Anda di halaman 1dari 12

[Type the company name]

Praktik Korupsi Dan


Persoalan Etika Bisnis
Dalam Tataran Makro
[Type the document subtitle]
[ ] ETIKA BISNIS

Oleh :

1. RIZKA YOHANA (1610210394)


2. RANI ASTIKA PUTRI (1610210460)
3. OEIRIKA LYASARI (1610210785)

2
[ ] ETIKA BISNIS

1. Pengertian Korupsi

Korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna
busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik,
baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara
tidak wajar dan tidak legalmenyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka
untuk mendapatkan keuntungan sepihak.

Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk
keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya
korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan
untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan
sebagainya

Menurut para ahli Black’s Law Dictionary korupsi adalah perbuatan yang dilakukan dengan
maksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak resmi dengan hak-hak dari pihak lain
secara salah menggunakan jabatannya atau karakternya untuk mendapatkan suatu keuntungan untuk
dirinya sendiri atau orang lain, berlawanan dengan kewajibannya dan hak-hak dari pihak lain.
Menurut Pasal 2 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 korupsi yaitu “Setiap orang yang secara
melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi
yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonoman negara…”

Menurut Pasal 3 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 korupsi yaitu “Setiap orang yang dengan
tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan
kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat
merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara”

Hubungan korupsi dengan etika bisnis dapat dipahami dalam kehidupan pemerintahan sebagai
suatu keadaan, di mana jika etika dipegang teguh sebagai landasan tingkah laku dalam
pemerintahan, maka penyimpangan seperti korupsi tidak akan terjadi

Korupsi dan etika bisnis merupakan satu kesatuan. Jika kita sudah memahami betul apa saja
yang harus diperhatikan dalam berbisnis, maka tindakan korupsi tidak mungkin dilakukan.tindakan
korupsi jelas – jelas melanggar etika bisnis, karena kegiatan tersebut sangatlah merugikan banyak
pihak. Intinya kita harusmengerti dulu apa saja etika dalam berbisnis, baru kita memulai bisnis.
Agar bisnis kita tidak melanggar peraturan.

Misalnya kode etik pada PNS yang merupakan norma-norma sebagai pedoman sikap, tingkah
laku dan perbuatan PNS yang diharapkan dan dipertangung jawabkan dalam melaksanakan tugas
pengabdiannya kepada bangsa, negara dan masyarakat dan tugas-tugas kedinasan, organisasinya
serta pergaulan hidup sehari-hari sesama PNS dan individu-individu di dalam masyarakat.

3
[ ] ETIKA BISNIS

2. Faktor penyebab korupsi – internal dan eksternal


 Faktor internal yang menyebabkan korupsi , yaitu :
1. Sifat tamak / rakus. Tidak puas dengan apa yang telah dicapai,selalu mersa kurang sehingga
menyebabkan tindakan korupsi
2. Moral yang kurang kuat. Seseorang yang moralnya tidak kuat mudah tergoda untuk melakukan
korupsi,
3. Gaya hidup konsumtif. Perilaku konsumtif yang tidak dibarengi dengan pendapatan yang cukup

 Faktor eksternal yang menyebabkan korupsi yaitu :


1. Faktor ekonomi . Kurangnya gaji bagi pegawai
2. Faktor politik. Instabilitas politik
3. Faktor organisasi. Kurang adanya sikap keteladanan pimpinan kepada bawahan
4. Faktor hukum. Lemahnya hukum dan buruknya perundang – undangan

3. Dampak Masif Korupsi

Di Indonesia sering terjadi kasus korupsi. Penyebab terjadinya korupsi di karenakan beberapa faktor
diantaranya :

- Kebutuhan hidup yang tidak terpenuhi.


