Anda di halaman 1dari 12

Pengertian kewirausahaan secara umum merupakan suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang

inovatif dan kreaif yang bermanfaat dan memiliki nilai lebih.


Secara harfiah kewirausahaan terdiri dari kata dasar wirausaha yang emndapat awalan ke dan
akhiran an, sehingga dapat di artikan kewirausahaan berkaitan dengan wirausaha.
Wira berarti keberanian dan usaha berarti kegiatan bisnis yang komersial atau non-komersial,
sehingga kewirausahaan dapat diartikan sebagai keberanian seseoran untuk melakukan suatu
kegiatan bisnis .

Pengertian kewirausajhaan menurut beberapa tokoh :


1. Menurut drs. Joko untoro
Kewirausahaan adalah suatu keberanian untuk melakukan upaya emmenuhi kebutuhan
hidup yang dilakukan oleh seseorang atasa dasar kemampuannya dengan cara
memanfaatkan segala potensi yang dimliki untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
bagi dirinya dan orang lain .
2. Dalam buku entrepreneurial finance oleh J. Leach ronald melicher
Kewirausahaan berarti sebuah proses dalam merubah ide menjadi komersil dan
menciptakan nilai process of changing ideas into commercial opportunities and creating
value”
3. Menurut bapak eddy soeryanto soegoto
Kewirausahaan atau enterpreneurship adalah usaha kreatif yang dibangun berdasarkan
inovasi untuk menghasilkan sesuatu yang bar, memiliki nilai tambah, emmeberi manfaat,
menciptakan lpaangan kerja dan hasilnya berguna bagi orang lain.
4. Menurut zimmerer
Suatu proses penerapan kreavitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan
menemukan peluang untuk memeperbaiki kehidupan usaha

https://fidahsite.wordpress.com/2016/03/23/tugas-kewirausahaan/
http://siddiqarrohman.blogspot.co.id/2016/09/pengerian-karakteristik-dan-hubungan.html

*sifat sifat wirausaha dalam wikipedia :


 Percatya diri
Percaya diri dlam artian tidak bergantung kepada orang lain dan memiliki rasa
tanggung jawab yang tinggi, obyektif dan kritis. tidak begitu saja menyerap opini
orang lain, tetapi mempertimbangkannya secara kritis. jiwa sosial yang tinggi, mau
menolong orang lain, dan yang paling tinggi adalah kedekatannya dengan khaliq
sang pencipta, Tuhan.

 Berorientasikan pada tuigas dan hasil


Maksudnya adalah seorang wirausaha harus mempunyai sikap tanggung jaab pada
tugas yang dibebankan kepadanya dan juga harus bertanggung jawab pada hasil dari
tugas tersebut. Sebagian dari masyarakat indonesia menganggap mudah
semuatugas yang di bebankan padanya. Misalnya bila seseorang mahasiswa diberi
tugas yang akan dkumpulkan sampai hari senin, ia akan mengumpulkan tugasnya
pada hari minggu bahkan hari seninnya

 Berani mengambil resiko


Sebagai wirausahawan yang baru haruslah berani mengambil resiko dan
menghadapi langkah yang telah di ambil. Kemauan dan kemampuan untuk
mengambil resiko merupakan salah satu nilai utama dalam kewirausahaan.
Wirausaha menghindari situasi resiko yang rendah karena dianggap tidaka da
tantangannya dan juga menghindari resiko yang tinggi karena ingin berhasil.

