Anda di halaman 1dari 6

MODUL 03

MENGAMATI TRANSISI FASE ANTARA FASE CAIRAN DAN GAS


PADA TITIK KRITIS
Muhammad Alfayed Okto Riendi, Martin Adrian, Alessandro Widjati, Hansel Kane
10217111, 10217071, 10217079, 10217084
Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia
Email: alfayedocto@gmail.com

Asisten: Mohamad Aliffian Rizki / 10216087


Tanggal Praktikum: (08-10-2019)

Abstrak
Praktikum pada modul kali ini membahas tentang mengamati transisi fase antara fase cairan dan gas pada titik
kritis. Dalam termodinamika, titik kritis adalah titik akhir kurva kesetimbangan fasa. Contoh yang paling umum
adalah titik kritis uap-cair, titik akhir kurva suhu-tekanan yang menunjukkan kondisi dimana fasa uap dan cair dapat
bersama. Pada titik kritis, didefinisikan dengan temperatur kritis Tc dan tekanan kritis pc, batas-batas fasa akan
hilang. Pada percobaan ini di ruang bertekanan yang mengandung SF6 memiliki nilai titik kritis sekitar 45,55˚C.
Ketika mencapai titik kritis akan terjadi efek opalescence dimana batas antara fase cair dan gas sulfur menjadi tidak
jelas. Setelah dilakukan percobaan, batas antara fase cair dan gas tidak terlihat pada saat mencapai suhu 44,5˚C
yang mana menandakan bahwa pada percobaan ini di temperatur 44,5˚C sudah memasuki titik kritis.
Kata kunci : efek opalescence, temperatur, titik kritis

I. Pendahuluan kritis. Untuk diagram yang menunjukkan


Pada praktikum modul 3 kali ini memiliki properti termodinamika sebuah bahan, titik di
tujuan, yaitu menentukan gambar hasil mana temperatur kritis dan tekanan kritis
pengamatan dari ruang bertekanan yang bertemu dinamakan titik kritis dari bahan itu.
mengandung SF6 yang dipanaskan pada saat Molar kritis adalah volume dari satu mol
temperatur lebih kecil dari temperatur titik sebuah bahan pada suhu kritis dan tekanan
kritis, berada di sekitar temperatur titik kritis kritis.
atau mendekati temperatur titik kritis, serta saat
temperatur lebih dari temperatur titik kritis.
Dalam termodinamika, titik kritis adalah
titik akhir kurva kesetimbangan fasa. Contoh
yang paling umum adalah titik kritis uap-cair,
titik akhir kurva suhu-tekanan yang
menunjukkan kondisi dimana fasa uap dan cair
dapat bersama. Pada titik kritis, didefinisikan
dengan temperatur kritis Tc dan tekanan kritis
pc, batas-batas fasa akan hilang.
Titik kritis adalah sebuah titik suhu di
mana fase gas dan cairan tidak bisa dibedakan
atau sama. Pada saat mendekati temperatur titik
kritis, properti gas dan cairan menjadi sama, Gambar 1. Diagram Fasa
fase ini disebut fluida superkritikal. Di atas titik
kritis cairan tidak dapat terbentuk dengan Salah satu karakteristik penting dari gas
menambah tekanan, tetapi dengan menambah ideal adalah bahwa ia tidak mengembun,
tekanan yang cukup bahan padat bisa terbentuk. meskipun temperaturnya mendekati nol mutlak.
Tekanan kritis adalah tekanan uap pada titik Gas ideal tidak ada di alam, hal ini
disebabkan karena gas ideal terdiri atas partikel
yang kecil dan jarak antar partikel yang
sangat besar sehingga tidak terjadi interaksi
antar partikel meskipun berada pada
temperatur yang rendah sekalipun (kecuali
untuk tumbukan elastis). Ketika gas ideal
dikompres pada temperatur konstan, maka
peningkatan tekanan tersebut akan
berbanding terbalik dengan volume (lihat
Gambar 2). Hubungan antara p tekanan, T
temperatur dan V volume molar dari gas ideal
digambarkan oleh persamaan gas ideal sebagai
berikut. Gambar 2. Diagram pV gas ideal pada kondisi
𝑝𝑉 = 𝑅𝑇 (1) isotermal
Keterangan:
p : Tekanan
V : Volume
R : Konstanta gas ideal
T : Temperatur

