Anda di halaman 1dari 11

RESUME

Norma & Etika dalam


Pemasaran &
Perlindungan
Konsumen
ETIKA BISNIS
[NORMA & ETIKA DALAM PEMASARAN & PERLINDUNGAN KONSUMEN] ETIKA BISNIS

Oleh :

1. RIZKA YOHANA (1610210394)


2. RANI ASTIKA PUTRI (1610210460)
3. OEIRIKA LYASARI (1610210785)

2
[NORMA & ETIKA DALAM PEMASARAN & PERLINDUNGAN KONSUMEN] ETIKA BISNIS

1. FUNGSI ETIKA DALAM KONSEP BAURAN PEMASARAN 4P (PRODUCT,


PLACE,PRICE,PROMOTION)
Bauran pemasaran disebut juga dengan istilah marketing mix yang merupakan pengertian
dari pemasaran itu sendiri (ruang lingkupnya). Sering dari kita, baik anda dan saya mendengar
istilah pemasaran, dikehidupan sehari-hari, dikantor, di sekolah, bahkan di tempat tongkrongan.
Apapun menyangkut produk (barang dan jasa) pasti ada pemasaran dalam pembahasannya.
Kebanyakan “menjual” produk dan jasa mengistilahkan dengan pemasaran, sesungguhnya
antara menjual dan memasarkan sangat berbeda baik itu pengertian, makna maupun ruang
lingkupnya.

“Bauran pemasaran (Marketing Mix) adalah seperangkat alat yang


digunakan perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuannya dipasar
sasarannya ”.

Pendapat diatas didukung oleh Rambat Lupiyoadi dan A. Hamdani, yang


mendefinisikan bauran pemasaran adalah sebagai berikut:

“Bauran pemasaran (Marketing Mix) adalah alat bagi pemasar yang terdiri atas
berbagai unsur suatu program memasarkan yang perlu dipertimbangkan agar
implementasi strategi dan positioning yang diterapkan dapat berjalan dengan
sukses”.

Menurut Mc. Carthy dalam Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Benyamin Molan lebih
jauh dibawah ini dapat dijelaskan mengenai klasifikasi alat-alat pemasaran menjadi empat
kelompok yang disebut juga dengan 4P yaitu: Produk (product), Harga (price), Tempat (place),
dan Promosi (promotion).

 Produk (product)

Produk merupakan segala sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk memenuhi kebutuhan
atau keinginan konsumen. Produk yang ditawarkan yaitu meliputi barang fisik, jasa,
kegiatan, pengalaman, orang, tempat, organisasi, dan ide. Jadi produk dapat berupa
manfaat tangible (langsung) maupun intangible (tidak langsung) yang memuaskan

3
[NORMA & ETIKA DALAM PEMASARAN & PERLINDUNGAN KONSUMEN] ETIKA BISNIS

pelanggan. Bisa dikatakan, bahwa unsur produk dibagi menjadi 2 yaitu fisik dan juga
digital.

Produk juga merupakan keseluruhan konsep objek atau proses yang memberikan
sejumlah nilai kepada konsumen. Yang perlu diperhatikan dalam produk adalah
konsumen tidak hanya membeli fisik dari produk itu saja tetapi membeli manfaat dan nilai
dari produk tersebut yang disebut “the offer”.Terutama pada produk jasa yang kita kenal
tidak menimbulkan beralihnya kepemilikan dari penyedia jasa kepada konsumen.

 Harga (Price)

Penentuan harga merupakan titik kritis dalam bauran pemasaran, karena harga
menetukan “pendapat” dari suatu usaha. Keputusan penentuan harga juga sangat
signifikan di dalam penentuan nilai atau manfaat yang diberikan kepada pelanggan dan
memainkan peranan penting dalam gambaran kualitas produk.

Strategi penentuan harga (pricing) sangat signifikan dalam pemberian niali kepada
konsumen dan mempengaruhi citra produk, serta keputusan konsumen untuk
membeli.Penentuan harga juga berhubungan dengan pendapatan dan turut memengaruhi
penawaran atau saluran pemasaran. Akan tetapi hal terpenting adalah keputusan dalam
penentuan harga harus konsisten dengan strategi marketing secara keseluruhan. Dengan
kita menentukan harga yang pas dan cocok untuk para calon pembeli, maka pembei tidak
akan melihat/ melirik harga dari kompetitor.

