Anda di halaman 1dari 14

METODE ELEMEN HINGGA

1. Pengertian Elemen Hingga.

Metode elemen hingga adalah prosedur untuk memecahkan masalah

mekanika kontinum dengan ketelitian yang dapat diterima oleh rekayasa.

Pada gambar I.b diperlihatkan oleh Model Elemen Hingga. Daerah yang

berupa segitiga dan kuadrilateral adalah eleven-elemen hingga. . Bentuk jaring

pada elemen tersebut terdiri atas elemen segitiga dan kuadrilateral, ada yang

mempunyai titik simpul pada sisinya, dan ada pula yang hanya pada ujungnya

Titik hitam adalah titik simpul (node) dimana elemen yang satu berhubungan

dengan yang lainnya. Status jaring (mesh) adalah susunantitik simpul dan eleven.

(a)

(b)

1
(c)

Gambar I.1

Keterangan gambar I 1 :

(a) adalah struktur bidang dengan bentuk sembarang. (b) model


elemen hingga yang mungkin pada elemen tersebut. (c) eleven segi
empat bidang.dengan gaya-gaya titik kumpul pi dan qi. garis putus-
putus memperlihatkan ragam deformasi sehubungan dengan
peralihan arah x dan y.

Pada dasarnya elemen hingga merupakan bagian-bagian kecil dari struktur

actual. Akan tetapi kita tidak dapat mengubah gambar I.a menjadi gambar I.b

hanya dengan membuat potongan-potongan yang stándar seperti potongan-

potongan material yang terikat pada titik-titik kumpul. Apabila terpotong

demikian struktur tersebut akan sangat melemah. Selain itu potongan-potongan

tersebut akan mempunyai konsentrasi regangan pada titik kumpulnya dan akan

cendrung menjadi tumpang tindih atau terpisah disepanjang potongan.

Jelasnya pada struktur actual tidak akan terjadi yang demikian. Jadi

elemen hingga harus dapat berdeformasi dengan cara yang terbatas. Sebagai

contoh apabila ujung –ujung elemen dikendalakan untuk tetap lupus, seperti

2
yang terlihat pada gambar I.c maka elemen yang bersebelahan dengannya tidak

akan bertumpang tindih maupun terpisahkan.

Untuk menformulasikan suatu elemen, kita harus mencari gaya titik

simpul (nodal Forces) yang menghasilkan berbagai ragam derformasi elemen.

Kita dapat mencari gaya-gaya ini dengan teori dasar untuk elemen hingga “alami”

seperti balok (beam) atau batang (bar).

Metode elemen hingga tidak dibatasi pada masalah-masalah mekanika

struktural (gambar I.2). pada gambar I.2 juga diperlihatkan bagaimana permukaan

yang berubah secara halus dapat didekati dengan permukaan yang datar. Elemen

bertitik simpul 4 dan 8 yang masing-masing diperlihatkan dengan permukaan

terpilin dan lengkung, ,merupakan pendekatan yang baik ke fungi situasinya.

Gambar I. 2 Fungsi kombinasi Ø = Ø (x,y) dan eleven tipikal yang dapat

digunakan untuk mendekatinya.

3
Didalam suatu elemen segi empat pada gambar I.2 adalah fungsi linier dari

x dan y. elevasi dan inklinasi elemen dapat didefinisikan dengan tiga harga titik

simpul dari dua elemen tidak harus mempunyai elevasi dan kemiringan yang

sama. Sketsa ini memperlihatkan esiensi metode elemen hingga, yaitu pendekatan

bagian demi bagian untuk fungsi teta dengan menggunakan polynomial, yang

mana masing-masing terdefinisi pada daerah (elemen) yang kecil dan dinyatakan

dalam harga-harga titik simpul dari fungsi tersebut.

Keunggulan dari metode elemen hingga adalah adanya arti fisik yang

cukup dekat antara jaringan elemen dengan struktur aktualnya. Jelas yang di

maksud bukan merupakan abstrak matematis yang sulit untuk di visualisasikan.

