Anda di halaman 1dari 9

Bagaimana cara analisis keuangan dilakukan. ?

Dalam melakukan analisa laporan keuangan terdapat beberapa teknik, berikut ini 4 metode
yang dapat Anda pilih.
a. Metode Komparatif
Metode komparatif atau perbandingan digunakan dengan cara menggunakan angka-angka di
laporan keuangan dan membandingkan dengan angka-angka yang ada di laporan keuangan
tahun sebelumnya. Dengan cara lain, Anda dapat membandingkan masing-masing pos
laporan keuangan yang relevan atau data yang signifikan. Sehingga metode ini juga dikenal
dengan istilah metode analisis rasio.

b. Metode Analisis
Metode menggunakan teknik perbandingan laporan keuangan beberapa tahun, dan kemudian
menggambarkan tren/grafiknya. Oleh karena itu, pada metode ini di butuh kan bantuan
pengetahuan statistik. Misalnya, seperti menggunakan rumus program linier y = a + bx.
Teknik tren dapat digunakan untuk memproyeksikan laporan keuangan di masa depan dengan
menggunakan data historis.

c. Metode Common Size Financial Statement


Metode ini merupakan metode analisis yang menjadikan laporan keuangan dalam bentuk
presentasi. Adapun presentasi yang dibuat biasanya berkaitan dengan jumlah yang bernilai
penting. Misalnya aset pada Posisi Laporan Keuangan, penjualan pada laporan laba/rugi.

d. Metode Index Time Series


Metode ini dihitung dengan cara menggunakan laporan keuangan dijadikan sebagai indeks
dan dipilih sebagai tahun dasar. Biasanya tahun dasar yang dipilih/ditetapkan diberi indeks
100. Untuk menghitungnya, dapat digunakan rumus berikut:

Indeks tahun N = angka laporan tahun N x 100%


Angka dasar

Untuk melakukan analisis laporan keuangan, hal penting yang harus kita miliki adalah
laporan keuangan yang baik dan benar. Anda dapat menggunakan software akuntansi untuk
membuat laporan keuangan dengan cepat dan tepat.
Informasi apa saja yang di sajikan dalam Posisi Laporan Keuangan dan bagaimana urutannya
Seperti namanya Posisi Laporan Keuangan atau balance sheet merupakan laporan keuangan
yang menunjukan posisi dan informasi keuangan sebuah perusahaan. Dalam laporan Posisi
Laporan Keuangan, Anda akan melihat informasi tentang aset, kewajiban dan modal
perusahaan secara lengkap dan rinci. Dengan kata lain, elemen dalam laporan Posisi Laporan
Keuangan ya hanya tiga akun tersebut. Untuk membuat Posisi Laporan Keuangan, Anda
dapat menggunakan pedoman persamaan akuntansi yaitu:

Aset = Liabilitas+ Equitas


Aset untuk sisi aktiva sementara kewajiban dan modal untuk sisi pasiva. Harus selalu diingat
bahwa antara sisi aktiva dan pasiva harus seimbang.

Informasi yang terdapat dalam posisi laporan keuangan dan urutannya


Informasi yang terdapat dalam laporan posisi keuangan terbagi dalam tiga bagian
besar,yaitu :
1.Aset ( asset )
2.Liabilitas
3.Ekuitas ( equity )
1 . ASET

Aktiva atau aset adalah kekayaan yang dimiliki oleh suatu entitas bisnis yang diharapkan
memberikan manfaat usaha di masa depan. Aktiva dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

1.1.Aset Lancar

Aset lancar adalah aset yang umur kegunaannya untuk jangka pendek. Proses pencairan aktiva
lancar ini kurang dari atau maksimal 1 tahun.

Beberapa yang termasuk di dalam aset lancar adalah;

 Kas dan setara kas


 Piutang
 Perlengkapan
 Persediaan
 Biaya dibayar di muka

2.2.Aset non Lancar

Aset non lancar adalah aset yang umur kegunaannya untuk digunakan dalam jangka waktu
yang panjang, lebih dari setahun. Aset ini umumnya digunakan untuk kepentingan
operasioanl perusahaan.

Beberapa yang termasuk dalam aset non lancar adalah;

 Tanah
 Gedung
 Mesin
 Peralatan
Aset jenis ini mengalami penyusutan karena penggunaan dan berkurangnya masa pakai.

