Anda di halaman 1dari 23

ff

1. Jawaban : C
Insisi: luka yang disebabkan oleh benda tajam dengan kedalaman teratur, tepi luka rata
contoh insisi menggunakan scalpel blade
Laserasi: luka irregular dengan kedalaman tidak teratur, tepi luka bergerigi/tidak rata
contoh laserasi karena pecahan gelas, logam berkarat, atau benda yang lebih tumpul
Abrasi : kerusakan kulit superficial dikarenakan kekuatan friksi bergerak pada
permukaan kasar, biasanya kecepatannya tinggi contoh exercise pada permukaan yang
kasar, kecelakaan lalu lintas
Degloving: kulit dan jaringan yang lebih dalam terlepas dari ekstremitas seperti glove
yang dikeluarkan dari tangan (avulsion parsial) contoh ekor yang terlindas mobil
Avulsion: pemisahan jaringan dari perlekatannya yang lebih dalam dan biasanya
termasuk otot contoh: pada pertengkaran anjing
Shearing: mirip dengan degloving, kehilangan jaringan yang lebih dalam termasuk kulit,
tendon, otot dan terkadang tulang dan sering menyebabkan tereksposnya ekstremitas.
Contoh luka karena kecelakaan lalu lintas
Puncture: luka yang disebabkan benda tajam yang menusuk menembus kulit dan
menyebabkan lubang yang relatif kecil. Contoh gigitan hewan seperti kucing, anjing, ular
non-venomous dan venomous, serangga.
Burns : kerusakan kulit karena temperature ekstrim (panas atau dingin), atau kontak
dengan substansi kimia, listrik atau radiasi

2. Jawaban : D
1. Stadium Pembentukan Hematom Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang
berasal dari pembuluh darah yang robek Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar
(periosteum & otot) Terjadi sekitar 1-2 x 24 jam
2. Stadium Proliferasi sel/inflamasi sel-sei berproliferasi dari lapisan dalam periosteum,
sekitar lokasi fraktur Sel-sel ini menjadi precursor osteoblast Sel-sel ini aktif tumbuh
kearah fragmen tulang Proliferasi juga terjadi di jaringan sumsum tulang Terjadi setelah
hari ke-2 kecelakaan terjadi
3. Stadium Pembentukan Kallus Osteoblast membentuk tulang lunak (kallus) Kallus
memberikan rigiditas pada fraktur Jika terlihat massa kallus pada X-ray berarti fraktur
telah telah menyatu Terjadi setelah 6-10 hari setelah kecelakaan terjadi
4. Stadium Konsolidasi Kallus mengeras danerjadi proses konsolidasi. Fraktur teraba
telah menyatu Secara bertahap menjadi tulang mature Terjadi pada minggu ke 3-10
setelah kecelakaan
5. Stadium Remodeling Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi eks
fraktur Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast Pada anak-anak remodeling dapat
sempurna, pada dewasa masih ada tanda penebalan tulang

3. Jawaban : E
Konsep penanganan fraktur
• Rekognisi Adalah pengenalan dengan melakukan diagnosa yang benar
• Reduksi Adalah tindakan mengembalikan fragmen fragmen fraktur semirip mungkin
dengan keadaan atau kedudukan semula atau keadaan letak normal.
• Retensi/ Imobilisasi Adalah tindakan mempertahankan atau menahan fragmen fragmen
fraktur selama proses penyembuhan bertujuan untuk mengurangi pendarahan yang
terjadi.
• Rehabilitasi Adalah tindakan dengan tujuan agar bagian yang menderita dapat kembali
normal.
4. JAWABAN D
a. Fraktur spiral. Garis patah tulang (fraktur) yang tidak ada & penyebab terjadinya
fraktur spiral biasanya karena jatuh terpelincir (memutar).
b. Fraktur Comminuted. Terjadi patah tulang dimana tulang itu terbagi menjadi lebih
dari dua bagian.
c. Fraktur Tranversal. Biasanya terjadi karena benturan langsung /spontan. garis patah
tulang (fraktur) melintang memotong dari arah luar sampai menembuskan ke dalam
bagian tengah secara tegak lurus.
d. Fraktur Oblique. Dima garis patah tulang (fraktur) itu melintang pada tulang tegak
lurus serta oblik.
e. Fraktur Greenstick. Biasanya terjadi patah tulang (fraktur) pada tulang anak maupun
bayi yang masih bisa di bengkokkan. (BTCLS, 2012)

