Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

SEDIAAN GEL ALOE VERA


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Farmasetika Sediaan Semisolida

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 6
KELAS : FARMASI E
1. Eksan Hidayat (201610410311017)
2. Alifah F. Kemalasari (201610410311046)
3. Febri Widiyanti (201610410311097)
4. M. Syaifuddin Hisbullah (201610410311208)
5. Rizka Aulia Safitri (201610410311218)
6. Siti Balqis Rum Ihsana (201610410311225)
7. Adrinta Prahatia Putri (201610410311239)

DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Uswatun Chasanah, Apt., M.Kes
Dian Ermawati, M.Farm., Apt.
Raditya Weka Nugraheni, M.Farm., Apt
Dyah Rahmasari, M.Farm, Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya atas
rahmat dan pentunjuk-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini. Laporan ini
kami susun berdasarkan praktikum yang telah kami kerjakan.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu menyelesaikan laporan praktikum Sediaan SemiSolida Gel ini
terutama para dosen yang membimbing kami pada saat praktikum maupun dalam
pembuatan laporan.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karenanya kami mohon dan sangat kami harapkan saran dan
kritik yang bersifat membangun demi sempurnanya laporan berikutnya.

Malang, 19 Mei 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 2
BAB II ..................................................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 3
2.1 Definisi Sediaan Gel ................................................................................. 3
2.2 Fungsi Gel ................................................................................................ 3
2.3 Penggolongan Gel .................................................................................... 4
2.4 Keuntungan dan Kekurangan Sediaan ..................................................... 6
2.5 Sifat / Karakteristik Gel (Lachman, 496 – 499) ....................................... 6
2.6 Persyaratan Sediaan Gel ......................................................................... 10
2.7 Definisi Aloe Vera.................................................................................. 11
BAB III .................................................................. Error! Bookmark not defined.
KARAKTERISTIK BAHAN TAMBAHAN KARAKTERISTIK BAHAN
AKTIF .................................................................... Error! Bookmark not defined.
3.1 ALOE VERA ......................................... Error! Bookmark not defined.
3.2 Macam-macam Bahan Tambahan dan Fungsi ....................................... 12
BAB IV ................................................................................................................. 16
RANCANGAN SPESIFIKASI SEDIAAN .......................................................... 19
BAB V................................................................................................................... 22
FORMULASI SEDIAAN ..................................................................................... 22
5.1 Formulasi Gel Aloe Vera Skala Besar .... Error! Bookmark not defined.
BAB VI ................................................................................................................. 24
HASIL EVALUASI .............................................................................................. 31
1. Organoleptis ............................................................................................... 31
2. Penetapan PH (pH meter)........................................................................... 31

ii
3. Uji Viskositas ............................................................................................. 31
4. Persen rendemen ........................................................................................ 32
5. Daya Sebar ................................................................................................. 32
BAB VII ................................................................................................................ 35
PEMBAHASAN ................................................................................................... 39
7.1 Pembahasan ............................................. Error! Bookmark not defined.
BAB VIII............................................................................................................... 44
KESIMPULAN ...................................................... Error! Bookmark not defined.
BAB IX ................................................................................................................. 45
RANCANGAN PENANDAAN ........................................................................... 45
9.1 Brosur ...................................................... Error! Bookmark not defined.
9.3 Kemasan ............................................ Error! Bookmark not defined.
Daftar Pustaka ....................................................................................................... 46

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan semakin berkembangnya sains dan teknologi,


perkembangan di dunia farmasi pun tak ketinggalan. Semakin hari
semakin banyak sediaan yang dikembangkan baik untuk pengobatan
maupun sediaan yang dikembangkan untuk keperluan kosmetika. Ahli
farmasi mengembangkan obat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di
era modern ini. Beberapa contohnya yaitu sediaan semisolid yang
ditujukan untuk penggunaan luar, seperti krim, salep, gel, emulgel, pasta,
suppositoria yang ditujukan untuk penggunaan melalui rektum. Kelebihan
dari sediaan semisolid yaitu, praktis, mudah dibawa, mudah dipakai,
mudah pada pengabsorbsiannya, juga untuk digunakan perlindungan pada
kulit.
Gel merupakan salah satu contoh sediaan dari semisolid. Gel
adalah sediaan bermassa lembek, berupa suspensi yang dibuat dari zarah
kecil senyawaan organik atau makromolekul senyawa organik, masing-
masing terbungkus dan saling terserap oleh cairan.
Daun lidah buaya mengandung 96% air dan 4% sisanya terdiri
dari 75 macam senyawa fitokimia. Senyawa ini bekerja secara sinergi atau
saling melengkapi di tingkat sel tubuh, sehingga terkesan tubuh bisa
menyembuhkan diri sendiri (biodefense) menghadapi serangan penyakit
(Inggrit, 2000). Wahajo (2002) juga mengungkapkan bahwa daun lidah
buaya (aloevera) banyak mengandung senyawa nutrisi seperti asam amino
(essensial dan non essensial), enzim, mineral, vitamin, polisakarida, dan
komplek antraquinon. Senyawa-senyawa tersebut sangat penting dan
dibutuhkan untuk kesehatan tubuh.
Sediaan ini digunakan untuk penggunaan topikal. Gel dengan
bahan aktif aloe vera pada saat ini banyak digunakan oleh masyarakat
sebagai kosmetika. Dalam penggunaannya untuk perawatan kulit, aloe

1
vera dapat menghilangkan jerawat, melembabkan kulit, detoksifikasi kulit,
perbaikan dan peremajaan kulit, juga digunakan untuk mengatasi efek
sunburn, luka bakar, iritasi kulit ringan, memar dan lecet.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pemilihan bahan aktif untuk formulasi?


2. Bagaimana formulasi dari sediaan gel?
3. Apa saja bahan tambahan yang tepat untuk formulasi?

1.3 Tujuan

Mahasiswa mampu membuat formulasi yang tepat untuk pembatan


sediaan gel dan emulgel

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Sediaan Gel

Gel adalah sediaan bermassa lembek, berupa suspensi yang


dibuat dari zarah kecil senyawaan organik atau makromolekul senyawa
organik, masing-masing terbungkus dan saling terserap oleh cairan
(Depkes RI, 1978)
Gel umumnya merupakan suatu sediaan semipadat yang jernih,
tembus cahaya dan mengandung zat aktif, merupakan dispersi koloid
mempunyai kekuatan yang disebabkan oleh jaringan yang saling berikatan
pada fase terdispersi (Ansel, 1989).
Zat-zat pembentuk gel digunakan sebagai pengikat dalam
granulasi, koloid pelindung dalam suspensi, pengental untuk sediaan oral
dan sebagai basis supositoria. Secara luas sediaan gel banyak digunakan
pada produk obat-obatan, kosmetik dan makanan juga pada beberapa
proses industri. Pada kosmetik yaitu sebagai sediaan untuk perawatan
kulit, sampo, sediaan pewangi dan pasta gigi (Herdiana, 2007).

2.2 Fungsi Gel

Menurut Lachman (1989), fungsi dari gel adalah sebagai berikut :


1. Gel merupakan suatu sistem yang dapat diterima untuk pemberian oral,
dalam bentuk sediaan yang tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat
dari gelatin dan untuk bentuk sediaan obat long – acting yang
diinjeksikan secara intramuskular.
2. Gelling agent biasa digunakan sebagai bahan pengikat pada granulasi
tablet, bahan pelindung koloid pada suspensi, bahan pengental pada
sediaan cairan oral, dan basis suppositoria.
3. Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam berbagai produk kosmetik,
termasuk pada shampo, parfum, pasta gigi, dan kulit – dan sediaan
perawatan rambut.

3
4. Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal (non
streril) atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh atau mata (gel steril)
(Farmakope Indonesia Edisi IV)

2.3 Penggolongan Gel


A. Berdasarkan Sifat Fasa Koloid
Menurut Lachman (1989), Pengolongan Gel berdasarkan sifat fasa
koloid :
1. Gel anorganik, contoh : bentonit magma
2. Gel organik, pembentuk gel berupa polimer

B. Berdasarkan sifat pelarut

 Hidrogel (pelarut air).


Hidrogel pada umumnya terbentuk oleh molekul
polimer hidrofilik yang saling sambung silang melalui ikatan
kimia atau gaya kohesi seperti interaksi ionik, ikatan hidrogen
atau interaksi hidrofobik. Hidrogel mempunyai biokompatibilitas
yang tinggi sebab hidrogel mempunyai tegangan permukaan yang
rendah dengan cairan biologi dan jaringan sehingga
meminimalkan kekuatan adsorbsi protein dan adhesi sel; hidrogel
menstimulasi sifat hidrodinamik dari gel biological, sel dan
jaringan dengan berbagai cara; hidrogel bersifat lembut/lunak,
elastis sehingga meminimalkan iritasi karena friksi atau mekanik
pada jaringan sekitarnya. Kekurangan hidrogel yaitu memiliki
kekuatan mekanik dan kekerasan yang rendah setelah
mengembang. Contoh : bentonit magma, gelatin

 Organogel (pelarut bukan air/pelarut organik).