Selain itu, aktiva tetap juga memiliki bentuk lain, yaitu aktiva tetap tak berwujud. Beberapa
yang termasuk aktiva tetap tak berwujud adalah;

 Hak paten
 Hak cipta
 Merk dagang
 Hak sewa

2. PASIVA

Pasiva adalah kewajiban pembayaran yang harus dilakukan oleh suatu entitas bisnis kepada
pihak lain, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Beberapa yang termasuk di
dalam pasiva adalah;

 Utang
 Pendapatan dibayar di muka
 Akrual (biaya yang akan jatuh tempo)
Pasiva atau kewajiban dapat dibedakan menjadi dua, yaitu;

1. Utang Jangka Panjang

Utang jangka panjang adalah setiap utang yang periode pembayarannya relatif lama. Beberapa
yang termasuk utang jangka panjang diantaranya;

 Utang obligasi (bond payable)


 Liabilitas pajak tangguhan
 Utang hipotek (mortage payable)
 Kewajiban imbalan kerja jangka panjang bagian tidak lancar
 Jumlah liabilitas jangka panjang
 Dan lain-lain
2. Utang Jangka Pendek

Utang jangka pendek adalah semua utang yang harus dibayarkan dalam waktu relatif lama,
paling lambat satu tahun. Beberapa yang termasuk di dalam utang jangka pendek antara lain;

 Pinjaman bank

 Utang usaha ( pihak ketiga , pihak berelasi )

 Utang pajak ( pajak penghasilan badan, pajak lain-lain)

 Akrual

 Utang lain-lain ( pihak ketiga, pihak berelasi )

 Kewajiban imbalan kerja jangka panjang – bagian lancar

 Jumlah liabilitas jangka pendek

3.Ekuitas

Equitas adalah uang atau barang yang dipakai sebagai dasar untuk melakukan suatu
pekerjaan. Dalam hal ini modal dalam Posisi Laporan Keuangan adalah saldo dari modal
akhir sebuah perusahaan dalam satu periode akuntansi.

Dengan kata lain, modal atau equity merupakan selisih atau nilai lebih assets dikurangi
dengan liabilities.

Beberapa yang termasuk ekuitas :

 Modal saham

 Tambahan modal disetor


 Saldo laba yang dicadangkan

 Saldo laba yang belum dicadangkan

 Jumlah ekuitas

 Jumlah liabilitas dan ekuitas

Informasi-informasi yang terdapat dalam laporan laba rugi dan laporan komprehensif lain
adalah sebagai berikut:

1. Pendapatan (revenue), yaitu pemasukan atau penambahan aktiva lainnya dari


suatu entitas bisnis.
2. Kewajiban (expense), yaitu pengeluaran atau penggunaan aktiva dari suatu
perusahaan.
3. Keuntungan (profit), yaitu penambahan ekuitas karena terjadinya transaksi
periferal perusahaan, atau investasi dari pemilik usaha.
4. Kerugian (loss), yaitu penurunan ekuitas karena terjadinya transaksi periferal
perusahaan.
Beberapa yang termasuk dalam laporan laba rugi :
 Penjualan bersih
 Laba bruto ( Beban pemasaran dan penjualan )
 Laba usaha ( penghasilan keuangan dan biaya keuangan )
 Laba sebelum pajak penghasilan ( beban pajak penghasilan )
 Laba ( penghasilan [rugi] komprehensif ), imbalan kerja jangka panjang )
 Jumlah penghasilan komprehensif
 EBITDA
 Laba bersih per saham dasar
Analisis rasio keuangan
Analisis rasio keuangan yang apalingvsering digunakan
Rasio keuangan adalah suatu alat untuk menganalisis dan mengukur kinerja perusahaan
dengan menggunakan data-data keuangan perusahaan tersebut. Data-data keuangan dapat
diambil dari laporan keuangan seperti laporan laba rugi, Posisi Laporan Keuangan, laporan
arus kas, dan laporan lainnya. Berdasarkan tujuannya, rasio keuangan dibagi menjadi empat
yaitu.

Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas menunjukan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (laba).
Dengan menggunakan rasio ini Anda dapat mengetahui kelangsungan hidup perusahaan
(going concern). Terdapat lima ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur rasio
profitabilitas.

a. Gross Profit Margin


Menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba kotor yang dapat dicapai dari
setiap penjualan. Gross profit margin merupakan perbandingan laba kotor dan penjualan pada
periode yang sama. Semakin besar hasil perhitungan menandakan semakin baik kondisi
keuangan perusahaan. Adapun rumusnya adalah:
Rumus menghitung Gross Profit Margin:
Gross Profit Margin = Penjualan Netto - HPP / Penjualan Netto X 100%
b. Operating Profit Margin
Profit margin menggambarkan laba bersih sebelum bunga dan pajak yang didapat dari
penjualan perusahaan. Rasio ini dapat dilihat pada laporan laba rugi pada bagian analisis
common size. Rasio ini juga diinterpretasikan sebagai ukuran efisiensi bagaimana perusahaan
menekan biaya-biaya pada suatu periode.
Rumus menghitung Operating Income Ratio:
Operating Income Ratio = Penjualan Netto - HPP – Biaya Administrasi
& Umum (EBIT) / Penjualan Netto X 100%
c. Net Profit Margin
Rasio ini mengukur jumlah rupiah laba bersih yang dihasilkan oleh setiap satu
penjualan rupiah. Semakin tinggi rasio artinya semakin baik, karena menunjukan
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.
Rumus menghitung Net Profit Margin:
Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) / Penjualan Netto
X 100%

d. Return On Assets (ROA)


ROA menunjukan kemampuan perusahaan menghasilkan after tax operating profit dari total
aset yang dimiliki perusahaan. Laba yang dihitung adalah laba sebelum bunga dan pajak atau
EBIT (Earning Before Interest and Tax).

e. Return On Investment (ROI)


ROI menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang akan
digunakan untuk menutup investasi yang dikeluarkan. Laba yang digunakan untuk
menghitung rasio ini adalah laba setelah pajak / Earning After tax (EAT). Semakin besar
hasilnya maka semakin baik
Rumus menghitung Rate of Return Investment (ROI):
Rate of Return Investment (ROI) = EAT / Jumlah Aktiva X 100%
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas menunjukan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban finansial jangka
pendeknya, seperti membayar gaji, utang yang jatuh tempo, biaya operasional, dan
lainnya. Rasio yang sering digunakan untuk menghitung ini yaitu.
a. Current Ratio
Rasio ini menunjukan perbandingan aset lancar dengan kewajiban lancar. Semakin tinggi
maka artinya semakin baik likuiditasnya.

Rumus menghitung Current Ratio:


Current Ratio = Aktiva Lancar / Hutang Lancar X 100%
b. Quick Ratio
Quick ratio menunjukkan perbandingan antara (kas + sekuritas jangka pendek + piutang)
dengan kewajiban lancar. Dengan kata lain merupakan jumlah perimbangan antara aktiva
lancar dikurangi persediaan dengan hutang lancar. Quick ratio juga biasa disebut dengan acid
test ratio. Persediaan tidak dimasukan dalam perhitungan rasio ini karena persediaan
merupakan aktiva lancar yang memiliki tingkat likuiditas yang kecil. Semakin tinggi
hasilnya, semakin baik likuiditasnya.
Rumus menghitung Quick Ratio:
Quick Ratio = Kas + Efek + Piutang / Hutang Lancar X 100%
C.Cash Ratio, rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
membayar kewajiban finansial jangka pendek dengan mengunakan kas
yang tersedia dan berikut surat berharga atau efek jangka pendek.

Rumus menghitung Cash Ratio:


Cash Ratio = Kas + Efek / Hutang Lancar X 100%

Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua


kewajibannya baik jangka panjang maupun jangka pendek jika perusahaan dilikuidasi. Jadi
perusahaan yang solvable belum tentu tidak likuid (ilikuid), dan perusahaan yang tidak
solvable juga belum tentu ilikuid. Perusahaan yang tidak mempunyai aktiva yang cukup
untuk membayar utang biasanya disebut dengan perusahaan yang unsolvable. Terdapat 2
rasio yang digunakan untuk menghitungnya.
a. Total Debt to Total Assets Ratio
Rasio ini dikenal dengan debt ratio yaitu mengukur besarnya dana yang berasal dari utang.
Rasio ini menunjukkan sejauh mana utang dapat ditutupi oleh aktiva perusahaan. Semakin
kecil rasionya makan semakin aman (solvable). Kreditor akan lebih menyukai debt ratio yang
rendah.
b. Debt to Equity Ratio
Rasio ini digunakan untuk mengukur utang yang dimiliki dengan modal sendiri. Sebaiknya
utang perusahaan tidak melebihi modal perusahaan sendiri. Hal ini agar beban tetap yang
dikeluarkan perusahaan tidak tinggi. Semakin kecil utang terhadap modal maka semakin baik
dan aman.