5. Jawaban : E Penjelasan di nomor 1


6. Jawaban D
7. Jawaban B
8. Jawaban A Diafragma adalah otot inspirasi utama. Sewaktu diafragma berkontraksi, ia
bergerak ke kaudal. Dengan menurunnya diafragma, vicera abdomen terdorong ke kaudal pula.
Akibatnya ialah bahwa volume cavitas thoracalis dan terjadi penurunan tekanan intra thoracal,
sehingga udara tersedot ke dalam paru. Selain itu, volume cavitas abdominalis sedikit berkurang
dan tekanan intraabdominal agak meningkat.

9. Jawaban E
Feline Immunodeficiancy Virus ditransmisikan melalui gigitan

10. Jawaban C
Kolik; rasa nyeri yang amat sangat yang hilang dan timbul di daerah usus atau sekitarnya,
seperti kolik batu empedu, kolik karena masuk angin, dan kolik bawasir
Tremor: adalah gerakan yang tidak terkontrol dan tidak terkendali pada satu atau lebih
bagian tubuh Anda. Tremor biasanya terjadi karena bagian otak yang mengontrol otot
mengalami masalah.
Klonik: Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3 detik, terlokalisasi dengan
baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang
ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan
atau oleh ensepalopati metabolik.
Tonik: Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau
pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau
ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang
menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh
rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus
Tenesmus :adalah perasaan konstan kebutuhan untuk mengosongkan usus, disertai rasa
sakit, kram, dan spontan upaya tegang. Tenesmus berkaitan dengan masalah buang air besar.
Terkadang perasaan itu hilang timbul.

11. Jawaban C
Continuous fever: adalah tipe demam yang bersifat terus menerus. Temperature meningkat
sepanjang hari dan tidak berfluktuasi lebih dari 1 °C dalam 24 jam adalah tipe demam yang
bersifat terus menerus, e.g. lobar pneumonia, typhoid, meningitis, urinary tract infection, or
typhus.
Intermittent fever: Peningkatan temperature hanya untuk periode tertentu, lalu kembali ke
normal, e.g. malaria, kala-azar, pyaemia, or septicemia.
Remittent fever: Temperature meningkat dan menurun sepanjang hari dan berfluktuasi lebih
dari 1 °C dalam 24 jam. Bertolak belakang dengan intermittent fever, remittent fever adalah
demam yang suhunya tidak bisa lagi kembali ke suhu normal aslinya. contoh infective
endocarditis, brucellosis.
12. Jawaban B
pernafasan biot: ialah pernafasan yang tidak teratur irama dan amplitudonya
dengan diselingi periode apneu (henti nafas).
pernapasan cheyne-stokes adalah irama pernapasan yang ditandai dengan adanya
periode apnea (berhentinya gerakan napas) kemudian disusul periode hiperpnea
(pernapasan cepat dengan amplitudo pernapasan mula-mula kecil kemudian semakin
membesar, dan mengecil lagi), siklus ini terjadi berulang-ulang. terdapat pada pasien
dengan kerusakan otak atau hipoksia kronik.
Cheyne stokes, merupakan siklus pernafasan yang amplitudonya mula-muula naik, kemudian menurun dan
berhenti, lalu pernafasan dimulai lagi dari siklus baru.
13. Jawaban B
HYPOXIA adalah suatu keadaan bila tekanan partial oksigen pada saat lingkungan dan jaringan
di bawah normal, artinya suatu kelainan kerana oxygenasi rendah yang menyebabkan gejala
klinis penyakit respiratori.
Ambient hypoxia: bila sehari-hari memang oksigen kurang dalam udara lingkungan
Anemic Hypoxia: berkurangnya kapasitas darah untuk mengikat oksigen,karena memeng
haemoglobin rendah
Stagnan Hypoxia: suatu gangguan kekurangan oksigen dalam jaringan, padahal darah arteri
cukup mengandung oksigen
Histotoxic Hypoxia: jaringan tidak mampu memanfaatkan oksigen untuk keperluan fisiologis