 Tempat (place)

Untuk produk industri manufactur, place, diartikan sebagai saluran distribusi (zero
channel, two level channel, and multi level channel), sedangkan untuk produk industri
jasa, place diartikan sebagai tempat pelayanan jasa. Lokasi pelayanan jasa yang
digunakan dalam memasok jasa kepada pelanggan yang dituju merupakan kunci dari
keputusan. Keputusan mengenai lokasi pelayanan yang akan digunakan melibatkan
pertimbangan bagaimana penyampaian jasa kepada pelanggan dan di mana itu akan
berlangsung. Tempat juga penting sebagai lingkungan di mana dan bagaimana jasa akan
diserahkan, sebagai bagian dari nilai dan manfaat dari jasa.

4
[NORMA & ETIKA DALAM PEMASARAN & PERLINDUNGAN KONSUMEN] ETIKA BISNIS

Tempat dalam jasa merupakan gabungan antara lokasi dan keputusan saluran distribusi,
dalam hal ini berhubungan dengan bagaimana cara penyampaian jasa kepada konsumen
dan dimana lokasi yang strategis.

 Promosi (promotion)

Pada hakekatnya promosi merupakan suatu aktivitas yang mengkomunikasikan


keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk membelinya. Hal yang
diperhatikan dalam promosi adalah pemilihan bauran promosi. Bauran promosi itu tidak
lain adalah bermacam-macam cara atau kegiatan promosi yang dilakukan untuk
mempengaruhi target pasar. Ada lima macam alat promosi yang dapat digunakan yaitu:

a. Periklanan (Advertising) => Banner, brosur, poster


b. Promosi penjualan (Sales Promotion) => Diskon, potongan penjualan
c. Publilitas (Publicity) => Customer service, public relation
d. Penjualan pribadi (Personal selling) => Salesman
e. Pemasaran langsung (Direct Marketing) => Website

5
[NORMA & ETIKA DALAM PEMASARAN & PERLINDUNGAN KONSUMEN] ETIKA BISNIS

2. ETIKA BERSAING DALAM LINGKUNGAN PASAR INDUSTRI

Etika ini berlaku bagi perusahaan yang dihadapkan pada para pesaing pada produk sejenis yang
demikian banyak bermacam-macam.dimana perilaku industri di dalam pasar kondisinya
cukup kompetitif.

Inti dari etika bersaing adalah berorientasi pada bemberian atribut pada barang dan jasa
yang menguntungkan konsumen. Apakah berupa harga jual yang lebih murah mutu barang yang
lebih baik, pelayanan, nilai fungsi kenikmatan dari barang dan jasa dan lain-lain sehingga secara
umum pemberian atribut sebagai alat bersaing bagi perusahaan ini menciptakan kepuasan dan
kesejahteraan yang makin tinggi di masyarakat, khususnya masyarakat konsumen. Adapun
terdapat tiga elemen yang dipergunakan sebagai alat bersaing di antara para pelaku bisnis di
dalam industri yakni, kualitas produk, efisiensi proses, dan servis atau pelayanan.

3. ETIKA PERLINDUNGAN KONSUMEN

Menurut Undang-undang no. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen : Pasal 1 butir 2 :“
Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/ atau jasa yang tersedia dalam masyarakat,
baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak
untuk diperdagangkan”. Menurut Hornbyo: “Konsumen (consumer) adalah seseorang yang
membeli barang atau menggunakan jasa; seseorang atau suatu perusahaan yang membeli
barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu; sesuatu atau seseorang yang menggunakan
suatu persediaan atau sejumlah barang; setiap orang yang menggunakan barang atau jasa-jasa.
Pendapat lain mengatakan bahwa Pengertian Konsumen adalah semua individu dan rumah
tangga yang membeli atau memperoleh barang atau jasa untuk dikonsumsi pribadi.

Dalam islam tampaknya belum di kongkritkan secara definitive, siapakah sebenarnya konsumen
itu? Konsumen dalam masyarakat islam hanya di tuntut secara ketat dengan sederetan larangan
(yakni: makan daging babi minum-minuman keras, menenakan pakaian sutera dan cincin emas
untuk pria dan seterusnya. Menurut Muhammad Djakfar konsumen adalah setiap orang atau
badan pengguna produk, baik berupa barang maupun jasa dengan berpegang teguh kepada

6
[NORMA & ETIKA DALAM PEMASARAN & PERLINDUNGAN KONSUMEN] ETIKA BISNIS

ketentuan-ketentuan yang berlaku. Bagi konsumen muslim dalam mengkonsumsi sebuah


produk bagaimanapun harus yang halal dan baik.oleh karena itu, disinilah arti pentingnya
produksen elindungi kepentingan konsumen sesuai dengan nilai etis yang bersumber dari ajaran
keyakinan yang mereka anut tanpa mengabaikan peraturan perundangan yang berlaku.

