Anda di halaman 1dari 11

AKUNTANSI BIAYA

JAWABAN BAB 3 SOAL LATIHAN & SOAL PILIHAN GANDA


“METODE HARGA POKOK PROSES – PENGANTAR”

Dosen Pengampu :
Lamria Simamora, SE., MSA, Ak, CA

Disusun Oleh :
Anggota Kelompok :

1. Dinda Desy Anggraeni BCA 117 198


2. Sulistia BCA 117 250
3. Paula Carolina BCA 117 253
4. Ruth Wahyuni Simanjuntak BCA 117 200
5. Rista BCA 117 262
6. Fajar Nur Prastya BCA 117 203
7. Libertri BCA 117 222

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
1. Jelaskan perbedaan antara metode harga pokok pesanan dan metode harga pokok
proses ditinjau dari segi pengumpulan biaya produksi, perhitungan harga pokok
produksi per satuan, klasifikasi biaya produksi, dan unsur yang digolongkan dalam
biaya overhead pabrik.
Jawab:
Perbedaan antara metode harga pokok pesanan dan metode harga pokok proses
ditinjau dari segi:
a. Pengumpulan biaya produksi
Metode harga pokok pesanan mengumpulkan biaya produksi menurut
pesanan, sedangkan metode harga pokok proses mengumpulkan biaya produksi per
departemen produksi per periode.
b. Perhitungan harga pokok produksi per satuan
Metode harga pokok pesanan menghitung harga pokok produksi per satuan
dengan cara membagi total biaya yang dikeluarkan untuk pesanana tertentu dengan
jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam pesanana yang bersangkutan.
Perhitungan ini dilakukan pada saat pesanan telah selesai diproduksi. Metode harga
proses menghitung harga pokok produksi per satuan dengan cara membagi total
biaya produksi yang dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah satuan
produk yang dihasilkan selama periode yang bersangkutan. Perhitungan ini
dilakukan setiap akhir periode akuntansi (biasanya akhir bulan).
c. Penggolongan biaya produksi
Di dalam metode harga pokok pesanan, biaya produksi harus dipisahkan
menjadi biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung. Biaya produksi
langsung dibebankan kepada produk berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi,
sedangkan biaya produksi tidak langsung dibebankan kepada produk berdasarkan
tarif yang ditentukan di muka. Di dalam metode harga pokok proses, pembedaan
biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung seringkali tidak
diperlukan, terutama jika perusahaan hanya menghasilkan satu macam produk
(seperti perusahaan semen, pupuk, bumbu masak). Karena harga pokok persatuan
produk di hitung setiap akhir bulan, maka umumnya biaya overheand pabrik
dibebankan kepada produk atas dasar biaya yang sesungguhnya terjadi.
d. Unsur yang digolongkan dalam biaya overhead pabrik
Di dalam metode harga pokok pesanan, biaya overheand pabrik terdiri dari
biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung dan biaya produksi lain
selain biaya bahan baku dan biaya kerja langsung. Dalam metode ini biaya
overheand pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di
muka. Di dalam metode harga pokok proses, biaya overheand pabrik terdiri dari
biaya produksi selain biaya bahan baku dan bahan penolong dan biaya tenaga kerja
(baik yang langsung maupun tidak langsung). Dalam metode ini biaya overheand
pabrik dibebankan kepada produk sebesar biaya yang sesungguhnyaterjadi selama
periode akuntansi tertentu.

