Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

COMMUNICATION FOR BEHAVIORAL IMPACT

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Komunikasi Marketing Kesehatan

Disusun Oleh :

Rizki Fajriani 101814153030

Nadiya Istighfaara 101814153023

Dian Ratna Indarwati 101814153031

MINAT STUDI PROMOSI KESEHATAN DAN ILMU PERILAKU


PROGRAM STUDI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur dan terima kasih Kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha
Kuasa atas rahmat kasih dan karunia-Nya. Sehingga Kami dapat menyusun dan
menyelesaikan tugas yang telah diberikan kepada kami dengan baik.

Tugas pembuatan atau penyusunan makalah ini dapat menjadi bahan


tinjauan bagi perkembangan dan kreatifitas mahasiswa. Selain itu dengan adanya
hal ini juga dapat menumbuh kembangkan pengetahuan dan keterampilan
mahasiswa sendiri.

Kami sangat berterima kasih kepada dosen pembimbing. Selaku Dosen


Universitas Airlangga yang telah banyak membantu dan memberikan wawasan
guna penyelesaian tugas ini. Dan tidak lupa pada rekan-rekan yang banyak
memberi respon, saran, maupun kritikan, dari awal sampai akhir penyelesaian.
Untuk sekali lagi perkenankan kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu sehingga tugas ini dapat terselesaikan dengan
baik.

Kami menyadari, bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari


sempurna. Oleh karena itu, kami sangat berlapang dada dan berbesar hati
menampung semua saran guna perbaikan dan penyempurnaan dalam penyusunan
makalah atau tugas selanjutnya. Semoga penyusunan makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi mahasiswa Universitas Airlangga.
Amin.

Surabaya, 08 Oktober 2019


Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Judul

Kata Pengantar.................................................................................................. i

Daftar Isi ............................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang ...................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 1

1.3 Tujuan ................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Communication for Behavioural Impact (COMBI) ................ 3

