Anda di halaman 1dari 15

ENERGI TERBARUKAN (RENEWABLE ENERGY)

POTENSI KONVERSI ENERGI GELOMBANG MENJADI ENERGI


LISTRIK

Pembimbing : Selpiana, S.T., M.T.


Nama Kelompok :
1. Nurul Ilmi (03031181823002)
2. Sarah Khoirunnisa (03031181823006)
3. Violanda Dwi Wulandari Pranajaya (03031181823008)

TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya Penulis dapat menyelesaikan tugas ini. Salawat serta salam kami
curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta pada keluarga
dan para sahabatnya hingga akhir zaman.
Penyusunan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui potensi
kemungkinan penerapan pembangkit listrik tenaga gelombang laut dengan
menggunakan sistem oscilating water column atau kolom air berisolasi sehingga
diharapkan kedepannya mampu mengurangi masalah eksiting ketenagalistrikan.
Tentunya kami mendapat banyak kendala dalam penyusunan karya tulis ilmiah
ini. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Selpiana, S.T., M.T. selaku
dosen yang sudah membimbing kami.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam karya
tulis ilmiah ini. Maka dari itu kami mohon maaf jika tugas ini tidak sempurna.
Kami berharap karya tulis ini dapat bermanfaat untuk studi lebih lanjut.

Indralaya, Februari 2019

Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Untuk bisa melangsungkan hidupnya, manusia harus berusaha


memanfaatkan sumber daya hayati yang ada di bumi ini dengan sebaik-baiknya.
Akan tetapi penggunaan tersebut haruslah mempunyai tujuan yang positif yang
nantinya tidak akan membahayakan manusia itu sendiri. Sehingga manusia harus
mencari sumber energi alternatif lain untuk menghidupi kebutuhan sehari-harinya.
Misalnya sumber daya hayati yang ada di bumi ini salah satunya adalah lautan.
Selain mendominasi wilayah di bumi ini, laut juga mempunyai banyak potensi
pangan (beranekaragam spesies ikan dan tanaman laut) dan potensi sebagai
sumber energi. Energi yang ada di laut ada 3 macam, yaitu: gelombang (energi
ombak), energi pasang surut dan energi panas laut. Salah satu energi di laut
tersebut adalah energi gelombang (ombak). Sebenarnya ombak atau gelombang
merupakan sumber energi yang cukup besar. Ombak merupakan gerakan air laut
yang turun-naik atau bergulung-gulung. Energi ombak adalah energi alternatif
yang dibangkitkan melalui efek gerakan tekanan udara akibat fluktuasi pergerakan
gelombang.

1.2 PERMASALAHAN

Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana potensi sumber energi gelombang laut di dunia.
2. Bagaimana teknik konversi energi gelombang laut menjadi listrik.
3. Bagaimana jika Indonesia memanfaatkan konversi energi gelombang
menjadi listrik.
4. Bagaimana kekurangan dan kelebihan teknik konversi energi gelombang
menjadi listrik
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Gelombang Laut

Gelombang laut merupakan energi dalam transisi, merupakan energy yang


terbawa oleh sifat aslinya. Prinsip dasar terjadinya gelombang laut adalah sebagai
berikut (waldopo,2008): ” Jika ada dua massa benda yang berbeda kerapatannya
( densitasnya) bergesekan satu sama lain, maka pada bidang geraknya akan
terbentuk gelombang. ” Gelombang merupakan gerakan naik turunnya air laut.
Hal ini seperti ditunjukkan pada gambar 1

Gambar 1. Gambar pergerakan air laut.

(Sumber: Waldopo ,2008)

Gelombang atau ombak yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan


menjadi beberapa jenis tergantung dari daya yang menyebabkannya. Gelombang
laut dapat disebabkan oleh angina (gelombang angin), daya tarikan bumi-bulan-
matahari (gelombang pasang surut), gempa (vulkanik dan tektonik) di dasar laut
(gelombang tsunami), ataupun gelombang yang disebabkan oleh gerakan kapal.

