Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Stomata adalah celah diantara epidermis yang diapit oleh
2 sel epidermis khusus yang disebut sel penutup. Di dekat sel
penutup terdapat sel-sel yang mengelilinginya disebut sel
tetangga. Sel penutup dapat membuka dan menutup sesuai dengan
kebutuhan tanaman akan transpirasinya, sedangkan sel-sel
tetangga turut serta dalam perubahan osmotik yang berhubungan
dengan pergerakan sel –sel penutup (Haryanti,2010). Stomata
berperan dalam difusi CO2 pada proses fotosintesis. Selain itu
stomata juga berfungsi sebagai pintu keluarnya cairan dari sel
dalam proses transpirasi (Fatonah dkk,2013). Karakteristik
stomata dapat digolongkan berdasarkan jumlah total stomata,
jumlag stomata yang terbuka dan tertutup dan jenis stomatanya
jika dilihat dari susunan dan bentuk selnya (Izza & Laily, 2015).
Rhoeo discolor memiliki daun hipostomatik atau tipe
daun yang hanya memiliki stomata pada bagian bawah pemukaan
daun (abaksial), stomata daun Rhoeo discolor dikelilingi oleh 4
sel yang berjajar, tipe ini dinamakan tipe stomata tetrasitik
dimana sel tetangga berjumlah 2 pasang dan posisinya sejajar
dengan sumbu sel penjaga stomata, berada pada sisi kanan-kiri
dan atas-bawah sel penjaga. (Nyawuame & Gill, 1990).
Mekanisme buka-tutup stomata berkaitan dengan proses
metabolisme tumbuhan yaitu transpirasi dan fotosintesis pada
pagi hari stomata akan mulai membuka lebar dan stomata
menutup karena tingginya intensitas cahaya dan temperatur serta
penguapan air yang berlebihan yang biasanya terjadi pada siang
hari (Fatonah, dkk, 2013).

1
2

Praktikum ini mengunakan daun Rhoeo discolor untuk


mengetahui pengaruh turgor terhadap membuka dan menutupnya
stomata daun Rhoeo discolor.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut :
1. Bagimana pengaruh larutan gula 50% dan aquades
terhadap turgiditas stomata daun Rhoeo discolor?
2. Bagaimana persentase membuka dan menutup stomata
setelah pengujian dengan larutan gula dan aquades?
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah pada praktikum ini sebagai berikut :
1. Pengujian dilakukan pada stomata daun Rhoeo discolor
yang diambil ±1 jam sebelum praktikum
2. Kadar larutan gula 50% hanya diteteskan satu kali pada
sampel stomata yang diambil pada bagian abaksial daun
Rhoeo discolor
1.4 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pengaruh turgon terhadap membuka dan
menutupnya stomata daun Rhoeo discolor
2. Menghitungintensitas membuka dan mentup stomata
daun Rhoeo discolor dengan pengaruh larutan gula dan
aquades.
1.5 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah
1. Dapat mengetahui pengaruh konsentrasi larutan terhadap
turgiditas sel penjaga dan sel tetangga stomata dan
mengetahui pengaruhnya terhadap kondisi membuka dan
menutup stomata dengan tanaman uji daun Rhoeo
discolor.
2. Untuk pembaca, dapat menjadi referensi mengenai studi
ekofisiologi mengenai mekanisme buka-tutup stomata
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tumbuhan Rhoeo discolor


Rhoeo discolor atau Adam Hawa merupakan kelompok dari
tanaman hias dengan daun berwarna ungu di bagian bawahnya.
Rhoeo discolor biasa ditanam orang sebagai tanaman hias, dan
dapat tumbuh subur di tanah yang lembab (Padmaningrum, 2011).
Tumbuhan rhoe discolor termasuk dalam klasifikasi:
Spermatophyta, Divisi: Angiospermae, Subdivisi:
Monocotyledoneae, Kelas: Bromeliales, Suku: Bromeliaceae dan
Marga: Rhoeo. Tumbuhan ini berupa semak, tinggi 40-60 cm
dengan batang: kasar, pendek, arah tumbuh tegak lurus (erectus),
warna cokelat. Daunnya berupa daun tunggal, bangun daun
seperti pedang (ensiformis), ujung daun runcing (acutus), pangkal
daun rata (truncatus) memeluk batang, tepi daun rata (integer),
panjang daun 25-30 cm, lebar 3-6 cm, daging daun tipis lunak
(herbaceous), permukaan daun licin suram (laevis opacus), tulang
daun sejajar (rectivernis), permukaan atas daun hijau, permukaan
bawah daun merah kecokelatan (ungu) (Padmaningrum, 2011).