2.2 Tujuan Communication for Behavioural Impact (COMBI) ................. 4

2.3 Langkah-langkah Communication for Behavioural Impact (COMBI). 6

2.4 Contoh Kasus Communication for Behavioural Impact (COMBI) ...... 17

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 26

3.2 Saran ..................................................................................................... 27

DAFTAR PUSTAKA
BABI
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di dunia, terdapat banyak masalah kesehatan yang berdampak pada
derajat kesehatan masyarakat. Salah satu masalah kesehatan tersebut ada yang
ditularkan oleh binatang atau biasa disebut penyakit zoonosis. Beragam
pendekatan dan strategi mengandung elemen komunikasi yang relevan
dengan intervensi pada masalah kesehatan melalui perilaku dan sosial. Salah
satunya adalah communication for behavioral impact (COMBI).
COMBI berasal dari konsumen komunikasi, menghubungkan
pendidikan dan informasi dengan pemasaran. Metode penggerakan
masyarakat yang kemudian dikembangkan oleh World Health Organization
(WHO) pada tahun 2004 adalah communication for behavioural impact
(COMBI). Metode COMBI merupakan metode penggerakan masyarakat yang
mengintegrasikan pendidikan kesehatan, komunikasi, informasi dan edukasi
(KIE), teknik pemasaran sosial dan mobilisasi masyarakat, untuk mengubah
perilaku yang berlandaskan pada perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku
masyarakat.
Metode COMBI menekankan pada perubahan perilaku masyarakat
yang terkait dengan sosial budaya, dan berdasarkan segmentasi kelompok
sasaran. Oleh karena itu diperlukan strategi dan langkah-langkah yang tepat
dalam melakukan COMBI. Berdasarkan hal tersebutlah yang
melatarbelakangi penyusunan makalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah adalah
sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Communication for Behavioural Impact
(COMBI) ?
2. Apa tujuan dari Communication for Behavioural Impact (COMBI) ?
3. Bagaimana langkah-langkah dari Communication for Behavioural Impact
(COMBI) ?
4. Bagaimana contoh kasus dari Communication for Behavioural Impact
(COMBI) ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penyusunan makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Communication for Behavioural Impact (COMBI).
2. Untuk mengetahui tujuan Communication for Behavioural Impact
(COMBI).
3. Untuk mengetahui langkah-langkah Communication for Behavioural
Impact (COMBI).
4. Untuk mengetahui gambaran contoh kasus Communication for
Behavioural Impact (COMBI).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Communication for Behavioral Impact (COMBI)
COMBI yang merupakan singkatan dari Communication for
Behavioral Impact, biasa dikenal dengan Komunikasi Perubahan Perilaku
merupakan kegiatan mobilisasi sosial yang ditujukan untuk menggerakkan
seluruh individu dan masyarakat yang berpengaruh pada individu dan
keluarga dalam mendorong aksi individu dan keluarga tersebut (WHO, 2009).
COMBI (Communication for Behavioral Impact) merupakan suatu
pendekatan yang diperkenalkan WHO pada tahun 2000. Teori COMBI ini
diperkenalkan dan diterapkan sebagai solusi teknis medis untuk menghadapi
ancaman global penyakit menular di dunia dan untuk mengurangi beban
kesehatan baik kesakitan dan kematian akibat penyakit-penyakit menular.
Penerapan COMBI ini telah menunjukkan hasil yang mengesankan.
Pendekatan COMBI telah banyak digunakan pada program-program
pengendalian penyakit menular di berbagai negara di dunia, antara lain
pengendalian penyakit dengue, lepra, lymphatic filariasis, malaria, TB,
HIV/AIDS dan masih banyak lainnya. COMBI merupakan salah satu bentuk
Komunikasi Pemasaran Terintegrasi (IMC) yang telah sukses dan sangat
penting untuk dipelajari.
COMBI adalah kerangka kerja perencanaan dan implementasi metode
untuk menggunakan komunikasi secara strategis untuk mencapai hasil
perilaku sosial dan positif. COMBI berasal dari konsumen komunikasi,
menghubungkan pendidikan dan informasi dengan pemasaran. COMBI
dimulai dari „nol base‟, bahwa tidak ada yang dapat diasumsikan. Sebagai
gantinya, melalui riset pasar, hambatan nyata dan kendala yang menghalangi
orang untuk memilih untuk mengadopsi perilaku sehat diidentifikasi. COMBI
dapat digunakan oleh komunikasi, kesehatan pendidikan, promosi kesehatan,
informasi, pendidikan dan komunikasi dan mobilisasi sosial staf, yang akan
mengikuti dengan baik, kuat, kerangka kerja sistematis. COMBI memastikan
hal itu komunikasi diterapkan secara tepat dan mampu berkontribusi untuk
mencapai hasil nyata (WHO, 2012).
Jadi dapat disimpulkan baha COMBI adalah kerangka kerja
perencanaan dan metode implementasi yang mengintegrasikan intervensi
komunikasi perilaku dan sosial dalam program kesehatan masyarakat.
Perangkat ini akan membantu dalam perencanaan dan pelaksanaan
komunikasi perilaku dan sosial dalam kerangka kerja yang dikembangkan dan
disesuaikan untuk program kesehatan masyarakat untuk mencapai hasil
perilaku tertentu untuk hasil kesehatan masyarakat yang positif dan
melindungi.
Perbedaan COMBI dengan pendidikan/ penyuluhan dan promosi
kesehatan yaitu COMBI memadukan prinsip – prinsip dan teknik – teknik
pendidikan dan promosi kesehatan. Sementara pendidikan dan promosi
kesehatan mungkin ditujukan pada hasil perilaku yang dinyatakan secara
umum, maka COMBI lebih fokus pada dan memberi informasi hasil perilaku
yang dibuat secara tegas. Sementara pendidikan dan promosi kesehatan
berkembang dari sensibilitas pendidikan, maka COMBI muncul dari
sensibilitas komunikasi dengan konsumen, mengenali bahwa hasil - hasil
perilaku dipakai untuk untuk pendidikan dan dasar informasi yang
disandingkan dengan orientasi pada pemasaran. COMBI juga dimulai dari
“perencanaan berbasis nol” dengan prinsip dasar bahwa tidak ada yang perlu
dikira - kira. Malah melalui riset pasar yang bersifat partisipatori, akan
ditemukan penghalang dan hambatan yang sesungguhnya yang mencegah
orang dalam memilih untuk mengadopsi perilaku sehat (WHO, 2009).
2.2 Tujuan Communication for Behavioral Impact (COMBI)
Menurut WHO (2012), Tujuan COMBI adalah untuk mencapai hasil
perilaku. Ini telah berhasil digunakan di program untuk menghilangkan kusta
di India dan India Mozambik dan filariasis limfatik di India dan Zanzibar,
selain itu juga telah digunakan dalam pencegahan dan demam berdarah
kontrol di Malaysia dan Amerika. COMBI berakar pada pengetahuan,
pemahaman orang-orang dan persepsi yang direkomendasikan tingkah laku.
Ini melibatkan mendengarkan orang secara aktif dan belajar tentang persepsi
dan pengertian mereka perilaku yang diusulkan dan juga tentang faktor nyata