 Kepemimpinan
Kepemimpinan sangat di butuhkan ioleh seorang wirausaha karena untuk
mempimpin anak buah/pegawainya. Seseorang tidak akn bisa menjadi
wirausahawan apabila ia tidak bisa memimpin, baik diri sendiri mauoun orang lain.
Seorang wirausahawan yang berhasil selalu memiliki sifat kepemimpinan,
kepeloporan, dan keteladannan. Dengan demikian ia mampu menggunakan
kreativitas dan inovasi sehingga selalu menampilkan barang dan jasa nya
dihasilkannya lebih cepat, lebih dulu berada di pasar
 Keorisinilan
 Berorientasi ke masa depan
 Jujur dan tekun
Ciri-ciri Wirausahawan yaitu:

1. percaya diri (kepercayaan, ketidaktergantungan, kepribadian mantap,


optimisme)+

Karakteristik kematangan seseorang adalah ia tidak tergantung pada orang


lain, dia memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, obyektif dan kritis. Dia
tidak saja begitu menyerap pendapat atau opini orang lain, tetapi dia
mempertimbangkan secara kritis. Emosionalnya boleh dikatakan sudah
stabil, tidak gampang tersinggung dan tingkat sosialnya tinggi serta
penolong dan dekat dengan Khaliq sang pencipta.

2. berorientasi tugas dan hasil (kebutuhan atau haus akan prestasi,


berorientasi laba atau hasil, tekun dan tabah, tekad kerja keras, motivasi
energik, penuh inisiatif)

Ciri-ciri seperti ini tidak mengutamakan prestise dulu prestasi


dikemudiankan, tetapi ia gandrung pada prestasi baru kemudian setelah
berhasil prestisenya akan naik. Berbagai motivasi akan muncul dalam
bisnis jika kita berusaha menyingkirkan prestise.

3. pengambil resiko (kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar)

Seseorang yang suka mengambil resiko akan memberikan kontribusi yang


baik jika dibawa ke dalam wirausaha agar terbiasa dengan resiko dan
tantangan, seperti persaingan harga turun naik, barang tidak laku, dan
persaingan bisnis. Namun semua tantangan ini harus dihadapi dengan
penuh perhitungan.

4. kepemimpinan (mampu memimpin, dapat bergaul dengan orang lain,


menanggapi saran - saran dan kritik)

Sifat kepemimpinan memang ada dalam diri masing-masing individu.


Seorang pemimpin yang baik harus bersifat responsive dan mau menerima
kritikan dari bawahan.
5. keorisinilan (inovatif, kreatif, fleksibel)

Sifat orisinil adalah tidak mengekor pada orang lain, tetapi memilki
pendapat sendiri, ada ide yang orisinil, dan ada kemampuan untuk
melaksanakan sesuatu. Orisinil tidak berarti baru sama sekali, tetapi
produk tersebut mencerminkan hasil kombinasi baru atau reintegrasi dari
komponen-komponen yang sudah ada, sehingga melahirkan sesuatu yang
baru.

6. berorientasi masa depan (Belajar dari pengalaman masa lalu dan selalu
memiliki pandangan untuk kemajuan dan pencapaian tujuan.)

Seorang wirausaha haruslah perspektif, mempunyai visi ke depan, oleh


karena itu kontinuitasnya harus dijaga dan pandangan harus ditujukan jauh
kedepan. Untuk menghadapi pandangan jauh kedepan , seorang
wirausaha akan menyusun perencanaan dan strategi yang matang, agar
jelas langkah-langkah yang akan dilaksanakan.

Jiwa, sikap dan perilaku kewirausahaan memiliki ciri-ciri yakni:

(1) penuh percaya diri, dengan indikator penuh keyakinan, optimis, disiplin,
berkomitmen dan bertanggungjawab;

(2) memiliki inisiatif, dengan indikator penuh energi, cekatan dalam


bertindak dan aktif;

(3) memiliki motif berprestasi dengan indikator berorientasi pada hasil dan
berwawasan ke depan;

(4) memiliki jiwa kepemimpinan dengan indikator berani tampil beda, dapat
dipercaya dan tangguh dalam bertindak; dan

(5) berani mengambil risiko dengan penuh perhitungan.

