Anda di halaman 1dari 34

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

LAPORAN KASUS INDIVIDU

TUBERKULOSIS

Oleh

ARZIA PRAMADI RAHMAN


H1A 007 003

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
PUSKESMAS NARMADA
2013

0
BAB I
PENDAHULUAN

Penyakit tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat. TB adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri
berbentuk batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberculosis dan
ditularkan melalui perantara droplet udara (Hiswani, 2004).
Mycobacterium tuberkulosis telah menginfeksi sepertiga pendudiuk dunia. Pada
Tahun 1993, WHO mencanangkan kedaruratan global penyakit TB karena pada sebagian
besar negara di dunia. Penyakit TB tidak terkendali, ini disebabkan banyaknya penderita yang
tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita menular / BTA (+). Pada tahun 1995
diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 9 juta penderita baru TBC dengan kematian 3 juta
orang. Jumlah penderita TB diperkirakan akan meningkat seiring dengan munculnya epidemi
HIV/AIDS di dunia (Depkes RI, 2002; Kemenkes RI, 2011).
Tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TB
dengan kematian karena TB sekitar 140.000. Secara kasar diperkirakan setiap 100.000
penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru TB paru BTA (+) (Depkes RI, 2002;
Girsang, 2002; Permatasari, 2005). Seorang penderita TB aktif dapat menularkan basil TB
kepada 10 orang di sekitarnya dalam kurun waktu 1 tahun. (Girsang, 2002; Permatasari,
2005). Pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak lengkap diduga telah
menimbulkan kekebalan ganda kuman TB terhadap obat Anti–tuberkulosis (OAT) atau Multi
Drug Resistance (MDR) (Depkes RI, 2002; Hiswani, 2004; Kemenkes RI, 2011).
Kasus baru penyakit TB paru BTA (+) di Kecamatan Narmada yang terdeteksi pada
tahun 2010 adalah sebanyak 35 kasus, diikuti dengan 43 kasus pada tahun 2011, dan
sebanyak 44 kasus pada tahun 2012. Di Kecamatan Narmada terdapat 28 orang (80%)
penderita yang sembuh pada tahun 2010, 44 orang (102,3%) pada tahun 2011, dan 38 orang
(86,3%) pada tahun 2012. Target angka kesembuhan TB Paru BTA (+) dalam Indonesia
Sehat adalah sebesar 85%. Kejadian kasus TB paru yang tinggi ini paling banyak terjadi pada
kelompok masyarakat dengan sosio ekonomi lemah (Kemenkes RI, 2012; Hasanah, 2013).
Berdasarkan data-data tersebut di atas, maka perlu ditelaah lebih lanjut mengenai
aspek yang menyebabkan mengapa angka kejadian TB paru masih saja tinggi dan faktor-
faktor yang memungkinkan penularannya sehingga dapat dilakukan pencegahan dan angka
kejadian penyakit ini pun dapat ditekan. Maka dari studi kasus ini, diharapkan untuk dapat
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit TB tersebut.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Gambaran Penyakit Tuberkulosis Di Puskesmas Narmada


Berdasarkan data program TB Paru Puskemas Narmada didapatkan data sebagai
berikut (Hasanah, 2013):
Tabel 2.1. Data Hasil Cakupan P2 TB Puskesmas Narmada Tahun 2010
Hasil Kegiatan
Kriteria Total
Triwulan 1 Triwulan 2 Triwulan 3 Triwulan 4
Suspek 133 108 124 68 433
BTA + 12 4 9 8 33
Ro + 12 7 7 5 31
EP 2 1 0 0 3
Kambuh 0 1 1 0 2
Konversi 12 4 9 8 33
Sembuh 12 4 9 8 33
Lengkap 0 0 0 0 0
Anak 0 0 1 0 1
Meninggal 0 0 0 0 0

Tabel 2.2. Data Hasil Cakupan P2 TB Puskesmas Narmada Tahun 2011


Hasil Kegiatan
Kriteria Total
Triwulan 1 Triwulan 2 Triwulan 3 Triwulan 4
Suspek 146 139 144 120 549
BTA + 13 12 9 9 43
Ro + 6 7 5 8 26
EP 1 0 0 2 3
Kambuh 1 0 0 0 1
Konversi 13 9 9 9 40
Sembuh 13 11 8 7 39
Lengkap 0 0 1 2 3
Anak 0 0 1 0 1
Meninggal 0 1 0 0 1

2
Tabel 2.3. Data Hasil Cakupan P2 TB Puskesmas Narmada Tahun 2012
Hasil Kegiatan
Kriteria Total
Triwulan 1 Triwulan 2 Triwulan 3 Triwulan 4
Suspek 123 119 141 164 547
BTA + 10 9 12 13 44
Ro + 5 2 1 5 13
EP 0 2 1 1 4
Kambuh 2 0 0 0 2
Konversi 11 11 9 10 41
Sembuh 11 13 7 7 38
Lengkap 0 0 0 2 2
Anak 0 0 0 0 0
Meninggal 2 1 1 0 4

Dari tabel di atas terlihat bahwa kejadian tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas
Narmada setiap tahun cenderung meningkat. Terjadinya peningkatan kasus tuberkulosis ini
berkaitan dengan perilaku, ekonomi dan tingkat sosial budaya masyarakatnya.
Penemuan kasus merupakan salah satu cara untuk menemukan masalah kesehatan,
dan bertujuan untuk menemukan sumber penularan dan atau mencari ada atau tidaknya
penderita baru di masyarakat. Penemuan kasus ini dapat dibedakan menjadi 2 yaitu: (1)
penemuan kasus secara aktif, dan (2) penemuan kasus secara pasif (Asy’ari, 2005).
Penemuan penderita TB dilakukan secara pasif, artinya penjaringan tersangka
penderita dilakukan pada mereka yang datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan.
Semua tersangka penderita harus diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari berturut-
turut, yaitu sewaktu-pagi-sewaktu. Penamuan secara pasif tersebut didukung oleh penyuluhan
secara aktif, baik oleh petugas kesehatan ataupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan
penemuan penderita. Cara ini biasa dikenal dengan passive promotive case finding.
Disamping itu, semua kontak penderita TB paru BTA positif dengan gejala yang sama, harus
diperiksa dahaknya (Asy’ari, 2005).
Penemuan kasus baru TB paru BTA positif di wilayah kerja Puskesmas Narmada
tersebar di 11 Desa. Desa Tanak Beak merupakan salah satu desa yang konsistensi penemuan
kasus baru TB paru BTA positif dalam 3 tahun terakhir cukup tinggi. Angka penemuan kasus
baru TB paru BTA positif di Desa Mekar Sari meningkat dari masing-masing 1 kasus pada
tahun 2010 dan 2011 menjadi sebanyak 7 kasus pada tahun 2012. Angka pemenemuan kasus
baru TB paru BTA positif pada masing-masing desa dari tahun 2010-2012 dapat dilihat pada
tabel 2.4 (Hasanah, 2013).