Gelombang atau ombak merupakan pergerakan naik dan turunnya air


dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik
sinusoidal. Angin di atas lautan memindahkan tenaganya ke permukaan perairan,
menyebabkan riak-riak, alunan/bukit, dan merubah menjadi apa yang kita sebut
sebagai gelombang atau ombak.
Partikel air berada dalam suatu tempat bergerak di suatu lingkaran, naik
dan turun dengan suatu gerakan kecil dari sisi satu kembali ke sisi semula.
Gerakan ini memberi gambaran suatu bentuk gelombang. Pelampung yang
mengapung di air pindah ke pola yang sama, naik turun di suatu lingkaran yang
lambat, yang dibawa oleh pergerakan air.

Di bawah permukaan, gerakan putaran gelombang itu semakin mengecil.


Pergerakan orbital yang mengecil seiring dengan kedalaman air, sehingga
kemudian di dasarnya hanya akan meninggalkan suatu gerakan kecil mendatar
dari sisi ke sisi yang di sebut “surge”

Selanjutnya gelombang laut ditinjau dari sifat pengukurannya dibedakan


menurut ketinggian serta periode alunannya. Dari kebanyakan data yang ada,
tinggi gelombang lautan dapat diukur melalui alat ukur gelombang ataupun
dengan cara visual dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan.
Gelombang laut sukar dijabarkan dengan pasti, tetapi dapat diformulasikan
dengan pendekatan. Berbagai macam teori pendekatan digunakan untuk
memberikan informasi ilmiah tentang sifat gelombang lautan pada suatu tingkat
fenomena yang aktual. Suatu teori sederhana tentang gelombang lautan dikenal
sebagai teori dari Airy atau teori gelombang linier. Selanjutnya para ahli
membedakan sifat gelombang laut sebagai gelombang linier dan gelombang non-
linier.

Angin adalah sumber utama terjadinya gelombang lautan. Dengan


demikian tinggi gelombang, periode, dan arah gelombang selalu berhubungan
dengan kecepatan dan arah angin. Angin dengan kecepatan rendah akan
menyebabkan kecilnya tinggi gelombang dan rendahnya periode gelombang yang
terjadi, sedangkan angin yang kuat dan angin ribut akan menyebabkan variasi
tinggi serta periode gelombang serta mengarah ke berbagai penjuru. Pada kondisi
angin yang baik, gelombang laut dapat diobservasi secara random, baik untuk
tinggi, periode, maupun arahnya. Angin memberikan pengaruh yang besar
terhadap terjadinya gelombang laut sehingga efisiensi hampir semua pesawat
konversi energi gelombang laut dipengaruhi oleh frekuensi angin yang terjadi
sepanjang tahun pada suatu zone lautan tertentu.
Gambar 2. Spektrum periode gelombang untuk

berbagai kecepatan angin ( Pudjanarsa,2006)

A. PLTGL- Oscilating Water Column (OWC)

OWC merupakan salah satu sistem dan peralatan yang dapat mengubah
energi gelombang laut menjadi energi listrik dengan menggunakan kolom osilasi.
Alat OWC ini akan menangkap energi gelombang yang mengenai lubang pintu
OWC, sehingga terjadi fluktuasi atau osilasi gerakan air dalam ruang OWC,
kemudian tekanan udara ini akan menggerakkan baling-baling turbin yang
dihubungkan dengan generator listrik sehingga menghasilkan listrik.