Percaya diri dan keyakinan dijabarkan ke dalam karakter


ketidaktergantungan, individualitas dan optimis. Ciri kebutuhan akan
berprestasi meliputi karakter berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan,
tekad dan kerja keras, motivasi yang besar, energik dan inisiatif.
Kemampuan mengambil risiko berarti suka pada tantangan. Berlaku
sebagai pemimpin berarti dapat bergaul dengan orang lain (bawahan),
menanggapi saran dan kritik, inovatif, fleksibel, punya banyak sumber,
serba bisa dan mengetahui banyak. Disamping itu, wirausahawan
mempunyai pandangan ke depan dan perspektif yang maju.
1. Percaya Diri
Orang yang tinggi percaya dirinya adalah orang yang sudah matang jasmani dan
rokhaninya. Karakteristik kematangan seseorang adalah ia tidak tergantung pada
orang lain, memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, obyektif, dan kritis,
emosionalnya stabil, tidak gampang tersinggung dan naik pitam.
2. Berorientasi pada tugas dan hasil
Berbagai motivasi akan muncul dalam bisnis jika kita berusaha menyingkirkan
prestise. Kita akan mampu bekerja keras, enerjik, tanpa malu dilihat teman, asal
yang kita kerjakan adalah halal.

3. Pengambilan Resiko
Wirausaha penuh resiko dan tantangan, seperti persaingan, harga turun naik,
barang tidak laku dan sebagainya. Namun semua tantangan ini harus dihadapi
dengan penuh perhitungan.
4. Kepemimpinan
Pemimpin yang baik harus mau menerima kritik dari bawahan, ia harus
bersifat responsive.
5. Keorisinilan
Yang dimaksud orisinal di sini ialah I tidak hanya mengekor pada orang lain, tetapi
memiliki pendapat sendiri, ada ide yang orisinil, ada kemampuan untuk
melaksanakan sesuatu. Orisinil tidak berarti baru sama sekali, tetapi produk tersebut
mencerminkan hasil kombinasi baru atau reintegrasi dari komponen-komponen yang
sudah ada, sehingga melahirkan sesuatu yang baru.
6. Berorientasi ke masa depan
Untuk menghadapi pandangan jauh ke depan, seorang wirausaha akan menyusun
perencanaan dan strategi yang matang, agar jelas langkah-langkah yang kan
dilaksanakan.
7. Kreativitas
Menurut Conny Setiawan (1984:8), kreativitas diartikan sebaga kemampuan untuk
menciptakan suatu produk baru. Produk baru artinya tidak perlu seluruhnya baru,
tapi dapat merupakan bagian-bagian produk saja.

Contoh: Seorang wirausaha membuat berbagai kreasi dalam kegiatan usahanya,


seperti susunan barang, pengaturan rak pajangan, menyebarkan brosur promosi
dsb.

Jadi kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru atau


melihat hubungan-hubungan baru antara unsure, data, variable; yang sudah ada
sebelumnya.
8. Konsep 10 D dari Bygrave
• Dream

Seorang wirausaha mempunyai visi bagaimana keinginannya terhadap masa depan


pribadi dan bisnisnya dan yang paling penting adalah dia mempunyai kemampuan
untuk mewujudkan impian tsb.

• Decisiveness

Seorang wirausaha adalah orang yang tidak bekerja lambat. Kecepatan dan
ketepatan dia mengambil keputusan adalah merupakan factor kunci (key factor)
dalam kesuksesan bisnisnya.
• Doers

Seorang wirausaha tidak mau menunda-nunda kesempatan yang dapat di


manfaatkan.

• Determination

Seorang wirausaha dalam melaksanakan kegiatannya memiliki rasa tanggung jawab


yang tinggi dan tidak mau menyerah, walaupun dia dihadapkan pada halangan atau
rintangan yang tidak mungkin diatasi.

• Dedication

Dedikasi seorang wirausahawan sangat tinggi, semua perhatian dan kegiatannya


dipusatkan semata-mata untuk kegiatan bisnisnya.

• Devotion

Devotion berarti kegemaran atau kegila-gilaan. Hal inilah yang mendorong dia
mencapai keberhasilan yang sangat efektif untuk menjual produk yang
ditawarkannya, karena seorang wirausahawan akan mencintai pekerjaan bisnisnya.