3
Tabel 2.4. Angka Pemenemuan Kasus Baru TB Paru BTA Positif Pada Masing-Masing Desa
di Wilayah Kerja Puskesmas Narmada Tahun 2010-2012.
Desa 2010 2011 2012
Lembuak 4 5 4
Nyurlembang 0 1 5
Dasan Tereng 5 2 1
Gerimax Indah 5 5 6
Sembung 2 6 3
Badrain 1 3 2
Batu Kuta 2 2 1
Kerama Jaya 3 5 5
Tanak Beak 6 6 7
Narmada 4 7 3
Mekar Sari 1 1 7
Jumlah 33 43 44

II.2. Program Penyakit Tuberkulosis Di Puskesmas Narmada


Program TB paru di Puskesmas Narmada memiliki 4 buah kegiatan pokok, yaitu
kegiatan CBA (Community Based Approach), kegiatan kontak serumah pasien TB paru,
kegiatan pelacakan TB mangkir, dan kegiatan follow up TB paru. Disamping kegiatan pokok
tersebut, terdapat kegiatan lintas program yang terkait dengan kegiatan yang terdapat dalam
program upaya kesehatan lainnya (Puskesmas Narmada, 2013).
Kegiatan CBA merupakan upaya promotif dan preventif dengan cara melakukan
penyuluhan-penyuluhan kepada tokoh-tokoh masyarakat, Kader, dan Kadus seputar penyakit
TB paru, serta mempromosikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan membagikan
masker kepada masyarakat. Pada tahun 2012, CBA dilakukan sebanyak 6 kali dengan dana
sebesar Rp5.400.000,00. Kegiatan CBA dilakukan pada tingkat desa, pada bulan: Maret,
April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember. Dari kegiatan ini, peserta CBA yang berjumlah
15 orang diharapkan dapat menemukan minimal 2 orang tersanka pasien TB Paru yang mau
diperiksakan dahaknya. Namun, dari 6 kali kegiatan CBA ternyata tidak semua peserta yang
hadir dapat mengumpulkan dahak tersangka pasien TB untuk diperiksa (Puskesmas Narmada,
2013).
Kegiatan kontak serumah bertujuan untuk memeriksa dahak semua anggota keluarga
yang tinggal serumah atau orang yang berada di sekitar rumah pasien TB paru BTA positif
untuk mengetahui sumber infeksi TB paru sebelumnya. Kegiatan ini dilakukan 5 kasus dalam
sebulan (60 kasus dalam setahun) dengan dana sebesar Rp1.500.000,00. Dari kegiatan ini
masih ada anggota keluarga atau orang yang berada di sekitar pasien yang menolak untuk

4
diperiksa dahaknya dengan alasan dahaknya tidak bisa dikeluarkan, merasa tidak perlu untuk
memeriksakan dahaknya, dan lain sebagainya (Puskesmas Narmada, 2013).
Kegiatan pelacakan TB mangkir dilakukan apabila ada pasien TB paru yang telat atau
tidak datang mengambil obat ke Puskesmas dalam jangka waktu ≥1 minggu dari jadwal yang
telah ditentukan. Bila ada kasus TB mangkir, petugas Puskesmas akan mengunjungi rumah
pasien TB paru tersebut dan mencari tahu penyebab pasien tidak datang mengambil obat.
Pada tahun 2012 hanya terdapat 1 kasus TB mankir (Puskesmas Narmada, 2013).
Kegiatan follow up TB paru dilakukan setiap hari Selasa di Puskesmas Narmada.
Follow up berupa pemberian obat dan evaluasi perkembangan kondisi pasien. Hampir semua
pasien yang telah di berikan pengobatan menunjukkan hasil negatif setelah dilakukan
pemeriksaan ulang dahak pada akhir bulan ke-2, ke-5 dan akhir pengobatan (Puskesmas
Narmada, 2013).
Salah satu kegiatan lintas program yang dilakukan adalah kegiatan kontak balita
ISPA, dilakukan dengan program Gizi. Kegiatan ini dilakukan sekai setahun dengan tujuan
untuk menemukan kasus TB paru baru. Dari 40 balita ISPA, diharapkan dapat ditemukan
minimal 40 orang sumber kontak yang dapat di peiksakan dahaknya, namun hanya 30 orang
yang mau untuk diperiksa dahaknya (Puskesmas Narmada, 2013).
Kegiatan lintas program yang lainnya antara lain adalah: memeberikan pengetahuan
tentang pentingnya PHBS (Promkes), mempromosikan kebersihan lingkungan dan kondisi
rumah yang sehat (Kesling), memperkenalkan cara pengobatan pasien TB dan Gizi yang baik
(Gizi), dan pemeriksaan dan kualitas dahak yang bagus (Laboratorium) (Puskesmas
Narmada, 2013).

II.3. Monitoring dan Evaluasi Program Penyakit Tuberkulosis Di Puskesmas Narmada


Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai
keberhasilan pelaksanaan program. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus
menerus, untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang
telah direncanakan, supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. Evaluasi dilakukan
setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama, biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Dengan
evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya
dicapai. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. Hasil evaluasi sangat
berguna untuk kepentingan perencanaan dan pengembangan program (Kemenkes RI, 2011;
Kemenkes RI 2012).

5
Untuk menilai kemajuan atau keberhasilan pengendalian TB digunakan beberapa
indikator. Indikator pengendalian TB secara Nasional ada 2 yaitu (Kemenkes RI, 2011;
Kemenkes RI 2012):
 Angka Penemuan Pasien baru TB BTA positif (Case Detection Rate = CDR).
 Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate = SR).
Disamping itu ada beberapa indikator proses untuk mencapai indikator Nasional tersebut di
atas, yaitu (Kemenkes RI, 2011; Kemenkes RI 2012):
 Angka Penjaringan Suspek.
 Proporsi Pasien TB Paru BTA positif diantara Suspek yang diperiksa dahaknya.
 Proporsi Pasien TB Paru BTA positif diantara seluruh pasien TB paru.
 Proporsi pasien TB anak diantara seluruh pasien.
 Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR)
 Angka Konversi
 Angka Kesembuhan.

II.3.a. Angka Penjaringan Suspek Tuberkulosis


Target dari indikator angka penjaringan suspek adalah >50%. Angka penjaringan
suspek TB di Puskesmas Narmada pada tahun 2011 dan 2012 sudah mencapai target, namun
terjadi penurunan angka penjaringan suspek dari tahun 2011 ke tahun 2012. Untuk itu, perlu
dilakukan perbaikan pada kegiata CBA, kontak serumah, dan kontak balita ISPA pada tahun
2013 (Dinkes Lobar, 2012; Hasanah, 2013; Kemenkes RI 2012):
Tabel 2.5. Angka Penjaringan Suspek TB di Puskesmas Narmada tahun 2010-2012
Jumlah Penjaringan Jumlah Target
Tahun Nilai / Hasil
Suspek Suspek
2010 433 944 45,87%
2011 459 883 62,17%
2012 457 901 60,71%

II.3.b. Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR)


Dari tahun 2010 sampai tahun 2012 terjadi peningkatan dalam perentase CDR, namun
masih belum dapat mencapai target indikator. Target indikator CDR adalah >70%. Hal ini
kemungkinan besar diakibatkan oleh tingkat keberhasilan kegiatan-kegiatan program TB di
Puskesmas Narmada yang belum maksimal, ataupun kesadaran masyarakat setempat untuk
memeriksakan diri yang masih kurang. Pada tahun berikutnya, perlu dilakukan CBA di