Pada teknologi OWC ini, digunakan tekanan udara dari ruangan kedap air
untuk menggerakkan whells turbine yang nantinya pergerakan turbin ini
digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Ruangan kedap air ini dipasang
tetap dengan struktur bawah terbuka ke laut. Tekanan udara pada ruangan kedap
air ini disebabkan oleh pergerakan naik-turun dari permukaan gelombang air laut.
Gerakan gelombang di dalam ruangan ini merupakan gerakan compresses
dan gerakan decompresses yang ada di atas tingkat air di dalam ruangan. Gerakan
ini mengakibatkan, dihasilkannya sebuah alternating streaming kecepatan tinggi
dari udara. Aliran udara ini didorong melalui pipa ke turbin generator yang
digunakan untuk menghasilkan listrik. Sistem OWC ini dapat ditempatkan
permanen di pinggir pantai atau bisa juga ditempatkan di tengah laut. Pada sistem
yang ditempatkan di tengah laut, tenaga listrik yang dihasilkan dialirkan menuju
transmisi yang ada di daratan menggunakan kabel laut.

Gambar 3. Skema oscilatting water column

( Sumber: Graw, 1996)

Dalam menghitung besarnya energy gelombang laut dengan metode


oscilatting water column (OWC), hal yang pertama yang harus diketahui adalah
ketersediaan akan energi gelombang laut. Total energi gelombang laut dapat
diketahui dengan menjumlahkan besarnya energi kinetik dan energi potensial
yang dihasilkan oleh gelombang laut tersebut. Energi potensial adalah energi yang
ditimbulkan oleh posisi relatif atau konfigurasi gelombang laut pada suatu sistem
fisik. Bentuk energi ini memiliki potensi untuk mengubah keadaan objek-objek
lain di sekitarnya, contohnya, konfigurasi atau gerakannya. Besarnya energy
potensial dari gelombang laut dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut
(University of Michigan,2008):

(1)

Dimana:

m = wρy : Massa Gelombang (kg)

ρ : massa jenis air laut (kg/m3)

w : lebar gelombang (m) (diasumsikan sama dengan luas chamber pada OWC).

Y = y(x,t) = a sin(kx-ωt) (m) : persamaan gelombang (diasumsikan gelombang


sinusoidal).

a = h/2 : amplitudo gelombang.

h = ketinggian gelombang (m)

2.2. Komponen Peralatan Pembangkit Pada Pembangkit Energi Gelombang Laut

Komponen peralatan yang digunakan pada Pembangkit Listrik Tenaga


Gelombang Laut sistem OWC antara lain adalah :

a. Turbin

Turbin adalah mesin penggerak awal, yang mengubah energi mekanik


menjadi energi listrik. Dimana energi fluida kerjanya dipergunakan langsung
untuk memutar roda turbin. Pada turbin hanya terdapat gerak rotasi. Bagian turbin
yang berputar dinamakan stator atau rumah turbin. Roda turbin terletak dalam
rumah turbin dan roda turbin memutar poros daya yang menggerakkan atau
memutar beban seperti generator listrik. Di dalam turbin terdapat fluida kerja yang
mengalami proses ekspansi, yaitu proses penurunan tekanan dan mengalir secara
terus menerus. Fluida kerja dapat berupa air, uap air atau gas. Pada roda turbin
terdapat sudu, kemudian fluida akan mengalir melalui ruang diantara sudu
tersebut sehingga roda turbin berputar. Ketika roda turbin berputar maka tentu ada
gaya yang bekerja pada sudu. Gaya tersebut timbul karena terjadinya perubahan
momentum dari fluida kerja yang mengalir diantara sudu. Jadi sudu harus
dibentuk sedemikian rupa agar terjadi perubahan momentum pada fluida kerja.
Karena sudu bergerak bersamaan dengan gerak roda turbin, maka sudu tersebut
dinamakan sudu gerak, sedangkan sudu yang menyatu dengan rumah turbin
sehingga tidak bergerak dinamakan sudu tetap. Sudu tetap berfungsi mengarah
aliran fluida kerja masuk ke dalam sudu gerak atau juga berfungsi sebagai nosel.
Pada sebuah roda turbin mungkin terdapat satu baris sudu gerak saja yang disebut
turbin bertingkat tunggal, dan jika terdapat beberapa baris sudu gerak disebut
turbin bertingkat ganda.

