Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Hari/ tanggal : Kamis/ 12 Mei 2016

Biokimia Umum Waktu : 12.00 – 14.30 WIB.


PJP : Puspa Puspita J, S.Si, M.Sc.
Asisten : 1. Sabighoh Zanjabila
2. Sri Novita Sagita

MINERAL
Kelompok 3
Sutisno B04150042
Resti Indana B04150052
Nais Nashiatul K B04150187

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
PENDAHULUAN

Mineral merupakan unsur-unsur kimia yang dapat terkandung dalam


jaringan tubuh (bahan anorganik). Unsur-unsur yang bukan merupakan bahan
anorganik, yaitu karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Karbon, hidrogen,
oksigen, dan nitrogen merupakan unsur utama penyusun bahan organik (Gilvery
1996). Mineral dapat diperoleh dari pisang (kalium), susu (kalsium), sayuran hijau
(magnesium), dan sebagainya. Mineral juga terkandung dalam tulang makhluk
hidup. Mineral memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh baik
pada tingkat sel, jaringan, organ, maupun fungsi tubuh secara keseluruhan. Mineral
juga berperan sebagai katalis dan kofaktor aktifitas berbagai enzim dalam setiap
tahap metabolisme (Darmono 1995).
Mineral berdasarkan kegunaannya dalam aktifitas hidup dapat dibagi
menjadi 2 golongan yaitu golongan esensial dan nonesensial (Winarno 1984).
Mineral esensial merupakan sumber mineral yang diperoleh dari luar karena tubuh
tidak mensintesis beberapa mineral yang diperlukan oleh tubuh. Apabila
kekurangan mineral esensial dapat menyebabkan kelainan proses fisiologis atau di
sebut penyakit defisiensi mineral. Mineral ini biasanya terikat dengan protein,
termasuk enzim untuk proses metabolisme tubuh, yaitu kalsium (Ca), klorida (Cl),
sulfur (S), magnesium (Mg), besi (Fe), dan lain-lain. Mineral non-esensial
merupakan sumber mineral yang diperoleh di dalam tubuh (Darmono 1995).
Mineral berdasarkan jumlahnya terbagi menjadi makromineral, mikromineral, dan
mineral renik (Suharjdo 1886). Makromineral merupakan mineral yang dibutuhkan
dalam jumlah banyak seperti kalsium, fosfor, magnesium, natrium, kalium, klorida,
dan sulfur. Mikromineral merupakan mineral yang dibutuhkan dalam jumlah
sedikit seperti zat besi, seng, tembaga, dan fluorida. Mineral renik (trace elements)
diperlukan dalam jumlah yang sangat sedikit seperti yodium, selenium, mangan,
kromium, molibdenin, boron, dan kobalt (Poedjiadi 1994).
Unsur mineral merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan oleh
makhluk hidup disamping karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin. Mineral juga
dikenal sebagai zat anorganik atau kadar abu. Sebagai contoh bila bahan biologis
dibakar, semua senyawa organik akan rusak, sebagian besar karbon berubah
menjadi gas karbon dioksida (CO2), hidrogen menjadi uap air, dan nitrogen menjadi
uap nitrogen (N2). Sebagian besar mineral akan tertinggal dalam bentuk abu dalam
bentuk senyawa anorganik sederhana serta akan terjadi penggabungan antar
individu atau dengan oksigen sehingga terbentuk garam anorganik (Davis dan
Mertz 1987).
Mineral yang masuk kedalam tubuh lewat makanan sebagian diabsorpsi
oleh dinding usus. Makanan yang masuk kedalam tubuh terdiri dari bahan organik
dan air sebesar 96% dan sisanya terdiri dari unsur mineral. Mineral dikenal sebagai
zat anorganik atau kadar abu. Proses pembakaran bahan-bahan organik terbakar
tetapi zat anorganik tidak terbakar karena itu bahan aorganik disebut abu (Winarno
1992). Percobaan ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui berbagai jenis mineral
yang terkandung dalam abu tulang serta mengidentifikasi komposisi mineral dalam
tulang dengan uji-uji kualitatif, yaitu uji klorida, uji sulfat, uji kalsium, uji fosfat,
uji magnesium, serta uji besi.
METODE PRAKTIKUM

Tempat dan Waktu Praktikum


Percobaan dilakukan di laboratorium pendidikan Biokimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Waktu
pelaksanaan praktikum pada hari Kamis, 12 Mei 2016, pukul 12.00-14.30 WIB.