- Tidak puasnya nafsu seseorang dalam bentuk materi
- Sedikitnya gaji pegawai sedangkan kebutuhan semakin meningkat

Dari faktor di atas dapat disimpulkan bahwa hidup selalu merasa kurang dan selalu tidak puas
dengansemua harta atau materi yang mereka punya. Oleh karena itu seseorang melakukan berbagai
cara agar kebutuhan hidupnya terpenuhi, seperti halnya korupsi. Dan ketika seseorang sudah
melakukan korupsi berbagaai dampak akan terjadi seperti :

1. Dampak korupsi terhadap ekonomi :


 Tidak adanya motivasi pertumbuhan ekonomi dan investasi
 Berkurangnya legitimasi dari peran pasar
 Barang dan jasa berkualitas rendah
 Mereduksi peran pundamental pemerintah (misalnya pada penerapan dan pembuatan kontak
proteksi)
 Hutang negara semakin meningkat\
 Angka kemiskinan semakin meluas
2. Dampak korupsi terhadap sosial dan kemiskinan masyarakat :
 Perilaku korupsi yang tertanam pada anak dibawah umur
 Mahalnya harga jasa dan pelayanan publik
 Akses bagi masyarakat miskin semakin terbatas
 Kriminalitas semakin meningkat
 Lambatnya penfentasan kemiskinan

4
[ ] ETIKA BISNIS

3. Dampak korupsi terhadap birokrasi pemerintahan :


 Peraturan dan perundang-undangan yang tidak efektif
 Etika sosial politik yang kurang hidup
 Tidak efisiennya birokrasi
 Memperlambat peran negara dalam pengaturan alokasi
4. Dampak korupsi terhadap politik dan demokrasi :
 Kepemimpinan yang berjiwa korup
 Mahalnya biaya politik
 Hilangnya rasa kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara
 Hancurnya kedaulatan rakyat
5. Dampak korupsi terhadap penegakan hukum :
 Tidak terwujudnya suatu keadilan dalam masyarakat
 Fungsi pemerintahan tidak dapat berjalan dengan maksimal
 Hilangnya kepercayaan publik terhadap proses dan lembaga hukum
 Hukum yang bisa dibeli
6. Dampak korupsi terhadap pertahanan dan keamanan :
 Lemahnya alusista sehingga dapat menimbulkan Kerawanan Hankamnas
 Garis batas yang lemah
 Kekerasan dalam masyarakat semakin menguat
7. Dampak korupsi terhadap kerusakan lingkungan :
 Menurunnya ekosistem bagi tumbuhan dan hewan
 Berkurangnya kualitas lingkungan
 Kualitas hidup yang rendah
 Merosotnya kualitas tanah

4. NILAI DAN PRINSIP ANTI KORUPSI DALAM APLIKASI


ETIKA BISNIS

NILAI – NILAI ANTI KORUPSI

1. Kejujuran

Jujur didefinisikan sebagai lurus hati, tidak berbohong dan tidak curang juujur adalah salah satu
sifat yang sangat penting bagi kehidupan mahasiswa, tanpa sifat jujur mahasiswa tidak akan di percaya
dalam kehidupan sosialnya (Sugono:2008)

Kejujuran merupakan nilai dasar yang menjadi landasan penegakan inegeritas dari seseorang.
Tanpa adanya kejujuran musdtahil seseorang bisa menjadi pribadi yang berintegritas.Perilaku
mencontek, plagiarisme dan titip absen merupakan manifestasi ketidak jujuran yang pada akhirnya
memunculkan perilaku korupsi.

2. Kepedulian

5
[ ] ETIKA BISNIS

Peduli adalah mengindahkan, memperhatikan dan menghiraukan (Sugono,2008). Kepedulian


sosial kepada sesama menjadikan seseorang memiliki sifat kasih sayang. Individu yang memiliki jiwa
sosial tinggi akan memperhatikan lingkungan sekelilingnya dimana masih terdapat banyak orang yang
tidak mampu, menderita dan membutuhkan uluran tangan.