6
daerah-daerah yang tinggi jumlah pasien baru TB paru BTA positif agar lebih terarah dengan
perencanaan yang lebih matang (Dinkes Lobar, 2012; Hasanah, 2013; Kemenkes RI 2012):
Tabel 2.6. CDR di Puskesmas Narmada tahun 2010-2012
Jumlah Pasien Baru TB Jumlah Target Pasien Nilai /
Tahun
Paru BTA (+) Baru BTA (+) Hasil
2010 33 94 35,11%
2011 43 88 48,86%
2012 44 90 48,89%

II.3.c. Proporsi Pasien Baru TB Paru BTA Positif Diantara Suspek


Nilai target indikator proporsi pasien baru TB BTA positif diantara suspek adalah 5-
15%. Indikator ini menunjukkan mutu dari proses menemuan sampai diagnosis pasien, serta
kepekaan menetapkan kriteria suspek. Dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012, proporsi
pasien baru TB BTA positif diantara suspek di Puskesmas Narmada berada diantara 5-15%,
dan hal ini perlu dipertahankan (Dinkes Lobar, 2012; Hasanah, 2013; Kemenkes RI 2012).
Tabel 2.7. Proporsi Pasien Baru TB Paru BTA Positif Diantara Suspek
di Puskesmas Narmada tahun 2010-2012
Jumlah Pasien Baru TB Jumlah Penjaringan Nilai /
Tahun
Paru BTA (+) Suspek Hasil
2010 33 433 7,62%
2011 43 459 7,83%
2012 44 457 8,04%
II.3.d. Proporsi Pasien Baru TB Paru BTA Positif Diantara Semua Pasien TB Paru
Indikator ini memiliki target >65%. Pada tabel 2.6 dapat dilihat adanya peningkatan
dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2012 sudah mencapai target. Ini menunjukkan bahwa
mutu diagnosis TB paru kasus baru di Puskesmas Narmada sudah baik. Diharapkan nilai ini
bisa dipertahankan atau bahkan meningkat pada evaluasi berikutnya (Dinkes Lobar, 2012;
Hasanah, 2013; Kemenkes RI 2012).
Tabel 2.8. Proporsi pasien baru TB paru BTA positif diantara semua pasien TB paru
di Puskesmas Narmada tahun 2010-2012
Jumlah Pasien Baru TB Jumlah Seluruh Nilai /
Tahun
Paru BTA (+) Pasien TB Paru Hasil
2010 33 66 53,03%
2011 43 70 62,86%
2012 44 59 77,97%

7
II.3.e. Proporsi Pasien TB Anak Diantara Semua Pasien TB
Target dari indikator ini adalah <15%. Selama 3 tahun terakhir, kasus TB anak di
Puskesmas Narmada tidak meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi
overdiagnosis dari kasus TB anak, namun hasil ini tidak menutup kemungkinan akan adanya
kecenderungan untuk terjadinya underdiagnosis (Dinkes Lobar, 2012; Hasanah, 2013;
Kemenkes RI 2012).
Tabel 2.9. Proporsi Pasien TB anak Diantara Semua Pasien TB di Puskesmas Narmada
tahun 2010 sampai dengan tahun 2012
Jumlah Seluruh Nilai /
Tahun Jumlah Pasien TB Anak
Pasien TB Paru Hasil
2010 1 66 1,52%
2011 1 70 1,43%
2012 0 59 0%

II.3.f. Angka Konversi


Target dari indikator ini adalah >80%. Dari tabel 2.8 dapat dilihat bahwa angka
konversi di Puskesmas Narmada sudah mencapai target, namun terjadi penurunan pada tahun
2011 dan 2012 jika dibandingkan dengan tahun 2010. Hal ini diakibatkan karena adanya
pasien yang kurang taat dalam memeriksakan dahaknya pada jadwal yang telah ditentukan,
atau pasien ada pasien yang meninggal pada saat menjalani pengobatan. Perlu dilakukan
suatu inovasi baru untuk meningkatkan ketaatan pasien dalam memeriksakan dirinya seuai
dengan jadwal pengobatan (Dinkes Lobar, 2012; Hasanah, 2013; Kemenkes RI 2012).
Tabel 2.10. Angka Konversi di Puskesmas Narmada tahun 2010 sampai dengan tahun 2012
Jumlah Pasien Baru TB
Jumlah Pasien Baru Nilai /
Tahun Paru BTA (+) yang
TB Paru BTA (+) Hasil
Konversi
2010 33 33 100%
2011 40 43 93,02%
2012 41 44 93,18%

II.3.f. Angka Kesembuhan


Indikator ini memiliki target >85%. Angka kesembuhan di Puskesmas Narmada
mencapai target dalam 3 tahun terakhir, namun terjadi penurunan persentase pada tiap
tahunnya. Hal ini kemungkinan besar akibat dari kurang patuhnya pasien untuk
memeriksakan diri setelah pengobatan lengkap. Untuk itu perlu memberikan motivasi kepada

8
pasien agar tetap memeriksakan diri di akhir pengobatan (Dinkes Lobar, 2012; Hasanah,
2013; Kemenkes RI 2012).
Tabel 2.11. Angka Kesembuhan di Puskesmas Narmada
tahun 2010 sampai dengan tahun 2012
Jumlah Pasien Baru TB
Jumlah Pasien Baru Nilai /
Tahun Paru BTA (+) yang
TB Paru BTA (+) Hasil
Sembuh
2010 33 33 100%
2011 39 43 90,70%
2012 40 44 86,36%

II.3.g. Angka Keberhasilan


Angka keberhasilan di Puskesmas Narmada dari tahun 2010 sampai dengan tahun
2012 adalah sebagai berikut (Hasanah, 2013):
Tabel 2.12. Angka Keberhasilan di Puskesmas Narmada
tahun 2010 sampai dengan tahun 2012
Jumlah Pasien Baru TB
Jumlah Pasien Baru Nilai /
Tahun Paru BTA (+) yang
TB Paru BTA (+) Hasil
Sembuh + Lengkap
2010 33 33 100%
2011 42 43 97,64%
2012 40 44 90,91%
Target dari indikator ini adalah 85%. Angka keberhasilan adalah angka yang menunjukkan
prosentase pasien baru TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang
sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien baru TB paru BTA positif yang
tercatat. Angka keberhasilan di Puskesmas Narmada tercapai dalam 3 tahun terakhir, namun
terjadi penurunan persentase pada tiap tahunnya. Hal ini mengindikasikan adanya penurunan
ketaatan pasien terhadap pengobatan, sehingga perlu diberi penjelasan lebih lanjut mengenai
akibat dari tidak rutin minum obat (Dinkes Lobar, 2012; Hasanah, 2013; Kemenkes RI 2012).