• Details

Seorang wirausahawan akan selalu memperhatikan factor-factor kritis. Dia tidak


akan mengabaikan factor-factor kecil tertentu yang dapat menghambat kegiatan
usahanya.

• Destiny

Seorang wirausaha bertanggung jawab terhadap nasib dan tujuan yng hendak

dicapainya.

• Dollars
Wirausahawan tidak sangat mengutamakan kekayaan, motivasinya bukan
memperoleh uang, akan tetapi uang dianggap sebagai ukuran kesuksesan
bisnisnya.

• Distribute
Seorang wirausahawan bersedia mendistribusikan kepemilikan bisnisnya terhadap
orang-orang kepercayannya, yaitu orang-orang yang kritis dan mau diajak untuk
mencapai sukses dalam bidang bisnis.

9. Beberapa Kelemahan Wirausaha Indonesia


Kelemahan tsb adalah:

• Sifat mentalitet yang meremehkan mutu

• Sifat mentalitet yang suka menerabas

• Sifat tak percaya kepada diri sendiri

• Sifat tak berdisiplin murni

• Sifat mentalitet yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh

Masyarakat kita begitu cepat ingin menikmati waktu santai walaupun


penghasilannya belum begitu tinggi.

10. Pemanfaatan Waktu


Ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk santai. Tapi seyogyanyalah kita
menggunakan waktu lebih banyak untuk kegiatan produktif. Bagi wirausahawan hari
libur tidak banyak, bahkan mereka menganggap hari libur sebagai peluang bisnis,
mereka tidak libur, tapi melayani kebutuhan masyarakat yang sedang berlibur.
Seorang wirausahawan sejati adalah seorang yang dapat bekerja dalam satu tim,
bias mempercayai orang lain, tidak bekerja sendiri, one-man show.

Bagi wirausahawan, tentu pembicaraan lebih focus pada bisnis, mana ancaman,
yang harus dihindarkan, dan mana peluang yang dapat dimanfaatkan, bertukar
pikiran dengan relasi adalah bahan pembicaraan utama para pelaku bisnis.

=====faktor pemilihan lapangan usaha====


Memilih Lapangan Usaha dan Mengembangkan Gagasan
Usaha Setelah mengetahui kebutuhan masyarakat dan berhasil menemukan
berbagai lapangan usaha dan gagasan usaha, maka langkah berikutnya adalah
menjawab
pertanyaan: “Manakah di antara lapangan usaha dan gagasan-gagasan usaha tersebut
yang paling tepat dan cocok untuk saya?” Pertanyaan ini sangat tepat, mengingat setiap
orang memiliki potensi diri yang berbeda-beda. Tentunya dalam memilih lapangan usaha
dan mengembangkan gagasan usaha, kita perlu menyesuaikan dengan potensi diri yang
kita
miliki. Kekeliruan dalam memilih yang disebabkan karena ketidakcocokan atau
Ketidaksesuaian pada akhirnya akan mendatangkan kesulitan atau bahkan kegagalan di
kemudian hari.
Telah banyak fakta yang dapat dikemukakan, bahwa masih banyak wirausahawan yang
memulai usahanya dengan melihat keberhasilan orang lain dalam menjalankan
usahanya
(latah atau ikut-ikutan). Pada hal belum tentu orang lain berhasil dalam suatu lapangan
usaha, kita juga dapat berhasil dengan lapangan usaha yang sama. Mungkin saja orang
lain
berhasil karena potensi diri yang dimilikinya cocok dengan lapangan usaha tersebut dan
kemampuan dia untuk mengakses informasi terkait dengan usaha yang dijalankannya.
Bisa
saja kita mengikuti orang yang telah berhasil dalam suatu lapangan usaha, namun kita
perlu
memiliki nilai lebih dari aspek kualitas yang kita tawarkan kepada konsumen. Namun
kemampuan menawarkan aspek kualitas yang lebih tetap juga terkait dengan potensi
diri
yang kita miliki.