Tujuan perlindungan konsumen

Dalam UU Perlindungan Konsumen Pasal 3, disebutkan bahwa tujuan perlindungan konsumen


adalah sebagai berikut.

 Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri;


 Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses
negatif pemakaian barang dan / atau jasa;
 Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut hak-
haknya sebagai konsumen;
 Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum
dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;
 Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen
sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha;
 Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang, menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan
konsumen.

Prinsip- Prinsip Hukum Perlindungan Konsumen

a) Let The Buyer Beware


o Pelaku Usaha kedudukannya seimbang dengan konsumen sehingga tidak perlu
proteksi.
o Konsumen diminta untuk berhati hati dan bertanggung jawab sendiri.
o Konsumen tidak mendapatkan akses informasi karena pelaku usaha tidak terbuka.
o Dalam UUPK Caveat Emptor berubah menjadi caveat venditor.
b) The due Care Theory
o Pelaku usaha mempunyai kewajiban untuk berhati hati dalam memasyarakatkan
produk, baik barang maupun jasa. Selama berhati hati ia tidak dapat dipersalahkan.

7
[NORMA & ETIKA DALAM PEMASARAN & PERLINDUNGAN KONSUMEN] ETIKA BISNIS

o Pasal 1865 Kuhperdata secara tegas menyatakan, barangsiapa yang


mengendalikan mempunyai suatu hak atau untuk meneguhkan haknya atau
membantah hak orang lain, atau menunjuk pada suatu peristirwa, maka ia
diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristirwa tersebut.
o Kelemahan beban berat konsumen dalam membuktikan.
c) The Privity of Contract
o Prinsip ini menyatakan, pelaku usaha mempunyai kewajiban untuk melindungi
konsumen, tetapi hal itu baru dapat dilakukan jika diantara mereka telah terjalin
suatu hubungan kontraktual. Pelaku usaha tidak dapat disalahkan atas hal hal
diluar yang diperjanjikan.
o Fenomena kontrak kontrak standar yang bantak beredar di masyarakat merupakan
petunjuk yang jelas betapa tidak berdayanya konsumen menghadapi dominasi
pelaku usaha.
o Kontrak bukan Syarat
o Prinsip ini tidak mungkin lagi dipertahankan, jadi kontrak bukan lagi merupakan
syarat untuk menetapkan eksistensi suatu huungan hukum .

Azas Perlindungan Konsumen

Asas Perlindungan Konsumen : “Perlindungan konsumen berdasarkan manfaat, keadilan,


keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum”.

§ Asas Manfaat

Mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan ini


harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku
usaha secara keseluruhan,

§ Asas Keadilan

Partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan


kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan
melaksanakan kewajibannya secara adil,

§ Asas Keseimbangan

8
[NORMA & ETIKA DALAM PEMASARAN & PERLINDUNGAN KONSUMEN] ETIKA BISNIS

Memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan


pemerintah dalam arti materiil ataupun spiritual,

§ Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen

Memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalarn


penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau
digunakan,

§ Asas Kepastian Hukum

Baik pelaku usaha maupun konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan
dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian
hukum.

9
[NORMA & ETIKA DALAM PEMASARAN & PERLINDUNGAN KONSUMEN] ETIKA BISNIS

4. PELANGGARAN atau FRAUD DALAM ETIKA PEMASARAN


Kasus Cheating (Perusahaan):

Telkomsel Diduga Lakukan Manipulasi dalam Iklan Talkmania

ANTARA – Telkomsel diduga melakukan manipulasi dalam program “Talkmania” dengan tetap
menarik pulsa pelanggan meski keutamaan dalam program itu tidak diberikan. Salah seorang
warga Kota Medan, Mulyadi (37) di Medan, mengatakan, dalam iklannya, Telkomsel menjanjikan
gratis menelepon ke sesama produk operator selular itu selama 5.400 detik (90 menit). Untuk
mendapatkan layanan itu, pulsa pelanggan akan dikurangi Rp3 ribu setelah mendaftar melalui
SMS “TM ON” yang dikirim ke nomor 8999 terlebih dulu. Namun, pelanggan sering merasa
kecewa karena layanan itu selalu gagal dan hanya dijawab dengan pernyataan maaf disebabkan
sistem di operator selular tersebut sedang sibuk serta disuruh mencoba lagi. Tapi pulsa
pelanggan tetap dikurangi, dan apabila terus dicoba tetap juga gagal, sedangkan pulsa terus
dikurangi, katanya.