14. Jawaban B
Albinisme adalah suatu kelainan yang terjadi sejak lahir yang mana penderitanya
mengalami kekurangan melanin atau sama sekali tidak memiliki pigmen tersebut. Kondisi ini
menjadikan rambut, kulit, dan mata penderita terlihat berwarna sangat pucat, hingga cenderung
putih.
Vitiligo adalah kondisi kulit yang umum terjadi akibat pigmentasi (warna) hilang pada
kulit. Warna hilang pada area-area tertentu, seringnya pada punggung tangan, wajah, dan ketiak.
Penyakit ini tidak mematikan dan tidak dapat disembuhkan, namun beberapa warna kulit pada
wajah dan leher dapat kembali.
D (patah, beruas, bamboo hair) sama E(tebal) penyakit rambut

15. Jawaban A
● CYSTITIS Inflamasi pada vesica urinaria disertai dengan pollakiuria, dysuria,
hematuria, sel radang dan bakteri pada urin
● PYELONEPHRITIS Infeksi bacterial pada ginjal dan pelvis renal, biasanya karena
infeksi ascending dari vagina dan vulva
16. Jawaban E
17. Jawaban A

Spesies Kisaran respirasi (kali/menit)


Sapi 24-42
Kambing 26-54
Domba 26-32
Kelinci 25-27
Ayam 18-23
18. Jawaban D
Mastitis yang tidak ditangani memliki hampir risiko 10% risiko terbentuknya
abses. Tanda dan gejala abses meliputi:
a. Discharge putting susu purulenta

b. Demam remiten (suhu naik turun) disertai

menggigil

c. Pembengkakan payudara dan sangat nyeri,

massa besar dank eras dengan area kulit berfluktuasi

kemerahan dan kebiruan mengindikasikan lokasi abses

berisi-pus.

19. Jawaban D
FOOT ROOT=NECROTIC PODODERMATITIS, INTERDIGITAL NECROBACILLOSIS
Penyebab : Fusobacterium necrophorum, Dichelobacter (Bacteroides) nodosus (domba), B.
melaninogenicus (sapi) PENULARAN Masuk mll kulit kaki luka, abrasi - interdigiti
space rusak
20. Jawaban C
-Nirimidazol. Untuk infeksi S.japonicum dengan dosis 25 mg/kgBB/hari selama
10 hari
-Praziquantel (Embay, Droncit). Untuk infeksi S.japonicum dengan dosis 35 mg/kgBB
sebanyak 2 kali sehari
-Emelin. Untuk infeksi S.mansoni, lebih efektif secara parenteral dengan dosis 65 mg/hari
selama 4-6 hari
-Fuadin Stibofen. Untuk infeksi S.mansoni, lebih efektif secara parenteral
-Astiban TW56. Untuk infeksi S.haematobium dengan cara disuntikkan, 100%
menyembuhkan
-Lucanthone HCL. Untuk infeksi S.haematobium dengan cara disuntikkan dengan dosis
40mg/kgBB selama 2-4 hari

21. Jawaban A
22. Jawaban E
Karna hanya terbentuk di Folikel de Graff
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/42376/Chapter%20II.pdf;jsessionid
=876FCE0D078599F40430B06F0D0B6C6E?sequence=3