Gambar 1. Tanaman Rhoeo discolor (Padmaningrum, 2011).


4

2.2 Mekanisme
Pembukaan stomata berkaitan dengan proses metabolisme
tumbuhan yaitu transpirasi dan fotosintesis pada pagi hari stomata
akan mulai membuka lebar dan stomata menutup karena
tingginya intensitas cahaya dan temperatur serta penguapan air
yang berlebihan yang biasanya terjadi pada siang hari (Fatonah, et
al, 2013). Stomata dibatasi oleh adanya sel penjaga atau sel
penutup (Rahayu. et al. 2015).
Sel penutup adalah serat halus selulosa pada dinding
selnya yang tersusun melingkar. Pola susunan ini dikenal sebagai
miselasi radial. Karena serat selulosa ini relatif tidak elastis, maka
jika sel penutup menyerap air mengakibatkan diameter tidak
membesar melainkan memanjang, sehingga sel penutup akan
melengkung ke arah luar dan terbukalah porus atau celah stomata.
Ketika sel penutup mengambil air melalui osmosis, sel penutup
akan membengkak dan semakin dalam keadaan turgid. Perubahan
tekanan turgor yang menyebabkan pembukaan dan penutupan
stomata terutama disebabkan oleh pengambilan dan kehilangan
ion kalium (K+) secara reversibel oleh sel penutup (Haryanti dan
Meirina, 201l).
Sel penutup mengontrol diameter stomata dengan cara
mengubah bentuk yang akan melebarkan dan menyempitkan
celah di antara kedua sel tersebut. Ketika sel penutup mengambil
air melalui osmosis, sel penutup akan membengkak dan semakin
dalam keadaan turgid. Perubahan tekanan turgor yang
menyebabkan pembukaan dan penutupan stomata terutama
disebabkan oleh pengambilan dan kehilangan ion kalium (K+)
secara reversibel oleh sel penutup. (Campbell et a1, 2003).
Selain itu, stomata terbuka terjadi karena pompa H+ -
ATPase mengeluarkan H+ dari sel penjaga. Di sel penjaga,
aktivitas H+ATPase diregulasi positif oleh cahaya dan auksin
sedangkan Ca2+ dan ABA sebagai regulator negatif. Pengeluaran
H+ menghiperpolarisasi membrane plasma dan menyebabkan
penyerapan K+ melalui potassium channel. Penyerapan K+
melalui potassium channel menyebabkan asidifnkasi pada apoplas
5

dan membuat sel penjaga kehilangan H+. senyawa anionic yaitu


malat yang dipecah dari pati mentransport NO3-, ion Cl berfungsi
sebagai sintesis gula. lon-ion dan air yang ditransponasikan
melalui aquaporin menuju sel penjaga dan menyebabkan turgor
sehingga membuat stomata terbuka. Pada saat stomata tertutup,
inhibisi H+-ATPase dan aktivasi channel anion menyebabkan
depolarisasi membran. C hannel anion seperti rapid channel (R-
type) dan slow channel (S-type) memfasilitasi pengeluaran
malat2-, Cldan NO3-. Pada saat yang sama terjadi pengeluaran
K+ dan mengaktifkan depoiarisasi membrane. (Golec and
Szare'ko 2013).

