Anda di halaman 1dari 12

[Type the company name]

Tanggung Jawab Sosial


Perusahaan (CSR) &
Dimensi Dan Indikator
CSR
[Type the document subtitle]
[ ] ETIKA BISNIS

Oleh :

1. RIZKA YOHANA (1610210394)


2. RANI ASTIKA PUTRI (1610210460)
3. OEIRIKA LYASARI (1610210785)

2
[ ] ETIKA BISNIS

1. DEFINISI CSR
CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu konsep atau tindakan yang dilakukan
oleh perusahaan sebagai rasa tanggung jawab perusahaan terhadap social maupun lingkungan
sekitar dimana perusahaan itu berada, seperti melakukan suatu kegiatan yang dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat sekitar dan menjaga lingkungan, memberikan beasiswa untuk anak tidak
mampu di daerah tersebut, dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk
membangun desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak,
khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada.

Corporate Social Responsibility merupakan sebuah fenomena dan strategi yang digunakan
perusahaan untuk mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder-nya. CSR dimulai
sejak era dimana kesadaran akan sustainability perusahaan jangka panjang adalah lebih penting
daripada sekedar profitability perusahaan.

Kegiatan CSR akan menjamin keberlanjutan bisnis yang dilakukan. Hal ini disebabkan
karena :

1. Menurunnya gangguan social yang sering terjadi akibat pencemaran lingkungan, bahkan
dapat menumbuh kembangkan dukungan atau pembelaan masyarakat setempat.
2. Terjaminnya pasokan bahan baku secara berkelanjutan untuk jangka panjang.
3. Tambahan keuntungan dari unit bisnis baru, yang semula merupakan kegiatan CSR yang
dirancang oleh korporat.

2. HAKIKAT, TUJUAN & PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB


SOSIAL PERUSAHAAN
Michael Hopkins dalam Working Paper-nya yang disampaikannya kepada Policy
Integration Departement World Commission on the Social Dimension of Globalization
International Labour Office, Genewa tahun 2004 menjelaskan bahwa CSR adalah :

“CSR is concerned with treating the stakeholders of the firm ethically or in a responsible manner.
‘Ethically or responsible’ means treating stakeholders in a manner deemed acceptable in civilized
societies. Social includes economic responsibility, stakeholders exist both within a firm and
outside. The natural environment is a stakeholder. The wider aim of social responsibility is to
create higher and higher standards of living, while preserving the profitability of the corporation,
for people both within and outside the corporation.”

Dari penjelasan Michael Hopkins tersebut dapat disimpulkan bahwa CSR berkaitan dengan
perlakukan perusahaan terhadap stakeholders baik yang berada di dalam maupun di luar
perusahaan termasuk lingkungan secara etis atau secara bertanggung jawab, dengan
memperlakukan stakeholders dengan cara yang bisa diterimanya. Sedangkan secara sosial CSR
meliputi tanggung jawab di bidang ekonomi dalam upaya menciptakan standar hidup lebih baik
dengan tetap menjaga profitabilitas perusahaan. Pengertian dan konsep CSR terus mengalami
perkembangan, pakar akutansi Davis dan Frederick tahun 1992 menyatakan bahwa CSR adalah
sebagai kewajiban organisasi bisnis atau perusahaan untuk mengambil bagian dalam kegiatan yang

3
[ ] ETIKA BISNIS

bertujuan melindungi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan di samping


kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk kepentingan organisasi itu sendiri.10 Kemudian Farmer
dan Hogue menyatakan bahwa

“Social responsibility action by a corporation are action that, when judged by society in the future,
are seen to have been maximum help in providing necessary amounts of desired goods and service
at minimum financial and social cost, distributed as equatably as posible.”

Dalam hal ini Farmer dan Hogue lebih menekankan bahwa CSR adalah komitmen
perusahaan untuk mampu memberikan apa yang masyarakat inginkan.

