Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH HAK KEKAYAAN

INTELEKTUAL
MATA KULIAH : HUKUM BISNIS

OLEH : OEIRIKA LYASARI FERNANDA B


1610210785

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA


SURABAYA 17
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang mana atas
berkah dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
“Hak Cipta”. Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas. Penulis mengucapkan
banyak terima kasih kepada orang-orang yang ikut berpartisipasi dan juga pihak-
pihak yang sumber nya digunakan sebagai referensi dalam penyelesaian tugas
makalah ini.

Semoga makalah ini bisa berguna bagi penulis khususnya dan bagi pembaca
pada umumnya dan penulis minta maaf apabila terdapat kata-kata yang
menyinggung perasaan pembaca sekalian dan penulis menyadari penyusunan
makalah ini masih jauh dari sempurna karena masih banyak kekurangan dan
kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Penulis menerima kritik dan saran guna
menyempurnakan pembuatan makalah ini.

2|HAKI
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ 1
DAFTAR ISI .......................................................................................................................................... 3
BAB I . Pendahuluan............................................................................................................................ 4
A. Latar Belakang .......................................................................................................................... 4
B. Landasan Teori ......................................................................................................................... 5
C. Rumusan Masalah.................................................................................................................... 6
BAB II . Pembahasan ........................................................................................................................... 7
2.1 Sejarah Hak Cipta ................................................................................................................ 7
2.2 Pengertian dan Dasar Hukum Hak Cipta ......................................................................... 8
2.3 Fungsi dan Sifat Hak Cipta ............................................................................................... 10
2.4 Jenis-Jenis Hak Cipta ........................................................................................................ 11
2.5 Penegakan Hukum Hak Cipta .......................................................................................... 14
2.6 Pengecualian dan Batasan Hak Cipta .............................................................................. 14
2.7 Cara Pendaftaran Hak Cipta ............................................................................................. 16
2.8 Studi Kasus.......................................................................................................................... 19
a. Contoh Kasuk Hak Merk ................................................................................................... 19
b. Contoh kasus hak paten .................................................................................................... 21
BAB III . Penutup .............................................................................................................................. 24
Daftar Pustaka .................................................................................................................................... 25

3|HAKI
BAB I . Pendahuluan

A. Latar Belakang

Di era globalisasi saat ini dengan berbagai teknologi yang sudah


semakin maju, setiap orang dapat memanfaatkan teknologi saat ini dengan
mudah untuk melakukan usaha guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Akan
tetapi dengan kemajuan teknologi saat dapat dengan mudah melakukan
Pembajakan terhadap hasil karya orang lain dan di jual untuk mendapatkan
keuntungan dari hasil pembajakan hasil karya orang lain. Berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan bahwa pembajakan merupakan
pelanggaran hak cipta, dikatakan pelanggaran hak cipta karena telah
melanggar hak eksklusif dari pencipta atau pemegang hak cipta. Hak
eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya
sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan seperti
mengumumkan atau memperbanyak hak tersebut tanpa izin pemegangnya.

Dalam pengertian “mengumumkan atau memperbanyak” adalah


termasuk didalamnya kegiatan menerjemahkan, mengadaptasi, menjual,
menyewa dan mengomunikasikan ciptaan kepada publik melalui sarana
apapun.

Hak cipta adalah hak dari pembuat sebuah ciptaan terhadap


ciptaannya dan salinannya. Pembuat sebuah ciptaan memiliki hak penuh
terhadap ciptaannya tersebut serta salinan dari ciptaannya tersebut. Hak-hak
tersebut misalnya adalah hak-hak untuk membuat salinan dari ciptaannya
tersebut, hak untuk membuat produk derivatif, dan hak-hak untuk
menyerahkan hak-hak tersebut ke pihak lain. Hak cipta berlaku seketika
setelah ciptaan tersebut dibuat. Hak cipta tidak perlu didaftarkan terlebih
dahulu.

4|HAKI
B. Landasan Teori

Hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta
untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi
tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin suatu
ciptaan". Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk
membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula,
hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.

Hak kebendaaan yang sempurna dan hak kebendaan yang terbatas.


Hak kebendaan yang sempurna adalah hak kebendaan yang memberikan
kenikmatan yang sempurna bagi si pemilik. Selanjutnya untuk hak yang
demikian dinamakannya hak kemilikan. Sedangkan hak kebendaaan terbatas
adalah hak yang memberikan kenikmatan yang tidak penuh atas suatu benda.
Jika dibandingkan dengan hak milik. Artinya hak kebendaaan terbatas itu
tidak penuh atau kurang sempurnanya jika dibandingkan dengan hak milik.

Hak kekayaan immateril adalh suatu hak kekayaan yang objek haknya
adalah benda tidak berwujud. Dalam hal ini yang dapat dijadikan objek hak
kekayaan yang termasuk dalam cakupan benda tidak bertubuh, seperti: hak
tagihan, hak yang ditimbulkan dari penerbitan surat-surat berharga, hak sewa
dan lain-lain.

Hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta
untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi
tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin suatu
ciptaan". Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk
membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula,
hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas. Hak cipta merupakan
salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak cipta berbeda secara
mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti paten, yang
memberikan hak monopoli atas penggunaan invensi), karena hak cipta bukan
merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan hak untuk
mencegah orang lain yang melakukannya.

5|HAKI
C. Rumusan Masalah

Memang segi-segi hukum Hak Atas Kekayaan Intelektual terutama


berkenaan dengan Hak Cipta perlu tersosialisasi ditengah-tengah masyarakat
Indonesia. Maka itu perlu diketahui tentang:

1. Bagaimana sejarah hak cipta?


2. Apa pengertian dan dasar hukum hak cipta?
3. Apa fungsi dan sifat hak cipta?
4. Apa jenis-jenis hak cipta?
5. Bagaimana penegakan hukum hak cipta?
6. Perkecuailan dan batasan hak cipta?
7. Cara Pendaftaran hak cipta?

6|HAKI
BAB II . Pembahasan

2.1 Sejarah Hak Cipta

Konsep hak cipta di Indonesia merupakan terjemahan dari konsep


copyright dalam bahasa Inggris (secara harafiah artinya "hak salin").
Copyright ini diciptakan sejalan dengan penemuan mesin cetak. Sebelum
penemuan mesin ini oleh Gutenberg, proses untuk membuat salinan dari
sebuah karya tulisan memerlukan tenaga dan biaya yang hampir sama
dengan proses pembuatan karya aslinya. Sehingga, kemungkinan besar
para penerbitlah, bukan para pengarang, yang pertama kali meminta
perlindungan hukum terhadap karya cetak yang dapat disalin.

Awalnya, hak monopoli tersebut diberikan langsung kepada


penerbit untuk menjual karya cetak. Baru ketika peraturan hukum tentang
copyright mulai diundangkan pada tahun 1710 dengan Statute of Anne di
Inggris, hak tersebut diberikan ke pengarang, bukan penerbit. Peraturan
tersebut juga mencakup perlindungan kepada konsumen yang menjamin
bahwa penerbit tidak dapat mengatur penggunaan karya cetak tersebut
setelah transaksi jual beli berlangsung. Selain itu, peraturan tersebut juga
mengatur masa berlaku hak eksklusif bagi pemegang copyright, yaitu
selama 28 tahun, yang kemudian setelah itu karya tersebut menjadi milik
umum.

Berne Convention for the Protection of Artistic and Literary Works


("Konvensi Bern tentang Perlindungan Karya Seni dan Sastra" atau
"Konvensi Bern") pada tahun 1886 adalah yang pertama kali mengatur
masalah copyright antara negara-negara berdaulat. Dalam konvensi ini,
copyright diberikan secara otomatis kepada karya cipta, dan pengarang
tidak harus mendaftarkan karyanya untuk mendapatkan copyright. Segera
setelah sebuah karya dicetak atau disimpan dalam satu media, si
pengarang otomatis mendapatkan hak eksklusif copyright terhadap karya
tersebut dan juga terhadap karya derivatifnya, hingga si pengarang secara
eksplisit menyatakan sebaliknya atau hingga masa berlaku copyright
tersebut selesai.

7|HAKI
Pada tahun 1958, Perdana Menteri Djuanda menyatakan Indonesia
keluar dari Konvensi Bern agar para intelektual Indonesia bisa
memanfaatkan hasil karya, cipta, dan karsa bangsa asing tanpa harus
membayar royalti.

Pada tahun 1982, Pemerintah Indonesia mencabut pengaturan


tentang hak cipta berdasarkan Auteurswet 1912 Staatsblad Nomor 600
tahun 1912 dan menetapkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982
tentang Hak Cipta, yang merupakan undang-undang hak cipta yang
pertama di Indonesia[1]. Undang-undang tersebut kemudian diubah
dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987, Undang-undang Nomor 12
Tahun 1997, dan pada akhirnya dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun
2002 yang kini berlaku.

Perubahan undang-undang tersebut juga tak lepas dari peran


Indonesia dalam pergaulan antarnegara. Pada tahun 1994, pemerintah
meratifikasi pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade
Organization – WTO), yang mencakup pula Agreement on Trade Related
Aspects of Intellectual Propertyrights - TRIPs ("Persetujuan tentang
Aspek-aspek Dagang Hak Kekayaan Intelektual"). Ratifikasi tersebut
diwujudkan dalam bentuk Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994. Pada
tahun 1997, pemerintah meratifikasi kembali Konvensi Bern melalui
Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1997 dan juga meratifikasi World
Intellectual Property Organization Copyrights Treaty ("Perjanjian Hak
Cipta WIPO") melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1997.