Elemen hingga juga mempunyai kekurangan. Hasil yang diperoleh dengan

metode ini untuk masalah tertentu adalah berupa hasil numeric, tidak ada

persamaan bentuk tertutup yang dapat dipakai untuk kasus serupa yang hanya

berbeda parameternya. Dengan metode ini computer beserta progam yang dapat di

percaya merupakan suatu keharusan. Selain itu deperlukan juga pengalaman dan

intuisi rekayasa yang baik, agar diperoleh bentuk jeringan yang memadai untuk

setiap kasus.

Banyak sekali data yang harus dimasukan, begitu pula data yang keluar

yang telah di sortir oleh progam harus di cek kembali.

Ringkasan sejarah elemen hingga.

Pada tahun 1906 dan tahun-tahun berikutnya, para ahli riset mengusulkan

metode analogi lattice untuk memecahkan masalah kontinum. Disini suatu

kontinum di dekati dengan jaringan yang teratur yang terbentuk oleh batang-

4
batang elastis. Selanjutnya metode ini berkembang menjadi metode untuk

menganalisis struktur rangka. Pada tahun 1941 seorang ahli matematika Courant

mengusulkan interpolasi polynomial bagaian demi bagian poada daerah segi tiga,

sebagai cara untuk mendapatkan solusi numeric pendekatan. Courant

memperkenalkan metodenya sebagai solusi Rayleigh untuk masalah pariasional.

Inilah yang kita kenal sebagai metode elemen hingga dewasa ini.Pada

waktu itu pendapat para ahli masih dianggap tidak praktis karena memang belum

ada computer yang dapat dipakai untuk melakukan perhitungan. Setelah tahun

1953, para rekayasawan menuliskan persamaan kekakuan dalam notasi matriks

dan dapat memecahkan persamaan tersebut dengan menggunakan bantuan

computer digital.

2. Teori Elastisitas.

Apabila benda elastisitas berdeformasi, maka dapat diansumsikan tidak

terjadi retak atau belah, juga tidak terjadi tumpang tindih pada bagian-bagiannya.

Secara lebih tepat dikatakan bahwa kondisi keserasian harus terpenuhi : yaitu

medan peralihan harus menerus atau kontinus dan berharga tunggal. Seperti

terlihat pada gambar 1.4.

Apabila medan peralihan atau tegangan memenuhi kesetimbangan, keserasian dan

kondisi batas, maka berarti solusinya telah diperoleh. Apabila prilaku beban

versus responnya linier, maka solusinya adalah unik (tunggal). Metode elemen

hingga lain adalah yang didasarkan atas medan yang bukan medan peralihan.

Model medan tegangan akan memenuhi persamaan keseimbangan secara aprion

5
dan penghasilan jaring akan menghasilkan pendekatan kondisi keserasian yang

makin baik.

3. Beberapa Matriks dan Persamaan yang Penting.

Mulai saat ini, kita mendefinisikan derajat bebas (degree of freedom, dof)

sebagai peralihan atau notasi suatu titik kumpul. Dengan demikian untuk sebuah

elemen dengan n d.o.f ; dapat kita tuliskan persamaan :

K11d1 + k12d2 + … + k1ndn = r1


K21d1 + k22d2 + … + k2ndn = r2
.
. { pers ; 1.2.1}
.
kn1d1 + kn2d2 + … + knndn = rn

Gambar I.3 Motor induksi. Elemen-elemenya merupakan model dari bagian yang
padat, dan ruang diantaranya. Karena simetris maka dapat dimodelkan sebagai
setengah kutup.

Yang mana di merupakan d.o.f. ke i dan r i adalah gaya atau momen

padananya, yang bekerja pada elemen. Apabila di ringkas menjadi bentuk matriks,

maka persamaan 1.2 dapat ditulis :

6
[k] {d} = {r} {pers 1.2.2}

Yang mana [k] adalah matriks kekakuan elemen, {d} adalah vector

peralihan titik simpul elemen dan {r} adalah vector beban titik simpul elemen.