Gambar 2. Mekanisme buka tutup stomata (Golec and


Szarejko, 2013)

2.3 FaktorEksternal dan Internal


Faktor Internal:
- Jam biologis dari stomata yang akan membuka pada pagi
hari karena menyerap ion, sedangkan malam hari terjadi
pembebasan ion yang menyebabkan stomata menutup
(Haryanti dan Meirina, 2009).
4

Faktor eksternal :
- Intensitas cahaya matahari, suhu, konsentrasi CO2 dan
asam absisat (ABA) (Haryanti dan Meirina, 2009).
- Cahaya matahari akan merangsang sel penutup menyerap
ion K+ dan air sehingga stomata membuka pada pagi
hari. (Fatonah dkk., 2013).
- Suhu dapat mempengaruhi karena pada pagi hari suhu
lingkungan masih seimbang dengan suhu tubuh tanaman,
sedangkan pada siang hari suhu tersebut sudah naik oleh
karena itu tanaman harus mengurangi penguapannya
(transpirasi), sehingga porus stomata mulai menyempit
secara perlahan (Salisburry dan Ross, 1999).
- Pengaruh konsentrasi CO2 yang rendah di dalam daun
juga menyebabkan stomata membuka Pada pengaruh
hormon, saat daun tanaman mengalami kekurangan air,
ABA di dalam jaringan meningkat. Jika daun mengering
normal secara perlahan-lahan ABA meningkat sebelum
akhirnya stomata menutup (Salisburry dan Ross, 1999).

2.4 Tipe-Tipe Stomata


Tipe-Tipe stomata dibedakan menjadi dua yaitu :
Stomata Monokotil :
1. Sel penutup terdiri dari 4 sampai 6 sel tetangga, tipe ini
biasa terdapat pada Araceae, Commelinaceae, dan
Musaceae.
2. Sel penutup terdiri dari 4 sampai 6 sel tetangga 2
diantaranya berbentuk bulat dan lebih kecil dibanding
yang lain dan terletak pada ujung sel penutup, tipe ini
biasa terdapat pada spesies dari palmae, pandanaceae,
cyclanthaceae.
3. Sel penutup didampingi oleh 2 sel tetangga, tipe ini
terdapat pada pontederiaceae, butomales, alismatales, dan
juncales.
7

4. Sel penutup tidak mempunyai sel tetangga, tipe ini


terdapat pada liliales, diocorales, iridales, dan orchidales.

Gambar 3. Tipe-
Tipe stomata monokotil (Mulyani, 2006)

Stomata Dikotil :
Tipe stomata pada dikotil berdasarkan susunan sel
epidermis yang berdekatan dengan sel tetangga ada 5 :

 Anomositik/Ranunculaceous yaitu sel penutup dikelilingi


oleh sejumlah sel tertentu
yang tidak berbeda dengan
epidermis yang lain dalam
bentuk maupun ukurannya.
Terdapat pada Ranunculaceae,
Capparidaceae, Cucurbitaceae Gambar 4. Tipe stomata
dll (Haryanti, 2010). anomositik(Sarjani dkk., 2017)
 Anisositik/Cruciferous yaitu setiap
sel penutup dikelilingi oleh 3 sel
tetangga yang ukurannya tidak
sama, terdapat pada Cruciferae, Gambar 5. Tipe stomata
Solanaceae anisositik (Meriko dan Abizar,
 Parasitik/Rubiaceous yaitu tiap 2017)