2.2 Pengertian dan Dasar Hukum Hak Cipta

Hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta
untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi
tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin suatu
ciptaan". Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut
untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada
umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.
8|HAKI
Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak
untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan
izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta menyatakan bahwa Hak


Cipta adalah hak yang mengatur karya intelektual di bidang ilmu
pengetahuan, seni dan sastra yang dituangkan dalam bentuk yang khas
dan diberikan pada ide, prosedur, metode atau konsep yang telah
dituangkan dalam wujud tetap. Untuk mendapatkan perlindungan
melalui Hak Cipta, tidak ada keharusan untuk mendaftarkan. Pendaftaran
hanya semata-mata untuk keperluan pembuktian belaka. Dengan
demikian, begitu suatu ciptaan berwujud, maka secara otomatis Hak Cipta
melekat pada ciptaan tersebut. Biasanya publikasi dilakukan dengan
mencantumkan tanda Hak Cipta ©.

Indonesia saat ini telah meratifikasi konvensi internasional


dibidang hak cipta yaitu namanya Berne Convension tanggal 7 Mei 1997
dengan Kepres No. 18/ 1997 dan dinotifikasikan ke WIPO tanggal 5 Juni
1997, dengan konsekuensi Indonesia harus melindungi dari seluruh
negara atau anggota Berne Convention.

Perlindungan Hak Cipta diatur dalam Undang-undang no.6 tahun


1982 tentang Hak Cipta , diubah UU no.7 tahun 1987, diubah lagi UU no.
12 1987beserta Peraturan pelaksanaannya.

Undang-undang Nomor 7/1994 tentang Pengesahan Agreement


Establishing the World Trade Organization (WTO)
Undang-undang Nomor 10/1995 tentang Kepabeanan
Undang-undang Nomor 12/1997 tentang Hak Cipta
Undang-undang Nomor 14/1997 tentang Merek
Keputusan Presiden RI No. 15/1997 tentang Pengesahan Paris
Convention for the Protection of Industrial Property dan
Convention Establishing the World Intellectual Property
Organization

9|HAKI
Keputusan Presiden RI No. 17/1997 tentang Pengesahan
Trademark Law Treaty
Keputusan Presiden RI No. 18/1997 tentang Pengesahan Berne
Convention for the Protection of Literary and Artistic Works
Keputusan Presiden RI No. 19/1997 tentang Pengesahan WIPO
Copyrights Treaty

2.3 Fungsi dan Sifat Hak Cipta

Berdasarkan Pasal 2, 3, dan 4 UU No 19 Tahun 2002:

Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak
Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul
secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi
pembatasan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku.

Pencipta dan/atau Pemegang Hak Cipta atas karya sinematografi dan


Program Komputer memiliki hak untuk memberikan izin atau melarang
orang lain yang tanpa persetujuannya menyewakan Ciptaan tersebut unt uk
kepentingan yang bersifat komersial.

Hak Cipta dianggap sebagai benda bergerak


Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan, baik seluruhnya maupun
sebagian karena:
 Pewarisan
 Hibah
 Wasiat
 Perjanjian tulis
 Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-
undangan.

Hak Cipta yang dimiliki oleh Pencipta, yang setelah Penciptanya


meninggal dunia, menjadi milik ahli warisnya atau milik penerima

10 | H A K I
wasiat, dan Hak Cipta tersebut tidak dapat disita, kecuali jika hak itu
diperoleh secara melawan hukum.

Hak Cipta yang tidak atau belum diumumkan yang setelah


Penciptanya meninggal dunia, menjadi milik ahli warisnya atau milik
penerima wasiat, dan Hak Cipta tersebut tidak dapat disita, kecuali jika
hak itu diperoleh secara melawan hukum.

2.4 Jenis-Jenis Hak Cipta

1. Hak Cipta (copyright)


Menurut Direktorat Jendral HAKi yang tertuang dalam buku
panduan Hak Kekayaan Intelektual (2006 : 09) adalah hak eksklusif
bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau
memperbanyak ciptaannya atau memberi ijin untuk itu dengan tidak
mengurangi pembatasan. Pembatasan menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Dimaksudkan dengan pengumuman, di sini tercakup juga hak untuk
menjual, memamerkan, mengedarkan dan lain sebagainya dengan
menggunakan alat apapun termasuk melalui media internet sehingga
ciptaan itu bisa dinikmati oleh orang lain. Sedangkan yang
dimaksudkan dengan pencipta adalah seseorang atau beberapa orang
secara bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu ciptaan
berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, ketrampilan
atau keahlian yang dituangkan dalam bentuk yang khas dan bersifat
pribadi. Dimaksudkan dengan ciptaan adalah hasil setiap karya
pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu
pengetahuan, seni, atau sastra. Perlindungan suatu ciptaan timbul
secara otomatis sejak ciptaan itu diwujudkan dalam bentuk yang nyata.
Pendaftaran suatu ciptaan tidak merupakan suatu kewajiban. Namun
demikian pencipta maupun pemegang hak cipta yang mendaftarkan
ciptaannya akan mendapatkan surat pendaftaran ciptaan yang dapat