Manfaat Tangung Jawab Sosial Perusahaan

Dalam realitasnya, tanggung jawab sosial perusahaan akan memberikan manfaat bagi semua
pihak yang terkait, dalam hal ini adalah perusahaan, masyarakat, dan pemerintah. K. Bertens
menjelaskan bahwa tanggung jawab ekonomis perusahaan mempunyai aspek sosial yang penting.
Kinerja setiap perusahaan menyumbang terhadap kinerja ekonomi nasional sebuah negara. Jika
suatu perusahaan berhasil memainkan perannya dengan baik di atas panggung ekonomi nasional,
dengan sendirinya ia memberi kontribusi yang berarti pada kemakmuran masyarakat.

Hal itu terutama kita sadari dalam keadaan krisis, bila terjadi banyak pemutusan hubungan
kerja dan banyak perusahaan harus menghentikan kegiatannya. Adapun manfaat penerapan
tanggung jawab sosial perusahaan yaitu sebagai berikut:

A. Manfaat bagi Perusahaan

a) Munculnya citra positif dari masyarakat akan kehadiran perusahaan di


lingkungannya.

b) Kegiatan perusahaan dalam jangka panjang akan dianggap sebagai kontribusi yang
positif bagi masyarakat

c) Selain membantu perekonomian masyarakat, perusahaan juga akan dianggap


bersama masyarakat membantu dalam mewujudkan keadaan yang lebih baik di masa
yang akan datang

B. Manfaat bagi Masyarakat

a) Masyarakat akan memiliki pandangan baru bahwa hubungan antara masyarakat dan
dunia bisnis perlu diarahkan untuk kerja sama yang saling menguntungkan kedua
belah pihak.

b) Hubungan masyarakat dan dunia bisnis tak lagi dipahami sebagai hubungan antara
pihak yang mengeksploitasi dan pihak yang tereksploitasi tetapi hubungan kemitraan
dalam membangun masyarakat lingkungan yang lebih baik, tidak hanya di sektor
perekonomian tetapi juga dalam sektor sosial, pembangunan, dll.

C. Manfaat bagi Pemerintah

a) Pemerintah pada akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai wasit yang menetapkan
aturan main dalam hubungan masyarakat dengan dunia bisnis, dan memberikan
sanksi bagi pihak yang melanggarnya.

4
[ ] ETIKA BISNIS

b) Pemerintah sebagai pihak yang mendapat legitimasi untuk mengubah tatanan


masyarakat ke arah yang lebih baik akan mendapat partner dalam mewujudkannya.
c. Sebagian tugas pemerintah dapat dijalankan oleh anggota masyarakat, dalam hal
ini perusahaan atau organisasi bisnis.

Prinsip

Mengingat luasnya ruang lingkup CSR, sehingga tidak salah bila pelaku usaha menerapkan
CSR sesuai dengan tingkat pemahaman dan kebutuhan mereka. Namun sebagai acuan dalam
mengimplementasikannya dapat merujuk pada prinsip-prinsip dasar CSR sebagaimana dinyatakan
oleh salah seorang pakar CSR dari University of Bath Inggris yaitu Alyson Warhurst yang
menjelaskan bahwa ada 16 (enam belas) prinsip yang harus diperhatikan dalam
mengimplementasikan CSR yaitu: prioritas perusahaan, penelitian, manajemen terpadu, prinsip
pencegahan, proses perbaikan, kontraktor dan pemasok, pendidikan karyawan, siaga menghadapi
darurat, pengkajian, trasfer best practice, produk dan jasa, memberikan sumbangan, informasi
public, keterbukaan (disclosure), fasilitas dan operasi, serta pencapaian dan pelaporan. Pada sisi
lain, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada saat pertemuan para
menteri anggota OECD di Prancis tahun 2000, merumuskan prinsip-prinsip CSR bagi perusahaan
transnasional meliputi:

1) Memberi kontribusi untuk kemajuan ekonomi, sosial, dan lingkungan berdasarkan


pandangan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan (sustainable development),