b. Turbin Angin

Prinsip dasar kerja dari turbin udara adalah mengubah energi mekanis dari
tekanan udara menjadi energi putar pada turbin, lalu putaran turbin digunakan
untuk memutar generator, yang akhirnya akan menghasilkan listrik. Umumnya
daya efektif yang dapat dipanen oleh sebuah turbin angin hanya sebesar 50% -
70%. Sistem ini terdiri dari sebuah ruangan yang dibangun di tepi pantai. Gerakan
laut / gelombang laut mendorong kantong udara sebuah pemecah gelombang ke
atas dan ke bawah. Kemudian udara akan melewati turbin udara. Selanjutnya,
ketika gelombang kembali ke laut, udara tadi akan beredar melalui turbin pada
arah yang sebaliknya. Turbin penyearah ini dirancang oleh Profesor Alan Wells
dari Queen's University, yang menggerakkan generator listrik dipasang pada poros
yang sama, seperti diilustrasikan pada gambar 8. Untuk mengontrol tekanan udara
di dalam sistem digunakan katup atau klep yang dipasang secara paralel (kadang-
kadang secara seri) dengan turbin.

c. Generator

Generator adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengkonversi


energy mekanis dari prime mover menjadi energi listrik. Generator yang umum
dipergunakan dalam sistem pembangkit adalah generator asinkron. Secara garis
besar generator terbagi atas stator dan rotor.
Terdapat beberapa hal yang mendasari dalam pemilihan generator. Pada
pemakaian tegangan generator yang relatif tinggi, maka diperlukan isolasi yang
tebal dan baik, hal ini menyebabkan ruangan untuk penghantar menjadi semakin
sempit dan harga generator akan menjadi lebih mahal. Sedangkan pada generator
dengan pemakaian tegangan lebih rendah akan menyebabkan berkurangnya
jumlah lilitan gulungan stator, sehingga akan membatasi dalam perencanaan dan
tidak ekonomis tetapi menguntungkan dalam pengoperasiannya.

Berdasarkan pertimbangan hal-hal tersebut diatas maka diberikan suatu


standar untuk pemilihan tegangan berdasarkan daya yang dibangkitkan,
sedangkan faktor daya ( cos Φ ) dipilih antara 0,85 – 0.9 tertinggal ( lagging ).
Generator memberikan daya ke dalam grid dengan frekuensi dan tegangan rms
konstan. Karena turbin berputar dengan kecepatan yang bervariasi maka motor
sinkron tidak tepat untuk digunakan. Sebaliknya, dapat digunakan generator
double fed wound rotor induction. Wound rotor diberi medan magnet oleh stator
menggunakan konverter dan dengan pengaturan frekuensi dan tegangan tetap
yang konstan untuk berbagai macam variasi kecepatan turbin.

2.3 Potensi Konversi Energi Gelombang Menjadi Listrik di Dunia

Ada tiga cara mendasar agar kita bisa memanfaatkan energi gelombang.
Energi dari naik turunnya ketinggian laut atau disebut juga energi gelombang,
dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik. Tenaga gelombang
biasanya dipacu dengan membuka sebuah dam menuju ke waduk. Waduk tersebut
dilengkapi dengan pintu air yang dibuka untuk mengalirkan air ke penampungan,
lalu pintu air ditutup sehingga menyebabkan ketinggian air turun. Perbedaan
ketinggian itu menyebabkan turbin berputar.
Potensi energi gelombang ada di stasiun Rance di Perancis, yang
menghasilkan energi listrik 240 MW .sepertinya Prancis adalah satu-satunya
negara yang sukses menggunakan sumber energi ini. Insinyur Prancis
memprediksikan, penggunaan tenaga ombak dalam skala besar, bisa membuat
rotasi bumi melambat 24 jam tiap 2000 tahun. System pembangkit listrik tenaga
ombak, bisa memberi dampak pada lingkungan karena berkurangnya laju alir air,
dan bisa menimbulkan endapan pada basin.