11 | H A K I
dijadikan sebagai alat bukti awal di pengadilan apabila timbul sengketa
dikemudian hari terhadap ciptaan tersebut.
2. Paten (Patent)
Berbeda dengan hak cipta yang melindungi sebuah karya, paten
melindungi sebuah ide, bukan ekspresi dari ide tersebut. Pada hak
cipta, seseorang lain berhak membuat karya lain yang fungsinya sama
asalkan tidak dibuat berdasarkan karya orang lain yang memiliki hak
cipta. Sedangkan pada paten, seseorang tidak berhak untuk membuat
sebuah karya yang cara bekerjanya sama dengan sebuah ide yang
dipatenkan.
3. Merk Dagang (Trademark)
Merk dagang digunakan oleh pebisnis untuk
mengidentifikasikan sebuah produk atau layanan. Merk dagang
meliputi nama produk atau layanan, beserta logo, simbol, gambar yang
menyertai produk atau layanan tersebut. Berbeda dengan HAKI
lainnya, merk dagang dapat digunakan oleh pihak lain selain pemilik
merk dagang tersebut, selama merk dagang tersebut digunakan untuk
mereferensikan layanan atau produk yang bersangkutan. Merk dagang
diberlakukan setelah pertama kali penggunaan merk dagang tersebut
atau setelah registrasi. Merk dagang berlaku pada negara tempat
pertama kali merk dagang tersebut digunakan atau didaftarkan. Tetapi
ada beberapa perjanjian yang memfasilitasi penggunaan merk dagang
di negara lain. Sama seperti HAKI lainnya, merk dagang dapat
diserahkan kepada pihak lain, sebagian atau seluruhnya.
4. Rahasia Dagang (Trade Secret)

Berbeda dari jenis HAKI lainnya, rahasia dagang tidak


dipublikasikan ke publik. Sesuai namanya, rahasia dagang bersifat
rahasia. Rahasia dagang dilindungi selama informasi tersebut tidak
‘dibocorkan’ oleh pemilik rahasia dagang.

Dasar Hukum : Perlindungan atas rahasia dagang diatur dalam


Undang-undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
(UURD) dan mulai berlaku sejak tanggal 20 Desember 2000.

12 | H A K I
Rahasia dagang mendapat perlindungan apabila informasi itu:

 Bersifat rahasia hanya diketahui oleh pihak tertentu bukan


secara umum oleh masyarakat.
 Memiliki nilai ekonomi apabila dapat digunakan untuk
menjalankan kegiatan atau usaha yg bersifat komersial atau
dapat meningkatkan keuntungan ekonomi.
 Dijaga kerahasiaannya apabila pemilik atau para pihak yang
menguasainya telah melakukan langkah-langkah yang layak dan
patut.

Pemilik rahasia dagang dapat memberikan lisensi bagi pihak


lain. Yang dimaksud dengan lisensi adalah izin yang diberikan kepada
pihak lain melalui suatu perjanjian berdasarkan pada pemberian hak
(bukan pengalihan hak) untuk menikmati manfaat ekonomi dari suatu
rahasia dagang yang diberikan perlindungan pada jangka waktu
tertentu dan syarat tertentu.

5. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu


Adalah kreasi berupa rancangan tata letak tiga dimensi dari
suatu produk dalam bentuk jadi atau setengah jadi yang didalam
terdapat berbagai elemen sekurang-kurangnya satu elemen adalah
elemen aktif yang saling berkaitan dibentuk terpadu dalam bahan
semikonduktor . Hak desain tata letak sirkuit terpadu adalah hak
eksklusif yang diberikan oleh negara Republik Indonesia kepada
pendesain atas hasil kreasinya untuk selama waktu tertentu
melaksanakan sendiri atau memberikan persetujuanya kepada pihak
lain untuk melaksanakan hak tersebut. Jangka waktu perlindungan hak
ini diberikan selama 10 tahun sejak pertama kali desain tersebut di
eksplotasi secara komersial.hak ini dapat beralih/dialihkan karena
pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis dan sebab lain yang
dibenarkan oleh perundang-undangan. Sanksi yang diberikan untuk
masalah desain tata letak sirkuit terpadu berupa pidana dan denda.
6. Perlindungan Varietas Tanaman

13 | H A K I
Adalah hak khusus yang diberikan negara pada pemulia varietas
tanaman dari sekelompok tanaman dari suatu jenis atau spesies yang
ditandai oleh bentuk tanaman, pertumbuhan tanaman, daun, buah
biji,sekurang-kurangnya satu sifat menentukan dan apabila
diperbanyak tak mengalami perubahan.

2.5 Penegakan Hukum Hak Cipta

Penegakan hukum atas hak cipta biasanya dilakukan oleh


pemegang hak cipta dalam hukum perdata, namun ada pula sisi hukum
pidana. Sanksi pidana secara umum dikenakan kepada aktivitas
pemalsuan yang serius, namun kini semakin lazim pada perkara-
perkara lain. Sanksi pidana atas pelanggaran hak cipta di Indonesia
secara umum diancam hukuman penjara paling singkat satu bulan dan
paling lama tujuh tahun yang dapat disertai maupun tidak disertai
denda sejumlah paling sedikit satu juta rupiah dan paling banyak lima
miliar rupiah, sementara ciptaan atau barang yang merupakan hasil
tindak pidana hak cipta serta alat-alat yang digunakan untuk
melakukan tindak pidana tersebut dirampas oleh Negara untuk
dimusnahkan (UU 19/2002 bab XIII).