II.4. DOTS (Direct Observed Treatment Short-course)


Sejalan dengan meningkatnya kasus TB, pada awal tahun 1990-an WHO dan
IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) mengembangkan
strategi pengendalian TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Kemenkes RI, 2011).
Di Indonesia pelaksanaan Strategi DOTS di mulai pada tahun 1995/1996. Sebelum
strategi DOTS dilaksanakan (1969-1994), angka kesembuhan TB paru yang dapat dicapai

9
oleh program hanya 40-60% saja, dengan strategi DOTS yang baru ini diharapkan angka
kesembuhan dapat dicapai minimal 85% dari penderita TB BTA positif yang ditemukan
(Asy’ari, 2005). Hasil evaluasi pada tahun 1998 menggambarkan bahwa cakupan penemuan
penderita baru mencapai 9,8% dengan angka keberhasilan mencapai 89%, sehingga WHO
menggolongkan kita sebagai Negara dengan penyelenggaraan program yang baik tetapi
ekspansi sangat lambat. Kajian data ini diperoleh dari Puskesmas pelaksana program DOTS
yang baru mencapai 40% dari 7000 Puskesmas dan RS yang ada (Permatasari, 2005)
Strategi DOTS diartikan sebagai berikut (Asy’ari, 2005):
1. D (Directly). Dilakukan pemeriksaan dengan mikroskop untuk menentukan apakah ada
kuman atau tidak. Agar kasus penderita TB dapat disembuhkan, maka prioritas utama dari
setiap program TB harus langsung pada sumber penyakit. Jadi, penderita dengan
pemeriksaan sputum BTA positif, langsung diobati sampai sembuh.
2. O (Observed). Ada observer yang mengamati pasien dalam minim obat. Hal yang diamati
yaitu saat minum obat dan dosis obat. Observer dapat berupa seorang tenaga kesehatan
atau kader teratih atau keluarga pasien.
3. T (Treatment). Pasien disediakan pengobatan lengkap serta dimonitor. Pasien harus
diyakinkan bahwa mereka akan sembuh setelah pengobatan selesai. Alat monitor berupa
buku laporan yang merupakan bagian dari sistem dokumen kemajuan dalam
penyembuhan.
4. S (Short-course). Pengobatan TB dengan kombinasi dan dosis yang benar. OAT dikenal
dengan Shortcourse chemotherapy. Pengobatan harus dilakukan dalam jangka waktu yang
benar selama 6 bulan.
Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan
kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan
demikian menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien
merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB (Kemenkes RI, 2011).
Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan
pengawasan langsung. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO
(Pengawasan Menelan Obat) (Kemenkes RI, 2011).
a. Persyaratan PMO
 Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun
pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien.
 Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.

10
 Bersedia membantu pasien dengan sukarela.
 Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien
b. Siapa yang bisa jadi PMO
Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya Bidan di Desa, Perawat,
Pekarya, Sanitarian, Juru Immunisasi, dan lain lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang
memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota PPTI, PKK, atau
tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga.
c. Tugas seorang PMO
 Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan.
 Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur.
 Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan.
 Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala
mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat
dari unit pelayanan kesehatan.
d. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan
keluarganya:
 TB disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan.
 TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur.
 Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya.
 Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan).
 Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur.
 Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan
ke Fasyankes.

II.5. MDR-TB (Multiple Drug Resistance Tuberculosis)


Multiple Drug Resistance Tuberculosis (MDR‐TB) adalah suatu keadan dimana M.
tuberculosis telah resisten terhadap INH dan rifampisin saja atau resisten terhadap INH dan
rifampisin serta OAT lini pertama lainnya. Estimasi global terhadap insidensi MDR‐TB pada
tahun 2006 adalah sebesar 489.139 atau sekitar 4,8% dari jumlah total estimasi insidens TB
di 114 negara pada tahun 2006 (10.229.315). Dua negara penyumbang kasus terbesar adalah
China dan India, yang diperkirakan menyumbang sekitar 50% dari seluruh kasus MDR‐TB
dan diikuti oleh Rusia sekitar 7% (Aditama, 2006; Yunita, 2011,).

11
Resistensi obat pada kasus TB adalah masalah yang mendapat perhatian besar dalam
program penanggulangan TB oleh karena beberapa strain MDR‐TB yang sulit diobati. Strain
ini mendapat perhatian oleh karena dapat menyebar di seluruh dunia, menekankan perlunya
peningkatan program kontrol, seperti metode diagnostik baru, obat‐obatan yang lebih efektif
dan penemuan vaksin yang lebih efektif. Pasien dengan MDR-TB membutuhkan pengobatan
lebih lama dengan obat yang sebenarnya kurang efektif namun lebih toksik. Oleh karena itu
sangat penting untuk membedakan diagnosis MDR-TB dengan resistensi lain dengan
melakukan kultur mikrobakterial dan uji sensitifitas karena implikasi terapi yang berbeda.
Kasus kronik dan pengobatan yang gagal memiliki resiko yang lebih besar mendapatkan
resistensi dan MDR‐TB. (Yunita, 2011).
Kejadian kasus TB resisten OAT diantara pasien HIV positif secara nosokomial sudah
secara luas diketahui, namun masih sedikit informasi yang didapat tentang hubungan HIV
dan resistensi OAT dalam tingkat populasi. Ada dua alasan utama kenapa TB resisten OAT
dapat dikaitkan dengan HIV. Pertama adalah terdapatnya resistensi rifampisin diantara pasien
TB dengan HIV dan dalam pengobatan TB, meskipun hal ini berkaitan dengan pengobatan
yang terputus‐putus. Malabsorbsi OAT juga telah berhasil dibuktikan dalam penelitian kohort
pada kelompok dengan prevalensi HIV yang tinggi, yang menunjukkan pasien TB dengan
HIV kemungkinan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mendapatkan resistensi. Alasan
kedua berhubungan dengan paparan, faktor risikonya adalah riwayat dirawat di rumah sakit
yang berarti pasien TB dengan HIV memiliki risiko yang tinggi terpapar kuman yang resisten
(Syahrini et al 2008; Yunita, 2011).
Empat kategori resistensi OAT dapat dibedakan atas (Kemenkes RI, 2011; Yunita,
2011):
 Monoresistance: resistensi terhadap salah satu dari OAT.
 Poly‐resistance: resistensi terhadap lebih dari satu OAT, selain isoniazid (INH) dan
rifampisin secara bersamaan.
 Multidrug‐resistance (MDR): resisten terhadap sekurang‐kurangnya INH beserta
rifampisin.
 Extensive drug‐resistance (XDR): Multidrug‐resistance ditambah resistensi terhadap salah
satu golongan fluoroquinolon, dan sedikitnya satu dari tiga jenis obat lini kedua injeksi
(kapreomisin, kanamisin dan amikasin).