Gambar 5. Tipe stomata


anisositik (Meriko dan Abizar,
2017)
4

sel penjaga bergabung dengan


satu atau lebih sel tetangga,
sumbu membujurnya sejajar
dengan sumbu sel tetangga dan
apertur ,terdapat pada
Rubiaceae dan Magnoliaceae Gambar 6. Tipe stomata
(Haryanti,2010). Parasitik (Anu dkk., 2017)
 Diasitik/Cariophyllaceus yaitu
setiap sel penutup dikelilingi
oleh dua sel tetangga dengan
dinding sel yang membentuk
sudut siku-siku terhadap
sumbu membujur stoma,
terdapat pada Cariophyllaceae
dan Acanthaceae Gambar 7. Tipe stomata
(Haryanti,2010). Aktinositik (Meriko dan
Abizar, 2017).
 Aktinositik yaitu setiap sel
penutup dikelilingi oleh sel
tetangga yang menyebar dalam
radius Modifikasi tipe-tipe
tersebut (Haryanti,2010).
9
BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Praktikum stomata ini dilaksanakan pada tanggal 30
September 2019 di Laboratorium Biosains dan Teknologi
Tumbuhan, Departemen Biologi, Fakultas Sains (FS), Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada pukul 07.00-11.00
WIB.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakanuntukpraktikum stomata diantaranya
adalah silet baru, kaca benda, gelas penutup, kertastissue, botol
untuk wadah larutan, pipet tetes, mikroskop, lembar kerja, dan
kamera untuk dokumentasi.
Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk praktikum ini
meliputi daun Rhoeo discolor segar, larutan gula pasir 50% dan
aquades.
3.3 Cara Kerja
Praktikum stomata dilakukan dengan langkah awal yakni
mempersiapkan alat dan bahan untuk pengamatan. Permukaan
bawah daun Rhoeo discolor dibersihkan dengan kertas tissue
kemudian disayat secara membujur menggunakan silet tajam atau
baru. Hasil sayatan diletakkan pada kaca objek. Bagian atas hasil
sayatan pada kaca objek kemudian ditetesi dengan aquades
sebanyak satu tetes dan ditutup dengan gelas benda, preparat
tersebut kemudian diamati dibawah mikroskop dengan
perbesaran 400 kali dan 1000 kali. Hasil pengamatan preparat
yang menggunakan aquades kemudian difoto dengan kamera
sebagai hasil dokumentasi. Kaca benda diambil dari mikroskop
lalu gelas penutup diangkat. Air pada preparat sayatan daun
diserap dengan kertas tissue. Larutangula 50% diteteskan pada
sayatan yang sama sebanyak 1 tetes. Preparat ditutup dengan
gelas penutup kemudian diamati kembali menggunakan
mikroskop pada bidang pandang yang sama dengan perbesaran

8
11

400 kali dan 1000 kali. Hasil pengamatan tersebut juga


didokumentasikan menggunakan kamera.
Setelah pengamatan terhadap stomata, metode selanjutnya
yakni menghitung jumlah stomata. Dihitung jumlah stomata
terbuka dan tertutup pada setiap perlakuan. Dihitung pula
presentase jumlah stomata terbuka dan tertutup dengan membagi
jumlah stomata terbuka atau tertutup dengan jumlah total stomata
pada bidang pandang yang sama lalu dikalikan dengan 100%.
Hasil yang diperoleh dicatat pada lembar kerja dan dianalisis
perubahan yang terjadi.
3.4 Analisis Data

Analisis data pada praktikum ini dilakukan secara


kuantitatif dimana data yang diperoleh terhadap hasil pengamatan
stomata ialah jumlah dari stomata terbuka maupun tertutup dan
presentasenya terhadap jumlah total stomata pada satu bidang
pandang tersebut. Hasil konkret yang keluar digunakan untuk
analisis kondisi yang terjadi pada stomata setelah diberi perlakuan
yang berbeda. Hasil perhitungan yang diperoleh menunjukkan
pada perlakuan dengan aquades, stomata cenderung lebih banyak
yang tertutup, yakni 11 stomata dari 16 stomata total.Demikian
pula pada perlakuan larutan gula, stomata yang tertutup lebih
banyak yakni 12 stomata dari 16 stomata total.
12

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel Hasil Pengamatan


Tabel 1. Hasil Pengamatan
Larutan gula Aquades

(Dokumen pribadi, 2019). (Dokumen pribadi, 2019).


Perbesaran 400x Perbesaran 400x

a a
b
c b
d
c

d
(Dokumen pribadi, 2019). (Dokumen pribadi, 2019).
Perbesaran 1000x Perbesaran 1000x

Keterangan: Keterangan:

a. Seltetangga a. Seltetangga
b. Celah stomata b. Celah stomata
c. Selpenutup c. Selpenutup
d. Kloroplas d. Kloroplas
(Meriko dan Abizar, 2017) (Meriko dan Abizar, 2017)

8
11

Presentase stomata terbuka: Presentase stomata terbuka:


5 4
𝑥 100 % = 31,25% 𝑥 100 % = 25%
16 16
Presentase stomata tertutup: Presentase stomata tertutup:
11 12
𝑥 100% = 68,75 % 𝑥 100% = 75 %
16 16

4.2 Pembahasan

4.2.1 Stomata Rhoeodiscolour


Tipe stomata pada tanaman ini adalahtetrasitik, dimanatipe
stomata ini juga sering ditemukan pada tanaman family
Commelinaceae. Stomata tetrasitik merupakan stomata yang
memiliki empat sel tetangga yang tegak lurus dan sejajar
mengelilingi stomata. Stomata daun Rhoeo discolor terletak
pada bagian permukaan abaksial daun. Rata-rata panjang
stomata adalah sekitar57 µm (Bercu, 2013).