2. Jika diketahui bahwa jumlah yang dimasukkan dalam proses sebanyak 20.000
unit, dan pada akhir bulan laporan produksi memperlihatkan jumlah produk jadi
sebanyak 15.000 unit dan jumlah persediaan produk dalam proses sebanyak 5.000
unit (dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut: biaya bahan baku 100%; biaya
tenaga kerja 75%; dan biaya overhead pabrik 80%), hitunglah unit ekuivalensi untuk
tiap unsur biaya produksi.
Penyelesaian:
Data Produksi
Produk yang dimasukkan dalam proses 20.000 unit
Produk jadi akhir bulan 15.000 unit
Produk dalam prose
tidak langsung seringkali tidak diperlukan, terutama jika perusahaan hanya
menghasilkan satu macam produk (seperti perusahaan semen, pupuk, bumbu
masak). Karena harga pokok persatuan produk di hitung setiap akhir bulan, maka
umumnya biaya overheand pabrik dibebankan kepada produk atas dasar biaya yang
sesungguhnya terjadi.
d. Unsur yang digolongkan dalam biaya overhead pabrik
Di dalam metode harga pokok pesanan, biaya overheand pabrik terdiri dari
biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung dan biaya produksi lain
selain biaya bahan baku dan biaya kerja langsung. Dalam metode ini biaya
overheand pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di
muka. Di dalam metode harga pokok proses, biaya overheand pabrik terdiri dari
biaya produksi selain biaya bahan baku dan bahan penolong dan biaya tenaga kerja
(baik yang langsung maupun tidak langsung). Dalam metode ini biaya overheand
pabrik dibebankan kepada produk sebesar biaya yang sesungguhnyaterjadi selama
periode akuntansi tertentu.

2. Jika diketahui bahwa jumlah yang dimasukkan dalam proses sebanyak 20.000
unit, dan pada akhir bulan laporan produksi memperlihatkan jumlah produk jadi
sebanyak 15.000 unit dan jumlah persediaan produk dalam proses sebanyak 5.000
unit (dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut: biaya bahan baku 100%; biaya
tenaga kerja 75%; dan biaya overhead pabrik 80%), hitunglah unit ekuivalensi untuk
tiap unsur biaya produksi.
Penyelesaian:
Data Produksi
Produk yang dimasukkan dalam proses 20.000 unit
Produk jadi akhir bulan 15.000 unit
Produk dalam proses akhir bulan 5.000 unit

Perhitungan Unit Ekuivalensi Untuk Tiap Unsur Biaya Produksi


Jenis Biaya Unit Ekuivalensi*
Biaya Bahan Baku 15.000 unit + (5.000 unit x 100%) = 20.000 unit
Biaya Tenaga Kerja 15.000 unit + (5.000 unit x 75%) = 18.750 unit
Biaya Overhead Pabrik 15.000 unit + (5.000 unit x 80%) = 19.400 unit
* Rumus Unit Ekuivalensi = Produk Jadi + (Produk Dalam Proses x % Penyelesaian)

3. Jika diketahui bahwa jumlah yang dimasukkan dalam proses sebanyak 20.000
unit, dan pada akhir bulan laporan produksi memperlihatkan jumlah produk jadi
sebanyak 14.000 unit, jumlah persediaan produk dalam proses sebanyak 4.000 unit
(dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut: biaya bahan baku 100%; biaya tenaga
kerja 75% dan biaya overhead pabrik 80%), dan jumlah produk yang hilang pada
awal proses sebanyak 2.000 unit, hitunglah unit ekuivalensi untuk tiap unsur biaya
produksi.

Penyelesaian:
Jumlah masuk proses 20.000 unit
Jumlah produk jadi 14.000 unit
BBB: 100%
Barang dalam proses 4.000 unit
BTK: 75%
Perhitungan Unit Ekuivalensi Untuk Tiap Unsur Biaya Produksi
Jenis Biaya Unit Ekuivalensi*
Biaya Bahan Baku 15.000 unit + (5.000 unit x 100%) = 20.000 unit
Biaya Tenaga Kerja 15.000 unit + (5.000 unit x 75%) = 18.750 unit
Biaya Overhead Pabrik 15.000 unit + (5.000 unit x 80%) = 19.400 unit
* Rumus Unit Ekuivalensi = Produk Jadi + (Produk Dalam Proses x % Penyelesaian)

3. Jika diketahui bahwa jumlah yang dimasukkan dalam proses sebanyak 20.000
unit, dan pada akhir bulan laporan produksi memperlihatkan jumlah produk jadi
sebanyak 14.000 unit, jumlah persediaan produk dalam proses sebanyak 4.000 unit
(dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut: biaya bahan baku 100%; biaya tenaga
kerja 75% dan biaya overhead pabrik 80%), dan jumlah produk yang hilang pada
awal proses sebanyak 2.000 unit, hitunglah unit ekuivalensi untuk tiap unsur biaya
produksi.