2) Menghormati hak-hak asasi manusia yang dipengaruhi oleh kegiatan yang dijalankan
perusahaan tersebut, sejalan dengan kewajiban dan komitmen pemerintah di negara
tempat perusahaan beroperasi,

3) Mendorong pembangunan kapasitas lokal melalui kerja sama yang erat dengan
komunitas lokal. Termasuk kepentingan bisnis. Selain mengembangkan kegiatan
perusahaan di pasar dalam dan luar negeri sejalan dengan kebutuhan praktek
perdagangan,

4) Mendorong pembentukan human capital, khususnya melalui penciptaan kesempatan


kerja dan memfasilitasi pelatihan bagi karyawan,

5) Menahan diri untuk tidak mencari atau menerima pembebasan di luar yang dibenarkan
secara hukum yang terkait dengan lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja,
perburuhan, perpajakan, insentif finansial dan isu-isu lainnya,

6) Mendorong dan memegang teguh prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG)


serta mengembangkan dan menerapkan praktek-praktek tata kelola perusahaan yang
baik,

7) Mengembangkan dan menerapkan praktek-praktek sistem manajemen yang mengatur


diri sendiri (self-regulation) secara efektif guna menumbuh kembangkan relasi saling
percaya diantara perusahaan dan masyarakat setempat dimana perusahaan beroperasi,

8) 8) mendorong kesadaran pekerja yang sejalan dengan kebijakan perusahaan melalui


penyebarluasan informasi tentang kebijakan-kebijakan itu pada pekerja termasuk
melalui program-program pelatihan,

5
[ ] ETIKA BISNIS

9) Menahan diri untuk tidak melakukan tindakan tebang pilih (discrimination) dan
indisipliner,

10) Mengembangkan mitra bisnis, termasuk para pemasok dan sub-kontraktor, untuk
menerapkan aturan perusahaan yang sejalan dengan pedoman tersebut, dan

11) Bersikap abstain terhadap semua keterlibatan yang tak sepatutnya dalam kegiatan-
kegiatan politik lokal.

Sedangkan menurut ISO 26000 tentang CSR, ditetapkan adanya 7 (tujuh) prinsip CSR
sebagai perilaku perusahaan yang didasarkan atas standar dan panduan berperilaku dalam konteks
situasi tertentu. Ketujuh prinsip tersebut adalah:

1) Akuntabilitas; hal ini terlihat dari perilaku organisasi yang berkaitan dengan
masyarakat dan lingkungan.

2) Tranparansi; hal ini terlihat dari pengambilan keputusan dan aktivitas yang
berdampak terhadap pihak lain (stakholders).

3) Perilaku etis; hal ini berkaitan dengan perilaku etis perusahaan sepanjang waktu.

4) Stakeholders; hal ini berkaitan dengan penghargaan dan mempertimbangkan


kepentingan stakeholders-nya.

5) Aturan hukum; berkaitan dengan penghormatan dan kepatuhan terhadap ketentuan


peraturan perundang-undangan yang berlaku.

6) Norma internasional; terutama berkaitan dengan penghormatan dan penghargaan


terhadap norma internasional, terutama berkaitan dengan norma yang lebih
mendukung pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat,

7) Hak asasi manusia; berkaitan dengan pemahaman mengenai arti penting hak asasi
manusia (HAM) sebagai konsep universal.

6
[ ] ETIKA BISNIS

3. DASAR HUKUM PELAKSANAAN CSR


Landasan hukum yang menyangkut CSR terdapat dalam UU 40 tahun 2007 yang berisi peraturan
mengenai diwajibkannya melakukan CSR. Direksi yang bertanggung jawab bila ada permasalahan hukum
yang menyangkut perusahaan & CSR. Selain itu Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman
Moda pasal 15 huruf (b) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “tanggung jawab sosial perusahaan”
adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan
hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat
setempat.

Pasal 1 angka 3 UUPT, tangung jawab sosial dan lingkungan adalah komitmen perseroan untuk
berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan
lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat maupun masyarakat pada
umumnya. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau CSR merupakan salah satu kewajiban yang harus
dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan isi pasal 74 Undang-undang Perseroan Terbatas (UUPT) yang
baru. Undang-undang ini disahkan dalam sidang paripurna DPR.