2.4 Teknik Konversi Energi Gelombang Laut Menjadi Energi Listrik

Salah satu energi di laut tersebut adalah energi ombak. Sebenarnya ombak
merupakan sumber energi yang cukup besar. Ombak merupakan gerakan air laut
yang turun-naik atau bergulung-gulung. Energi ombak adalah energi alternatif
yang dibangkitkan melalui efek gerakan tekanan udara akibat fluktuasi pergerakan
gelombang. Energi ombak dapat digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik,
seperti saat ini telah didirikan sebuah Pembangkit Listrik Bertenaga Ombak
(PLTO) di Yogyakarta, yaitu model Oscillating Water Column. Kolom air yang
berosilasi (Oscillating Water Column). Alat ini membangkitkan listrik dari naik
turunnya air akibat gelombang dalam sebuah pipa silindris yang berlubang. Naik
turunnya kolom air ini akan mengakibatkan keluar masuknya udara di lubang
bagian atas pipa dan menggerakkan turbin.
Tujuan didirikannya PLTO ini adalah untuk memberikan model sumber
energi alternatif yang ketersediaan sumbernya cukup melimpah di wilayah
perairan pantai Indonesia. Model ini menunjukan tingkat efisiensi energi yang
dihasilkan dan parameter-parameter minimal hiroosenografi yang layak, baik itu
secara teknis maupun ekonomis untuk melakukan konversi energi.
Dalam PLTO ini proses masuk dan keluarnya aliran ombak pada suatu
ruangan tertentu (khusus) dapat menyebabkan terdorongnya udara keluar dan
masuk melalui sebuah saluran di atas ruang khusus tersebut. Apabila diletakkan
sebuah turbin di ujung saluran tersebut, maka aliran udara yang keluar masuk
akan memutar turbin yang menggerakkan generator. Kelemahan dari model ini
adalah aliran keluar masuk udara dapat menimbulkan kebisingan, akan tetapi
karena aliran ombak sudah cukup bising umumnya ini tidak menjadi masalah
besar.
2.5 Peluang Indonesia Menerapkan Sistem Konversi Energi Gelombang Menjadi
Listrik

Untuk wilayah Indonesia, energi yang mempunyai prospek bagus adalah


energi arus laut. Hal ini dikarenakan Indonesia mempunyai banyak pulau dan selat
sehingga arus laut akibat interaksi Bumi-Bulan-Matahari mengalami percepatan
saat melewati selat-selat tersebut. Selain itu, Indonesia adalah tempat pertemuan
arus laut yang diakibatkan oleh konstanta pasang surut M2 yang dominan di
Samudra Hindia dengan periode sekitar 12 jam dan konstanta pasang surut K1
yang dominan di Samudra Pasifik dengan periode lebih kurang 24 jam. M2 adalah
konstanta pasang surut akibat gerak Bulan mengelilingi Bumi, sedangkan K1
adalah konstanta pasang surut yang diakibatkan oleh kecondongan orbit Bulan
saat mengelilingi Bumi.
Interaksi Bumi-Bulan diperkirakan menghasilkan daya energi arus pasang
surut setiap harinya sebesar 3.17 TW, lebih besar sedikit dari kapasitas
pembangkit listrik yang terpasang di seluruh dunia pada tahun 1995 sebesar 2.92
TW (Kantha & Clayson, 2000). Namun, untuk wilayah Indonesia potensi daya
energi arus laut tersebut belum dapat diprediksi kapasitasnya.