Gambar 1. Penampang stomata Rhoeodiscolor (Bercu, 2013).


12

Rhoeo discolor memiliki daunhipostomatik atau tipe daun


yang hanya memiliki stomata pada bagian bawah pemukaan daun
(abaksial), stomata daun Rhoeodiscolordikelilingi oleh 4 sel yang
berjajar, tipe ini dinamakan tipe stomata tetrasitik dimana sel
tetangga berjumlah 2 pasang dan posisinya sejajar dengan sumbu
sel penjaga stomata, berada pada sisikanan-kiri dan atas-bawah sel
penjaga.(Nyawuame & Gill, 1990).

Gambar 2.Ilustrasibentuk stomata Rhoeodiscolor (monokotil)


(Nyawuame& Gill, 1990)

Berdasarkan cara membuka dan menutup stomata Rhoeo


discolor masuk ke dalam tipe tipe Amaryllidaceae. Dimana sel
penutup jika dilihat dari atas berbentuk ginjal. Dinding punggung
tipis, tetapi dinding perutnya lebih tebal, dinding atas dan bawah
terjadi penebalan kutikula. Sel-sel tetangga berbatasan dengan sel
penutup. Stomata tipe ini biasanya terdapat pada kebanyakan
tanaman dikotil, tetapi kadang-kadang ada juga pada monokotil
(Raghavan, 1997).

8
11

4.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Membuka Menutup


Stomata
Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam tabel 1
menunjukkan bahwa intensitas stomata terbuka pada saat
ditetesi akuades lebih besar daripada saat ditetesi larutan gula
dengan presentase stomata membuka pada saat ditetesi akuades
sebesar 31,25%, sedangkan pada saat ditetesi larutan gula
presentase stomata hanya sebesar 25%. Hal ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa ketika ditetesi akuades
menjadi hipertonis dimana tekanan di luar sel akan lebih tinggi
daripada yang di dalam sel, oleh karena itu sel penutup
menyerap air mengakibatkan diameter tidak membesar
melainkan memanjang, sehingga sel penutup akan melengkung
ke arah luar dan terbukalah porus ataucelah stomata. Ketika sel
penutup mengambil air melalui osmosis, sel penutup akan
membengkak dan semakin dalam keadaan turgid. Perubahan
tekanan turgor yang menyebabkan pembukaan dan penutupan
stomata terutama disebabkan oleh pengambilan ion hidrogen
(H+) dan kehilangan ion kalium (K+) secara reversibel oleh sel
penutup (Haryanti dan Meirina, 2011). Sedangkan pada saat
ditetesi larutan gula tekanan yang bersifat hipotonis dimana
tekanan di luar sel lebih kecil daripada di dalam sel mengakibat
kanion K+ tidak dapa tmasuk, sehingga air tidak mengalami
osmosis dan tidak terjadi turgid. Tidak terjadinya turgid
menyebabkan sel tidak berbentuk cembung, sehingga tidak
menimbulkan lubang dan stomata menutup (Campbell, 2008).
12

Berikut merupakan mekanisme membuka dan


menutupnya stomata:
Ion H+ dipompa oleh membran plasma untuk keluar dari
sel penjaga. Hal ini membuat ion K+ dapat masuk ke dalam sel
penjaga melalui ion kanal. Ketika ion K+ masuk dan
terakumulasi ke dalam sel penjaga, kandungan air di dalam sel
tersebut bersifat negatif, sehingga air dapat masuk melalui
proses osmosis dan sel menjadi turgid. Sel yang turgid akan
mengarah keluar dan berbentuk cembung, sehingga akan
menimbulkan suatu lubang yang membuat stomata membuka.
Sebaliknya, saat ion H+ tidak dipompa untuk keluar dari sel
penjaga, ion K+ tidak dapat masuk, sehingga air tidak
mengalami osmosis dan tidak terjadi turgid. Tidak terjadinya
turgid menyebabkan sel tidak berbentuk cembung, sehingga
tidak menimbulkan lubang dan stomata menutup (Campbell,
2008).