2.6 Pengecualian dan Batasan Hak Cipta

Perkecualian hak cipta dalam hal ini berarti tidak berlakunya


hak eksklusif yang diatur dalam hukum tentang hak cipta. Contoh
perkecualian hak cipta adalah doktrin fair use atau fair dealing yang
diterapkan pada beberapa negara yang memungkinkan perbanyakan
ciptaan tanpa dianggap melanggar hak cipta.

Dalam Undang-undang Hak Cipta yang berlaku di Indonesia,


beberapa hal diatur sebagai dianggap tidak melanggar hak cipta (pasal

14 | H A K I
14–18). Pemakaian ciptaan tidak dianggap sebagai pelanggaran hak
cipta apabila sumbernya disebut atau dicantumkan dengan jelas dan
hal itu dilakukan terbatas untuk kegiatan yang bersifat nonkomersial
termasuk untuk kegiatan sosial, misalnya, kegiatan dalam lingkup
pendidikan dan ilmu pengetahuan, kegiatan penelitian dan
pengembangan, dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang
wajar dari penciptanya. Kepentingan yang wajar dalam hal ini adalah
"kepentingan yang didasarkan pada keseimbangan dalam menikmati
manfaat ekonomi atas suatu ciptaan". Termasuk dalam pengertian ini
adalah pengambilan ciptaan untuk pertunjukan atau pementasan yang
tidak dikenakan bayaran. Khusus untuk pengutipan karya tulis,
penyebutan atau pencantuman sumber ciptaan yang dikutip harus
dilakukan secara lengkap. Artinya, dengan mencantumkan sekurang-
kurangnya nama pencipta, judul atau nama ciptaan, dan nama penerbit
jika ada. Selain itu, seorang pemilik (bukan pemegang hak cipta)
program komputer dibolehkan membuat salinan atas program
komputer yang dimilikinya, untuk dijadikan cadangan semata-mata
untuk digunakan sendiri.

Selain itu, Undang-undang Hak Cipta juga mengatur hak


pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan atau mewajibkan pihak
tertentu memperbanyak ciptaan berhak cipta demi kepentingan umum
atau kepentingan nasional (pasal 16 dan 18), ataupun melarang
penyebaran ciptaan "yang apabila diumumkan dapat merendahkan
nilai-nilai keagamaan, ataupun menimbulkan masalah kesukuan atau
ras, dapat menimbulkan gangguan atau bahaya terhadap pertahanan
keamanan negara, bertentangan dengan norma kesusilaan umum yang
berlaku dalam masyarakat, dan ketertiban umum" (pasal 17)[2]. ketika
orang mengambil hak cipta seseorang maka orang tersebut akan
mendapat hukuman yang sesuai pada kejahatan yang di lakukan.

Tidak ada hak cipta atas hasil rapat terbuka lembaga-lembaga


Negara, peraturan perundang-undangan, pidato kenegaraan atau
pidato pejabat Pemerintah, putusan pengadilan atau penetapan hakim,
ataupun keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan

15 | H A K I
sejenis lainnya (misalnya keputusan-keputusan yang memutuskan
suatu sengketa). Di Amerika Serikat, semua dokumen pemerintah,
tidak peduli tanggalnya, berada dalam domain umum, yaitu tidak
berhak cipta.

Pasal 14 Undang-undang Hak Cipta mengatur bahwa


penggunaan atau perbanyakan lambang Negara dan lagu kebangsaan
menurut sifatnya yang asli tidaklah melanggar hak cipta. Demikian
pula halnya dengan pengambilan berita aktual baik seluruhnya
maupun sebagian dari kantor berita, lembaga penyiaran, dan surat
kabar atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus
disebutkan secara lengkap.

2.7 Cara Pendaftaran Hak Cipta

Perlindungan suatu ciptaan timbul secara otomatis sejak ciptaan


itu diwujudkan dalam bentuk yang nyata. Pendaftaran ciptaan tidak
merupakan suatu kewajiban untuk mendapatkan hak cipta. Namun
demikian, pencipta maupun pemegang hak cipta yang mendaftarkan
ciptaannya akan mendapat surat pendaftaran ciptaan yang dapat
dijadikan sebagai alat bukti awal di pengadilan apabila timbul sengketa
di kemudian hari terhadap ciptaan tersebut. Ciptaan dapat didaftarkan
ke Kantor Hak Cipta, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual-
Departemen Hukum dan HAM (Ditjen HKI-DepkumHAM).