Rasio Aktivitas
Mengukur tingkat penggunaan aktiva atau kekayaan perusahaan kepada Anda. Caranya
adalah dengan melihat beberapa aset, kemudian Anda menentukan berapa tingkat aktivitas
pada aktiva-aktiva pada kegiatan tertentu. Setelah itu, Anda akan mengetahui aktiva mana
yang produktif dan aktiva mana yang kurang produktif. Sehingga selanjutnya Anda dapat
memutuskan alokasi dana yang lebih besar untuk aktiva yang produktif.
a. Rasio Perputaran Piutang
Rasio ini mengukur efektivitas pengelolaan piutang. Semakin tinggi perputarannya maka
semakin efektif pengelolaannya. Dengan rasio ini Anda dapat melihat pengelolaan piutang
dan kebijakan kreditnya
b. Rasio Perputaran Persediaan
Rasio ini menunjukan likuiditas perusahaan dalam pengelolaan persediaanya. Semakin tinggi
perputarannya maka semakin baik. Hal tersebut artinya perusahaan menjual dan mengelola
persediaan dengan cepat dan baik. Jika rendah berarti efektivitas pengendalian persediaan
kurang baik. Cara menghitungnya
c. Rasio Perputaran Aktiva Tetap
Rasio ini mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan dengan
aktiva tetap yang dimilikinya. Semakin besar perputaran rasionya, maka semakin baik untuk
perusahaan. Rasio ini cukup penting bagi industri yang memiliki aktiva tetap yang tinggi.
Sedangkan untuk industri dengan aktiva yang kecil seperti perusahaan jasa, menjadi tidak
terlalu penting.
d. Rasio Perputaran Total Aktiva
Rasio ini hampir sama dengan rasio perputaran aktiva tetap, yang membedakannya adalah
pembagi yang digunakan, yaitu total aktiva. Rasio ini digunakan untuk menghitung
efektivitas penggunaan total aktiva. Semakin tinggi perputarannya maka semakin efektif
perusahaan dalam memanfaatkan total aktiva untuk penjualannya.

Kelemahan Analisis Rasio Keuangan.


Beberapa kelemahan dari rasio keuangan :
(1) Adanya distorsi karena laba yang dimasukkan tidak memasukkan unsur biaya modal
ekuitas.
(2) Laporan keuangan dari suatu perusahaan yang memiliki sejumlah divisi dari industri yang
berlainan akan sulit dibandingkan dengan perusahaan lain atau dengan data suatu industri.
(3) Terjadinya distorsi karena pengaruh inflasi dan penggunaan data historis dalam akuntansi.
(4) Laporan keuangan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus didukung oleh catatan atas
laporan keuangan. Informasi ini harus dicermati karena mungkin memuat potensi masalah
yang dapat sangat mempengaruhi kondisi keuangan suatu perusahaan.
(5) Kesulitan dalam menginterpretasikan hasil analisa. Misalkan, quick rqtio yang tinggi
apakah bagus karena kuatnya likuiditas perusahaan. Atau, justru jelek karena perusahaan
memegang kas yang berlebih yang justru tidak produktif.
(6) Perbedaan dalam perlakuan akuntansi dapat menimbulkan distorsi dalam membandingkan
rasio.

Daftar Pustaka

Agus Harjito dan Martono, Manajemen Keuangan. Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Penerbit
EKONISIA, Yogyakarta, 2011.

Aliminsyah, Padji. 2003. Buku Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan. Jakarta

Noraga, Pandji, dan Pakarti Piji. 2001. Pengantar Pasar Modal. Edisi Revisi. PT Asdi
Mahasatya. Jakarta.

Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). 2019. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
No 1: Penyajian Laporan Keuangan. Jakarta: IAI.