2.6 Kelebihan dan Kekurangan Sistem Konversi Energi Gelombang Menjadi


Listrik

Kekurangan dari energi arus laut adalah output-nya mengikuti grafik


sinusoidal sesuai dengan respons pasang surut akibat gerakan interaksi Bumi-
Bulan-Matahari. Pada saat pasang purnama, kecepatan arus akan deras sekali, saat
pasang perbani, kecepatan arus akan berkurang kira-kira setengah dari pasang
purnama. Kekurangan lainnya adalah biaya instalasi dan pemeliharaannya yang
cukup besar. Kendati begitu bila turbin arus laut dirancang dengan kondisi pasang
perbani, yakni saat di mana kecepatan arus paling kecil, dan dirancang untuk
bekerja secara terus-menerus tanpa reparasi selama lima tahun, maka kekurangan
ini dapat diminimalkan dan keuntungan ekonomisnya sangat besar. Hal yang
terakhir ini merupakan tantangan teknis tersendiri untuk para insinyur dalam
desain sistem turbin, sistem roda gigi, dan sistem generator yang dapat bekerja
secara terus-menerus selama lebih kurang lima tahun.
Keuntungan penggunaan energi arus laut adalah selain ramah lingkungan,
energi ini juga mempunyai intensitas energi kinetik yang besar dibandingkan
dengan energi terbarukan yang lain. Hal ini disebabkan densitas air laut 830 kali
lipat densitas udara sehingga dengan kapasitas yang sama, turbin arus laut akan
jauh lebih kecil dibandingkan dengan turbin angin. Keuntungan lainnya adalah
tidak perlu perancangan struktur yang kekuatannya berlebihan seperti turbin angin
yang dirancang dengan memperhitungkan adanya angin topan karena kondisi fisik
pada kedalaman tertentu cenderung tenang dan dapat diperkirakan. Energi ombak
adalah energi yang bisa didapat setiap hari, tidak akan pernah habis dan tidak
menimbulkan polusi karena tidak ada limbahnya. Di samping nilai ekonomis yang
cukup menjanjikan ada hal-hal lain yang dapat memberikan keuntungan di bidang
lingkungan hidup. Energi ini lebih ramah Iingkungan, tidak menimbulkan polusi
suara, emisi C02, maupun polusi visual dan sekaligus mampu memberikan ruang
kepada kehidupan laut untuk membentuk koloni terumbu karang di sepanjang
jangkaryang ditanam di dasar laut. Pada kasus-kasus seperti ini biasanya lebih
menguntungkan karena ikan dan binatang laut selalu lebih banyak berkumpul.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah :
Indonesia merupakan negara kepulauan di daerah khatulistiwa yang
dikelilingi oleh sejumlah lautan dengan potensi sumberdaya energi kelautan cukup
besar termasuk di antaranya energi gelombang.
Ada tiga cara membangkitkan listrik dengan tenaga ombak, diantaranya:
1. Energi gelombang
2. Pasang surut air laut
3. Memanfaatkan perbedaan temperatur air laut (Ocean Thermal Energy)
Keuntungan menggunakan pembangkit listrik tenaga ombak antara lain
memiliki intensitas energi kinetik yang besar dibandingkan dengan energi
terbarukan yang lain, dan tidak perlu perancangan struktur yang kekuatannya
berlebihan.
Hambatan penerapan sistem pembangkit listrik tenaga ombak antara lain
tenaga ahli yang menghandle sistem ini sangat kurang, kesulitan birokrasi,
kesulitan untuk mendapatkan alat-alat yang dibutuhkan, kesulitan dana untuk
menerapkan sistem pembangkit ini, serta kesulitan birokrasi untuk menyelesaikan
proyek ini dengan cepat.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.beritanet.com/Technology/ombak-pembangkit-tenaga-listrik.html
http://kontaktuhan.org/news/news182/ga_41.htm
http://www.energi.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1125749769
http://agusset.wordpress.com/2006/01/05/energi-dari-laut/
http://www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=2232
http://geton.nedw.org/pembangkit-listrik-tenaga-ombak/gerakan-tolak-nuklir/
http://portal.djlpe.esdm.go.id/modules/news/index.php?_act=detail&sub=news_m
edia&news_id=839
http://www.indomedia.com/intisari/2001/Sept/khas_infotekno_pompa.htm
http://www.energiterbarukan.net/index.php?option=com_content&task=view&id=
79&Itemid=80
http://www.energi.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1103304274&8
http://www.energiportal.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=37&
artid=731
http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1994/11/16/0008.html
http://www.hupelita.com/baca.php?id=28372