(yang sedang dijelaskan disini adalah metode kekakuan atau disebut juga metode

peralihan yang mana peralihan merupakan anu utama yang harus dihitung.

Tegangan adalah variable skunder, dapat di hitung dari peralihan. Metode

peralihan merupakan bentuk yang popular dari bentuk elemen hingga didalam

mekanika struktur).

Untuk menjelaskan arti [k], kita tinjau gambar 1.2.1. persamaan 1.2.2

menjadi

Apabila semua d.o.f adalah 0 kecuali d.o.f yang ke j, dan apabila d j =1,

terlihat bahwa {r} = {kij}, yaitu kolom j dari matriks {k}. jelasnya, kolom ke j dari

matriks [k] adalah vektor gaya-gaya ( dan mungkin juga momen) harus diberikan

pada eleven agar terjadi dj = 1, dan harus memenuhi keseimbangan static dista d

lainnya 0. pernyataan ini berlaku untuk setiap matriz kekuatan eleven.

Dua dari empat ragam deformasi balok diperlihatkan dalam gambar 1.2.1b

dan 1.2.1c. “ gaya-gaya” kij diperlihatkan pada gambar pada arah positif yang

dimisalkan, yaitu yang searah dengan d.o.f pada gambar 1.2.1a. jelaslah bahwa k31

dan k32 harus mempunyai tanda negatif. Untuk eleven yang sederhana ini, dari

teori balok diperoleh kesimpulan bahwa kija dapat dinyatakan dalam L dan

kekuatan lentur EI .

7
Gambar I.4 Ragam Deformasi {d} = {1 0 0 0} dan gaya-gaya yang

diperlukan, ki1

Titik kumpul pada elemen diberi nomor pada gambar 1.1.1c. kita dapat

juga menggunakan huruf. Nomor, maupun hurup ini merupakan lebel fiktif yang

tidak akan mempunyai arti apabila eleven-elemen ini digabungkan seluhnya

menjadi bentuk struktur.

Interpretasi yang diberikan pada kolom [k] berlaku juga pada struktur taraf

struktur. Pada gambar 1.2,2ª dengan menerapkan satu satuan peralihan pada

masing-masing titik kumpul secara bergantian, dan setiap kali peralihan pada

masing-masing titik tumpul secara bergantian dituliskan gaya yang diperlukan,

maka kita peroles Matriks

Setiap garis putus-putus dalam persamaan 1.2.4. merupakan batas matriks

kekakuan elemen, seperti yang terlihat dengan meninjau ui = 1 , kemudian ui+1 =

1 pada gambar 1.2.2b. susunan suku-suku dalam persamaan 1.2.4.

memperlihatkan dan akan kita bahas leen lanjut pada bab II. Matirks struktur

dapat di buat dengan menjumlahkan matriks-matriks elemen dengan cara tumpang

tindih.

8
4. Kemajuan Komputer.

Komputer merupakan barang yang Sangat menarik karena kita dapat

mempercayainya, akan tetapi ada hal-hal berbahaya dalam analisis. Kiata dapat

meyakini besaran-besaran material, kesalahan peleksanaan, kekakuan hubungan

maupun pengakunya. Beban-beban biasanya mempunyai besar dan distribusi yang

tak tentu, sedangkan dalam analisis biasanya kita hanya mrlakukan untuk

beberapa kasus pembebanan.

Ketidak tentuan ini membuat kita untuk memandang lebih jauh hasil-hasil

perhitungan dengan ada pertanyaan analisis yang sangat eksak. Selain itu, analisis

tidak akan menghasilkan suatu tekuk, apabila tidak ditanyakan. Sekali pun

tekuknya merupakan ragam kegagalan actual.