Syarat untuk permohonan pendataran Hak Cipta:

1) mengisi formulir pendaftaran ciptaan rangkap dua


2) surat permohonan pendaftaran ciptaan mencantumkan: nama,
kewarganegaraan
3) uraian ciptaan rangkap dua
4) Surat permohonan pendaftaran ciptaan hanya dapat diajukan:

16 | H A K I
5) melampirkan bukti kewarganegaraan pencipta dan pemegang hak
cipta berupa fotokopi KTP.
6) permohonan pendaftaran ciptaan diajukan atas nama lebih dari
seorang dan satu Badan Hukum dengan demikian nama-nama
harus ditulissemuanya , dengan menetapkan satu alamat
pemohon .
7) melampirkan contoh ciptaan yang dimohonkan pendaftarannya
atau penggantinya.
8) membayar biaya permohonannya pendaftaran sebesar Rp. 75.000
(tujuh puluh lima ribu rupiah)

Cara kedua yaitu mengurusnya secara online dengan


mengakses alamat berikut: https://e-hakcipta.dgip.go.id/ . Perlu
teman-teman tahu, link di atas langsung terhubung dengan Ditjen
HKI pusat dan sepertinya belum dimanfaatkan dengan maksimal
oleh pengelolanya. Beberapa orang sudah mencoba daftar untuk
buat akun disana dan berhasil tetapi sampai sekarang belum jelas
statusnya karena msih belum bisa login sama sekali.

Kemudian di bawah ini juga saya tuliskan ulang tentang


Prosedur Pendaftaran Ciptaan (Berdasarkan Undang-Undang No.
12 Tahun 1997). Sumber : http://www.depkumham.go.id

1. Permohonan pendaftaran ciptaan diajukan dengan cara


mengisi formulir yang disediakan untuk itu dalam bahasa
Indonesia dan diketik rangkap 2 (dua).
2. Pemohon wajib melampirkan:
a. Surat kuasa khusus, apabila permohonan diajukan
melalui kuasa;
b. Contoh ciptaan dengan ketentuan sebagai berikut:
 Buku dan karya tulis lainnya: 2 (dua) buah yang
telah dijilid dengan edisi terbaik;Apabila suatu
buku berisi foto seseorang harus dilampirkan surat
tidak keberatan dari orang yang difoto atau ahli
warisnya;

17 | H A K I
 Program komputer: 2 (dua) buah disket disertai
buku petunjuk pengoperasian dari program
komputer tersebut;
 CD/VCD/DVD: 2 (dua) buah disertai dengan
uraian ciptaannya;
 Alat peraga: 1 (satu) buah disertai dengan buku
petunjuknya;
 Lagu: 10 (sepuluh) buah berupa notasi dan atau
syair;
 Drama: 2 (dua) buah naskah tertulis atau
rekamannya;
 Tari (koreografi): 10 (sepuluh) buah gambar atau 2
(dua) buah rekamannya;
 Pewayangan: 2 (dua) buah naskah tertulis atau
rekamannya;
 Pantomim: 10 (sepuluh ) buah gambar atau 2
(dua) buah rekamannya;
 Karya pertunjukan: 2 (dua) buah rekamannya;
 Karya siaran: 2 (dua) buah rekamannya;
 Seni lukis, seni motif, seni batik, seni kaligrafi,
logo dan gambar: masing-masing 10 (sepuluh)
lembar berupa foto;
 Seni ukir, seni pahat, seni patung, seni kerajinan
tangan dan kolase: masing-masing 10 (sepuluh)
lembar berupa foto;
 Arsitektur: 1 (satu) buah gambar arsitektur;
 Peta: 1 (satu) buah;
 Fotografi: 10 (sepuluh) lembar;
 Sinematografi: 2 (dua) buah rekamannya;
 Terjemahan: 2 (dua) buah naskah yang disertai
izin dari pemegang hak cipta;
 Tafsir, saduran dan bunga rampai: 2 (dua) buah
naskah.

18 | H A K I
c. Salinan resmi akta pendirian badan hukum atau
fotokopinya yang dilegalisasi notaris, apabila pemohon
badan hukum;
d. Fotokopi kartu tanda penduduk; dan
e. Bukti pembayaran biaya permohonan sebesar Rp.
75.000,- (tujuh puluh lima ribu rupiah).*)
3. Dalam hal permohonan pendaftaran ciptaan yang pemegang
hak ciptanya bukan si pencipta sendiri, pemohon wajib
melampirkan bukti pengalihan hak cipta tersebut.

*) Biaya permohonan pendaftaran ciptaan berupa program


komputer sebesar Rp. 150.000,- (seratus lima puluh ribu
rupiah).

2.8 Studi Kasus


a. Contoh Kasuk Hak Merk

Merek merupakan suatu tanda yang berupa gambar atau huruf


yang berada dalam suatu produk, terdiri dari warna-warna
yang beraneka ragam dengan tujuan agar dapat menarik
perhatian konsumen dan meraih keuntungan maksimal. Merek
tersebut digunakan di pasaran dalam sistem perdagangan baik
berupa barang maupun jasa.