Warga Kota Medan yang lain, Ulung (34) mengatakan, penggunaan layanan Talkmania yang
diiklankan Telkomsel itu seperti “berjudi”. “Kadang-kadang berhasil, kadang-kadang gagal,
namun pulsa tetap ditarik,” katanya. Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen
(LAPK), Farid Wajdi, SH, MHum mengatakan, layanan iklan Telkomsel itu dapat dianggap
manipulasi karena terjadinya “misleadding” atau perbedaan antara realisasi dengan janji.
Pihaknya siap memfasilitasi dan melakukan pendampingan jika ada warga yang merasa
dirugikan dan akan menggugat permasalahan itu secara hukum. Secara sekilas, kata Farid,
permasalahan itu terlihat ringan karena hanya mengurangi pulsa telepon selular masyarakat
sebesar Rp3 ribu. Namun jika kejadian itu dialami satu juta warga saja dari sekian puluh juta
pelanggan Telkomsel, maka terdapat dana Rp3 miliar yang didapatkan operator selular itu dari
praktik manipulasi iklan tersebut.

Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) dan Badan Regulasi Telekomunikasi


Indonesia (BRTI) perlu turun tangan menangani hal itu agar masyarakat tidak terus
dirugikan.Apabila ditemukan bukti adanya praktik manipulasi itu, diharapkan Depkominfo dan
BRTI menjatuhkan sanksi yang tegas agar perbuatan itu tidak terjadi lagi.Semua peristiwa itu
terjadi karena iklan operator selular selama ini sering menjebak, saling menjatuhkan dan tidak
memiliki aturan yang jelas, katanya.Humas Telkomsel Medan, Weni yang dikonfirmasi

10
[NORMA & ETIKA DALAM PEMASARAN & PERLINDUNGAN KONSUMEN] ETIKA BISNIS

mengatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan terhadap nomor pelanggan yang merasa
dirugikan dalam layanan Talkmania tersebut. “Namun, Telkomsel telah ‘merefine’ atau
mengembalikan kembali pulsa nomor-nomor handphone yang gagal itu,” katanya.

Analisis

Kecurangan adalah suatu kerugian yang timbul sebagai akibat penyembunyian fakta material,
atau penyajian yang ceroboh atau tanpa perhitungan yang mempengaruhi orang lain untuk
berbuat atau bertindak yang merugikannya. Etika bisnis adalah cara untuk melakukan
kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan
juga masyarakat. Keduanya sangat berkaitan karena kecurangan merupakan hal yang menyalahi
aturan dan dikategorikan sebagai pelanggaran etika dalam berbisnis. Kasus kebohongan yang
dibuat oleh perusahaan Telkomsel ini merupakan kecurangan atau pelanggaran kode etik dalam
berbisnis yang berupa ingkar janji.Pihak Telkomsel ingkar janji dengan dengan pelanggan
Telkomsel dengan menguras pulsa pelanggan tetapi tidak memberi fasilitas yang seharusnya
didapat oleh si pelanggan. Kasus ini bisa dikatakan juga halnya dengan korupsi. Hal ini
berhubungan dengan etika bisnis, jika pebisnis melakukan bisnisnya dengan jujur bisnis yang
dijalankan akan terus berjalan dengan baik, sedangkan jika berlaku curang bisnis akan mudah
jatuh.

Seperti halnya Telkomsel ini, jika Telkomsel terus-terusan curang secara perlahan pelanggan
akan berlari ke operator lain, dan tidak dapat menambah pemasukan Telkomsel, sehingga efek
dari meninggalkan Telkomsel dapat membuat perusahaan ini akan menjadi bangkrut. Jika pihak
Telkomsel terus bertindak curang, ini akan terus berlangsung sehingga menjadi budaya
kecurangan yang dianggap biasa dilakukan dan akan terus melebar. Bisa saja pihak Telkomsel
menggunakan kecurangan-kecurangan lain di promo Telkomsel yang lainnya. Jika kecurangan
ini tidak diadili secara hukum yg berlaku, atau tidak ditindaklanjuti, akan berdampak
kemungkinan Telomsel tidak jera.

Dari kasus diatas terlihat bahwa perusahaan Telkomsel ini melakukan pelanggaran etika bisnis
terhadap prinsip kejujuran perusahaan, yaitu dengan berani untuk mengambil tindakan
kecurangan untuk memperkaya pemasukan perusahaan.Hal yang perusahaan Telkomsel ini
lakukan hanya untuk mendapatkan laba yang besar dan ongkos produksi yang minimal.

11