Kita tidak dapat dengan mudah menganggap bahwa strukturnya berprilaku

sama dengan yang di sebutkan komputer, sekali pun program yang mengunakan

sedemikian ampuhnya, sudah menggunakan penampilan grafis, atau sudah

mengunakan ketelitian angka yang tinggi.

Program yang sangat ampuh seperti NASTRAN, ANSYS, MARC, dll.

Tidak dapat digunakan tanpa latihan yang benar dan tidak dapat dipercaya begitu

saja hasilnya apabila orang yang mengunakan baru mempelajari pendahuluan

elemen hingga. Program-program dapat saja bekerja dengan baik untuk suatu

masalah contoh yang di berikan bersamaan dengan pembelian paket program

tersebut, akan tetapi untuk soal lain bisa saja terjadi kesalahan. Dengan demikian

suatu analisis harus dilengkapi dengan waktu untuk mengecek dan merefesi suatu

masalah.

9
5. Mencari Informasi Tambahan.

Informasi mengenai mekanika struktural numerik dapat diperoleh dengan

banyak buku refrensi, jornal, makalah, sinopsis kofrensi, juga pada laboran-

laporan ujian yang di sponsori oleh instansi pemerintah. Indeks, abstrae, dan

petunjuk lainnya dapat juga di peroleh. Banyak pula indeks kata-kata kunci yang

pengarang yang telah tersusun. Beberapa instansi ada pula yang membuat

perangkat lunaknya sendiri. Kelihatanya akan lebih mudah kalau kita dapat

menggunakan progam yang sudah jadi.

Ada juga satu biro konsultasi yang membantu pemprosesan data yang

telah disiapkan oleh klien. Kemudian biro ini membuat model lengkapnya berikut

analisisnya. Biro demikian biasanya mempunyai lebih dari satu program analisis

yang dapat dipilih.

6. Contoh Penggunaan Metode Elemen Mesin.

a. Analisis Nonlinier Pelat Beton Di Atas Fondasi Elastis Non Linier Dengan

Metode Elemen Hingga

Perilaku pelat beton di atas fondasi elastis yang dibebani secara vertikal

merupakan problem yang kompleks karena kedua materialnya, yaitu beton dan

tanah, mempunyai sifat dasar yang nonlinier. Untuk penyederhanaan, tanah

dimodelkan sebagai pegas yang dihubungkan pada pelat. Dalam studi ini,

nonlinieritas tanah dimodelkan sebagai pegas nonlinier. Pegas nonlinier tersebut

diformulasikan dalam bentuk fungsi beban versus perpindahan. Sementara

10
nonlinieritas beton dimodelkan sebagai elemen heksahedral yang mana hubungan

konstitutifnya diturunkan dari kondisi tegangan utamanya. Meterial beton yang

telah retak dimodelkan dengan metode retak tersebar (smeared-crack approach).

Kemudian struktur dianalisis menggunakan model elemen hingga kontinum tiga

dimensi. Perilaku beban versus perpindahan diperoleh menggunakan prosedur

peningkatan perpindahan. Mutu beton yang digunakan adalah 30 MPa. Hasil

analisis menunjukkan bahwa keruntuhan struktur dapat dimulai baik oleh beton

maupun tanah. Untuk beberapa kasus keduanya runtuh secara bersamaan. Dalam

studi ini didapatkan bahwa respon struktur sangat bergantung pada model pegas

nonlinier. Geometri struktur memberi pengaruh yang signifikan terhadap respon

struktur dan juga tanah. Akan tetapi, daktilitas perpindahan setelah keruntuhan

tidak dipengaruhi oleh geometri struktur. Pengaruh model pegas nonlinier

terhadap respon struktur lebih dominan daripada pengaruh geometri.