Gambar 3. Mekanismemembuka dan menutupnya stomata


(Campbell, 2008).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan membuka dan


menutupnya stomata antara lain:

8
11

Faktor Internal meliputi:

- Hormon, seperti asam absisat yang dikenal sebagai


hormone stress tumbuhan dalam penutupan stomata yang
berinteraksi dengan asam jasmonik dan nitric oxide,
auksin, etilen dan sitokinin yang menstimulasi penutupan
stomata (Golec& Iwona, 2013). Asam absisat dan asam
jasmonik adalah regulator positif untuk penutupan stomata
sedangkan auksin dan sitokinin adalah regulator positif
untuk pembukaan stomata, serta kerja dari etilen bias
sebagai postif dan negatif regulasi tergantung pada jaringan
dan kondisi (Golec& Iwona, 2013).
- Struktur stomata yaitu mempengaruhi cara kerja atau
keefektifan stomata selama proses fotosintesis dimana
semakin rapat stomata maka proses buka-tutup stomata
semakin terhambat (Khoiroh et al., 2014).

Faktor eksternal meliputi:

- Kadar CO2 : konsentrasi CO2 di dalam daun yang tinggi


memungkinkan stomata untuk menutup. Sedangkan apabila
kadar CO2 di dalam daun rendah, memungkinkan stomata
untuk membuka. Hal ini dikarenakan apabila kadar CO2 di
dalam daun tinggi, maka tanaman akan mencegah
masuknya CO2 dari luar daun/lingkungan, sehingga stomata
menutup. Apabila Kadar CO2 di dalam daun rendah,
stomata akan membuka untuk memungkinkan CO2 masuk
untuk melakukan proses fotosintesis.
- Cahaya :Semakin banyak cahaya, maka stomata akan
membuka, begitu pula sebaliknya. Stomata lebih banyak
membuka pada siang hari daripada malam hari karena
adanya cahaya yang cukup. Hal ini berkaitan dengan proses
fotosintesis, dimana pada siang hari tumbuhan aktif
melakukan foto sintesis karena adanya cahaya. Fotosintesis
ini memungkinkan untuk menyerap CO2 dari lingkungan,
12

sehingga stomata harus membuka agar karbon dioksida


dapat masuk dan diolah dalam proses fotosintesis. Jenis
cahaya juga berpengaruh. Cahaya biru lebih efektif
dibandingkan cahaya merah, karena meningkatkan
transport ion H+ pada gradient proton, sehingga ion K+
bertambah dan stomata membuka.
- Kandunganair : Apabila kandungan air dalam tanaman
menurun, maka stomata akan menutup. Hal ini dilakukan
untuk mencegah transpirasi, agar uap air tidak keluar.
Sedangkan saat kandungan air tinggi, stomata akan
membuka akibat turgiditas yang tinggi, sehingga laju
transpirasi meningkat dan kadaruap air yang dikeluarkan
banyak.
- Kelembapan : Apabila kelembapan lingkungan tinggi,
maka stomata cenderung membuka untuk melangsungkan
transpirasi. Sedangkan saat kelembapan lingkungan rendah,
stomata cenderung menutup untuk mencegah transpirasi
agar uap air tidak keluar.
- pH : Kadar pH lingkungan juga berpengaruh, apabila pH
tinggi, maka stomata cenderung membuka. Sedangkan
apabila pH rendah, stomata akan menutup karena akan
meregulasi ion K+ untuk bergerak menuju sel penjaga,
sehingga stomata menutup.
- Suhu : Stomata akan membuka apabila suhu meningkat,
dan akan menutup apabila suhu menurun. Namun, stomata
akan menutup apabila suhu sangat tinggi (diatas 30 0C).
Hal ini dikarenakan saat suhu sangat tinggi, laju respirasi
meningkat. Dengan laju respirasi yang tinggi, maka kadar
CO2 yang dihasilkan di dalam antar sel meningkat. Hal ini
menyebabkan stomata menutup, karena kadar CO2 dalam
tubuh sudah tinggi dan mencegah CO2 dari lingkungan
masuk (Bhatla and Lal, 2018).