Di Indonesia, CSR semakin menguat setelah dinyatakan dengan tegas dalam UU Perseroan Terbatas
No.40 Tahun 2007, dimana dalam pasal 74 antara lain diatur bahwa :

1. Ayat 1 : Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan
Sumber Daya Alam (SDA) wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
2. Ayat 2 : Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan
kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang
pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
3. Ayat 3 : Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Ayat 4 : Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

Menurut Edi Suharto (2008), peraturan tentang CSR yang relatif lebih terperinci adalah UU No.19
Tahun 2003 tentang BUMN. UU ini kemudian dijabarkan lebih jauh oleh Peraturan Menteri Negara
BUMN No. : Per-05/MBU/2007 yang mengatur mulai dari besaran dana hingga tatacara pelaksanaan CSR.
Seperti diketahui, CSR milik BUMN adalah Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Dalam UU
BUMN dinyatakan bahwa selain mencari keuntungan, peran BUMN adalah juga memberikan bimbingan
bantuan secara aktif kepada pengusaha golongan lemah, koperasi dan masyarakat. Selanjutnya, Permeneg
BUMN menjelaskan bahwa sumber dana PKBL berasal dari penyisihan laba bersih perusahaan sebesar
maksimal 2 persen yang dapat digunakan untuk Program Kemitraan ataupun Bina Lingkungan.

Untuk pelaksanaan PKBL di BUMN, diatur dalam Pasal 2 dan Pasal 88 UU No. 19/2003 tentang
BUMN sebagai berikut:

7
[ ] ETIKA BISNIS

a. Pasal 2 ayat (1) huruf e


salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah turut aktif memberikan bimbingan dan
bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.
b. Pasal 88 ayat (1)
BUMN dapat menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan pembinaan usaha
kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN.
c. Pasal 88 ayat (2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyisihan dan penggunaan laba sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) diatur dengan Keputusan Menteri.

Selanjutnya dalam butir 5 Pasal 1 UU No.19/2003 tersebut dinyatakan "Menteri adalah menteri yang
ditunjuk dan/atau diberi kuasa untuk mewakili pemerintah selaku pemegang saham negara pada Persero
dan pemilik modal pada Perum dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan.Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan PKBL yang diatur oleh Menteri Negara BUMN dalam Peraturan
No. : Per-05/MBU/2007 tentang PKBL adalah dalam kedudukan Menteri Negara BUMN selaku pemegang
saham di BUMN.

Terbitnya UU No.40/2007 tentang Perseroan Terbatas yang antara lain mengatur kewajiban
pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan bagi Perseroan Terbatas di satu pihak dan berlakunya
kewajiban BUMN melaksanakan PKBL di lain pihak menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda karena
pada dasarnya kedua hal tersebut mengatur tentang tanggung jawab perseroan. Oleh karena itu diperlukan
suatu kajian mengenai hal tersebut agar tidak menimbulkan kerancuan dalam implementasinya bagi
perusahaan BUMN di masa datang.

4. ASPEK, DIMENSI DAN INDIKATOR TANGGUNG JAWAB


SOSIAL PERUSAHAAN
Carroll (dalam Solihin, 2009: 185) menjelaskan dimensi-dimensi tanggung jawab sosial perusahaan
ke dalam empat kategori, yaitu:

Economic Responsibilities (tanggung jawab ekonomi). Tanggung jawab sosial utama perusahaan
adalah tanggung jawab ekonomi karena lembaga bisnis terdiri dari aktivitas ekonomi yang menghasilkan
barang dan jasa bagi masyarakat secara menguntungkan.