b. Studi Analisis Kopel Antara Metoda Elemen Batas Dan Metoda Elemen

Hingga Pada Struktur Portal-Dinding Geser

Dalam studi ini dilakukan kajian numerik terhadap analisa kopel antara

metoda elemen hingga dan metoda elemen batas. Analisa kopel diterapkan pada

kasus struktur portal-dinding geser. Metoda elemen batas mempunyai beberapa

keunggulan dibanding elemen hingga, yaitu :

1. Kemudahan dalam proses diskritisasi elemen,

2. Mempunyai akurasi yang tinggi dengan jumlah elemen yang lebih sedikit

daripada elemen hingga dan

11
3. Orde elemen yang dipakai adalah lebih sederhana satu tingkat daripada

elemen hingga

Sedangkan elemen hingga mempunyai keunggulan pada proses

penyelesaian persamaan aljahar linier, karena matriks kekakuan elemen hingga

berbentuk simetri dan pita, maka dapat menggunakan proses yang lebih efisien

misalnya dengan menggunakan penyimpanan bandwidth. Sedangkan matriks

pengaruh elemen batas berbentuk matriks penuh dan tidak simetris sehingga harus

menggunakan teknik langsung seperti eliminasi Gauss. Dalam penelitian ini,

kedua keunggulan dari kedua metode ini dicoba disatukan. Untuk kasus yang

diangkat, portal dimodelkan sebagai elemen hingga balok-kolom, sedangkan

dinding geser dimodelkan sebagai elemen batas tegangan bidang. Hasil yang

diperoleh menunjukkan hahwa perpindahan dan gaya dalam mempunyai tingkat

akurasi yang tinggi, namun karena analisa kopel yang dipakai haruslah analisa

kopel parsial dan bukan analisa kopel penuh, maka tingkat efisiensi proses

penyelesaian masih lebih rendah dibanding dengan elemen hingga murni. Hal ini

sehubungan dengan proses pembentukan matriks gaya dan matriks kekakuan

ekivalen yang membutuhkan elimivasi gauss yang berulang sehingga waktu

operasi bertambah menjadi tidak efisien.

c. Analisis Sistem Satu Derajat Kebebasan Dengan Pegas Nonlinier

Kuadratik –Kubik

Sistem satu derajat kebebasan diberikan input dan , sistem tersebut

ditunjang pegas nonlinier kuadratik dan kubik. Respon getaran yang ditimbulkan

12
akibat adanya pegas nonlinier dapat bersifat stabil maupun tidak stabil. Besar

frekuensi getaran, amplitudo getaran dan kondisi steady state dipengaruhi oleh

besar konstanta kusdratik a, konstanta kubik b dan besar input yang masuk.

Eksitasi input yang digunakan berupa input impulsif dan sinusoidal. Simulasi

menganalisa defleksi perpindahan massa dan kecepatan massa pada arah x.

Defleksi perpindahan massa arah y diasumsikan sangat kecil sehingga dapat

diabaikan. Hasil yang didapat dianalisa dengan variasi harga konstanta kuadratik a

dan kubik b, variasi besar gaya input impulsif, input sinusoidal pada dan . Akan

dilakukan juga penelitian untuk mengamati kondisi ketidakstabilan pada sistem

tersebut. Perhitungan simulasi dilakukan dengan metode Runge-Kutta

menggunakan program iterasi Matlab. Untuk mengamati sifat respon, persamaan

gerak yang diberikan dibuat dalam bentuk persamaan tak berdimensi.

d. Analisis Elemen Hingga Tegangan Termal Pada Paduan Fe-11Al.

Program ANSYS berbasis Metode Elemen Hingga telah digunakan untuk

menganalisis tegangan termal pada lapisan alumina yang terbentuk selama

oksidasi suhu tinggi pada paduan Fe-11Al. Model simulasi mengasumsi pada

perilaku elastik murni dari lapisan oksida serta perilaku elastik-plastik ideal dari

logam substratnya. Pengkajian terhadap efek relaksasi tegangan oleh deformasi

plastik substrat dan efek geometri oksida yang terbentuk oleh oksida.

13
14