Contoh : plastibase (suatu polietilen dengan BM
rendah yang terlarut dalam minyak mineral dan didinginkan
secara shock cooled), dan dispersi logam stearat dalam minyak.

4
 Xerogel.
Gel yang telah padat dengan konsentrasi pelarut yang
rendah diketahui sebagai xerogel. Xerogel sering dihasilkan oleh
evaporasi pelarut, sehingga sisa – sisa kerangka gel yang
tertinggal. Kondisi ini dapat dikembalikan pada keadaan semula
dengan penambahan agen yang mengimbibisi, dan
mengembangkan matriks gel. Contoh : gelatin kering, tragakan
ribbons dan acacia tears, dan sellulosa kering dan polystyrene.

C. Berdasarkan bentuk struktur gel


1. Kumparan acak
2. Heliks
3. Batang
4. Bangunan kartu

D. Berdasarkan jenis fase terdispersi (Ansel, 2005)


1. Gel fase tunggal, terdiri dari makromolekul organik yang tersebar
serba sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat
adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel
fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik (misal
karbomer) atau dari gom alam (misal tragakan). Molekul organik
larut dalam fasa kontinu.
2. Gel sistem dua fasa, terbentuk jika masa gel terdiri dari jaringan
partikel kecil yang terpisah. Dalam sistem ini, jika ukuran partikel
dari fase terdispersi relatif besar, masa gel kadang-kadang
dinyatakan sebagai magma. Partikel anorganik tidak larut, hampir
secara keseluruhan terdispersi pada fasa kontinu.

5
2.4 Keuntungan dan Kekurangan Sediaan

a. Keuntungan sediaan untuk hidrogel


 efek pendinginan pada kulit saat digunakan
 penampilan sediaan yang jernih dan elegan
 pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film tembus
pandang, elastis, daya lekat tinggi yang tidak menyumbat pori
sehingga pernapasan pori tidak terganggu
 mudah dicuci dengan air
 pelepasan obatnya baik
 kemampuan penyebarannya pada kulit baik.

b. Kekurangan sediaan gel


 Untuk hidrogel: harus menggunakan zat aktif yang larut dalam air
sehingga diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti
surfaktan agar gel tetap jernih pada berbagai perubahan tenperatur,
tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau hilang ketika
berkeringat, kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan
iritasi dan harga lebih mahal.
 Penggunaan emolien golongan ester harus diminimalkan atau
dihilangkan untuk mencapai kejernihan yang tinggi.
 Untuk hidroalkoholik : gel dengan kandungan alcohol yang tinggi
dapat menyebabkan pedih pada wajah dan mata, penampilan yang
buruk pada kulit bila terkena pemaparan cahaya matahari, alcohol
akan menguap dengan cepat dan meninggalkan film yang berpori
atau pecah-pecah sehingga tidak semua area tertutupi atau kontak
dengan zat aktif ( Lachman L.et al,.1989)

2.5 Sifat / Karakteristik Gel (Lachman L.et al,.1989)


 Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik
ialah inert, aman dan tidak bereaksi dengan komponen lain

6
 Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk
padatan yang baik selama penyimpanan tapi dapat rusak segera ketika
sediaan diberikan kekuatan atau daya yang disebabkan oleh
pengocokan dalam botol, pemerasan tube, atau selama penggunaan
topikal.
 Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan sediaan
yang diharapkan.
 Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tinggi
atau BM besar dapat menghasilkan gel yang sulit untuk dikeluarkan
atau digunakan).
 Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur, tapi dapat juga
pembentukan gel terjadi satelah pemanasan hingga suhu tertentu.
Contoh polimer seperti MC, HPMC dapat terlarut hanya pada air yang
dingin yang akan membentuk larutan yang kental dan pada
peningkatan suhu larutan tersebut akan membentuk gel.
 Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh
pemanasan disebut thermogelation

Sifat dan karakteristik gel adalah sebagai berikut (Lieberman,


Rieger.et al,.1989):
1. Swelling
Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel
dapat mengabsorbsi larutan sehingga terjadi pertambahan
volume. Pelarut akan berpenetrasi diantara matriks gel dan
terjadi interaksi antara pelarut dengan gel. Pengembangan gel kurang
sempurna bila terjadi ikatan silang antar polimer di dalam matriks
gel yang dapat menyebabkan kelarutan komponen gel berkurang.
2. Sineresis.
Suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi di dalam
massa gel. Cairan yang terjerat akan keluar dan berada di atas
permukaan gel. Pada waktu pembentukan gel terjadi tekanan yang
elastis, sehingga terbentuk massa gel yang tegar. Mekanisme terjadinya

7
kontraksi berhubungan dengan fase relaksasi akibat adanya tekanan
elastis pada saat terbentuknya gel. Adanya perubahan pada ketegaran
gel akan mengakibatkan jarak antar matriks berubah, sehingga
memungkinkan cairan bergerak menuju permukaan. Sineresis dapat
terjadi pada hidrogel maupun organogel.
3. Efek suhu
Efek suhu mempengaruhi struktur gel. Gel dapat terbentuk
melalui penurunan temperatur tapi dapat juga pembentukan gel terjadi
setelah pemanasan hingga suhu tertentu. Polimer separti MC, HPMC,
terlarut hanya pada air yang dingin membentuk larutan yang kental.
Pada peningkatan suhu larutan tersebut membentuk gel. Fenomena
pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan
disebut thermogelation.
4. Efek elektrolit
Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh
pada gel hidrofilik dimana ion berkompetisi secara efektif dengan
koloid terhadap pelarut yang ada dan koloid digaramkan (melarut). Gel
yang tidak terlalu hidrofilik dengan konsentrasi elektrolit kecil akan
meningkatkan rigiditas gel dan mengurangi waktu untuk menyusun diri
sesudah pemberian tekanan geser. Gel Na-alginat akan segera mengeras
dengan adanya sejumlah konsentrasi ion kalsium yang disebabkan
karena terjadinya pengendapan parsial dari alginat sebagai kalsium
alginat yang tidak larut.
5. Elastisitas dan rigiditas
Sifat ini merupakan karakteristik dari gel gelatin agar dan
nitroselulosa, selama transformasi dari bentuk sol menjadi gel terjadi
peningkatan elastisitas dengan peningkatan konsentrasi pembentuk gel.
Bentuk struktur gel resisten terhadap perubahan atau deformasi dan
mempunyai aliran viskoelastik. Struktur gel dapat bermacam-macam
tergantung dari komponen pembentuk gel.

8
6. Rheologi
Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan
yang terflokulasi memberikan sifat aliran pseudoplastis yang khas, dan
menunjukkan jalan aliran non – Newton yang dikarakterisasi oleh
penurunan viskositas dan peningkatan laju aliran.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi


1. Penampilan gel transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang
terdispersi, dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak
membentuk gel koloid yang mempunyai struktur tiga dimensi.
2. Inkompatibilitas dapat terjadi dengan mencampur obat yang bersifat
kationik pada kombinasi zat aktif, pengawet atau surfaktan dengan
pembentuk gel yang bersifat anionik (terjadi inaktivasi atau
pengendapan zat kationik tersebut).
3. Gelling agents yang dipilih harus bersifat inert, aman dan tidak bereaksi
dengan komponen lain dalam formulasi.
4. Penggunaan polisakarida memerlukan penambahan pengawet sebab
polisakarida bersifat rentan terhadap mikroba.
5. Viskositas sediaan gel yang tepat, sehingga saat disimpan bersifat solid
tapi sifat soliditas tersebut mudah diubah dengan pengocokan sehingga
mudah dioleskan saat penggunaan topikal.
6. Pemilihan komponen dalam formula yang tidak banyak menimbulkan
perubahan viskositas saat disimpan di bawah temperatur yang tidak
terkontrol.
7. Konsentrasi polimer sebagai gelling agents harus tepat, sebab saat
penyimpanan dapat terjadi penurunan konsentrasi polimer yang dapat
menimbulkan syneresis (air mengambang diatas permukaan gel)
8. Pelarut yang digunakan tidak bersifat melarutkan gel, sebab bila daya
adhesi antar pelarut dan gel lebih besar dari daya kohesi antar gel maka
sistem gel akan rusak.