Alat dan Bahan


Bahan-bahan yang digunakan, yaitu filtrat abu tulang, NH4OH pekat, HCl
10%, akuades, kristal dinatrium hidrogen fosfat, asam asetat 10%, urea 10%,
pereaksi ferosulfat khusus, kristal amonium klorida, larutan amonium tiosianat,
HNO3 10%, AgNO3 2%, BaCl2, amonium oksalat 1%, pereaksi molibdat khusus,
kristal amonium karbonat, NH4OH 10%, dan larutan kalium ferosianida. Alat-alat
yang digunakan, yaitu penangas air dan alat-alat gelas.
Filtrat abu tulang ditambahkan NH4OH pekat sampai menjadi basa. Filtrat
yang telah basa akan mengubah kertas lakmus merah menjadi biru. Filtrat dan
endapan dipisahkan dengan cara disaring, kemudian hasil filtrat digunakan untuk
uji klorida dan uji sulfat. Endapan yang diperoleh dari penyaringan ditambahkan
larutan asam asetat 10% yang digunakan untuk uji kalsium, uji fosfat, dan uji
magnesium. Sisa endapan yang tidak larut dalam asam asetat 10% digunakan untuk
uji besi.

Prosedur Percobaan
Uji klorida. Sebanyak 1 mL filtrat diasamkan dengan larutan HNO3 10%,
kemudian ditambahkan larutan AgNO3 2%. Endapan putih yang terbentuk
menunjukkan adanya klor.
Uji sulfat. Sebanyak 1 mL diasamkan dengan larutan HCl 10%, kemudian
ditambahkan larutan BaCl2. Endapan putih yang terbentuk menunjukkan adanya
sulfat.
Uji kalsium. Sebanyak 1 mL filtrat ditambahkan 1 mL amonium oksalat 1%.
Endapan putih yang terbentuk menunjukkan adanya kalsium.
Uji fosfat. Sebanyak 1 mL filtrat ditambahkan1 mL larutan urea 10% dan
pereaksi molibdat khusus. Campuran dicampurkan dengan rata, kemudian
sebanyak 1 mL larutan ferosulfat khusus ditambahkan ke dalam filtrat. Warna biru
yang terbentuk pada larutan yang makin lama makin pekat menunjukkan adanya
fosfat.
Uji magnesium. Sebanyak 3 mL filtrat dipanaskan selama 3 menit dalam
penangas air yang mendidih. Amonium karbonat dan amonium klorida
ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam filtrat panas. Endapan yang terbentuk
disaring. Filtrat yang diperoleh dari hasil penyaringan ditambahkan kristal
dinatrium hidrogen fosfat dan larutan amonium hidroksida sampai basa. Endapan
putih yang terbentuk menunjukkan adanya magnesium.
Uji besi. Endapan yang tidak larut dalam asam asetat ditambahkan dengan
larutan HCl 10% sebanyak 10 mL. Filtrat asam klorida dibagi menjadi dua. Salah
satu filtrat ditambahkan dengan 1 mL amonium tiosianat. Warna merah yang
terbentuk menunjukkan adanya besi I. Sebanyak 1 mL larutan kalium ferosianida
ditambahkan ke dalam filtrat asam klorida lainnya. Warna biru atau hijau yang
terbentuk menunjukkan adanya besi II.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembuatan abu tulang didasarkan pada metode gravimetri. Analisis


gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa
tertentu. Pemisahan unsur-unsur atau senyawa yang dikandung suatu sampel dalam
analisis gravimetri dapat dilakukan dengan metode pengendapan, metode
penguapan, metode elektroanalisis, atau berbagai macam metode lainnya. Metode
pengendapan dan penguapan merupakan metode yang terpenting. Metode
pengendapan berdasarkan pemisahan endapan yang sukar larut dan komposisinya
diketahui, sedangkan metode penguapan berdasarkan pemisahan senyawa yang
mudah menguap (Khopkar 1990).
Percobaan (Tabel 1) yang dilakukan menggunakan metode penguapan untuk
menghasilkan abu tulang sapi. Pembakaran akan menghancurkan senyawa-
senyawa organik ke dalam bentuk gas yang mudah terbang. Mineral sebagai
senyawa anorganik akan tertinggal di dalam bentuk abu yang dapat digunakan
untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Tulang terdiri dari air, bahan organik, dan
bahan anorganik. Pemanasan tulang pada suhu 400°C akan menyebabkan air serta
bahan organik menguap. Abu yang dihasilkan terdiri dari bahan anorganik yang
digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Perendaman tulang dalam
larutan asam atau pemanasan tulang dalam air akan menyebabkan terlarutnya bahan
anorganik. Sisanya yang berbentuk matriks terdiri dari air dan bahan organik.
Tulang yang digunakan pada percobaan ialah tulang sapi. Komposisi utama
jaringan tulang jumlahnya bergantung pada spesies, umur, jenis kelamin, jenis
tulang dan posisi dalam tulang. Komposisi tulang secara umum terdiri dari 55%
material anorganik (mineral tulang), 30% organik dan 15% air. Tepung tulang
mengandung klorida, kalsium, fosfat, magnesium, dan besi, sedangkan sulfat
ditemukan dalam jumlah sangat kecil (Siswono 2001). Abu tulang dapat di sebut
juga dengan garam anorganik ataupun mineral, karena abu tulang terdiri dari bahan
anorganik yang berbentuk garam-garamnya.