Olehnya itu, dalam memilih lapangan usaha yang akan kita geluti, perlu
dipertimbangkan hal-hal berikut:
a. Lapangan usaha yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok bagi kita.
b. Lapangan usaha yang pada masa lalu menguntungkan, belum tentu pada saat ini
masih menguntungkan, atau lapangan usaha yang menguntungkan saat ini belum
tentu menguntungkan di masa yang akan datang.
c. Lapangan usaha yang berkembang baik di suatu daerah, belum tentu dapat
berkembang dengan baik pula di daerah lain, dan sebaliknya.
d. Berangkat dari pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka dalam memilih lapangan
usaha, kita perlu kembali melihat dan mengkaji kondisi internal kita dan kondisi
eksternal dimana usaha kita jalankan, karena faktor internal dan eksternal ini akan
sangat menentukan kesuksesan kita dalam menjalankan usaha. Faktor internal yang
dimaksud seperti penguasaan sumberdaya (lahan, bangunan, peralatan dan finansial),
penguasaan teknis atau keterampilan, penguasaan manajemen dan jejaring sosial yang
kita miliki. Sedangkan faktor eksternal seperti peraturan pemerintah, tingkat permintaan
dan penawaran, persaingan, resiko dan prospek ekonomi baik lokal, regional, nasional
maupun global. Berdasarkan uraian di atas, maka langkah awal yang perlu kita lakukan
adalah menginventarisir berbagai jenis lapangan usaha dan gagasan produk yang
bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Kehidupan manusia dapat
berkualitas ketika semua komponen kebutuhannya terpenuhi.

Mungkin dari langkah awal tadi, kita telah menemukan ratusan atau bahkan ribuan
gagasan usaha. Untuk memperkecil pilihan dalam melakukan analisis berikutnya, maka
kita
harus menyeleksi berbagai jenis gagasan usaha yang telah kita lakukan pada langkah
pertama tadi. Gagasan usaha yang dipilih adalah gagasan yang memiliki prospek secara
ekonomi yang dapat berupa pertimbangan bahwa produk yang dihasilkan merupakan
kebutuhan vital bagi manusia dengan tingkat permintaan dan harga yang relatif
memadai.

Selanjutnya alternatif pilihan lebih diperkecil lagi dengan memilih beberapa gagasan
usaha dengan mempertimbangkan potensi diri (faktor internal) kita. Hasil akhir dari
langkahlangkah
yang telah kita lakukan akan diperoleh beberapa gagasan usaha yang telah terurut
berdasarkan prioritasnya. Agar pilihan kita lebih aman dan dapat dikuasai dengan baik,
maka
perlu dilakukan.

Analisis. Kembali dengan mempertimbangkan faktor internal berupa kekuatan dan


kelemahan yang kita miliki jika kita memilih gagasan usaha yang bersangkutan, dan
faktor
eksternal berupa peluang dan ancaman yang akan dihadapi jika kita menjatuhkan
pilihan
pada gagasan usaha yang bersangkutan. Analisis ini sering dikenal dengan analisis
SWOT.
Bukan tidak mungkin, setelah melakukan langkah analisis ini, kita akan menjatuhkan
pilihan
pada gagasan usaha yang menjadi prioritas kedua atau ketiga dari hasil analisis
sebelumnya.

Menemukan Peluang
Usaha Peluang usaha bersumber dari adanya kebutuhan dari individu atau masyarakat.
Oleh karena itu jika ingin mulai mewujudkan berwirausaha, hendaknya terlebih dahulu
menjawab pertanyaan” “Apakah yang menjadi kebutuhan masyarakat atau kebanyakan
anggota masyarakat saat ini atau di masa yang akan datang?”. Untuk memahami kebutuhan
masyarakat diperlukan suatu diagnosa terhadap lingkungan usaha secara keseluruhan,
yang meliputi faktor ekonomi, politik, pasar, persaingan, pemasok, teknologi, sosial dan
geografi. Lingkungan usaha senantiasa berubah setiap saat, bahkan perubahannya cukup
pesat dan seiring dengan itu terjadi pula perubahan kebutuhan masyarakat. Untuk
menemukan peluang usaha yang prospektif seharusnya kita sebagai wirausahawan
senantiasa mencari informasi yang terkait dengan perubahan lingkungan dan kebutuhan
masyarakat. Sumber informasi dapat diperoleh dari instansi/lembaga pemerintah, media
massa, pasar atau mungkin melalui wawancara dengan konsumen. Jadi, peluang
senantiasa ada karena perubahan-perubahan terus berlangsung baik di tingkat individu,
maupun ditingkat masyarakat. Kemampuan kita melihat peluang sangat tergantung dari
informasi yang kita peroleh tentang faktor lingkungan usaha.