9
2.6 Persyaratan Sediaan Gel
Syarat-syarat sediaan gel :
1. Memiliki viskositas dan daya lekat tinggi, tidak mudah mengalir pada
permukaan kulit.
2. Memiliki sifat tiksotropi, mudah merata bila dioleskan.
3. Memiliki derajat kejernihan tinggi (efek estetika).
4. Tidak meninggalkan bekas atau hanya berupa lapisan tipis seperti film
saat pemakaian.
5. Mudah tercucikan dengan air.
6. Daya lubrikasi tinggi.
7. Memberikan rasa lembut dan sensasi dingin saat digunakan.
(Depkes RI, 1978)

10
BAB III

TINJAUAN BAHAN

3.1 Definisi Aloe Vera

Tanaman lidah buaya (Aloe barbadensis Miller) yang ditemukan


oleh Phillip Miller, seorang pakar botani yang berasal dari Inggris, pada tahun
1768. Aloe barbadensis Miller mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya
tahan hama, ukurannya lebih panjang, yakni bisa mencapai 121 cm, berat
perbatangnya bisa mencapai 4 kg, dan mengandung 75 nutrisi. Di samping itu,
lidah buaya ini aman dikonsumsi, karena mengandung zat polisakarida
(terutama glukomannan) yang bekerja sama dengan asam amino esensial dan
sekunder serta enzim oksidase, katalase, lipase, dan enzim-enzim pemecah
protein (Furnawanthi, 2002).
Daun lidah buaya mengandung 96% air dan 4% sisanya terdiri dari
75 macam senyawa fitokimia. Senyawa ini bekerja secara sinergi atau saling
melengkapi di tingkat sel tubuh, sehingga terkesan tubuh bisa menyembuhkan
diri sendiri (biodefense) menghadapi serangan penyakit (Inggrit, 2000).
Wahajo (2002) juga mengungkapkan bahwa daun lidah buaya (aloevera)
banyak mengandung senyawa nutrisi seperti asam amino (essensial dan non
essensial), enzim, mineral, vitamin, polisakarida, dan komplek antraquinon.
Senyawa-senyawa tersebut sangat penting dan dibutuhkan untuk kesehatan
tubuh.
Aloe vera atau lidah buaya mengandung semua jenis vitamin, kecuali
vitamin D, mineral yang diperlukan untuk fungsi enzim, saponin yang
berfungsi sebagai antimikroba dan 20 dari 22 jenis asam amino. Dalam
penggunaannya untuk perawatan kulit, detoksifikasi kulit, aloe vera dapat
menghilangkan jerawat, melembabkan kulit, penghapusan bekas luka,
mengurangi peradangan serta perbaikan dan peremajaan kulit. Aloe vera juga
mengandung asam folik yang melindungi sistem kekebalan tubuh dan
kesehatan tubuh yang sering kali terinfeksi pada kulit.

11
3.2 Karakteristik Aloe Vera

 Warna : Bening
 Bau : Tidak berbau
 Rasa : Tidak berasa
 Dosis :
- Melindungi kulit dari infeksi bakteri : 1 sendok teh gel untuk lidah
buaya kedalam sediaan
batter
- Untuk luka bakar : 97,5 % gel lidah buaya.

 Stabilitas suhu : Stabil terhadap suhu


 Cahaya : Tidak stabil terhadap cahaya
 Pemerian :Zat bening seperti gel, dan aloe lateks berupa zat
berwarna kekuningan.
 Kelarutan : Larut dalam air
 Penyimpanan : Disimpan di tempat yang sejuk, bersih, dan
tertutup rapat.
 Khasiat :Untuk perawatan kulit, menghilangkan jerawat,
melembabkan kulit detoksifikasi kulit, penghapusan bekas luka dan
tanda, mengurangi peradangan serta perbaikan dan peremajaan.

3.3 Macam-macam Bahan Tambahan dan Fungsi


3.3.1 Gelling Agent
Bahan Karakteristik Fisika Kegunaan Keterangan Lain
Carbopol 934 (HPE  Pemerian : berwarna  Emulsifying agent :  Stabilitas suhu
edisi 6 halaman 110) putih, lembut acidic, 0,1-0,5% 104°C selama 2
serbuk higroskopis  Gelling agent : 0,5- jam tidak
dengan bau lemah yang 1,0% berpengaruh
khas.  Suspending agent : terhadap
 Kelarutan : dapat 0,5-1,0% thickening agent
mengembang dalam air efficiency.
dan gliserin dan setelah  Cahaya : dapat

12
dinetralisasi dalam menurunkan
etanol (95%) karbomer dispersion
tidak melarut tetapi viscosity maka
mengembang. perlu ditambahkan
water.
 Inkompatibilitas :
phenol, cationic
polimer, asam
kuat, elektrolit
dengan kadar
besar, antimikroba.
CMC-Na /  Pemerian : putih atau  Emulsifying agent : Incompatible dengan
Carboxymethyl hampir putih, tidak 0,25-1,0% : asam kuat, larutan
cellulose-sodium berbau, tidak berasa,  Gel-forming agent : dari garam Fe, dan
(HPE 6th ed : 118) serbuk granul, 3,0-6,0% beberapa logam,
higroskopi setelah xanthagum,
dikeringkan. membentuk komplek
 Kelarutan : tidak larut coacervates dengan
dalam aseton, etanol gelatin dan pektin.
(95%), eter, dan toluene,
mudah larut dalam air
membentuk larutan
jernih, koloidal.
HPMC  Penampilannya: putih Gel-forming agent :
(Hydroxypropyl atau putih bubuk, tidak 0,5 – 5%
berbau dan hambar.
methylcellulose)
 Kelarutan: larut dalam
air dan pelarut organik,
seperti proporsi etanol /
air yang tepat,
isopropanol / air, dua
eter klor dan. Larutan

13
berair dengan surfaktan,
transparansi tinggi,
stabil kinerjanya.
Produk dari spesifikasi
yang berbeda di
berbagai gel
temperalures, ini adalah
sifat termal HPMC
termal. Kelarutan
meningkat dengan
viskositas dan
perubahan viskositas,
semakin rendah
kelarutan, semakin
tinggi, spesifikasi
HPMC berbeda
memiliki beberapa
perbedaan. Kelarutan
HPMC dalam air tidak
dipengaruhi oleh
pengaruh nilai pH.
 Pemerian : light amber Gelling agent dan Kelarutan gel dapat
Gelatin tofaintly yellow cobred suspending agent. berkurang dengan
(HPE edisi 6 hal. vitreas padatan yang pemanasan 80°C
278) rapuh, tidak berbau, selama 1 jam.
tidak berasa, terdapat
dalam bentuk
translucentsheet, flakes,
dan granul atau bubuk
kasar.
 Kelarutan : tidak larut
dalam aseton,

14
kloroform, etanol
(95%), eter, dan
methanol; larut dalam
gliserin, asam, basa,
dalam air mengembang
sampai 10 kali berat air.

3.3.2 Enhancer
Bahan Karakteristik Fisika Kegunaan Keterangan Lain
Menthol  Pemerian : hablur 0,05-10,0% sebagai Stabilitas : formula
(HPE edisi 6 hal. berbentuk jarum atau enhancer penetrasi yang mengandung
333) prisma, tidak berwarna, kulit. menthol 1% w/w
berbau tajam seperti dalam aqueous
minyak permen, rasa cream stabil selama
panas aromatik diikuti 18 bulan dalam
rasa dingin. penyimpanan pada
 Kelarutan : sangat mudah suhu kamar.
larut dalam ethanol,
kloroform, eter, fatty oil
dan paraffin cair, larut
dalam aseton dan
benzene; praktis tidak
larut dalam air.
Propilenglikol  Cairan kental, jenuh, 15 % Pada suhu dingin
(HPE 6th ed : 592) tidak berbau, rasa agak dan wadah tertutup
baik pada suhu
manis, higroskopis,
tinggi dan tempat
kelarutan dapat terbuka cenderung
bercampur dengan air; teroksidasi menjadi
propional dehid,
dengan etanol ( 95% )
asam asetat, stabil
dan dengan kloroform p, dengan etanol
larut dalam berbagai eter, (95%).

15
tidak dapat bercampur
dengan eter minyak tanah
p, dengan minyak lemak.

3.3.3 Alkali Agent


Nama bahan Konsentrasi Karakteristik Fisika Karakteristik
Kimia
Triethanolamine - Triethanolamine adalah cairan Keasaman/alkalinitas
/TEA kental berwarna kuning pucat pH = 10,5 (0,1 N
yang memiliki sedikit bau solusi)
(HPE ed 6 : 794) amoniak. Titik Didih: 335ºC

3.3.4 Pengawet
Bahan Karakteristik Fisika Kegunaan Keterangan Lain
Na-Benzoat  Granul putih/kristalin, Konsentrasi sebagai BJ : 1,497 – 1,527
sedikit higroskopik, pengawet semisolida g/ml
(HPE 6th ed : 627) tidak berbau, tidak pH efektif : 2 – 5
: 0,1 – 0,5 %
berwarna, tidak manis
dan asin
 Kelarutan :
Etanol 1:2
Etanol 95% 1: 75
Etanol 90% 1: 50
Air 1: 1,8
Air(100oC) 1:1,4
Metyl paraben /  Pemerian : kristal tidak Untuk topikal : 0,02 – Inkompatibilitas
nipagin berwarna atau serbuk 0,3% dengan bentonit
kristal putih, tidak berbau magma trisilat, talk,
(HPE hal. 441) atau hampir tidak berbau tragakan, sodium
sedikit berasa terbakar. alginat, minyak
 Kelarutan : air (1 : 400), essensial, sorbitol
air 50°C (1 : 50), air atropin.
80°C (1 : 30), etanol (1 :
2), etanol 95% (1 : 3),
eter (1 : 10), gliserin (1 :

16
60).
Propil paraben /  Pemerian : kristal putih, Untuk topikkal : 0,01 Aktivitas
nipasol tidak berbau, serbuk tidak – 0,6% antimikroba dari
berasa. propil paraben
(HPE hal. 596)  Kelarutan : air (1 : 1435 berkurang jauh
pada suhu 15°C), air (1 : dengan adanya
2500), air 80°C (1 : 225), surfaktan non-ionik
etanol (1 : 1,1), etanol sebagai akibat dari
50% (1 : 5,6), gliserin (1 : micellization.
250); mudah larut dalam
aseton.