dan yang dirasakan yang akan membatasi atau memfasilitasi adopsi perilaku.
Menggunakan COMBI akan membantu untuk merespons lebih banyak cepat
dan tepat selama wabah oleh memungkinkan Anda untuk:
1. Cepat memahami tantangan pengendalian wabah dari perspektif
komunitas berisiko
2. Memastikan bahwa orang (pasien, kelompok risiko dan lainnya)
mengambil tindakan yang sesuai apabila mengalami wabah
3. Memotivasi orang untuk mendukung kegiatan pengendalian wabah
4. Menggunakan sumber daya dengan efektif.
Menurut WHO (2012), COMBI memiliki dua prinsip panduan umum
untuk menyelidiki, melakukan perencanaan dan intervensi dari suatu kasus.
Prinsip tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kondisi Analisis Pasar, yang bertujuan untuk menilai perilaku awal, dan
mungkin prosesnya akan memakan waktu dan rumit, terutama dalam
situasi wabah ketika informasi harus disebarluaskan secepat mungkin. Jika
aspek ini diabaikan, namun, sumber daya mungkin akan terbuang sia-sia
dan bahannya mungkin tidak efektif. Selanjutnya, individu dan komunitas
mungkin menunjukkan perlawanan untuk dilakukan intervensi.
2. Adopsi perilaku, perencanaan COMBI didasarkan pada pemahaman
bagaimana perilaku yang direkomendasikan diadopsi dan bagaimana ini
berhubungan dengan komunikasi. Memahami proses ini akan membantu
dalam mendesain dan menyesuaikan pesan untuk mempromosikan
tindakan dengan berbeda kelompok dan untuk mengidentifikasi yang
paling tepat saluran dan pengaturan untuk menjangkau pemirsa tertentu.
Ini relatif mudah untuk meningkatkan kesadaran dan menyediakan
informasi.
Metodologi COMBI merupakan perpaduan dari pendidikan kesehatan,
KIE, mobilisasi masyarakat, tehnik komunikasi dengan masyarakat dan riset
pasar, dimana semuanya itu ditujukan pada hasil-hasil perilaku yang tepat di
bidang kesehatan. Tujuan akhir tersebut adalah dampak perilaku seseorang di
bidang kesehatan.
Akar dari COMBI adalah pengetahuan, pemahaman dan pengertian
seseorang atas perilaku sehat yang direkomendasikan. Pasar/masyarakat
dilibatkan secara penuh mulai dari awal sampai dengan mempraktekkannya,
riset masyarakat dan analisis situasi yang bersifat partisipatif sehubungan
dengan perilaku yang diharapkan guna menggambarkan
kebutuhan/keinginan/harapannya. Termasuk dalam analisis situasi adalah
mendengarkan orang, mempelajari persepsi dan penerimaan mereka atas
perilaku yang ditawarkan, faktor-faktor yang dapat menghalangi atau
mempermudah penerimaan perilaku, pengertian mereka tentang biaya (waktu,
uang, usaha) dalam hubungannya dengan persepsi mereka terhadap nilai
perilaku dan kehidupan mereka.
Jadi, tujuan COMBI adalah untuk mencapai hasil perilaku. COMBI
menekankan pada kebutuhan informasi, kita butuh pendidikan, kita butuh
persuasi, kita butuh peran serta masyarakat, kita perlu membangunkan
masyarakat, kita butuh komitmen pemerintah. Kita juga butuh kepekaan
terhadap konsumen dengan fokus pada perilaku dan keputusan yang dibuat
konsumen, untuk diterapkan pada perilaku sehat.
Kunci dalam perencanaan program COMBI adalah memberi
perhatian atas kesungguhan upaya pendekatan keterpaduan dalam pemilihan
dan penggabungan aksi komunikasi yang baik sesuai dengan hasil perilaku
yang sangat diharapkan, dan menyadari bahwa tidak ada satu jenis intervensi
komunikasi yang mempunyai kekuatan luar biasa (WHO, 2009).
2.3 Langkah-Langkah Communication for Behavioral Impact (COMBI)
Adapun langkah-langkah dari Communication for Behavioral Impact
(COMBI) adalah sebagai berikut :
1. Langkah 1 : Menetapkan Tujuan Umum
Menyatakan tujuan umum jangka panjang yang memberikan suatu
konteks rencana aksi COMBI yang spesifik akan dibuat. Hal ini
memungkinkan seseorang untuk melihat hubungan antara rencana aksi
COMBI atas obyektif perilaku spesifik dan misi dari tujuan secara
keseluruhan. Biasanya tujuan umum jangka panjang berhubungan dengan
beberapa masalah kunci kesehatan. Menetapkan tujuan rencana aksi
COMBI untuk merubah perilaku masyarakat terkait masalah kesehatan
yang ada.
2. Langkah 2 : Menetapkan Hasil / Objective Perilaku
Menetapkan tujuan yang lebih spesifik dan rinci pada perubahan
perilaku yang diinginkan terkait dengan masalah kesehatan yang ada.
Menentukan Obyektive perilaku: suatu pernyataan obyektive perilaku
yang spesifik, sesuai, realistik, dapat diukur dan terikat waktu. Sebagai
contoh: Mendorong 800.000 individu (mis, setiap orang kecuali wanita
hamil, ibu baru melahirkan 1 minggu, dan anak usia kurang dari 5 tahun)
di (lokasi tertentu) untuk menerima paket tablet pencegahan limfatik
filariasis (maksimum 4 tablet) dan meminumnya dihadapan petugas
kesehatan / relawan pada tanggal 27 oktober 2001. Pendekatan lain untuk
meninjau kelengkapan dari objective perilaku yang telah ditetapkan
adalah memeriksa hubungannya dengan pertanyaan yang dapat dijawab
sendiri melalui akronim “SMART”.
3. Langkah 3 : Melakukan Analisis Pasar
Lakukan / tinjaun analsis situasi pasar terhadap obyektive
perilaku yang tepat: suatu penggalian faktor – faktor yang “berorientasi
pada konsumen”, yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam
mencapai obyektive perilaku, sebagai masukan dalam membuat strategi
dan penggabungan komunikasi. Melihat situasi “pasar” atau konsumen
dengan tujuan untuk mengetahui cara merubah perilaku masyarakat yang
sesuai dengan keadaan yang ada, serta hambatan yang dapat terjadi
dalam proses merubah perilaku, sehingga komunikasi nantinya dapat
berjalan dengan efektif dan sesuai dengan keinginan masyarakat.
Hasilnya yaitu perubahan perilaku untuk mencegah suatu penyakit pada
masyarakat yang lebih baik.
a. Analisis SMACK
Analisis situasi pasar guna memperoleh Kunci Komunikasi
merujuk pada latihan yang disebut “SMACK” (Situation Market
analisis for Communication Keys), sebagai langkah kritis dalam
memperoleh pemahaman mengenai hasil perilaku yang diinginkan
dari sudut pandang konsumen. Hanya melalui pemahaman ini
seseorang dapat melangkah untuk menarik konsumen lewat berbagai
cara komunikasi agar mau mempertimbangkan perilaku yang
direkomendasikan. Melakukan analisis situasi pasar dapat menjadi
pengalaman yang kurang menyenangkan karena seseorang akan
menghabiskan banyak waktu dalam membuat rencana COMBI.
b. HIC-DRAM
HIC-DARM adalah suatu model sederhana untuk
menerangkan proses penerimaan perilaku yang baru atau yang
direkomendasikan. Model ini berdasarkan pada teori penerimaan
perilaku tradisional dan analisis situasi pasar.
c. Analisis SWOT
Melakukan analisis SWOT pada lingkungan program
penyakit akan membantu kita untuk fokus pada Kekuatan,
meminimalisir Kelemahan, dan mengambil kemungkinan
keuntungan yang besar dari Kesempatan yang ada, sambil
memperhatikan Ancaman untuk mencapai objective perilaku.