8
11
16

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum stomata dapat ditarik kesimpulan
bahwa laju transpirasi dipengaruhi oleh cahaya, dimana pada
lingkungan dengan kadar cahaya yang banyak maka laju
transpirasi semakin besar. Selain itu, jumlah stomata juga
mempengaruhi laju transpirasi, dimana daun dengan jumlah
stomata yang banyak akan memiliki laju transpirasi yang tinggi
pula.
5.2 Saran
Berikut adalah beberapa saran yang kami berikan untuk arah
perkembangan selanjutnya:

1. Perlunya menguasai teori terlebih dahulu sebelum menjalankan


praktikum

2.Perlunya berhati-hati dalam menggunakan peralatan


laboratorium serta mengikuti standar operasional yang berlaku
di laboratorium

8
17
20

DAFTAR PUSTAKA

Anu, O., Rampe, H. L., dan Palealu, J. J. 2017. Struktur Sel


Epidermis dan Stomata Daun Beberapa Tumbuhan Suku
Euphorbiaceae. Jurnal Mipa Unsrat. 6(1) : 69-
73.https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jmuo/article/view
/16160.

Bercu, R. 2013. Histoanatomical study on the vegetative organs


of Tradescantiaspathacea(Commelinaceae). Botanica
Serbica. 37(2) : 121-126.

Bhatla, S. C. and Lal, M. A. 2018. Plant Physiology,


Development, and Metabolism. Singapore : Springer
Nature Singapore Ltd.

Campbell, N. A. 2008. Biology, 8th edition. USA : Pearson


Education.

Campbell, Reece . 2003. Biologi. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Fatonah,S, Asih, D, Mulyanti, D, Irian,D. 2013. Penentuan Waktu


Pembukaan Stomata Pada Gulma Melastoma
malabathricum L. Di Perkebunan Gambir Kampar, Riau.
Biospecies. Vol. 6 No.2:
1522(.https://onlinejournal.unja.ac.id/index.php/biospecies/
article/view/688).

Golec, A. D dan Szarejko, I. 2013. Open or Close the Gate –


Stomata Action Under the Control of Phytohormones in
Drought Stress Condition. Frontiers in Plant Science. Vol
4:13
(https://www.researchgate.net/publication/236959414_Ope
n_or_Close_the_Gate_-
_Stomata_Action_Under_the_Control_of_Phytohormones_
in_Drought_Stress_Conditions/link/0c96051911062072250
00000/download).
Haryanti, S. 2010. Jumlah dan Distribusi Stomata pada Daun
Beberapa Spesies Tanaman Dikotil dan Monokotil. Buletin
Anatomi dan Fisiologi. Vol XVII(2): 22.
(https://media.neliti.com/media/publications/60035-ID-
jumlah-dan-distribusi stomata-pada-daun.pdf ).

Izza F & Ainun N Laily. 2015. Karakteristik stomata tempuyung


dan hubungannya dengan transpirasi tanaman. Seminar
Nasional Konservasi dan Pemanfaatan Sumber Daya
Alam. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Malang.

Jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/kpsda/article/view/5369

Khoiroh, Y., Harijati, N., Mastuti, R. 2014. Pertumbuhan Serta


HubunganKerapatan Stomata dan Berat Umbi Pada
Amorphophallus muelleriBlume
danAmorphophallusvariabilisBlume. JurnalBiotropika.
Vol. 2 (5).

https://biotropika.ub.ac.id/index.php/biotropika/article/view
/309

Meriko, L., dan Abizar. 2017. Struktur Stomata Daun Beberapa


Tumbuhan Kantong Semar (Nepenthes spp.). Jurnal Ilmu-
ilmu Hayati. 16 (3): 328.http://repo.stkip-pgri-
sumbar.ac.id/id/eprint/3922/1/208218%20Lince%20Merik
o%20dan%20Abizar.pdf.