Sebagian besar gas nyata memiliki sifat


yang mirip dengan sifat gas ideal ketika
berada cukup jauh dari titik kondensasi atau
titik pencairan, misalnya pada temperatur
kamar dan tekanan atmosfer. Gas mendekati
titik kondensasi, yaitu pada tekanan tinggip
atau temperatur rendah T , dan sifat-sifatnya Gambar 3. Diagram pV gas nyata pada kondisi
isotermal. Keberadaan campuran likuid-gas
menyimpang secara signifikan terhadap sifat
pada daerah abu-abu. Tanda panah
gas ideal. Densitas gas meningkat dan rata-rata
menunjukan titik kritis.
partikel akan sangat dekat satu sama lain.
Perilaku gas nyata tersebut dijelaskan oleh
Pada gambar 3 menunjukkan diagram pV
persamaan keadaan van der Waals berikut.
𝑎
gas nyata pada kondisi isotermal. Isotermal
(𝑃 + 𝑉 2 ) (𝑉 − 𝑏) = 𝑅𝑇 (2) yang bersinggungan dengan garis horizontal
Keterangan: dapat dijadikan sebagai titik balik yang penting.
p : Tekanan Titik balik ini disebut sebagai titik kritis;
V : Volume parameter lain yang terkait dengan titik ini
R : Konstanta gas ideal disebut tekanan kritis pc, volume molar kritis V
T : Temperatur c dan temperatur kritis Tc. Di atas temperatur
a, b : Konstanta Van der Waals kritis, zat tersebut berbentuk gas pada seluruh
tekanan, dan karakteristik isotermal sesuai
Dalam persamaan ini, kebergantungan nilai dengan persamaan van der Waals, yang
konstanta van der Waals a, b, menandakan menyerupai persamaan keadaan untuk gas
adanya daya tarik yang sama antara partikel dan ideal.
volume efektif gas. Di bawah temperatur kritis, kondisinya
tidak sesederhana sebelumnya melainkan
menjadi lebih rumit. Jika volume cukup besar
(pada Gambar 3 di sebelah kanan seperti
berbayang), zat tersebut bersifat sebagai gas volume molar kritis masing – masing bernilai
dan juga sebagai uap. Sedangkan pada 318,7 K, 37,6 bar, 200 cm3/mol.
Gambar 3 di sebelah kiri kisaran berbayang
volumenya sangat kecil, zat berbentuk cairan II. Alat dan Bahan
dan hampir mampat. Rentang berbayang ini 1. 1 Tabung tekanan
menunjukkan campuran cairan-gas, dimana 2. 1 Lampu, 6V/30W
proporsi gas meningkat dari kiri ke kanan. 3. 1 Wadah lampu
Dalam hal ini persamaan van der Waals 4. 1 Kondensor bundar
menyimpang dari teori yang ada:pada 5. 1 Transformator, 6V AC, 12V AC, 30
temperatur konstan, perubahan volume VA
mengubah proporsi uap campuran, tetapi tidak 6. 1 Small optical bench
tekanannya. Bagian kurva yang digambar 7. 1 Lensa dan tempatnya, f = 100mm
dengan tanda hubung, yang sesuai dengan 8. 4 multi pegangan Leybold
persamaan van der Waals, harus diganti oleh 9. 1 Tempat dudukan besar, V-shape
bagian kurva horisontal. Hal ini menunjukkan 10. 1 Termostat sirkulasi
tekanan uap saat uap dan cairan berada pada 11. 2 Selang silikon, i.d. 7 ` 1.5mm, 1m
kesetimbangan yang berkaitan satu sama lain. 12. 1 Generator uap, 550W/230V
Seperti cairan dan gas yang memiliki 13. 1 Tabung silikon, i.d. 7 ` 1.5 mm, 1m
kerapatan yang berbeda, mereka umumnya 14. 1 Gelas beaker, 400ml
dipisahkan oleh gravitasi. Densitas gas 15. 1 Termometer digital dengan satu
meningkat seiring peningkatan temperatur, masukan
sedangkan cairan berkurang. Pada temperatur 16. 1 Sensor temperatur, NiCr-Ni
kritis, kepadatan tersebut adalah identik. Cairan 17. 1 Termometer, -10 to 150˚C
dan gas yang tidak bisa lagi dibedakan;
mereka benar-benar tercampur. III. Metode Percobaan
Saat campuran mendekati titik kritis, Pertama – tama, alat diatur sesuai dengan
hamburan cahaya dalam ruang bertekanan prosedur menggunakan generator uap yang
mencapai tingkat yang sangat tinggi. Fenomena tertera pada modul. Dalam kondisi ini, alat pada
ini disebut opalescence kritis, dan laboratorium sudah diatur sedemikian rupa
disebabkan oleh variasi dalam kepadatan, yang sehingga praktikan tinggal langsung melakukan
meningkat secara signifikan mendekati percobaannya saja. Sebelum melakukan
titik kritis karena kompresibilitas besar dan percobaan, dipastikan ruangan dalam kondisi
resistensi terhadap perubahan densitas segelap mungkin. Kemudian, atur termostat
rendah. Cahaya dengan panjang gelombang pada temperatur 40˚C. Setelah itu, mulai dari
pendek dihamburkan, sementara cahaya sekitar temperatur 40˚C, naikkan temperatur
dengan panjang gelombang panjang akan pada termostat sirkulasi secara perlahan untuk
berlanjut dalam jalurnya. memastikan pemanasan zat lebih merata dan
Fenomena ini dapat diamati secara memungkinkan pengamatan yang jelas atas
langsung dalam ruangan atau diproyeksikan hilangnya batas fase. Lalu, naikkan temperatur
ke layar. Ruang bertekanan mengandung sulfur sampai suhu di atas temperatur kritis. Amati
heksafluorida SF6. Pada temperature kamar, fase yang terlihat pada layar untuk temperatur
kepadatan kritis - kebalikan dari volume kritis di bawah, mendekati, dan di atas temperatur
– diperkiraan mendekati rata-rata kepadatan kritis.
cair dan gas. Pada temperatur kamar, ruang
bertekanan diisi sekitar setengah bagian dengan IV. Data dan Pengolahan data
gas cair, sehingga sistem akan melewati titik Dari percobaan yang dilakukan, didapat
kritis ketika dipanaskan. Adapun SF6 memiliki data hasil yang bisa dilihat pada tabel berikut.
nilai temperatur kritis, tekanan kritis, dan
Tabel 1. Data hasil pengamatan