Penyelesaian:
Jumlah masuk proses 20.000 unit
Jumlah produk jadi 14.000 unit
BBB: 100%
Barang dalam proses 4.000 unit
BTK: 75%
Produk hilang awal proses 2.000 unit
BOP: 80%

Perhitungan Unit Ekuivalensi Untuk Tiap Unsur Biaya Produksi


Jenis Biaya Unit Ekuivalensi*
Biaya Bahan Baku 14.000 unit + (100% X 4.000) = 18.000 unit
Biaya Tenaga Kerja 14.000 unit + (75% X 4.000) = 17.000 unit
Biaya Overhead Pabrik 14.000 unit + ( 80% X 4.000) =17.200 unit
* Rumus Unit Ekuivalensi = Produk Jadi + (Produk Dalam Proses x % Penyelesaian)

4. PT Oki Sasongko memiliki dua departemen produksi untuk menghasilkan


produknya: Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi
departemen B tersebut untuk bulan Januari 19X1 disajikan sbb.
Data Produksi Departemen B PT Oki Sasongko Bulan Januari 19X1
Departemen B
Produk yang diterima dari Departemen A 700 kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang 400 kg
Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian sbb:
- Biaya Konversi 40% 200
kg
Produk yang hilang pada akhir proses 100 kg
Menurut catatan Bagian Akuntansi, biaya produksi yang telah dikeluarkan dalam
departemen B dan biaya yang dibawa oleh produk yang diterima dari Departemen A
selama bulan Januari 19X1 disajikan sbb:
Biaya Produksi Departemen B PT Oki Sasongko Bulan Januari 19X1.

Departemen B
Harga pokok produk yang diterima dari Dept. A Rp 420.000
Biaya Tenaga Kerja Rp 261.000
Biaya Overhead Pabrik Rp 290.000
Jumlah biaya produksi yang dibebankan Dept. B Rp 971.000
Atas dasar data tersebut diatas hitunglah harga pokok produk jadi yang ditransfer
Departemen B ke gudang dalam bulan Januari 19X1 dan harga pokok persediaan
produk dalam proses di Departemen B pada akhir bulan Januari 19X1.
Penyelesaian:
Perhitungan Biaya Produksi Departemen B bulan Januari 19X1
Jenis Biaya Jumlah produk yang dihasilkan oleh Dept. B Biaya Produksi yang
ditambahkan Departemen B Biaya produksi per kg yang ditambahkan
Departemen B
BTK 400 kg + (40%*200)+ 100 kg = 580 kg Rp 261.000 Rp 450
BOP 400 kg + (40%*200)+ 100 kg = 580 kg Rp 290.000 Rp 500
Total Rp 551.000 Rp 950

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang:


oleh produk yang diterima dari Departemen A selama bulan Januari 19X1 disajikan
sbb:
Biaya Produksi Departemen B PT Oki Sasongko Bulan Januari 19X1.

Departemen B
Harga pokok produk yang diterima dari Dept. A Rp 420.000
Biaya Tenaga Kerja Rp 261.000
Biaya Overhead Pabrik Rp 290.000
Jumlah biaya produksi yang dibebankan Dept. B Rp 971.000
Atas dasar data tersebut diatas hitunglah harga pokok produk jadi yang ditransfer
Departemen B ke gudang dalam bulan Januari 19X1 dan harga pokok persediaan
produk dalam proses di Departemen B pada akhir bulan Januari 19X1.
Penyelesaian:
Perhitungan Biaya Produksi Departemen B bulan Januari 19X1
Jenis Biaya Jumlah produk yang dihasilkan oleh Dept. B Biaya Produksi yang
ditambahkan Departemen B Biaya produksi per kg yang ditambahkan
Departemen B
BTK 400 kg + (40%*200)+ 100 kg = 580 kg Rp 261.000 Rp 450
BOP 400 kg + (40%*200)+ 100 kg = 580 kg Rp 290.000 Rp 500
Total Rp 551.000 Rp 950