3.3.5 Humektan
Bahan Karakteristik Fisik Kegunaan Keterangan Lain
Propilenglikol  Pemerian : cairan jernih, Penggunaan sebagai Inkompatibiltas
tidak berwarna, viskus, humektan kulit 15% dengan kalium
(HPE edisi 6 hal. praktik tidak berbau, permanganat
592) berasa sedikit seperti
gliserin.
 Kelarutan : larut dalam
eter (1 : 6) dapat
melarutkan beberapa
essential oil.
Gliserin  Pemerian : cairan jernih Humectant topical  Inkompaktibilitas
tidak higroskopis, manis formulation = <30% = oksidator kuat.
(HPE edisi 6 hal.  Kelarutan : larut dalam
283) air, praktis tidaklarut
dalam minyak, benzena,
kloroform, agak larut
dalam aseton.

17
3.3.6 Pelarut
Nama Konsentrasi Karakteristik Fisika Karakteristik Kimia
bahan
Aquadest ad 100 %  Berat molekul 18,02  Tidak dapat terbakar.
gr/mol  Tidak beracun.
 Densitas 1000 kg/m3,  Memiliki pH 7
cair (netral).
 Tekanan uap 2,3 kPa  Tidak terjadi iritasi
 Titik didih: 100oC pada kulit jika terjadi
(273 K 32 F) kontak.
 Berbentuk cairan  Polimerisasi tidak
tidak berwarna terjadi.

18
BAB IV

RANCANGAN SPESIFIKASI SEDIAAN

4.1 Tabel Khasiat dan Efek Samping Bahan aktif

Senyawa Aktif Efek/Khasiat Efek Samping


Aloe vera Aloe vera memiliki khasiat -dapat menyebabkan alergi
mampu mengobati dan diare
peradangan pada kulit , Aloe -tidak disarankan per oral
vera memiliki nutrisi dalam jangka waktu yang
antioksidan yang sangat lama
kuat.Olahan gel lidah buaya -tidak cocok bagi penderita
yang diproses dilaporkan diabtes
menghambat pertumbuhan -dapat menyebabkan
Candida albicans kemerahan jika laergi

4.2 Karakteristik Fisika Kimia

Karekteristik Fisika Sifat Kimia


Kelarutan : jika dilarutkan kedalam air akan pH : 4,5-6,5
membentuk koloid dan memiliki rasa asam
dan sepat. Jika dicampur dengan alkaloid dan
gelatin akan terjadi endapan

4.3 Rancangan Spesifikasi Sediaan

Spesifikasi Keterangan
Bentuk Gel
Kadar Bahan Aktif Aloe Vera 10 %
pH Sediaan 4,5- 6,5 (Ph Kulit)
Warna Putih Bening
Bau Sakura
Viskositas 2000-4000 Cps
Tipe Aliran Tiksotropik

19
4.4 Spesifikasi Terpilih
 Bahan aktif terpilih : Aloe Vera
Alasan : pada pemakaian topikal aloe vera digunakan untuk memudarkan
bekas jerawat yang meradang, menyembuhkan luka akibat jerawat
membandel, radang kulit dan gatal gatal dan ph aloe vera 4,5-5,5
sesuai dengan ph kulit

 Sediaan terpilih : Gel


Alasan : karena aloe vera bahan aktif yang bersifat lipofilik sehingga cocok
di buat dalam bentuk gel, dimana gel memiliki kadar konsentrasi
air yang tinggi.

4.5 Formula Literatur Gel


 (international journal of pharmacy and pharmaceutical sciencess vol 4. suppl
4, 2012)

Aloe Vera 75
Acasia 0,5
Carbopol 934 0,5
Glycerin 5
Tartaric Acid 1,5
Potassium Sorbate 0,5
Sodium Benzoate 0,5
Aquadest 100

 (Sawarkar et all., 2010)


Ocimum sanctum axtr. 2,0
Aloe vera concentrate gel powder 3,0
Tea tree oil 2,5
Tabernaemontana divaricata extr 1,0
Methyl paraben 0,15
Propyl paraben 0,03
Carbopol 934 0,2
Propylene glycol 200 15,0
Polyethylene glycol 5,0

20
4.6 Kerangka Konsep Pemilihan Bahan

Aloe vera

Bahan untuk Stabil dan larut Gel dengan Enhancher


memdispersikan dalam air, media banyak air 1. Propilenglikol
partikel yang pertumbuhan
tidak terdispersi mikroba
dalam system gel
Mencegah
penguapan dari air
dalam gel
Pengawet
Gelling agent 1. Na denzoat
1. Carbomer 2. Nipagin
2. CMC Na 3. Propilenglikol Humektan
3. Xanthan gun 1. Gliserin
4. Gelatin 2. PG
3. PEG 400
4. Sorbitol

21
BAB V

FORMULASI SEDIAAN

5.1`Formula 1 Gel
% % yang Kebutuhan
No. Nama bahan Fungsi
Rentang digunakan (gram)
Ekstrak Aloe
1. Bahan aktif 7,5% 7,5% 1,5 g
vera
HPMC
Gelling
2. (Hydroxypropyl 0,25 -5% 3% 0,6 g
agent
methylcellulose)
3. Propilenglikol enhancer 12% 12% 2,4 g
Metil Paraben
4. Pengawet 0,02-0,3% 0,2% 0,04 g
(Nipagin)
5. Gliserin humektan 5% 5% 1g
6. Aquadest Pelarut Ad 100% 72,3% 14,46 g
Corigen
7. Pewangi Sakura - - 2 tetes
odoris

5.1.1 Perhitungan Bahan Formula 1


7,5
a. Aloe vera = x 20 g = 1 ,5 g
100
5
b. Gliserin = x 20 g = 1 g
100
3
c. HPMC = x 20 g = 0,6 g
100
12
d. Propilenglikol = x 20 g = 2,4 g
100
0,2
e. Metil paraben = x 20 g = 0,04 g
100
72,3
f. Aquadest = x 20 g = 14,46 ml
100

5.1.2 Cara Peracikan Formula 1

1. Timbang semua bahan dan wadah gel kosong.


2. Masukkan HPMC ke dalam mortir tambahkan aquadest 20x berat HPMC
lalu ditunggu hingga mengembang.

22
3. Pada beaker glass dimasukkan Propilenglikol, Gliserin, dan Nipagin aduk
ad larut dan homogen.
4. Masukkan sedikit demi sedikit campuran dalam beaker glass kedalam
mortir yang berisi HPMC yang sudah mengembang kemudian gerus ad
terbentuk massa gel dan homogen.
5. Tambahkan ekstrak Aloe Vera kedalam mortir gerus ad homogen.
6. Tambahkan 2 tetes pewangi sakura kedalam mortir gerus ad homogen.
7. Masukkan kedalam wadah kemudian timbang bobot sediaan.

5.1.3 Flow Chart Formula 1

Timbang semua bahan dan wadah gel kosong.

Masukkan HPMC ke dalam mortir tambahkan aquadest 20x berat HPMC


lalu ditunggu hingga mengembang.

Pada beaker glass dimasukkan Propilenglikol, Gliserin, dan Nipagin aduk


ad larut dan homogen.

Masukkan sedikit demi sedikit campuran dalam beaker glass kedalam


mortir yang berisi HPMC yang sudah mengembang kemudian gerus ad
terbentuk massa gel dan homogen.

Tambahkan ekstrak Aloe Vera kedalam mortir gerus ad homogen.

Tambahkan 2 tetes pewangi sakura kedalam mortir gerus ad homogen.

Masukkan kedalam wadah kemudian timbang bobot sediaan.