Temperatur Gambar Deskripsi/Uraian


T < Tc Gambar 4 Masih terlihat
fasa cair dan
fasa gas pada
sulfur
T  Tc Gambar 5 Batas fasa cair
dan gas sudah
mulai tidak
terlihat jelas
T > Tc Gambar 6 Sulfur sudah
memasuki fasa
gas

Gambar 6. Saat T > Tc

V. Pembahasan
Pada saat T < Tc yang dapat dilihat pada
gambar 4, terlihat bahwa terdapat gelembung –
gelembung kecil di bagian atas yang
menandakan pendidihan dan pada temperatur
ini masih bisa terlihat jelas perbedaan antara
fasa cair dan fasa gas yang dibatasi oleh garis
pembatas. Kemudian, ketika mulai memasuki T
 Tc yang dapat dilihat pada gambar 5, tidak
terlihat lagi garis pembatas yang membedakan
antara fasa cair dan fasa gas pada sulfur
sehingga sulit membedakan antara fasa cair dan
Gambar 4. Saat T < Tc fasa gas. Berdasarkan teori dasar, kejadian ini
disebut sebagai fluida superkritikal di mana saat
mendekati temperatur titik kritis, properti gas
dan cairan menjadi sama. Memasuki T > Tc
yang dapat dilihat pada gambar 6, tidak terlihat
lagi fasa cair pada temperatur ini yang berarti
sudah memasuki fasa gas.
Persamaan Van der Waals merupakan
sebuah penurunan dari persamaan keadaan,
dengan memperhitungkan volume molekul dan
interaksi yang terjadi antara molekul‐molekul.
Persamaan ini menunjukkan bahwa tekanan gas
berbanding terbalik dengan volume. Apabila
tekanan gas bertambah, maka volume gas
berkurang. Saat tekanan semakin tinggi, maka
akan mengakibatkan volume gas mengecil
Gambar 5. Saat T  Tc
sehingga jarak antarmolekul menjadi lebih
dekat. Pada saat jarak antarmolekul menjadi
lebih dekat, molekul‐ molekul tersebut saling
tarik menarik sehingga gaya antarmolekulnya
menjadi besar dan berlaku sebaliknya. Hal ini
dapat dilihat pada percobaan bahwa ketika
temperatur dinaikkan akan mengakibatkan
tekanan semakin tinggi sehingga gaya
antarmolekul akan semakin besar ditandai
dengan terlihatnya gelembung – gelembung
kecil pada layar. Semakin tinggi temperaturnya,
maka akan semakin cepat molekul – molekul
ini berinteraksi sehingga ikatannya akan
menjadi bebas. Molekul yang bebas tadi akan
menjadi uap.
Fenomena opalescence kritis adalah
sebuah fenomena yang terjadi pada transisi fasa
yang mana ketika mendekati titik kritis, daerah
gas dan cairan akan mulai berfluktuasi sehingga
pada temperatur kritis, cairan dan gas tidak
dapat lagi dibedakan seakan – akan keduanya
benar – benar tercampur. Hal ini dapat dilihat
pada gambar 5 saat T  Tc dimana garis
pembatas antara fasa cair dan fasa gas sudah
tidak terlihat jelas.

VI. Kesimpulan
1. Gambar hasil pengamatan pada saat
temperatur lebih kecil dari titik kritis,
berada di sekitar temperatur titik kritis
atau mendekati temperatur titik kritis,
serta saat temperatur lebih dari
temperatur titik kritis dapat dilihat pada
gambar 4, 5, dan 6.

VII. Daftar Pustaka


[1] Manual Book Leybold Didactic
P2.4.3.1 Observing a mixture of
liquid and gas at the critical point

[2] Zemansky, Mark W.etal “Heat and


Thermodynamics 5th.ed” , 1968
McGraw Hills

Anda mungkin juga menyukai