Tabel 1 Data hasil penentuan uji mineral


Filtrat Endapan
Uji
Klorida Sulfat Kalsium Fosfat Magnesium Besi I Besi II
Hasil
+ + + - + + +
pengamatan
Endapan Endapan Endapan Merah
Warna Biru Bening Hijau
putih putih putih muda

Gambar

Keterangan: (+) mengandung mineral, (-) tidak mengadung mineral


Pengujian dilakukan dengan menggunakan filtrat yang dibasakan oleh
NH4OH sehingga terbentuk endapan dan juga filtrat. Perlakuan ini bertujuan
memisahkan beberapa mineral dari filtrat membentuk endapan, sehingga mineral
dapat diikat oleh senyawa lain. Filtrat yang dihasilkan diuji dengan uji klorida dan
uji sulfat. Penambahan HNO3 pada uji klorida agar suasana larutan menjadi asam.
Tujuannya untuk memisahkan mineral dari filtrat sehingga mineral mudah diikat
oleh senyawa reaktif lain yang dapat bereaksi dengan mineral membentuk suatu
endapan putih dalam larutan. Senyawa yang ditambahkan pada uji klorida ialah
larutan AgNO3. Senyawa AgNO3 merupakan garam yang dapat bereaksi dengan
sulfat, sehingga dapat membentuk endapan AgCl. Reaksi pembentukan endapan
putih AgCl dapat dilihat pada gambar 1.

Cl- + AgNO3 → AgCl (endapan putih) + NO3-


Gambar 1 Reaksi yang terjadi pada uji klorida (Svehla 1985)

Hasil percobaan menunjukkan bahwa abu tulang sapi mengandung klorida


sesuai dengan pernyataan Siswono (2001) bahwa tulang sapi mengandung klorida.
Filtrat juga diuji dengan uji sulfat. Prinsip pengasaman sama dengan uji klorida.
Pengasaman dilakukan dengan penambahan HCl dan ditambahkan BaCl2, sehingga
terbentuk endapan putih BaSO4 jika positif mengandung sulfat, dengan reaksi dapat
dilihat pada gambar 2.

SO42- + BaCl2 → BaSO4 (endapan putih) + 2Cl-


Gambar 2 Reaksi yang terjadi pada uji sulfat (Svehla 1985)

Hasil percobaan menunjukkan bahwa tulang sapi mengandung sulfat. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Siswono (2001) bahwa tulang sapi mengandung sulfat. Hasil
yang negatif dapat disebabkan oleh sifat sulfat sebagai unsur makro sehingga tidak
dapat dengan mudah diendapkan dan sulfat ditemukan dalam jumlah sangat kecil sehingga
sulit diamati keberadaan sulfat dalam sampel.
Endapan yang dihasilkan dari uji sebelumnya diuji dengan uji kalsium, fosfat,
magnesium, dan besi. Endapan yang diuji ditambahkan dengan asam asetat untuk
melarutkan kalsium, magnesium, dan fosfat, sedangkan endapan yang terbentuk
dari sisa penambahan asam akan diuji dengan uji besi untuk mengetahui keberadaan
unsur besi dalam tulang sapi. Uji kalsium dilakukan dengan menambahkan
amonium oksalat sehingga dapat membentuk endapan putih kalsium oksalat dengan
reaksi dapat dilihat pada gambar 3.