23
5.2 Formula 2 Gel
% % yang Kebutuhan
No. Nama bahan Fungsi
Rentang digunakan (gram)
Ekstrak Aloe
1. Bahan aktif 10% 10% 2g
vera
Gelling
2. Carbopol 934 0,5-2% 2% 0,4 g
agent
Trietanolamina
3. Alkali agent - - 8 tetes
(TEA)
4. Propilenglikol Enhancer 10% 10% 2g
Metil Paraben
5. Pengawet 0,02-0,3% 0,05% 0,01 g
(Nipagin)
6. Gliserin humektan 5% 5% 1g
7. Aquadest Pelarut Ad 100% 72,95% 14,59 g
Corigen
8. Pewangi Sakura - - 2 tetes
odoris

5.2.1 Perhitungan Bahan Formula 2


10
a. Aloe vera = x 20 g = 2 g
100
5
b. Gliserin = x 20 g = 1 g
100
2
c. Carbopol 934 = x 20 g = 0,4 g
100
10
d. Propilenglikol = x 20 g = 2 g
100
0,05
e. Metil paraben = x 20 g = 0,01 g
100
72,95
f. Aquadest = x 20 g = 14,59 ml
100
g. TEA = 8 tetes

5.2.2 Cara Peracikan Formula 2

1. Timbang semua bahan dan wadah gel kosong.


2. Masukkan Carbopol 934 ke dalam mortir tambahkan aquadest 20x berat
carbopol lalu digerus ad larut.
3. Tambahkan TEA sedikit demi sedikit kedalam mortir sampai didapatkan
massa gel dengan pH netral (pH=7) sambil dicek menggunakan kertas pH
universal.

24
4. Pada beaker glass dimasukkan Propilenglikol, Gliserin, dan Nipagin aduk
ad larut dan homogen.
5. Masukkan sedikit demi sedikit campuran dalam beaker glass kedalam
mortir kemudian gerus ad terbentuk massa gel baik dan homogen.
6. Tambahkan ekstrak Aloe Vera kedalam mortir gerus ad homogen.
7. Tambahkan 2 tetes pewangi sakura kedalam mortir gerus ad homogen.
8. Masukkan kedalam wadah kemudian timbang bobot sediaan.

5.2.3 Flow Chart Formula 2

Timbang semua bahan dan wadah gel kosong.

Masukkan Carbopol 934 ke dalam mortir tambahkan aquadest 20x berat


carbopol lalu digerus ad larut.

Tambahkan TEA sedikit demi sedikit kedalam mortir sampai didapatkan


massa gel dengan pH netral (pH=7) sambil dicek menggunakan kertas pH
universal.

Pada beaker glass dimasukkan Propilenglikol, Gliserin, dan Nipagin aduk


ad larut dan homogen.

Masukkan sedikit demi sedikit campuran dalam beaker glass kedalam


mortir kemudian gerus ad terbentuk massa gel baik dan homogen.

Tambahkan ekstrak Aloe Vera kedalam mortir gerus ad homogen.

Tambahkan 2 tetes pewangi sakura kedalam mortir gerus ad homogen.

Masukkan kedalam wadah kemudian timbang bobot sediaan.

25
5.3 Formula 3 Gel
% % yang Kebutuhan
No. Nama bahan Fungsi
Rentang digunakan (gram)
1. Ekstrak Aloe vera Bahan aktif 10% 10% 2g
CMC-Na
Gelling
2. (Carboxymethyl 3% 3% 0,6 g
agent
cellulose-sodium)
3. Propilenglikol enhancer 10% 10% 2g
Metil Paraben 0,02-
4. Pengawet 0,2% 0,04 g
(Nipagin) 0,3%
5. Gliserin humektan 5% 5% 1g
6. Aquadest Pelarut Ad 100% 71,8% 14,36 g
Corigen
7. Pewangi Sakura - - 2 tetes
odoris

5.3.1 Perhitungan Bahan Formula 3


10
a. Aloe vera = x 20 g = 1 g
100
5
b. Gliserin = x 20 g = 1 g
100
3
c. CMC-Na = x 20 g = 0,6 g
100
10
d. Propilenglikol = x 20 g = 2 g
100
0,2
e. Metil paraben = x 20 g = 0,04 g
100
71,8
f. Aquadest = x 20 g = 14,36 ml
100

5.3.2 Cara Peracikan Formula 3

1. Timbang semua bahan dan wadah gel kosong.


2. Masukkan CMC-Na ke dalam mortir tambahkan aquadest 20x berat
CMC-Na lalu ditunggu hingga mengembang.
3. Pada beaker glass dimasukkan Propilenglikol, Gliserin, dan Nipagin aduk
ad larut dan homogen.
4. Masukkan sedikit demi sedikit campuran dalam beaker glass kedalam
mortir yang berisi CMC-Na yang sudah mengembang kemudian gerus ad
terbentuk massa gel dan homogen.

26
5. Tambahkan ekstrak Aloe Vera kedalam mortir gerus ad homogen.
6. Tambahkan 2 tetes pewangi sakura kedalam mortir gerus ad homogen.
7. Masukkan kedalam wadah kemudian timbang bobot sediaan.

5.3.3 Flow Chart Formula 3

Timbang semua bahan dan wadah gel kosong.

Masukkan CMC-Na ke dalam mortir tambahkan aquadest 20x berat


CMC-Na lalu ditunggu hingga mengembang.

Pada beaker glass dimasukkan Propilenglikol, Gliserin, dan Nipagin aduk


ad larut dan homogen.

Masukkan sedikit demi sedikit campuran dalam beaker glass kedalam


mortir yang berisi CMC-Na yang sudah mengembang kemudian gerus ad
terbentuk massa gel dan homogen.

Tambahkan ekstrak Aloe Vera kedalam mortir gerus ad homogen.

Tambahkan 2 tetes pewangi sakura kedalam mortir gerus ad homogen.

Masukkan kedalam wadah kemudian timbang bobot sediaan.

27
5.4 Formulasi Gel Scale Up
Pemilihan formulasi Scale up berdasarkan dari formulasi 2.
Alasan : Karena diantara 3 formulasi yang telah dibuat, formulasi 2 memiliki
konsistensi sediaan sesuai dengan gel yang kami inginkan dan
sesuai dengan gel yang beredar di pasaran, serta warna dan
stabilitas tetap baik setelah 1 minggu penyimpanan.

% % yang Kebutuhan
No. Nama bahan Fungsi
Rentang digunakan (gram)
Ekstrak Aloe
1. Bahan aktif 10% 10% 20 g
vera
Gelling
2. Carbopol 934 0,5-2% 0,5% 1g
agent
Trietanolamina
3. Alkali agent - qs 20 tetes
(TEA)
4. Propilenglikol Enhancer 10% 10% 20 g
Metil Paraben
5. Pengawet 0,02-0,3% 0,05% 0,1 g
(Nipagin)
6. Gliserin humektan 5% 5% 10 g
7. Aquadest Pelarut Ad 100% 74,45% 148,9 g
Corigen
8. Pewangi Sakura - - 6 tetes
odoris

5.4.1 Perhitungan Bahan Formulasi Scale up


10
Aloe vera = x 200 g = 20 g
100

5
Gliserin = x 200 g = 10 g
100
0,5
Carbopol 934 = x 200 g = 1 g
100
10
Propilenglikol = x 200 g = 20 g
100

0,05
Metil paraben = x 200 g = 0,1 g
100
74,45
Aquadest = x 200 g = 148,9 ml
100

TEA = 20 tetes

28
5.4.2 Cara Peracikan Formulasi Scale up

1. Timbang semua bahan dan wadah gel kosong.


2. Masukkan Carbopol 934 ke dalam mortir tambahkan aquadest 20x berat
carbopol lalu digerus ad larut.
3. Tambahkan TEA sedikit demi sedikit kedalam mortir sampai didapatkan
massa gel dengan pH netral (pH=7) sambil dicek menggunakan kertas pH
universal.
4. Pada beaker glass dimasukkan Propilenglikol, Gliserin, dan Nipagin aduk
ad larut dan homogen.
5. Masukkan sedikit demi sedikit campuran dalam beaker glass kedalam
mortir kemudian gerus ad terbentuk massa gel baik dan homogen.
6. Tambahkan ekstrak Aloe Vera kedalam mortir gerus ad homogen.
7. Tambahkan 2 tetes pewangi sakura kedalam mortir gerus ad homogen.
8. Masukkan kedalam wadah kemudian timbang bobot sediaan.

5.4.3 Flow Chart Formulasi Scale Up

Timbang semua bahan dan wadah gel kosong.

Masukkan Carbopol 934 ke dalam mortir tambahkan aquadest 20x berat


carbopol lalu digerus ad larut.

Tambahkan TEA sedikit demi sedikit kedalam mortir sampai didapatkan


massa gel dengan pH netral (pH=7) sambil dicek menggunakan kertas pH
universal.

Pada beaker glass dimasukkan Propilenglikol, Gliserin, dan Nipagin aduk


ad larut dan homogen.

29
Masukkan sedikit demi sedikit campuran dalam beaker glass kedalam
mortir kemudian gerus ad terbentuk massa gel baik dan homogen.

Tambahkan ekstrak Aloe Vera kedalam mortir gerus ad homogen.

Tambahkan 2 tetes pewangi sakura kedalam mortir gerus ad homogen.

Masukkan kedalam wadah kemudian timbang bobot sediaan.