Nilai kepedulian mahasiswa harus mulai ditimbulkan sejak berada di kampus. Oleh karena itu,
upaya untuk mengembangkan sikap peduli dikalangan mahasiswa sebagai subjek didik sangat penting.
Hal tersebut dapat diwujudkan dengan:

i. Terlibat aktif dalam kegiatan kemahasiswaan


ii. Terlibat aktif menjauhi Narkotika dan obat-obat terlarang
iii. Menghormati dosen, pegawai dan sesama mahasiswa
iv. Terlibat aktif menjaga keamanan, kebersihan dan keindahan lingkungan kampus

3. Kemandirian

Kemandirian merupakan bentuk karakter yang kuat pada diri seseorang menjadi tidak
bergantung terlalu banyak pada orang lain. Mentalitas kemandirian yang dimiliki seseorang
memungkinkannya untuk mengoptimalkan daya pikirnya guna bekerja secara efektif.

Dengan karakter Kemandirian tersebut mahasiswa di tuntut untuk mengerjakan semua tanggung
jawab dengan usahanya sendiri dan bukan orang lain (Supardi, 2004)

Muhammad Nuh berpendapat bahwa yang bisa membedakan siswa dan mahasiswa adalah
kedewasaan. Mahasiswa harus memegang 2 hal substansial, yakni tanggung jawab dan kemandirian.
Seseorang yang dewasa biasanya memiliki sikap 3R (Reliable, Responsible, dan Reasonable). Reliable
artinya dapat diandalkan, responsible yaitu orang yang selalu bertanggung jawab apa yang diperbuat
serta siap menanggung resiko apapun yang dihadapi, dan reasonable artinya apapun yang dilakukannya
harus dilandasi dengan dasar pemikiran dan tujuan yang jelas.

4. Kedisiplinan

Disiplin adalah ketaatan atau kepatuhan kepada peraturan (Sugono,2008). Disiplin adalah kunci
keberhasilan semua orang, ketekunan, dan konsisten untuk terus mengembangkan potensi diri membuat
seseorang akan selalu mampu memberdayakan dirinya dalam menjalani tugasnya. Kapatuhan pada
prinsip kebaikan dan kebenaran menjadi pegangan utama dalam bekerja. Seseorang yang mempunyai
pegangan kuat terhadap nilai kedisiplan tidak akan terjerumus ke dalam kemalasan yang mendambakan
kekayaan dengan cara mudah.

Nilai kedisiplinan pada mahasiswa dapat diwujudkan antara lain dalam bentuk mengatur dan
mengelolah waktu untuk menyelesaikan tugas baik dalam lingkup akademik maupun sosial kampus.
Kepatuhan pada seluruh peraturan dan ketentuan yang berlaku di kampus, mengerjakan sesuatunya tepat
waktu, dan fokus pada perkuliahan.

5. Tanggung jawab

Tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya atau kalau terjadi apa-apa
boleh dituntut , dipersalahkan dan diperkarakan (Sugono,2008)

6
[ ] ETIKA BISNIS

Mahasiswa yang memiliki rasa tanggung jawab akan meiliki kecenderungan menyelesaikan
tugas lebih baik dibanding mahasiswa yang tidak memiliki rasa tanggung jawab. Seseorang yang dapat
menunaikan tanggung jawabnya sekecil apapun itu dengan baik akan mendapatkan kepercayaan dari
orang lain.

Penerapan nilai tanggung jawab pada mahasiswa dapat diwujudkan dalam bentuk: Menyiapkan
masa depan dengan baik, memiliki sikap yang baik

6. Kerja keras

Bekerja keras dapat didasari dengan adanya kemauan. Kemauan menimbulkan asosiasi dengan
keteladanan, ketekunan, daya tahan, daya kerja, pendirian, pengendalian diri, keberanian, ketabahan,
keteguhan, dan pantang mundur

Bekerja keras merupakan hal yang penting guna tercapainya hasil yang sesuai dengan target.
Kerja keras dapat diwujudkan oleh mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya : dalam
melakukan sesuatu menghargai proses bukan hasil semata, tidak melakukan jalan pintas, belajar dan
mengerjakan tugas-tugas akademik dengan sungguh-sungguh.