d. Menghubungkan dengan 4C
Komunikasi pemasaran terpadu memberikan konseptualisasi
baru dari pemasaran dalam 4C, yang salah satunya lebih sesuai
dengan hasil perilaku yang berhubungan dengan kesehatan daripada
konsep pemasaran konvensional yaitu 4P. Consumer need / want /
desire (kebutuhan / keinginan / minat konsumen) dibanding P
(produk). Cost – Biaya (berlawanan dengan “P”- harga).
Convenience / Kepercayaan (Berbeda dengan P-
Placement/Penempatan yang berjalan di luar penempatan lokasi dan
fisik dari produk, dan yang membangkitkan pertanyaan-pertanyaan
mengenai seberapa nyaman dan mudahnya akses konsumen untuk
mendapatkan pelayanan atau melakukan perilaku yang diminati.
Communcation / komunikasi (berlawanan dengan P- Production /
Produksi) menjadi terpadu dan menyenangkan, melihat gabungan
intervensi komunikasi (PR-Humas, Advokasi, mobilisasi
administrative, periklanan, media massa, media tradisional,
mobilisasi masyarakat, penjualan perorangan/konseling, promosi di
tempat layanan dll) yang menyenangkan
e. Analisa DILO (DAY IN THE LIFE OF )
Analisa DILO digunakan untuk menggali konteks situasi dan
keseharian dimana yang perilaku direkomendasikan sedang di
dorong. Analisa DILO, menghendaki untuk memeriksa kegiatan
sehari – hari dari mereka yang ingin kita dorong untuk
mempertimbangkan perilaku sehat. Apakah melalui pengamatan atau
narasi individu, seseorang membuat daftar kegiatan keseharian
mereka sejak dari bangun pagi sampai mau tidur malam. Analisa ini
membantu kita memberi empati pada konsumen, untuk mengetahui
saat untuk melakukan kontak komunikasi, menempatkan perilaku
yang dianjurkan kedalam kehidupan sehari-harinya sehingga kita
lebih memahami faktor – faktor yang mendukung atau menghambat
aksi dari perilaku sehat. Dengan cara ini seseorang mendapatkan
perasaan yang lain dari bagaimana mereka merasakan keterlibatan
biaya dalam melaksanakan perilaku yang dianjurkan. Sebagai contoh
analisa DILO di satu komunitas mungkin menunjukkan bahwa
hampir seharian penuh, sebagian besar orang dewasa berada diluar
rumah, bekerja di sawah, meski pada akhir pekan. Pada program
pemberian pengobatan masal, hal ini membangkitkan beraneka
pertanyaan strategis seperti: bagaimana kita menjangkau individu –
individu tersebut dengan komunikasi?, kapan waktu terbaik untuk
melakukan kunjungan rumah? Apa pendekatan yang harus dilakukan
untuk mendistribusikan obat pada situasi ini?, bagaimana kita
mengurangi biaya dari perilaku yang direkomendasikan dengan tidak
terlalu membebani mereka untuk meninggalkan sawahnya untuk
mendapatkan obat.
f. Analisis MILO
Analisa Moment In the Life Of (MILO) adalah modifikasi
dari DILO yang menangkap bagian – bagian penting dari saat - saat
ketika seseorang mengharapkan perilaku tertentu akan dilaksanakan.
Berdasarkan pengamatan atau main peran, seseorang memperhatikan
langkah – langkah apa yang terlibat dalam menjalankan perilaku
yang direkomendasikan. Hal ini lebih memungkinkan untuk
memberi empati langsung pada, contoh: individu yang hadir di Pusat
kesehatan untuk memeriksa sputum TB. Dalam menggali momen
tersebut seseorang berusaha melihat proses dari titik pandang
individu dan mencatat bagaimana proses khusus telah membebani
kelengkapan proses pemeriksaan sputum TB. Sekali lagi, sifat dari
biaya terhadap perkembangan individu. Jika melalui proses ini
seseorang dapat mengantisipasi bagaimana orang akan bereaksi,
maka seseorang dapat lebih mempersiapkan mereka untuk momen
dari aksi dan memfasilitasi penerimaan dari perilaku yang
dianjurkan. Sebagai contoh, pada kasus pemberian pengobatan masal
limfatik filariasis, analisa MILO menempatkan seseorang kedalam
situasi seorang relawan kesehatan yang muncul di pintu rumah dan
menawarkan 4 sampai 7 tablet yang harus diminum ditempat.
Latihan MILO mempermudah pemahaman dari apa yang mungkin
sedang melintasi didalam pikiran anggota keluarga saat itu dan
mendorong untuk mempertimbangkan apa yang dapat dikerjakan
sebelum dan ketika itu guna mendukung penerimaan dari tablet yang
ditawarkan.
g. Analisis TOMA
Analisis puncak pikiran (TOMA) memungkinkan untuk
menggali persepsi yang berhubungan dengan isu tertentu. Kegiatan
ini melibatkan latihan sederhana dalam mengajukan pertanyaan pada
berbagai orang mengenai hal apa yang pertama kali masuk ke dalam
pikiran mereka ketika mendengar kata atau kalimat tertentu
(berkaitan dengan perilaku yang direkomendasikan), kemudian apa
hal ke-2, ke-3 dan seterusnya. Dengan cara ini seseorang dapat
merasakan apa yang ada pada puncak pikiran orang sehubungan
dengan penyakit atau perilaku tertentu.
h. Analisis Kompetitor
Melakukan analisis kompetitor adalah menanyakan apa
perilaku alternatif yang dikerjakan di luar perilaku yang
direkomendasikan. Di bidang kesehatan seringkali kita tidak melihat
adanya kompetitor. Dengan mudah kita katakan bahwa orang
menolak perilaku yang dianjurkan dan memilih tidak melakukan
apa-apa. Dari sudut pandang komunikasi, “tidak melakukan apa-apa”
sebenarnya adalah suatu kompetitor. Hal tersebut merupakan pilihan
individu yang mengharuskan kita untuk menggali ada apa dengan
pilihan tersebut.
i. Analisis MS.CREFS (Komunikasi Situasi / Isu)
MS.CREFS adalah singkatan yang menyoroti komponen –
komponen kunci dari proses komunikasi. Setiap huruf mewakili
komponen komunikasi yang berbeda dan dijelaskan dibawahnya).
Mengerjakan analisa MS .CREFS adalah mencermati pasar dari
sudut pandang komponen – komponen ini, dengan bercermin pada
implikasinya pada rencana COMBI. Proses komunikasi melibatkan
Message (Pesan), dari Source (Sumber) yang dikirimkan melalui
Channel (Saluran) kepada Receiver (Penerima) dengan Efek tertentu
yang dimaksudkan dengan peluang memberikan Feedback (Umpan
balik), kesemuanya berlangsung dalam Setting (Keadaan) tertentu.
Sebagai suatu proses, komponen – komponen tersebut saling terkait.
Analisa MS.CREFS menjadi tugas dalam hal membangkitkan
beraneka pertanyaan yang berhubungan dengan tiap komponen.
Berikut ini adalah daftar beberapa pertanyaan (yang lebih bersifat
menyarankan).