23. Jawaban C
ž Dalam sistem reproduksi, prostaglandin dihasilkan oleh sel – sel endometrium yang sehat
(tidak patologis)

24. Jawaban C
kuning telur berfungsi sebagai pelindung spermatozoa terhadap cold shock serta
sebagai sumber energi (Triana, 2005)
25. Jawaban C
Umur Kebuntingan
● Kuda : 336 Hari
● Sapi : 283 (240-330 hari).
● Domba : 141-159 hari
● Kambing : 147 hari
● Unta : 390-410 hari
26. Jawaban C
27. Jawaban D
Peningkatan LIMFOSIT = Limfositosis
• Limfositosis fisiologik
• Infeksi kronik -> stimulasi antigenik thd T lymphocyte
28. Jawaban A
29. Jawaban B
Azotemia renal adalah kelainan biokimia yaitu peningkatan kadar kreatinin dan nitrogen urea
darah dan berkaitan dengan penurunan laju filtrasi glomerular pada ginjal.
30. A
31. Jawaban B
Bacillus anthracis : GRAM POSITIF, BATANG SIKU-SIKU, SPORA, NON MOTIL,
BERKAPSUL
32. Jawaban C
33. Jawaban C
Differential diagnosis dari pullorum adalah Fowl Typhoid, Paratyphoid, Snot, dan Coccidiosis.
34. Jawaban E

35. Jawaban A
Babesiosis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh Babesia sp dan berpredileksi di
eritrosit
36. Jawaban A
Necrosis Liquefaktif (kolikuativa), Necrosis ini terjadi sebagai hasil autolisis atau heterolisis
terutama pada infeksi bakterit terutama organisme pyogenik karena bakteri merupakan stimulus
kuat yang dapat mengumpulkan sel leukosit, contoh lain necrosis koloquativa pada jaringan otak
yg mengalami hipoksia.
Necrosis coagulativa, Terjadi jejas karena peningkatan asidosis intra sel yang
mengakibatkan kerusakan protein struktural , juga merusak protein enzim sehingga akan
menghambat proteolisis sel. Necrosis coagulativa khas terjadi pada semua macam sel dalam
jaringan yang mati karena hipoksia kecuali otak. Contohnya pada infark myocaed yang
menunjukkan gambaran sel sel tanpa inti yang mengalami koagulasi, kemudian sel myocard
yang necrotik akan menghilang karena terjadi ftagmentasi dan fagositosis sisa sisa sel oleh
makrofag, serta oleh aktifitas enzym proteolitikdari lisosom leukosit.
Necrosis Caseosa (Caseous = perkejuan), Sering dijumpai pada infeksi tuberculosis. Secara
makroslopis daerah yang mengalami necrosis berwarna utih dan menyerupai keju disebut
juga perkejuan. Gambaran microskopis memperlihatkan fokus fokus necrosis yang
menunjukkandebris granuler amorf, terdiri dari sel sel yang pecah dan mengalmi koagulasi.
Daerah necrosis dibatasi oleh daerah peradangan yg menunjukkan reaksi granulomatosa yang
terdiri dari sel sel epitheloid, sel datia langhanz dan dikelilingi oleh sel limfosit.
Necrosis Enzymatic lemak, Disini terjadi penghancuran lemak lokal sebagai hasil
pengeluaran lipase pancreas aktif secara abnormal kedalam substansi pancreas aktif secara
abnormal kedalam substansi pancreas dan rongga peritoneum. , hal ini merupakam keadaan
abdomen akut yang dikenal sebagai necrosis pancreas akut. Enzim aktif dari pancreas dilepas
dari sel asini pancreas dan ductusnya menghancurkan membran sel lemak dan lipase aktif
akan memecah ester triglicerid yang ada dalam sel lemak. Asam lemak yang terlepas akan
bereaksi dengan kalsium sehingga menghasilkan daerah putih berkapur, secara histologis
necrosis menunjukkan fokus fokus dengan baras tidak jelas dari sel lemak dengan endapan
kalsium yg basofilik dan dikelilingi oleh reaksi radang
Necrosis gangrenosa, Digunakan untuk necrosis yg terjadi pada bagian distal kaki atau pada
dinding saluran cerna atau organ dalam abdomen atau necrosis yg berhubungan dengan
infeksi masif.