Nyawuame HGK & Gill LS. 1990. Structure and ontogeny of


stomata in some tropical ornamental plants
(Monocotyledons). Giornale Botanic Italia. Vol. 124, 249-
258,

http://www.wjst.org/WJST_Vol.3,No.1,January%202015/STRUC
TURAL%20DIVER SITY.pdf

17
20

Padmaningrum, R. T. 2011. Karakter Ekstrak Zat Warna Daun


Rhoeo discolor Sebagai Indiktor Titrasi Asam Basa.
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan, dan
Penerapan MIPA.
229.(http://staffnew.uny.ac.id/upload/131930137/penelitian
/Karakter_Ekstrak_Rhoeodiscolor_Regina_Tutik_P.pdf).

Raghavan V. 1997. Molecular embryology of flowering plants.


New York : Cambridge university press.

Rahayu, P., Rofieq, A., Muizzudin. 2015. Perbedaan Anatomi


Jaringan Stomata Berbagai Daun Genus Allamanda.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi 2015. 686-
693.http://biology.umm.ac.id/files/file/686-
693%20Purri%20Rahayu.pdf.

Sarjani, T. M., Mawardi., Pandia, E. S., dan Wulandari, D. 2017.


Identifikasi Morfologi dan Anatomi Tipe Stomata Famili
Piperaceae di Kota Langsa. Jurnal IPA dan Pembelajran
IPA (JIPI). Vol 1(2): 182-191.

(www.Jurnal.unsyiah. ac.id/jipi).

Silasbury FB & Ross CW. 1999. Fisiologi Tumbuhan.


Bandung:ITB

Taluta, H. E., Rampe, H. L., dan Rumondor, M. J. 2017.


Pengukuran Panjang dan Lebar Pori Stomata Daun
beberapa Varietas Tanaman Kacang Tanah (Arachis
hypogeae). Jurnal MIPA Unsrat Online. Vol 6(2)1-5.
(https://media.neliti.com/media/publications/138250-ID-
pengukuran-panjang-dan-lebar-pori-stomat.pdf)

Urban, J., Ingwers, M. W., McGuire, M. A., and Teskey, R. O.


2017. Increase in leaf temperature opens stomata and
decouples net photosynthesis from stomatal conductance
in Pinus taeda and Populus deltoides x nigra. Journal of
Experimental Botany. Vol 68(7): 1757-1767.
(https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5444456/
)

17
22

LAMPIRAN

Lampiran 1. Foto Perlakuan


No. Foto Perlakuan
1. Diisi empat buah botol nescafe
dengan air kran secukupnya

(Dok. Pribadi, 2019).


2. Dipotong aluminium foil untuk
menutupi bagian mulut ke
empat botol nescafe

(Dok. Pribadi, 2019).


3. Dibungkus dengan kertas
aluminium foil bagian milut ke
empat botol nescafe

(Dok. Pribadi, 2019).


4. Dimasukkan batang Rhoeo
discolor ke dalam botol nescafe
yang telah diisi air dan ditutupi
ketrtas aluminium foil

(Dok. Pribadi, 2019).


5. Dimasukkan batang Marsilea
drummon dil L. ke dalam botol
nescafe yang telah diisi air dan
ditutupi kertas aluminium foil

(Dok. Pribadi, 2019).


6. Dioleskan vaselin pada bagian
aluminium foil yang berlubang

(Dok. Pribadi, 2019).

21
24

7. Ditimbang botol nescafe yang


berisi air dan sudah
dimasukkan Rhoeo discolor

(Dok. Pribadi, 2019).


8. Ditimbang botol nescafe yang
berisi air dan sudah
dimasukkan Marsilea drummon
dil L.

(Dok. Pribadi, 2019).


9. Diletakkan dua botol nescafe
yang berisi Rhoeo discolor dan
Marsilea drummon dil L. di
dalam ruangan dan dua botol di
luar ruangan

(Dok. Pribadi, 2019).


23

10. Ditimbang lagi ke empat botol


stelah 15 menit diletakkan di
luar ruangan dan dalam
ruangan. Dilakukan
penimbangan berulang
sebanyak 4 pengulangan
dengan jeda 15 menit selama
60 menit

(Dok. Pribadi, 2019).


11. Diukur luas daun masing-
masing setelah penimbangan
terakhir dan digambar pada
kertas milimeter block

(Dok. Pribadi, 2019).


24