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang:


Harga pokok produk yang ditransfer dari Departemen A :
400 kg x (Rp 420.000/700=600) Rp 240.000
Harga pokok produk yang ditambahkan dalam Departemen B:
400 kg x Rp 950 Rp 380.000
Harga pokok produk yang hilang pada akhir proses:
100 kg x (Rp 600 + Rp 950=Rp 1.550) Rp 155.000
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang:
400 kg x (Rp 775.000/400= Rp 1.937,5) Rp 775.000
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan (200 kg)
Harga pokok dari departemen A: 200kg x Rp 600 Rp 120.000
Biaya Tenaga Kerja: 200 kg x (40%xRp 450=Rp 180) Rp 36.000
Biaya Overhead Pabrik: 200 kg x (40% x Rp500 = Rp 200) Rp 40.000
Rp 196.000
Biaya kumulatif departemen B Rp 971.000

5. Atas dasar soal no 4 dan jawaban saudara atas soal tersebut, buatlah laporan
biaya produski Departemen B bulan Januari 19X1.

Penyelesaian:
PT Oki Sasongko

400 kg x (Rp 420.000/700=600) Rp 240.000


Harga pokok produk yang ditambahkan dalam Departemen B:
400 kg x Rp 950 Rp 380.000
Harga pokok produk yang hilang pada akhir proses:
100 kg x (Rp 600 + Rp 950=Rp 1.550) Rp 155.000
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang:
400 kg x (Rp 775.000/400= Rp 1.937,5) Rp 775.000
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan (200 kg)
Harga pokok dari departemen A: 200kg x Rp 600 Rp 120.000
Biaya Tenaga Kerja: 200 kg x (40%xRp 450=Rp 180) Rp 36.000
Biaya Overhead Pabrik: 200 kg x (40% x Rp500 = Rp 200) Rp 40.000
Rp 196.000
Biaya kumulatif departemen B Rp 971.000

5. Atas dasar soal no 4 dan jawaban saudara atas soal tersebut, buatlah laporan
biaya produski Departemen B bulan Januari 19X1.

Penyelesaian:
PT Oki Sasongko
Laporan Biaya Produksi Departemen B
Bulan Januari 19X1
Data Produksi :
Produk yang diterima dari Departemen A 700kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang 400kg
Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian
sebagai berikut : biaya konversi 40% 200kg
Produk yang hilang pada akhir proses 100kg
700 kg
Biaya yang dibebankan dalam Departemen B Total Per Kg
Harga pokok produk yang diterima dari Dept. A Rp 420.000 Rp600
Biaya yang ditambahkan dalam Departemen B :
Biaya tenaga kerja Rp 261.000 Rp450
Biaya overhead pabrik Rp 290.000 Rp500
Jumlah biaya produksi yang dibebankan Dept. B Rp 971.000 Rp 1.550

Perhitungan Biaya :
Perhitungan harga pokok selesai yang ditransfer ke gudang:
Harga pokok dari Dept. A = 400kg x 600 Rp 240.000
Harga pokok produk ditambahkan dalam Dept. B = 400kg x Rp 950 Rp 380.000
Bulan Januari 19X1
Data Produksi :
Produk yang diterima dari Departemen A 700kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang 400kg
Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian
sebagai berikut : biaya konversi 40% 200kg
Produk yang hilang pada akhir proses 100kg
700 kg
Biaya yang dibebankan dalam Departemen B Total Per Kg
Harga pokok produk yang diterima dari Dept. A Rp 420.000 Rp600
Biaya yang ditambahkan dalam Departemen B :
Biaya tenaga kerja Rp 261.000 Rp450
Biaya overhead pabrik Rp 290.000 Rp500
Jumlah biaya produksi yang dibebankan Dept. B Rp 971.000 Rp 1.550

Perhitungan Biaya :
Perhitungan harga pokok selesai yang ditransfer ke gudang:
Harga pokok dari Dept. A = 400kg x 600 Rp 240.000
Harga pokok produk ditambahkan dalam Dept. B = 400kg x Rp 950 Rp 380.000
Harga pokok produk yg hilang akhir proses = 100kg x (600+950) Rp 155.000
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang Rp 775.000

Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan (200kg) :


Harga pokok dari Dept. A = 200kg x 600 Rp 120.000
Biaya tenaga kerja = 200kg x 40% x 450 Rp 36.000
Biaya overhead pabrik = 200kg x 40% x500 Rp 40.000
Harga pokok persediaan produk dlm proses akhir bulan Rp 196.000

Jumlah biaya kumulatif dalam Departemen B


JAWABAN PILIHAN GANDA BAB 3
1. Unit ekuivalensi Biaya Bahan Baku departemen A:
20.000 kg + (100% X 4.000 kg) = 34.000 kg (B)
2. Unit ekuivalensi Biaya Konversi departemen A:
30.000 kg + (20% X 4.000 kg) = 30.800 kg (c)
3. Total Biaya Unit Ekuivalen Biaya Produksi per kg
(2) (3) (2) (3)
Rp 340.000 34.000 Rp 10
Rp 462.000 30.800 Rp 15
Rp 616.000 30.800 Rp 20
Rp 1.418.000 Rp 45 (D)
4. Total Biaya
Rp 340.000
Rp 462.000
Rp 616.000
Rp 1.418.000 (A)
5. Total Biaya Unit Ekuivalen Biaya produksi per kg
(2) (3) (2) (3)
Rp 585.000 23.400 Rp 25
Rp 702.000 23.400 Rp 30
Rp 1.287.000 Rp 55 (A)
6. Harga pokok produk yang diterima dan departemen A
30.000 kg X Rp 45 = Rp 1.350.000
Harga pokok produksi per satuan produk dan Departemen A setelah
ditanya produk yang hilang dalam proses depart B sebanyak 3.000 kg
Rp 1.350.000 : (30.000 - 3000) = Rp 50
Harga pokok yang diterima dan Dept A
Rp 1.350.000 : 30.000 kg Rp 45
(B) Rp 5/kg
7. Jurnal unit mencatat harga pokok produk selesai Dept A yang
ditransfer ke Dept B dalam bulan juli 20X1 :
Barang dalam proses -Dept B Rp 1.418.000
Barang dalam proses –Dept A Rp 1.418.000 (A)
8. Jurnal umum mencatat harga pokok produk selesai Dept B yang di
transfer kegudang dalam bulan januari 20X1
Persediaan produk jadi Rp2.205.000 (C)
Barang dalam proses-Biaya bahan baku Dept. B Rp 1.050.000
Barang dalam proses-Biaya Tenaga kerja Dept. B Rp 525.000
Barang dalam proses-BOP Dept. B Rp 630.000
 Harga pokok dan dept. A Rp. 50 X 4.000 = Rp 1.050.000
 BTK yang ditambahkan dept. B Rp. 25 X 21.000 = Rp 525.000
 BOP yang ditambahkan dept. B Rp 30 X 21.000 = Rp 630.000
9. Jurnal untuk mencatat harga pokok perusahaan produk dalam proses
dari dept. B pada akhir bulan januari 20X1 :
Persediaan produk dalam proses Dept. B Rp 432.000
BOP-Biaya Bahan Baku Dept. B Rp 100.000 (D)
BTK yang ditambahkan dept. B Rp 60.000
BOP yang ditambahkan Dept B Rp 72.000
 Harga pokok dan Dept. A Rp 50 X 6.000 = Rp 300.000
 BTK yang ditambahkan dept. B 40% X 6000 X Rp 25 = Rp
60.000
 BOP yang ditambahkan Dept.B 40% X 6.000 X Rp 30 = Rp
72.000
10.Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses
di deprt. A pada akhir bulan januari 20X1:
Persediaan produk dalam proses Dept. A Rp 68.000 (B)
Barang dalam proses-biaya bahan baku dept. A Rp 40.000
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja dept. A Rp 12.000
Barang dalam proses-BOP dept. A Rp 16.000
 BBB = 100% X 4000 X Rp 10 = Rp 40.000
 BTK = 20% X 4000 X Rp 12 = 12.000
 BOP = 20% X 4000 X Rp 15 = Rp 16.000