Ca2+ + (NH4)2C2O4 → CaC2O4 (endapan putih) + 2 NH4+


Gambar 3 Reaksi yang terjadi pada uji kalsium (Svehla 1985)

Hasil percobaan menunjukkan bahwa abu tulang sapi mengandung kalsium sesuai
dengan pernyataan Siswono (2001). Fosfat diuji dengan menambahkan urea
sehingga dihasilkan urea yang terikan pada fosfat dengan cara memutus ikatan
rangkap dengan atom O, kemudian mineral ini dapat bereaksi dengan larutan
ferosulfat khusus membentuk persenyawaan berwarna biru atau hijau kebiruan
karena senyawa ferosulfat reaktif dengan fosfat dan membentuk senyawa kompleks
berwarna. Reaksi yang terjadi pada uji fosfat dapat dilihat pada gambar 4.
PO43- + FeSO4 → Fe3(PO4)2 (biru) + SO42-
Gambar 4 Reaksi yang terjadi pada uji fosfat (Suharjdo 1886)

Hasil percobaan menunjukkan bahwa abu tulang sapi tidak mengandung


fosfat. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Siswono (2001). Magnesium dalam
reaksi biokimia berperan sebagai koenzim sehingga membantu reaksi dapat
berlangsung (Poedjiadi 1994). Mineral ini pada percobaan diuji keberadaanya
dengan pemanasan agar sampel teraktivasi dan mineral dapat sedikit melonggar
ikatan senyawanya dengan senyawa lain dalam filtrat. Penambahan amonium
karbonat dan amonium klorida dilakukan untuk membentuk endapan yang bukan
magnesium yang dapat bereaksi sama seperti magnesium membentuk endapan
ketika ditambahkan dinatrium hidrogen fosfat dan amonium hidroksida. Jika filtrat
direaksikan dengan larutan dinatrium hidrogen fosfat maka akan terjadi endapan
putih. Awalnya magnesium klorida tidak akan mengendap, karena amonium klorida
berfungsi sebagai buffer. Konsentrasi ion hidroksida dari amonium hidroksida
berdasarkan kerja aksi massa akan didesak kembali dengan bertambahnya
konsentrasi ion amonium (Poedjiadi 1994). Reaksi yang terjadi pada uji magnesium
dapat dilihat pada gambar 5.

Mg2+ + NaHPO4 → MgHPO4 (endapan putih) + 2 Na+


Gambar 5 Reaksi yang terjadi pada uji magnesium (Svehla 1985)

Hasil percobaan menunjukkan bahwa abu tulang sapi mengandung


magnesium sesuai dengan pernyataan Siswono (2001). Uji besi dilakukan dengan
menambahkan asam klorida pada endapan yang tidak larut saat penambahan asam
asetat. Uji besi yang pertama dengan amonium tiosianat dan uji besi yang kedua
dengan kalium ferosianida. Besi akan membentuk senyawa berwarna dengan
larutan amonium tiosianat (membentuk warna merah) dan beraksi dengan kalium
ferosianida (membentuk warna biru atau hijau). Adanya warna merah, biru atau
hijau menandakan adanya besi dan berdasarkan percobaan terbentuk warna merah
muda seulas dan hijau. Perbedaan ion besi menyebabkan perbedaan reaksi yang
terjadi, sehingga warna yang terjadi juga berbeda. Reaksi yang terjadi pada ion
Fe2+ dapat dilihat pada gambar 6.

Fe2+ + 6 NH4SCN → [Fe(SCN)6]3- (merah) + 6 NH4+


Gambar 6 Reaksi yang terjadi pada uji Fe2+ (Suharjdo 1886)

Reaksi yang terjadi pada ion Fe3+ dapat dilihat pada gambar 7.

4 Fe+3 + 3 K4[Fe(CN)6] → Fe4[Fe2(CN)6)]3 (hijau) + 12 K+


Gambar 7 Reaksi yang terjadi pada ion Fe3+ (Suharjdo 1886)