30
BAB VI

HASIL EVALUASI

6.1 Organoleptis
 Alat : Diamati secara visual
 Persyaratan :
- Tekstur :Lembut halus
- Warna :Putih
- Bau : Sakura

6.2 Penetapan PH (pH meter)


 Alat : pH meter
 Persyaratan : 4,5-8,0 ( SNI 16-4399-1996 )
 prosedur kerja :
1. Nyalakan alat pH meter
2. Masukkan sediaan salam wadah
3. Celupkan elektrode glass ke dalam sediaan untuk mengetahui pH
sediaan yang akan di ukur
4. Tekan tombol pH pada alat pH meter
5. Catat angka pH yang muncul pada monitor pH meter

6.3 Uji Viskositas


 alat = viskometer brookfield
 persyaratan = 2.000 – 4.000 (Garg dkk.,2002)
 prosedur =
1. Cuci alat viskometer dengan aquadest dan keringkan dengan tisu
2. Masukkan sediaan sebanyak 50 ml atau secukupnya dalam beaker
glass.
3. Pasang pengaduk pada rotor viscometer.
4. Pastikan jarum pembaca pada posisi nol.
5. Pilih skala terkecil yang ada pada alat.
6. Tekan tombol on untuk memutar rotor.

31
7. Catat hasil viskometer yang terbaca.
6.4 Persen rendemen
 persyaratan : <20 %
 prosedur :
1. Ditimbang wadah kosong untuk sediaan.
2. Diisi dengan sediaan pada wadah .
3. Ditimbang wadah + isi, catat beratnya.
4. Dihitung berat isi dengan cara:
Berat isi = (wadah+isi) – wadah kosong
(𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛−𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
5. % rendemen = 𝑥 100%
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛

6.5 Daya Sebar


 Alat : kaca, beban
 Bahan : gel 1 g
 Berat kaca : 146,23 g
 Persyaratan : 5 – 7 cm (Wasia atmadja, 1997).
 Prosedur :
1. Timbang sediaan 1 g
2. Siapkan kertas milimiter blok, letakkan kaca diatasnya. (Pastikan
bobot kaca yang menimpa diatas 135g)
3. Letakkan sediaan ditengah-tengah kaca kemudian ditutup.
4. Kemudiaan beri beban 50g, dan 100g.
5. Setiap mengganti beban diamkan selama 60 detik. Amati
perubahan diameter yang terjadi
6. Mengukur diameter penyebaran pada setiap penambahan beban
7. Penambahan beban dihentikan saat sediaan berhenti menyebar
8. Membuat grafik profil penyebaran (gravik antara berat beban vs
diameter lingkaran penyebaran)
9. Hitung harga slope.

32
6.6 Uji Akseptabilitas
 Alat : Lembar quisioner
 Prosedur :
1. Mencari responden 10 orang
2. Di beri quisioner dan menilai sediaan
3. Buat kriteria uji yaitu (warna, bau, warna sesudah dioles, tekstur,
Daya Lengket, kemudahan saat pengolesan, dan Kenyamanan
Penggunaan)
4. Buat skoring untuk masing-masing kriteria

Kriteria :

1. Warna :
1. Kuning, 2. Sedikit Kuning, 3. Putih Kekuningan, 4. sedikit Putih,
5. Putih
2. Bau :
1. Bau Tidak Enak, 2. Kurang bau, 3.Tidak Bau, 4. Harum, 5.
Sangat Harum
3. Sensasi :
1. Panas, 2. Sedikit Panas, 3.Sedikit dingin, 4.dingin, 5. Sangat
dingin
4. Tekstur:
1. Kasar, 2.sedikit kasar, 3.sedikit halus, 4. Halus, 5. Sangat halus
5. Kekentalan :
1.sangat encer, 2.Sedikit encer, 3.sedikit kental, 4. Kental, 5. Sangat
kental
6. Kemudahan Pengolesan :
1. Susah, 2. Sedikit susah, 3. Sedikit mudah, 4.mudah, 5. Sangat
mudah
7. Kenyamanan Penggunaan :
1. Tidak nyaman, 2. Kurang nyaman, 3.sedikit nyaman, 4. Nyaman,
5.Sangat nyaman

33
6.7 Swelling Indeks
 Alat : gelas ukur
 Prosedur :
1. Diukur aquadest 50 ml pada gelas ukur
2. Masukkan 10 g gel ke dalam gelas ukur
3. Diamkan selama ± 1 jam
4. Setelah itu tuang air ke dalam gelas ukur lain dan hitung air yang
dapat diserap oleh sediaan.

34
BAB VII

HASIL EVALUASI

7.1 Organoleptis
 Tekstur : lembut
 Warna : Bening
 Bau : sakura

Kesimpulan : Hasil yang didapat pada uji evaluasi organoleptis memenuhi


persyaratan spesifikasi yang diinginkan

7.2 Uji pH
 pH yang didapat : 6,31

Kesimpulan : Uji pH dilakukan hanya 1x replikasi dan pH sediaan gel kami


yang didapat adalah 6,31. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan
gel kelompok 6 memenuhi persyaratan pH kulit yaitu 4,5 – 6,5.

7.3 Uji Viskositas


Kecepatan Faktor Hasil Viskositas
(rpm) koreksi

3 2000 41 82K cps

Kesimpulan : hasil viskositas yang didapat adalah 82000 cps, hasil ini
tidak memasuki rentang persyaratan yaitu 2000-4000
cps. Untuk aliran rheologi tidak dapat digambarkan,
karena pada uji viskositas dilakukan hanya pada 1 titik
kecepatan saja yaitu 3 rpm.

7.4 Uji Persen rendeman


 Wadah kosong = 22,15 g
 Wadah + isi = 205,33 g

35
 Berat isi = 205,33 g – 22,15 g = 183,18
200 𝑔−183,18 𝑔
 % rendemen = 𝑥 100% = 8,41%
200 𝑔

Kesimpulan : persen rendeman gel kelompok kami memenuhi


persyaratan yaitu kurang dari 20%.

7.5 Uji Daya Sebar

NO Beban Total beban Diameter


1. Sebelum ditambah beban 146,23 g 5,3 cm
(146,23g)
2. 146,23 g + 50 g 196,23 g 5,8 cm
3. 146,23 g + 100 g 246,23g 6,3 cm

Daya sebar gel


6.4
6.2
6
diameter (cm)

5.8
5.6
5.4 Series 1
5.2
5
4.8
146.23 196.23 246.23
beban (gram)

Kesimpulan : daya sebar gel memenuhi criteria persyaratan yaitu antara 5-7 cm
(Wasia atmadja, 1997).

36
7.6 Uji Aseptabilitas
Jumlah responden : 10 Orang
Parameter Poin penilaian

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Warna 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4

Bau 4 4 4 4 5 5 5 5 5 3

Sensasi 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4

Tekstur 4 5 5 3 4 5 5 5 5 4

Kekentalan 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4

Kemudahan 5 4 4 4 4 4 5 5 5 4
Pengolesan

Kenyamanan 5 4 4 4 4 5 5 4 4 3
Penggunaan

Penilaian Prosentase
Parameter
1 2 3 4 5 ∑dapat Maks (%)

Warna - - - 9 1 41 50 82

Bau - - 1 4 5 44 50 88

Sensasi - - - 9 1 41 50 82

Tekstur - - 1 3 6 45 50 90

Kekentalan - - - 8 2 42 50 84
Kemudahan
- - - 6 4 44 50 88
Pengolesan
Kenyamanan
- - 1 6 3 42 50 84
Penggunaan
Total 85,4%

37
Kriteria Prosentase :
 Tidak baik : < 20%
 Kurang baik : 21 – 40%
 Cukup : 41 – 60%
 Baik : 61 – 80%
 Sangat Baik : 81 – 100%

Aseptabilitas Sediaan Gel


100% 90% 90%
90% 80%
80%
70% 60% 60% 60%
prosentase

60% 50%
50% 40% 40%
40% 30% 30%
30% 20%
20% 10% 10% 10% 10% 10%
10% 0%0%0% 0%0% 0%0%0% 0%0% 0%0%0% 0%0%0% 0%0%
0%
Warna bau sensasi tekstur kekentalan kemudahan kenyamanan
pengolesan penggunaan
kriteria

Tidak Baik kurang baik cukup Baik Sangat Baik

Kesimpulan : Dari 10 responden, sediaan gel kelompok 6 dinyatakan “


sangat baik” dengan presentase 85,4 % sehingga gel bersifat
acceptable atau dapat diterima.