12
Berdasarkan kategori diagnostik TB oleh WHO yang berimplikasi pada perbedaan
regimen pengobatan yang direkomendasikan, kasus MDR‐TB tergolong dalam kategori IV.
Kategori diagnostik IV mencakup (Yunita, 2011):
 MDR‐TB yang sudah terkonfirmasi.
 Dugaan MDR‐TB. Kelompok ini memerlukan wewenang medis yang relevan yang
merekomendasikan bahwa pasien perlu mendapatkan pengobatan Kategori IV. Pasien
dapat dicatat dan memulai pengobatan kategori IV sebelum adanya konfirmasi MDR‐TB
hanya jika adanya survey resistensi obat yang representatif atau data epidemiologik lain
yang mengindikasikan kemungkinan besar kasus tersebut MDR‐TB.
 Polyresistant TB. Beberapa kasus poly‐resistant TB membutuhkan pengobatan kategori
IV. Pasien‐pasien ini membutuhkan pengobatan dengan OAT lini pertama yang lebih lama
(18 bulan atau lebih) diombinasikan dengan dua atau lebih obat lini kedua dan dicatat
sebagai kelompok kategori IV.
Jika ada suspek kasus MDR‐TB berdasarkan riwayat penyakit maupun informasi
epidemiologis, sputum pasien harus diarahkan untuk kultur dan uji sensitifitas OAT dan
mendapatkan regimen pengobatan WHO atau regimen empirik obat lini kedua yang
dianjurkan oleh American Thoracic Society, Centers for Disease Control and Prevention and
the Infectious Diseases Society of America (ATS/CDC/IDSA) sambil menunggu hasil uji
sensitifitas. Pedoman pengobatan selanjutnya berdasarkn hasil uji sensiifitas obat (Syahrini et
al 2008; Yunita, 2011).
Jika hasil uji sensitifitas diperoleh dan terjadi resistensi terhadap isoniazid dan
rifampisin (dengan atau tanpa resistensi terhadap streptomisin) selama fase inisial, maka
digunakan kombinasi dari ethionamide, fluoroquinolon, obat bakteriostatik lain seperti
ethambutol, PZA dan aminoglikosida selama 3 bulan atau sampai terjadi konversi sputum.
Selama fase lanjutan, ethionamide, fluoroquinolon, obat bakteriostatik lain (ethambutol)
sebaiknya digunakan selama minimal 18 bulan sesudah terjadi konversi sputum. Pedoman
terbaru yang dikeluarkan oleh ATS/CDC/IDSA menyarankan bahwa diantara golongan
fluoroquinolon, levofloksasin adalah yang paling sesuai untuk pengobatan MDR‐TB karena
memberikan profil keamanan yang baik pada saat digunakan jangka panjang (Syahrini et al
2008; Yunita, 2011).
MDR‐TB saat ini merupakan masalah baru dalam penanggulangan tuberkulosis.
Berdasarkan survey WHO, insidensinya mengalami peningkatan setiap tahunnya. Penegakan
diagnosisnya memerlukan pemeriksaan mikrobiologis terhadap M.tuberculosis dan

13
sensitifitasnya terhadap OAT lini pertama. Pemeriksaan yang perlu dikembangkan saat ini
adalah yang memberikan hasil yang cepat dan akurat untuk menunjang percepatan
penanggulangan infeksi TB. Obat‐obatan lini kedua dapat dipakai untuk mengatasi strain
MDR dan perlu dikembangkan lagi untuk menghasilkan efektifitas yang baik terhadap strain
MDR dengan sifat toksisitas yang rendah (Syahrini et al 2008; Yunita, 2011).

14
BAB III
LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama Pasien : Tn. S.
Umur : 69 tahun.
Jenis Kelamin : Laki-laki.
Pekerjaan : Tidak bekerja.
Pendidikan terakhir : Tidak sekolah.
Alamat : Tanak Beak Otak Desa.

II. Anamnesis (05-02-2013)


Keluhan utama: Batuk berdahak.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Os sedang menjalani pengobatan fase intensif yang sudah berlangsung selama 7
minggu. Awalnya os mengeluhkan adanya batuk berdahak yang hilang timbul sejak kurang
lebih 3,5 tahun yang lalu. Awalnya os mengira batuk yang dialaminya adalah penyakit batuk
biasa, sehingga os tidak pernah memeriksakan penyakitnya ini ke puskesmas ataupun fasilitas
pelayanan kesehatan. Namun os merasakan bahwa batuknya semakin memberat disertai
dengan dahak yang terkadang berwarna hijau dengan jumlah yang kurang lebih 1 sendok
makan setiap kali batuk, namun os menyangkal adanya riwayat batuknya bercampur darah
ataupun batuk darah sejak pertama kali keluhan batuk muncul. Batuk dirasakan paling berat
pada malam hari sampai-sampai mengganggu tidur, dan biasanya dahak paling banyak pada
saat pagi hari. Os juga mengeluh sering berkeringat malam walau tanpa aktivitas. Os
mengaku bahwa berat badannya terasa menurun dan sering merasa lemas sejak pertama kali
mengalami keluhan batuk tersebut.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Riwayat penyakit jantung (-), hipertensi (-), DM (-), riwayat operasi (-), riwayat
minum OAT (-), asma (-), bronkitis (-).

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama seperti os.

15
Riwayat Pengobatan
Os mengaku bahwa ia biasanya mengkonsumsi obat batuk yang dijual di warung
untuk mengatasi batuk yang dialaminya, namun keluhan batuk sulit mereda. Os dianjurkan
untuk memeriksakan diri ke Puskesmas Narmada oleh salah satu petugas Posyandu. Sejak
memeriksakan diri dan mulai menjalani pengobatan fase intensif, os mengatakan keluhan
batuknya mulai mereda dan tidak mengganggu saat malam hari.

Riwayat Sosial, Ekonomi dan Lingkungan:


 Os memiliki 8 orang anak:
I. Tn. D, 50 tahun, petani, menikah.
II. Tn. R, meninggal 4 tahun yang lalu pada usia 41 tahun akibat kanker, swasta,
menikah.
III. Tn. H, 40 tahun, TKI, menikah.
IV. Tn. S, 37 tahun, TKI, menikah, tinggal bersama os.
V. Tn. S, 33 tahun, nelayan, menikah.
VI. Ny. S, 29 tahun, PRT, menikah.
VII. Ny. R, meninggal 3 tahun yang lalu pada usia 23 tahun akibat kanker,
VIII. Ny. M, meninggal 5 tahun yang lalu pada usia 17 tahun akibat kanker, pelajar,
belum menikah.
 Os tinggal dirumah bersama istrinya, anaknya yang ke-4, menantunya (istri dari anaknya
yang ke-4, Ny. M, 30 tahun, swasta, menikah), dan dua orang cucu (An. T, 14 tahun,
pelajar; An. R, 5 tahun).
 Os mengaku sudah tidak merokok lagi sejak melakukan pemeriksaan dan menjalani
pengobatan dari Puskesmas Narmada. Sebelumnya, os merupakan perokok sejak os masih
muda dan dapat menghabiskan ½ sampai 1 bungkus rokok per hari.
 Os merupakan keluarga ekonomi menengah kebawah. Os tidak bekerja. Penghasilan
keluarga os diperoleh dari hasil kerja anak-anak os.
 Untuk air minum, Os mendapatkan air dari air PDAM tetangga. Os mengaku ia tidak
selalu memasak air hingga mendidih untuk keperluan konsumsi rumah tangga.
 Os memiliki sumur yang terletak di samping rumah, dimana air sumurnya digunakan
untuk berwudhu dan mencuci.
 Os belum memiliki fasilitas MCK di rumahnya, sehingga os dan anggota keluarganya
mandi di sungai yang terletak di dekat rumahnya. Sungai tersebut memang digunakan

16
sebagai fasilitas MCK oleh warga di sekitar rumah os yang masih belum memiliki
fasilitas MCK. Keluarga os sudah memiliki rencana untuk membangun fasilitas MCK
dalam waktu dekat.
 Untuk memasak, keluarga os menggunakan tungku dan kayu bakar.

3m 3m 3m

Gudang
2,5m Berugaq

Kamar V 4m

2,5m Sumur Jendela

Kamar III Kamar IV 3m

2m Dapur I

2m Dapur II

Kamar I Kamar II
3m
1,2m

Jendela Jendela

Gambar 3.1. Denah Rumah Os.