7. Kesederhanaan

Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang menyadari kebutuhannya dan berupaya
memenuhi kebutuhan yang semestinya tanpa berlebih-lebihan. Dengan gaya hidup yang sederhana,
seseorang dibiasakan untuk tidak hidup boros yang tidak sesuai kemampuannya. Selain itu seseorang
yang bergaya hidup sederhana juga akan memperioritaskan kebutuhan diatas keinginannya dan tidak
tergoda untuk hidup dengan gemilang kemewahan. Ilmu pengetahuan adalah kekayaan utama yang
menjadi modal kehidupannya.

Mahasiswa dapat menerapkan nilai kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari, baik dikampus
maupun diluar kampus, misalnya : dengan hidup sesuai kebutuhan, tidak suka pamer kekayaan

8. Keberanian

Seseorang yang memiliki karakter kuat akan memiliki keberanian untuk menyatakan kebenaran,
berani mengaku kesalahan, berani bertanggungjawab, dan berani menolak kebatilan. Ia tidak akan
menoleransi adanya penyimpangan dan berani menyatakan penyangkalan secara tegas. Ia juga berani
berdiri sendiri dalam kebenaran walaupun semua kolega dan teman-teman sejawatnya melakukan
perbuatan yang menyimpang dari hal yang semestinya.

Nilai keberanian dapat dikembangkan oleh mahasiswa dengan kehidupan dikampus. Antara lain
dapat diwujudkan dalam bentuk:

o Bertanya kepada dosen jika tidak mengerti


o Berani mengemukakan pendapat secara bertanggungjawab ketikak berdiskusi atau
berani maju ke depan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan

9. Keadilan

7
[ ] ETIKA BISNIS

Adil adalah sama berat, tidak berat sebalah, tidak memihak. Keadialn adalah penilaian dengan
memberikan kepada siapapun sesuai apa yang menjadi haknya, yakni dengan bertindak proporsional dan
tidak melanggar hukum. Pribadi dengan karakter yang baik akan menyadari bahwa apa yang dia terima
sesuai dengan jerih payahnya. Ia tidak akan menuntut untuk mendapatkan lebih dari apa yang dia
upayakan. Jika ia seorang pemimpin, ia akan memberiakan kompensasi yang adil kepada bawahannya
sesuai dengan kinerjanya, ia juga ingin mewujudkan keadilan dan kemakuran bagi masyarakat dan
bangsanya.

PRINSIP-PRINSIP ANTI KORUPSI


1. AKUNTABILITAS

Akuntabilitas adalah kesesuaian antara aturan dan pelaksanaan kerja. Semua lembaga
mempertanggung jawabkan kinerjanya sesuai aturan main baik dalam bentuk konvensi (de facto)
maupun konstitusi (de jure), baik pada level budaya (individu dengan individu) maupun pada level
lembaga.

2. TRANSPARANSI

Tranparansi merupakan prinsip yang mengharuskan semua proses kebijakan dilakukan secara
terbuka, sehingga segala bentuk penyimpangan dapat diketahui oleh publik (Prasojo, 2007) Dalam
prosesnya, terdapat lima proses dalam transparansi, yaitu penggaran, penyusunan kegiatan,
pembahsan, pengawasan, dan evaluasi.

3. KEWAJARAN

Prinsip kewajaran (fairness) dimaksudkan untuk mencegah adanya ketidakwajaran dalam


penganggaran, dalam bentuk mark up maupun ketidakwajaran lainnya. Prinsip kewajaran terdiri atas
lima sifat, yaitu sebagai berikut :