38
BAB VIII

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, sediaan yang dibuat adalah sediaan dalam bentuk
gel. Menurut farmakope Indonesia edisi V pengertian gel adalah sistem semi
padat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel non organik yang kecil atau
molekul organik besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Gel umumnya merupakan
suatu sediaan semipadat yang jernih, tembus cahaya dan mengandung zat aktif,
merupakan disperse koloid mempunyai kekuatan yang disebabkan oleh jaringan
yang saling berikatan pada fase terdispersi (Ansel, 1989).
Gel mengandung basis senyawa hidrofilik sehingga memiliki konsistensi
lembut dan memberikan rasa dingin pada kulit. Rasa dingin tersebut merupakan
efek evaporasi (penguapan) air. Keuntungan gel adalah setelah kering akan
membentuk lapisan tipis tembus pandang elastic dengan daya lengket tinggi, yang
tidak menyumbat pori kulit dan dapat dengan mudah dicuci dengan air (Voigt,
1994).
Pada praktikum ini kami membuat gel tipe hidrogel, karena memiliki
kompatibilitas yang relative baik terhadap jaringan biologis sehingga
meminimalkan timbulnya iritasi (Swarbrick dan Boylan, 1992). Gel yang dibuat
menggunakan bahan aktif Aloe vera, Aloe vera atau lidah buaya mengandung
glikosida-C dan resin. Resin aloe memiliki khasiat purgative (Wiryowidagdo,
2008). Khasiat lidah buaya diantaranya untuk melembabkan kulit, mendinginkan
dan mengurangi rasa sakit. Aloe vera dapat bersifat sebagai antibakteri yang
membantu penyembuhan dari sunburn. Hal ini dikarenakan kandungan aloectin B
yang merangsang sistem kekebalan (Anonim, 2012).
Formula dasar dalam pembuatan gel Aloe vera ini digunakan gelling
agent, humektan dan pengawet. Untuk membuat gel diperlukan gelling agent.
Dalam pemilihan gelling agent harus aman dan tidak bereaksi dengan komponen
yang lain. Gelling agent yang digunakan pada masing-masing formula berbeda
untuk meliha tperbedaan dan menentukan gelling agent yang terbaik dan sesuai
spesifikasi yang diinginkan. Gelling agent yang digunakan adalah HPMC, CMC

39
Na dan Carbopol. Carbopol adalah basis gel yang pembentukan gel tergantung
pada pH (Allen, 2002). Gel dengan gelling agent carbopol 934 memiliki sifat
yang baik dalam pelepasan zat aktif (Madan and Singh, 2010). Biasanya karbopol
digunakan sebagai gelling agent dengan konsentrasi 0,5-2% (Rowe et al, 2006).
Gel carbopol 934 terbentuk pada saat netralisasi pada pH 5-10. Maka untuk
memperbaiki pH gel ditambahkan trietanolamin. Netralisasi dapat
memperpanjang rantai carbopol 934 dengan meningkatkan repulsi agar terbentuk
jaringan gel (Swarbrick and Boylan, 1992). Fungsi trietanolamin adalah untuk
membantu stabilitas gel dengan gelling agent karbopol (Depkes, 1979), buffer dan
penetral dalam farmasetik topikal (Rowe et al, 2006).
Prosedur pembuatan gel, yang pertama dilakukan adalah melarutkan basis
dengan menggunakan pelarut yang cocok kemudian dibiarkan hingga membentuk
massa gel yang baik dan mengembang. Bahan tambahan yang digunakan di
campur menjadi satu diwadah lain seperti beaker glass kemudian dimasukkan
kedalam basis yang telah terbentuk. Bahan tambahan biasanya yang
digunakan dalam pembuatan gel adalah bahan pengawet, humketan, dan enhancer.
Setelah bahan-bahan tambahan tercampur semua, zat aktif yang dipakai
ditambahkan kedalam campuran tersebut.
Pada pembuatan gel skala kecil, dibuat 3 formula untuk memilih formula
yang terbaik diantaranya. Formula 1 menggunakan basis HPMC 3% , formula
2 menggunakan basis Carbopol 2%, sedangkan pada formula 3 menggunakan
basis CMC-Na 3%. Formulasi tersebut dilakukan dalam skala kecil yaitu 20
gram untuk membandingkan hasil dari setiap formula yang selanjutnya akan
dipilih formula yang terbaik berdasarkan organoleptis untuk pembuatan skala
besar.
Dari ketiga formulasi tersebut memberikan hasil yang berbeda. Pada
formulasi 1 kami menggunakan HPMC sebagai basis gel dengan konsentrasi 3%,
hasilnya tekstur gel sedikit lebih padat dan kasar tetapi memberikan warna bening,
sedangkan pada formulasi 3 yang menggunakan CMC-Na 3%, warna gel menjadi
sedikit kuning tetapi tekstur gel lembut setelah dioleskan ke tangan. Berdasarkan
evaluasi organoleptis skala kecil, Kelompok kami memilih formula 2 dengan
basis gel Carbopol karena memberikan konsistensi yang baik, warna yang bening

40
dan tekstur lembut serta efek dingin setelah pengolesan pada tangan. Pada formula
skala besar, konsentrasi Carbopol diturunkan menjadi 0,5% karena pada formula
sebelumnya konsistensinya sedikit lebih padat sehingga konsentrasi Carbopol
dikurangi agar mendapatkan hasil yang baik.
Gel skala besar dibuat dalam jumlah 200 gram. Sebelum dilakukan uji
evaluasi, gel akan didiamkan selama 1 minggu untuk melihat stabilitas dari gel
dan juga unuk membentuk system gel yang lebih baik. Pada praktikum ini sediaan
gel dilakukan beberapa uji evaluasi diantaranya yaitu uji organoleptis, uji pH, uji
aseptabilitas, uji viskositas, % rendemen, dan uji daya sebar.
Pada uji organoleptis. Evalusai dilakukan pengamatan secara visual
menggunakan panca indra, yakni bau, bentuk tekstur sampai warna. Untuk
evaluasi uji organoleptis ini, bau atau aroma yang dihasilkan adalah aroma
bunga sakura. Untuk warna sediaan gel yang diperoleh adalah bening dan tekstur
dari sediaan lembut, halus serta memberikan efek dingin setelah pengolesan
pada kulit.
Pengujian viskositas bertujuan untuk menentukan nilai kekentalan suatu
zat. Semakin tinggi nilai viskostasnya maka semakin tinggi tingkat kekentalan zat
tersebut (Martin et al., 1993). Nilai viskositas sediaan gel yang baik yaitu 2000 –
4000 cps (Garg dkk., 2002). Uji Viskositas menggunakan spindle 64 dengan
kecepatan 3, didapatkan viskositas sebesar 82.000 cps, dimana viskositas tersebut
tidak memenuhi persyaratan sediaan gel yang baik. Kurva aliran tidak dapat
ditentukan karena hanya menggunakan satu titik kecepatan yaitu kecepatan 3 rpm.
Tetapi menurut teori, gel merupakan aliran tiksotropik (Rosmala, dkk, 2014).
Tiksotropotik adalah suatu alir yang mempunyai konsistensi tinggi dalam wadah
dan juga mudah tersebar. Viskositas sediaan dipengaruhi beberapa factor
diantaranya yaitu factor pencampuran atau pengadukan saat proses pembuatan
sediaan, pemilihan basis gel dan humektan, serta ukuran partikel (Ansel, 2005).
Pada evaluasi uji pH bertujuan untuk melihat pH pada sediaan, apakah
aman untuk pemakaian pada kulit atau tidak. Keadaan pH harus diatur
sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu fungsi membrane sel dan tidak
mengiritasi kulit. Nilai pH yang diinginkan adalah nilai pH dari kulit sekitar 4,5
– 6,5 (Rosmala, dkk, 2014). Setelah dilakukan uji pH pada gel, nilai pH sediaan

41
pada alat pH meter menunjukkan angka 6,31, artinya PH sediaan yang kami buat
masuk dalam rentang pH yang diinginkan yaitu pH kulit sehingga tidak
mengiritasi kulit dan boleh digunakan.
Uji daya sebar sediaan semisolid dilakukan untuk mengetahui kemampuan
sediaan menyebar pada permukaan kulit ketika diaplikasikan. Kemampuan
penyebaran yang baik akan memberikan kemudahan pengaplikasian pada
permukaan kulit. Selain itu penyebaran bahan aktif lebih merata sehinga dapat
memberikan efek terapi yang lebih optimal. Daya sebar yang baik menyebabkan
kontak antara obat dengan kulit menjadi luas, sehingga absorpsi obat ke kulit
berlangsung cepat (Naibaho, dkk., 2013). Pada kelompok kami, daya sebar pada
beban kaca 146,23 g memberikan hasil diameter 5,3 cm, penambahan beban 50
g hasil yang didapat diameter 5,8 cm dan penambahan beban 100 g memberikan
hasil diameter menjadi 6,4 cm. Persyaratan daya sebar untuk sediaan topical
yaitu sekitar 5-7 cm (Wasia atmadja, 1997). Kesimpulan yang bisa diambil dari
evaluasi daya sebar adalah sediaan gel memiliki daya sebar yang memenuhi
spesifikasi sediaan yakni 5-7 cm. Daya sebar berbanding terbalik dengan
viskositas ssediaan semipadat, jika viskositas semakin rendah maka daya sebar
semakin tinggi (Garg et al., 2002).
Pada uji aseptabilitas yang diaplikasikan pada kulit, dilakukan dengan
membagikan quisioner kepada 10 responden tentang beberapa criteria, yaitu
warna, aroma, tekstur, sensasi,. Kemudian masing-masing kriteria tersebut di
buat skor yakni 1 dalam arti Kurang baik (< 20%), angka 2 dalam arti sedikit
baik (21-40%), angka 3 dalam arti cukup (40-60%), angka 4 dalam arti baik (61-
80%), dan angka 5 dalam arti sangat baik (81-100%).
Hasil yang didapatkan dibuat dalam bentuk prosentase untuk memudahkan
dalam penilaian. Dari parameter warna didapatkan prosentasi 82%, hal ini
menunjukkan bahwa sediaan gel kelompok kami berwarna sangat baik yaitu
bening sehingga dapat diterima oleh responden. Kriteria aroma menurut
responden sangat baik karena aroma dari gel sangat harum dan mempunyai
prosentase yang diperoleh sebesar 88%. Pada criteria sensasi mendapatkan
prosentase sebesar 82% yaitu sangat baik, menunjukkan bahwa saat pengolesan
pada tangan, gel kelompok kami memberikan efek sensasi dingin, sedangkan