4. Langkah 4 : Mengembangkan strategi COMBI untuk mencapai


perubahan perilaku yang ditetapkan
COMBI dilakukan dengan tujuan untuk merubah perilaku
masyarakat. Strategi COMBI sebaiknya mengandung pesan-pesan
kunci, urutannya, sifat umum strategi, perpaduan aksi-aksi komunikasi
(mobilisasi administrative/advokasi masyarakat/hubungan masyarakat,
mobilisasi masyarakat, periklanan, penjualan personal/komunikasi
interpersonal, promosi di tempat pelayanan), hubungan di antara aksi-
aksi komunikasi yang berbeda ini, dan gambaran umum tentang
bagaimana rencana tersebut akan dikelola dan dievaluasi.
Terdapat 3 fenomena kunci mengenai komunikasi efektif, yaitu
perhatian selektif, persepsi selektif, dan ingatan selektif. Perhatian
selektif adalah perhatian penuh yang dapat kita berikan pada suatu hal
selama kira-kira 40 detik, lalu kita memikirkan hal yang lain, dan kita
perhat. Persepsi selektif yaitu pandangan mereka terhadap suatu hal
menurut pendapat mereka sendiri, hal ini dapat dipengaruhi oleh
budaya, adat istiadat, dsb. Sedangkan ingatan selektif adalah tendensi
kita untuk melupakan suatu hal diluar alam sadar, maka perlu adanya
pengulangan pesan secara terus menerus, agar pesan dapat diterima
dengan baik. Hal yang membuat pesan dapat dilupakan yaitu sudut
pandang yang tidak sesuai dengan dirinya dan beban informasi yang
terlalu banyak.
5. Langkah 5 : Menyajikan rencana aksi COMBI
Rencana aksi merupakan instrument utama dalam pelaksanaan
COMBI. Rencana aksi berisi tentang penjabaran kegiatan yang akan
dilakukan, mulai dari persiapan sampai dengan strategi implementasi.
Rencana Aksi COMBI adalah instrumen utama untuk
mengatur pelaksanaan program COMBI. Hal itu harus dibuat secara
komprehensif dan jelas dengan rincian kegiatan yang perlu
dilaksanakan agar strategi komunikasi yang ditetapkan pada langkah 4
dapat dioperasionalkan. Rencana aksi harus memasukkan semua
kegiatan-kegiatan persiapan, demikian juga apa yang sesungguhnya
akan terjadi bila strategi dilaksanakan menurut berbagai kategori aksi
yang dibuat pada strategi komunikasi. Di sini kita perlu membuat
rincian spesifikasi dari aksi komunikasi yang ditetapkan pada langkah
4 “strategi” di atas, termasuk penjelasan dan rencana untuk membuat,
pembelian, harga dan distribusi dari setiap bahan-bahan komunikasi,
produk, layanan, insentif, demikian juga identifikasi pelatihan apa
bagi petugas, dan mitra kerja dan kegiatan-kegiatan supervisi yang
diperlukan (pada siapa, apa, di mana, kenapa, siapa yang
memfasilitasi).
Rencana aksi harus merinci bagaimana kelompok ini dikontrak
atau diberikan informasi. Rincian ini harus diberikan dalam
hubugannya dengan 5 elemen kategori komunikasi COMBI, merujuk
pada langkah 4, tetapi seseorang jangan membatasinya :
a. Mobilisasi administrasi, advokasi publik, Humas
b. Mobilisasi masyarakat, termasuk keikutsertaan organisasi
masyarakat, NGO dan sektor swasta
c. Pemasangan iklan, insentif dan promosi
d. Penjualan perorangan, komunikasi interpersonal dan konseling
e. Promosi tempat pelayanan
6. Langkah 6 : Manajemen
Struktur manajemen berfungsi untuk mengawasi kegiatan
implementasi yang sedang berlangsung agar berjalan efektif. Perlu
ditunjuk beberapa staff khusus atau agen kerjasama untuk
mengkoordinator aksi komunikasi. Perlu ditunjuk juga penasehat
teknis atau badan pemerintah untuk memperoleh dukungan teknis dan
kepada siapa tim akan menyampaikan laporan.
7. Langkah 7 : Pemantauan
Dilakukan pemantauan kemajuan implementasi, sehingga
dapat mengetahui masalah dalam implementasi dan cara
menyelesaikannya. Selain itu, pemantauan juga dapat melihat dampak
perubahan perilaku pada masyarakat dan dapat melakukan modifikasi
strategi untuk perubahan perilaku masyarakat yang lebih baik lagi.
Rencana COMBI akan terdiri dari gabungan kegiatan-kegiatan
komunikasi yang sangat luas. Satu aspek dari pelaksanaan rencana
yang efektif adalah monitoring kemajuan pelaksanaan. Dengan adanya
monitoring kemajuan pelaksaan, maka seseorang dapat mengetahui
kesulitan-kesulitan dan upaya memecahkannya. Disamping itu
monitoring yang efektif dan memungkinkan untuk melakukan
pelacakan dampak perilaku yang berkembang dan memberikan
kesempatan untuk memodifikasi strategi selama proses pelaksanaan
agar mencapai hasil perilaku yang lebih baik. Pada langkah 7 ini kita
perlu berpikir bagaimana kita memonitor kemajuan pelaksanaan dan
perkembangan dampak perilaku serta menawarkan proses untuk
melakukan seperti ini.
a. Menggunakan jadwal rencana kerja sebagai alat monitoring
Jadwal rencana kerja yang dibuat di langkah 9 berfungsi
sebagai alat untuk memantau kemajuan pelaksanaan COMBI.
Jadwal tersebut dibuat kapan setiap kegiatan yang direncanakan
akan dilaksanakan dan oleh siapa. Tugas kelompok Pelaksana
adalah memakai jadwal ini untuk mengikuti kemajuan
pelaksanaan. Alat ini memberi cara monitoring kemajuan
pelaksanaanyang relatif sederhana. Juga memungkinkan untuk
menghadapi setiap rintangan pelaksanaan yang dapat muncul dari
waktu ke waktu.
b. Rencana untuk memantau suatu survei
Survei dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok
sasaran terpilih memahami pesan-pesan yang disampaikan dengan
menggunakan saluran komunikasi yang sesuai. Memantau suatu
survei yang dilakukan di daerah terpilih menggunakan sampel
acak. Selain itu dapat digali apakah orang-orang merespon pesan
dengan cara-cara yang diperkirakan sebelumnya. Hasil temuan
survei ini dapat digunakan untuk memodifikasi strategi
komunikasi jika ditemukan bahwa objective komunikasi yang
dimaksud belum tercapai.
8. Langkah 8 : Penilaian dampak
Dapat menjelaskan bagaimana tujuan perubahan perilaku dapat
tercapai. Serta dapat menilai dampak dari perubahan perilaku yang
dilakukan dengan rencana aksi
a. Diarahkan oleh objective perilaku yang telah ditentukan
dalam membentuk proses yang benar untuk penilaian
dampak, dengan mengunakan catatan bantuan pelayanan
kesehatan atau survei atau studi pengamatan