Fungsi dari merek dapat dikatakan sebagai pemberitahu dan


pembanding produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan
atau seseorang dengan produk dari perusahaan lain atau orang
lain. Dapat dikatakan pula fungsi dari merek adalah sebagai
jaminan mutu produk tersebut terutama dari segi kualitasnya.
Oleh karena itu agar kepemilikan dan merek tersebut diakui
oleh konsumen, maka dibutuhkan suatu hak merek agar tidak
mudah di salah gunakan oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab, seperti menduplikasi merek tersebut
dengan merubah beberapa kata dari merek tersebut tetapi jenis
produk sama ataupun sebaliknya.

19 | H A K I
Kasus merek di Indonesia banyak terjadi baik bidang industri.
Kasus-kasus tersebut bahkan ada yang menuai kontroversi dan
ada yang masih saat ini tetap beredar di pasaran. Penulisan ini
saya akan membahas salah satu contoh kasus merek yang
beredar di pasaran, beserta analisis dan contoh-contoh lainnya.

Kasus sengketa sepeda motor Tossa Krisma dengan Honda


Karisma. Kasus ini berawal dari kesalahan penemu merek.
Dilihat dengan seksama antara Krisma dan Karisma memiliki
penyebutan kata yang sama. Tossa Krisma diproduksi
oleh PT.Tossa Sakti, sedangkan Honda Karisma diproduksi
oleh PT.Astra Honda Motor. PT.Tossa Sakti tidak dapat
dibandingkan dengan PT.Astra Honda Motor (AHM),
karena PT.AHM perusahaan yang mampu memproduksi
1.000.000 unit sepeda motor per tahun.
Sedangkan PT.Tossa Sakti pada motor Tossa Krisma tidak
banyak konsumen yang mengetahuinya, tetapi perusahaan
tersebut berproduksi di kota-kota Jawa Tengah, dan hanya
beberapa unit di Jakarta.

Permasalahan kasus ini tidak ada hubungan dengan


pemroduksian, tetapi masalah penggunaan nama Karisma
oleh PT.AHM. Sang pemilik merek dagang Krisma (Gunawan
Chandra), mengajukan gugatan kepada PT.AHM atas merek
tersebut ke jalur hukum. Menurut beliau, PT.AHM telah
menggunakan merek tersebut dan tidak sesuai dengan yang
terdaftar di Direktorat Merek Dirjen Hak Kekayaan Intelektual
Departemen Hukum dan HAM. Bahkan PT.AHM diduga telah
menggunakan merek tidak sesuai prosedur, karena aslinya
huru Karisma di desain dengan huruf balok dan berwarna
hitam putih, sedangkan PT.AHM memproduksi motor tersebut
dengan tulisan huruf sambung dengan desain huruf berwana.
Akhirnya permohonan Gunawan Chandra dikabulkan oleh
hakim Pengadilan Niaga Negeri.

20 | H A K I
Namun, PT.AHM tidak menerima keputusan dari hakim
pengadilan, bahkan mengajukan keberatan melalui kasasi ke
Mahkamah Agung. PT.AHM menuturkan bahwa sebelumnya
Gunawan Chandra merupakan pihak ketiga atas merek
tersebut. Bahkan, beliau menjiplak nama Krisma
dari PT.AHM (Karisma) untuk sepeda motornya. Setelah
mendapat teguran, beliau membuat surat pernyataan yang
berisikan permintaan maaf dan pencabutan merek Krisma
untuk tidak digunakan kembali, namun kenyataannya sampai
saat ini beliau menggunakan merek tersebut.

Hasil dari persidangan tersebut, pihak PT.Tossa Sakti


(Gunawan Chandra) memenangkan kasus ini, sedangkan
pihak PT.AHM merasa kecewa karena pihak pengadilan tidak
mempertimbangkan atas tuturan yang disampaikan. Ternyata
dibalik kasus ini terdapat ketidakadilan bagi PT.AHM, yaitu
masalah desain huruf pada Honda Karisma bahwa pencipta
dari desain dan seni lukis huruf tersebut tidak dilindungi
hukum.

Dari kasus tersebut, PT.AHM dikenakan pasal 61 dan 63


Undang-Undang No.15 Tahun 2001 tentang merek sebagai
sarana penyelundupan hukum. Sengketa terhadap merek ini
terjadi dari tahun 2005 dan berakhir pada tahun 2011, hal ini
menyebabkan penurunan penjualan Honda Karisma dan
pengaruh psikologis terhadap konsumen. Kini, PT.AHM telah
mencabut merek Karisma tersebut dan menggantikan dengan
desain baru yaitu Honda Supra X dengan bentuk hampir
serupa dengan Honda Karisma.

b. Contoh kasus hak paten


Pertarungan hak paten antara Samsung dengan Apple di
pengadilan nampaknya semakin meluas. Terlebih setelah
pernyataan terbaru dari perusahaan yang didirikan oleh Steve
Jobs tersebut. Apple mengatakan bahwa pemicu dari banyaknya

21 | H A K I
pertikaian paten yang melibatkan Apple tak lain dan tak bukan
adalah OS Android. Di pasaran saat ini banyak sekali beredar
smartphone yang berbasis Sistem Operasi Android dan
ditengarai banyak meniru produk keluaran Apple.