17
III. Pemeriksaan Fisik
Keadaaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 110/90 mmHg
Frek. Nadi : 82 x/menit
Frek. Nafas : 20 x/menit
Suhu : 36,7 º C
Berat Badan : 52 kg
Tinggi Badan : 167 cm
Status Gizi : Kurang

Status Generalis
Kepala-Leher
Kepala : Deformitas (-)
Rambut : Hitam, lurus, lebat
Mata : Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, mata cekung (-)
Telinga : Liang telinga lapang, serumen (+)
Hidung : Deformitas (-), sekret (-)
Tenggorok : Uvula di tengah, arkus faring simetris, tonsil T1-T1, detritus (-)
Gigi dan mulut: Karies dentis (-), sianosis (-)
Leher : Tidak teraba pembesaran KGB

Paru
Inspeksi:
1. Bentuk & ukuran: bentuk dada kiri dan kanan simetris, barrel chest (-), pergerakan dinding
dada simetris.
2. Permukaan dada: papula (-), petechiae (-), purpura (-), ekimosis (-), spider naevi (-), vena
kolateral (-), massa (-).
3. Penggunaan otot bantu nafas: SCM aktif, tidak tampak hipertrofi SCM, otot bantu
abdomen aktif dan hipertrofi (-).
4. Iga dan sela iga: pelebaran ICS (-).
5. Fossa supraclavicularis, fossa infraclavicularis: cekung, simetris kiri dan kanan
Fossa jugularis: tak tampak deviasi
6. Tipe pernapasan: torako-abdominal.

18
Palpasi:
 Trakea: tidak ada deviasi trakea, iktus kordis teraba di ICS V linea parasternal
sinistra.
 Nyeri tekan (-), massa (-), edema (-), krepitasi (-).
 Gerakan dinding dada: simetris kiri dan kanan.
 Fremitus vocal: simetris kiri dan kanan.
Perkusi:
 Sonor seluruh lapang paru.
 Batas paru-hepar  Inspirasi: ICS VI, Ekspirasi: ICS IV; Ekskursi: 2 ICS.
 Batas paru-jantung:
 Kanan: ICS II linea parasternalis dekstra
 Kiri: ICS IV linea mid clavicula sinistra
Auskultasi:
 Cor: S1 S2 tunggal regular, mur-mur (-), gallop (-).
 Pulmo:
 Vesikuler (+) pada seluruh lapang paru .
 Rhonki (-/-).
 Wheezing (-/-).
 Egofoni (-).

Abdomen
Inspeksi:
 Bentuk: simetris
 Umbilicus: masuk merata
 Permukaan kulit: tanda-tanda inflamasi (-), sianosis (-), venektasi (-), ikterik (-),
massa (-), vena kolateral (-), caput meducae (-), papula (-), petekie (-), purpura (-),
ekimosis (-), spider nevy (-)
 Distensi (-)
 Ascites (-)
Auskultasi:
 Bising usus (+) normal
 Metallic sound (-)
 Bising aorta (-)

19
Perkusi:
 Timpani pada seluruh lapang abdomen (+)
 Nyeri ketok (-)
 Nyeri ketok CVA (-/-)
Palpasi:
 Nyeri tekan epigastrium (-)
 Massa (-)
 Hepar/lien/ren: tidak teraba
 Tes Undulasi (-)
 Shifting dullness (-)

Ekstremitas

Inguinal-genitalia-anus : tidak diperiksa

IV. Pemeriksaan Penunjang


- Pemeriksaan sputum hasil BTA +2 (di puskesmas)

V. Diagnosis Kerja
Tuberkulosis paru kasus baru BTA positif.

VI. Penatalaksanaan
Terapi OAT Kategori 1.

20
VII. Prognosis
Dubia at Bonam

VIII. Konseling
 Penyakit yang diderita adalah penyakit TB yang menular dan bisa menyerang
siapa saja.
 Menjelaskan kepada os tentang gejala-gejala pada penyakit TB dan cara
penularannya.
 Membuang dahak pada wadah tertutup yang berisi pasir dan air sabun, diganti
minimal 1x sehari, kemudian menguburnya di tempat yang jarang dilewati
orang.
 Menjelaskan kepada anggota keluarga os yang tinggal serumah dengan os untuk
memeriksakan dahaknya di laboratorium, untuk memastikan adanya anggota
keluarga yang lain yang mengidap penyakit TB seperti os atau tidak.
 Menjelaskan kepada os agar tekun meminum obat dan rutin memeriksakan
dirinya sampai dinyatakan sembuh untuk evaluasi perkembangan penyakit TB di
Puskemas Narmada, meskipun os sudah merasa sehat sebelum dinyatakan
sembuh.
 Jagalah kebersihan rumah dan pencahayaan di dalamnya, buka jendela setiap
hari pagi dan siang hari.
 Menganjurkan pasien mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh.

21
BAB IV
PEMBAHASAN

Os adalah seorang laki-laki berusia 69 tahun yang mengeluhkan adanya batuk


berdahak yang hilang timbul sejak kurang lebih 3,5 tahun yang lalu dan semakin memberat.
Batuk disertai dahak yang terkadang berwarna hijau dengan jumlah yang kurang lebih 1
sendok makan setiap kali batuk, namun os menyangkal adanya riwayat batuknya bercampur
darah ataupun batuk darah sejak pertama kali keluhan batuk muncul. Batuk dirasakan paling
berat pada malam hari sampai-sampai mengganggu tidur, dan biasanya dahak paling banyak
pada saat pagi hari. Os juga mengeluh sering berkeringat malam walau tanpa aktivitas. Os
mengaku bahwa berat badannya terasa menurun dan sering merasa lemas sejak pertama kali
mengalami keluhan batuk tersebut. Dari pemeriksaan fisik didapatkan tidak ada kelainan
pada kedua lapang paru. Dari hasi pemeriksaan laboratotium didapatkan BTA +2, sehingga
pasien ini di diagnosa dengan kasus baru dengan BTA positif.
Berdasarkan hasil penelusuran kasus ini, jika mengacu pada konsep kesehatan
masyarakat, maka dapat ditelaah beberapa faktor yang mempengaruhi atau yang menjadi
faktor resiko terhadap penyakit yang diderita oleh pasien dalam kasus ini.

1. Faktor Genetik/Biologis.
Pada kasus ini, os adalah seorang laki-laki berusia 69 tahun dengan status gizi kurang.
Penyakit TB paru cenderung lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.
Seiring dengan terjaidnya transisi demografi yang menyebabkan usia harapan hidup lansia
menjadi lebih tinggi, pada usia lanjut lebih dari 55 tahun sistem imunologis seseorang
menurun sehingga sangat rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk penyakit TB paru.
Meskipun penyakit TB paru paling sering ditemukan pada usia muda atau usia produktif, 15–
50 tahun. Keadaan malnutrisi, gizi kurang, atau kekurangan kalori, protein, vitamin, zat besi
dan lain-lain, akan mempengaruhi daya tahan tubuh sesoeranga sehingga rentan terhadap
penyakit termasuk TB paru (Hiswani, 2004).