Dasar pengukuran penilaian dampak perilaku adalah


objective perilaku yang telah dibuat di langkah 2. Contoh, jika
objective perilaku yang ditetapkan adalah mendorong sasaran
yaitu sejumlah orang dengan batuk yang menetap untuk datang ke
tempat pelayanan kesehatan guna pemeriksaan TB, maka
pengukuran dampak perilakunya adalah dengan menghitung
jumlah kehadiran mereka di pelayanan kesehatan untuk
pemeriksaan TB. Jika hal tersebut tidak dapat dipenuhi, di langkah
8 perlu menjelaskan bagaimana kita membuat sistem pencatatan
kehadiran.
Hasil-hasil perilaku yang tidak melibatkan kunjungan ke
Puskesmas akan memerlukan penggunaan metode lain untuk
penilaian dampak. Misalnya, survei dengan sampel acak, studi
observasional dan sebagainya disesuaikan dengan objective
perilaku yang ditetapkan di awal.
b. Dampak tambahan pada intervensi COMBI
Perlu dalam membuat perencanaan penilaian dampak,
sebaiknya membuat struktur dari suatu proses sehingga dapat
diikuti dan diketahui dampak dari program COMBI. Salah satu
caranya adalah dengan memiliki sistem untuk membandingkan
catatan kehadiran di pelayanan kesehatan sebelum dan sesudah
intervensi COMBI. Demikian juga dengan pengukuran yang
menggunakan survei data dasar dari praktek perilaku sebelum
COMBI dapat dibandingkan dengan hasil-hasil perilaku pasca
COMBI. Dalam melakukan penilaian sederhana ini tentunya harus
dipertimbangkan kemungkinan faktor-faktor penghambat yang
dapat berkontribusi pada hasil perilaku.
c. Menggunakan Spesialis Evaluasi
Penilaian dampak dapat dilakukan dengan sederhana tetapi
juga dapat menjadi sangat rumit. Lebih bijaksana bila kita
menggunakan jasa spesialis evaluasi dalam merancang komponen
penilaian.
9. Langkah 9 : Penjadwalan : Rencana Kerja
Pada tahap ini, memasukkan kegiatan-kegiatan aksi kedalam
jadwal rencana kerja yang menjadi alat implemetasi dan manajemen
dalam melaksanakan program COMBI. Format rencana kerja terdiri
dari judul-judul kolom seperti: Kegiatan, Tanggal Selesai, Tanggung
Jawab (anggota staff, agen mitra, dan seterusnya), dan kemajuan.
Kolom kemajuan berisi catatan singkat tentnag keadaan implementasi.
Tindak lanjut draf jadwal rencana kerja dengan latihan di
kelompok yang menyertakan individu dan mitra pelaksana yaitu draf
rencana kerja dan dokumen rencana COMBI dapat memberi peran
pelaksanaan yang kritis saat dipakai dalam proses review oleh
kelompok yang melibatkan mitra (individu dan instansi pelaksana
kunci. Dalam review kelompok terdapat peluang untuk melihat
kembali setiap kegiatan, mengajukan pertanyaan baru mengenai
relevansinya terhadap dampak perilaku dan kelayakannya, dibuat
tenggat waktu dan menunjuk penanggungjawab. Proses ini juga
memberi keuntungan berupa rasa memiliki atas rencana tersebut
meski hal itu mungkin telah dimulai dengan dukungan teknis dari luar.
10. Langkah 10 : Anggaran
Membuat anggaran lengkap pada kegiatan yang diusulkan
dalam rencana COMBI, seperti jumlah item yang dibuat, biaya per
unit, dan lain-lain. Mengusulkan format presentasi yang mencakup
bidang komunikasi kunci seperti mobilisasi Administratif/Hubungan
masyarakat/Advokasi masyarakat, mobilisasi masyarakat, penjualan
personal, periklanan dan promosi, dan promosi di tempat pelayanan
(jika ada).

