Buku saku praktikum keperawatan anak. Jakarta: EGC
Hamilton persis. 1995. Dasar- dasar keperawatan maternitas edisi 6. Jakarta: buku
kedokteran EGC

23