2. Faktor Lingkungan
Lingkungan memegang peranan yang sangat penting dalam terjadinya sebuah
penyakit, apalagi penyakit tersebut adalah penyakit berbasis lingkungan. Hal ini tentu saja
dapat menyebabkan mudahnya terjadi infeksi apabila tidak ada keseimbangan dalam
lingkungan. Dalam kasus ini, lingkungan tempat tinggal Tn. S mendukung terjadinya

22
penyakit TB yang dialaminya tersebut. Lingkungan rumah merupakan salah satu faktor yang
memberikan pengaruh besar terhadap status kesehatan penghuninya. Lingkungan rumah
merupakan salah satu faktor yang berperan dalam penyebaran kuman tuberkulosis. Kuman
tuberkulosis dapat hidup selama 1-2 jam bahkan sampai beberapa hari hingga berminggu-
minggu tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik, kelembaban, suhu
rumah dan kepadatan penghuni rumah (Keman, 2005).
 Pencahayaan Rumah
Keadaan rumah os pada kasus ini tergolong lembab dan kurang cahaya. Rumah os
hanya memiliki satu buah jendela dan satu buah pintu untuk semua ruangan. Bahkan ada
ruangan yang tidak memiliki jendela sama sekali. Os dan keluarga mengaku jarang
membuka jendela dan gorden. Cahaya yang masuk ke dalam rumah os sangat kurang. Hal
ini menyebabkan mikroorganisme dapat berkembang dengan pesat, termasuk kuman dan
bakteri penyebab TB.
Untuk memperoleh cahaya cukup pada siang hari, diperlukan luas jendela kaca
minimum 10% luas lantai, dengan durasi pencahayaan minimal 1 jam setiap hari, dimana
pencahayaan efektif dapat diperoleh pada pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00. Jika
peletakan jendela kurang baik atau kurang leluasa maka dapat dipasang genteng kaca.
Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam
rumah, misalnya basil TB, karena itu rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk
cahaya yang cukup (Keman, 2005).
Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda dari segi lamanya proses
mematikan kuman untuk setiap jenisnya. Cahaya yang sama apabila dipancarkan melalui
kaca tidak berwarna dapat membunuh kuman dalam waktu yang lebih cepat dari pada
yang melalui kaca berwama Penularan kuman TB paru relatif tidak tahan pada sinar
matahari. Bila sinar matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi udara diatur maka
resiko penularan antar penghuni akan sangat berkurang (Helmia & Lulu, 2004).
 Kepadatan Hunian Rumah
Rumah tempat tinggal pasien dalam kasus ini memiliki jarak yang sangat dekat
dengan rumah tetangga-tetangga sekitarnya. Bahkan sebagian besar rumah di lingkungan
tempat tinggal pasien ini tidak memiliki halaman. Jarak antar rumah satu dan lainnya ±
0,5-1 meter. Hal ini tentu saja dapat menjadi faktor pendukung untuk tersebarnya penyakit
TB dengan mudah.
Selain itu, luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di
dalamnya, artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan dengan jumlah

23
penghuninya agar tidak menyebabkan overload. Hal ini tidak sehat, sebab disamping
menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota keluarga terkena
penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain.
Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam
m2/orang. Luas minimum per orang sangat relatif tergantung dari kualitas bangunan dan
fasilitas yang tersedia. Untuk rumah sederhana luasnya minimum 9 m2/orang. Untuk
kamar tidur diperlukan luas lantai minimum 8 m2/orang. Untuk mencegah penularan
penyakit pernapasan, jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang lainnya
minimum 90 cm. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari dua orang, kecuali untuk
suami istri dan anak di bawah 2 tahun. Untuk menjamin volume udara yang cukup, di
syaratkan juga langit-langit minimum tingginya 2,8 m (Keman, 2005).
 Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus dihadapi setiap individu.
Bila seseorang bekerja di lingkungan yang berdebu dengan paparan partikel debu di
daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan.
Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya
gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB paru. Pasien dalam kasus ini tidak
bekerja lagi, dan hampir selalu berada di lingkungan rumah sepanjang hari. Di rumah, istri
os memasak dengan menggunakan kayu bakar, sehingga os kerap terpapar polutan secara
kronis. Sebelumnya os merupakan seorang petani dan sehari-hari dapat menghabiskan ½
sampai 1 bungkus rokok per hari. Petani memiliki resiko terpapar partikel padi, pupuk dan
pestisida selama bekerja. Hal ini meningkatkan resiko pasien terkena penyakit saluran
napas.
Jenis pekerjaan seseorang juga mempengaruhi terhadap pendapatan keluarga yang
akan mempunyai dampak terhadap pola hidup sehari-hari diantara konsumsi makanan,
pemeliharaan kesehatan selain itu juga akan mempengaruhi terhadap kepemilikan rumah
(kontruksi rumah) (Keman, 2005).
 Riwayat Kontak
Os kurang memperhatikan adanya orang-orang di lingkungan tempat tinggal dan di
lingkungan kerjanya yang memiliki gejala batuk berdahak yang lama seperti yang
dialaminya. Os menyangkal adanya orang tua ataupun saudara os yang memiliki gejala
yang sama dengan os sebelumnya. Sudah dilakukan pemeriksaan sputum BTA pada
semua anggota keluarga yang tinggal bersama os, dan semua menunjukkan hasil negatif.
Sehingga sulit untuk mencari sumber penularan kuman BTA positif pada os.

24
3. Faktor Perilaku
Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Pengetahuan penderita
TB paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh
terhadap sikap dan perilaku sebagai orang sakit dan akhinya berakibat menjadi sumber
penular bagi orang disekelilingnya.
 Pengetahuan Yang Kurang Tentang TB
Os dan keluarga sebelumnya tidak mengetahui tentang TB, pengertian, faktor resiko,
penularan, akibat dsb. Pengetahuan yang rendah ini mempengaruhi tindakanya yang
menjadi kurang tepat. Pasien dan keluarga mengaku jarang membuka jendela rumah,
memasak menggunakan kayu bakar dan tidak segera memeriksakan diri ketika sudah ada
gejala sakit yang mengarah ke TB.
 Kebiasaan Meludah Sembarangan
Sebelum datang berobat, os memiliki kebiasaan meludah sembarangan yang sangat
berpengaruh terhadap penularan TB di lingkungan sekitar os. Hal ini berkaitan dengan
kurangnya pengetahuan os dan keluarga tentang penyakit TB itu sendiri. Bukan hanya os
saja, namun masih banyak didapatkan warga masyarakat yang meludah sembarangan, dan
ini cukup menghawatirkan apabila warga-warga tersebut memang menderita penyakit TB
paru BTA positif.
 Kebiasaan Merokok
Os dalam kasus ini termasuk mempunyai riwayat perokok berat. Dalam satu hari os
bisa menghabiskan ½ sampai 1 bungkus rokok per hari. Kebiasaan merokok meningkatkan
resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2,2 kali. Dengan adanya kebiasaan merokok akan
mempermudah untuk terjadinya infeksi TB Paru.
 Kebiasaan Memasak Menggunakan Kayu Bakar
Istri os memiliki kebiasaan memenuhi kebutuhan akan pangannya menggunakan kayu
bakar, dimana kayu bakar memiliki polutan yang berbahaya untuk terjadinya kelemahan
sistem imun akibat terpapar polusi kronis.
 Kurang Memperhatian Kegiatan Kesehatan Disekitar
Os tidak pernah mengikuti kegiatan-kegiatan kesehatan masyarakat yang diadakan
oleh puskesmas seperti Posyandu Lansia, padahal jika dilihat dari usia, os termasuk dalam
sasaran program tersebut.