Legal Responsibilities (tanggung jawab hukum). Masyarakat berharap bisnis dijalankan dengan
menaati hukum dan peraturan yang berlaku dimana hukum dan peraturan tersebut pada hakikatnya dibuat
oleh masyarakat melalui lembaga legislatif. Contoh: taat membayar pajak, taat kepada undang-undang
ketenagakerjaan

Ethical Responsibilities. Masyarakat berharap perusahaan menjalankan bisnis secara etis. Etika
bisnis menunjukkan refleksi moral yang dilakukan oleh wirausahawan secara perorangan maupun secara
kelembagaan (organisasi) untuk menilai suatu isu dimana penilaian ini merupakan penilaian terhadap nilai
yang berkembang dalam suatu masyarakat. Individu atau organisasi melalui penilaian tersebu, akan
memberikan penilaian apakah sesuatu yang dilakukan itu benar atau salah, adil atau tidak adil, serta
memiliki kegunaan atau tidak.

Discretionary Responsibility. Masyarakat mengharapkan keberadaan perusahaan dapat memberikan


manfaat. Ekspektasi masyarakat tersebut dipenuhi oleh perusahaan mellaui berbagai program yang bersifat
filantropis dan dilakukan perusahaan secara sukarela.

8
[ ] ETIKA BISNIS

Perkembangan penting lainnya adalah rencana implementasi ISO 26000 yang mengatur tentang
standar social responsibility. Pengertian social responsibility menurut ISO 26000 yang dipublikasikan pada
bulan November 2009 adalah tanggung jawab suatu perusahaan atas dampak dari berbagai keputusan dan
aktivitas perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan melalui suatu perilaku yang terbuka dan etis,
yang:

 Konsisten dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan kesejahteraan


masyarakat.
 Memperhatikan ekspektasi para pemangku kepentingan.
 Tunduk kepada hukum yang berlaku dan konsisten dengan norma perilaku internasional.
 Diintegrasikan ke dalam seluruh bagian organisasi.

Perkembangan CSR untuk konteks Indonesia dapat dilihat dari dua perspektif yang berbeda, yaitu:

1) Perspektif pertama adalah pelaksanaan CSR memang merupakan discretionary business


pratice (praktik bisnis secara sukarela/bersifat voluntary), artinya pelaksanaan CSR lebih banyak
berasal dari inisiatif perusahan dan bukan perusahaan aktivitas yang dituntut untuk dilakukan
perusahaan oleh peraturan perundang-undanganyang berlaku di NKRI. Contoh: inisiatif CSR
dilakukan oleh PT. Unilever dengan membina para petani kedelai hitam yang hasil panennya dibeli
oleh perusahaan untuk bahan baku pembuatan kecap Bango, merupakan bentuk CSR yang tidak
diwajibkan oleh Undang-Undang.
2) Perspektif kedua adalah pelaksanaan CSR bukan lagi merupakan discretionary business
practice, melainkan pelaksanaannya sudah diatur oleh undang-undang (bersifat
mandatory/diwajibkan oleh undang-undang). Contoh:
3) Badan Usaha MilIk Negara (BUMN) memiliki kewajiban untuk menyisihkan sebagian laba yang
diperoleh perusahaan untuk menunjang kegiatan sosial seperti pemberian modal bergulir untuk
Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
4) Perusahaan yang menjalankan kegiatan usaha di bidang sumber daya alam atau berkaitan dengan
sumber dayaalam, diwajibkan untuk melaksanakan CSR sebagaimana diatur di dalam Undang-
Undang RI Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
5) Kewajiban melaksanakan CSR juga diberlakukan bagi perusahaan yang melakukan penanaman
modal di Indonesia sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal.

5. MANFAAT PENERAPAN CSR BAGI PERUSAHAAN


1. Manfaat bagi Perusahaan

Citra perusahaan akan terkenal baik bahwa inilah perusahaan yang peduli terhadap lingkungan masyarakat.
Kegiatan perusahaan dalam jangka panjang akan dianggap sebagai kontribusi positif di masyarakat. Selain
membantu perekonomian masyarakat, perusahaan juga akan dianggap bersama masyarakat membantu
dalam mewujudkan keadaan lebih baik di masa yang akan datang. Akibatnya ,perusahaan akan
memperoleh tanggapan yang positif setiap kali menawarkan sesuatu kepada masyarakat. Perusahaan tidak
saja dianggap sekedar menawarkan produk untuk dibeli masyarakat, tetapi juga dianggap menawarkan
sesuatu yang membawa perbaikan masyarakat. Secara tidak langsung maka produk yang di produksi oleh
perusahaan tersebut membuat konsumen meningkat karena konsumen cenderung melihat dari citra
perusahaannya.