Berangkat dari pertanyaan di atas dengan memanfaatkan potensi diri kita, maka dalam
menemukan peluang usaha yang cocok, kita dapat menggunakan dua pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan in-side-out (dari dalam ke luar) bahwa keberhasilan akan dapat
diraih dengan memenuhi kebutuhan yang ada saat ini.
2. Pendekatan out-side-in (dari luar ke dalam) bahwa keberhasilan akan dapat
diraih dengan menciptakan kebutuhan.

Memilih Lapangan Usaha dan Mengembangkan Gagasan Usaha.

Setelah mengetahui kebutuhan masyarakat dan berhasil menemukan berbagai lapangan


usaha dan gagasan usaha, maka langkah berikutnya adalah menjawab pertanyaan:
“Manakah di antara lapangan usaha dan gagasan-gagasan usaha tersebut yang paling
tepat dan cocok untuk saya?” Pertanyaan ini sangat tepat, mengingat setiap orang memiliki
potensi diri yang berbeda-beda. Tentunya dalam memilih lapangan usaha dan
mengembangkan gagasan usaha, kita perlu menyesuaikan dengan potensi diri yang kita
miliki. Kekeliruan dalam memilih yang disebabkan karena ketidakcocokan atau
Ketidaksesuaian pada akhirnya akan mendatangkan kesulitan atau bahkan kegagalan di
kemudian hari.

Telah banyak fakta yang dapat dikemukakan, bahwa masih banyak wirausahawan yang
memulai usahanya dengan melihat keberhasilan orang lain dalam menjalankan usahanya
(latah atau ikut-ikutan). Pada hal belum tentu orang lain berhasil dalam suatu lapangan
usaha, kita juga dapat berhasil dengan lapangan usaha yang sama. Mungkin saja orang lain
berhasil karena potensi diri yang dimilikinya cocok dengan lapangan usaha tersebut dan
kemampuan dia untuk mengakses informasi terkait dengan usaha yang dijalankannya. Bisa
saja kita mengikuti orang yang telah berhasil dalam suatu lapangan usaha, namun kita perlu
memiliki nilai lebih dari aspek kualitas yang kita tawarkan kepada konsumen. Namun
kemampuan menawarkan aspek kualitas yang lebih tetap juga terkait dengan potensi diri
yang kita miliki.

Olehnya itu, dalam memilih lapangan usaha yang akan kita geluti, perlu dipertimbangkan
hal-hal berikut:
1. Lapangan usaha yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok bagi kita.
2. Lapangan usaha yang pada masa lalu menguntungkan, belum tentu pada
saat ini masih menguntungkan, atau lapangan usaha yang menguntungkan saat ini
belum tentu menguntungkan di masa yang akan datang.
3. Lapangan usaha yang berkembang baik di suatu daerah, belum tentu dapat
berkembang dengan baik pula di daerah lain, dan sebaliknya.
4. Berangkat dari pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka dalam memilih
lapangan usaha, kita perlu kembali melihat dan mengkaji kondisi internal kita dan
kondisi eksternal dimana usaha kita jalankan, karena faktor internal dan eksternal ini
akan Modul Pembelajaran Kewirausahaan 56 sangat menentukan kesuksesan kita
dalam menjalankan usaha. Faktor internal yang dimaksud seperti penguasaan
sumberdaya (lahan, bangunan, peralatan dan finansial), penguasaan teknis atau
keterampilan, penguasaan manajemen dan jejaring sosial yang kita miliki.
Sedangkan faktor eksternal seperti peraturan pemerintah, tingkat permintaan dan
penawaran, persaingan, resiko dan prospek ekonomi baik lokal, regional, nasional
maupun global.
Berdasarkan uraian di atas, maka langkah awal yang perlu kita lakukan adalah
menginventarisir berbagai jenis lapangan usaha dan gagasan produk yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup manusia. Kehidupan manusia dapat berkualitas ketika semua
komponen kebutuhannya terpenuhi. Komponen dan struktur kualitas kehidupan manusia
digambarkan oleh Suryana (2007) sebagaimana digambarkan pada Tabel berikut ini.