25
4. Faktor Pelayanan Kesehatan
 Penyuluhan Tentang PHBS Dan TB Yang Lebih Terarah
Os dan keluarga mengaku belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang cara hidup
bersih dan sehat serta TB dari Puskesmas sebelum datang memeriksakan diri ke
Puskesmas Narmada. Os juga mengatakan tidak mengetahui adanya posyandu keliling di
dusunnya. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya informasi yang didapatkan pasien
mengenai kegiatan yang diadakan oleh Puskesmas atau karena memang dusun tempat os
tinggal belum diadakan posyandu keliling sebelum os memeriksakan diri.
Dari beberapa uraian faktor tersebut di atas, dapat diketahui bahwa banyak hal yang
dapat menyebabkan pasien dalam kasus ini menderita TB. Ketidakseimbangan antara faktor
pejamu, agen dan lingkungan dapat menyebabkan timbulnya suatu penyakit. Selain itu
adanya faktor-faktor dalam empat determinan kesehatan, seperti faktor biologis, lingkungan,
perilaku, dan faktor pelayanan kesehatan dapat menjadi penyebab timbulnya suatu penyakit
dalam masyarakat.
Jika dilihat dari empat determinan tersebut di atas, dapat dirumuskan bahwa penyebab
terbesar TB pada pasien dalam kasus ini apabila dilihat dari aspek kesehatan masyarakatnya
yaitu dari aspek perilaku. Aspek perilaku untuk hidup bersih dan sehat sering menjadi
penyebab suatu penyakit muncul dan tidak dapat diberantas dalam lingkungan seseorang.
Berikut ini digambarkan secara skematis faktor-faktor penyebab terjadinya tuberkulosis pada
pasien dalam kasus ini dilihat dari konsep kesehatan masyarakat.

26
BIOLOGIS
Usia Dan Imunitas
Usia 69 tahun termasuk usia
dengan resiko penyakit infeksi
(virus, bakteri) yang besar
karena imunitas pada usia
lanjut makin rendah.

Jenis Kelamin
Laki-laki lebih beresiko untuk
menderita TB daripada
perempuan

DIABETES

PERILAKU MELITUS
Kebiasaan Merokok

Kebiasaan Meludah
LINGKUNGAN
Sembarangan DIABETES Pencahayaan Rumah

TB
MELITUS Kepadatan Hunian Rumah
Tingkat pengetahuan serta
pendidikan yang kurang
mengenai TB dan pola hidup Pekerjaan
bersih dan sehat
DIABETES Riwayat Kontak
Memasak Dengan Kayu Bakar
MELITUS
Perhatian Terhadap Kesehatan

DIABETES
PELAYANAN
KESEHATAN
MELITUS
Penyuluhan tentang TB
dan PHBS yang lebih
terarah

DIABETES

MELITUS

DIABETES

MELITUS

27

DIABETES
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Dalam program TB yang dilaksanakan di Puskesmas Narmada, hanya indikator CDR
yang belum mencapai target yang telah ditentukan.
2. Faktor yang menjadi faktor resiko terjadinya TB pada pasien dalam kasus ini yaitu
faktor usia, jenis kelamin, pencahayaan rumah, pengetahuan, kebiasaan merokok,
memasak menggunakan kayu bakar, dan kurangnya akses terhadap pelayanan
kesehatan.
3. Faktor-faktor tersebut sesuai dengan determinan masalah kesehatan yang dikemukakan
oleh H.L. Bloom yaitu determinan biologis, lingkungan, perilaku dan pelayanan
kesehatan.

5.2 Saran
1. Perlu dilakukan CBA di daerah-daerah yang tinggi jumlah pasien baru TB paru BTA
positif agar penemuan kasus lebih terarah dengan perencanaan yang lebih matang.
2. Upaya promosi dan preventif terutama dari aspek peningkatan Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS) sebagai salah satu upaya dalam menurunkan angka kejadian
penyakit TB di Kecamatan Narmada masih perlu terus dilakukan.

28
Lampiran:
Foto Rumah dan Lingkungan Sekitar Rumah Tn. S:

Gb.1. Tampak Depan Rumah Tn. S. Gb.2. Kamar I

Gb.3. Pintu dan Jendela Kamar I Gb.4. Kamar II

Gb.5. Kamar III Gb.6. Kamar IV

29
Gb.7. Kamar V Gb.8. Langit-langit Rumah Tn. S.

Gb.9. Tampak Depan Gudang Gb.10. Isi Gudang.

Gb.11. Dapur I Gb.12. Dapur II

30
Gb.13. Sumur Tn. S. Gb.14. Tampak Dalam Sumur Tn.S.

Gb.15. Berugaq Tn. S. Gb.16. Sungai Tempat Keluarga Tn. S.


Mandi

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Aditama, T.Y., 2006, ‘XDR-TB’, Jurnal Tuberkulosis Indonesia, September, 3(2), 20-
22.
2. Asy’ari, 2005, ‘Determinan Pencapaian Penemuan Kasus (Case Finding) Penderita TB
Paru Di Puskesmas Mandala Kota Medan Tahun 2005’, Skripsi S.KM, Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatra Utara, Medan.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2002, ‘Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis, Cetakan ke-8’, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
4. Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, 2012, ‘Penemuan Suspek Dan BTA (+) Per
Puskesmas Di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2011-2012’, Dinas Kesehatan
Kabupaten Lombok Barat, Lombok Barat.
5. Girsang, M., 2002, Pengobatan Standar Penderita TBC’, Cermin Dunia Kedokteran 137,
6-8.
6. Hasanah, 2013, ‘Data Hasil Cakupan P2 TB Puskesmas Narmada 2010-2012’, P2M,
Puskesmas Narmada, Narmada, Lombok Barat.
7. Helmia, Lulu, M., 2004, ‘Tuberkulosis’, dalam Alsagaff, H., Wibisono, M.J., &
Winariani, Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru, pp. 10-28, Bagian Ilmu Penyakit Paru,
FK UNAIR-RSU dr. Soetomo, Surabaya.
8. Hiswani, 2004, ‘Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi Yang Masih Menjadi Masalah
Kesehatan Masyarakat’, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatra
Utara, Medan.
9. Keman, S., 2005, ‘Kesehatan Perumahan Dan Lingkungan Pemukiman’, Jurnal
Kesehatan Lingkungan, Juli, 2(1), 29-42.
10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
Dan Penyehatan Lingkungan, 2011, ‘Pedoman Nasional Pengendalian
Tuberkulosis’, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
11. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
Dan Penyehatan Lingkungan, 2012, ‘Monitoring Dan Evaluasi Program
Pengendalian Tuberkulosis’, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
12. Permatasari, A., 2005, ‘Pemberantasan Penyakit TB Paru Dan Strategi DOTS’, Bagian
Paru, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatra Utara, Medan.
13. Puskesmas Narmada, 2013, ‘Laporan Tahunan Puskesmas Narmada Tahun 2012’,
Puskesmas Narmada, Narmada, Lombok Barat.

32
14. Syahrini, H., Zubir, Z., Keliat, E.N., Abidin, A., 2008, ‘Tuberkulosis Paru Resistensi
Ganda’, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas
Sumatra Utara, Medan.
15. Yunita, R., 2011, ‘Multi-Drug Resistance Tuberculosis’, Departemen Mikrobiologi,
Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatra Utara, Medan.

33