37. Jawaban C
Pustula adalah vesikel berisi nanah pada epidermis, seperti pada variola, varisela, psoriasis
pustulosa.
Abses adalah kumpulan nanah dalam jaringan / dalam kutis atau subkutis.
38. Jawaban A
Hipersensitivitas Tipe I
Hipersensitivitas tipe I atau disebut juga dengan reaksi cepat, reaksi alergi atau reaksi anafilaksis
ini merupakan respon jaringan yang terjadi akibat adanya ikatan silang antara alergen dan
IgE. Reaksi ini berhubungan dengan kulit, mata, nasofaring, jaringan bronkopulmonasi, dan
saluran gastrointestinal. Reaksi ini dapat menimbulkan gejala yang beragam, mulai dari
ketidaknyamanan kecil hingga kematian. Waktu reaksi berkisar antara 15-30 menit setelah
terpapar antigen, namun terkadang juga dapat mengalami keterlambatan awal hingga 10-12 jam.
Berikut mekanisme umum dari reaksi tersebut :
● Alergen berkaitan silang dengan IgE
● Sel mast dan basofil mengeluarkan amina vasoaktif dan mediator kimiawi lainnya
● Timbul manifestasi
Manifestasi yang dapat ditimbulkan dari reaksi ini adalah berupa anafilaksis, urtikaria, asma
bronchial, atau dermatitis. Uji diagnortik yang dapat digunakan untuk mendeteksi
hipersensitivitas tipe I adalah tes kulit (tusukan atau intradermal) dan ELISA untuk mengukur
IgE total dan antibodi IgE spesifik untuk melawan alergen (penyebab alergi) yang dicurigai.

Hipersensitivitas Tipe II
Hipersensitivitas tipe II disebabkan oleh antibodi yang berupa Imunoglobulin G (IgG) dan
Imunoglobulin E (IgE) untuk melawan antigen pada permukaan sel dan matriks rkstraseluler.
Reaksi ini dapat disebut juga sebagai reaksi sitotoksik atua reaksi sitolitik. Kerusakan yang
ditimbulkan akan terbatas atau spesifik pada sel atauu jaringan yang secara langsung
berhubungan dengan antigen tersebut. Pada umumnya, antibodi yang langsung berinteraksi
dengan antigen permukaan sel akan bersifat patogenik dan menimbulkan kerusakan pada target
sel. Hipersensitivitas dapat melibatkan reaksi komplemen atau reaksi silang yang berkaitan
dengan antibodi sel, sehingga dapat pula menimbulkan kerusakan jaringan. Beberapa tipe dari
hipersensitivitas tipe II yaitu sebagai berikut :
● Pemfigus , IgG bereaksi dengan senyawa intraseluler diantara sel epidermal
● Anemia Hemolitik Autoimun, dipicu oleh obat-obatan seperti pensilin yang dapat
menempel pada permukaan sel darah merah dan berperan seperti hapten untuk produksi
antibodi kemudian berkaitan dengan permukaan sel darah merah dan menyebabkan lisis
sel darah merah
● Sindrom Goodpasture, IgG bereaksi dengan membran permukaan glomerulus, sehingga
menyebabkan kerusakan pada ginjal
Mekanisme singkat dari reaksi hipersensitivitas tipe II adalah sebagai berikut :
● IgG dan IgM berikatan dengan antigen di permukaan sel
● Fagositosis sel target atau lisis sel target oleh komplemen, ADCC dan atua antibodi
● Pengeluaran mediator kimiawi
● Timbul manifestasi (anemia hemolitik autoimun, eritoblastosis fetalis, sindrom Good
Pasture atau pemvigus vulgaris)