KEBUTUHAN AKTIFITAS INPUT SARANA HASIL


MANUSIA CAPALAN
FISIK Makan,minum, Makanan, Peralatan Jasmani yang :
olahraga,tidur minuman, makan, - Sehat
pakaian, obat- olahraga, - Segar
obatan rumah, - Kuat
gedung - Aman
MENTAL Belajar, Informasi, Alat-alat Manusia
RASIONAL membaca. pengetahuan, audio, Visual, rasional:
-
Mengopserfasi, knsep, rumus. buku, media
Menulis, meniliti dan alat tulis berpengetahuan
-objektif
-netral
-kritis
PSIKO- Bergaul, Isyarat, Alat-alat Manusia sosial :
SOSIAL berteman, lambing, transportasi -berstatus
berorganisasi bahasa , dan -populer
etika, Komunikasi -matang emosi
adatistiadat,
norma-norma
PSIKO- Menulis diary, Imaji, mimpi, Pena, kertas, Manusia
PERSONAL memoir, bisikan nurani, ruang berkepribadian,
introspeksi, suara-suara sunyi utuh,
refleksi,afiemasi muthmainnah
SPIRITUAL Meditasi, Alam, ilham, Mesjid, biara, Manusia :
berdo’a, sholat, hidayah, gereja, - Intuitif
puasa, ziaroh. wahyu,puisi, buku/kitab - Humanis
karya,seni. suci, - Religus
benda-benda - Saleh
simbolik

Mungkin dari langkah awal tadi, kita telah menemukan ratusan atau bahkan ribuan
gagasan usaha. Untuk memperkecil pilihan dalam melakukan analisis berikutnya, maka
kitaharus menyeleksi berbagai jenis gagasan usaha yang telah kita lakukan pada langkah
pertama tadi. Gagasan usaha yang dipilih adalah gagasan yang memiliki prospek secara
ekonomi yang dapat berupa pertimbangan bahwa produk yang dihasilkan merupakan
kebutuhan vital bagi manusia dengan tingkat permintaan dan harga yang relatif memadai.

Selanjutnya alternatif pilihan lebih diperkecil lagi dengan memilih beberapa gagasan
usaha dengan mempertimbangkan potensi diri (faktor internal) kita. Hasil akhir dari
langkahlangkah yang telah kita lakukan akan diperoleh beberapa gagasan usaha yang telah
terurutberdasarkan prioritasnya. Agar pilihan kita lebih aman dan dapat dikuasai dengan
baik, maka perlu dilakukan.

Analisis Kembali dengan mempertimbangkan faktor internal berupa kekuatan dan


kelemahan yang kita miliki jika kita memilih gagasan usaha yang bersangkutan, dan
faktoreksternal berupa peluang dan ancaman yang akan dihadapi jika kita menjatuhkan
pilihan pada gagasan usaha yang bersangkutan. Analisis ini sering dikenal dengan
analisis SWOT. Bukan tidak mungkin, setelah melakukan langkah analisis ini, kita akan
menjatuhkan pilihan pada gagasan usaha yang menjadi prioritas kedua atau ketiga dari
hasil analisis sebelumnya.