1) Komprehensif
Mempertimbangkan semua aspek, taat asas, prinsip pembebanan, pengeluaran, dan tidak
melampaui batas (off budget). Hal ini dimaksudkan agar anggaran dapat dimanfaatkan
sewajarnya.
2) Fleksibilitas
Tersedianya kebijakan tertentu untuk mencapai efesiensi dan efektivitas (prinsip tak tersangka,
perubahan, pergerakan, dan disentrilisasi manajemen)
3) Terprediksi
Ketetapan dalam perencanaan berdasarkan asas value for money dengan tujuan untuk
menghindari defisit dalam tahun anggaran berjalan. Adanya anggaran yang terprediksi
merupakan cerminan dari prinsip kewajaran dalam proses pembangunan.
4) Kejujuran
Merupakan bagian utama dari prinsip kewajaran. Kejujuran adalah tidak adanya bias perkiraan
penerimaan atau pengeluaran yang disengaja yang berasal dari pertimbangan teknis maupun
politis.
5) Informatif

8
[ ] ETIKA BISNIS

Informatif merupakan ciri dari kejujuran. Sistem informasi pelaporan yang teratur dan
informatif adalah dasar penilain kinerja, kejujuran, dan proses pengambilan keputusan.
Pemerintah yang informatif merupakan pemerintah yang telah bersikap

4. Kebijakan

Kebijakan ini berperan untuk mengatur tata interaksi agar tidak terjadi penyimpangan yang
dapat merugikan negara dan masyarakat. Kebijakan anti korupsi ini tidak selalu identik dengan
undang-undang anti korupsi, namun bisa berupa undang-undang kebebasan mengakses informasi,
undang-undang desentralisasi, undang-undang anti-monopoli, maupun lainnya yang dapat
memudahkan masyarakat mengetahui sekaligus mengontrol terhadap kinerja dan penggunaan
anggaran negara oleh para pejabat negara.

5. UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI DAN TINDAK PIDANA


KORUPSI DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI
INDONESIA

Berikut beberapa macam cara upaya pemerintah dalam melanjutkan tingkat jumlah pemberantasan korupsi di
Indonesia:

1. Upaya Pencegahan
Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam melakukan pemberantasan korupsi adalah melalui
tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan ini dimaksudkan agar masyarakat memiliki benteng diri yang kuat
guna terhindar dari perbuatan yang mencerminkan tindakan korupsi di dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Upaya pencegahan tindakan korupsi dilakukan oleh permerintah berdasarkan nilai-nilai dasar Pancasila agar
dalam tindakan pencegahannya tidak bertentangan dengan nilai-nilai dari Pancasila itu sendiri. Adapun tindakan
pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka melakukan upaya pemberantasan korupsi di wilayah
negara Indonesia diantaranya:

1. Penanaman Semangat Nasional


Penanaman semangat nasional yang positif dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam bentuk penyuluhan
atau diksusi umum terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Kepribadian yang
berdasarkan Pancasila merupakan kepribadian yang menjunjung tinggi semangat nasional dalam penerapan
Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya penanaman semangat nasional Pancasila dalam diri
masyarakat, kesadaran masyarakat akan dampak korupsi bagi negara dan masyarakat akan bertambah. Hal
ini akan mendorong masyarakat Indonesia untuk menghindari berbagai macam bentuk perbuatan korupsi
dalam kehidupan sehari-hari demi kelangsungan hidup bangsa dan negaranya.

2. Melakukan Penerimaan Pegawai Secara Jujur dan Rerbuka


Upaya pencegahan sebagai bentuk upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh pemerintah dapat
dilakukan melalui penerimaan aparatur negara secara jujur dan terbuka. Kejujuran dan keterbukaan dalam
penerimaan pegawai yang dilakukan oleh pemerintah menunjukkan usaha pemerintah yang serius untuk
memberantas tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan suap menyuap dalam penerimaan pegawai.
Pemerintah yang sudah berupaya melakukan tindakan pencegahan dalam penerimaan pegawai perlu
disambut baik oleh masyarakat terutama dalam mendukung upaya pemerintah tersebut.