Dilihat dari pihak Samsung sendiri, perusahaan yang


berbasis di Cupertino tersebut telah menyiapkan dokumen
sebanyak 67 halaman sebagai bukti untuk melawan argumen-
argumen yang dikeluarkan oleh musuhnya tersebut. Namun,
dokumen-dokumen tersebut ternyata tidak hanya melibatkan
Samsung sebagai pihak tertuduh pelanggaran hak paten.
Beberapa produsen Android lain pun termasuk di dalamnya.
“Apple telah mengidentifikasi lusinan contoh dimana Android
digunakan atau menjadi pemicu perusahaan lain untuk
memakai teknologi yang telah dipatenkan Apple,” tulis sebuah
kalimat dalam dokumen tersebut. Dokumen tersebut
sebenarnya telah diperlihatkan kepada Samsung pada Agustus
2010.

Namun ada yang menarik di balik perang paten tersebut,


ternyata ada hubungan mesra dalam bisnis hardware di antara
keduanya. Perlu diketahui, bahwa Apple merupakan pelanggan
terbesar Samsung. Beberapa perangkat penting iPad dan
iPhone, diproduksi oleh Samsung.

Selain itu, Apple membeli panel LCD, flash memory, dan


prosesor dari Samsung. Keputusan perang paten di AS, sedikit
banyak akan mempengaruhi hubungan bisnis jangka panjang
antara kedua perusahaan menginta semakin rumitnay kasus
tersebut bergulir dan belum adanya titik temu diantara kedua
belah pihak yang berseteru.

Analisis :
Hak khusus pemegang paten untuk melaksanakan temuannya
secara perusahaan atas patennya baik secara sendiri maupun

22 | H A K I
dengan memberikan persetujuan atau ijin atau lisensi kepada
orang lain, yaitu: membuat, menjual, menyewakan,
menyerahkan, memakai, menyediakan, untuk dijual atau
disewakan atau diserahkan hasil produksi yang diberi paten.
Hak ini bersifat eksklusif, dalam arti hak yang hanya bisa
dijalankan oleh orang yang memegang hak paten, orang lain
dilarang melaksanakannya tanpa persetujuan pemegang paten.

23 | H A K I
BAB III . Penutup

A. Kesimpulan

Hak cipta adalah hak dari pembuat sebuah ciptaan terhadap ciptaannya dan
salinannya. Pembuat sebuah ciptaan memiliki hak penuh terhadap ciptaannya
tersebut serta salinan dari ciptaannya tersebut. hak cipta merupakan "hak untuk
menyalin suatu ciptaan". Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak
tersebut untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan hak cipta
memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.

Hak cipta merupakan salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak cipta
berbeda secara mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti paten, yang
memberikan hak monopoli atas penggunaan invensi), karena hak cipta bukan
merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan hak untuk
mencegah orang lain yang melakukannya.

Oleh karena itu perlu adanya sosialisasi di dalam masyarakat Indonesia berkenaan
dengan Hak Cipta, Supaya kita semua dapat menghargai karya-karya orang lain dan
supaya tidak terjadi pelanggaran hak cipta.

24 | H A K I
Daftar Pustaka

Cara mendaftarkan hak cipta. Ayanotes (diakses 20-10-2017)


http://www.ayasnotes.com/cara-mendaftarkan-hak-cipta.html

Contoh kasus Pelanggaran HAKI. Cindy Puspitasari (diakses 24-10-2017)


https://cindypuspitasarii.wordpress.com/2015/05/04/contoh-kasus-pelanggaran-
hak-kekayaan-intelektual-di-indonesia/

E-Hakcipta. Sistem informasi pencatatan Ciptaan dan produk terkait secara


online.(diakses 23-10-2017)
https://e-hakcipta.dgip.go.id/

Jenis - jenis hak kekayaan. Putri Mayang Rahayu (diakses 20-10-2017)


http://putrimayangrahayu.blogspot.co.id/2015/06/jenis-jenis-hak-atas-
kekayaan.html

Macam-macam hak kekayaan intelektual. Frilly fayraitaru(diakses 20-10-2017)


https://frillyfayraitaru.wordpress.com/2014/04/27/macam-macam-hak-kekayaan-
intelektual/

Panduan E-Hakcipta. Sistem informasi pencatatan Ciptaan dan produk terkait


secara online (diakses 23-10-2017)
https://e-hakcipta.dgip.go.id/asset/panduan-ehakcipta.pdf

Pengertian HAKI. Kanal (diakses 22-10-2017)


https://www.kanal.web.id/2016/10/hak-atas-kekayaan-intelektual.html

Undang-Undang No 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta

25 | H A K I