42
pada criteria tekstur menurut responden juga sangat baik dan memberikan
prosentase tertinggi yaitu 90%, hal ini dibuktikan pada saat pengolesan, gel
kelompok kami berstektur lembut dan halus serta homogen. Pada parameter
kekentalan mendapatkan prosentase 84%, hal ini ditunjukkan dengan konsistensi
sediaan gel kami yang kental dan tidak encer. Selain itu, pada kriteria
kemudahan untuk dioleskan sediaan gel ini mempunyai hasil sangat mudah
dioleskan berdasarkan beberapa responden dengan prosentase yaitu 88%, dan
menurut beberapa responden, sediaan gel kelompok kami juga mudah dalam
pengaplikasiannya sehingga memberikan prosentase 84%. Dari beberapa
parameter, jika dirata-ratakan memberikan hasil prosentase sebesar 85,4%,
maknanya sediaan gel kami sangat bagus dan dapat diterima atau acceptable.
Pada evaluasi % rendeman, bobot akhir yang didapatkan adalah 183,18 g,
sedangkan bobot gel yang seharusmya adalah 200 g, sehingga didapakatn
persentase sebesar 8,41%. Hal ini masih mememenuhi persyaratan karena tidak
melebihi dari persyaratan persentase rendeman yaitu 20%.

43
BAB IX

PENUTUP

9.1 Kesimpulan
1. Dari hasil beberapa formulasi skala kecil yang telah kami cobakan, maka
menurut kelompok kami formula 2 merupakan formula yang terpilih untuk
skala besar. Basis gel yang digunakan adalah carbopol 934 sebanyak
0,5%.
2. Hasil evaluasi sediaan gel yang didapat adalah sebagai berikut :
a. Organoleptis : (memenuhi persyaratan)
 Warna : Bening
 Bau : Bunga sakura
 Tekstur : Lembut Halus
b. pH : 6,31 (memenuhi persyaratan)
c. Viskositas : menggunakan spindle 64
 Speed (3 rpm) : 82.000 cps (tidak memenuhi persyaratan)
d. Daya sebar : (memenuhi persyaratan)
 Pada beban kaca (146,23 g) : 5,3 cm
 Pada beban kaca + beban 50 g : 5,8 cm
 Pada beban kaca + beban 100 g : 6,3 cm
e. Bobot sediaan : 183,18 gram
f. % Kesalahan : 8,41 % (memenuhi persyaratan)
g. Asseptabilitas : Acceptable

9.2 Saran
pada proses formulasi dipertimbangkan secara betul-betul dalam
pemilihan bahan tambahan yang sesuai dengan bahan aktif, sedangkan pada
proses produksi harus diperhatikan dan dipastikan bahwa langkah produksinya
sudah sesuai dengan prosedur.

44
BAB X

RANCANGAN KEMASAN

10.1 Rancangan Kemasan Primer dan Sekunder


Kemasan primer : Wadah pot cream berwarna putih tertutup rapat
terlindung dari cahaya.

Kemasan Primer Kemasan Sekunder


Nama obat jadi - Nama obat jadi
- Bobot netto - Bobot netto
- Komposisi obat - Bentuk sediaan
- Nama pabrik - Komposisi obat
- Indikasi - Nama pabrik
- Cara pemakaian - Indikasi
- No. Batch - Cara pemakaian
- Tanggal kadaluarsa - No. Registrasi
- No. Registrasi - No. Batch
- Cara penyimpanan - Tanggal kadaluarsa
- Bentuk sediaan - Cara penyimpanan
- Logo golongan obat - Logo golongan obat
- Perhatian - Perhatian

10.2 Rancangan Brosur


Isi :
- Nama obat jadi - No. Batch - Cara pemakaian
- Kemasan dan bobot netto - No. Registrasi - Indikasi
- Komposisi obat - Cara penyimpanan - Logo golongan obat
- Nama pabrik - Bentuk sediaan - Farmakologi

45
DAFTAR PUSTAKA

Aiache, J.M., Devissaguet, J.Ph., and Guyot-Herman, A.M. 1993. Farmasetika 2


Biofarmasi. Penerjemah : Widji Soetari. Edisi ke 2. Surabaya. Air Langga
University Press.
Ansel, H. C. 2004. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi keempat. Jakarta:
UI Press.
Barry, B.W. 2004. Dermatological Formulations: Percutaneous Absorption. New
York: Marcel Dekker, Inc.
Benson, A.E.H. 2005. Transdermal Drug Delivery: Penetration Enhancement
Tecniques. Bentham Science Publisher Ltd Current Drug Deliver.
Buhler, V.1998.Generic Drug Formulations, Edisi ke- 2. BASF Fine Chemical.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Ditjen POM. 1985.Formularium Kosmetik Indonesia. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI
Djuanda, A. 2009. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Harborne, J.B. 1996. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisa
Tumbuhan. Terbitan Kedua. ITB. Bandung.
Herdiana, Y.2007.Formulasi Gel Uudesilenil Fenilalanin Dalam Aktivitas
Sebagai Pencerah Kulit. Universitas Padjajaran.
Lachman, L., & Lieberman, H. A. 1994.Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi
Kedua.UI Press : Jakarta.
Lademann, J., Otberg, N., Richter, H., Jacobi, U.,Schaefer, H., Blume, P.U., dan
Sterry, W. 2004. Folicular Penetration: An Important Pathway for
Topically Applied Substances. Hautarzt.
Mutschler, E. 1999. Dinamika Obat Farmakologi dan Toksiologi Edisi 5.Institut
Teknologi Bandung: Bandung
Naibaho, O. H., Yamlean, P. V. Y., & Wiyono, W., 2013, Pengaruh Basis Salep
Terhadap Formulasi Sediaan Salep Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum
sanctum L.) Pada Kulit Punggung Kelinci Yang Dibuat Infeksi
Staphylococcus aureus, Jurnal Ilmiah Farmasi, Vol. 2 No. 02.

46
Ofner, C. M. dan Klech-Gelotte, C. M., 2007. Encyclopedia of Pharmaceutical
Technology. Informa Healthcare Inc., USA.
Rowe, R.C. et Al. (2009). Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed, The
Pharmaceutical Press. London.
Regnier, V., Le, D.T., dan Preat, V. 1998. Controlling Topical Delivery
Oligonucleotides By Electroporation. Drug Target
Syarif M Wasitaatmadja. 2007. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi 6. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.
Shai, A., dkk. 2009. Handbook of Cosmetic Skin Care. Infoma Healthcare.USA
Sharma, G,N., Sanadya, J., Kaushik, A., dan Dwivedhi, A. 2012. Penetration
Enhancement of Medicinal Agent. International Research Journal of
Pharmacy.
Saroha, K., Sarabjeet, S., Ajay, A., dan Sanju, N. 2013. Transdermal Gel-An
Alternative Vehicle For Drug Delivery. International Journal Of
Pharmaceutical, Chemical And Biological Sciennce
Sung, KC., Fang JY., dan Wang J.H.O. 2003. Transdermal Delivery Of
Nalbuphine And Its Prodrugs By Electroporation. Eur J Pharm Sci.
Sweetman, S et al. 2009. Martindale 36th. The Pharmaceutical. Press: London.
Sulaiman, T.N. dan Kuswahyuning, R. 2008. Teknologi dan Formulasi Sediaan
Sedian Semipadat. Pustaka Laboratorium Teknologi Farmasi, Fakultas
Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Trommer, H., dan Neubert, R.H.H. 2006. Overcoming The Stratum Corneum: The
Modulation of Skin Penetration. Skin Pharmacology and Physiology
WHO. (1999). WHO Monographs on Selected Medicinal Plants - Volume 1.
Retrieved Mei 27.2018. from http://apps.who.int/medicinedocs/en/d/
Js2200e/29.html
Wathoni N., Rusdiana T., Hutagaol RY., 2009. Formulasi Gel Antioksidan
Ekstrak Rimpang Lengkuas (Alpinia galangal L.Willd) dengan
Menggunakan Basis Aqupec 505 HV. Farmaka

47
LAMPIRAN

Kemasan Sekunder Gel

48

Anda mungkin juga menyukai