9
[ ] ETIKA BISNIS

Jika pemerintah telah berupaya sedemikian rupa melakukan tindakan pencegahan korupsi dalam
penemerimaan aparatur negara tapi masyarakat masih memberikan peluang terjadinya korupsi, usaha
pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah dapat menjadi sia-sia. Selain itu, jika perilaku masyarakat
yang memberikan peluang terjadinya tindakan korupsi dalam penerimaan pegawai diteruskan, maka tidak
dapat dipungkiri praktik tindakan korupsi akan berlangsung hingga dapat menimbulkan konflik diantara
masyarakat maupun oknum pemerintah.

3. Himbauan Kepada Masyarakat


Himbauan kepada masyarakat juga dilakukan oleh pemerintah dalam upaya melakukan pencegahan sebagai
bentuk upaya pemberantasan korupsi di kalangan masyarakat. Himbauan biasanya dilakukan oleh
pemerintah melalui kegiatan-kegiatan penyuluhan di lingkup masyarakat kecil dan menekankan bahaya
laten adanya korupsi di negara Indonesia. Selain itu, himbauan yang dilakukan oleh pemerintah kepada
masyarakat menekankan pada apa saja yang dapat memicu terjadinya korupsi di kalangan masyarakat
hingga pada elite pemerintahan.

4. Pengusahaan Kesejahteraan Masyarakat


Upaya pemerintah dalam memberantas korupsi juga dilakukan melalui upaya pencegahan berupa
pengusahaan kesejahteraan masyarakat yang dilakukan pemerintah. Pemerintah berupa mensejahterakan
masyarakat melalui pemberian fasilitas umum dan penetapan kebijakan yang mengatur tentang
kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan rakyat yang diupayakan oleh pemerintah tidak hanya kesejahteraan
secara fisik saja melain juga secara lahir batin. Harapannya, melalui pengupayaan kesejahteraan
masyarakat yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup dapat memberikan penguatan kepada
masyarakat untuk meminimalisir terjadinya perbuatan korupsi di lingkungan masyarakat sehingga dapat
mewujudkan masyakarat yang madani yang bersih dari tindakan korupsi dalam kehidupan sehari-hari.

5. Pencatatan Ulang Aset


Pencatan ulang aset dilakukan oleh pemerintah dalam rangka memantau sirkulasi aset yang dimiliki oleh
masyarakat. Pada tahun 2017 ini, pemerintah menetapkan suatu kebijakan kepada masyarakatnya untuk
melaporkan aset yang dimilikinya sebagai bentuk upaya pencegahan tindakan korupsi yang dapat terjadi di
masyarakat. Pencatatan aset yang dimiliki oleh masyarakat tidak hanya berupa aset tunai yang disimpan di
bank, tetapi juga terhadap aset kepemilikan lain berupa barang atau tanah. Selain itu, pemerintah juga
melakukan penelurusan asal aset yang dimiliki oleh masyarakat untuk mengetahui apakah aset yang
dimiliki oleh masyarakat tersebut mengindikasikan tindak pidana korupsi atau tidak.

2. Upaya Penindakan
Upaya penindakan dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap pelaku tindak pidana korupsi. Dalam
pelaksanaan upaya penindakan korupsi, pemerintah dibantu oleh sebuah lembaga independen pemberantasan
korupsi yaitu KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Penindakan yang dilakukan oleh KPK semenjak KPK
berdiri pada tahun 2002 telah membuahkan hasil yang dapat disebut sebagai hasil yang memaksimalkan. Upaya
penindakan yang dilakukan oleh KPK terhadap tindak pidana korupsi merupakan upaya yang tidak main-main
dan tidak pandang bulu.

Siapapun yang terindikasi melakukan tindak pidana korupsi akan ditindak oleh lembaga independen ini tanpa
terkecuali. Dalam melaksanakan tugasnya, KPK membutuhkan peranan lembaga peradilan dalam menegakkan
keadilan di Indonesia terutama yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi. Tentunya pelaksanaan proses
peradilan dilakukan sesuai dengan mekanisme sistem peradilan di Indonesia dan berdasarkan hukum dan
undang-undang yang berlaku. Penindakan yang dilakukan pemerintah melalui KPK terhadap pelaku tindak
pidana korupsi dimaksudkan agar memberikan efek jera kepada para pelakunya dan secara tidak langsung
memberikan shock therapy pada orang-orang yang berniat untuk melakukan tindak pidana korupsi baik itu di
dalam pemerintahan maupun di dalam kehidupan sehari-hari.