Hal ini menandakan bahwa abu tulang sapi mengandung besi sesuai dengan
pernyataan Siswono (2001). Aplikasi pengujian mineral dalam dunia industri yaitu
dalam penentuan jumlah dan jenis mineral yang digunakan untuk membuat pakan
ternak agar ternak dapat tumbuh dengan baik, selain itu juga untuk penentuan
jumlah dan jenis mineral yang digunakan dalam membuat produk makanan yang
bergizi tinggi serta minuman seperti susu. Pengujian mineral terutama pada mineral
Ag, Hg, dan Pb juga berguna untuk mengetahui kadar logam berat dalam makanan,
seperti kerang dan telur asin.
Manfaat mineral untuk tubuh cukup banyak. Berbagai jenis mineral yang ada
memiliki fungsi masing-masing yang sangat penting untuk tubuh. Sebagian besar
mineral membantu untuk menjaga metabolism, keseimbangan air dalam tubuh,
serta menjaga kesehatan tulang. Beberapa manfaat mineral di antaranya boron
bermanfaat untuk kesehatan tulang, menjaga fungsi otak, antipenuaan, mencegah
kanker, mengobati penyakit alzheimer, dan nyeri otot. Kalsium menjaga kesehatan
tulang, mencegah artritis, menjaga kesehatan gigi, berperan dalam penurunan berat
badan, mencegah kanker usus besar, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi.
Tembaga bermanfaat untuk fungsi otak, perawatan kulit, mncegah radang sendi,
infeksi tenggorokan, kekurangan hemoglobin, kekebalan, dan penyakit jantung.
Besi membantu pembentukan hemoglobin, menjaga metabolisme tubuh, membantu
mengatasi anemia, dan menjaga fungsi otak. Magnesium bermanfaat untuk
mencegah tekanan darah tinggi, serangan jantung, kram, diabetes, asma, menjaga
kesehatan tulang, dan baik untuk masa kehamilan. Kalium mengatur tekanan darah,
mencegah penyakit jantung, gangguan otot, gangguan ginjal, radang sendi, menjaga
ketersediaan air dalam tubuh, dan sebagainya.
Mineral berperan penting ketika asupannya dalam tubuh cukup. Kekurangan
maupun kelebihan mineral tidak baik untuk kesehatan tubuh. Contohnya
kekurangan kalsium dalam diet seseorang menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan tulang dan gigi, riketsia pada anak-anak, dan dapat mengakibatkan
osteoporosis pada orang dewasa. Kelebihan kalsium dapat menyebabkan kerusakan
pada ginjal. Kelebihan kalsium tidak akan diserap tubuh sebagai simpanan, tapi
akan dikeluarkan melalui urin sehingga membuat kerja ginjal menjadi semakin
berat. Mineral lainnya yaitu selenium. Selenium diperlukan untuk sintesis salah satu
dari enzim antioksidan. Penyakit keshan merupakan suatu penyakit yang
disebabkan oleh virus dan merusak otot jantung yang bisa dicegah dengan
pemberian selenium tambahan. Kekurangan selenium dapat menyebabkan bayi
prematur dan orang dewasa yang menerima makanan parenteral total tanpa
tambahan selenium memiliki risiko terjadinya kerusakan jantung dan otot.
Kelebihan Selenium dapat menimbulkan efek yang sangat berbahaya yang bisa
diakibatkan karena mengkonsumsi tambahan selenium yang tidak diresepkan oleh
dokter sebanyak 5-50 miligram/hari dengan gejalanya terdiri dari mual, muntah,
rambut rontok, kuku rontok, ruam di kulit, serta kerusakan saraf.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
komposisi mineral yang terdapat pada tulang yaitu klorida, kalsium, magnesium,
fero (Fe2+), dan feri (Fe3+). Kandungan mineral pada tiap uji berbeda-beda, ada yang
mengendap dan ada juga yang tidak mengendap. Hal ini dikarenakan mineral
mempunyai sifat organik dan anorganik.
Saran
Sebelum praktikum dimulai hendaknya praktikan memperhatikan aturan-
aturan pemakaian alat-alat laboratorium agar tidak terjadi kesalahan yang fatal
sehingga dapat mempengaruhi hasil percobaan. Alat yang akan digunakan
hendaknya dicuci dan dibersihkan terlebih dahulu supaya kesterilan bahan yang
diamati dan diuji terjaga. Jumlah alat tiap kelompok hendaknya sama agar tidak
terjadi pergantian alat dengan kelompok lain sehingga dapat memperlambat
praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Darmono. 1995. Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. Jakarta (ID): UI
Press.
Davis G dan Mertz W. 1987. Trace Elements in Human and Animal. San Diego
(CA): Academic Press.
Gilvery G. 1996. Biokimia: Suatu Pendekatan Fungsional. Surabaya (ID):
Universitas Airlangga Press. Ed. ke-3.
Khopkar SM. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta (ID): UI Press.
Terjemahan dari: Basic Concepts of Analytical Chemistry.
Poedjiadi A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta (ID): UI Press.
Siswono. 2001. Mineral dalam kehidupan Gizi. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka
Utama.
Suharjdo. 1886. Pangan, Gizi, dan Pertanian. Jakarta (ID): UI Press.
Svehla G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro.
Jilid ke-2. Jakarta (ID): PT Kalman Media Pusaka. Terjemahan dari:
Textbook of Macro and Semimicro Qualitative Inorganic Analysis. Ed.
ke-5.
Winarno FG. 1984. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka
Utama.