9
[ ] ETIKA BISNIS

2. Bagi Masyarakat

Selain kepentingan masyarakat terakomodasi, hubungan masyarakat dengan perusahaan akan lebih
erat. Artinya terdapat kerjasama yang saling menguntungkan ke dua pihak. Hubungan bisnis tidak lagi
dipahami sebagai hubungan antara pihak yang mengeksploitasi dan pihak yang tereksploitasi, tetapi
hubungan kemitraan dalam membangun masyarakat lingkungan kebih baik. Tidak hanya di sector
perekonomian, tetapi juga dlam sektor sosial, pembangunan dan lain-lain. Dan adanya beasiswa terhadap
anak tidak mampu dan kesejahteraan masyarakat serta pembangunan Fasilitas umum yang berguna bagi
masyarakat.

Dengan adanya Corporate Social Responsibility tersebut akan memberikan hal-hal berikut pada
masyarakat:

a. Kesejahteraan masyarakat di sekitar perusahaan meningkat

b. Tersedianya beasiswa bagi anak yang kurang mampu yang berada di sekitar perusahaan

c. Fasilitas umum terjamin pemeliharaannya

d. Terdapat kegiatan sosial berupa pembangunan fasilitas umum bagi masyarakat sekitar perusahaan

3. Manfaat bagi Pemerintah

Dalam hal ini pemerintah tidak hanya bekerja sendiri dalam membangun kesejahteraan rakyatnya .
Karena Memiliki partner dalam menjalankan misi sosial dari pemerintah dalam hal tanggung jawab sosial.
Pemerintah pada akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai wasit yang menetapkan aturan main dalam
hubungan masyarakat dengan dunia bisnis, dan memberikan sanksi bagi pihak yang melanggarnya.
Pemerintah sebagai pihak yang mendapat legtimasi untuk mengubah tatanan masyarakat agar ke arah yang
lebih baik akan mendapatkan partner dalam mewujudkan tatanan masyarakat tersebut. Sebagian tugas
pemerintah dapat dilaksanakan oleh anggota masyarakat, dalam hal ini perusahaan atau organisasi bisnis.

Pelaksanaan CSR juga memberikan manfaat bagi pemerintah. Melalui CSR akan tercipta hubungan
antara pemerintah dan perusahaan dalam mengatasi berbagai masalah sosial, seperti kemiskinan, rendahnya
kualitas pendidikan, minimnya akses kesehatan dan lain sebagainya. Tugas pemerintah untuk menciptakan
kesejahteraan bagi rakyatnya menjadi lebih ringan dengan adanya partisipasi pihak swasta (perusahaan)
melalui kegiatan CSR. CSR yang dapat berperan dalam mengatasi permasalahan-permasalahan sosial
adalah CSR yang bersifat communuity development seperti pemberian beasiswa, pemberdayaan ekonomi
masyarakat miskin, pembangunan sarana kesehatan dan lain sebagainya.

6. LANGKAH-LANGKAH PERUMUSAN KEGIATAN CSR


a) Memastikan komitmen dimulai dari jenjang teratas yaitu Dewan Komisaris dan Direksi
serta memastikan bahwa penerapan tata kelola perusahaan telah terlaksana dengan baik
didalam operasi bisnis inti.