2.4 Contoh Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD)


Di Provinsi Jawa Timur, DBD menduduki peringkat pertama, jumlah
kasus DBD yang dilaporkan pada tahun 2017 sebanyak 7254 orang dengan
angka kesakitan (Incidence Rate) sebesar 18,46 per 100.000 penduduk.
Diantara 7254 kasus DBD di Jawa Timur, 104 penderita diantaranya
meninggal dunia (CFR =1,43). Kabupaten Gresik merupakan salah satu
daerah kabupaten dengan angka yang cukup tinggi dilihat dari jumlah kasus
sebesar 282 kasus dengan jumlah kematian 9 orang (CFR 3,2%) (pofil
kesehatan Jawa Timur, 2017). Pada tahun 2019 ini jumlah kasus Demam
berdarah di Gresik mengalami peningkatan, pada tahun 2018 ditemukan 18
kasus, sedangkan per juli 2019 ditemukan 33 kasus demam berdarah. Dengan
rata-rata usia penderita adalah usia anak-anak. Dari 33 kasus tersebut 3
diantaranya penderita meninggal dunia.
Jumlah penderita DBD pada tahun 2019 di kabupaten Gresik pada
tahun 2019 meningkat, adapun wilayah puskesmas yang memiliki
penderita bemam berdarah terbanyak adalah puskesmas Ujungpangkah
(Kompas, 2019).
Analisis kejadian demam berdarah dengan 10 langkah COMBI
1. Langkah 1 : Menetapkan tujuan umum
Untuk berkontribusi membantu menurunkan kejadian penyakit
dan kematian akibat demam berdarah dengue di Gresik tahun 2019
dengan gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dengan 3M
plus agar masyarakat mampu untuk melenyapkan tempat
perkembangbiakan nyamuk di lingkungan rumah mereka. Adapaun
tujuan umumnya yaitu : “Penurunan Prevalensi DBD di Kabupaten
Gresik hingga 70% pada akhir Tahun 2019”
2. Langkah 2 : Menetapkan Hasil / Objective Perilaku
Tujuan khusus :
a. 70% masyarakat mendapat informasi mengenai pencegahan dan
pengendalian penyakit demam berdarah dengan Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M plus melalui penyuluhan dan
sosialisasi.
b. 70% masyarakat menerapkan cara pencegahan penyakit demam
berdarah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan
3M plus.
c. 70% Angka Bebas Jentik (ABJ) terlampaui sehingga pelaksanaan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M plus telah
efektif dilakukan masyarakat
3. Langkah 3 : Melakukan Analisa Situasi “Pasar”
a. Analisis situasi pasar dengan metode TOMA
Analisis puncak pikiran (TOMA) memungkinkan untuk
menggali persepsi yang berhubungan dengan isu tertentu. Dengan
memberikan pertanyaan terkait pencegahan penyakit demam
berdarah, maka dapat dihasilkan beberapa kemungkinan pemikiran
utama terkait pencegahan penyakit demam berdarah seperti
memberantas nyamuk, menggunakan repellent, menggunakan
kelambu.
b. Analisa situasi/isu komunikasi dengan MS.CREFS
Dalam menyampaikan informasi mengenai perilaku
pencegahan demam berdarah dengan Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) melalui 3M Plus dapat dijelaskan sebagai berikut
;
1) Massage
Pesan yang ingin disampaikan adalah pencegahan demam
berdarah melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
dengan 3M Plus. Pesan dapat berbunyi seperti berikut
“Ayo berantas nyamuk aedes aegypti dengan 3M Plus,
yaitu mengubur, menguras, menutup, dan menggunakan abate”
2) Source
Untuk sumber informasi yaitu ibu-ibu kader Jumantik
(Juru Pemantau Jentik) atau tenaga kesehatan dari puskemas
didaerah masing-masing
3) Channel
Media penyampaian informasi mengenai
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus yaitu
melalui penyuluhan dan sosialisasi kepada ibu-ibu di balai RW
masing-masing daerah di Gresik. Intervensi juga dapat
dilakukan melalui penempelan poster mengenai 3M Plus, agar
masyarakat mudah mengingat tiap langkah dari 3M Plus.
4) Receiver
Receiver adalah seluruh masyarakat Gresik yang
pernah menderita demam berdarah dan masyarakat yang belum
pernah terjangkit penyakit demam berdarah agar dapat
mencegah penyakit demam berdarah tersebut.
5) Efek
Efek yang diharapkan adalah penerapan program
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus pada
masyarakat Gresik dan penurunan angka kejadian demam
berdarah.
6) Feedback
Feedback dapat dilihat dari angka kejadian demam
berdarah yang menurun di tiap puskesmas di Gresik
7) Situasi
Intervensi komunikasi berupa penyuluhan dapat
dilakukan pada waktu masyarakat terutama ibu-ibu yang
berkumpul dalam suatu acara, seperti arisan dan pengajian.
Untuk intervensi komunikasi berupa poster, dapat dipasang di
balai RW, tiap rumah warga, dan lokasi yang sering dikunjungi
masyarakat.
4. Langkah 4 : Mengembangkan strategi COMBI untuk
mencapai perubahan perilaku yang ditetapkan
a. Menetapkan kembali tujuan perubahan perilaku
Tujuan perubahan perilaku berdasarkan analisa situasi
yang telah dilakukan yaitu untuk menurunkan kejadian
demam berdarah dengue di Gresik dengan peningkatan
pengetahuan masyarakat melalui sosialisasi dan penyuluhan
tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M
plus
b. Menetapkan “Tujuan Perubahan Perilaku” yang akan
dicapai untuk memberikan kontribusi terhadap
pencapaian tujuan perubahan perilaku.

Mayoritas masyarakat tidak mengetahui cara


menanggulangi perkembangbiakkan nyamuk aedes aegypti,
sehingga kejadian demam berdarah di Gresik tetap tinggi.
Sehingga, yang dapat dilakukan agar masyarakat mengerti
dan paham cara untuk menanggulangi perkembangbiakkan
nyamuk yaitu dengan meningkatkan pengetahuan
masyarakat melalui sosialisasi dan penyuluhan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M plus.
c. Mengupayakan komunikasi aktif terpadu dan “interaksi
dan partisipasi yang jelas”
Mengupayakan komunikasi aktif yang dimaksud disini
yaitu adanya interaksi dengan masyarakat terkait masalah
yang dimiliki dengan mendengarkan keluh kesah
masyarakat. Pada program Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN) dengan 3M plus, masyarakat biasanya akan bertanya
tentang memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang
bekas yang menjadi potensi tempat perkembangbiakkan
nyamuk yang bagaimana apa. Lalu, kita akan menjelaskan
bahwa barang bekas yang dapat didaur ulang seperti kaleng
bekas, ban bekas, dsb.
5. Langkah 5 : Menyajikan rencana aksi COMBI
Program atau kegiatan yang dapat dilakukan untuk
melenyapkan tempat perkembangbiakkan nyamuk aedes aegypti
sebagai penyebab penyakit demam berdarah adalah
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M plus disetiap
rumah.
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M plus
adalah program yang terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1) Melakukan sosialisasi dan penyuluhan mengenai pencegahan
dan pengendalian penyakit demam berdarah dengan program
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) aedes aegypti dengan
3M plus dengan melakukan kunjungan ke masyarakat dan
sekolah-sekolah sekaligus membagikan bubuk abate. Dimana
materi dari sosialisasi dan penyuluhan yaitu menjelaskan
tahap-tahap dari Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan
3M Plus, yaitu :
a) Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering
dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi,
ember air, tempat penampungan air minum, penampung air
lemari es dan lain-lain
b) Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat
penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain
sebagainya
c) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas
yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan
nyamuk penular Demam Berdarah.
d) Menaburkan bubuk larvasida/abate pada tempat
penampungan air, menggunakan obat nyamuk atau anti
nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan
pemangsa jentik nyamuk, menghindari kebiasaan
menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi
tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.
2) Menggunakan iklan di Radio dan TV yang akan ditayangkan
secara besar-besaran, berulang, intens melalui radio provini
dan stasiun televisi sebelum dan selama musim transmisi DBD
adalah langkah yang tepat, karena masyarakat mudah untuk
mengakses hanya saja perlu diperhatikann waktu-waktu
penayangan agar lebih efektif. Selain itu, melalui media cetak
(poster) yang menjelaskan tentang PSN dengan 3M yang
ditempatkan di tempat umum utamanya pada tempat pelayanan
kesehatan (Puskesmas, Posyandu, Klinik, Rumah Sakit, dll).
6. Langkah 6 : Manajemen
a. Membentuk tim implementasi program PSN dengan 3M
Plus
Perlu adanya tim dalam mengimplementasikan program
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M, antara lain
adanya ketua sebagai penanggung jawab program dan staff-
staff yang membantu dalam pelaksanaan program. Tim
berfungsi untuk memantau proses berlangsungnya program,
mengatasi segala hambatan yang ada dan melakukan evaluasi
agar program berjalan dengan baik dan efektif. Adapun tim
dari program ini yaitu semua Puskesmas di Kab. Gresik.
b. Mempertimbangkan pembentukan kelompok penasehat
Kelompok penasehat adalah kelompok yang bertugas
mengkaji ulang perkembangan yang ada. Kelompok penasehat
dalam program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan
3M Plus yaitu Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Menular, Dinkes Kab. Gresik.
7. Langkah 7 : Pemantauan
Pemantauan dilakukan untuk melihat kemajuan dari
implementasi dan dampak perubahan perilaku dari program
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus. Membuat
rencana untuk survai pelacakan, dimana. Survei pelacakan
dilakukan pada salah satu daerah di Gresik, yaitu daerah
Ujungpangkah. Daerah Ujungpangkah dipilih karena banyak
penderita demam berdarah terjadi pada daerah tersebut. Survai
dilakukan pada sampel 100 rumah tangga dengan menanyakan
penerapan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus
ditiap rumah, apa sudah diterapkan atau belum. Kalau belum
dilakukan, perlu adanya kajian ulang dan modifikasi strategi
komunikasi pada masyarakat.
8. Langkah 8 : Penilaian dampak
Tujuan khusus dan Indikator Hasil Program Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN) melaui 3M Plus di Gresik
No. Tujuan khusus Indikator hasil
1 Masyarakat mendapat Berdasarkan survei lapangan,
informasi mengenai diketahui 70% masyarakat
pencegahan dan pengendalian mendapatkan informasi
penyakit demam berdarah mengenai pencegahan dan
dengan Pemberantasan Sarang pengendalian penyakit demam
Nyamuk (PSN) dengan 3M berdarah dengan Pemberantasan
plus melalui penyuluhan dan Sarang Nyamuk (PSN) dengan
sosialisasi 3M plus melalui penyuluhan dan
sosialisasi
2 Masyarakat menerapkan cara Berdasarkan suvei lapangan,
pencegahan penyakit demam 80% masyarakat telah
berdarah melalui menerapkan cara pencegahan
Pemberantasan Sarang nyamuk demam berdarah
Nyamuk (PSN) dengan 3M dengan 3M Plus
plus.
3 Angka Bebas Jentik (ABJ) Berdasarkan suvei lapangan,
terlampaui sehingga 85% Angka Bebas Nyamuk
pelaksanaan Pemberantasan (ABJ) terlampaui, sehingga 3M
Sarang Nyamuk (PSN) dengan Plus telah efektif dilakukan
3M plus telah efektif dilakukan masyarakat
masyarakat