10
[ ] ETIKA BISNIS

3. Upaya Edukasi
Upaya edukasi yang dilakukan pemerintah dalam usahanya untuk memberantas korupsi adalah upaya yang
dilakukan melalui proses pendidikan. Proses pendidikan di Indonesia dilakukan dalam tiga jenis yaitu
pendidikan formal, informal, dan non formal. Melalui proses edukasi, masyarakat diberikan pendidikan anti
korupsi sejak dini agar masyarakat sadar betul akan bahaya korupsi bagi negara-negara khususnya negara
Indonesia.

Selain itu, melalui edukasi yang diberikan oleh pemerintah, peranan mahasiswa dalam pemberantasan korupsi
juga dapat dimaksimalkan sehingga para mahasiswa ini dapat memberikan contoh yang baik bagi adik-adiknya
maupun bagi masyarakat umum terhadap cara pemberantasan korupsi dari dalam diri masing-masing. Upaya
edukasi yang dilakukan oleh pemerintah juga termasuk sebagai upaya membangun karakter bangsa di era
globalisasi untuk memberantas pertumbuhan budaya korupsi yang dapat merugikan kehidupan bermasyarakat
dan bernegara.

TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM PERATURAN PERUNDANG-


UNDANGAN DI INDONESIA
Berikut ini adalah naskah Peraturan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah (PP), Instruksi Presiden
(Inpres), yang berkaitan dengan Tindak Pidana Korupsi. TAP MPR No. XI Tahun 1998 tentang
penyelenggaraan Negara yang bebas KKN Undang-Undang :
1. UU nomor 20 tahun 2001 Pemberantasan Tidak pidana Korupsi
2. UU 30/2002 Komisi Anti Korupsi
3. UU 31/1999 Pemberantasan Korupsi. Telah diperbaharui menjadi UU No 20 Tahun 2001
4. UU 11/1980 tentang Antisuap
5. UU 15/2002 tentang tindak pidana anti pencucian uang. UU ini telah dirubah menjadi UU No 25 tahun
2003
6. UU 25/2003 tentang perubahan UU No 15/2002 tentang tindak pidana anti pencucian uang
7. UU No 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih Bebas dari KKN
8. UU No 7 Tahun 2006 Tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi, 2003
9. UU No 1 Tahun 2006 Tentang Bantuan Timbal Balik Masalah pidana
10.UU No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban (termasuk versi bahasa Inggrisnya)

Negara mengeluarkan 3 produk hukum tentang pemberantasan tindak pidana korupsi yaitu: UU No
31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan
Atas UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan UU No 28 Tahun 1999
tentang penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Kesimpulan dari ketiga UU yang menyangkut pemberantasan tindak pidana korupsi ini
merupakan lex specialis generalis. Materi substansi yang terkandung didalamnya antara lain :

11
[ ] ETIKA BISNIS

1. Memperkaya diri/orang lain secara melawan hokum (Pasal 2 ayat (1) UU No.31 Tahun 1999). Jadi, pelaku
tindak pidana korupsi tersebut adalah setiap orang baik yang berstatus PNS atau No-PNS serta korporasi
yang dapat berbentuk badan hokum atau perkumpulan.
2. Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi
3. Dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara.
4. Adanya oenyakahgunaan kewenangan, kesempatan atau sarana (Pasal 3 UU N0.31 Tahun 1999).
5. Menyuap PNS atau Penyelenggara Negara (Pasal 5 UU No.20 Tahun 2001).
6. Perbuatan curang (Pasal 7 UU No. 20 Tahun 2001).
7. Penggelapan dalam jabatan (Pasal 6 UU No. 20 Tahun 2001)

12