Implementasi Corporate Social Responsibility perusahaan harus sesuai dengan visi dan misi
perusahaan serta mendapatkan dukungan dari Dewan Komisaris dan Direksi. Dengan dukungan yang
kuat dari manajemen, implementasi CSR menjadi lebih baik, lebih terarah. Hal ini penting guna

10
[ ] ETIKA BISNIS

mendapatkan kejelasan arah dan fokus pada sektor apa CSR apa yang akan diimplementasikan oleh
perusahaan.

b) Memprakarsai diskusi kelompok antar para pemangku kepentingan.

Perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnis dan operasionalnya sering kali bersinggungan dengan
para pemangku kepentingan (stakeholders) yang tentu saja memiliki kepentingan yang juga berbeda-
beda. Semua kelompok dan pribadi-pribadi yang memiliki keterkaitan dengan perusahaan dapat
memberikan masukan kepada perusahaan dalam merumuskan program Corporate Social
Responsibility.

c) Stategi dasar CSR harus ditetapkan di tingkat eksekutif dan anak perusahaan dapat
mengangkat strategi tersebut sesuai dengan lingkungan setempat.

Agar implementasi Corporate social Responsibility dapat berjalan selaras antara holding dan anak
perusahaan (bagi grup korporasi), perlu dirumuskan strategi CSR yang holistik. Karenanya strategi
Corporate Social Responsibility harus dirumuskan pada jajaran eksekutif. Cara termudah lainnya,
setiap anak perusahaan dapat mengadopsi strategi CSR dari perusahaan induk. Tidak hanya serta-merta
langsung mengadopsi, tetapi juga harus menyesuaikan dengan sektor industri yang digeluti oleh anak
perusahaan itu dan menyesuaikan dengan lingkungan setempat.

d) Melibatkan dan memberdayakan masyarakat dalam program pengembangan pasar dan


pembentukan citra masyarakat dan dalam pengembangan rantai nilai.

Program Corporate Social Responsibility juga perlu mencermati kondisi riil yang terjadi di dalam
masyarakat. Pelibatan dan memberdayakan masyarakat juga dapat didorong untuk merumuskan strategi
CSR seperti dalam bentuk Community Development Program. Hal ini dapat mendorong
pengembangan pasar, dan meningkatkan citra positif perusahaan dimasyarakat dan juga dapat
mengembangakan added value chain dari sebuah perusahaan.

e) Untuk program CSR seperti program lingkungan atau yang memberikan manfaat tidak
langsung dianjurkan agar perusahaan membentuk unit CSR yang terpisah dari bagian
operasi di perusahaan

Membentuk unit CSR yang terpisah merupakan pilihan dari perusahaan masing-masing sesuai dengan
besaran arah dan fokus CSR, luasnya skala, wilayah dan pendanaan dari program CSR yang
direncanakan. Hal ini tergantung dari kebijakan masing-masing.

f) Menetapkan program pembangunan masyarakat dan peningkatan kompetensi sumber daya


manusia yang mendukung pendidikan dasar dan kejuruan, keamanan lingkungan,
kesejahteraan masyarakat, kesehatan dan keamanan masyarakat

Secara berkesinambungan mengawasi dan menilai pelaksanaan program, belajar dari kesalahan
maupun dari kesuksesan agar dapat terus maju, menerbitkan laporan keberlanjutan dengan standar
Global Reporting Initiatives.

g) Secara berkala program Corporate Social Responsibility harus dievaluasi secara berkala
untuk memastikan kesesuaian eksekusi program dengan apa yang telah direncanakan.

11
[ ] ETIKA BISNIS

Program CSR dapat juga dirumuskan dengan menggunakan rujukan dari Global Reporting Initiatives
agar proses perencanaan program CSR, implementasi dan eksekusi dan evaluasi serta pelaporan
kegiatan CSR dapat berjalan dengan selaras.

h) Pelaporan kegiatan CSR yang efektif harus dipaparkan dengan jelas di media untuk
mendorong lembaga dan perusahaan lain ikut serta melakukannya.

Sebagai bentuk keterbukaan informasi terhadap program CSR, perusahaan selain menerbitkan Laporan
Keberlanjutan, juga dapat mempublikasikannya secara jelas di berbagai media.

12