9. Langkah 9 : Penjadwalan : Rencana Kerja


Jadwal rencana kerja disusun berdasarkan program
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M Plus yang
dilakukan selama 3 bulan (Oktober-Desember), dimulai dari
penyuluhan dan sosialisasi hingga evaluasi dengan melihat
indikator keberhasilan.
Rincian kegiatan adalah sebagai berikut :
Waktu pelaksanaan
Kegiatan Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Pembentukan tim
penyuluhan dan
sosialisasi
Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) dengan
3M Plus
2. Pelaksanaan penyuluhan
dan sosialisasi
Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) dengan
3M Plus
3. Pelaksanaan
Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) dengan
3M Plus
4. Pemantauan pelaksanaan
program Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN)
dengan 3M Plus
5. Evaluasi program
Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) dengan
3M Plus

10. Langkah 10 : Anggaran


Sumber anggaran dapat berasal dari dana kesehatan oleh
Pemerintah yang telah diberikan kepada Puskesmas. Rincian
anggaran per puskemas adalah sebagai berikut :
No. Barang Jumlah Biaya Total
unit satuan
1. Poster 3M Plus 300 Rp. 5.000 Rp. 1.500.000
2. Konsumsi 150 Rp. 5.000 Rp. 750.000
3. Abate 1000 Rp. 2.000 Rp. 2.000.000

Total Rp. 4.250.000


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan
adalah sebagai berikut :
1. Communication for Behavioral Impact (COMBI) adalah kerangka kerja
perencanaan dan metode implementasi yang mengintegrasikan intervensi
komunikasi perilaku dan sosial dalam program kesehatan masyarakat.
Perangkat ini akan membantu dalam perencanaan dan pelaksanaan
komunikasi perilaku dan sosial dalam kerangka kerja yang dikembangkan
dan disesuaikan untuk program kesehatan masyarakat untuk mencapai
hasil perilaku tertentu untuk hasil kesehatan masyarakat yang positif dan
melindungi.
2. Tujuan Communication for Behavioral Impact (COMBI) adalah untuk
mencapai hasil perilaku. COMBI menekankan pada kebutuhan informasi,
kita butuh pendidikan, kita butuh persuasi, kita butuh peran serta
masyarakat, kita perlu membangunkan masyarakat, kita butuh komitmen
pemerintah. Kita juga butuh kepekaan terhadap konsumen dengan fokus
pada perilaku dan keputusan yang dibuat konsumen, untuk diterapkan
pada perilaku sehat.
3. Langkah-langkah dari Communication for Behavioral Impact (COMBI)
antara lain adalah sebagai berikut :
1. Menetapkan Tujuan Umum
2. Menetapkan Hasil / Objective Perilaku
3. Melakukan Analisis Pasar
4. Mengembangkan strategi COMBI untuk mencapai perubahan
perilaku yang ditetapkan
5. Menyajikan rencana aksi COMBI
6. Manajemen
7. Pemantauan
8. Penilaian dampak
9. Penjadwalan : Rencana Kerja
10. Anggaran
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan yaitu diharapkan setelah
membuat makalah ini, mahasiswa dapat memahami konsep dari
communication for behavioral impact serta dapat menerapkan langkah-
langkah dengan tepat dan benar ketika berada di lapangan nantinya.
DAFTAR PUSTAKA
Kompas.com. 2019. Kasus demam berdarah meningkat bupati gresik temui
pasien di rs. Koran online. Di akses pada 8 oktober 2019
https://regional.kompas.com/read/2019/01/24/15590701/kasus-demam-
berdarah-meningkat-bupati-gresik-temui-pasien-di-rs

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2017. 2017. Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur

WHO. 2009. Manual Perencanaan Program Komunikasi Dampak Perilaku.


Swittzerland: Geneva

WHO. 2012. Communication for Behavioral Impact (COMBI. A toolkit for


behavioral and social communication in outbreak response.
Swittzerland: Geneva