Hipersensitivitas Tipe III


Hipersensitivitas tipe III merupakan hipersensitivitsa kompleks imun. Hal ini disebabkan adanya
pengendapan kompleks antigen-antibodi yang kecil dan terlarut dalam jaringan. Hal ini
ditandai dengan timbulnya inflamasi atau peradangan. Pada kondisi normal, komleks antigen-
anibodi yang diproduksi dalam jumlah besar dan seimbang akan dibersihkan dengan adanya
dagosit. Namun terkadang kehadiran bakteri, virus, lingkungan anatu antigen seperti spora fungi,
bahan sayuran, dan hewan yang persisten akan membuat tubuh secara otomatis memproduksi
antibodi terhadap senyawa asing tersebut, sehingga terjadi pengendapan kompleks antigen-
antibodi secara terus menerus. Pengendapan antigen-antibodi tersebut akan menyebar pada
membran sekresi aktif dan didalam saluran kecil, sehingga dapat memengaruhi beberapa organ
seperti kulit, ginjal, paru-paru, sendi, atau dalam bagian koroid pleksus otak. Secara umum,
mekanisme reaksi tipe III ini adalah :
● Terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang sulit difagosit
● Mengaktifkan komplemen
● Menarik perhatian Neutrofil
● Pelepasan enzim lisosom
● Pengeluaran mediator kimiawi
● Timbul manifestasi, seperti reaksi Arthus, serum sickness, LES, AR, Glomerulonefritis,
dan penumonitis

Hipersensitivitas Tipe IV
Hipersensitivitas tipe IV dikenal sebagai hipersensitivitas yang diperantarai sel atau tipe
lambat (delay-tipe). Reaksi ini terjadi karena aktivitas perusakan jaringan oleh sel T dan
makrofag. Dalam reaksi ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk aktivasi dan
diferensiasi sel T, sekresi sitokin dan kemokin, serta akumulasi makrofag dan leukosit lain pada
daerah yang terkena paparan. Beberapa contoh umum dari hipersensitivitas tipe IV adalah
hipersensitivitas pneumonitis, hipersensitivitas kontak (kontak dermatitis), dan reaksi
hipersensitivitas tipe lambat kronis. Reaksi ini dibedakan menjadi beberapa reaksi, seperti
Tuberkulin, reaksi inflamasi granulosa, dan reaksi penolakan transplant. Mekanisme reaksi ini
secara umum adalah sebagai berikut :
● Limfosit T tersensitasi
● Pelepasan sitokin dan mediator lainnya atau sitotoksik yang diperantarai oleh sel T
langsung
● Timbul menifestasi (tuberkulosis, dermatitis kontak, dan reaksi penolakan transplant).

39. Jawaban C
40. Jawaban B

41. Jawaban B
Standar Nasional Indonesia SNI 01-6160-1999. Rumah Pemotongan Unggas
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 13/PERMENTAN/OT.140/1/2010
tentang Persyaratan Rumah Potong Hewan Ruminansia Dan Unit Penanganan
Daging (Meat Cutting Plant)

42. Jawaban D

43. Jawaban D
Tau sendiri lah, Shigella lah…
44. Jawaban B
Refinement adalah mengurangi ketidaknyamanan yang diderita oleh hewan
percobaan sebelum, selama, dan setelah penelitian (dengn pemberian analgetik).
45. Jawaban E
Prinsip dasar etika kedokteran atau bioetika, antara lain:
● Beneficence
● Non-malficence
● Justice
● Autonomy

46. Jawaban C

47. Jawaban D

48. Jawaban B
49. Jawaban E
50. Jawaban E